JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA
Jurnal Penelitian Sejarah dan budaya memfokuskan pada isu sentral memuat hasil penelitian maupun kajian konseptual yang berkaitan dengan kesejarahan dan nilai budaya yang dilakukan oleh peneliti, penulis lepas, akademisi, dan pemerhati kebudayaan. Terbit 2 kali setahun (Mei dan Nopember) oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles
121 Documents
SIKLUS TAHUNAN BUDAYA DAYAK DJONGKAKNG DI DUSUN JAMBU DESA SEMIRAU KECAMATAN JANGKANG KABUPATEN SANGGAU PROVINSI KALIMANTAN BARAT
Sabinus Beni
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v6i2.192
Penelitian dilakukan di Dusun Jambu Desa Semirau Kecamatan Jangkang Kabupaten Sanggau dengan pendekatan kualitatif yang dilakukan melalui terjun langsung ke lapangan untuk melakukan wawancara dengan tetua adat setempat. Penelitian dilakukan untuk menggambarkan secara jelas siklus tahunan budaya Dayak Djongkakng, dimana kondisi saat ini para generasi muda sudah mulai melupakan tahapan siklus tersebut dan cenderung berfokus pada acara gawai sebagai bagian yang sangat ditunggu untuk berpesta. Siklus ini dimulai dari pemilihan lahan pertanian hingga sampai pada masa panen dan dilakukannya acara gawai sebagai ucapan syukur kepada Tuhan. Berdasarkan hasil wawancara, banyak generasi muda yang tidak mengetahui siklus tahunan budaya Dayak Djongkakng selama satu tahun dikarenakan: pengaruh perkembangan zaman yakni televisi, smartphone, media sosial dan tidak adanya kurikulum pendidikan muatan lokal terkait adat dan budaya lokal serta kesadaran generasi muda dalam keingintahuannya akan tradisi adat dan budaya.
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DESA GAMBUT DI PROVINSI RIAU
M Rawa el Amady
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v6i2.181
Kajian ini membahas tentang kearifan lokal pada budi daya pertanian di lima desa gambut di Riau. Di Indonesia terdapat 10,8% kawasan gambut dari luas daratan di Indonesia. Masyarakat sudah hidup di kawasan gambut sejak abad ke 3 masehi dan desa gambut di Riau sudah ada sejak abas ke 19. Dapat dipastikan bahwa kearifan lokal sudah menjadi tatanan nilai di masyarakat di kawasan gambut Indonesia, termasuk di Riau. Kajian ini merupakan kajian kualitatif dengan mengacu pada penelitian rapid etnografi, data diperoleh dengan observasi cepat, wawancara mendalam, diskusi grup terfokus dan studi perspustakaan. Informan diperoleh dari kepala desa dan tokoh masyarakat melalaui snow ball. Penelitian dilakukan di lima desa gambut di Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Siak, Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kabupaten Indragiri Hilir. Data dianalisis secara diskriptif menggunakan pendekatan konstruktif melalui tahapan dan kecenderungan pola data dan berdiskusi pada teori. Kajian ini melaporkan bahwa kearifan lokal di lima desa gambut berasal dari tanah mineral hulu sungai dan budaya maritim tanah aluvial, yang kemudian membentuk kearifan lokal di desa-desa tersebut;. Masyarakat tidak mengelola gambut dalam atau hanya mengelola gambut dengan kedalaman satu meter; Mata pencaharian masyarakat berbasis pencarahairan jangka panjang dan harian dengan beragam kegiatan dan komuditas misalnya sagu, kelapa, nanas, melon dan cabe, Pengelolaan kesuburan berbasis pada jenis komuditas, dan kanal dangkal; serta terdapat institusi ekonomi toke sebagai pembeli hasil pertanian masyarakat dan penyedia hutang.
MENELUSURI WARISAN BANDUNG: DELEGASI PEREMPUAN DAN SEMANGAT DEKOLONISASI DALAM KONFERENSI WARTAWAN ASIA AFRIKA 1963
Ayu Wulandari
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v7i1.230
Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 meninggalkan banyak warisan yang terwujud dalam solidaritas Asia Afrika. Salah satu bentuk dari solidaritas tersebut ialah pelaksanaan Konferensi Wartawan Asia Afrika (KWAA) pada 1963 yang menunjukkan solidaritas jurnalis dalam dua kawasan untuk memperkuat semangat dekolonisasi demi melawan kolonialisme dan imperialisme. Penyelenggaraan KWAA meninggalkan banyak kesan yang menarik, salah satunya adalah keterlibatan delegasi perempuan. Sayangnya, kehadiran delegasi perempuan dalam KWAA belum banyak mendapat perhatian dari para akademisi. Oleh karena itu, kajian ini membahas delegasi perempuan dalam KWAA dan suara mereka mengenai gagasan semangat dekolonisasi. Kajian ini bertujuan untuk menghadirkan peran perempuan dalam penulisan sejarah diplomasi pascakolonial di Asia Afrika, sehingga penulisan sejarah diplomasi menjadi lebih androgynous. Kajian ini dilakukan dengan metode sejarah, yang hasilnya menunjukkan bahwa beberapa delegasi perempuan yang hadir dalam KWAA adalah “buronan” negara-negara kolonial. Melalui KWAA, mereka menyuarakan pentingnya peran jurnalis dalam mendukung dekolonisasi untuk menghapuskan kolonialisme dan imperialisme di Asia dan Afrika.
PRAKTIK PERDUKUNAN MENURUT TIGA PRASASTI PENINGGALAN KEDATUAN SRIWIJAYA ABAD KE 6 – 7 MASEHI
Hot Marangkup Tumpal Sianipar;
Abednego Andhana Prakosajaya;
Ayu Nur Widiyastuti
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v6i2.186
Praktik perdukunan banyak digunakan untuk berbagai macam kepentingan. Salah satunya ialah penggunaan santet (ilmu magis) dari seorang dukun. Ini dinilai sebagai tindakan yang merugikan dan membahayakan masyarakat. Praktik perdukunan memang sudah mengakar di Nusantara seperti terlihat pada prasasti-prasasti peninggalan Kedatuan Sriwijaya. Penelitian ini mengambil objek penelitian tiga prasasti peninggalan Kedatuan Sriwijaya, yakni prasasti Kota Kapur, Palas Pasemah, dan Telaga Batu. Penelitian ini bertujuan untuk membahas bentuk praktik dan sifat perdukunan dalam tiga prasasti peninggalan Kedatuan Sriwijaya. Penelitian yang termasuk ke dalam ranah kajian ilmu epigrafi ini menggunakan penalaran induktif. Metode penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian terhadap tiga prasasti berangka tahun abad 6-7 M ini menunjukkan bahwa isi tiga prasasti ini mengandung kalimat-kalimat yang mengindikasikan adanya praktik perdukunan. Praktiknya adalah mencelakakan dan merugikan seseorang. Praktik ini beraliran hitam dan bersifat negatif sehingga dilarang oleh pemerintah Kedatuan Sriwijaya. Pelakunya akan mendapatkan kutukan dari raja sebagai hukuman.
BARONG LANDUNG: AKULTURASI BUDAYA BALI DAN TIONGHOA
Ni Made Ayu Erna Tanu Ria Sari
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v6i2.199
Aktivitas keagamaan masyarakat Bali senantiasa berhubungan dengan seni tari Bali memiliki banyak jenis tari-tarian. Tari barong banyak dijumpai di Bali dengan beberapa jenisnya, salah satunya Barong Landung yang merupakan perwujudan manusia atau raksasa. Inilah kemudian oleh masyarakat Bali dimaknai sebagai suatu kekuatan yang diyakini memberikan keselamatan. Permasalahan penelitian difokuskan pada sejarah munculnya Barong Landung, Barong Landung sebagai simbol keterkaitan Pura Dalem Balingkang dengan Barong Landung. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan analisis pada data wawancara, observasi, dan data sekunder. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa Barong Landung adalah perwujudan dari sang Maha Pencipta itu sendiri, yang oleh undagi di masa lalu tentu diwujudkan sesuai dengan keadaan zamannya ketika itu, yakni ketika sedang hangat-hangatnya perkawinan antarbudaya Cina dan Bali. Pesona tarian ini umumnya hanya bisa dinikmati pada momen-momen khusus seperti hari besar keagamaan di Bali biasa disebut Piodalan yang dilangsungkan di pura-pura tertentu.
CITRA IBU KOTA PALEMBANG DALAM HISTORIOGRAFI BARAT PADA ABAD XIX
Joshua Jolly Sucanta Cakranegara
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v7i1.217
Artikel ini bertujuan membahas citra ibu kota Palembang dalam historiografi Barat pada abad ke-19. Hal ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, seperti kejayaan Sriwijaya di masa lampau serta kehidupan masyarakatnya di tepi Sungai Musi yang menjadi daya tarik orang Barat sejak meningkatnya hegemoni Barat di Nusantara pada abad ke-17 dan abad ke-18. Artikel ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan menganalisis berbagai historiografi oleh para penulis dan pengelana Barat sebagai sumber primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah penaklukan Kesultanan Palembang, ibu kota Palembang mengalami proses konstruksi citra simbolik yang tidak terlepas dari romantisme Barat. Semboyan “Venesia dari Timur” pun menjadi representasi atas kompleksitas kehidupan masyarakat dan bentang alam ibu kota Palembang sekaligus identitas sosial-budaya ala Barat yang melekat atas ibu kota Palembang pada periode selanjutnya, yang tidak terlepas dari periode krusial pada abad ke-19.
KAUM PEREMPUAN DALAM DIPLOMASI KEBUDAYAAN INDONESIA, 1945-1960AN
Ayu Wulandari
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v6i2.204
Diplomasi kebudayaan merupakan salah satu agenda diplomasi yang kini digalakkan oleh Kementrian Luar Negeri Indonesia. Jika ditelaah lebih jauh, diplomasi kebudayaan telah dilakukan sejak awal Indonesia merdeka. Dalam upaya diplomasi kebudayaan tersebut, kaum perempuan menjadi aktor penting yang tidak bisa diabaikan. Sayangnya, keberadaan perempuan dalam penulisan sejarah diplomasi kebudayaan secara khusus dan sejarah diplomasi secara umum masih mengalami pengeksklusian. Kajian ini membahas keterlibatan dan peran perempuan dalam diplomasi kebudayaan Indonesia sejak 1945 sampai 1960an. Kajian ini bertujuan untuk menghadirkan peran perempuan dalam penulisan sejarah diplomasi kebudayaan, sehingga penulisan sejarah diplomasi kebudayaan menjadi lebih androgynous. Kajian ini dilakukan dengan metode sejarah, yang hasilnya menunjukkan bahwa selama kurun waktu 1945-1960an, banyak perempuan Indonesia yang terlibat dalam diplomasi kebudayaan. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa sepanjang periode tersebut kaum perempuan menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan diplomasi kebudayaan Indonesia. Apalagi, diplomasi kebudayaan pada saat yang sama merupakan salah satu pendukung keberhasilan diplomasi politik yang menjadi fokus kebijakan Soekarno.
PERUBAHAN SISTEM PEMERINTAHAN DAN KEPEMILIKAN LAHAN DI KOTA PADANG: STUDI KASUS NAGARI NANGGALO 1978-2010
Efrianto Efrianto
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v6i2.198
Nanggalo merupakan nama kecamatan di Kota Padang, kawasan ini memiliki sejarah yang menarik untuk diungkapkan baik dalam konteks budaya maupun sejarah. Nanggalo pada awalnya adalah nama nagari di Kabupaten Padang Pariaman, pada tahun 1978 bergabung ke dalam Kota Padang dan tahun 1980 berubah status menjadi kecamatan. Perubahan status Nanggalo dari nagari ke kecamatan membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat di Nanggalo. Tulisan ini menggambarkan sejauh mana perubahan yang terjadi di Nanggalo dalam kurun waktu 1978-2010, pasca berubah status dari nagari ke kecamatan. Untuk menjawab tujuan penulisan diawali dengan heuristik, kritik sumber, interpretasi diakhiri dengan historiografi. Heuristik dilakukan dengan cara studi pustaka dan wawancara, setelah itu dilanjutkan kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa perubahan terbesar yang terjadi di Nanggalo terjadi pada sosok pemimpin dalam masyarakat, ketika bernagari pemimpin merupakan hasil kesepakatan masyarakat, sekarang berganti dengan pejabat yang ditugaskan ke Nanggalo. Aspek lain adalah tanah yang dulu dominan tanah kaum sekarang, berubah menjadi tanah pribadi.
DIPLOMATIC RELATIONS BETWEEN ACEH AND TURKEY DURING THE REIGN OF SULTAN ALAUDDIN MANSUR SHAH (1577-1585 / 1586)
Khairul Nizam Bin Zainal Badri
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v7i1.256
Aceh is regarded as the strongest ally of the Ottomans in the east, in the 16th century and 17th century AD. At that time, the two governments exchanged gifts with each other, and benefited together; whether in the form of trade, or in the form of technology and the military. The historical record notes that Aceh started making official relations with the Ottomans during the reign of Sultan Salahuddin, which is the 2nd in the Sultanate of Aceh. Yet to be studied in this paper is that the establishment of diplomatic relations between Aceh and Turkey during the reign of Sultan Alauddin Mansur Shah. Remarkably, Sultan Alauddin Mansur Shah hailed from Perak, but was crowned the 8th Ruler of Aceh. This qualitative study uses the library approach entirely to highlight the role and contribution of Sultan Alauddin Mansur Shah in efforts to strengthen cooperation between Aceh and Turkey. With the help of the Ottomans, he launched an attack on the Portuguese in Melaka. Aceh’s strength even feared by the Portuguese authorities in Goa, India, forcing them to seek assistance from Lisbon. In conclusion, Sultan Alaudin Mansur Shah not only gained recognition from the Ottoman government but also succeeded in upholding the greatness of Islam; when reviving the trade routes of Muslims and looking after the welfare of Muslims in the archipelago.
AKULTURASI BUDAYA DALAM DAKWAH SULTAN HADIRIN DI DESA LORAM KULON KECAMATAN JATI KABUPATEN KUDUS
Erry Nurdianzah
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36424/jpsb.v6i2.200
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan akulturasi budaya dalam dakwah Sultan Hadirin pada masa penyebaran Islam Sunan Kudus. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan mendeskripsikan proses akulturasi budaya dalam dakwah Sultan Hadirin di Desa Loram Kulon. Hasil penelitian menunjukan bahwa Akulturasi budaya dalam dakwah Sultan Hadirin menempatkan budaya masyarakat Loram Kulon yang masyarakatnya beragama Hindu sebagai entitas yang menerima budaya Islam sebagai budaya baru dalam sistem sosial budaya masyarakat. Akulturasi budaya dalam dakwah Sultah Hadirin terdapat dalam dua bentuk, yaitu dalam bentuk visual dan ritual. Bangunan Gapura Masjid Wali merupakan wujud visual akulturasi antara Agama Hindu dan Islam dalam dakwah Sultan Hadirin, sebab bangunan Gapura menyerupai pura serta berdiri di depan Masjid Wali. Akulturasi budaya dalam bentuk ajaran teraktualisasikan dalam ritual kepelan, nganten mubeng gapuro, serta ampyang maulid.