cover
Contact Name
Sugeng Maryanto
Contact Email
sugengmaryanto99@gmail.com
Phone
+6281225183599
Journal Mail Official
sugengmaryanto99@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
ISSN : 19780346     EISSN : 25803751     DOI : 10.35473
Jurnal Gizi dan Kesehatan adalah terbitan berkala nasional yang memuat artikel penelitian (research article) di bidang gizi dan kesehatan. Jurnal Gizi dan Kesehatan diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah di bidang gizi dan kesehatan kepada para praktisi di bidang gizi, baik yang bergerak di bidang pendidikan gizi maupun yang bergerak di bidang pelayanan gizi di rumah sakit dan puskesmas, serta para praktisi gizi di dinas kesehatan maupun institusi-institusi lain.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 280 Documents
NILAI GIZI SNACK BAR TEPUNG CAMPURAN (TEPUNG MOCAF & TEPUNG KACANG MERAH) DAN SNACK BAR KOMERSIAL Asriasih, Dwifa Novita; Purbowati; Anugrah, Riva Mustika
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 12 No 27 (2020): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v12i27.57

Abstract

Background: Snack bar is a snack in the form of a bar made from a mixture of various ingredients such as cereals, nuts. Mocaf flour and red bean flour are local food products that can be used as snack bar products. Objective: Find out an overview of the nutritional value of a mixed flour snack bar (mocaf &red bean flour) and a commercial snack bar.Research Method: Design of studyanalytic descriptive research. The research sample is a commercial snack bar. The types of commercial snack bars are obtained from supermarkets in Ungaran. Analysis of data using microsoft office excel and presented in table form. Results: Mixed flour snack bar (mocaf with red bean flour) contains 128 kcal of energy, 4.5 grams of protein, 3 grams of fat, 20.5 grams of carbohydrates, and 5.7 grams of fiber. The nutritional content of 11 commercial snack bar brands is 80-160 kcal energy, 1-6 gram protein, 2.5-10 gram fat, 10-19 gram carbohydrate, and 1-4 gram fiber. Conclusion: The nutritional content of the mixed flour snack bar (mocaf &red bean flour) contains higher fiber than the commercial snack bar. Abstrak : Latar Belakang :Snack bar merupakan makanan ringan yang berbentuk batangan berbahan dasar campuran dari berbagai bahan seperti sereal, kacang-kacangan. Tepung mocaf dan tepung kacang merah merupakan hasil pangan lokal yang dapat digunakan menjadi produk snack bar. Tujuan :Mengetahuigambaran nilai gizi snack bar tepung campuran (tepung mocaf & tepung kacang merah) dan snack bar komersial. Metode Penelitian :Desain penelitian deskriptif analitik. Sampel penelitian ini adalah snack bar komersial. Jenis-jenis snack bar komersial didapatkan dari swalayan yang ada di Ungaran. Analisis data menggunakan microsoft office excel dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil : Snack bar tepung campuran (tepung mocaf dengan tepung kacang merah) mengandung energi 128 kkal, protein 4,5 gram, lemak 3 gram, karbohidrat 20,5 gram, dan serat 5,7 gram. Kandungan gizi dari 11 merk snack bar komersial yaitu energi 80-160 kkal, protein 1-6 gram, lemak 2,5-10 gram, karbohidrat 10-19 gram, dan serat 1-4 gram. Simpulan :Kandungan gizi snack bar tepung campuran (tepung mocaf & tepung kacang merah) mengandung serat lebih tinggi daripada snack bar komersial.
HUBUNGAN PEMBERIAN MP-ASI DAN USIA PERTAMA PEMBERIAN MP-ASI DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 6-24 BULAN DI DESA LEYANGAN KECAMATAN UNGARAN TIMUR KABUPATEN SEMARANG Virginia, Any; Maryanto, Sugeng; Anugrah, Riva Mustika
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 12 No 27 (2020): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v12i27.58

Abstract

Background: Stunting is a chronic malnutrition problem caused by low nutrition intake. Some of the causes of stunting is inappropriate complementary feeding and inappropriatefirst age for complementary feeding. Objective: The study to aims correlation between complementary feeding and first complementary feeding time with stunting in children of 6-24 months Method: The cross-sectional approach was conducted to this study. The 78 respondents were taken by proportional random sampling.Data taken by was an interview with questionnaires and anthropometric measurements using length board. Univariate data analysis by frequency distribution and bivariate data analysis by chi-square and risk estimate Result:The frequency of complementary feeding, the texture of complementary feeding, the amount of complementary feeding and the first age of giving complementary feeding appropriate eachwere60.3%, 65.4%, 33.3%, and 53.8%There was acorrelation between the frequency of complementary feeding (p-value=0.002;OR=4.531), the texture of complementary feeding (p-value=0.015; OR=3.304), amount of complementary feeding (p-value=0.020;OR=3.6), the first age for complementary feeding (p-value=0.002;OR=4,583) with stunting at the age of 6-24 months in Leyangan Village, East Ungaran District, Semarang Regency Conclution: There was a significant correlation between complementary feeding and first complementary feeding time with stuntingin childrenof 6-24 months in Leyangan Village, East Ungaran District, Semarang Regency Abstrak : Latar Belakang: Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan asupan gizi yang rendah. Beberapa penyebab stunting adalah pemberian MP ASI dan usia pertama pemberian MP-ASI yang tidak sesuai. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pemberian MP-ASI dan usia pertama pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan Metode Penelitian: Desain penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini ditentukan dengan proportional random sampling sejumlah 78 responden. Data yang diambil adalah wawancara dengan kuisioner dan pengukuran antropometri menggunakan length board. Analisis data univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis data bivariat menggunakan uji chi square dan risk estimate. Hasil : Frekuensi pemberian MP ASI, tekstur MP ASI yang diberikan, jumlah pemberian MP ASI dan usia pertama pemberian MP ASI sesuai masing-masing 60,3%, 65,4%, 33,3% dan 53,8%.Terdapat hubungan frekuensi pemberian MP ASI (p value=0,002;OR=4,531), tekstur MP-ASI yang diberikan (p value=0,015; OR=3,304), jumlah pemberian MPASI (p value=0,020;OR=3,6), usia pertama pemberian MP-ASI (p value=0,002;OR=4,583) dengan stunting pada usia 6-24 bulan di Desa Leyangan Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang. Simpulan : Terdapat hubungan pemberian MP-ASI dan usia pertama pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di Desa Leyangan Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang
ESTIMASI TINGGI BADAN MENGGUNAKAN DEMISPAN “MUST EQUATION” PADA LANSIA DI KABUPATEN SEMARANG Anisya, Yolan Fatkhis; Mulyasari, Indri
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 12 No 27 (2020): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v12i27.59

Abstract

Background: Accurate elderly height is relative difficult to measure due to posture problems existence. Demispanmeasurements can be used as an alternative measurementof height in the elderly. Objective: To analyze the difference between estimated height using MUST Equation and actual height in elderly. Method: The study design wasanalytic with a cross-sectional approach. The study was conducted at Posbindu the working area of Ungaran Health Center in April and June 2019 with samples determined using incidental sampling techniques of 50 respondents. Data taken includes height and demispan.Demispan was measured on the right arm.Demispan data is then used to estimate height using fourformulas (A, B, C, D) from MUST Equation. Data analysis used the Bland-Altman test to analyzegood agreement between twomeasurement methods. Results: The mean height of the respondents was 149.07±7.1cm. The mean demispan of respondents was 72.40±3.6cm.The results of the calculation use fourMUST Equation formulaalternative (A), men, height (cm) = 71 + (1.2 x demispan) and women, height (cm) = 67 + (1,2 x demispan) has the smallest difference among four other formulas (5.76±3.1cm). Limit Of Agreement from the estimated height (A) formula that is -0.39 to 11.91, estimated height (B) is -0.44 to 14.01, estimated height (C) is 1.08 to with 13.19 and estimated height (D) is 1.41 to 15.46. Conclusion: There is the difference between estimated height using MUST Equation and actual height in elderly. Abstrak : Latar Belakang: Pengukuran tinggi badan lansia sangat sulit dilakukan mengingat adanya masalah postur tubuh. Pengukuran demispan dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pengukuran tinggi badan pada lansia. Tujuan: Menganalisis perbedaan estimasi tinggi badan menggunakan demispan MUST Equation dengan tinggi badan aktual pada lansia. Metode Penelitian: Desain penelitian menggunakan analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ungaran pada bulan April dan Juni 2019 dengan sampel yang ditentukan menggunakan teknik incidental sampling sejumlah 50 responden. Data yang diambil meliputi tinggi badan dan demispan. Demispan diukur di lengan kanan. Data demispan kemudian digunakan untuk memperkirakan tinggi badan menggunakan 4 rumus (A,B,C,D) dari MUST Equation. Analisis data menggunakan uji Bland-Altman untuk mengetahui kesepakatan yang baik antara 2 metode pengukuran. Hasil: Rerata tinggi badan responden 149,07±7,1 cm. Rerata demispan responden 72,40±3,6 cm. Hasil dari perhitungan menggunakan 4 rumus MUST Equation, estimasi tinggi badan (A) yaitu laki-laki, Tinggi Badan (cm) = 71 + (1,2 x demispan) dan perempuan, Tinggi Badan (cm) = 67 + (1,2 x demispan) memiliki selisih paling kecil dari tinggi badan aktual dengan mean difference 5,76±3,1 cm. Limit Of Agreement dari rumus estimasi tinggi badan (A) yaitu -0,39 sampai dengan 11,91, estimasi tinggi badan (B) yaitu -0,44 sampai dengan 14,01, estimasi tinggi badan (C) yaitu 1,08 sampai dengan 13,19 dan estimasi tinggi badan (D) yaitu 1,41 sampai dengan 15,46. Simpulan: Ada perbedaan estimasi tinggi badan menggunakan demispan MUST Equation dengan tinggi badan aktual pada lansia.
HUBUNGAN PANJANG BADAN LAHIR, BERAT BADAN LAHIR DAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA BADUTA USIA 7-24 BULAN DI DESA WONOREJO KECAMATAN PRINGAPUS KABUPATEN SEMARANG Andini, Virnalia; Maryanto, Sugeng; Mulyasari, Indri
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 12 No 27 (2020): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v12i27.60

Abstract

Background :Stunting is a chronic malnutrition problem caused by inadequate nutritional intake in a long time due to feeding which is not in accordance with nutritional needs. Birth weight, birth length, breastfeeding, gestational age, maternal parenting, sanitation and environmental health are factors that cause ofstunting. Objective :The study aims to find outthe correlation between birth length, birth weight and exclusive breastfeeding with the incidence of stunting in the age group 7-24 months in Wonorejo Village, Pringapus District, Semarang Regency Method :The study was cross sectional approach. The population were all children aged 7-24 months. The sample were taken by Proportional Random Sampling with 74 respondents. Univariate data analysis with frequency distribution and bivariate using kendall’s tau correlation test. Retrieving data with interviews and anthropometric measurements. Results :The percentage of short body length is 47.3%, percentage of body weight is less than 41.9%, percentage not exclusive breastfeeding is 86.5%, and stunting of 62.2%. There is a significant relationship between birth length, birth weight and exclusive breastfeeding with the incidence of stunting (p < 0,0001 ; p < 0,0001 ; p = 0,003). Conclusion :There is a correlation between birth length, birth weight and exclusive breastfeeding with the incidence of stunting in the age group 7-24 months in Wonorejo Village, Pringapus District, Semarang Regency. Abstrak : Latarbelakang : Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Berat badan lahir, panjang badan lahir, pemberian ASI, usia kehamilan, pola asuh ibu, sanitasi dan kesehatan lingkungan merupakan faktor terjadi stunting. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan panjang badan lahir, berat badan lahir dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada baduta usia 7-24 bulan di Desa Wonorejo Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang Metode : Penelitian menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi seluruh baduta berusia 7-24 bulan. Sampel ditentukan dengan Proportional Random Sampling sejumlah 74 responden. Analisis data univariat dengan distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji korelasi kendall’s tau. Pengambilan data dengan wawancara dan pengukuran antropometri. Hasil : Presentase panjang badan lahir pendek sebesar 47,3%, berat badan lahir kurang sebesar 41,9%, tidak ASI eksklusif sebesar 86,5%, dan stunting sebanyak 62,2%. Terdapat hubungan yang bermakna antara panjang badan lahir, berat badan lahir dan pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting (p < 0,0001 ; p < 0,0001 ; p = 0,003). Simpulan : Terdapat hubungan antara panjang badan lahir, berat badan lahir dan pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting pada baduta usia 7-24 bulan di Desa Wonorejo Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang.
PENGARUH PEMBERIAN MODIFIKASI MODISCO (Modified Dietetic Skimmed Milk And Coconut Oil) KEDELAI TERHADAP PERTUMBUHAN TIKUS WISTAR KEP (KEKURANGAN ENERGI PROTEIN) Nurina, Marliana Eka; Maryanto, Sugeng; Pontang, Galeh Septiar
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 12 No 27 (2020): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v12i27.61

Abstract

Background: Protein Energy Malnutrition(PEM) is one of the main nutritional problems in Indonesia. Soybean is a food commodity that is rich protein and amino acids for the growth and development of children. Modiscois a WHO formulaused for diet treatmentfortoddlers’ with PEM,themodiscosoybeans modification are madeincreaseor maximize the proteinsto suit the needs of malnourished children. Objective:The study aims to investigatethe effect of giving Modisco Soybeans to the growth of body weight and the body length ofPEM rat Method:The study was true experimental with a randomized pretest and posttest controlled group design.The population was 3 weeks old wistarstrain male rats. The sample of this study was determined based on Frederer’sformula that is 6 rats in each group andthe total sample was 24 rats.The data analysis used Paired t-testand One Way Anova(p< 0,05). Result:The average increase body weight ofPEMrat after being given modiscosoybeans for 14 days was 55.33 grams (54.9%) while the average rat length increasedto1.083 cm (9.44%). There is an effect of giving modisco soybeans to the growth ofPEM rats(p< 0,001). Conclution:There is an effect of giving modisco soybeans to the growthof body weight and the body length ofPEM rats Abstrak : Latar Belakang: Kekurangan Energi Protein (KEP) merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. Kedelai merupakan komoditas pangan yang kaya akan protein dan asam amino untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Modisco merupakan formula WHO yang digunakan untuk terapi diet balita dengan KEP, sehingga dilakukannya modifikasi modisco dengan penambahan kedelai untuk menambah atau memaksimalkan kandungan protein yang disesuaikan dengan kebutuhan anak gizi buruk. Tujuan: Untuk mengetahui adakah pengaruh pemberian Modisco Kedelai terhadap pertumbuhan berat badan dan panjang badan tikus wistar KEP. Metode Penelitian: Desain penelitian ini menggunakan True experimental dengan rancangan randomized pretest and posttest controlled group design. Populasi adalah tikus putih jantan strain wistar berumur 3 minggu. Sampel penelitian ini ditentukan berdasarkan rumus Frederer sejumlah 6 ekor per kelompok sehingga total sampel adalah 24 ekor tikus. Analisis data menggunakan Paired t-test dan One Way Anova (p < 0,05). Hasil: Rata-rata peningkatan berat badan tikus KEP setelah diberi modisco kedelai selama 14 hari sebanyak 55,33 gram (54,9%) sedangkan rata-rata panjang tikus meningkat sebanyak 1,083 cm (9,44%). Terdapat pengaruh pemberian modisco kedelai terhadap pertumbuhan tikus wistar KEP (p = 0,0001). Simpulan: Terdapat pengaruh pemberian modisco kedelai terhadap pertumbuhan berat dan panjang badan tikus wistar KEP.
PERBEDAAN KADAR GLUKOSA PADA NASI YANG DISIMPAN DI MAGIC COM DAN DI SUHU RUANG Ishmah, Nuswatul; Anugrah, Riva Mustika; Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 12 No 27 (2020): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v12i27.62

Abstract

Background:Rice is processed from rice which is the staple food of the Indonesian people. Rice is a source of carbohydrates that can be broken down into small particles in the form of glucose.Factors that influence changes in rice glucose during storage are storage time and storage temperature. Objectives:Knowingthe difference glucose levels in rice that is stored at the magic com and at room temperature. Method: This study used a pre-experimental post only design. This study used 2 groups of rice namely rice stored at the magic com and at room temperature with 5 treatments using a time difference of 0 hours, 2 hours, 4 hours, 6 hours and 8 hours. The test material in this study is white rice IR 64 varieties as much as 100 grams in each sample used. Analysis of test data using kruskal-waillis with the continued the mann-whitney (α = 0.05). Result :The glucose level of rice stored at the magic com was highest, namely at a storage temperature of 95 ° C of 4.65%. While the glucose level of rice in glucose levels in rice was the lowest, namely at a storage temperature of 77.1 ° C of 1.73%. The glucoselevel of rice stored at the highest room temperature was at the temperature of rice storage at 95.6 ° C at 4.65%. While the lowest rice glucose level is at the temperature of rice storage 22.8 ° C at 1.73%. Based on the Kruskal-Waillis statistical test, the value of p = 0.310 means that there is no difference in glucose levels in the rice stored at the magic com and at room temperature. Conclusions :Based on the kruskal-waillis statistical test, the value of p = 0.310 means that there is no difference in glucose levels in the rice stored on the magic com and at room temperature. Abstrak : Latar Belakang : Nasi adalah olahan dari beras yang merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia. Beras merupakan sumber karbohidrat yang dapat diurai menjadi partikel-partikel kecil dalam bentuk glukosa. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan glukosa nasi selama penyimpanan yaitu waktu penyimpanan dan suhu penyimpanan. Tujuan : Mengetahui perbedaan kadar glukosa padanasi yang disimpan di magic com dan di suhu ruang. Metode : Penelitian ini menggunakan desain pra experimental postest only design. Penelitian ini menggunakan 2 kelompok nasi yaitu nasi yang disimpan di magic com dan di suhu ruang dengan 5 perlakuan menggunakan perbedaan waktu 0 jam, 2 jam, 4 jam , 6 jam dan 8 jam. Bahan uji pada penelitian ini yaitu beras putih varietas IR 64 sebanyak 100 gram pada setiap sampel yang digunakan. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Waillis dengan uji lanjut ujimann-whitney(α = 0,05). Hasil : Kadar glukosa nasi yang disimpan di magic com tertinggi yaitu pada suhu penyimpanan 95°C sebesar 4,65%. Sedangkan kadar glukosa nasi kadar glukosa pada nasi terendah yaitu pada suhu penyimpanan 77,1°Csebesar 1,73%. Kadar glukosa nasi yang disimpan di suhu ruang tertinggi yaitu pada suhu penyimpanan nasi sebesar 95,6°C sebesar 4,65%. Sedangkan kadar glukosa nasi terendah yaitu pada suhu penyimpanan nasi 22,8°C sebesar 1,73%. Berdasarkan uji statistik Kruskal-Waillis menunjukkan nilai p=0,310 artinya tidak ada perbedaan kadar glukosa pada nasi yang disimpan di magic com dan di suhu ruang. Simpulan : Berdasarkan uji statistik Kruskal-Waillis menunjukkan nilai p=0,310 artinya tidakadaperbedaankadarglukosapadanasi yang disimpan di magic comdan di suhuruang
EFEKTIFITAS PIJAT BAYI TERHADAP PENINGKATAN BERAT BADAN BAYI DI DESA CANDIREJO KECAMATAN UNGARAN KABUPATEN SEMARANG Hirawati Pranoto, Heni; Maryanto, Sugeng
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 2 No 4 (2010): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Massage is the oldest touch therapy that is already very well known and popular throughout the world including Indonesia, proven cheap, easy and commonplace. This massage therapy benefits include stimulatingthe function of the digestive system, increasing appetite so that it can increase weight gain. Based on interviews, it was found that most mothers massage babies in traditional birth attendants, but not routinely because they have to spend money, whereas in fact this can be done alone by the mother with a little explanation through video media and the practice of massage. This study was experimental design with a longitudinal approach. The population of this study were 35 mothers who had babies aged 1-3 months in Candirejo Village, Ungaran District, Semarang. and 30 samples were taken using purposive sampling method. Data collection was carried out in 2 sample groups then categorized, while for the baby's bodyweight is measured by weighing and then classified based on the card recorded of healthy (KMS). Univariate analysis was performed frequency distribution and bivariate analysis with Chi-square test (χ2), the study was significant if p <α (0.05). The results was obtained p value < α which is 0.030. From these data indicate that therewere a difference in the increase in body weight of babies given massage therapy compared with infants who are not given massage therapy. Massage therapy in infants is a supporting factor to achieve optimal growth and development. Baby massage therapy should be a habit for mothers to give to their babies Abtrak : Pijat adalah terapi sentuhan tertua yang sudah sangat terkenal dan populer di seluruh dunia termasuk Indonesia, terbukti murah, mudah dan biasa dilakukan. Terapi pijat ini manfaatnya antara lain : merangsang fungsi sistem pencernaan, menambah nafsu makan sehingga dapat meningkatkan kenaikan berat badan. Berdasarkan wawancara didapatkan sebagian besar ibu melakukan pijat bayi di dukun bayi tetapi tidak rutin karena harus mengeluarkan biaya, padahal sebenarnya hal tersebut dapat dilakukan sendiri oleh ibu dengan sedikit penjelasan melalui media video dan praktek pemijatan. Rancangan penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan pendekatan longitudinal. Populasi penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai bayi umur 1-3 bulan di Desa Candirejo, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang sebanyak 35 dan sampel yang diambil sebanyak 30 dengan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan pada 2 kelompok sampel kemudian dikategorikan, sedangkan untuk berat badan bayi diukur dengan menimbang kemudian diklasifikasikan berdasarkan KMS. Dilakukan perbandingan berat badan bayi antara kelompok I dan kelompok II. Analisis univariat dengan distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan uji Chi-square (χ 2 ), penelitian dinyatakan signifikan jika p < α (0,05). Hasil penelitian didapatkan p value < α yaitu 0,030. Dari data tersebut menunjukkan ada perbedaan peningkatan berat badan bayi yang diberi terapi pijat dengan bayi yang tidak diberi terapi pijat. Terapi pijat pada bayi merupakan faktor pendukung untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal. Pemberian terapi pijat bayi sudah selayaknya merupakan kebiasaan bagi ibu yang memiliki bayi.
KAITAN ANTARA PENGETAHUAN IBU TENTANG MP-ASI DENGAN KEJADIAN GIZI BURUK PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GETASAN KABUPATEN SEMARANG Maryanto, Sugeng; Windayanti, Hapsari
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 2 No 3 (2010): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The knowledge of nutrition is very important to fulfil sufficient nutrition required which is suitable for the age. Over 6 (six) months babies, their nutritional need do not enough just from breast milk (ASI), therefore, have to be added with Supporting Food-Breast Milk (Makanan Pendamping ASI, MP-ASI), since their demand of food increase related to the increase of age. The later provide MP-ASI, the lower nutritional baby status. In contrast, the earlier of providing MP-ASI will reduce the breast milk consumption that will impacted on their digestion system. This condition will induce severe nutrition whenever the condition does not handle properly. The aims of this research was to determine the relationship between mother’s knowledge of MPASI with the severe nutritional cases. This research is conducted in Public Health of Getasan Semarang District from April – September 2008 used Correlative Descriptive Research design with cross sectional approach. Quistionaires had been used to know the knowledge of mothers on the baby nutrition. The nutritional status of baby had been assessed based on the baby weight which will compare with WHO-NCHS. There are 100 respondens which were determined based on purpossive sampling. Chi-square analysis was used to analyse of data. Most mothers (65%) in Getasan have good knowledge, their nutritional status were good (76%), their were 8% babies in Getasan have severe nutrition.. Conclusion: There was relationship between mother’s knowledge on MP-ASI with the occurement severe nutrition in Getasan. Abtrak : Pengetahuan tentang gizi dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan gizi yang sesuai dengan tingkatan usia. Sesudah usia 6 (enam) bulan kebutuhan gizi ini tidak cukup dari ASI saja tetapi perlu diberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) karena semakin bertambahnya usia, kebutuhan gizi anak semakin meningkat. Keterlambatan waktu pemberian MP-ASI juga mempengaruhi status gizi balita dan sebaliknya jika terlalu dini dalam pemberian MP-ASI akan menurunkan konsumsi ASI dan bayi mengalami gangguan pencernaan. Keadaan ini akan berlanjut jika kondisi ini tidak tertangani dengan baik, bahkan kemungkinan akan mengalami gizi buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kaitan antara pengetahuan ibu tentang MP ASI dengan kejadian gizi buruk. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Getasan Kabupaten Semarang pada bulan April – September 2008 menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Kuisioner digunakan untuk mengukur pengetahuan ibu therhadap gizi bayi.Penilaian status gizi balita berdasarkan BB (berat badan) balita yang akan disesuaikan dengan tabel baku rujukan penilaian status gizi anak perempuan dan laki-laki usia 0 – 59 bulan menurut BB/U, rujukan WHO-NCHS. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai bayi dan tinggal di wilayah kerja Puskesmas Getasan Kabupaten Semarang. Sampel ditentukan secara purpossive sampling dengan responden berjumlah 100. Uji Chi-square digunakan untuk analisis data. Sebagian besar (65%) ibu di wilayah kerja Puskesmas Getasan memiliki pengetahuan tentang MP ASI baik, status gizinya sebagian besar baik (76%), ada 8% balita menderita gizi buruk. Ada kaitan antara tingkat pengetahuan ibu tentang MP ASI dengan kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Getasan Kabupaten Semarang tahun 2008.
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN SERAT DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TLOGOWUNGU KABUPATEN PATI Maryanto, Sugeng; Purnasari, Mitha
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 3 No 5 (2011): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus is one of degenerative disease that will increase the incidence in the future. Changes in food consumption pattern of low fiber, high energy and simple carbohidrates will affect the prevalence of type II diabetes mellitus. Consumption of high fiber on diabetic patients may help to control blood glucose levels. The purpose of this study to find out the correlation between fiber intake with blood glucose levels on type II diabetic patients at Tlogowungu health centers Pati regency. This study used a descriptive correlative design with the cross sectional research. Total samples of study were 35 people, collected by using total population. Fiber intake data was obtained by using 24 hours food recall form and fasting plasma glucose levels were measured by enzymatic method (glucose oxidase). Analysis of data used Kendall’s Tau correlation test. Statistical test results show a significant correlation between fiber intake with blood glucose levels on type II diabetic patients at Tlogowungu health centers Pati regency, shown with significant values p=0,000 < 0,005. Based on the results of the study, patients with diabetic are advised to always consume foods that contain high fiber. Abtsrak : Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit degeneratif yang akan meningkat insidennya di masa mendatang. Perubahan pola konsumsi makanan yang rendah serat, tinggi energi dan karbohidrat sederhana akan mempengaruhi prevalensi DM tipe II. Konsumsi tinggi serat pada penderita diabetes dapat membantu mengendalikan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan serat dengan kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus tipe II di wilayah kerja Puskesmas Tlogowungu Kabupaten Pati. Desain penelitian ini adalah deskriptif kolerasi dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel 35 orang, yang diambil dengan teknik total populasi. Data asupan serat diperoleh dengan metode formulir food recall 24 jam dan kadar glukosa darah puasa diukur dengan metode enzimatik (glukosa oksidase). Analisis data yang digunakan adalah uji kolerasi Kendall’s Tau. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara asupan serat dengan kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus tipe II di wilayah kerja Puskesmas Tlogowungu Kabupaten Pati, yang ditunjukkan dengan nilai kemaknaan p=.0,000 < 0,05. Berdasarkan hasil penelitian bagi pasien diabetes mellitus disarankan untuk selalu mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi serat
HUBUNGAN KEBIASAAN MAKAN TELUR AYAM DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DUSUN LEYANGAN KRAJAN DESA LEYANGAN KECAMATAN UNGARAN TIMUR Maryanto, Sugeng; Krido Utami, H. Haryanti
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 3 No 6 (2011): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Egg is one of the most perfect foods that contains complete nutrient for human growth, especially for toddler. The objective of this study is to know the correlation between the habit of egg consumption, energy sufficiency and protein sufficiency with nutritional status of toddlers in Leyangan Krajan, Leyangan village, East Ungaran district. This study used descriptive-correlation research with cross sectional approach. The population of the study was all of toddlers in Leyangan Krajan as many as 134 toddlers. The sampling technique used cluster sampling, 34 toddlers were taken as the sample. The data was taken by using recall method for 3x24 hours to know energy and protein sufficiency and frequency of egg consumption in a week. The data was analyzed by Kendall tau (Ï„) test. The results show there is a positive significant correlation between egg consumption habit (p= 0,0001, Ï„ = 0,592), energy sufficiency (p= 0,004, Ï„ = 0,471), protein sufficiency (p= 0,001, Ï„ = 0,569) with nutritional status of toddlers. Results of this study show there is a positive correlation between the habit of egg consumption, energy and protein sufficiency with nutritional status of toddlers. It is suggested to increase egg consumption in order to develop nutritional status and to consume various foods in order to fulfill adequate energy and protein. Abtrak : Telur ayam merupakan salah satu bahan makanan yang sempurna karena banyak mengandung zat gizi lengkap bagi pertumbuhan mahkluk hidup terutama balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan makan telur ayam, kecukupan energi dan protein dengan status gizi balita di Dusun Leyangan Krajan Desa Leyangan Kecamatan Ungaran Timur. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah 134 balita. Sampel yang di ambil sebanyak 34 balita dengan teknik pengambilan cluster sampling. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dengan menggunakan metode recall 3x24 jam untuk mengetahui kecukupan energi dan protein, dan frekuensi kebiasaan makan telur ayam dalam seminggu. Teknik analisa data yang digunakan adalah uji Kendall Tau (Ï„). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi positif yang bermakna antara kebiasaan makan telur ayam (p = 0,0001, Ï„ = 0,592), antara kecukupan energi (p = 0,004, Ï„ = 0,471), antara kecukupan protein (p = 0,001, Ï„ = 0,569) dengan status gizi balita. Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan, ada hubungan kebiasaan makan telur ayam, kecukupan energi dan protein dengan status gizi balita. Berdasarkan hasil penelitian saran yang di anjurkan adalah meningkatkan konsumsi telur untuk meningkatkan status gizi menjadi baik dan lebih dianjurkan makan aneka ragam makanan sehingga kecukupan energi dan protein dapat terpenuhi.

Page 6 of 28 | Total Record : 280


Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 18 No. 1 (2026): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol. 17 No. 2 (2025): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol. 17 No. 1 (2025): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol. 16 No. 2 (2024): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol. 16 No. 1 (2024): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol. 15 No. 2 (2023): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol. 15 No. 1 (2023): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 14 No 2 (2022): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 13 No 2 (2021): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 13 No 1 (2021): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 12 No 27 (2020): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 12 No 1 (2020): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 11 No 26 (2019): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 11 No 25 (2019): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 24 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 23 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 9 No 22 (2017): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 9 No 21 (2017): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 8 No 20 (2016): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 8 No 19 (2016): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 8 No 18 (2016): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 8 No 17 (2016): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 7 No 15 (2015): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN0 Vol 7 No 16 (2015): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 7 No 15 (2015): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 7 No 14 (2015): JURAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 7 No 13 (2015): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 6 No 11 (2014): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 5 No 10 (2013): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 5 No 9 (2013): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 4 No 8 (2012): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 4 No 7 (2012): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 3 No 6 (2011): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 3 No 5 (2011): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 2 No 4 (2010): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 2 No 3 (2010): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN More Issue