cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin km.7, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : 25024345     EISSN : 26864355     DOI : https://doi.org/10.36869
Core Subject : Social,
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
Articles 139 Documents
BARONGSAI DAN KELENTENG HOK HIEN BIO DI KUDUS JAWA TENGAH SEBAGAI MEDIA PEMBAURAN Moh Rosyid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.172

Abstract

Tujuan naskah ini ditulis adalah mendeskripsikan upaya etnis Tionghoa melestarikan ajaran Konfusius yang diaplikasikan dalam grup seni Barongsai Satya Dharma di Kelenteng Hok Hien Bio, Kudus, Jawa Tengah. Data riset ini diperoleh melalui wawancara dengan pelatih dan peserta ajar, observasi di lokasiriset. Data dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil riset, kelompok Barongsai diwadahi dalam latihan rutin seminggu dua kali secara gratis diikuti oleh anak muda lintas agama dan etnis. Warga Kudus mempercayai kelompok ini dengan mengundangnya dalam acara kirab budaya dan pestarakyat. Pembauran melalui Barongsai dapat mewujudkan pembauran lintas agama dan suku. Kelompok Barongsai hadir bertujuan mempertahankan tradisi Tionghoa di Nusantara dan media pembauran karena umat Khonghucu melaksanakan ajaran pokok Konfusius yang tertuang dalam Kitab Suci Si Shu berupa ajaran berhubungan baik dengan sesama (Ren Dao) dan berhubungan dengan Tuhan (Tian/Shang Di) (Tian Dao). Prinsip dasar ajaran dipraktikkan dalam kelompok Barongsai melibatkan pemain lintas agama dan etnis sehingga pembauran benar-benar terwujud, dilatih oleh pelatih profesional secara gratis, dan difasilitasi oleh pengurus Kelenteng Hok Hien Bio di Kudus sejak Reformasi hingga kini. 
MAKNA SIMBOLIK PAKAIAN ADAT TRADISIONAL SUKU BUTON DI KOTA BAUBAU Abdul Asis; Herianah Herianah
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.139

Abstract

Pakaian adat tradisional suku Buton merupakan karya seni budaya yang mengandung makna-makna dan nilai estetika terhadap pemakainya. Penelitian ini bertujuan mengungkap makna simbolik, bentuk dan warna  pada pakaian adat suku Buton di Kota Baubau. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data pengamatan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pakaian adat tradisional Buton terdapat dua warna yang dijadikan sebagai warna dasar yakni hitam dan warna putih, walaupun warna-warna lainnya seperti warna merah, kuning, biru, hijau dan ungu tetap digunakan. Umumnya baju dan celana pakaian adat tradisional Buton terdiri atas warna dan motif yang sama. Warna-warna tersebut mengandung beberapa arti bagi masyarakat Buton antara lain yang berhubungan proses kejadian alam dan manusia, serta arti yang menunjukkan sikap masyarakat Buton itu sendiri serta menyatakan bahwa di Buton terdapat penggolongan masyarakat.  bahwa pakaian adat tradisional masyarakat suku Buton memiliki makna-makna secara khusus. Dalam arti bahwa masyarakat yang menggunakan pakaian adat tradisional tersebut memiliki ciri-ciri atau spesifikasi tertentu. Bagi masyarakat yang memiliki status sosial lebih tinggi dalam kehidupan masyarakat Buton memiliki ciri khas dari segi warna, bentuk, perhiasan dan jumlah aksesoris yang digunakan serta perlengkapan lainnya
INTERAKSI ETNIS TIONGHOA MUSLIM DAN NON MUSLIM DI KOTA PADANG PROPINSI SUMATERA BARAT Hanura Rusli; Rois Leonard Arios
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.157

Abstract

Ethnic Chinese as one of the ethnic minorities in Padang City is divided into two major groups, namely Muslim Chinese and non-Muslim. This grouping occurred because Muslim Chinese were considered unable to follow Chinese culture. This grouping often becomes an obstacle in the interactions between them. Research is based on the assumption that differences in religious background are a factor that influences individual interactions with other individuals or groups. However, in its development, religious differences are no longer a barrier to interaction between fellow ethnic Chinese. The purpose of this study was to answer the research question, namely how the forms of interaction and the basis of the interactions carried out by Muslim and non-Muslim Chinese ethnicities. To analyze the problem using the perspective of action theory by Parson. The research was conducted using a qualitative method by collecting data through interviews, literature study, and observations of involvement in social and cultural activities of the Chinese ethnic group. Data were analyzed by ethnographic method. The results showed that the interaction of Chinese Muslims and non-Muslims was associative in the form of cooperation and involvement in various social activities. This interaction is a form of openness of each group to change and awareness of the need to interact with each other because of the feeling of a cultural background. This is also supported by the existence of the HBT, HTT, and PITI organizations in Padang City.
STRATEGI USAHA PERIKANAN NELAYAN ENGBATU-BATU KABUPATEN TAKALAR Tasrifin Tahara; Rismawidiawati Rusli
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.169

Abstract

Dalam menjalankan usaha perikanan laut yang diversitas dan variatif, nelayan Engbatu-Batu seperti nelayan lain di Sulawesi Selatan menerapkan organisasi kelembagaan ponggawa-sawi. Beberapa masalah yang dihadapai nelayan dalam usahanya, antara lain: kesulitan dalam perolehan modal dan pengembangan usaha, kondisi sumber daya perikanan yang tidak menentu, praktik pemanfaatan sumber daya perikanan laut secara bebas/terbuka (open/free use), dan ketidakmampuan nelayan mengotrol situasi dan kondisi pemasaran hasil tangkapan. Untuk mengatasi masalah-masalah ini, nelayan melakukan berbagai strategi seperti: strategi menjalin hubungan dengan pihak-pihak lain, terutama pengusaha dan pedagang besar, untuk perolehan modal, pengembangan modal dengan menambah jumlah unit atau volume dari suatu bentuk usaha; pengelolaan anak buah dengan memantapkan pola-pola hubungan patron-client; pengelolaan informasi berkaitan sistem-sistem produksi (di laut), situasi permintaan dan harga, dan jaringan pemasaran; dan penolakan dan perlawanan nelayan terhadap beroperasinya nelayan cantram/parere dari desa-desa lain.
PENGETAHUAN TRADISIONAL PEMBUAT KOPRA DI LANGARA INDAH, SULAWESI TENGGARA Fatmawati P
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.162

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sistem teknologi, sistem produksi, dan sistem distribusi di Langara Indah, Kecamatan Wawonii Barat, Provinsi Sulawesi Tenggara. Kajian ini menggunakan jenis penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif melalui teknik pengumpulan data, berupa wawancara terstruktur, pengamatan di lapangan, pencatatan, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi yang dipergunakan oleh pembuat kopra di Wawonii masih sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan sistem pengeringan dan pengasapan, dengan kata lain tidak menggunakan mesin. Sedangkan sistem pemasarannya masih menggunakan cara tradisional dan turun-temurun. Adapun faktor pendukung dari usaha tersebut ialah tersedianya pohon kelapa yang cukup. Kemudian faktorpenghambat adalah tidak adanya peremajaan pohon baru sehingga kecenderungan berkurangnnya produksi kelapa setiap tahunnya mengalami penurunan.
MEMBENTANG REPUBLIK, MEREGANG KONSENSUS: ENTITAS INDONESIA DALAM SPANDUK PROTES PEREMPUAN MASA REVOLUSI Galuh Ambar Sasi
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.168

Abstract

Spanduk menjadi pemandangan biasa dan mengganggu bagi manusia Indonesia dasawarsa kedua abad ke-21. Namun, itu sekaligus bisa digunakan sebagai sumber penulisan sejarah terutama penting untuk menyingkap periode paling krusial dalam historiografi Indonesia yang didominasi oleh laki-laki serta menghapus skeptisme tentang ketiadaan sumber penulisan sejarah perempuan yang berkaitan dengan kebangsaan atau konsensus keindonesiaan. Berangkat dari foto-foto protes perempuan yang membawa spanduk pada masa revolusi di Yogyakarta, saya menangkap empat realitas. Pertama, aksi-aksi protes perempuan adalah manifestasi kewarganegaraan baru mereka Kedua, agenda protes mereka sangat kompleks dan heterogen, namun mengekspresikan hal yang sama, yaitu kesetiaan, imajinasi warga negara baru, dan pergulatan keindonesiaan mereka. Ketiga, penggerak protes itu adalah perempuan-perempuan dari etnis minoritas, diliyankan, atau dicap tidak nasionalis, dan kaki tangan penjajah. Terakhir, aktivitas protes perempuan masa revolusi terlihat seperti pertunjukkan imaji perempuan tentang negara baru dan nasib mereka di masa depan.
KONSEP TATA RUANG BUDAYA PADA RUMAH GADANG KAJANG PADATI DI KOTA PADANG, SUMATERA BARAT Refisrul Refisrul; ROIS LEONARD ARIOS
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.185

Abstract

Masyarakat Minangkabau yang mendiami Kota Padang turun temurun memiliki rumah gadang tanpa gonjong pada atapnya, berukuran lebih kecil dari rumah gadang bagonjong di daerah darek (darat) Minangkabau, serta atapnya menyerupai atap (kajang) pedati. Bentuk atapnya yang mirip dengan atap pedati menyebabkan rumah gadang ini lazim disebut dengan rumah Kajang Padati. Dirasakan penting dan menarik untuk mengetahui lebih jauh tentang tata ruang rumah tersebut dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan, wawancara dan observasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa rumah Kajang Padati merupakan rumah gadang masyarakat Minangkabau yang telah mendiami Kota Padang turun temurun. Dilihat dari arsitektur bangunannya, mendapat pengaruh dari Aceh yang pernah menduduki daerah Padang beberapa abad silam. Ruangan dalam rumah gadang Kajang Padati terdiri dari serambi (beranda), ruang tengah (keluarga), bilik (kamar tidur), ruang dalam, dan dapur. Setiap ruangan mempunyai kegunaan (fungsi) yang mencerminkan kehidupan sosial budaya masyarakat setempat (Padang) sejak dahulu.
EKSISTENSI MIGRAN BUDIS DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN BAGI WARGANYA DI PROVINSI MALUKU Wardiah Binti Hamid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.144

Abstract

Migran Bugis yang melakukan perantauan atau pun perpindahan merupakan gerakan sosial permanen dalam transformasi massif yang mereka lakukan sejak dahulu sampai sekarang secara terus menerus. Kemampuan migran Bugis sebagai penggerak transformasi mampu mengubah, membimbing dan mempengaruhi masyarakat pribumi dimana mereka merantau sebagai migran. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran tentang kehidupan migran Bugis di Perantauan, dan peran migran Bugis dalam bidang sosial keagamaan, khususnya   pengembangan Pendidikan keagamaan. Pendekatan penelitian ini adalah deskrikripti kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi sebagai sesuatu yang lazim digunakan dalam penelitian kualitatif  Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa sejarah panjang etnis ini merantau kepulau Maluku mereka telah mampu beradaptasi suku pribumi dan suku lain Keleluasaan merantau, kecairan beradaptasi merupakan nilai plus etnis ini. Nilai positif yang telah ditanamkan oleh nenek moyang orang Bugis di perantauan akan menjadi acuan bagi generasi selanjutnya, dan selanjutnya tidak tercabut dari akar kulturnya. Setelah menetap dan beradaptasi dengan lingkungan setempat migran Bugis membawa kekhasan spiritual agama Islam yaitu Pengembangan Pendidikan Keagamaan dilingkungan mereka menetap cukup signifikan perkembangannya di berbagai wilayah di pulua Maluku baik di kota maupun di pelosok pedalaman.Kata Kunci : Peran, Migran Bugis, Pendidikan Keagamaan
DAMPAK POLITIK PASIFIKASI BELANDA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL-BUDAYA MASYARAKAT ACEH PADA ABAD XX sudirman sudirman
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.182

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan dampak politik pasifikasi di bidang ekonomi dan pendidikan serta sikap masyarakat Aceh terhadap perjuangan melawan Belanda. Dalam penelitian ini digunakan metode sejarah kritis dengan teknik pencarian sumber melalui bacaan sejumlah arsip dan buku. Penelurusuranarsip dilakukan di Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Di antara sumber arsip yang diteliti adalah Algemeen Verslag van Het Onderwijs in Nederlandsch-Indie over 1921 en 1922. De Deli Courant, Koloniaal Verslag, serta Mailr (Mail Rapporten). Arsip ini banyak memberikan informasi tentang pelaksanaan politik pasifikasi di Aceh. Sumber sekunder dikumpulkan melalui sejumlah bacaan diperpustakaan Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Aceh dan buku-buku koleksi penulis. Berdasar pada data yang diperoleh dari kajian ini disimpulkan bahwa politik pasifikasi Belanda berdampak pada kehidupan sosial-budaya masyarakat Aceh karena ekonomi dan pendidikan masyarakat menjadi bertambah baik. Namun, pemerintah Belanda tetap tidak berhasil menguasai Aceh sepenuhnya karena rakyat Aceh tetap melakukan perlawanan hingga Belanda meninggalkan Aceh pada tahun 1942.
EKSPLOITASI MINYAK DI JAMBI TAHUN 1922-1948 (EXPLOITATION JAMBI OIL IN 1922-1948) Dedi Arman
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i1.141

Abstract

Kajian ini membahas tentang eksploitasi minyak bumi di Jambi tahun 1922-1948.  Fokus kajian, yakni latar belakang munculnya industri perminyakan, perkembangan dan dampak eksploitasi minyak pada masyarakat Jambi.  Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang menjelaskan persoalan berdasarkan perspektif sejarah. Hasil kajian menunjukkan, Belanda sudah mengincar minyak Jambi sejak abad 19, namun pengeboran sumur minyak pertama di Jambi yang berlokasi di Bajubang, Onderafdeeling Muara Tembesi baru dilakukan tahun 1922.  Hal ini disebabkan banyaknya pro kontra dan persaingan dalam pengelolaan minyak Jambi hingga dipilihnya NV NIAM sebagai pemenang kontrak. Jambi tidak banyak dikenal publik sebagai daerah penghasil minyak dibandingkan daerah lain. Penyebabnya, hasil minyak Jambi tidak diolah (disuling) di Jambi melainkan dikirim lewat pipa ke Plaju (Palembang). Dalam laporan ekspor Belanda,  hasil minyak Jambi dicatat sebagai hasil minyak dari Plaju.  Eksploitasi minyak di Jambi tidak membawa dampak  yang besar pada perekonomian Jambi. NIAM tidak banyak membangun  infrastruktur di Jambi. Hanya jalan Jambi ke Muara Tembesi, landasan bandara di Paal Merah dan fasilitas di kawasan perusahaan. Dampak industri minyak yang sangat terasa adalah Jambi  jadi daerah multietnik karena ramainya penduduk pendatang. Mayoritas pekerja minyak berasal dari Jawa, Palembang dan Minangkabau. Sementara, penduduk lokal Jambi lebih memilih bekerja di sektor perkebunan karet dan pekerjaan lainnya. Kehadiran orang Eropa sebagai pekerja NIAM juga membawa pengaruh penyebaran agama Katolik di Jambi.

Page 8 of 14 | Total Record : 139