cover
Contact Name
Terttiaavini
Contact Email
avini.saputra@uigm.ac.id
Phone
+6285377238800
Journal Mail Official
lppm@uigm.ac.id
Editorial Address
Jl. Jend Sudirman No 629 KM 4 Palembang
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Tekno Global
ISSN : 23386762     EISSN : 24776955     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Karya-karya ilmiah dalam jurnal Tekno Global yang pertama ini merupakan hasil dari tulisan dari Praktisi, Pakar dan dedikasi para Dosen Indo Global Mandiri yang senantiasa memiliki komitmen untuk mengembangkan Ilmu pengetahuan pada bidang Keteknikan baik dalam tataran praktis maupun teoritis sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan keamanan hidup. Meningkatan kualitas karya ilmiah dalam jurnal keteknikan merupakan suatu hal yang fundamental karena pembangunan adalah penopang berlangsungnya kehidupan sebuah negara. Jurnal Ilmiah Tekno Global diterbitkan 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun pada bulan Juni dan Desember. Artikel yang diterbitkan bulan Juni diterima Dewan Redaksi paling lambat bulan Maret, dan yang diterbitkan bulan Desember diterima Dewan Redaksi paling lambat bulan September.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "vol. 15 no. 01" : 5 Documents clear
Faktor Dominan Keluhan Low Back Pain (LBP) pada Truck Drivers Kota Palembang ARIE ANGGARA; Novrikasari Novrikasari; Yuanita Windusari
Jurnal Tekno Global Vol. 15 No. 01
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v15i01.5950

Abstract

ABSTRACT Low Back Pain (LBP) is one of the most common musculoskeletal disorders with a high prevalence among truck drivers. LBP is a leading cause of activity limitations, disability, inability to work, and work absenteeism. This study aims to analyze the dominant factors of LBP complaints among truck drivers of the Environmental Service (DLH) in Palembang City. A cross-sectional approach was employed in this study. The respondents were truck drivers in Palembang City. A total of 107 drivers were selected using a non-probability purposive sampling technique. The results showed that 65 respondents (60.7%) experienced LBP complaints. The majority of the drivers, 96 respondents (89.7%), did not use Lumbar Support while driving. The use of Lumbar Support was found to be the dominant occupational factor associated with LBP complaints among truck drivers (Prevalence Ratio = 16.565). It is recommended that drivers consistently use Lumbar Support while driving as a preventive measure to reduce the risk of LBP complaints among truck drivers in Palembang City. Keywords : Musculoskeletal Disorders, Low Back Pain, Drivers, Truck     ABSTRAK Low Back Pain (LBP) merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal dengan intensitas tertinggi pada truck drivers. LBP merupakan salah satu penyebab utama keterbatasan aktivitas, kecacatan, ketidakmampuan untuk bekerja, dan ketidakhadiran dalam bekerja. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis Faktor Dominan keluhan LBP pada truck drivers Kota Palembang. Metode yang digunakan dengan pendekatan cross-sectional. Responden dalam penelitian ini adalah truck drivers Kota Palembang. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 107 drivers yang diambil dengan teknik sampling nonprobability dengan cara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 65 responden (60,7%) mengalami keluhan LBP pada drivers. Mayoritas sebanyak 96 responden (89,7%) tidak menggunakan Lumbar Support pada saat mengemudi. Penggunaan Lumbar Support merupakan variabel dominan terkait faktor pekerjaan dengan keluhan LBP pada truck drivers Kota Palembang (PR = 16,565). Drivers diharapkan selalu menggunakan Lumbar Support selama mengemudi hal ini dimaksudkan untuk mencegah keluhan LBP pada truck drivers Kota Palembang. Kata Kunci : Musculoskeletal Disorders, Low Back Pain, Drivers, Truk
Analisis Risiko Kecelakaan Kerja Pada Petugas Pemadam Kebakaran Kota Palembang dengan Menggunakan Metode HIRARC Adellia Paramita Juainah; Ari Anggara; Imron; Samat
Jurnal Tekno Global Vol. 15 No. 01
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v15i01.6016

Abstract

ABSTRACT Firefighting is a high-risk occupation in terms of occupational safety and health (OSH) due to exposure to physical, chemical, and electrical hazards under emergency conditions. This study aims to analyze occupational accident risks among firefighters in Palembang City using the Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) method. A descriptive qualitative approach was employed through in-depth interviews, field observations, and document analysis at the Palembang City Fire and Rescue Service, Kemuning Station, during June–July 2025. The hazard identification process revealed 19 potential occupational hazards classified into physical hazards (84%), chemical hazards (11%), and electrical hazards (5%). Risk assessment based on the AS/NZS 4360:2004 risk matrix indicated that three hazards were categorized as extreme risk, seven as high risk, seven as medium risk, and two as low risk. Extreme risks included electrical shock, exposure to toxic fire smoke, and extreme heat at fire scenes. Current risk control measures are predominantly administrative controls, such as standard operating procedures, briefings, training, and the use of personal protective equipment (PPE). Although HIRARC has not been formally implemented, its fundamental principles have been implicitly applied in daily operational practices. Therefore, a gradual implementation of HIRARC is recommended to strengthen the OSH system, enhance firefighter preparedness, and reduce occupational accident risks. Keywords: HIRARC, OHS, firefighting, occupational risks   ABSTRAK Pemadam kebakaran merupakan profesi dengan tingkat risiko tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) akibat paparan bahaya fisik, kimia, dan listrik dalam kondisi darurat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko kecelakaan kerja pada petugas pemadam kebakaran Kota Palembang menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC). Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis dokumen pada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palembang Pos Kemuning pada Juni–Juli 2025. Hasil identifikasi bahaya menunjukkan terdapat 19 potensi bahaya kerja yang dikelompokkan ke dalam bahaya fisik (84%), kimia (11%), dan listrik (5%). Penilaian risiko menggunakan matriks AS/NZS 4360:2004 menunjukkan tiga bahaya berada pada kategori risiko ekstrem, tujuh kategori tinggi, tujuh kategori sedang, dan dua kategori rendah. Risiko ekstrem meliputi sengatan listrik, paparan asap beracun, dan suhu panas di lokasi kebakaran. Upaya pengendalian risiko yang diterapkan saat ini masih didominasi oleh  administratrative control seperti SOP, briefing, pelatihan, serta penggunaan alat pelindung diri (APD). Metode HIRARC belum diterapkan secara formal, namun prinsip-prinsip dasarnya telah dijalankan secara tidak langsung dalam praktik operasional. Oleh karena itu, penerapan HIRARC secara bertahap direkomendasikan untuk memperkuat sistem K3, meningkatkan kesiapsiagaan petugas, serta menurunkan risiko kecelakaan kerja. Kata kunci: HIRARC, K3, pemadam kebakaran, risiko kerja
Eksplorasi Faktor-Faktor Yang Berperan Dalam Response Time Petugas Pemadam Kebakaran Dalam Pelayanan Bencana Kebakaran Di Dinas Pemadam Kebakaran Dan Penyelamatan Palembang Nadia Mutaharini; Agus Geter Edy Sutjipto; Samat NR
Jurnal Tekno Global Vol. 15 No. 01
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v15i01.6127

Abstract

ABSTRACT Fire is one type of disaster that has a high risk and often occurs in urban areas, including in Palembang City. Response time is the main indicator in assessing the effectiveness of fire services. This study aims to analyze the factors that influence the response time of firefighters in fire disaster services at the Palembang City Fire and Rescue Service. This research uses a qualitative descriptive approach, with data collection through interviews, observations, and literature studies. The results showed that the response time of officers consisted of three main stages, namely the time to receive reports, the time to prepare personnel and infrastructure, and the time to travel to the scene. The influencing factors are internal factors such as officer readiness, fleet completeness, and understanding of SOPs. While the dominant external factors are traffic conditions, the location of the incident that is difficult to reach, and the accuracy of information from the reporter. Overall, the ideal response time is 15 minutes, but some found that the obstacles faced by officers are traffic and uneven distribution of fire stations. The fire service is advised to increase the number of fire stations, routine training for officers, intensive maintenance of units, optimization of emergency communication systems, and performance evaluation in fire services for officers.  Keywords : Fire, Firefighting, Firefighters, Public Services, Response Time   ABSTRAK Kebakaran merupakan salah satu jenis bencana yang berisiko tinggi dan sering terjadi di wilayah perkotaan, termasuk di Kota Palembang. Dalam upaya mitigasi bencana kebakaran, Response time merupakan indikator utama dalam menilai efektivitas pelayanan kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berperan pada response time petugas pemadam kebakaran dalam pelayanan bencana kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa response time petugas terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu waktu menerima laporan, waktu persiapan personel dan sarana prasarana, serta waktu perjalanan menuju lokasi kejadian. Faktor yang mempengaruhi berupa faktor internal seperti kesiapan petugas, kelengkapan armada, dan pemahaman SOP sangat menentukan. Sementara faktor eksternal yang dominan adalah kondisi lalu lintas, lokasi kejadian yang sulit dijangkau, serta keakuratan informasi dari pelapor. Secara keseluruhan response time ideal 15 menit, namun beberapa ditemukan bahwa kendala yang dihadapi petugas yaitu lalu lintas dan distribusi pos pemadam yang belum merata. Dinas kebakaran disarankan untuk melakukan peningkatan jumlah pos pemadam, pelatihan rutin bagi petugas, pemeliharaan unit secara intensif, optimalisasi sistem komunikasi darurat, serta evaluasi kinerja dalam pelayanan kebakaran bagi petugas. Kata Kunci : Kebakaran, Pelayanan Publik, Pemadam Kebakaran, Petugas Pemadam Kebakaran, Response Time
Analisis Kesehatan dan Keselamatan Kerja Penggunaan Pestisida Menggunakan Metode ASNZS 4360:2004 dan Job Safety Analysys (JSA) Putri Nur Hasanah; Saniatun Wilda; Natasya Shafira Putri Rahmat; Hilman Imadul Umam; Teguh Pambudi
Jurnal Tekno Global Vol. 15 No. 01
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v15i01.6152

Abstract

ABSTRACT The use of pesticides in agricultural activities is still frequently carried out without adequate implementation of occupational safety and health (OSH) procedures, such as incomplete use of personal protective equipment (PPE) and unsafe mixing and spraying practices, which increases the risk of health problems and environmental contamination. Commonly reported health effects include skin irritation, dizziness, muscle pain, respiratory disorders, and musculoskeletal complaints. This study aims to analyze occupational safety and health risks associated with pesticide use among farmers by applying the AS/NZS 4360:2004 risk management method and Job Safety Analysis (JSA). The study employed a qualitative descriptive approach through interviews and direct observations of work activities, including equipment and material preparation, pesticide mixing, spraying, and sprayer tank cleaning. Risk assessment was conducted based on three indicators, namely exposure, probability, and consequence, to determine risk levels and identify appropriate control measures. The results indicate that the preparation stage of equipment and materials is the most critical, with back pain classified as a “Substantial” risk and swollen feet categorized as “Priority 3.” Other work stages were generally classified as “Acceptable,” although the potential for direct pesticide exposure remains a concern. Recommended risk control measures include consistent use of PPE, regular OSH training, and improvements in work procedures to reduce manual handling risks and chemical exposure, thereby supporting safer and more sustainable agricultural practices. Keywords : Occupational Health Risk, K3, Pesticide Use   ABSTRAK Penggunaan pestisida dalam aktivitas pertanian masih banyak dilakukan tanpa penerapan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang memadai, seperti ketidaklengkapan alat pelindung diri (APD) serta teknik pencampuran dan penyemprotan yang tidak aman, sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan dan pencemaran lingkungan. Dampak kesehatan yang sering dilaporkan meliputi iritasi kulit, pusing, nyeri otot, gangguan pernapasan, dan keluhan muskuloskeletal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko K3 pada penggunaan pestisida oleh petani dengan menggunakan metode AS/NZS 4360:2004 dan Job Safety Analysis (JSA). Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara dan observasi langsung terhadap tahapan kerja yang meliputi persiapan alat dan bahan, pencampuran pestisida, penyemprotan, serta pencucian tangki semprot. Penilaian risiko dilakukan berdasarkan indikator exposure, probability, dan consequence untuk menentukan tingkat risiko serta kebutuhan pengendalian. Hasil analisis menunjukkan bahwa tahap persiapan alat dan bahan merupakan tahapan paling kritis, dengan risiko nyeri punggung berada pada kategori “Substantial” dan risiko kaki bengkak termasuk kategori “Priority 3.” Sementara itu, tahapan kerja lainnya umumnya berada pada kategori “Acceptable,” meskipun potensi paparan pestisida secara langsung tetap perlu diperhatikan. Upaya pengendalian yang direkomendasikan meliputi penggunaan APD secara konsisten, pelaksanaan pelatihan K3 secara berkala, serta perbaikan prosedur kerja untuk mengurangi risiko pengangkatan manual dan paparan bahan kimia, guna mendukung praktik pertanian yang lebih aman dan berkelanjutan Kata Kunci : Resiko Kesehatan Kerja, K3, Penggunaan Pestisida
Optimasi Kombinasi Limbah Abu Sekam Padi Dan Sikacim Untuk Percepatan Waktu Pengerasan Beton Fc’20 Agus Setiobudi; Herri Purwanto; Amiwarti Amiwarti; Reffanda Kurniawan
Jurnal Tekno Global Vol. 15 No. 01
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v15i01.6281

Abstract

ABSTRACT Concrete road casting requires accelerated hardening to minimize traffic disruptions and reduce the impact of congestion. This research examines the effectiveness of combining Rice Husk Ash (RHA) as a partial cement replacement and Sikacim as a partial water replacement to enhance the hardening process of Fc'20 grade concrete. RHA was used to replace 5% of the cement content, while Sikacim was utilized as a water replacement with concentration variations of 5%, 10%, and 15% of the total mixing water requirement. The experimental methodology involved compressive strength testing on 24 standard cylindrical specimens after a 7-day curing period. The results indicated that the optimal combination of 5% RHA and 10% Sikacim achieved a compressive strength of 20.57 MPa at 7 days (equivalent to 31.65 MPa at 28 days), representing a 44.39% increase over the target Fc'20 quality. This performance boost resulted from the synergistic effect between the pozzolanic reaction of the RHA, which forms additional C-S-H (Calcium Silicate Hydrate) gel, and the superplasticizer properties of Sikacim, which improves workability while densifying the concrete matrix. The 5% Sikacim combination showed lower compressive strength due to an insufficient additive dosage to compensate for cement reduction, while 15% Sikacim led to potential segregation and hydration interference. These findings prove that 5% RHA with 10% Sikacim not only accelerates hardening but also significantly improves concrete quality. Implementing these findings provides a valuable contribution to speeding up road construction projects while promoting the sustainable use of local materials, specifically supporting green construction practices through the utilization of agricultural waste Keywords : Rice Husk Ash, Fc'20 Concrete, Concrete Compressive Strength, Rapid Concrete Hardening, Sikacim   ABSTRAK Pengecoran jalan beton memerlukan percepatan pengerasan untuk meminimalkan gangguan lalu lintas dan mengurangi dampak kemacetan. Penelitian ini mengkaji efektivitas kombinasi abu sekam padi (ASP) sebagai pengganti sebagian semen dan Sikacim sebagai pengganti sebagian air dalam meningkatkan proses pengerasan beton Fc'20. ASP digunakan untuk menggantikan 5% kandungan semen, sedangkan Sikacim digunakan sebagai pengganti air dengan variasi konsentrasi 5%, 10%, dan 15% dari total kebutuhan air campuran. Metodologi eksperimen melibatkan pengujian kuat tekan pada 24 spesimen silinder standar setelah periode perawatan 7 hari. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kombinasi optimal 5% ASP dan 10% Sikacim mencapai kuat tekan 20,57 MPa pada 7 hari, setara dengan 31,65 MPa pada 28 hari, terjadi peningkatan kuat tekan sebesar 44,39% dari mutu rencana Fc'20. Peningkatan kinerja ini dihasilkan dari efek sinergis antara reaksi pozzolanik ASP yang membentuk gel C-S-H tambahan, dan sifat superplasticizer Sikacim yang meningkatkan workability sekaligus memadatkan matriks beton. Kombinasi dengan 5% Sikacim menunjukkan kuat tekan yang lebih rendah karena dosis aditif yang tidak cukup untuk mengkompensasi pengurangan semen, sementara 15% Sikacim menyebabkan potensi segregasi dan gangguan hidrasi. Hasil ini membuktikan bahwa 5% ASP dengan 10% Sikacim tidak hanya mempercepat pengerasan beton tetapi juga secara signifikan meningkatkan kualitas beton. Implementasi temuan ini memberikan kontribusi berharga untuk mempercepat proyek konstruksi jalan sekaligus mendukung pemanfaatan bahan lokal yang berkelanjutan dalam industri konstruksi, khususnya mendukung praktik konstruksi hijau melalui pemanfaatan limbah pertanian. Kata Kunci : Abu Sekam Padi, Beton Fc'20, Kuat Tekan Beton, Pengerasan Beton Cepat, Sikacim

Page 1 of 1 | Total Record : 5