Jurnal Teknokes
The JURNAL TEKNOKES is a peer-reviewed periodical scientific journal aimed at publishing research results of the medical engineering areas. The Journal is published by the Department of Medical Electronics Technology, Health Polytechnic of Surabaya, Ministry of Health Indonesia. The role of the Journal is to facilitate contacts between research centers and the industry. The aspiration of the Editors is to publish high-quality scientific professional papers presenting works of significant scientific teams, experienced and well-established authors as well as postgraduate students and beginning researchers. All articles are subject to anonymous review processes by at least two independent expert reviewers prior to publishing on the Jurnal Teknokes website. This journal focuses on the development of the: (1) Medical Electronics Technology and Biomedical Engineering; (2) Medical Laboratory Technology; (3) Environmental Health, Engineering and Technology; (4) Health Information System and Technology.
Articles
101 Documents
Alat Ukur Berat Dan Tinggi Badan Dilengkapi Penilaian Status Gizi Balita
Kinanti Elok Putri;
Triana Rahmawati;
Lamidi Lamidi
Jurnal Teknokes Vol 14 No 1 (2021): April
Publisher : Jurusan Teknik Elektromedik, POLTEKKES KEMENKES Surabaya, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35882/teknokes.v14i1.6
Alat ukur berat dan tinggi badan dilengkapi penilaian status gizi balita merupakan suatu alat yang berfungsi untuk mengetahui berat dan tinggi badan serta menentukan status gizi balita. Tujuan menentukan penilaian status gizi adalah apabila terjadi penyimpangan status gizi pada balita dapat segera diberi tindakan agar kondisi balita tidak memburuk. Dasar utama dalam penelitian status gizi balita menggunakan metode Antropometri. Penulis ingin membuat sebuah modul yang digunakan untuk melakukan pengukuran pada balita dengan parameter tinggi badan. Pembuatan modul ini dirancang dengan menggunakan Arduino sebagai pengontrol utama. Sensor tinggi badan menggunakan variabel resistor (potensiometer). Rancangan penelitian ini menggunakan metode pre-eksperimental dengan jenis After Only Design. Pada hasil pengukuran tinggi badan didapatkan rata-rata % error maksimal sebesar 0.35 % dan rata-rata errornya sebesar 0.093%. Untuk penelitian lebih lanjut alat dibuat portabel yang tidak membutuhkan catu daya langsung dari PLN dan ditambah dengan penyimpanan, agar data status gizi balita bisa disimpan dan dilihat kembali.
Portable Electrocardiograph Dengan Sadapan Pada Telapak Tangan Dan Kaki
Muhammad Syifaul Linnas;
Sumber Sumber;
Prastawa Assalim Tetra Putra
Jurnal Teknokes Vol 13 No 2 (2020): September
Publisher : Jurusan Teknik Elektromedik, POLTEKKES KEMENKES Surabaya, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Electrocardiograph (ECG) secara rutin dilakukan oleh operator terampil yang terbiasa dengan penempatan masing-masing elektroda pada pasien. Posisi elektroda yang salah dapat menyebabkan kesalahan kritis dalam diagnosis dan perawatan penyakit jantung. Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain sebuah Portable Electrocardiograph dengan Sadapan Pada Telapak Tangan dan Kaki. Kontribusi dari penelitian ini adalah memudahkan orang awam dalam bidang kesehatan dalam hal penggunaan Electrocardiograph. Penelitian ini juga bertujuan mendesain Electrocardiograph yang cukup terjangkau bagi puskesmas/pusat-pusat pelayanan medis di daerah. Agar desain ini dapat memudahkan dalam metode penggunaan alat, maka dibuatlah alat Electrocardiograph (ECG) dengan elektroda pad yang akan diletakkan pada telapak tangan dan telapak kaki yang telah di berikan tanda pada elektroda tersebut. Electrocardiograph (ECG) menggunakan desain High Pass Filter (Pasif 20dB ditambah Non Inverting Amplifier, Low Pass Filter (LPF) 40dB, dan notch filter yang akan ditampilkan pada layar monitor Personal Computer (PC). Dari hasil sadapan beberapa responden, terlihat hasil tampilan yang menyerupai/mendekati sinyal Electrocardiograph (ECG) sebenarnya. Kekurangan dari modul ini jika tidak adanya grounding yang baik dari power suply maka akan terjadi noise pada hasil sinyal yang akan ditampilkan. Hasil penelitian ini dapat di implementasikan pada Electrocardiograph (ECG) konvensional untuk meningkatkan kemudahan dalam hal penggunaan alat.
Low Cost Monitoring Kesehatan Berbasis Internet of Thing
Nuril Hidayanti;
Dyah Titisari;
Her Gumiwang Ariswati;
Triwiyanto Triwiyanto
Jurnal Teknokes Vol 13 No 2 (2020): September
Publisher : Jurusan Teknik Elektromedik, POLTEKKES KEMENKES Surabaya, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sistem monitoring pasien di rumah sakit dilakukan secara konvensional dengan mendatangi pasien, kendalanya apabila jumlah tenaga dan fasilitas medis terbatas dengan banyaknya jumlah pasien akan membahayakan pasien yang membutuhkan prioritas penanganan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain sebuah alat monitoring detak jantung, suhu tubuh, dan respirasi berbasis IOT (parameter detak jantung dan suhu tubuh) dengan tampilan pada web thingspeak dan terdapat notifikasi gmail yang dapat diakses tenaga medis. Kontribusi penelitian ini merancang alat monitoring kesehatan berbasis IOT (Internet of Thing) sehingga dapat dilakukannya pemantauan jarak jauh dengan memanfaatkan web Thingspeak sebagai tampilan hasil penelitian dan memberi notifikasi apabila terdapat nilai tidak normal. Pengambilan data dapat menghasilkan hasil yang akurat diperlukan posisi rileks dari pasien dan kestabilan jaringan wi-fi agar pemantauan tidak terhambat. Penelitian ini menggunakan Sensor suhu DS18B20 merupakan sensor digital dengan 1 jalur data yang diletakkan pada bagian aksila dan pulse sensor (SEN11574) dengan 1 jalur data yang diletakkan pada jari tangan. Hasil penelitian telah dapat dilakukan pengambilan data pada pasien 1 dengan kesalahan rata-rata alat 0,6 untuk parameter detak jantung dan 0,05 untuk parameter suhu tubuh. Pada penelitian ini telah dapat menampilkan data pada web Thingspeak dan mengirimkan notifikasi dengan baik sesuai yang diharapkan peneliti. Penelitian ini juga telah dapat diimplementasikan pada sistem alat monitoring yang sejenis untuk meningkatkan kemudahan pemantauan.
DPM Dua Mode Dilengkapi Thermohygrometer dan Pemilihan Tekanan (Positive Pressure)
Ketut Dyah Kusumadewi;
Syaifudin Syaifudin;
Tri Bowo Indrato
Jurnal Teknokes Vol 13 No 2 (2020): September
Publisher : Jurusan Teknik Elektromedik, POLTEKKES KEMENKES Surabaya, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kalibrasi merupakan suatu kegiatan teknis yang terdiri atas penetapan, penentuan suatu atau lebih sifat dan karakteristik dari suatu produk, proses atau jasa sesuai dengan prosedur khusus yang telah ditetapkan. Digital Pressure Meter (DPM) merupakan alat yang digunakan untuk mengukur tekanan positif dan negatif pada alat Kesehatan. Tujuan dibuatnya alat Digital Pressure Meter (DPM) Dua Mode dilengkapi Thermohygrometer dan Pemilihan Tekanan (Positive Pressure) sebagai solusi untuk menciptakan perangkat pemantauan tekanan darah yang lebih informatif efektif serta akurat dalam pengukurannya. Kontribusi penelitian ini adalah sistem dapat dijalankan dengan menggunakan sensor tekanan tiup, hasil ukur bisa dikonversi kesatuan kPa dan ditampilkan di LCD TFT Nextion 2,4 inch. Agar sistem berjalan maka diperlukan tekanan tiup yang sesuai dengan alat tensimeter itu sendiri. Menggunakan sensor MPX 5050GP sebagai sensor tekanan positif. Membutuhkan tekanan maksimal 300 mmHg. Menggunakan sensor DHT 22 untuk suhu kelembaban. Alat ini juga di lengkapi degan timer uji kebocoran. Display yang digunakan pada modul ini adalah LCD TFT Nextion 2,4 inch Setelah melakukan proses pengukuran ke alat tensimeter air raksa sebanyak 6 kali didapatkanhasilterkecil 0 mmHg pada tekanan 0 mmHg dan yang terbesar 298.0 mmHg pada tekanan 300mmHg. Simpangan rata-rata terbesar ini dikarenakan adanya kebocoran tekanan antara selang penghubung output modul dan penghubung ke alat tensimeter. Berdasarkan pengambilan data suhu kelembaban yang dilakukan pada ruangan diperoleh 31̊C pada suhu dan 87% pada kelembaban. Dari penelitian ini Rangkaian keseluruhan yang dibuat sudah sesuai dengan kebutuhan modul DPM Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul bisa digunakan untuk proses kalibrasi pada alat tensimeter.
Pemantauan Apnea Berbasis Internet of Things dengan Notifikasi di Mobilephone
Muhammad Fuad Nurillah;
Bambang Guruh Irianto;
I Dewa Gede Hari Wisana
Jurnal Teknokes Vol 13 No 2 (2020): September
Publisher : Jurusan Teknik Elektromedik, POLTEKKES KEMENKES Surabaya, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penderita gangguan henti napas pada saat tidur (sleep apnea) semakin meningkat, hampir lebih dari 80% orang menderita gangguan ini tidak terdiagnosis. Gejala dari sleep apnea yaitu terjadinya henti napas selama lebih dari 10 detik. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang alat monitor apnea agar dapat mendeteksi gejala sleep apnea. Kontribusi dalam penelitian ini adalah sistem monitoring atau pemantauan jarak jauh sehingga orang lain dapat memantau kondisi pasien meskipun tidak sedang mendampinginya. Agar dapat mempermudah proses monitoring dan pendiagnosaan pasien maka dibuatlah alat apnea monitor berbasis Internet of Things dengan dilengkapi notifikasi pada android sehingga dapat dengan cepat dilakukannya penanganan pada pasien. Perancangan alat ini menggunakan piezoelektrik sebagai sensor pendeteksi pernapasan yang diletakkan pada bagian perut pasien. Output sensor berupa tegangan kemudian dikondisikan pada rangkaian PSA. Menggunakan mikrokontroler ESP32 sebagai pemrosesan sinyal yang dibentuk oleh rangkaian PSA dan diolah menjadi nilai respirasi. Nilai respirasi kemudian dikirimkan ke perangkat android menggunakan jaringan Wi-Fi dan ditampilkan pada aplikasi Blynk. Apabila terdeteksi kejadian henti napas selama lebih dari 10 detik maka alat akan menyalakan indikator dan mengaktifkan notifikasi pada android. Penelitian ini melakukan pengukuran amplitudo sinyal respirasi dan nilai respirasi terhadap responden dan juga melakukan pengujian pengiriman jarak jauh menggunakan jaringan Wi-Fi. Hasil pengujian pada penelitian ini alat dapat mengirimkan data dengan baik dan tanpa loss data dengan jarak 5 meter dalam ruangan dan 10 meter berbeda ruangan. Alat ini dapat diimplementasikan pada proses monitoring pasien sehingga dapat mengurangi penderita gangguan sleep apnea. Patients with breathing problems during sleep (sleep apnea) are increasing, almost more than 80% of people suffering from this disorder are not diagnosed. Symptoms of sleep apnea include breathing for more than 10 seconds. The purpose of this study is to design apnea monitoring devices to detect sleep apnea symptoms. The contribution in this study is a monitoring system or remote monitoring so that others can monitor the condition of the patient even though not accompanying him. In order to simplify the process of monitoring and diagnosing patients, an apnea monitor based on the Internet of Things is made with notifications on android so that treatment can be quickly performed on patients. The design of this device uses piezoelectric as a respiratory detection sensor which is placed on the patient's abdomen. The sensor output in the form of voltage is then conditioned on the PSA circuit. Using the ESP32 microcontroller as signal processing which is formed by the PSA circuit and processed into respiration values. Respiration values are then sent to the Android device using a Wi-Fi network and displayed on the Blynk app If a stop breathing event is detected for more than 10 seconds, the device will turn on the indicator and activate the notification on the android. The test results in this study the tool can send data properly and without loss data with a distance of 5 meters in a room and 10 meters in a different room. This tool can be implemented in the patient monitoring process so that it can reduce sufferers of sleep apnea disorders.
Rancang Bangun Otomasi Oxygen Flow Meter Berbasis Level SpO2
Alcham Andrian;
Muhammad Ridha Mak'ruf;
Moch Prastawa Assalim Tetra Putra
Jurnal Teknokes Vol 13 No 2 (2020): September
Publisher : Jurusan Teknik Elektromedik, POLTEKKES KEMENKES Surabaya, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Oxygen theraphy adalah suatu tindakan medis yang bertujuan agar kadar oksigen di dalam tubuh tercukupi. Pada level tertentu, jika tubuh kekurangan atau kelebihan oksigen dalam darah dan tidak segera ditangani, akan dapat membahayakan kondisi pasien. Dalam pemberian oxygen theraphy, harus sesuai dengan dosis yang seharusnya dengan memantau secara terus menerus tingkat saturasi oxygen pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang alat yang dapat memantau keadaan saturasi oksigen dalam darah pasien. Kontribusi penelitian ini adalah sebagai acuan untuk pemberian oxygen theraphy (oksigenisasi) pada pasien. Agar alat ini lebih praktis dan efisien untuk digunakan, maka dibuatnya alat dengan pemantauan secara real time. Perancangan alat ini menggunakan menggunakan finger sensor DS-100A untuk mengambil pancaran cahaya yang diserap oleh hemoglobin untuk kemudian diolah dan dihasilkan nilai SpO2. Hasil dari modul berupa nilai pembacaan SpO2 dalam persentase. Dari hasil pengujian yang dilakukan dengan alat ukur standar pada responden dihasilkan persentase error paling besar 1,7%. Hasil penelitian ini dapat diimplementasikan pada regulator oksigen otomatis berdasarkan tingkat SpO2 pasien untuk meningkatkan efisiensi sistem pemantauan tingkat SpO2 pasien dalam pemberian dosis pada metode oxygen theraphy (oksigenisasi).
Rancang Bangun Deffibrilator Dengan Joule Rendah
Muhammad Iqbal;
Bambang Guruh Irianto;
Endro Yulianto
Jurnal Teknokes Vol 13 No 2 (2020): September
Publisher : Jurusan Teknik Elektromedik, POLTEKKES KEMENKES Surabaya, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Ventrikel Fibrilasi adalah irama yang umumnya didapat di permulaan henti jantung dan Ventrikel Takikardi yang disebabkan oleh gangguan listrik di jantung yang mengontrol gerakan pompa pada bilik atau ventrikel jantung, hal ini menyebabkan bilik berdenyut terlalu cepat dari biasanya. Ventrikel Fibrilasi dan Ventrikel Takikardi adalah sebagian dari penyebab kegagalan fungsi jantung, apabila tidak segera ditangani akan menyebabkan kematian. Salah satu cara menangani permasalahan ini yaitu dengan memberikan energi dengan bentuk kejut listrik dalam jumlah tertentu. Tujuan dari penelitian adalah untuk merancang sebuah modul defibrilator yang dapat menghasilkan energi dengan bentuk kejut listrik dan dilengkapi dengan mode sinkron dan asinkron. Kontribusi penelitian ini adalah sistem discharge dapat dilakukan secara defibrilasi dengan menekan tombol discharge atau disebut juga dengan mode asinkron dan sistem discharge dapat dilakukan secara kardioversi dengan menekan tombol discharge serta melakukan penyadapan BPM yang telah tersedia pada alat atau disebut juga dengan mode sinkron. Penelitian ini menggunakan modul ekg AD8232 untuk melakukan penyedapan sinyal ekg sehingga dapat menghasilkan nilai BPM. Komponen yang digunakan seperti Arduino Atmega untuk melakukan pemprosesan alat, Kapasitor dengan Kapsitansi tertentu untuk melakukan penyimpanan energi sementara, dan TFT NEXTION 2.8” sebagai tampilan dan tempat setting alat. Untuk penelitian lebih lanjut dapat menambahkan tampilan sinyal ekg, menambah besaran energi, dan menggunakan baterai untuk membuat perangkat portabel.
Rancang Bangun Defibrillator dengan Joule Rendah
Fahmi Ardhi;
Bambang Guruh Irianto;
Endro Yulianto
Jurnal Teknokes Vol 13 No 2 (2020): September
Publisher : Jurusan Teknik Elektromedik, POLTEKKES KEMENKES Surabaya, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sinyal monofasik memiliki satu arus puncak tinggi yang dapat menyebabkan kerusakan pada jantung. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendesain suatu defibrillator yang dapat meminimalisir resiko atau dampak akibat penggunaan sinyal monofasik. Kontribusi peneitian ini adalah sistem dapat menghasilkan sinyal bifasik yang membutuhkan tegangan lebih rendah dan energi lebih rendah daripada sinyal monofasik, untuk dapat menghasilkan tegangan dan energi yang lebih rendah maka dibutuhkan dua kondensator sehingga pengisian dapat disesuaikan dengan rumus perhitungan energi. Penelitian ini menggunakan dua mosfet dan dua kondensator dengan spesifikasi 1000 uF 400 V, proses menghasilkan sinyal bifasik dilakukan dengan pengisian dua kondensator, jika nilai tegangan pada kondensator telah tercapai maka pengisian akan berhenti sesuai setting nilai tegangan pada pembagian tegangan selanjutnya mosfet akan mengatur pembuangan muatan pada kondensator secara bergantian dan membalik paddle. Penggunaan sinyal bifasik ditentukan yaitu kondensator I memuat tegangan sebesar 2/3 nilai setting dan kondensator II memuat tegangan sebesar 1/3 nilai setting. Hasil dari pengukuran pada sinyal bifasik menunjukkan adanya perbedaan muatan kondensator dengan desain penelitian, nilai rata – rata error pada kondensator I didapatkan sebesar 0,36 % dan 0,74 % pada kondensator II.Hasil penelitian ini dapat di jadikan referensi untuk penelitian selanjutnya dengan memperbaiki atau meminimalisir nilai error pada penggunaan kedua sinyal dan meningkatkan nilai energi pada alat. Monophasic signals have a high peak current which can cause damage to the heart. The purpose of this study is to design a defibrillator that can minimize the risk or impact due to the use of monophasic signals. The contribution of this research is that the system can produce biphasic signals which require lower voltage and lower energy than monophasic signals, to be able to produce lower voltage and energy, two condensers are needed so that charging can be adjusted to the energy calculation formula. This study uses two mosfets and two condensers with specifications of 1000 uF 400 V, the process of producing biphasic signals is done by charging two condensers, if the voltage value on the condenser has been reached, the charging will stop according to the voltage value setting at the next voltage division. the condenser alternately and flips the paddle. The use of biphasic signals is determined, ie condenser I contains a voltage of 2/3 the setting value and condenser II contains a voltage of 1/3 the setting value. The results of measurements on the biphasic signal showed that there were differences in the load of the condenser with the research design, the average error value in the condenser I was 0.36% and 0.74% in the condenser II. The results of this study can be used as a reference for further research by improving or minimizing the error value in the use of both signals and increasing the energy value of the device.
Pengembangan Pusat Pemantauan Central SpO2 untuk Ruang Neonate denga Sistem Wireless
Mirza Fissabila;
Priyambada Cahya Nugraha;
Muhammad Ridha Mak'ruf
Jurnal Teknokes Vol 13 No 1 (2020): April
Publisher : Jurusan Teknik Elektromedik, POLTEKKES KEMENKES Surabaya, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Monitoring status kesehatan bayi merupakan hal yang sangat penting khususnya pada bayi yang lahir secara prematur. Pemantauan kadar saturasi oksigen pada bayi baru lahir dapat membantu mendeteksi dini kelainan-kelainan bawaan pada bayi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat dan mendisain sebuah alat yang dapat digunakan untuk melakukan pemantauan kondisi nilai Saturasi Oksigen (SpO2) beberapa pasien sekaligus secara kontinyu dengan jarak yg cukup jauh sehingga tenaga medis tidak perlu mendatangi satu persatu baby incubator secara berkala untuk melakukan pemantauan kadar nilai Saturasi Oksigen (SpO2) pasien di dalam baby incubator. Dimana pada pembahasan penelitian kali ini akan membuat 2 modul alat monitoring yang dapat digunakan untuk memantau 2 bayi prematur pada baby incubator secara bersamaan menggunakan 2 sensor berbeda, yaitu pada modul 1 akan menggunakan sensor Fingertip Neonatal dan pada modul 2 akan menggunakan sensor Max 30100. Alat ini akan menampilkan nilai dan sinyal saturasi oksigen (SpO2) pada sebuah PC secara bersamaan. Pemantauan pada alat ini dilakukan secara wireless menggunakan modul Bluetooth HC-05. Berdasarkan dari hasil pengujian dan pengukuran modul yang telah di buat, pada 5 pasien berbeda dengan menggunakan pembanding pulse oxymeter pada sensor Max 30100 didapatkan nilai selisih sebesar 1% pada masing-masing hasil pasien, pada sensor fingertip neonatal juga didapatkan nilai selisih 1% pada masing-masing pasien. Pada pengujian jarak, alat ini mampu memantau kondisi 2 pasien secara bersamaan dengan jarak maksimal 3,5 meter. Hasil penelitian ini dapat diimplementasikan pada sistem pemantauan pada ruang NICU untuk membantu mengurangi beban kerja tenaga medis dan untuk meningkatkan efektifitas pelayanan Rumah Sakit. Monitoring the health status of babies is very important, especially for babies born prematurely. Monitoring oxygen saturation levels in newborns can help detect early congenital abnormalities in these babies. The purpose of this study is to create and design a tool that can be used to monitor the condition of Oxygen Saturation (SpO2) values of several patients at once continuously with a great distance so that medical staff do not need to go one by one baby incubators periodically to monitor levels Oxygen Saturation (SpO2) value of the patient in the baby incubator. Where in the discussion of this study will make 2 monitoring tool modules that can be used to monitor 2 premature babies in a baby incubator simultaneously using 2 different sensors, namely in module 1 will use the Neonatal Fingertip sensor and in module 2 will use the Max 30100 sensor. it displays the value and oxygen saturation signal (SpO2) on a PC simultaneously. Monitoring on this device is carried out wirelessly using the Bluetooth module HC-05. Based on the test results and module measurements that have been made, in 5 different patients using a pulse oxymeter comparator on the Max 30100 sensor a difference of 1% was obtained in each patient's result, in the neonatal fingertip sensor also obtained a difference of 1% in each - each patient. In distance testing, this tool is able to monitor the condition of 2 patients simultaneously with a maximum distance of 3.5 meters. The results of this study can be implemented in a monitoring system in the NICU room to help reduce the workload of medical personnel and to improve the effectiveness of hospital services.
Unit Electrosurgery dengan Mode Bipolar
Muhammad Adam Yazid Zinedine;
Tri Bowo Indrato;
Lamidi Lamidi
Jurnal Teknokes Vol 13 No 1 (2020): April
Publisher : Jurusan Teknik Elektromedik, POLTEKKES KEMENKES Surabaya, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kehilangan banyak darah saat dilakukannya tindakan pembedahan dengan menggunakan pisau bedah konvensional merupakan hal yang sangat dihindari. Tujuan dari penelitian ini yaitu menggantikan pisau bedah konvensional dengan alat yang memanfaatkan frekuensi tinggi yang diatur duty cycle-nya kemudian dipusatkan pada satu titik. Peneliti memanfaatkan efek panas yang dihasilkan oleh frekuensi tinggi yang dipusatkan pada satu titik sehingga dapat digunakan untuk proses tindakan pembedahan dan pemotongan (cutting) pada jaringan tubuh sehingga dapat meminimalisir terjadinya kehilangan banyak darah. Peneliti memanfaatkan frekuensi tinggi sebesar 350 KHz yang diatur dengan duty cycle sebesar 100% on serta dilengkapi dengan 3 tingkatan pemilihan daya dan menggunakan forceps sebagai media untuk memusatkan frekuensi tinggi pada satu titik. Rancangan modul terdiri dari pembangkit frekuensi 350 KHz, rangkaian pengatur pulsa untuk mengatur duty cycle, rangkaian pengatur daya sebagai setting daya, rangkaian driver untuk menggabungkan frekuensi dengan daya yang disetting sehingga didapatkan output yang berbeda sesuai dengan setting, dan rangkaian inverter untuk menaikkan tegangan. Pada penelitian ini, setelah dilakukan pengukuran menggunakan osiloscope pada rangkaian driver, didapatkan output amplitudo rata-rata pada setiap setting low, medium, dan high sebesar 14 Vpp, 19.5 Vpp, dan 22.5 Vpp.