cover
Contact Name
Rois Leonard Arios
Contact Email
rolear72@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Raya Belimbing No. 16 A Kuranji Padang, Sumatera Barat
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA
ISSN : 25026798     EISSN : 25026798     DOI : https://doi.org/10.36424/jpsb
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Penelitian Sejarah dan budaya memfokuskan pada isu sentral memuat hasil penelitian maupun kajian konseptual yang berkaitan dengan kesejarahan dan nilai budaya yang dilakukan oleh peneliti, penulis lepas, akademisi, dan pemerhati kebudayaan. Terbit 2 kali setahun (Mei dan Nopember) oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles 121 Documents
SUKU OSING, BENTUK PERLAWANAN BUDAYA MASYARAKAT BLAMBANGAN TERHADAP MATARAM ISLAM Gilang Hasbi Asshidiqi; Irma Agustiana
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v8i1.290

Abstract

Budaya merupakan hasil cipta, karya, dan karsa dari masyarakat yang menunjukkan identitas dari masyarakat yang membawanya. Budaya menjadi nilai tawar suatu kelompok, seperti suku Osing. Suku Osing menjadi objek perebutan dan taklukan yang digunakan untuk kepentingan kerajaan disekelilingnya seperti perluasan wilayah, mobilisasi kekuatan, ekonomi, bahkan pengaruh kultural. Salah satu kerajaan yang berupaya untuk menguasainya adalah Kesultanan Mataram. Kesultanan Mataram berupaya menanamkan budaya Jawa dan Islamisasi terhadap masyarakat Blambangan. Sehingga masyarakat Blambangan mengembangkan kebudayaan Osing untuk bertahan dan melawan pengaruh budaya Mataram. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui sejarah perlawanan masyarakat Blambangan dan bagaimana mempertahankan diri dari dominasi budaya Mataram hingga tetap bertahan hingga saat ini. Penulisan artikel ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan metode studi pustaka. Metode studi pustaka merupakan metode dengan menghimpun sumber kepustakaan. Melalui pencarian referensi mengenai permasalahan yang ditemukan berupa textbook, jurnal, artikel ilmiah, yang sesuai. Lalu di gunakan langkah-langkah penelitian sejarah meliputi, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Sehingga dapat diketahui perlawanan budaya rakyat Blambangan melalui komunitas Osing berhasil dilakukan dalam menghadapi pengaruh Mataram dan pada akhirnya masyarakat Osing bertahan hingga saat ini sekalipun Islamisasi terjadi tetapi tetap memegang ajaran nenek moyang.
EKSISTENSI MUSEUM VIRTUAL MASA PANDEMI COVID- 19 Leni Marpelina; Rahmat Fajar Asrofin
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v8i1.282

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikanmuseum virtual yang saatini berkembang di Indonesia, baik berupa ruang perlombaan, ruang diskusi, ruangpertunjukan maupun wisata museum virtual. Metode penelitian yang digunakan adalah deskripsi kualitatif dengan pendekatan eksplorasi. Pengumpulan data menggunakan studi literatur dengan menelusuri berbagai laporan, publikasi jurnal, dan situs web. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pandemi covid telah mengakibatkan  sebagian besar museum diseluruh dunia ditutup untuk sementara bahkan secara permanen. Penutupan museum tersebut berakibat pada penurunan jumlah pengunjung dan penutupan museum, kendala pada pemeliharaan museum, dan peningkatan layanan digital museum.Dampak lain adalah kerugian finansial secara besar-besaran pada periode covid 19.Agar tetap bertahan, maka hampir seluruh museum mempromosikan museum virtual.Museum virtual dalam segala bentuknya, telah membuka pintu bagi pengunjung yang dapat mengunjungi museum tanpa mengenal batas ruang dan waktu.
STRATEGI EKONOMI PEDAGANG ANTAR PULAU DI PESISIR PANTAI TIMUR SULAWESI Ahmad Syahrir; Rifal Rifal; Abdul Rahman; Ahmadin Ahmadin
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v8i1.214

Abstract

Pekerjaan menjadi pedagang antar pulau sulit dilakukan oleh banyak orang, selain menggunakan modal yang besar, memiliki pula resiko yang besar. Berbeda halnya dengan pedagang tuju-tuju yang terletak di wilayah Pantai Timur Sulawesi, menjadikan pekerjaan ini menjadi tradisi dari sanak keluarga mereka. Demi mempertahankan penetrasi ekonomi maka diperlukan strategi dalam menjalin hubungan dengan para pedagang yang tidak pernah bertemu secara langsung, adapun strateginya yaitu, lempu (jujur), getteng (nilai keteguhan dan keyakinan) dan materru’ (berani). Inilah yang dipegang teguh para pedagang Tuju-tuju saat bertransaksi dengan pedagang dari Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya. Artikel ini bertujuan mengungkap strategi ekonomi pedagang dari tradisi keluarga yang dimiliki, dengan metode kualitatif dengan tipe deskriptif.Teknik pengumpulan data diperoleh dengan penelitian lapangan yang mencakup observasi, dokumentasi dan wawancara.Bahwa strategi ekonomi yang berasal dari tradisi keluarga berupa jujur, keyakinan, dan keberanian, mampu membuat masyarakat yang bekerja sebagai pedagang menjadi sukses. Hal tersebut dapat diukur dari akumulasi modal, kepemilikan barang dan jasa, dan investasi kerja yang terus menaik.
MALAY OR ACEHNESE SOVEREIGNTY DURING THE REIGN OF SULTAN ALAUDDIN MANSUR SHAH (1577 - 1585): WESTERN IMPERIALIST BASTION IN THE EAST Khairul Nizam bin Zainal Badri
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v8i1.287

Abstract

The 16th century had shown that Western powers so vigorously expanded their influence in the East. Their main goal is to spread the mission of Christianization and reap wealth within the Malay world. Aceh is considered the main rival in the East because of its power as the strongest country in the Malay world and its position as a major center of trade routes. The reign of the 8th Sultan of Aceh, Sultan Alauddin Mansur Shah is regarded as a critical period for the Muslims in the East because at that time the Portuguese and the Spanish conspired to conquer the Muslim countries. The situation is causing Sultan Alauddin Mansur Shah to take steps to defend Islam and the sovereignty of the states in the Malay world. This study uses the qualitative method. The archival approach was chosen to examine the documents relevant to the scope discussed. In order for the study to be more structured, the aspect of historiography based on the sequence of events becomes a consideration. To ensure the accuracy of events within the reign of Sultan Alauddin Mansur Shah, the cross-reference technique of information is done. This technique is very important and relevant given that no thorough research has ever been conducted for the reign of Sultan Alauddin Mansur Shah with respect to the scope of the study. The result of the study indicates that Sultan Alauddin Mansur Shah emphasized the understanding of monotheism-Sufism among the community to develop the spirit of jihad against Western colonialists. Apart from that, he also implemented the constitution based on Islamic law. In order for the sovereignty of states in the Malay reserved, he has built good relations with other states of Pahang and Brunei in particular that each has a great influence within Malaya and Borneo.
MEMBANGUN KEMBALI PARIWISATA YOGYAKARTA: STRATEGI DAN UPAYA PEMERINTAH MELALUI BADAN TOURISME (BATOUR) 1954-1959 Hasbi Marwahid
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v8i1.309

Abstract

Yogyakarta merupakan salah satu daerah tujuan wisata terkemuka di Indonesia. Hal ini karena dukungan dari pelbagai faktor seperti sejarah dan kebudayaannya. Pembangunan pariwisata di Yogyakarta sekarang tentu tidak lepas dari upaya-upaya awal pemerintah dalam mengembangkannya pasca kemerdekaan. Pembangunan pariwisata seiring dengan upaya pemerintah memulihkan perekonomian daerah yang rusak pasca perang. Artikel ini berfokus pada strategi dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam membangun kembali pariwisata di Yogyakarta. Sumber yang digunakan meliputi arsip pemerintah, koran, dan majalah sezaman. Dengan menggunakan metode sejarah, hasil dari kajian ini menunjukan keterlibatan aktif dari pemerintah telah berhasil membangkitkan kembali pariwisata yang ada di Yogyakarta dengan adanya kebijakan, koordinasi, subsidi dan pendirian sebuah badan yang mengelola.
STIKER WHATSAPP GAYA MINANGKABAU: ANALISIS SEMIOTIKA Mardiana Willis; Abdullah Khusairi; Sheiful Yazan
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.328

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna visual dan verbal yang terdapat pada stiker WhatsApp gaya Minangkabau. Metode penelitian yang digunakan kualitatif deskriptif, teknik pengumpulan data ialah observasi dan dokumentasi, teknik analisis data menggunakan analisis semiotika menggunakan teori  Ferdinand de Saussure. Hasil dari penelitian ini makna visual, dari ilustrasi yang digambarkan mampu mencerminkan sebuah ekspresi, gestur dan emosi dalam stiker serta mampu membawa citra kebudayaan Minangkabau yang begitu melekat pada karakter stiker. Dari warna yang digunakan dominan warna merah, kuning, hitam dan putih yang dalam setiap warna memiliki falsafah mengenai bagaimana orang Minangkabau berprilaku. Dari tipografi yang digunakan Sans-Serif jenis font Arial dan Blogger sans ini mencerminkan kesederhanaan dalam teks yang disampaikan dan memberi kesan kedekatan dan bersahabat. Makna verbal dalam stiker WhatsApp gaya Minangkabau. Dilihat dari kurenah bakato dalam budaya Minangkabau, yakni cimeeh, kucindan dan garah, dapat dilihat bahwa orang Minangkabau sangat kritis dalam berkomunikasi dan dibutuhkan kreatifitas yang tinggi dalam pemilihan diksi saat menyampaikan sebuah pesan yang agaknya akan menimbulkan pergesekan. Sikap ramah tamah dan humoris menjadi sebuah daya tarik dari masyrakat Minangkabau sendiri.
NILAI SEJARAH KEMARITIMAN KEDATUAN SRIWIJAYA BAGI INDONESIA Kabib Sholeh; Sukardi Sukardi; Aan Suriadi; Liza Nadiya
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.323

Abstract

Indonesia sudah seharusnya tidak hanya berjaya di darat tetapi juga berjaya dan berdaulat di laut dan di darat dapat terlaksana dengan baik. Menarik lagi bagi pemerintah terkait nilai-nilai sejarah kemaritiman Sriwijaya untuk dimaknai bukan hanya sebagai bacaan sejarah saja tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya belum dipahami dengan mendalam, padahal membawa dampak positif bagi pembangunan dunia maritim di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis nilai-nilai sejarah kemaritiman Sriwijaya bagi Indonesia. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode sejarah dengan langkah-langkahnya adalah, heuristik (pengumpulan data), verifikasi data (kritik sumber), interpretasi sejarah (penafsiran sejarah) dan historiografi (penulisan sejarah). Kesimpulan penelitian ini adalah sejarah kemaritiman Sriwijaya memiliki nilai-nilai sejarah dan budaya yang luar biasah yaitu nilai politik maritim, ekonomi maritim, sosial-budaya maritim sehingga dari nilai-nilai tersebut dapat dijadikan sebagai bentuk dasar nilai yang pernah hidup dan pernah ada di Indonesia dalam ikut serta membangun kemajuan maritim di Indonesia.
KONSEPSI GUANXI PADA ETNIS TIONGHOA DI PADANG, STUDI KASUS : HIMPUNAN TJINTA TEMAN (HTT) PADANG Mardoni Mardoni; Nursyirwan Effendi; Zainal Arifin
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.361

Abstract

Tulisan ini menbahas praktik nilai-nilai guanxi oleh etnis Tionghoa dalam menjaga eksistensi kebudayaannya di Kota Padang. Eksistensi etnis Tionghoa di Kota Padang ditunjukkan identitas Kampung Pondok sebagai ruang publik dan ruang religi, tradisi hari raya imlek, dan usaha perdagangan. Asumsi dasarnya adalah bahwa sebagai etnis yang minoritas di Kota Padang memiliki kemanpuan untuk menjaga eksistensi budayanya ditengah kepungan budaya dominan (Minangkabau). Penulisan artikel ini mengunakan pendekatan antroplogi dengan metode kualitatif dalam corak studi kasus pada Himpunan Tjinta Teman (HTT) sebagai organisasi sosial budaya etnis Tionghoa. Lokasi penelitian di lakukan di Kelurahan Kampung Pondok Kecamatan Padang Barat Kota Padang. Hasil analisis penelitian menemukan bahwa etnis Tiongho sebagai masyarakat yang bermigrasi di Kota Padang manpu menjaga eksistensi kebudayaannya  melalui praktik nilai-nilai guanxi. Nilai-nilai guanxi merupakan seperangkat nilai-nilai yang dikembangkan atas dasar persamaan marga, kerabat, profesi dan teman sepermainnan. Nilai guanxi berperan sebagai modal sosial dalam menjaga keberlansungan praktik-praktik kebudayaan etnis Tionghoa di Padang. Praktik nilai guanxi ada secara implisit ada dalam berbagai kegaiatan-kegiatan sosial budaya etnis Tionghoa pada pranata sosialnya. Pranta sosial yang melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial budaya ini salah satunya adalah Himpunan Tjinta Teman (HTT) Padang. Organisasi Himpunan Tjinta Teman (HTT) Padang sangat berperan dalam menjaga nilai-nilai guanxi dalam setiap kegiatannya sebagai modal sosial untuk menjaga eksistensi budaya Tionghoa di Padang.
SAFARI “S.S. HOPE”: MISI KEMANUSIAAN AMERIKA SERIKAT DI INDONESIA (1960-1961) Ayu Wulandari
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.316

Abstract

Perang Dingin antara Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet membuat dunia terpolarisasi. Untuk mempertahankan eksistensinya, baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet saling berebut pengaruh. Berbagai cara dilakukan oleh keduanya termasuk diantaranya adalah melalui misi-misi kemanusiaan. Amerika Serikat misalnya terbukti pernah mengirimkan misi kemanusiaan dengan media Kapal S.S. Hope yang tujuan utamanya adalah memberikan bantuan medis di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka kajian ini membahas bagaimana safari Kapal S.S. Hope sebagai sebuah misi kemanusiaan dilakukan di Indonesia. Kajian ini dimulai dengan terlebih dahulu melihat historis interkoneksi Indonesia dengan Amerika Serikat. Kajian ini disusun menggunakan metode sejarah dengan majalah dan surat kabar sebagai sumber primernya. Hasil dari kajian ini adalah bahwa selama berlayar di perairan Indonesia, Kapal S.S. Hope singgah di beberapa titik dan memberikan bantuan medis.  Misi yang awalnya ditujukan sebagai misi kemanusiaan ini juga mendapatkan dukungan dari Pemerintah Amerika Serikat, yang bahkan dalam beberapa hal dimanfaatkan untuk menarik dukungan rakyat dan Pemerintah Indonesia dalam kontestasi Perang Dingin. Meskipun demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa misi kemanusiaan ini memberikan dampak yang cukup signifikan khususnya dalam bidang kemanusiaan dan kesehatan di Indonesia.
UPAYA PELESTARIAN RUMAH SEJARAH DALEM NOTONEGORO SEBAGAI CAGAR BUDAYA OLEH PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG Afiliasi Ilafi; Dhiana Putri Larasaty
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v8i2.332

Abstract

Dalem Notonegoro merupakan bekas Rumah Bupati Notonegoro salah satu Bupati Pemalang yang saat ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya dengan dibuktikan adanya SK penetapan Cagar Budaya nomor 432/1493/Tahun 2018 oleh Bupati Pemalang. Rumah Bupati Notonegoro atau dikenal dengan sebutan Dalem Kenaren diperkirakan dibangun pada tahun 1825 beralamat di Jalan Kyai Makmur, perkiraan tahun tersebut dibuktikan adanya inskripsi yang tertulis pada kayu di bagian molo (struktur bagian atap bangunan). Sebagai salah satu Bangunan Cagar Budaya, pemerintah Kabupaten Pemalang berupaya untuk melaksanakan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 dengan melakukan serangkaian kegiatan konservasi bangunan cagar budaya dengan merevitalisasi bangunan tersebut. Sebagai bangunan cagar budaya yang sudah berusia lebih 50 tahun, maka pelestarian rumah sejarah Dalem Notonegoro perlu dilakukan sesuai dengan undang-undang cagar budaya. Pada penulisan ini hendak mendeskripsikan bagaimana peranan Pemerintah Daerah Kabuten Pemalang dalam upaya pelestarian cagar budaya, selain itu sejarah keberadaan Rumah Bupati Notonegoro atau Dalem Kenaren akan dideskripsikan pada penulisan ini. Penulisan ini berupa penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif sedangkan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik studi kepustakaan, dokumentasi dan wawancara. Adapun data yang digunakan berasal dari data primer dan data sekunder, sedangkan sumber data berasal dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Adapun Hasil dan analisis meliputi deskripsi terkait asal usul Rumah Sejarah Dalem Notonegoro yang semula merupakan kediaman Bupati Pemalang yang bernama R.A.A Notonegoro yang tidak lain adalah Bupati Pemalang kemudian sepeninggalnya, Dalem Kenaren ditempati oleh anak kedua Bupati Notonegoro yang Bernama Raden Ayu Dipokusumo. Selanjutnya, Dalem Kenaren diwariskan kepada anak bungsunya Bupati Notonegoro yang Bernama Raden Ngabehi Surjowinoto. Hingga ditahun 2000-an, Dalem Kenaren ditempati oleh Eyang Titi yang merupakan ahli waris Dalem Kenaren pada waktu itu sebelum dibeli oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pemalang. Dalam pelestarian Dalem Notonegoro atau Dalem Kenaren yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang berupa pembelian rumah Bupati Notonegoro kepada ahli waris pada waktu itu yakni Eyang Titi selanjutnya dilakukan  konservasi Rumah Bupati Notonegoro atau Dalem Kenaren yang mencakup dari tahun 2018 hingga tahun 2021 berupa memperbaiki bangunan agar seperti sediakala. Kegiatan konservasi tersebut dilakukan secara LPSE dengan menjaring pihak kontraktor yang memiliki kredibelitas dalam ranah cagar budaya. Dengan adanya penelitian terhadap salah satu Bangunan Cagar Budaya yang ada di Kabupaten Pemalang dapat menjadi referensi masyarakat dalam penelitian sejenis.

Page 11 of 13 | Total Record : 121