Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan. We publish original research papers, review articles and case studies on the latest research and developments in the field of : oral tradition; manuscript; customs; rite; traditional knowledge; traditional technology; art; language; folk games; traditional sports; and history. Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya is published twice a year and uses double-blind peer review. All submitted articles should report original, previously unpublished research results, experimental or theoretical that are not published and under consideration for publication elsewhere. The publication of submitted manuscripts is subject to peer review, and both general and technical aspects of the submitted paper are reviewed before publication. Manuscripts should follow the style of the journal and are subject to both review and editing. Submissions should be made online via Pangadereng journal submission site. Accepted papers will be available on line and will not be charged a publication fee. This journal is published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan Direktorat jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, Kementerian Pendidikan Dan Pendidikan.
Articles
170 Documents
BUDAYA POLITIK KERAJAAN SOPPENG: DARI TO MANURUNG SAMPAI INTEGRASI PEMERINTAHAN LA MATA ESSO TAHUN 1575
Sritimuryati, Srititmuryati
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v7i2.143
Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan dan menjelaskan budaya politik Kerajaan Soppeng: dari To Manurung sampai pada integrasi pemerintahan La Mata Esso pada tahun 1575. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, yaitu tahap pengumpulan sumber atau proses heuristic; tahap kritik sumber, terutama yang menyangkut kredibilitas atau dapat tidaknya sumber dipercaya; tahap interpretasi atau penafsiran sumber; dan tahap penyajian sejarah atau historiografi dalam bentuk kisah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kerajaan Soppeng tidak serta merta ada. Sejarah panjang menunjukkan bahwa munculnya To Manurung mengubah bentuk pemerintahan dari enam puluh menjadi tiga matoa, kemudian melahirkan dua kerajaan kembar di Soppeng, yaitu Kerajaan Soppeng Riaja dan Kerajaan Soppeng Rilau. Kedua kerajaan tersebut pada akhirnya bersatu menjadi Kerajaan Soppeng karena adanya perang saudara dan rajanya bernama La Mata Esso.
PENYELESAIAN PELANGGARAN ADAT TERHADAP PENGRUSAKAN DAN PENCURIAN DALAM HUTAN DI KAWASAN ADAT KAJANG, KABUPATEN BULUKUMBA
Hafid, Abdul
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v11i1.74
Tulisan ini mendeskripsikan tentang Tatacara penyelesaian pelanggaran adat terhadap pengrusakan dan pencurian dalam hutan keramat di kawasan adat Kajang di Kabupaten Bulukumba, yang bertujuan untuk mengungkapkan sejauh mana peranan Ammatoa dalam menyelesaikan berbagai pelanggaran adat yang terjadi dalam hutan keramat pada masyarakat adat Kajang. Tulisan ini bersifat deskriptif  kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa;  studi pustaka, observasi, dokumentasi dan wawancara kepada pemimpin adat di Kajang yang digelar dengan sebutan Ammatoa,  dan sejumlah perangkat-perangkat adatnya serta pemerintah setempat seperti kepala desa dan sebagainya. Hasil tulisan ini menunjukkan bahwa dalam melaksanakan peranannya sebagai Ammatoa beserta sejumlah perangkat adat lainnya dibekali aturan yang merupakan pegangannya, yaitu Pasang (aturan tidak tertulis) yang telah diturunkan secara turun –temurun sejak Ammatoa Mariolo (Ammatoa pertama). Keberadaan Pasang tersebut senantiasa dipatuhi oleh masyarakat adat Kajang, yang diimplementasikan dalam segala aktivitas kehidupan mereka. Jika masyarakat adat Kajang melanggar Pasang, maka akan menanggung sanksi, baik sanksi sosial maupun sanksi hukum adat berupa denda.  Oleh karena itu, peranan Ammatoa baik terhadap pelestarian lingkungan alam (hutan) maupun terhadap penyelesaian pelanggaran adat yang terjadi dalam borong karamaka, akan memegang peranan penting untuk terus menerus memelihara, melestarikan lingkungan alam dan mempertahankan tidak akan terjadi pelanggaran adat dalam hutan keramat (borong karamaka).           Â
ATURAN ADAT DALAM TRADISI “SIREMPEK API†DI DESA PONGKA KECAMATAN TELLU SIATTINGNGE KABUPATEN BONE
Hafid, Abdul
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v8i1.102
Sirempek api merupakan tradisi pesta panen yang dilakukan pada masyarakat Bugis di Desa Pongka Kecamatan Tellu SiattingngE Kabupaten Bone. Tradisi sirempek api berupa permainan saling melempar api yang hingga saat ini masih dipertahankan . Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan menggunakan teknik wawancara mendalam dan pengamatan langsung. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan tradisi sirempek api dan aturan-aturan adat dalam tradisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pelaksanaannya, tradisi sirempek api merupakan permainan tradisional yang sarat dengan unsur magis yang dimainkan oleh kaum laki-laki yang salingmelempar bola-bola api. Dalam permainan ini ada aturan-aturan adat yang mesti di patuhi agar tidak kena resiko terbakar api. Masyarakat setempat percaya bahwa keburuntungan akan datang jika tradisi sirempek api ini terlaksana dengan baik, dan mendapat berkah seperti hasil pertanian akan tumbuh subur, ketentraman kampung terjaga, serta rezeki masyarakat setempat lebih meningkat. Sebaliknya, malapetaka akan terjadi jika tradisi sirempek api ini tidak dilaksanakan dengan baik.
JARINGAN PERDAGANGAN DAN INTEGRASI EKONOMI (1900-1938)
Nur, Nahdia
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v7i2.134
Penelitian ini bertujuan untuk melihat perkembangan jejaring perdagangan dan integrasi ekonomi di Sulawesi bagian selatan pada periode penguasaan Pemerintah Hindia Belanda sampai krisis ekonomi pada 1930-an. Dengan menggunakan metode sejarah, hasil penelitian ini membuktikan bahwa perkembangan jaringan perdagangan dan integrasi ekonomi di Sulawesi Selatan tidak dapat dilepaskan dari perubahan politik dan ekonomi dalam konteks lebih luas. Ekspansi politik kolonial mempengaruhi perkembangan jaringan perdagangan dan integrasi ekonomi di Sulawesi Selatan. Kebijakan pemerintah kolonial Belanda menempatkan Pelabuhan Makassar sebagai pelabuhan bebas yang berada di bawah pengawasan Belanda. Kebijakan politik pelabuhan bebas bertujuan untuk memikat dan memusatkan kegiatan perniagaan di bagian selatan. Di lain pihak, pemerintah Belanda melakukan kontrol atas komoditi yang diperdagangkan, meliputi harga dan pembatasan atau larangan impor komoditi tertentu, terutama beras. Aktivitas perdagangan periode 1900 sampai 1930-an pada dasarnya memperlihatkan proses integrasi ekonomi di Sulawesi bagian selatan.
FUNGSI DAN MAKNA TRADISI UPACARA MONAHU NDAU’U PADA KEGIATAN PERTANIAN OLEH MASYARAKAT TOLAKI DI DESA BENUA KABUPATEN KONAWE SELATAN
Asis, Abdul
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v7i1.93
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fungsi dan makna upacara tradisi Monahu Ndau’u di Desa Benua. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa pengamatan, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Tolaki di Desa Benua masih melakukan sistem perladangan berpindah-pindah. Pengolahan lahan secara tradisional ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: pemilihan lahan, pembukaan lahan, penanaman, perawatan, dan panen. Sebelum masa tanam, masyarakat melakukan upacara Monahu Ndau’u. Upacara ini merupakan tradisi budaya masyarakat Tolaki di Desa Benua yang dilakukan ketika menjelang musim tanam. Pelaksanaannya mengandung banyak makna dan fungsi. Tradisi ini diawali dengan kegiatan Kanda atau Lulo Ngganda yangbermakna kegembiraan karena sudah tiba musim tanam. Upacara tersebut melibatkan seluruh masyarakat untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Tolak Bala berfungsi untuk mengusir penyakit tanamanyang dapat menyebabkan gagal panen; menghindarkan konflik dan kesalahpahaman di kalangan warga; dan menari bersama selama tiga malam sebagai media hiburan, berturut-turut pada bulan ke 14, 15, dan 16 dengan menggunakan api unggun.
DINAMIKA PERAN SANDO MEANAQ DALAM UPACARA KELAHIRAN BAYI PADA MASYARAKAT MANDAR
Saleh, Nur Alam
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v8i2.125
Tulisan yang disajikan ini merupakan hasil penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan peran dan dinamika sando meanaq dalam upacara tradisional, pada tahap (a) masa kehamilan, (b) kelahiran, dan (c) pascamelahirkan, pada masyarakat Mandar di Kabupaten Majene. Informasi yang tersaji ini terjaring melalui metode pengamatan (observasi) dan wawancara mendalam (depth interview), serta dokumentasi tertulis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran seorang sando meanaq dalam sistem upacara masa hamil, melahirkan, dan pasca kelahiran seorang bayi masih tetap diselenggarakan. Meskipun sedikit mengalami pergeseran dengan keterlibatan bidan desa, tidak terlalu signifikan dalam proses pelaksanaannya. Fungsi dan makna dari sebuah upacara itu masih tetap dipegang teguh oleh masyarakat pendukungnya.
PELABUHAN PAREPARE DI BAWAH KUASA GOWA DAN BONE
Kila, Syahrir
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v8i2.116
Kajian ini bertujuan untuk melihat eksistensi Pelabuhan Bacukiki dan Pelabuhan Suppa hingga terbentuknya Pelabuhan Parepare di bawah kuasa Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone dengan menggunakan metode sejarah. Kajian ini membuktikan bahwa kedua pelabuhan yang dimaksud, yaitu Bacukiki dan Suppa adalah suatu pelabuhan besar pada masanya. Bukan hanya itu, kedua pelabuhan itu lebih maju dibanding Pelabuhan Somba Opu. Itulah sebabnya ketika Pelabuhan Somba Opu ingin dimajukan menjadi pelabuhan transito oleh Kerajaan Gowa, kedua pelabuhan ini harus dimatikan perannya terlebih dahulu.Ketika peran pelabuhan ini sudah memudar, maka Pelabuhan Somba Opu mulai berkembang karena semua bongkar muat barang dan jasa dari kedua pelabuhan itu, dialihkan ke Somba Opu. Ketika itulah Pelabuhan Parepare mulai dilirik oleh para pedagang yang berasal dari Ajatappareng. Pada saat Kerajaan Gowa-Tallo runtuh, pengelolaannya dikuasai oleh Bone. Kondisi pelabuhan ketika itu belum berkembang dengan baik sebab aturan sangat ketat. Ketika wilayah Hindia Belanda diserahkan ke Inggris, PelabuhanParepare dikontrakkan kepada Addatuang Sidenreng.
FUNGSI REYOG PONOROGO BAGI PENARI, WIYOGO, PENYENGGAK, DAN MASYARAKAT
Mudjijono, Mudjijono
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v7i2.148
Kajian terkait Reyog Ponorogo ini dilakukan di Kabupaten Ponorogo Provinsi Jawa Timur. Permasalahan kajiannya ini bertolak dari pertanyaan bagaimana fungsi Reyog Ponorogo bagi penari, wiyogo, penyenggak, dan masyarakat. Tujuan kajian ini dengan berpijak atas pertanyaan itu karena kajian ini bertujuan ingin mengetahui fungsi kesenian Reyog Ponorogo bagi masyarakat. Untuk mengetahui semua itu dilakukan penelitian dengan melakukan observasi, wawancara, dan studi pustaka. Observasi dan wawancara dilakukan di daerah Sawoo, Kauman, dan sekitar makam Bethoro Katong. Informasi awal itu sebagai modal untuk melakukan penelusuran dan penelitian. Hasil penelusuran tersebut dituangkan dalam laporan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian Reyog Ponorogo mempunyai fungsi primer dan sekunder serta mempunyai fungsi sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Walaupun demikian fungsi sosial lebih menonjol karena kesenian tersebut sebagai pemersatu dan solidaritas antara penari, wiyogo, penyenggak, pemain lain, dan masyarakat.
PERJUANGAN SULTAN ALAUDDIN RAJA GOWA KE-14 (1593-1639)
Kila, Syahrir
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v7i1.84
Artikel ini bertujuan mengungkap dan menjelaskan sejarah perjuangan Sultan Alauddin selaku Raja Gowa ke-14 di Kerajaan Gowa. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi empat tahapan kerja secara sistematis, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Raja Tallo sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo yang pertama kali menerima agama Islam adalah I Malingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka dan dinamai Sultan Abdullah Awwalul Islam setelah memeluk agama Islam. Sementara itu, Raja Gowa yang pertama memeluk agama Islam adalah Sultan Alauddin yang bernama I Mangngarangi Daeng Manrabbia. Mereka menyebarkan agama Islam kepada kerajaan-kerajaan sekutunya. Dalam menyebarkan agama Islam, banyak kerajaan lokal menolaknya, terutama yang berada di wilayah Bugis, karena diduga bahwa hal tersebut dilakukan untuk memperluas wilayah kekuasaan semata dengan berlindung pada penyebaran agama Islam. Penolakan tersebut menimbulkan perang yang lazim disebut Perang Pengislaman (musu selleng).
PENDUDUKAN JEPANG DI POLEANG TIMUR SULAWESI TENGGARA (1942-1945)
Sarapang, Simon Sirua
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v8i1.107
Artikel ini mengkaji tentang pendudukan Jepang di Poleang Timur 1942-1945. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang rangkaian tahapannya terdiri dari heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil kajian menunjukkan bahwa masuknya tentara Jepang di Poleang Timur dikarenakan letaknya yangstrategis, ditunjang oleh potensi alam yang cocok untuk pembangunan sarana perang sebagai basis pertahanan dan logistik tentara. Pendudukan Poleang Timur terjadi melalui taktik tertentu, sehingga Jepang memperlihatkan sikap dan keramahtamahannya kepada masyarakat dengan memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada para petani, memperkenalkan jenis tanaman baru, serta memberikan latihan dasar kemiliteran, seperti seinendan,keibodan, dan heiho.