cover
Contact Name
Baiq Lily Handayani
Contact Email
baiq.fisip@unej.ac.id
Phone
+6281237134801
Journal Mail Official
Entitas@unej.ac.id
Editorial Address
Jl. Kalimantan 37 Kampus Tegalboto Jember 68121
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Entitas Sosiologi
Published by Universitas Jember
ISSN : 20888260     EISSN : 27213323     DOI : https://doi.org/10.19184/jes
Jurnal Entitas Sosiologi (JES) merupakan ruang bagi diseminasi gagasan dalam lingkup kajian Sosiologi. Jurnal ini juga memberi ruang pada berbagai perspektif dalam sosiologi khususnya dalam mengembangkan ide-ide yang dapat mendorong transformasi masyarakat menuju masyarakat yang manju dan berkelanjutan. Jurnal Entitas Sosiologi (JES) menerima artikel berupa hasil riset, kajian, dan review buku yang mendukung penyebaran gagasan dan pengkayaan pengetahuan berbasis sosiologi.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 13 No 2 (2024): Community Dynamics and Social Transformation" : 6 Documents clear
Presentasi Diri Penari Perempuan dalam Menghadapi Stigma Sosial Sudarno, Tri indah Megawati
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 13 No 2 (2024): Community Dynamics and Social Transformation
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v13i2.51233

Abstract

Penelitian ini mengkaji presentasi diri penari perempuan dalam konteks stigma yang diterima, dengan fokus pada masyarakat Jember. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami cara penari perempuan menampilkan diri dalam menghadapi stigma masyarakat. Penelitian ini menggunakan teori dramaturgi Erving Goffman (1959) sebagai landasan analisis dan menerapkan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Penari perempuan di Jember menghadapi stigma dari sebagian masyarakat Jember yang agamis, namun ada juga segmen masyarakat Jember lainnya yang menikmati pertunjukan tari meskipun bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. (2) Presentasi diri penari dibagi menjadi dua kategori utama: panggung depan dan panggung belakang. Panggung depan mencakup pencitraan di atas panggung dan di luar panggung, sedangkan panggung belakang mencakup interaksi penari dengan sesama seniman di lingkungan keseniannya dan refleksi penari perempuan saat sendiri. Panggung belakang ini menjadi ruang refleksi bagi penari mengenai stigma yang mereka hadapi. Penari tidak hanya melihat tarian sebagai bagian dari tradisi yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperoleh perhatian. Dalam hal ini, penari memanfaatkan stigma yang melekat pada mereka sebagai strategi untuk menarik perhatian orang lain. Temuan ini menunjukkan bahwa penari memiliki kontrol penuh atas tubuhnya dan dapat memanfaatkan stigma untuk memperkuat karir menari mereka dalam masyarakat.Kata Kunci: Stigma, Penari perempuan, Presentasi diri, masyarakat Jember, Teori Erving Goffman AbstractThis study examines the self-presentation of female dancers in the context of the stigma they face, focusing on the community in Jember. The aim of this research is to understand how female dancers present themselves while dealing with stigma from the society. This study employs Erving Goffman's dramaturgical theory (1959) as the analytical framework, and uses a descriptive qualitative method with an ethnographic approach. The findings reveal that (1) female dancers in Jember encounter stigma from certain religious segments of the community, but there are also other segments of Jember's society that enjoy dance performances despite standing against the prevailing norms. (2) The self-presentation of dancers is divided into two main categories: front stage and back stage. The front stage includes the presentation both on and off stage, while the back stage involves the interactions of dancers with fellow artists within their artistic environment and their personal reflections when alone. The back stage serves as a space for dancers to reflect on the stigma they encounter. Dancers do not only view dance as a part of the tradition that must be preserved but also as an opportunity to gain attention. In this regard, dancers make use of the stigma attached to them as a strategy to attract others' attention. The findings indicate that dancers have full control over their bodies utilize the stigma to enhance their dancing careers within society.Keywords : Stigma, Female Dancers, Self-Presentation, Community of Jember, Erving Goffman’s Theory
Dampak Diskriminasi Terhadap Fungsi Sosial Manusia Silver di Kota Jember Prayitno, Hadi; Faturahman, Gusti Farhan; Arif, Arif
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 13 No 2 (2024): Community Dynamics and Social Transformation
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v13i2.48285

Abstract

Manusia silver sering mengalami diskriminasi dan stigma dari masyarakat akibat penampilan mencolok dengan cat perak dan tindakan mereka yang dianggap mengganggu. Diskriminasi ini menyebabkan marginalisasi dan menghambat integrasi mereka dalam komunitas. Pendekatan penelitian adalah kualitatif dengan metode studi kasus, dilakukan di lampu merah Argopuro, Kota Jember. Teknik penentuan informan menggunakan Snowball Sampling, dan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data melibatkan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Validitas data diperiksa melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manusia silver menghadapi tekanan diskriminasi yang mempengaruhi fungsi sosial mereka. Meskipun mereka berusaha memenuhi kebutuhan, menjalankan peran sosial, dan menyelesaikan masalah, mereka menghadapi hambatan signifikan, terutama terkait dengan ketidakmampuan masyarakat untuk menerima keberadaan mereka sebagai bagian dari komunitas.Kata Kunci: Diskriminasi, Fungsi Sosial, Manusia Silver, Kota Jember, Marginalisasi Abstract‘Silver people’ often face discriminations and stigma from society due to their conspicuous appearance with silver paint over their body and actions that are considered disruptive. This discrimination leads to marginalization and hinders their integration into the community. The research employs a qualitative approach with a case study method, conducted at the Argopuro traffic light in Jember city. Informant selection was carried out using Snowball Sampling, while data was collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis involved data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Data validity was ensured through source triangulation. The findings reveal that silver people face discriminatory pressures that affect their social function. Despite their efforts to meet daily needs, to fulfill social roles, and to solve problems, they encounter significant barriers, particularly related to society's inability to accept their presence as part of the community.Keywords: Discrimination, Social Functioning, Silver man, Jember City, marginalization
Peran Modal Sosial dalam Dinamika Komunitas Ojek Konvensional: Studi tentang Komunitas Opas di Anyer Yuliani, Yuliani; Setiawan, Rizki
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 13 No 2 (2024): Community Dynamics and Social Transformation
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v13i2.48417

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran modal sosial dalam mempertahankan komunitas ojek konvensional di tengah meningkatnya persaingan dari berbagai jenis transportasi dan modernisasi di Anyer. Menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, studi ini mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk menganalisis eksistensi dan fungsi modal sosial dalam komunitas ojek konvensional Opas (Ojek Pasar). Temuan penelitian menunjukkan bahwa modal sosial memainkan peran krusial dalam keberlangsungan komunitas ini. Elemen-elemen modal sosial yang signifikan meliputi: 1) solidaritas yang tinggi di antara anggota, 2) kepercayaan antar anggota komunitas, dan 3) nilai-nilai sosial yang terjalin dalam komunitas. Modal sosial terbukti penting untuk mempertahankan eksistensi komunitas ojek pangkalan ini, yang masih mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dan memelihara norma-norma serta hubungan sosial yang ada. Modal sosial memberikan manfaat bagi anggota dalam beraktivitas serta membangun keharmonisan dengan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, pemberdayaan komunitas sangat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan modal sosial, terutama di daerah pedesaan. Penguatan solidaritas dan kerja sama baik di antara anggota komunitas maupun dengan masyarakat sekitar diharapkan dapat mendukung keberlanjutan komunitas Opas di masa depan.Kata Kunci: Modal Sosial, komunitas Ojek Konvensional, keberlanjutan komunitas, pemberdayaan komunitas. AbstractThis study aims to explain the role of social capital in sustaining conventional motorcycle taxi communities amidst the increasing competition from various transportation modes and the modernization in Anyer. Drawing on a descriptive qualitative research method, the study collects data through observation, interviews, and documentation to analyze the existence and function of social capital within the Opas (Ojek Pasar) conventional motorcycle taxi community. The findings reveal that social capital plays a crucial role in the continuity of this community. Significant elements of social capital include: 1) high solidarity among members, 2) trust within the community, and 3) social values intertwined in the community. Social capital has proven essential in maintaining the existence of this base ojek community, which continues to earn public trust and uphold existing norms and social relationships. Social capital benefits members in their activities and fosters harmony with the surrounding society. Therefore, community empowerment is vital for sustaining social capital, particularly in rural areas. Strengthening solidarity and cooperation both within the community and with the surrounding society is expected to support the future continuity of the Opas community.Keywords: Social Capital, Conventional Motorcycle Taxi Community, Community Sustainability, Community Empowerment.
Analisis Peran Pendampingan Anak Jalanan oleh Komunitas Peduli Anak Jalanan (KPAJ) di Area BTP Makassar Handini, Delvi Poppy; Mario, Mario; Idrus, Idham Irwansyah
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 13 No 2 (2024): Community Dynamics and Social Transformation
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v13i2.48725

Abstract

Meningkatnya jumlah anak jalanan merupakan masalah serius yang perlu dipecahkan bersama. Kemunculan Komunitas Peduli Anak Jalanan (KPAJ) merupakan salah satu komunitas pemerhati anak jalanan di Kota Makassar yang memiliki visi mengutamakan kesejahteraan anak jalanan dengan melakukan pendampingan terhadap anak jalanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk pendampingan KPAJ, dampak pendampingan dan faktor penghambat dalam proses pendampingan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga bentuk pendampingan oleh KPAJ yaitu; street based berupa intervensi di lapangan, centre based berupa pemberian layanan di lembaga dan community based berupa potensi masyarakat. Dampak pendampingan KPAJ pada anak jalanan di Arbin BTP yaitu; anak tidak lagi berada di jalanan, peningkatan keterampilan anak dan pembentukan sikap dan karakter anak. Adapun Faktor penghambat faktor internal, seperti minimnya tenaga pendamping, waktu kunjungan dan faktor eksternal, rumah binaan yang tidak menetap.Kata Kunci: Pendampingan Anak Jalanan, Komunitas Peduli Anak Jalanan (KPAJ), Makassar, anak jalanan, Kesejahteraan Anak AbstractThe increasing number of street children is a serious issue that requires a collaborative solution. The establishment of the Street Children Care Community (KPAJ) in Makassar is a notable initiative focusinged on the welfare of street children through various supports. efforts. This study aims to examine the forms of assistance provided by KPAJ, the impact of these interventions, and the challenges faced during the support process. Utilizing Employing a descriptive qualitative approach, this currente research collected involved data collection through observations, interviews, and documentation.n, with Ddata analysis was conducted via reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings reveal three primary forms of assistance provided by KPAJ: street-based interventions, center--based services at the institution, and community-based support leveraging local potential. The impact of KPAJ’s assistance on street children in Arbin assisted area BTP includes: the reduction in time spent on the streets, skill enhancement among the children, and development of their attitudes and character. The identified cChallenges identified include internal factors such as limited number of supporting staff and visit scheduling issues, as well as an external factor,s like the instability of the shelter facilitiesKeywords: Support for Street Children, Street Children Care Community (KPAJ), Makassar, Street Children, Child Welfare
Wajah Baru Jalan Tunjungan Surabaya: Evolusi Ruang Publik Menjadi Destinasi Wisata Generasi Z Marpaung, Tacsiya Kristina Rodearna; Sudrajat, Arief
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 13 No 2 (2024): Community Dynamics and Social Transformation
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v13i2.48555

Abstract

Penelitian ini mengkaji pergeseran ruang publik di Jalan Tunjungan, Surabaya, dan dampaknya terhadap perilaku berwisata Generasi Z. Transformasi Jalan Tunjungan dari pusat perdagangan tradisional menjadi area multifungsi dengan fasilitas modern mencerminkan kemampuan kota beradaptasi dengan perubahan zaman. Generasi Z tertarik pada Jalan Tunjungan karena perpaduan budaya, kreativitas, dan gaya hidup modern yang ditawarkan, termasuk kafe, galeri seni, dan spot Instagramable. Mereka memanfaatkan ruang ini untuk mengekspresikan diri, berinteraksi, dan berbagi pengalaman, yang menunjukkan perubahan dalam persepsi dan penggunaan ruang tersebut. Perubahan ini mempengaruhi perilaku perjalanan Generasi Z, yang kini lebih memilih destinasi dengan pengalaman beragam dan dukungan untuk aktivitas digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam, serta menerapkan teori Mobilitas dari John Urry (2007) untuk menganalisis dinamika interaksi sosial dan mobilitas di ruang publik. Hasilnya menunjukkan bahwa transformasi Jalan Tunjungan menciptakan lingkungan inklusif dan berkelanjutan, memenuhi kebutuhan generasi muda tanpa menghilangkan warisan budaya kota. Modernisasi ruang publik di Surabaya, seperti taman kota dan kawasan pejalan kaki, terbukti tidak hanya menarik minat Generasi Z, tetapi juga mengubah cara mereka berinteraksi dengan dan menikmati lingkungan sekitar.Kata Kunci: Jalan Tunjungan, Transformasi Ruang Publik, Perilaku Berwisata, Generasi Z, Surabaya AbstractThis study examines the transformation of public space on Jalan Tunjungan in Surabaya and its impact on the tourism behavior of Generation Z. The shift of Jalan Tunjungan from a traditional commercial center to a multifunctional area with modern amenities reflects the city’s ability to adapt to changing times. For Generation Z, Jalan Tunjungan is appealing due to its blend of culture, creativity, and modern lifestyle as evidenced in its cafes, art galleries, and Instagrammable spots. They use these spaces to express themselves, interact, and share This. Illustrates a shift in how these spaces are perceived and utilized. This transformation significantly influences Generation Z’s travel behavior as they chose destinations offering diverse experiences and supporting their digital activities. The study employs a descriptive qualitative method supported by in-depth interviews and applies John Urry’s theory of Mobilities (2007) to analyze social interaction dynamics and mobility in public spaces. The findings reveal that the transformation of Jalan Tunjungan creates an inclusive and sustainable environment that meets the needs of the younger generation while preserving the city’s cultural heritage. The modernization of public spaces in Surabaya, such as parks and pedestrian areas, does not only attract Generation Z but also change how they interact with and enjoy their surroundings.Keywords: Jalan Tunjungan, Public Space Transformation, Tourist behavior, Generation Z, Surabaya
Kejutan Budaya pada Masyarakat Perbatasan: Studi Tentang Dampak Pembangunan Border Development Center di Dusun Aruk, Kabupaten Sambas Akbar, Muhammad Fadhly; Rifaldi, Rizki; Maharani, Nur Holifah Ihtisya; Ulhaq, Hafidz Asyqor Dhiya; Agustin, Nelly; Pujiati, Ayu; Aidil, Muhammad
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 13 No 2 (2024): Community Dynamics and Social Transformation
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v13i2.47019

Abstract

Pembangunan Border Development Center (BDC) diharapkan membawa perubahan signifikan dalam infrastruktur, ekonomi, dan sosial pada masyarakat di perbatasan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana perubahan tersebut mempengaruhi masyarakat lokal, terutama dalam aspek budaya dan sosial. Penelitian dilaksanakan di Dusun Aruk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, yang terletak di perbatasan Indonesia-Malaysia, menggunakan desain kualitatif dengan Teori Culture Shock dari Samovar (2010). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi, dan data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lokal mengalami kejutan budaya dalam beberapa fase antara lain, Fase Bulan Madu dimana masyarakat merasa gembira dan mengalami kesejahteraan ekonomi berkat adanya PLBN (Pos Lintas Batas Negara). Fase pesakitan, pada fase ini kemudahan awal digantikan oleh kesulitan, terlihat dari hilangnya pasar tradisional di titik nol perbatasan, kesulitan dalam menjual hasil pertanian ke Malaysia, peraturan karantina untuk hewan sebelum masuk ke Malaysia, dan perubahan gaya hidup remaja yang mulai mengonsumsi minuman keras seperti tequila. Fase adaptasi dimana masyarakat mulai beradaptasi dengan perubahan, ditandai dengan adanya pasar kaget yang menggantikan pasar tradisional. Terakhir, fase penyesuaian diri. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat lokal menghadapi dan beradaptasi dengan perubahan besar akibat pembangunan BDC dan guncangan budaya yang mereka alami.Kata Kunci: Kejutan budaya, Masyarakat Perbatasan, Pembangunan BDC, Teori Culture Shock Samovar AbstractThe development of the Border Development Center (BDC) is expected to bring significant changes to the infrastructure, economy, and social aspects of the border community. This study aims to understand how these changes impact the local population, particularly in terms of cultural and social aspects. The research was conducted in Dusun Aruk, Sambas Regency, West Kalimantan, located on the Indonesia-Malaysia border, using a qualitative design with Samovar's Culture Shock Theory (2010). Data collection was carried out through interviews and observations, and the data was analyzed descriptively. The results of the study indicate that the local community experienced cultural shock in several phases. The Honeymoon Phase, where the community felt joy and economic welfare due to the presence of the Border Crossing Post (PLBN). The Crisis Phase, where initial conveniences were replaced by difficulties, such as the disappearance of the traditional market at the zero border point, challenges in selling agricultural products to Malaysia, quarantine regulations for animals before entering Malaysia, and a change in youth lifestyle, including the consumption of alcoholic beverages like tequila. The Adaptation Phase, where the community began to adjust to the changes, marked by the emergence of a new market that replaced the traditional market. The Adjustment Phase, where the community became accustomed to the changes after a lengthy adaptation period. It provides insights into how the local community faces and adapts to the significant changes brought about by the BDC development and the cultural shock they experience.Keywords: Culture Shock, Border Communities, PLBN and BDC Development, Samovar’s Culture Shock Theory

Page 1 of 1 | Total Record : 6