cover
Contact Name
Isnanto, S.Kep., Ns., MAN
Contact Email
-
Phone
+62274517065
Journal Mail Official
jurnal@stikesbethesda.ac.id
Editorial Address
Johar Nurhadi Number 6 Kota Baru
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kesehatan
ISSN : 23387947     EISSN : 25020439     DOI : https://doi.org/10.35913/jk.v8i1.196
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Kesehatan (e-ISSN: 2502-0439, p-ISSN: 2338-7947) merupakan jurnal yang meliputi bidang keperawatan dengan cakupan Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Anak, Keperawatan Komunitas, Keperawatan Gerontik, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Manajemen dan Paliative Care. Jurnal Kesehatan publish 2 kali dalam setahun, setiap bulan Januari dan Juli dan dipublish oleh Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bethesda Yakkum. Jurnal Kesehatan sudah terakreditasi oleh Akreditasi Jurnal Nasional (ARJUNA) dikelola oleh Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2015)" : 6 Documents clear
PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PENGELUARAN ASI PADA IBU POST SECTIO CAESAREA DI RUANG OBSTETRI GINEKOLOGI RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA 2014 Retnaningsih, Ika; Palupi, Niken WN; Prawesti, Indah
Jurnal Kesehatan Vol 2 No 2 (2015)
Publisher : STIKES Bethesda Yakkum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Pengeluaran ASI dipengaruhi oleh hormon oksitosin, hormon prolaktin, reflek prolaktin dan reflek let down. Salah satu cara untuk merangsang hormone oksitosin dengan pijat oksitosin. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Pengeluaran ASI Pada Ibu Post Sectio Caesarea Di Ruang Obstetri-Ginekologi Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta 2014”. MetodePenelitian: Rancangan penelitian ini adalah One-group pra-post test design. Populasi yang digunakan yaitu ibu yang melahirkan post Sectio Caesarea di Rumah Sakit Bethesda yang rata-rata setiap bulannya adalah 20 orang sehingga peneliti mengambil sampel sebanyak 20 orang. Tehnik pengambilan sampel menggunakan tehnik consecutive sampling. Uji statistik dengan menggunakan uji paired t test.Hasil Penelitian: Hasil uji paired t test pijat oksitosin diperoleh p value < α (0,05) yaitu .000. Kesimpulan: Ada pengaruh pijat oksitosin terhadap pengeluaran ASI pada ibu post Sectio Caesarea. Saran: Pijat Oksitosin dapat dipakai sebagai Standar Prosedur Operasinal (SPO) Perawatan Payudara di Rumah Sakit Bethesda dan mendukung program Rumah Sakit Sayang Ibu Balita (RSSIB). Kata Kunci : Pijat oksitosin - Pengeluaran ASI
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG SKIZOFRENIA DENGAN MOTIVASI KELUARGA UNTUK MEMBAWA PASIEN SKIZOFRENIA BEROBAT KE PUSKESMAS DI DESA BANARAN KABUPATEN KULON PROGO YOGYAKARTA JULI 2014 Pristiwanto, Pentana Akhir; Ngapiyem, Ruthy; Permitasari, Lisa
Jurnal Kesehatan Vol 2 No 2 (2015)
Publisher : STIKES Bethesda Yakkum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: World Health Organization (WHO) tahun 2009 memperkirakan 450 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan jiwa. Skizofrenia merupakan jenis gangguan jiwa yang paling banyak terjadi. Angka kejadian skizofrenia yang tinggi menjadi alasan perlunya untuk meningkatkan pemahaman individu tentang skizofrenia, sehingga mampu memberikan pelayanan pada anggota keluarga dengan skizofrenia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang skizofrenia dengan motivasi keluarga untuk membawa berobat pasien skizofrenia berobat ke puskesmas di Desa Banaran Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta Juli 2014. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan adalah cross sectional. Populasi pada penelitian ini berjumlah 76 orang. Sampel pada penelitian ini berjumlah 51 orang dengan metode purposive sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner. Analisa data menggunakan Chi Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Hasil tingkat pengetahuan keluarga tentang skizofrenia dalam kategori baik sebanyak 70,59%, sedangkan motivasi keluarga untuk membawa pasien skizofrenia berobat ke Puskesmas dalam kategori sedang sebanyak 62,75%. Hasil uji analisis Chi Square menunjukkan hasil X2 hitung sebesar 4,59sedangkan X2 tabel 9,49. Sehingga X2 hitung= 4,59< X2 tabel= 9,49. Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang skizofrenia dengan motivasi keluarga untuk membawa berobat pasien skizofrenia berobat ke puskesmas di Desa Banaran Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta Juli 2014. Saran: Diperlukan penelitian lanjut untuk mengetahui apa yang memotivasi keluarga membawa pasien skizofrenia berobat ke puskesmas. Kata Kunci: Skizofrenia – Pengetahuan – Motivasi – Keluarga
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN KOMUNIKASI SBAR DALAM REKAM MEDIS TERINTEGRASI RUANG RAWAT INAP III RUMAH SAKIT PANTI RAPIH YOGYAKARTA FEBRUARI-MARET 2014 Mariani, Paula Dianti; Sudarta, Wayan; Listyaningsih, Enik
Jurnal Kesehatan Vol 2 No 2 (2015)
Publisher : STIKES Bethesda Yakkum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan : penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap, motivasi terhadap pelaksanaan dokumentasi komunikasi SBAR ruang rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Februari-Maret 2014. Penelitian ini merupakan analisis observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah perawat pelaksana Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta dengan pendidikan D III Keperawatan dengan metode purposive sampling. Hasil dari 56 responden, pengetahuan tinggi 29 (51,8%), sedang 21 (37,5%) dan rendah 6 (10,7%), sikap baik ada 47 (83,9%) dan sikap tidak baik ada 9 (16,1%), motivasi tinggi 36 (64,3%), sedang 15 (26,8%) dan rendah5 (8,9%). Kelengkapan dokumentasi komunikasi SBAR ada 14 (25%) dan tidak lengkap ada 42 (75%). Hasil uji Chi-Square menunjukan ada pengaruh antara motivasi terhadap pelaksanaan dokumentasi menunjukkan bahwa p value = 0,03( ן൏< 0,05), Berarti Ho ditolak H ן൏diterima yaitu ada hubungan antara motivasi terhadap pelaksanaan dokumentasi komunikasi SBAR oleh perawat pelaksana dalam rekam medis terintegrasi ruang rawat inap III Rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta Februari-Maret 2014 hasil pengaruhnya agak rendah. Rekomendasi penelitian ini adalah diadakan penyegaran kembali tentang pelaksanaan dokumentasi komunikasi SBAR secara periodik bagi perawat pelaksana di lingkungan Rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta, sehingga akan meningkatkan pengetahuan perawat dan kualitas layanan keperawatan serta meningkatkan keamanan dan keselamatan pasien. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan faktor yang berhubungan dalam pelaksanaan dokumentasi adalah sikap hasilnya 0.292dan motivasi 0.537.
EFEKTIVITAS MOBILISASI DINI TERSTRUKTUR TERHADAP PENCEGAHAN DEPRESI DAN SPASTISITAS OTOT PADA PASIEN STROKE ISKEMIK DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYO SOLO Ikaningtyas, Nurlia; Sitorus, Ratna; Sukmarini, Lestari
Jurnal Kesehatan Vol 2 No 2 (2015)
Publisher : STIKES Bethesda Yakkum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Stroke merupakan penyakit serebrovaskuler utama di Amerika Serikat dan dunia. Pasien stroke mengalami berbagai komplikasi diantaranya depresi dan spastisitas otot. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas mobilisasi dini terstruktur terhadap pencegahan depresi dan spastisitas otot pada pasien stroke iskemik di Rumah Sakit Panti Waluyo Solo. Metode Penelitian: Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian quasy experimental post test non equivalent control group. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 29 responden didapatkan dengan menggunakan consecutive sampling, dibagi menjadi kelompok intervensi sebanyak 14 responden yang diberikan mobilisasi dini terstruktur dan kelompok kontrol sebanyak 15 responden yang diberikan mobilisasi dini standar rumah sakit. Evaluasi penelitian ini dilakukan pada hari ke delapan dengan menggunakan Zung Depression Scaledan Asworth Scalepada kedua kelompok tersebut. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan kejadian depresi antara kelompok intervensi dan kontrol (p value= 0,002) dan tidak ada perbedaan yang signifikan tentang kejadian spastisitas antara kelompok intervensi dan kontrol (p value= 1,00) setelah diberikan mobilisasi dini terstruktur. Kesimpulan: Ada perbedaan kejadian depresi antara kelompok intervensi dan kelompok kontol dan tidak ada pebedaan yang signifikan kejadian spasitas antara kelompok intervensi dan kontrol Saran: Penelitian ini merekomendasikan perlunya penelitian lebih lanjut mengenai mobilisasi dini terstruktur dengan menambah waktu pengukuran spastisitas otot dan memperhatikan variable confounding letak dan luas lesi. Kata kunci :depresi; mobilisasi dini terstruktur; stroke iskemik; spastisitas otot.
PERBEDAAN TINGKAT STRESS SEBELUM DAN SESUDAH TERAPI MUSIK MOZART PADA TUNA DAKSA DI PUSAT REHABILITASI TERPADU PENYANDANG CACAT YOGYAKARTA Destiyanti, Asteria; Saputro, Dwi Nugroho Heri; Sari, Ignasia Yunita
Jurnal Kesehatan Vol 2 No 2 (2015)
Publisher : STIKES Bethesda Yakkum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

"Perbedaan Tingkat Stress Sebelum dan Sesudah Terapi Musik Mozart Pada Tuna Daksa di Pusat Rehabilitasi Terpadu Penyandang Cacat Yogyakarta Maret 2014”. Latar belakang: Stres adalah suatu keadaan yang dialami setiap orang berupa respon tubuh yang tidak spesifik terhadap tekanan yang didapatkan secara tidak disengaja terhadap setiap kebutuhan yang terganggu, atau berupa pembebanan yang diperoleh dan tidak dapat dihindari. Ketidakmampuan mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik emosional, dan spiritual manusia, yang pada suatu saat dapat mempengaruhi kesehatan fisik manusia. Musik adalah salah satu terapi yang digunakan untuk mengurangi stress. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat Perbedaan Tingkat Stress Sebelum dan Sesudah Terapi Musik Mozart pada Tuna Daksa di Pusat Rehabilitasi Terpadu Penyandang Cacat Yogyakarta Maret 2014. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Quasi Eksperimendengan rancangan penelitian Time Series Design. Teknik samplingyang digunakan adalah NonProbability samplingjenis Sampling Kuota. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 22 orang. Pengumpulan data dilakukan pada saat sebelum dan sesudah diberikan terapi musik Mozart dengan menggunakan instrument PSS (Preceived Stress Scale) untuk mengetahui tingkat stress. Uji normalitas data menggunakan shapirowilk test. Analisa data menggunakan uji statistik wilcoxon. Hasil: Hasil uji Wilcoxon didapatkan p= 0,001, dengan demikian terdapat perbedaan antara Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukan ada perbedaan bermakna antara tingkat stress sebelum dan sesudah terapi musik Mozart. Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan lebih banyak responden, menggunakan kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.
HUBUNGAN PAPARAN ALERGEN DAN LATIHAN DENGAN TERJADINYA SERANGAN ASMA PADA PASIEN ASMA Ekarini, Ni Luh Putu
Jurnal Kesehatan Vol 2 No 2 (2015)
Publisher : STIKES Bethesda Yakkum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asma adalah penyakit inflamasi kronis pada saluran napas. Prevalensi kejadian asma masih terus mengalami peningkatan setiap tahunnya baik di dunia maupun di Indonesia. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor pemicu dominan terjadinya serangan asma pada pasien asma. Metode : Desain pada penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Jumlah responden adalah 118 orang (60 pasien asma persisten dan 58 pasien asma intermiten). Hasil : Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor-faktor pemicu dan karakteristik yang berhubungan dengan terjadinya serangan asma adalah paparan alergen (p value= 0,006), exercise(latihan) (pvalue= 0,042) dan pekerjaan (pvalue= 0,095). Hasil analisis multivariat diketahui bahwa paparan alergen dan exercise(latihan) adalah faktor yang paling dominan dengan terjadinya serangan asma pada pasien asma. Kesimpulan dan Saran : Diharapkan pemberian asuhan keperawatan, khususnya pengkajian keperawatan yang berfokus pada faktor-faktor pemicu lebih dikembangkan sehingga pendidikan kesehatan yang diberikan bisa terfokus hanya pada faktor pemicu yang menjadi masalah pasien. Kata kunci :faktor pemicu, pasien asma serangan asma ABSTRACT

Page 1 of 1 | Total Record : 6