cover
Contact Name
Moh Atikurrahman
Contact Email
suluk@uinsa.ac.id
Phone
+6231-8493836
Journal Mail Official
suluk@uinsa.ac.id
Editorial Address
Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Adab dad Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Ahmad Yani 117 Surabaya 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya
ISSN : 26862689     EISSN : 27147932     DOI : https://doi.org/10.15642/suluk
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya is a half-yearly journal published by the literary studies program of Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Suluk provides a forum for the scholar of literary studies, with special reference to linguistics, literature, and culture. The journal publishes articles on literature, language, philology, and culture of Indonesia with a special interest in the study of literature/language from different geographical areas such as Arabic, Indonesian, Javanese, etc. Suluk is accredited by Crossref, Google Scholar, Garuda, Indonesia Onesearch, Dimensions, Microsoft Academic, Index Copernicus International, Research Bible, and ROAD. Suluk uses the Open Journal System and email. It is a double-blind peer-reviewed by the international and national reviewers. This journal is an open-access journal which means that all content is freely available without charge to the user or his/her institution. Users are allowed to read, download, copy, distribute, print, search, or link to the full texts of the articles, or use them for any other lawful purpose, without asking prior permission from the publisher or the author. This is in accordance with the BOAI definition of open access.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2021): Maret" : 7 Documents clear
Lanskap Arkeologi Situs Gosari-Gresik dalam Perspektif Prosesual dan Pasca-Prosesual Laksmi Eko Safitri
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.007 KB) | DOI: 10.15642/suluk.2021.3.1.23-33

Abstract

Dalam tulisan ini Situs Gosari-Gresik dikategorikan sebagai salah satu artefak arkeologis Nusantara yang memberikan informasi terkait masa silam. Situs tersebut dipahami sebagai representasi dari perspektif Prosesual dan Pasca-Prosesual. Ruang lingkup tulisan ini menyajikan lanskap Situs Gosari sebagai representasi dari paradigma prosesual dan pasca-prosesual. Kontradiksi kedua paradigma di atas disinergikan untuk mengetahui lanskap Situs Gosari yang terdiri dari bekas tungku pembakaran gerabah, sendang, dan prasasti. Dalam hal itu paradigma pertama menjelaskan tarikh atau usia situs, jenis atau model gerabah yang dihasilkan; korelasi antarunsur arkeologi; dan peranan atau industri gerabah pada masa Majapahit. Sedangkan paradigma kedua digunakan untuk melengkapi analisis yang tidak dapat dijangkau paradigma sebelumnya, terutama terkait interpretasi terhadap sendang dalam pandangan masyarakat setempat berdasarkan tradisi lisan/folklor yang diyakini. Dari kedua paradigma tersebut dihasilkan kesimpulan bahwa kedudukan sendang memiliki peranan penting, baik dalam industri gerabah maupun kehidupan masyarakat sekitar. Selain itu, diketahui bahwa tinggalan budaya tak bendawi masa klasik tersebut masih dipelihara.
Nilai Budaya dan Sistem Kepercayaan dalam Legenda Raden Ayu Oncattondo Wurung: Kajian Folklor Icha Fadhilasari; Mohamad Nizar Rahmanto
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.949 KB) | DOI: 10.15642/suluk.2021.3.1.34-45

Abstract

Legenda merupakan bagian dari folklor lisan yang tidak hanya menggambarkan kisah-kisah kolektif suatu kelompok masyarakat tetapi juga mengandung anasir sejarah. Legenda dapat mencerminkan kebudayaan sebuah komunitas kultural. Legenda Raden Ayu Oncattondo Wurung merupakan salah satu folklor lisan yang masih diyakini oleh sebagian masyarakat di sekitar Sidoarjo. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi, nilai budaya dan sistem kepercayaan pada sosok Raden Ayu Oncattondo Wurung terkait masyarakat di Terung Wetan, Krian, Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Dalam pengumpulan data dilakukan pengamatan dan wawancara kepada beberapa tokoh masyarakat dan warga setempat. Hasilnya diketahui asal-usul Raden Ayu Oncattondo Wurung. Selanjutnya, dapat dipahami fungsi, nilai budaya dan sistem kepercayaan terkait legenda tersebut sehubungan dengan masyarakat setempat. Legenda tersebut memiliki dua fungsi yang mengatur perilaku manusia dalam kehidupan masyarakat. Nilai budaya pada legenda tersebut menjadi acuan tingkah laku masyarakat setempat. Nilai budaya dalam penelitian ini difokuskan pada nilai rohani, yakni: 1) kebenaran, 2) keindahan, 3) kebaikan, dan 4) nilai religius.
Perempuan dan Kekerasan Prakriti: Resistensi Tokoh Mabel dalam Tanah Tabu Terhadap Budaya Patriarki dan Kapitalisme Freeport Moh. Badrus Solichin; Nur Lailatus Sa’adah
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.893 KB) | DOI: 10.15642/suluk.2021.3.1.58-71

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meninjau peran dan posisi perempuan dalam Tanah Tabu. Dalam perspektif ekofeminisme tokoh-tokoh perempuan dalam novel terjebak dalam belenggu ganda, yakni budaya patriarki dan rantai kapitalisme. Ekofeminisme memiliki aspirasi sehubungan dengan isu-isu lingkungan hidup yang terintimidasi ideologi berwawasan kekerasan yang bercorak patrialkal. Melalui sudut pandang, ekofeminisme melihat keberadaan bumi telah teraniyaya oleh develomentalisme dan kapitalisme. Ekofeminisme menempatkan kaum perempuan sebagai korban sekaligus pelaku perlawanan dari kaki tangan maskulinitas, yang dalam konteks ini tercermin dari laki-laki suku Dani serta Freeport. Kehadiran perusahaan tambang emas ini dianggap telah mengeksploitasi alam Lembah Baliem, yang menjadi sumber utama mata pencaharian kaum perempuan suku Dani. Hasil temuan yang didapatkan yakni ekofeminisme menempatkan tokoh perempuan sebagai korban sekaligus pelaku perlawanan. Kedomestikan perempuan terhadap urusan rumah tangga, keluarga dan alam secara alamiah memposisikan hal tersebut. Tokoh perempuan sebagai pelaku perlawanan tersaji pada ketidakadilan membangkitkan perlawanan; figur suami bertopeng patriarki; melawan kapitalisme Freeport.
Nasionalisme, Cinta, dan Kemurnian Etnik: Pertentangan Adat dalam Novel-novel Pasca-Kemerdekaan Rosyadah Khairani
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.138 KB) | DOI: 10.15642/suluk.2021.3.1.46-57

Abstract

Tulisan ini mengetengahkan ihwal pertentangan adat dalam Raumanen karya Marianne Katoppo dan Memang Jodoh karya Marah Rusli. Meskipun pidato Proklamasi (1945) Sukarno-Hatta dianggap sebagai momentum peleburan pelbagai etnis di Nusantara dalam sebuah komunitas bernama Indonesia, rupanya konflik primordial khas novel Balai Pustaka terebut tidak lantas dapat didamaikan begitu saja. Jamak masyarakat Indonesia masih memegang teguh nilai dan susila primordial sehingga integrasi menjadi pekerjaan rumah yang senantiasa menantang dan tak kunjung usai. Tulisan ini bertendensi untuk mengungkapkan persoalan kolosal, yakni pernikahan (baca: percintaan) dengan latar belakang perbedaan adat dalam novel-novel pasca-kemerdekaan sebagai representasi dari gamangnya situasi integritas kebangsaan Indonesia. Raumanen dan Memang Jodoh sebagai objek material penelitian akan dibahas untuk melacak bagaimana pernikahan beda adat menjadi gambaran riil seputar dinamika kebangsaan kiwari. Dengan menggunakan kerangka konseptual ala Swingewood, tulisan ini menyimpulkan Raumanen menggambarkan kehidupan sosial masyarakat yang berbeda suku berpotensi menghilangkan garis keturunan suatu bangsa melalui pernikahan beda adat. Sedangkan Memang Jodoh menceritakan pernikahan yang dilatari perbedaan suku harus ditebus dengan hilangnya previlise aristokrat tradisional. Namun pengorbanan tersebut dianggap sepadan karena lembaga pernikahan adalah tentang kebahagiaan batin pelakunya.
Sejarah Pemberontakan dalam Tiga Bab: Modernitas, Belasting, dan Kolonialisme dalam Sitti Nurbaya Moh Atikurrahman; Awla Akbar Ilma; Laga Adhi Dharma; Audita Rissa Affanda; Istanti Ajizah; Risyatul Firdaus
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.763 KB) | DOI: 10.15642/suluk.2021.3.1.1-22

Abstract

Meskipun Politik Etis menjanjikan modernitas Eropa yang mencerahkan namun ongkos dari kebijakan tersebut akhirnya juga dibebankan kepada pribumi yang notabene jarang merasakan dampak kolonialisme. Penerapan pajak perorangan (belasting) kemudian direspon masyarakat Hindia dengan pemberontakan. Dalam hal ini Perang Kamang (1908) dapat dipahami sebagai kesumat atas kebijakan simbolik pemerintah kolonial. Peristiwa pemberontakan berlatar Melayu pada peralihan abad XX tersebut tersaji dalam Sitti Nurbaya, sebuah roman yang bercorak melodrama sentimentil. Dengan memanfaatkan teori sosiologi sastra Swingewood diketahui roman modern pertama berbahasa Melayu Hindia tersebut menyajikan ketegangan antara manusia modern Samsulbahri dan manusia tradisional Datuk Meringgih. Duel mereka menandai goncangan yang tak terelakkan dalam dunia Melayu yang tengah menyongsong modernitas bikinan kolonial. Senjakala kebudayaan Melayu yang segera digantikan pranata Eropa digambarkan melalui ketegangan antargolongan dalam menempatkan adat Melayu konteks sosial-historis.
Le Flâneur du tiers monde: diri, liyan, dan kisah perjalanan dalam Bon Voyage Monsieur Le Président! Novi Kurniawati; Moh Atikurrahman
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.388 KB) | DOI: 10.15642/suluk.2021.3.1.72-84

Abstract

Tidak seperti subgenre lain, sastra perjalanan hendak menegaskan narasi yang dibangunnya berasal dari persepsi objektif. Selain untuk meyakinkan pembaca, sastra perjalanan ingin menekankan jika acuannya adalah realitas, bukan fiksi atau fabrikasi semata. Tulisan ini bertendensi untuk menganalisis motif perjalanan dalam Bon Voyage Monsieur Le Président. Cerita tersebut merupakan salah satu cerita perjalanan Gabriel García Márquez yang terkumpul dalam Douze Contes Vagabonds. Dua belas cerita dalam kumpulan tersebut berkisah tentang pengalaman melancong seseorang dari Dunia Ketiga ke Dunia Pertama, Eropa. Dalam konteks yang lebih luas, akar dari catatan perjalanan berasal dari representasi Barat atas Timur sebagai travel report dalam aktivitas kolonialisme Eropa. Sehingga kisah-kisah perjalanan dalam Douze Contes Vagabonds harus dipahami sebagai counter-travel, karena subjek pencerita (pelancong/flâneur), yang menggunakan kelana sebagai modus operandi, berasal dari Dunia Ketiga.
Kuasa semu laki-laki dalam Pengakuan Pariyem, Malam Terakhir, dan Baju: kajian bandingan berparas feminisme Tifa Hanani
SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.679 KB) | DOI: 10.15642/suluk.2021.3.1.85-98

Abstract

Karya sastra selalu muncul membawa makna yang salah satunya berhubungan dengan kehidupan sosial. Hadirnya tokoh perempuan dalam teks sastra berkaitan dengan fenomena sosial masyarakat yang patriarki. Tiga prosa Pengakuan Pariyem, Malam Terakhir dan Baju menghadirkan tokoh perempuan dalam teks dengan dominasi kuasa laki-laki. Berkenaan dengan hal itu, masalah dalam kajian ini adalah bagaimana posisi perempuan direpresentasikan dalam ketiga cerita tersebut; adakah keterkaitannya dengan kuasa laki-laki. Ketiganya akan dibandingkan unsur tema, tokoh dan penokohan dengan pendekatan struktural. Untuk mempertajam analisa sekaligus mengungkapkan makna lain di balik ketiga karya tersebut akan dikaji dengan teori feminisme Simone de Beauvoir. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa kekuasaan tokoh laki-laki dalam tiga karya tersebut hanya hal yang semu. Mereka bersembunyi dibalik kekuatan dan kekuasaan sehingga memarginalkan tokoh perempuan. Tokoh perempuan memiliki keberanian yang sebenarnya tidak dimiliki oleh laki-laki dan secara tidak langsung justru menjadi pemenang dalam permainan dominasi kuasa laki-laki.

Page 1 of 1 | Total Record : 7