cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 351 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 1 (2026)" : 351 Documents clear
Motivasi Pengendalian Tekanan Darah dan Kualitas Hidup Pasien Hipertensi di Poli Rawat Jalan RS Harapan Bunda Batam Arie Vonikartika; Thomson Parluhutan Nadapdap; Yolanda Eliza Putri Lubis
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54250

Abstract

Hipertensi merupakan tantangan kesehatan global yang serius dan sering kali tidak menunjukkan gejala hingga terjadi komplikasi berat. Pengendalian penyakit kronis ini sangat bergantung pada faktor internal pasien, terutama motivasi dalam menjalankan perawatan mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara motivasi pengendalian tekanan darah dengan kualitas hidup pasien hipertensi di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Harapan Bunda Batam. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional terhadap 230 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner TSRQ untuk mengukur motivasi dan WHOQOL-BREF untuk kualitas hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki motivasi tinggi (94,4%) dan kualitas hidup yang baik (96,5%). Uji statistik Spearman Rank menghasilkan nilai p = 0,000 dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,337. Hal ini membuktikan adanya hubungan yang signifikan dengan arah positif namun berkekuatan lemah antara motivasi pengendalian tekanan darah dengan kualitas hidup. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin tinggi motivasi pasien dalam mengontrol tekanan darah, maka semakin baik pula kualitas hidup yang mereka rasakan. Tenaga kesehatan diharapkan dapat terus memperkuat aspek psikososial pasien guna menjaga stabilitas motivasi tersebut.
Pengaruh Efek Ekstrak Kayu Bajakah Merah (Sphatolobus littoralis) Terhadap Kadar Protein mTOR pada Sel Kanker Payudara MCF-7 Ratu Salia Siskowati; Harliansyah Harliansyah; Nunung Ainur Rahmah; Ahmad Randy; Pendrianto Pendrianto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54258

Abstract

Abstrak Salah satu penyakit yang paling umum terjadi pada wanita adalah kanker payudara, yang terkait dengan pembelahan sel yang tidak terkendali melalui jalur sinyal mTORC. Studi ini bertujuan untuk menentukan bagaimana ekstrak Kayu Bajakah Merah (Spatholobus littoralis) mempengaruhi ekspresi protein mTORC secara in vitro pada sel kanker payudara MCF-7. Penelitian menggunakan desain true experimental dengan post-test only control group, melibatkan enam kelompok perlakuan, termasuk kontrol negatif, kontrol positif (Tamoxifen), dan perlakuan ekstrak Bajakah Merah pada konsentrasi IC₅ 72 jam. Sel dikultur, diolah, dan viabilitas sel diukur menggunakan CCK-8 untuk menentukan IC₅, sedangkan kadar protein mTORC dianalisis menggunakan ELISA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Bajakah Merah menurunkan viabilitas sel secara dosis- dan waktu-dependen, dengan IC₅ terendah pada inkubasi 72 jam. Kadar mTORC meningkat signifikan pada kelompok perlakuan ekstrak dibanding kontrol negatif, menunjukkan pengaruh ekstrak terhadap jalur pensinyalan mTORC. Meskipun efek sitotoksik masih lebih rendah dibanding Tamoxifen, ekstrak kayu Bajakah Merah memiliki potensi sebagai agen kemopreventif berbasis bahan alam.. Kata Kunci: kanker payudara, MCF-7, ekstrak kayu Bajakah Merah, mTORC, sitotoksik, kemoprevensi. Abstract One of the most prevalent diseases in women is breast cancer, which is linked to unchecked cell division via the mTORC signaling pathway. This study sought to determine how Red Bajakah Wood (Spatholobus littoralis) extract affected the in vitro expression of the mTORC protein in MCF-7 breast cancer cells. A true experimental design with post-test only control group was employed, including six treatment groups: negative control, positive control (Tamoxifen), and Red Bajakah Wood extract at IC₅₀ 72-hour concentration. Cells were cultured, treated, and viability assessed using CCK-8 to determine IC₅₀, while mTORC protein levels were measured via ELISA. Results showed that Red Bajakah Wood extract reduced cell viability in a dose- and time-dependent manner, with the lowest IC₅₀ at 72 hours incubation. mTORC levels increased significantly in extract-treated cells compared to negative control, indicating the extract’s effect on the mTORC signaling pathway. Although its cytotoxicity was lower than Tamoxifen, Red Bajakah Wood extract demonstrated potential as a natural-based chemopreventive agent.. Keywords: breast cancer, MCF-7, Red Bajakah Wood extract, mTORC, cytotoxicity, chemoprevention.
Uji Efektivitas Ekstrak Bawang Merah (Allium Cepa Var. Aggregatum) Terhadap Zona Hambat Pertumbuhan Bakteri Enterococcus Faecalis Wilvia Wilvia; Fitri Dona Siregar; Jessica Angelie; Angelica Valerine
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54270

Abstract

Kegagalan perawatan saluran akar sering berkaitan dengan infeksi persisten Enterococcus faecalis yang resisten terhadap berbagai agen antimikroba. Bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai agen antibakteri alami, sehingga penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas ekstraknya terhadap pertumbuhan E. faecalis melalui pengukuran zona hambat. Penelitian eksperimental ini menggunakan desain post test control group dengan empat kelompok sampel, yaitu kontrol positif (NaOCl 2,5%), kontrol negatif (DMSO), serta ekstrak bawang merah konsentrasi 60% dan 80%, masing-masing dengan tujuh pengulangan. Uji antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram pada media MHA, dan data dianalisis menggunakan uji Shapiro–Wilk, Levene, Kruskal–Wallis, serta Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan zona hambat rata-rata kontrol positif (NaOCl 2,5%) sebesar 15,20±3,034 mm, kontrol negatif (DMSO) sebesar 0±0 mm, ekstrak bawang merah 80% sebesar 12,44±1,869 mm, dan ekstrak bawang merah 60% sebesar 8,78±0,919 mm. Uji Kruskal-Wallis memperlihatkan perbedaan yang signifikan pada seluruh kelompok perlakuan (p<0,05). Uji Mann–Whitney menunjukkan perbedaan signifikan diameter zona hambat antara ekstrak bawang merah konsentrasi 80% dan 60% dibandingkan kontrol negatif (DMSO). Ekstrak bawang merah konsentrasi 80% memiliki efektivitas antibakteri yang tidak berbeda signifikan dengan kontrol positif, sedangkan konsentrasi 60% dan DMSO berbeda signifikan dengan kontrol positif. Selain itu, terdapat perbedaan signifikan antara konsentrasi ekstrak bawang merah 80% dan 60%, dengan daya hambat lebih besar pada konsentrasi 80% terhadap E. faecalis.
Pengaruh Ekstrak Kayu Bajakah Merah (Sphatolobus Littoralis) terhadap Kadar Protein Pro-Apoptosis P53 pada Sel MCF-7 Raka Auriza Fathaya; Harliansyah Harliansyah; Ahmad Randy; Pendrianto Pendrianto; Nunung Ainur Rahmah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54282

Abstract

Abstrak Kanker payudara merupakan jenis kanker dengan angka kejadian dan kematian tertinggi pada wanita di dunia. Salah satu model sel kanker payudara yang banyak digunakan dalam penelitian adalah sel MCF-7 yang bersifat sensitif terhadap estrogen. Protein p53 berperan penting sebagai supresor tumor melalui pengaturan siklus sel dan induksi apoptosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kayu bajakah merah (Spatholobus littoralis) terhadap kadar protein pro-apoptosis p53 pada sel kanker payudara MCF-7. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan true-experimental pretest–posttest control group design. Sel MCF-7 dibagi menjadi empat kelompok, yaitu blanko, kontrol negatif, kontrol positif (tamoxifen 4,81 ppm), dan kelompok perlakuan ekstrak kayu bajakah merah dengan konsentrasi IC₅₀ sebesar 116,4 ppm. Sel diinkubasi selama 72 jam pada suhu 37°C dengan 5% CO₂. Kadar protein p53 diukur menggunakan metode ELISA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kayu bajakah merah meningkatkan kadar protein p53 secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol, meskipun masih lebih rendah dibandingkan tamoxifen. Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak kayu bajakah merah berpotensi sebagai agen antikanker melalui aktivasi jalur p53 dan sejalan dengan prinsip pengobatan herbal dalam Islam. Kata Kunci: kanker payudara, sel MCF-7, kayu bajakah merah, p53, apoptosis Abstrak Breast cancer is the most common cancer and a leading cause of cancer-related mortality among women worldwide. The MCF-7 cell line is widely used as a model of estrogen receptor–positive breast cancer. The tumor suppressor protein p53 plays a crucial role in cell cycle regulation and apoptosis induction. This study aimed to evaluate the effect of red Bajakah wood (Spatholobus littoralis) extract on pro-apoptotic p53 protein levels in MCF-7 breast cancer cells. This experimental study employed a true-experimental pretest–posttest control group design. MCF-7 cells were divided into four groups: blank, negative control, positive control (tamoxifen 4.81 ppm), and treatment group receiving red Bajakah extract at the IC₅₀ concentration of 116.4 ppm. Cells were incubated for 72 hours at 37°C with 5% CO₂. p53 protein levels were measured using an ELISA method. The results demonstrated that red Bajakah extract significantly increased p53 protein levels compared to the control group, although the levels remained lower than those induced by tamoxifen. These findings suggest that red Bajakah wood extract has potential anticancer activity through p53 pathway activation and supports its use as a herbal therapeutic agent consistent with Islamic medical principles. Keywords: breast cancer, MCF-7 cells, red Bajakah wood, p53, apoptosis.
Self-Care Experience of Glaucoma Patients With Complications: A Phenomenological Study of Patients At Smec Manado Eye Clinic Amelia Olii; Eko Winarto; Ns. Sonhaji
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54284

Abstract

Glaucoma with complications is the second leading cause of blindness worldwide, with an estimated 60.5 million sufferers in 2010 increasing to 79.6 million in 2020, 47% of whom are in Asia, mainly due to Primary Angle-Closure Glaucoma (PACG). In Indonesia, the prevalence is around 4-5 per 1,000 population, with a significant increase in hospital visits from 65,774 in 2021 to 427,091 in 2022, indicating a lack of early awareness of this disease that can lead to permanent blindness, where early diagnosis and early treatment are crucial (Indonesia, 2023). This study aims to explore and understand the self-care experiences of patients with glaucoma complications using the Orem approach. This study uses a qualitative interpretative phenomenological method to explore the subjective experiences of glaucoma with complications patients at the SMEC Eye Clinic. A combination of bracketing and purposive sampling, involving only those who agreed to be interviewed and met the selected inclusion criteria, resulted in a sample of twenty participants (14 glaucoma with complications patients, 5 families, and 1 physician). Braun & Clarke thematic analysis was used to identify themes critical to a holistic understanding of self-care from the perspective of glaucoma patients. Results indicate that glaucoma with complications patients demonstrate a strong understanding of self-care but face significant external barriers. Limited local facilities force them to travel to other cities, leading to financial and psychological stressors such as depression and disappointment. Post-operative symptoms such as eye pain, a gritty feeling, blurred vision, and sensitivity to light also persist. However, they use positive coping mechanisms, such as managing emotions and praying, to overcome these challenges. In conclusion, the lived experience of glaucoma with complications patients is a complex struggle involving strong personal commitments, profound psychological challenges, and external systemic barriers that require comprehensive support from families and a more accessible healthcare system. Keywords: complications; glaucoma with complications patients; self care experience
Approach Pattern to The Effectiveness of Local Government Policies In Reducing The Prevalence of Stunting in Central Mamberamo District Based on The Theory of Betty Neuman Study Phenomenology Saria Dewi Sartika Hutagao; Blacius Dedi; M. Jamaluddin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54287

Abstract

Poverty in Central Mamberamo Regency is exacerbated by the low daily malnutrition rate (PoU) per capita, which is only 26.1% of the AKG in 2023. This region is of particular concern because it contributed 35.42% of the highest stunting prevalence among 28 other regions in Papua in the same year. The Neuman System Model encourages the role of nurses in maintaining the stability of the client system (individual, family, group, or community) through primary, secondary, and tertiary interventions. This study aims to explore the pattern of approaches to the effectiveness of local government policies and the supporting factors and obstacles to the success of programs in reducing stunting rates in Central Mamberamo Regency based on Betty Neuman's theory. This study used a qualitative approach with a case study or applied phenomenology method, focusing on an in-depth understanding of the experiences and perspectives of various stakeholders (pregnant women, postpartum women, mothers with stunted toddlers, nurses, and heads of agencies) selected through a combination of purposive sampling and snowball sampling methods at the Kobakma Community Health Center in Central Mamberamo from June to July 2025, with sample size determined based on data saturation. The results showed that the success of the ANC program in Central Mamberamo was evident in the increase in pregnant women's weight and normal births. This is supported by Betty Neuman's theoretical approach with structured interventions (education, supplements) to prevent stunting, along with cross-sector collaboration. However, this is hampered by a shortage of professional health human resources. Government strategies, which include nutrition education, iron supplementation, and nutritional rehabilitation for stunted toddlers, have shown effectiveness in improving maternal and infant health, although human resource challenges need to be addressed urgently. This study highlights the program's success in improving ANC adherence among pregnant women and healthy birth outcomes, with cross-sector collaboration as a key contributing factor. However, inadequate human resources (HR) for health professionals was identified as an urgent inhibiting factor that needs to be addressed. Keywords: Betty neuman's theory; Policy effectiveness; Central mamberamo; Prevalence of stunting
Faktor Risiko Kehamilan Risiko Tinggi Pada Ibu Hamil Trimester III di Wilayah Kerja Puskesmas Labuapi Tahun 2025 Indriyani Makmun; Ana Pujianti Harahap; Nining Fatria Ningsih; Eli Arsanah4
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54293

Abstract

Latar Belakang Kehamilan berisiko tinggi merupakan kondisi serius yang dapat mengakibatkan infeksi, eklampsia, dan perdarahan, yang dapat menyebabkan kematian ibu. Ibu hamil dapat mengurangi dan mengelola faktor risikonya dengan mendapatkan layanan perawatan kehamilan yang memadai dan sesuai. Beberapa faktor risiko yang muncul secara bersamaan dapat menyebabkan kehamilan ibu berisiko tinggi (Azwar, 2020). Tanda bahaya kehamilan menunjukkan bahwa ibu hamil atau janin yang dikandungnya memiliki masalah serius.) Tujuan Penelitian yaitu untuk mengetahui apa saja faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya kehamilan risiko tinggi pada ibu hamil trimester III di Puskesmas Tahun 2025. Metode penelitian yang dilakukan menggunakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Studi ini mengkaji usia kehamilan, pengetahuan, paritas, dan riwayat medis sebelumnya dalam kaitannya dengan kejadian kehamilan berisiko tinggi. Subjek penelitian adalah 30 ibu hamil yang memiliki kehamilan berisiko tinggi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling. Hasil Penelitian menunjukan bahwa faktor usia (p=0,026), pengetahuan (p=0,039), dan riwayat penyakit (p=0,032) berhubungan dengan kehamilan risiko tinggi, sedangkan paritas tidak berhubungan (p=0,178), sedangkan faktor paritas tidak memiliki hubungan dengan kejadian risiko tinggi dengan nilai p=0,178>0,05.
Gambaran Kejadian Tinea Pedis dan Karakteristik Buruh Tani Perkebunan Karet di Desa Sibulele, Kecamatan Batang Angkola Nurhaidah Fitri Rambe; Munauwarus Sarirah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54299

Abstract

Penyakit kulit akibat kerja merupakan masalah kesehatan yang kerap ditemukan pada pekerja sektor pertanian dan perkebunan, khususnya infeksi fungal seperti tinea pedis. Buruh tani karet memiliki risiko tinggi mengalami kondisi ini akibat paparan kondisi kerja yang basah, lembap serta perilaku kebersihan kaki yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan menyajikan gambaran kejadian tinea pedis, karakteristik responden, perilaku higiene kerja, dan faktor komorbid pada buruh tani karet di Desa Sibulele, Kecamatan Batang Angkola. Penelitian dengan desain deskriptif potong lintang ini melibatkan 66 buruh tani karet sebagai responden. Kejadian tinea pedis ditetapkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan kerokan kulit menggunakan larutan KOH. Data karakteristik, perilaku higiene kerja, dan komorbid dikumpulkan melalui wawancara langsung kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi tinea pedis tergolong tinggi (77,3%). Mayoritas responden memiliki masa kerja ≥10 tahun dan terpapar kondisi kerja yang basah serta lembap. Perilaku higiene kaki masih belum optimal, terutama pada aspek pengeringan kaki dan pengelolaan kelembapan saat bekerja. Meskipun sebagian responden memiliki komorbid diabetes mellitus, tingginya kejadian tinea pedis juga ditemukan pada buruh tani tanpa komorbid. Temuan ini menegaskan pentingnya upaya promotif dan preventif kesehatan kerja yang berfokus pada perbaikan perilaku higiene kaki dan kondisi kerja di lingkungan perkebunan.
Pengaruh Baby Gym terhadap Perkembangan Motorik Bayi Usia 6–9 Bulan dengan Pelaksanaan yang Aman dan Higienis di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Kota Padang Febrina Febrina; Waldatul Hamidah; Iis Niawati; Riska Pitriyani; Merri Syafrina
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54337

Abstract

Perkembangan motorik bayi pada usia 6–9 bulan merupakan tahap penting yang dipengaruhi oleh stimulasi dini yang tepat. Salah satu bentuk stimulasi yang dapat diberikan adalah baby gym, yang perlu dilaksanakan secara aman dan higienis untuk mencegah risiko pada bayi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh baby gym terhadap perkembangan motorik bayi usia 6–9 bulan dengan pelaksanaan yang aman dan higienis di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan pendekatan pretest–posttest with control group. Sampel penelitian terdiri dari 40 bayi usia 6–9 bulan yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kelompok intervensi mendapatkan baby gym selama empat minggu, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan pelayanan rutin. Perkembangan motorik bayi diukur menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), sementara pelaksanaan yang aman dan higienis dinilai menggunakan checklist observasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji paired t-test, independent t-test, dan korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan skor perkembangan motorik yang signifikan pada kelompok intervensi setelah pemberian baby gym (p < 0,001), sedangkan pada kelompok kontrol tidak ditemukan perubahan yang bermakna (p > 0,05). Perubahan skor motorik pada kelompok intervensi secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,001). Selain itu, terdapat hubungan positif yang kuat antara kepatuhan pelaksanaan baby gym yang aman dan higienis dengan peningkatan perkembangan motorik bayi (r = 0,62; p = 0,004). Selama pelaksanaan intervensi, tidak ditemukan kejadian risiko berat pada bayi. Dapat disimpulkan bahwa baby gym yang dilaksanakan secara aman dan higienis berpengaruh signifikan terhadap peningkatan perkembangan motorik bayi usia 6–9 bulan dan relatif aman untuk diterapkan di pelayanan kesehatan primer.
Intervensi Kesehatan Digital untuk Meningkatkan Pemberdayaan Perempuan dalam Pelayanan Antenatal: Scoping Review Nina Surya Fitri Yanti; Evi Kristina; Siska Desta Roza; Novvi Karlina; Setia Nisa; Welly Handayani; Resi Citra M; Yohana Suganda
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54342

Abstract

Pendahuluan: Pemberdayaan perempuan selama kehamilan merupakan bagian penting dari pelayanan antenatal yang berorientasi pada woman-centered care, namun berbagai hambatan seperti keterbatasan akses informasi, literasi kesehatan yang rendah, serta ketimpangan digital masih mengurangi kapasitas perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan kesehatan. Seiring meningkatnya penggunaan intervensi kesehatan digital seperti mobile health, telekonsultasi, dan edukasi berbasis SMS, diperlukan pemetaan bukti ilmiah yang dapat menjelaskan sejauh mana teknologi ini berkontribusi terhadap pemberdayaan perempuan dalam pelayanan antenatal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan memetakan bentuk, jenis, dan efektivitas intervensi kesehatan digital dalam meningkatkan pemberdayaan perempuan selama kehamilan. Metode: Scoping review ini menggunakan pedoman PRISMA-ScR dengan pendekatan Population Concept Context (PCC). Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, Scopus, ScienceDirect, DOAJ, dan Google Scholar dengan publikasi antara tahun 2020–2025, dilanjutkan dengan seleksi judul, abstrak, dan telaah teks penuh. Hasil: Ditemukan bahwa ada sekitar 880 artikel dalam jurnal penelitian yang berkaitan dengan tema tersebut. sebanyak 12 studi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil review menunjukkan bahwa intervensi digital terutama aplikasi mHealth, SMS edukatif, dan layanan telekonsultasi secara konsisten meningkatkan pemberdayaan perempuan melalui peningkatan literasi kesehatan maternal, penguatan otonomi pengambilan keputusan, dan peningkatan keterlibatan digital dalam pelayanan antenatal. Kesimpulan: Integrasi intervensi kesehatan digital ke dalam pelayanan antenatal berpotensi memperkuat pemberdayaan perempuan dan mendukung kualitas layanan maternal yang lebih responsif dan berpusat pada perempuan