cover
Contact Name
Madia Patra Ismar
Contact Email
jurnalcikini@ikj.ac.id
Phone
+6221-2306106
Journal Mail Official
lppm@ikj.ac.id
Editorial Address
Jl. Cikini Raya
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Seni Nasional Cikini
ISSN : 25802860     EISSN : 27157482     DOI : 10.52969
Jurnal Seni Nasional CIKINI, is a collection of various topic of art studies that contain ideas, research, or views on the developtment of artistic phenomena and symptoms as well as various problems. The purpose of this Journal is for contribute to the researching about art, to develop our understanding about arts in Indonesia into a better perspective, and able to compete in global community. Editorial Board of Jurnal Seni Nasional CIKINI, will accept unpublished article, to be reviewed and edited in order to takes part in our journal. Jurnal Seni Nasional CIKINI released twice a year at June and December.
Articles 104 Documents
Batik Bhumi Phala: Manifestasi Identitas Kabupaten Temanggung Dalam Wastra Julian Prio Dwi Nugroho; Widihastuti; Mohammad Adam Jerusalem
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 11 No. 2 (2025): Mengkaji Identitas dan Makna Simbolik dalam Karya Seni
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v11i2.560

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan Batik Bhumi Phala sebagai representasi identitas Kabupaten Temanggung melalui eksplorasi unsur alam dan budaya lokal. Menggunakan metode penciptaan seni, penelitian dilakukan melalui tiga tahap: eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Tahap eksplorasi mengidentifikasi sumber ide visual khas Temanggung yaitu daun tembakau, buah dan bunga kopi, Tugu Jam, serta Gunung Sumbing dan Sindoro. Pada tahap perancangan, sumber ide tersebut ditransformasikan menjadi motif batik melalui stilisasi untuk tembakau, kopi, dan Tugu Jam, serta deformasi untuk Gunung Sumbing dan Sindoro, kemudian ditata dalam komposisi simetris. Tahap perwujudan meliputi pengutipan motif, nglowong, pewarnaan, nglorod, dan penjemuran dengan penggunaan pewarna alam ekstrak daun tembakau dan fiksator tunjung. Produk Batik Bhumi Phala memuat nilai filosofis sekaligus mencerminkan identitas budaya Temanggung sehingga berfungsi sebagai penguat karakter kultural masyarakat. This study aims to develop Batik Bhumi Phala as a representation of Temanggung Regency’s identity through the exploration of local natural and cultural elements. Employing an artistic creation method, the research was conducted through three stages: exploration, design, and realization. The exploration stage identified distinctive visual sources from Temanggung, including tobacco leaves, coffee fruits and flowers, the Clock Tower, and Mount Sumbing and Mount Sindoro. In the design stage, these sources were transformed into batik motifs using stylization techniques for tobacco, coffee, and the Clock Tower, and disformation techniques for Mount Sumbing and Mount Sindoro, arranged into symmetrical compositions. The realization stage involved motif tracing, nglowong, dyeing, pelorodan, and drying, utilizing natural dyes extracted from dried tobacco leaves with tunjung as the fixative. Batik Bhumi Phala embodies philosophical values and reflects the cultural identity of Temanggung, thereby strengthening the community’s cultural character.
Menjadi Perempuan, Menjadi Ibu: Reproduksi Mitos atas Gagasan Altruistik Keibuan dalam Sajak-Sajak Berperspektif Gender Alaudin, Faris
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 11 No. 2 (2025): Mengkaji Identitas dan Makna Simbolik dalam Karya Seni
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v11i2.609

Abstract

Perempuan kerap dibatasi dengan gagasan keibuan yang kemudian membentuk berbagai stereotip mengenai peran mereka dalam masyarakat. Kajian ini berfokus pada representasi ibuisme yang dilekatkan kepada perempuan dalam sepuluh sajak berperspektif gender: “Ibu” (Loekito, 1998a), “Ibunda Tercinta” (Paranggi, 1987), “Kematian” (Sukarton, 1988b), Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa (AG, 2009), “Perempuan Itu Bernama Ibu” (Herliany, 2001), “Pohon yang Kutanam” (Herliany, 1997), “Sajak Ingat pada Ibu” (Massardi, 1977), “Surat dari Ibu” (Sani, 1950), “Taman Ibu” (Sambodja, 2010b), dan “Taman Kanak-kanak” (Noerhadi, 1995b). Kajian ini bertujuan untuk merespons gagasan para perempuan penyair dan laki-laki penyair dalam memandang peran perempuan sebagai ibu yang dikonstruksikan oleh masyarakat patriarki. Dengan menggunakan metode deskriptif analisis, unsur citraan dalam sajak-sajak ini digali untuk menunjukkan citra perempuan ideal yang kerap diasosiasikan sebagai ibu yang altruis. Representasi ibu yang diusung dalam sajak mengindikasikan domestifikasi peran perempuan yang dan reproduksi atas mitos ibuisme. Konstruksi sosial ini dapat dibaca sebagai pelanggengan atas patriarki yang membatasi peran perempuan.   Women are frequently circumscribed by the ideology of motherhood that construct various stereotypes about their roles in society. This study examines the representation of ibuism attributed to women in ten gender-oriented poems: “Ibu” (Loekito, 1998a), “Ibunda Tercinta” (Paranggi, 1987), “Kematian” (Sukarton, 1988b), Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa (AG, 2009), “Perempuan Itu Bernama Ibu” (Herliany, 2001), “Pohon yang Kutanam” (Herliany, 1997), “Sajak Ingat pada Ibu” (Massardi, 1977), “Surat dari Ibu” (Sani, 1950), “Taman Ibu” (Sambodja, 2010b), and “Taman Kanak-kanak” (Noerhadi, 1995b). The study investigates how both women and men poets articulate the maternal roles ascribed to women roles that are socially produced within a patriarchal system. Employing a descriptive analytical approach, the analysis explores the poems’ imagery to illuminate ideals of womanhood commonly aligned with the figure of the altruistic mother. The maternal portrayals identified in these texts reveal processes of domestification and the reproduction of ibuism myths, which ultimately exemplify patriarchal mechanisms that curtail women’s agency.
The Makna Simbolik dalam Karya Lukis “All Praise Be To God” Karya Fadjar Djunaedi Benedicta, Daniela Ivanty Christian
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 11 No. 2 (2025): Mengkaji Identitas dan Makna Simbolik dalam Karya Seni
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v11i2.617

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguak makna simbolik dalam karya lukis "All Praise Be To God" karya Fadjar Djunaedi yang dikenal mengangkat tumpeng nasi kuning sebagai simbol rasa syukur (slametan) dalam konteks budaya Jawa, sekaligus merefleksikan hubungan vertikal manusia dengan Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis dan kerangka Semiotika Visual Charles Sanders Peirce (Representamen, Objek, Interpretant), kajian berfokus pada struktur tanda visual, makna, dan ide penciptaan. Data primer adalah unsur visual lukisan (komposisi, warna, medium), sementara data sekunder mencakup filosofi tumpeng. Hasil analisis menunjukkan bahwa lukisan ini cerdas memadukan figur pensil dengan cat akrilik tumpeng yang cerah. Tumpeng berfungsi sebagai indeks yang merujuk pada ritual Slametan, tradisi memohon keselamatan dan berbagi kebahagiaan. Ekspresi dan gestur tokoh perempuan merupakan Sinsign rasa syukur. Lebih mendalam, alas tumpeng dan seutas mi yang membentuk layang-layang diinterpretasikan sebagai simbol"melayangkan" doa, harapan, dan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, sesuai judul lukisan. Interpretasi lukisan ini adalah penggambaran hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan dalam bentuk harapan dan syukur yang dihaturkan melalui objek tumpeng sebagai representasi kebudayaan Jawa. This research aims to reveal the symbolic meaning in the painting "All Praise Be To God" by Fadjar Djunaedi, known for featuring the Tumpeng Nasi Kuning as a symbol of gratitude (slametan) in Javanese culture, while also reflecting the vertical relationship between humans and God. Using a descriptive-analytical qualitative approach and Charles Sanders Peirce’s Visual Semiotics framework (Representamen, Object, Interpretant), the study focuses on the structure of visual signs, meaning, and the artist’s creative ideas. Primary data consists of the painting's visual elements (composition, color, medium), while secondary data covers the philosophy of Tumpeng. The analysis results show that the painting cleverly merges a pencil-drawn figure with the bright acrylic Tumpeng. The Tumpeng functions as an Index referring to the Slametan ritual—a tradition of seeking safety and sharing happiness. The female figure’s expression and gesture are a Sinsign of gratitude. Furthermore, the base of the Tumpeng and a dangling noodle strand form a kite shape, interpreted as a Symbol of "airing" or "sending up" prayers, hopes, and gratitude to the Almighty, consistent with the title. The painting’s Interpretant is the depiction of the vertical relationship between humanity and God, where hopes and gratitude are offered through the Tumpeng object as a representation of Javanese culture.
Perubahan Identitas Tokoh dalam Film dan Serial TV The Beauty Inside: Simbol Multikulturalisme dan Gender Sandra, Wili; Sapuroh
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 11 No. 2 (2025): Mengkaji Identitas dan Makna Simbolik dalam Karya Seni
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v11i2.646

Abstract

Artikel ini akan menguraikan tentang bagaimana memahami dan “menjadi” Korea lewat film. Pertanyaan dasar yang muncul yang menjadi landasan penelitian ini adalah apakah untuk menjadi benar-benar Korea, seseorang harus dapat berbicara bahasa Korea dan mewujudkan nilai- nilai, adat istiadat, serta pola pikir masyarakat Korea? Pertanyaan itu didasari oleh pandangan tentang kecintaan orang Korea pada identitas inilah yang memengaruhi cara pandang mereka terhadap orang yang berbeda ras, suku, agama, dan budaya. Pada penelitian kali ini penulis ingin melihat bagaimana persoalan identitas masyarakat Korea ditampilkan dalam film The Beauty Inside yang dirilis pada 2015 dan serial TV dengan judul yang sama yang ditayangkan pada 2018. Penelitian terhadap film ini sebelumnya pernah dilakukan oleh Ariesva Retno Putri (2018), namun ia hanya melihat respons tokoh lain terhadap perubahan yang dialami tokoh utama. Pada penelitian ini penulis ingin melihat bagaimana persoalan identitas ditampilkan pada tokoh utama dalam film dan serial TV The Beauty Inside, serta bagaimana perubahan tokoh utama dari laki- laki ke perempuan mempengaruhi pemaknaan ideologi teks dalam cerita. Karena berasal dari dua jenis media yang berbeda, yaitu film dan serial TV, penulis akan menggunakan “pisau bedah” yang sesuai dengan masing-masing karya untuk melihat perubahan yang ada di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan identitas tokoh utama dalam film dan serial TV The Beauty Inside digambarkan berbeda pada kedua media. Pada versi film tokoh utama adalah seorang laki-laki yang berubah fisik setiap hari (kehilangan identitas asli), sedangkan pada versi serial TV tokoh utama digambarkan sebagai perempuan yang berubah fisiknya secara rutin setiap bulan (masih memiliki identitas asli). Perubahan jenis kelamin dan perbedaan penggambaran pada tokoh utama memunculkan adanya ideologi teks yang berbeda. Film The Beauty Inside membawa nilai-nilai multikulturalisme, sedangkan serial TV The Beauty Inside membawa ideologi gender. FilmThe Beauty Inside seolah ingin menolak pandangan masyarakat Korea yang masih mendefinisikan identitas sebagai hasil keturunan dan budaya, sedangkan serial TV The Beauty Inside ingin menyuarakan kesetaraan gender bagi para perempuan dengan menolak dominasi patriarki. This article will explore how to understand and “become” Korean through film. The fundamental question that emerges, which forms the basis of this research, is whether to truly be Korean, one must be able to speak Korean and embody Korean values, customs, and mindsets. This question is based on the view that Koreans' love of identity influences their perspectives on people of different races, ethnicities, religions, and cultures. In this study, the author wants to examine how the issue of Korean identity is portrayed in the film The Beauty Inside, released in 2015, and the TV series of the same name, broadcast in 2018. Previous research on this film was conducted by Ariesva Retno Putri (2018), but she only examined the responses of other characters to the changes experienced by the main character. In this study, the author wants to examine how the issue of identity is portrayed by the main character in the film and TV series The Beauty Inside, and how the main character's transformation—from male to female—influences the interpretation of the text's ideology in the story. Because they originate from two different media, namely film and TV series, the author will use a "scalpel" appropriate to each work to examine the changes within them. The results of the study indicate that the identity changes of the main characters in the film and TV series "The Beauty Inside" are depicted differently in both media. In the film version, the main character is a man who physically changes every day (losing his original identity), while in the TV series version, the main character is depicted as a woman who physically changes regularly every month (retaining her original identity). The gender changes and differences in the depictions of the main characters give rise to different textual ideologies. The film "The Beauty Inside" promotes multiculturalism, while the TV series "The Beauty Inside" promotes gender ideology. The film "The Beauty Inside" appears to reject the view of Korean society that still defines identity as a result of heredity and culture, while the TV series "The Beauty Inside" advocates gender equality for women by rejecting patriarchal domination.  

Page 11 of 11 | Total Record : 104