cover
Contact Name
Madia Patra Ismar
Contact Email
jurnalcikini@ikj.ac.id
Phone
+6221-2306106
Journal Mail Official
lppm@ikj.ac.id
Editorial Address
Jl. Cikini Raya
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Seni Nasional Cikini
ISSN : 25802860     EISSN : 27157482     DOI : 10.52969
Jurnal Seni Nasional CIKINI, is a collection of various topic of art studies that contain ideas, research, or views on the developtment of artistic phenomena and symptoms as well as various problems. The purpose of this Journal is for contribute to the researching about art, to develop our understanding about arts in Indonesia into a better perspective, and able to compete in global community. Editorial Board of Jurnal Seni Nasional CIKINI, will accept unpublished article, to be reviewed and edited in order to takes part in our journal. Jurnal Seni Nasional CIKINI released twice a year at June and December.
Articles 104 Documents
Pemanfaatan Teknologi dalam Mengaplikasikan Gambang Kromong untuk Mewujudkan Pelestarian Budaya Mulyaningrum, Nanda Putri; Widya Putri Ryolita
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 10 No.2
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v10i2.297

Abstract

Industri musik Indonesia saat ini didominasi oleh lagu-lagu populer yang cenderung mengadopsi gaya musik Barat. Hal ini dapat menyebabkan terkikisnya budaya musik tradisional Indonesia, seperti Gambang Kromong. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi cara mengaplikasikan instrumen Gambang Kromong ke dalam lagu-lagu populer dengan memanfaatkan teknologi sebagai upaya pelestarian budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mencari sumber literatur dari karya cetak praktisi musik tradisional dan musik populer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa teknik pengaplikasian Gambang Kromong dalam lagu populer, seperti penggunaan sampel suara Gambang Kromong, aransemen lagu dengan melodi dan ritme Gambang Kromong, serta kolaborasi dengan musisi tradisional. Pemanfaatan teknologi seperti digital audio workstation, sampling, dan sintesis suara dapat membantu proses integrasi Gambang Kromong ke dalam lagu populer. Hal ini dapat menjadi strategi efektif untuk melestarikan budaya musik tradisional Indonesia di tengah dominasi musik populer.The Indonesian music industry is currently dominated by popular songs which tend to adopt Western musical styles. This can cause the erosion of traditional Indonesian music culture, such as Gambang Kromong. This research aims to explore how to apply the Gambang Kromong instrument to popular songs by utilizing technology as an effort to preserve culture. The research methods used are literature studies and interviews with traditional and popular music practitioners. The research results show that there are several techniques for applying Gambang Kromong in popular songs, such as using Gambang Kromong sound samples, arranging songs with the melody and rhythm of Gambang Kromong, as well as collaborating with traditional musicians. Utilization of technology such as digital audio workstations, sampling and sound synthesis can help the process of integrating Gambang Kromong into popular songs. This can be an effective strategy for preserving traditional Indonesian music culture amidst the dominance of popular music.
Membaca Sejarah Perkembangan Gambang Kromong Melalui Karya Fotografi Firmansyah, Imam
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 10 No.2
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v10i2.306

Abstract

Gambang Kromong merupakan sebuah musik tradisi masyarakat Betawi dan Cina Benteng yang berkembang melewati proses hibridisasi yang panjang antara budaya Tionghoa dengan Pribumi sejak abad ke-18. Proses perkembangan ini terdokumentasikan dengan baik melalui karya fotografi yang sebagian besar dilakukan oleh Isidore van Kinsbergen, seorang fotografer pemerintah Hindia-Belanda sejak tahun 1851. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis studi dokumentasi dan pendekatan historis. Analisa data dilakukan dengan melakukan interpretasi terhadap karya fotografi yang kemudian dikaitkan dengan analisa teks dan konteks musik Gambang Kromong. Penelitian ini menghasilkan tiga bacaan karya foto karya Van Kinsbergen dan sebuah foto anonim. Bacaan foto pertama adalah embrio Gambang Kromong yang bernama Orkest Gambang, terdiri dari ansambel kecil yang memainkan musik intrumental, dan dimainkan dalam pesta-pesta Tionghoa kelas atas. Bacaan Foto kedua adalah masuknya penyanyi perempuan yang disebut cokek yang direkrut dari pribumi. Bacaan yang ketiga adalah masuknya alat musik Indonesia dalam Orkest Gambang dan menjadi Gambang Kromong sehingga bisa turut dinikmati oleh pribumi kelas bawah. Gambang Kromong is a Betawi and Cina Benteng music tradition that has evolved over a long hybridization process between Chinesse and Indonesia since the 18th century. This process is well documented by the photographic work that was done, for the most part, by Isidore van Kinsbergen, a government photographer from Dutch East Indies who began working in 1851. One method of research that is used is a qualitative research method that involves document analysis and historical research. The analysis involved analyzing the photographic work, which was subsequently connected to the analysis of the text and musical context of Gambang Kromong. Three interpretations of Van Kinsbergen's images as well as an anonymous image were the outcome of this investigation. This first photo interpretation is Orkest Gambang, a Gambang Kromong embryo that is performed at elite Chinese gatherings that consists of a small band playing instrumental music. Reviewing The second photo shows the entrance of cokek, or female singers, who were chosen from among the locals. The third reading describes how the Gambang Orchestra assimilated Indonesian musical instruments and became the Gambang Kromong so that people of lower native class could appreciate them.
Representasi Sikap Hidup Orang Jawa dalam Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG dan Babad Ngalor Ngidul karya Elizabeth D. Inandiak Teguh Prasetyo; Mike Wijaya Saragih
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 10 No.2
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v10i2.509

Abstract

Orang Jawa seringkali digambarkan sebagai manusia yang memiliki tradisi dan sikap hidup yang ikhlas dan selaras. Dalam kesusastraan Indonesia, gambaran masyarakat Jawa seringkali dimunculkan, terutama oleh pengarang keturunan Jawa sendiri. Namun, terdapat pula beberapa gambaran orang Jawa yang muncul dari pengaran yang berasal dari luar Jawa, bahkan warga negara asing (non-Jawa). Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana sikap hidup orang Jawa digambarkan dalam novel-novel yang ditulis oleh pengarang Jawa dan non-Jawa. Untuk itu, penulis mengambil dua sampel prosa Indonesia, yaitu Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG (pengarang keturunan Jawa) dan Babad Ngalor Ngidul karya Elizabeth D. Inandiak (pengarang berkewarganegaraan Prancis). Melalui dua novel ini, penulis ingin melihat gambaran sikap hidup orang Jawa dari sudut pandang penceritaan pengarang yang berbeda latar belakang budaya. Dengan melihat struktur karya, narasi, dan konsep representasi, penulis ingin membedah penggambaran sikap hidup orang Jawa dari kedua pengarang yang memiliki latar belakang yang berbeda. Hasil dari analisis dalam artikel ini menunjukkan bahwa keduanya menggambarkan jati diri dan sikap hidup orang Jawa seperti yang seringkali ditunjukkan dalam berbagai literatur, yakni sebagai orang yang menjunjung keselarasan dan laku hidup yang mengindahkan dunia. Namun demikian, keduanya memiliki gaya penarasian yang unik, yang menunjukkan bahwa Inandiak, pengarang berkebangsaan Prancis, memiliki kecenderungan penggambaran yang bernada lebih orientalis dibanding penarasian dari karya Linus Suryadi AG sebagai orang keturunan Jawa. Javanese people are often described as having traditions and attitudes that are sincere and harmonious. In Indonesian literature, images of Javanese people are often presented, especially by authors of Javanese descent. However, there are also some images of Javanese people that appear from authors who come from outside Java, even foreign nationals (non-Javanese). The next question is how the Javanese attitude to life is depicted in novels written by Javanese and non-Javanese authors. For this purpose, the author takes two samples of Indonesian prose, namely Pengakuan Pariyem by Linus Suryadi AG (a Javanese author) and Babad Ngalor Ngidul by Elizabeth D. Inandiak (a French author). Through these two novels, the author wants to see the depiction of Javanese life attitudes from the perspective of authors with different cultural backgrounds. By looking at the structure of the work, narrative, and the concept of representation, the author wants to dissect the depiction of Javanese attitudes of life from the two authors who have different backgrounds. The results of the analysis in this article show that both authors portray the Javanese identity and attitude to life as often shown in various literatures, namely as people who uphold harmony and practice life that heeds the world. However, both have a unique narrative style, which shows that Inandiak, a French author, has a tendency to portray a more orientalist tone than Linus Suryadi AG's narrative as a person of Javanese descent.
Psikodinamika Alam Bawah Sadar Masyarakat Betawi dalam Tradisi Pembacaan Maulid Barzanji didah, Sya
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 10 No.2
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v10i2.516

Abstract

Pembacaan Barzanji merupakan seni tradisi yang dilakukan oleh umat Islam di dunia untuk mengenang perjuangan Nabi Muhammad saw. dalam mensyiarkan agama Islam. Masyarakat Betawi sebagai komunitas yang memegang teguh budaya ketimuran masih konsisten melaksanakan tradisi tersebut hingga saat ini. Saat pembacaan Barzanji, mereka begitu khusyuk hanyut dalam suasana sakral yang menenangkan, meskipun sebagian dari mereka tidak memahami maknanya secara harfiah. Hal ini menunjukkan bahwa pembacaan Barzanji memberikan pengaruh psikologis pada setiap individu, sekalipun mereka tidak memahami bahasa Arab. Dengan demikian, penelitian ini membahas pengaruh pembacaan maulid Barzanji terhadap \ psikodinamika alam bawah sadar dalam konteks masyarakat Betawi. Penelitian ini menggunakan metode etnografi melalui pengamatan terlibat, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh pembacaan maulid Barzanji terhadap alam bawah sadar masyarakat Betawi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa superego yang terbentuk dari pemahaman terhadap makna perjuangan Rasulullah terekam ke alam bawah sadar yang memberikan ketenangan saat pembacaan dan setelahnya sebagai refleksi kecintaan umat terhadap rasulnya yang berdampak pada keinginan untuk bertemu Nabi Muhammad saw. kelak sehingga memunculkan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembacaan Barzanji bagi masyarakat Betawi sudah tertanam di alam bawah sadar mereka sebagai suatu kebutuhan, baik secara individual, agama, dan kemasyarakatan, yaitu kodrat manusia sebagai makhluk sosial.Barzanji reading is a traditional art performed by Muslims around the world to commemorate the struggle of the Prophet Muhammad saw. in spreading the Islamic religion. Betawi people, as a community that upholds eastern culture, still consistently carry out these traditions to this day. When reciting the Barzanji, they were so absorbed in the calming sacred atmosphere, even though they did not understand its literal meaning. This shows that reading Barzanji has a psychological influence on every individual, even if they do not understand Arabic. Thus, this research discusses the influence of reading the birthday of Barzanji on the psychodynamics of the Betawi people's subconscious. This research uses ethnographic methods through involved observation, in-depth interviews, and literature study. The aim of this research is to see the influence of reading Barzanji on the subconscious mind of the Betawi people. The research results show that the superego which is formed from understanding the meaning of the Prophet's struggle is recorded in the human subconscious, which provides calm during and after the reading and has an impact on the desire to meet the Prophet in the future so that good behavior emerges in everyday life. Thus, the reading of Barzanji for Betawi people has been embedded in their subconscious as a need, both individually, religiously and socially, namely human nature as social creatures.
Estetika Karakter Video Game Dalam Fashion: Studi Adaptasi Desain Karakter Robin Pada Busana Pesta Malam Kusmanto, Allifia Maharani Putri; Astuti
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 11 No. 1 (2025): Estetika Seni: Dari Visual Hingga Musik
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v11i1.512

Abstract

Robin adalah karakter dalam game RPG turn-based Honkai: Star Rail karya Holoverse. Ia digambarkan sebagai sosok idola yang anggun dan cantik dengan visual menyerupai malaikat— memiliki halo di atas kepala dan bersayap. Warna ungu pada desain Robin memberikan kesan elegan dan glamor, karena identik dengan simbol kebangsawanan. Desain busana pesta malam yang diadaptasi dari karakter Robin ini menonjolkan elemen feminin melalui bentuk sayap dan palet warna dominan ungu, putih, serta sentuhan emas. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengembangkan busana pesta malam dengan inspirasi karakter Robin, menggunakan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Hasil akhir berupa busana pesta malam dengan model bottom dress godet, aksen bulu menyerupai sayap yang membungkus bagian badan, serta ornamen khas Robin untuk menciptakan tampilan yang elegan dan menawan.   Robin is a character in the turn-based RPG game Honkai: Star Rail by Hoyoverse. She is depicted as a graceful and beautiful idol with angelic visuals-having a halo above her head and wings. The purple colour in Robin's design gives the impression of elegance and glamour, as it is synonymous with royalty. The design of this evening party dress adapted from Robin's character highlights feminine elements through the shape of the wings and the dominant colour palette of purple, white, and a touch of gold. This research aims to design and develop an evening party outfit inspired by Robin's character, using the ADDIE development model (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). The final result is an evening party outfit with a godet bottom dress model, feather accents resembling wings that wrap around the body, and Robin's signature ornaments to create an elegant and charming look.
Potret Ketidakadilan Sosial dalam Sewa Apartemen di Komik The Real Lesson M Leoli Saputra; Arwin Ramli
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 11 No. 1 (2025): Estetika Seni: Dari Visual Hingga Musik
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v11i1.521

Abstract

Komik The Real Lesson menggambarkan diskriminasi sosial dalam penyewaan apartemen berdasarkan perbedaan status sosial dan ekonomi. Penelitian ini menganalisis representasi diskriminasi menggunakan pendekatan semiotika dan naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diskriminasi dalam komik ini muncul dalam berbagai bentuk, seperti penggunaan simbol visual (seperti pagar pembatas) dan tindakan verbal yang merendahkan, yang mencerminkan ketidaksetaraan sosial. Melalui analisis semiotika, simbol-simbol tersebut memperkuat penghalang sosial antara kelompok dengan status ekonomi berbeda. Pendekatan naratif menyoroti dampak psikologis yang dialami oleh individu yang terdiskriminasi, seperti perasaan terpinggirkan dan ketidakberdayaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komik digital dapat menjadi alat efektif untuk menyampaikan pesan ketidakadilan sosial dan meningkatkan kesadaran pembaca terhadap isu diskriminasi yang ada.   The Real Lesson comic depicts social discrimination in apartment rentals based on differences in social and economic status. This study analyzes the representation of discrimination using semiotic and narrative approaches. The findings reveal that discrimination in this comic appears in various forms, such as using visual symbols (like boundary fences) and demeaning verbal actions, reflecting social inequality. Through semiotic analysis, these symbols reinforce social barriers between groups with different economic statuses. The narrative approach highlights the psychological impact experienced by discriminated individuals, such as feelings of marginalization and helplessness. This study concludes that digital comics can effectively convey messages of social injustice and raise readers' awareness of existing discrimination issues.
Keunikan Bonang Dalam Musik Tradisional Jawa wijayanto, wasis
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 11 No. 1 (2025): Estetika Seni: Dari Visual Hingga Musik
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v11i1.524

Abstract

Dunia budaya dan seni Indonesia sangat kaya. Gamelan, alat musik tradisional Indonesia, adalah salah satu yang terkenal. Bonang adalah alat gamelan jawa yang paling umum digunakan selain gong. Alat musik bonang, yang merupakan alat musik tradisional dalam gamelan jawa, menghadapi tantangan karena minat generasi muda yang semakin berkurang. Banyak anak muda lebih tertarik dengan alat musik modern atau populer, sehingga minat untuk belajar alat musik bonang berkurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan tentang nilai estetika yang terdapat pada alat musik bonang. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi karena sesuai untuk mendalami dan megeksplorasi instrumen bonang serta menganalisis secara mendalam tentang objek yang diteliti. Hasil yang ditemukan menunjukkan tentang asal-usul bonang, karakteristik bonang, ornamen pada rancak bonang, proporsi bonang, bahan baku pembuatan bonang dan pola tabuhan pada alat musik bonang. The world of Indonesian culture and art is very rich. Gamelan, a traditional Indonesian musical instrument, is a famous one. Bonang is the most commonly used Javanese gamelan instrument besides gong. The bonang musical instrument, which is a traditional musical instrument in Javanese gamelan, is facing challenges due to the decreasing interest of the younger generation. Many young people are more interested in modern or popular musical instruments, so interest in learning the bonang musical instrument is decreasing. This research aims to reveal and describe the aesthetic values ​​contained in the bonang musical instrument. The method in this research uses a qualitative method with an ethnographic approach because it is suitable for studying and exploring bonang instruments and analyzing in depth the objects studied. The results found indicate the origins of bonang, characteristics of bonang, ornaments on bonang rancak, proportions of bonang, raw materials for making bonang and beat patterns on bonang musical instruments.
Transformasi Visual Batik Setya Laweyan Melalui Perancangan Ilustrasi Filla Yuda Awanda Putra; M.Rudianto
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 11 No. 1 (2025): Estetika Seni: Dari Visual Hingga Musik
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v11i1.527

Abstract

Industri tekstil padat karya, khususnya sektor UKM batik, memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Batik Setya Laweyan, sebagai salah satu UKM yang bertahan, dikenal dengan motif khas dan teknik batiknya. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, permintaan terhadap motif khas menurun karena dominasi desain dari klien dengan segmen pasar terbatas pada kolektor dan pelajar seni. Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, dilakukan pengembangan motif berbasis ilustrasi yang disesuaikan dengan selera anak muda. Ilustrasi berperan memperkuat identitas visual batik, menjaga nilai budaya, serta meningkatkan daya tarik estetika. Proses perancangan mengacu pada teori S.P. Gustami yang menghasilkan enam alternatif desain, dan dipilih dua untuk diaplikasikan ke produk kemeja. Hasilnya, Batik Setya berhasil menciptakan motif baru yang lebih segar dan relevan sehingga dapat memperluas segmentasi pasar, menarik konsumen baru, serta meningkatkan daya saing di industri batik nasional. The labor-intensive textile industry, particularly the batik SME sector, plays an important role in the national economy. Batik Setya Laweyan, as one of the surviving SMEs, is known for its distinctive motifs and unique batik techniques. However, in recent times, demand for its signature motifs has declined due to the dominance of client-designed orders, with a limited market segment consisting of art collectors and art students. To reach a broader market, motif development based on illustrations tailored to youth preferences was carried out. Illustration serves to strengthen the visual identity of batik, preserve cultural values, and enhance its aesthetic appeal. The design process refers to S.P. Gustami's theory, resulting in six alternative designs, with two selected for shirt applications. As a result, Batik Setya successfully created fresher and more relevant motifs, enabling it to expand market segmentation, attract new consumers, and enhance its competitiveness in the national batik industry.
Visualisasi Karakter dan Cerita dalam Komik Kartun “Sang Sayur” Patricia, Florens
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 11 No. 1 (2025): Estetika Seni: Dari Visual Hingga Musik
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v11i1.533

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembuatan komik kartun Sang Sayur karya SYS dan aplikasi representasi visual karakter kartun Sang Sayur di berbagai media. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan fokus pendekatan naratif deskriptif. Data dalam penelitian ini berupa data primer, yaitu wawancara dengan komikus SYS, dan data penelitian sekunder berupa data website komikus, portofolio komikus Shirley Y. Susilo atau yang dikenaldengan nama pena SYS, dan artikel online yang memuat komik Sang Sayur. Pengumpulan data penelitian dilakukan berdasarkan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data hingga verifikasi data. Hasil penelitian ini berupa deskripsi proses pembuatan komik kartun Sang Sayur dan bentuk visualisasi karakter komik kartun Sang Sayur di berbagai media.   This study aims to describe the making of Sang Sayur cartoon comic by SYS and visual representation application of Sang Sayur cartoon character in other media with qualitative method focusing in descriptive narrative. The primer data in this study is interview to SYS, and the second data is SYS’s website and portfolios, with other online articles about Sang Sayur comic cartoon. Collection data based on observation, interview and documentation, then analyzing data with three phases; reduction, presentation and verification. The result is description the making of Sang Sayur cartoon comic by SYS starts from synopsis until the finishing the Sang Sayur cartoon comic and shape of visualization character Sang Sayur comic cartoon in other media such as sticker, plushie, pencil box and book tag.
Melihat Kota Lewat Lensa: Fotografi Jalanan sebagai Ekspresi Seni Abiyya Rastandi, Dicky
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 11 No. 2 (2025): Mengkaji Identitas dan Makna Simbolik dalam Karya Seni
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v11i2.537

Abstract

Fotografi jalanan adalah bentuk ekspresi seni yang merekam dinamika kehidupan kota melalui momen-momen spontan di ruang publik. Penelitian ini membahas evolusi fotografi dari media dokumentasi menjadi medium artistik yang merefleksikan emosi dan kehidupan social masyarakat urban. Dengan menggunakan metode studi literatur, kajian ini menyoroti bagaimana fotografi jalanan berkembang di dunia, termasuk di Indonesia seiring kemajuan teknologi digital dan media sosial. Fotografi jalanan tidak hanya mendokumentasikan aktivitas kota, tetapi juga mengungkapkan narasi emosional dan kritik sosial melalui visualisasi spontan. Setiap foto menjadi representasi realitas kota yang penuh warna, menyoroti aspek kemanusiaan yang sering luput dari perhatian. Dengan teknik candid, sensitivitas sosial, dan kepekaan estetis, fotografi jalanan mengangkat ruang publik menjadi panggung cerita manusia. Hasil penelitian ini mempertegas fotografi jalanan sebagai bentuk seni otonom yang kaya makna, sekaligus sebagai refleksi budaya dan sosial masyarakat urban. Street photography is an artistic expression that captures the dynamics of urban life through spontaneous moments in public spaces. This study discusses the evolution of photography from a documentation medium into an artistic platform reflecting emotions and social life in urban communities. Using a literature review method, this research highlights how street photography in Indonesia has developed alongside the advancement of digital technology and social media. Street photography not only documents city activities but also conveys emotional narratives and social critiques through spontaneous visualizations. Each photograph represents the colorful realities of city life, emphasizing the human aspects often overlooked. Through candid techniques, social sensitivity, and aesthetic awareness, street photography transforms public spaces into stages for human stories. This study reinforces the notion of street photography as an autonomous art form rich in meaning, while also serving as a cultural and social reflection of urban society.

Page 10 of 11 | Total Record : 104