cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 205 Documents
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL PENCEGAHAN RISIKO JATUH Aprisunadi, Aprisunadi; Bernanda, Thessalonika; Ifadah, Erlin; Kalsum, Umi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i2.448

Abstract

Kejadian pasien jatuh di rumah sakit mengakibatkan  cidera seperti fraktur, subdural hematoma atau perdarahan yang dapat menyebabkan kematian. Penilaian risiko jatuh harus dilakukan untuk menghindari kejadian tersebut. Tujuan: mengetahui hubungan pengetahuan perawat tentangStandar Prosedur Operasional (SPO) pencegahan risiko jatuh dengan kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SPO pencegahan risiko jatuh di ruang Intensve Care Unit (ICU) RS. Bhayangkara Tk. 1 Raden Said Sukanto Jakarta. Metode: Desain penelitian menggunakan penelitian descriptive analytic dengan pendekatan cross sectional.  Pengambilan data dilakukan pada bulan Januari 2022.  Instrumen menggunakan SPO risiko jatuh dan kuesioner kepatuhan perawat dalam pelaksanaan risiko jatuh.  Data dianalisis dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil: responden berusia 25-35 tahun sebanyak 39 responden (60%) dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 44 responden (67,7%) dan lama bekerja  1-5 tahun sebanyak 47responden (72,3%), pengetahuan perawat tentang SPO baik sebanyak 35 responden (53,8%) dan kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SPO patuh sebanyak 40 responden (61,5%). Ada  hubungan antara pengetahuan perawat tentang SPO pencegahan risiko jatuh dengan kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SPO pencegahan risiko jatuh dengan nilai p 0,011. Diskusi: Hasil penelitian membuktikan pentingnya kepatuhan perawat menggunakan SPO sebagai dasar dalam melakukan tahap-tahap pencegahan risiko jatuh.  Selain mengutamakan keselamatan pasien, kepatuhan perawat juga secara tidak langsung melindungi perawat sendiri dari masalah kode etik keperawatan. Kesimpulan: SPO pencegahan risiko jatuh wajib dipatuhi oleh perawat sebagai upaya untuk keselamatan pasien dan keamanan perawat dalam melakukan tindakan keperawatan.Kata Kunci : Kepatuhan, pengetahuan,  perawat,  risiko  jatuh Correlation Between Knowledge and Nurse Compliance in Implementing the Standard Operating Procedure for Fall Risk Prevention ABSTRACTPatient falls in hospitals can result in injuries such as fractures, subdural hematoma, or bleeding that can lead to death. Fall risk assessment must be carried out to prevent such incidents. Objective: To identify the correlation between nurses' knowledge of the Standard Operating Procedure (SOP) for fall risk prevention and their compliance in implementing the SOP for fall risk prevention in the Intensive Care Unit (ICU) of Raden Said Sukanto Police Hospital Jakarta. Methods: The research employed descriptive-analytic research with a cross-sectional approach. Data were collected in January 2022. The instruments included the fall risk SOP and a questionnaire on nurse compliance in implementing fall risk prevention. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis. Results:  A total of 39 respondents (60%) were aged 25-35 years, 44 respondents (67.7%) were female, 47 respondents (72.3%) had 1-5 years of work experience, 35 respondents (53.8%) hadknowledge of the SOP for fall prevention, and 40 respondents (61.5%) was compliant in implementing the SOP. There was a correlation between nurses' knowledge of the SOP for fall risk prevention and nurse compliance in implementing the SOP for fall risk prevention, with a p-value of 0.011. Discussion: The research results demonstrate the importance of nurse compliance in using the SOP as a basis for implementing fall risk prevention steps. In addition to prioritizing patient safety, nurse compliance indirectly protects nurses themselves from nursing ethical issues. Conclusion: Compliance with the SOP for fall risk prevention is mandatory for nurses to ensure patient and nurse safety in performing nursing actions.Keywords: Compliance, fall risk, knowledge, nurse
HUBUNGAN ANTARA RESILIENSI DENGAN STRES PENGASUHAN PADA IBU YANG BEKERJA SELAMA PANDEMI COVID-19 Asy-Syifa, Farhani Dea; Mustikasari, Mustikasari
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i2.472

Abstract

ABSTRAKPerempuan yang menjadi ibu sekaligus pekerja merupakan salah satu subjek yang paling terdampak dari perubahan aktivitas kerja selama pandemi Coronavirus Disease-19 (Covid-19).  Kemampuan resiliensi berperan penting untuk menghadapi situasi sulit sehingga resiliensi menjadi salah satu faktor individu ibu bekerja untuk tidak mengalami dampak psikologis berkelanjutan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara resiliensi dan stres pengasuhan pada ibu yang bekerja selama pandemi Covid-19. Metode: Desain penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian melibatkan 296 responden dengan kriteria ibu bekerja selama pandemi Covid-19, memiliki anak usia 0–12 tahun, tinggal di Jakarta Timur. Jenis non-probability sampling yang digunakan ialah convenience/accidental sampling. Kuesioner yang digunakan ialah The 14-item Resilience Scale dan Parenting Stress Index-Short Form. Analisa data yang digunakan analisis univariat dengan tampilan data tendensi sentral (data numerik), frekuensi persen (data kategorik), dan analisis bivariat dengan uji chi square. Hasil: Hasil penelitian didapatkan lebih dari separuh ibu bekerja memiliki tingkat resiliensi tinggi (53,7%) dan tingkat stres pengasuhan (66,5%); terdapat hubungan antara resiliensi dan stres pengasuhan (p value = 0,001). Diskusi: Meningkatnya resiliensi pada ibu yang bekerja selama pandemi Covid-19 tidak menyebabkan stres pengasuhan.  Kesimpulan: Resiliensi yang tinggi perlu dipertahankan, salah satu upayanya dengan promosi kesehatan mental agar dapat menurunkan kondisi stres yang dialami ibu bekerja.Kata Kunci: Covid-19, ibu bekerja, resiliensi, stres pengasuhan Correlation Between Resilience and Parenting Stress in Working Mothers During the COVID-19 Pandemic ABSTRACTWomen who are both mothers and working professionals are among the most affected individuals by changes in work activities during the Coronavirus disease-19 (COVID-19) pandemic. Resilience plays a crucial role in coping with challenging situations, making it one of the individual factors that working mothers rely on to avoid sustained psychological impacts. Objective: This research aims to identify the correlation between resilience and parenting stress in working mothers during the COVID-19 pandemic. Methods: This research employed a quantitative research design with a cross-sectional research design. It involved 296 respondents who met the criteria of being working mothers during the COVID-19 pandemic, having children aged 0-12 years, and residing in East Jakarta. Convenience/accidental sampling was used as the non-probability sampling method. The instruments used were the 14-item Resilience Scale and Parenting Stress Index-Short Form. Data analysis included univariate analysis with central tendency data display (numerical data), percentage frequency (categorical data), and bivariate analysis using chi-square tests. Results: The research findings showed that more than half of the working mothers had high levels of resilience (53.7%) and parenting stress (66.5%). There was a significant correlation between resilience and parenting stress (p-value = 0.001). Discussion: Increased resilience in working mothers during the COVID-19 pandemic did not lead to parenting stress. Conclusion: High resilience needs to be maintained, and one way to achieve this is through mental health promotion to reduce the stress experienced by working mothers.Keywords: COVID-19, Parenting Stress, Resilience, Working Mothers
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN TINGKAT KEPUASAN PERUBAHAN PROSES PEMBELAJARAN SECARA DARING PADA MAHASISWA DI MASA COVID-19 Syahira, Apridina; Mustikasari, Mustikasari
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i2.469

Abstract

ABSTRAKPandemi Coronavirus Disease-19 (Covid-19) yang terjadi saat ini menimbulkan berbagai macam dampak bagi masyarakat. Pada bidang pendidikan, dampak yang ditimbulkan adalah adanya perubahan pada proses pembelajaran yang dilakukan secara daring. Tujuan: mengetahuihubungan tingkat stres dengan tingkat kepuasan perubahan proses pembelajaran secara daring pada mahasiswa di masa Covid-19. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan metode cross sectional. Kriteria inklusinya mahasiswa aktif S-1 Reguler FIK UI angkatan 2017, 2018, 2019, dan 2020 dan bersedia menjadi responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik proportional random sampling, dengan sampel sebanyak 218 mahasiswa. Kuesioner menggunakan Student Stress Iventory untuk mengukur tingkat stres, dan kuesioner tingkat kepuasan pada pembelajaran daring yang dianalisis dengan uji chi square. Hasil: Hasil penelitian terdapat hubungan antara tingkat stres dengan tingkat kepuasan perubahan proses pembelajaran secara daring pada mahasiswa di masa Covid-19 (p = 0,030), terutama yang berhubungan tingkat stres akademik dengan tingkat kepuasan perubahan proses pembelajaran secara daring pada mahasiswa di masa Covid-19 (p = 0,001). Diskusi: Perubahan proses pembelajaran secara daring pada mahasiswa di masa Covid-19 dapat menurunkan tingkat kecemasan sehingga berdampak terhadap kepuasan mahasiswa selama pembelajaran secara daring. Kesimpulan: Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi berbagai pihak terkait pembelajaran secara daring. Selain itu, penelitian ini merekomendasikan penyediaan layanan konseling online bagi mahasiswa untuk mengatasi permasalahan akademik dan cara penyelesaian masalahnya.Kata Kunci : Covid-19, kepuasan, mahasiswa, pembelajaran daring, perubahan, mahasiswa  Correlation Between Stress Levels and Satisfaction with Online Learning Process Changes in Students During COVID-19 ABSTRACT         The current Coronavirus disease-19 (COVID-19) pandemic has brought about various impacts on society. One of the resulting impacts on education is the changes to online learning processes. Objective: To identify the correlation between stress levels and satisfaction with changes in online learning processes among students during the COVID-19 pandemic. Methods: This research employed a quantitative research design with a cross-sectional methodological approach. Inclusion criteria included active undergraduate students of the regular undergraduate program at the Faculty of Nursing, Universitas Indonesia, enrolled in the 2017, 2018, 2019, and 2020 intakes who were willing to participate as respondents. The sample was selected using proportional random sampling, totaling 218 students. The research employed the Student Stress Inventory questionnaire to measure stress levels and a satisfaction questionnaire for online learning changes, which were analyzed using the chi-square test. Results: The research found a significant correlation between stress levels and satisfaction with changes in online learning processes among students during the COVID-19 pandemic (p = 0.030), particularly concerning academic stress levels and satisfaction with changes in online learning processes among students during the COVID-19 pandemic (p = 0.001). Discussion: The changes to online learning processes during the COVID-19 pandemic can reduce anxiety levels, thereby impacting student satisfaction with online learning. Conclusion: This research can serve as an evaluation basis for various stakeholders involved in online learning. Additionally, this research recommends providing online counseling services for students to address academic issues and problem-solving methods.Keywords: COVID-19, Changes, Online Learning, Satisfaction, Students, Stress
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS WORKSHOP DENGAN KULIAH TERSTANDAR UNTUK MENURUNKAN STIGMA HIV/AIDS PADA MAHASISWA KEPERAWATAN Kustanti, Anita; Wijayanti, Yanri; Rahmat, Ibrahim
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i2.456

Abstract

ABSTRAKStigma merupakan salah satu kondisi yang menyebabkan kegagalan atau keterlambatan dalam menangani atau mendiagnosis HIV dan AIDS. Tujuan Penelitian: Mengidentifikasi stigma dan membandingkan efektivitas workshop serta kuliah terstandar terhadap stigma HIV/AIDS pada mahasiswa keperawatan. Metode: Penelitian merupakan quasi eksperimen dengan pre post test design with control group dilakukan terhadap 82 mahasiswa PSIK UGM semester 3 dan 5, terbagi menjadi 42 mahasiswa sebagai kelompok workshop dan 40 mahasiswa sebagai kelompok kuliah terstandar. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan menggunakan kuesioner skala stigma HIV/AIDS. Data dianalisis menggunakan chi square, unpaired t test dan paired t test. Hasil: Stigma terkait HIV/AIDS pada mahasiswa keperawatan berada pada kategori stigma tinggi (50%). Pada preintervensi tidak terdapat perbedaan stigma antara dua kelompok. Tidak terdapat efek intervensi workshop dan kuliah terstandar terhadap stigma terkait HIV/AIDS (masing-masing p > 0,05). Terdapat perbedaan yang bermakna pada perubahan domain pada kelompok workshop dibandingkan kelompok kuliah terstandar berdasarkan nilai mean yang didapatkan (p < 0,05). Diskusi: Banyaknya responden yang memiliki stigma tinggi menunjukkan adanya stigma eksternal terhadap ODHA. Kebijakan yang dibuat oleh perawat yang mendapatkan banyak pelatihan tentang HIV dan AIDS mempunyai prejudice lebih rendah daripada koleganya yang mempunyai lebih sedikit pelatihan. Workshop lebih dapat menurunkan stigma daripada intervensi kuliah terstandar karena workshop merupakan intervensi pembelajaran aktif yang tidak hanya melibatkan kognitif, tetapi juga perilaku yang dapat membangun rasa percaya diri untuk megubah perilakunya. Kesimpulan: Intervensi workshop lebih dapat menurunkan stigma daripada intervensi kuliah terstandar. Untuk penelitian selanjutnya, pengambilan data post-intervensi sebaiknya dilakukan dengan memberikan jeda waktu dengan memperhatikan retensi informasi pada responden.Kata Kunci: HIV/AIDS, keperawatan, kuliah, mahasiswa, stigma, workshop A Comparison of the Effectiveness of Workshops and Standard Lectures in Reducing HIV/AIDS Stigma Among Nursing Students ABSTRACTStigma is one condition that leads to failure or delay in addressing or diagnosing HIV and AIDS. Objective: To identify stigma and compare the effectiveness of workshops and standard lectures on HIV/AIDS stigma among nursing students. Methods: The research employed a quasi-experimental design with a pre-post test design and a control group, conducted on 82 third and fifth-semester students of the Nursing Science Study Program UGM, divided into 42 students as the workshop group and 40 as the standard lecture group. The research was conducted over three months using an HIV/AIDS stigma scale questionnaire. Data were analyzed using Chi-Square, unpaired t-test, and paired t-test. Results: HIV/AIDS-related stigma among nursing students was in the high stigma category (50%). Prior to the intervention, there was no difference in stigma between the two groups. There was no intervention effect of workshops and standard lectures on HIV/AIDS-related stigma (both p>0.05). There was a significant difference in the change in domains between the workshop group and the standard lecture group based on the mean values obtained (p<0.05). Discussion: The high number of respondents with high stigma indicates external stigma towards PLWHA. Policies made by nurses who receive extensive training on HIV and AIDS have lower prejudice compared to their colleagues with less training. Workshops can reduce stigma more effectively than standard lecture interventions because workshops are active learning interventions that involve not only cognition but also behavior, which can build self-confidence to change behavior. Conclusion: Workshop interventions can reduce stigma more effectively than standard lecture interventions. Post-intervention data should be collected with a time gap for future research, considering respondents' information retention.Keywords: HIV/AIDS, Nursing, Lecture, Students, Stigma, Workshop
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI TERHADAP KEPATUHAN BEROBAT PASIEN TUBERKULOSIS PARU PADA MASA PANDEMI COVID-19 Salvadila, Ni Kadek Ayu Septiyola; Darmini, A. A. A. Yuliati; Suantika, Putu Inge Ruth; Megayanti, Sri Dewi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i2.387

Abstract

ABSTRAKTujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan dan motivasi terhadap kepatuhan berobat pasien TB Paru pada masa pandemi Covid-19 di Puskesmas Denpasar Barat. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Besar sampel 122 orang. Data dikumpulkan menggunakan tiga kuesioner yaitu kuesioner pengetahuan, motivasi, dan kepatuhan berobat. Data dianalisis dengan uji statistik korelasi Spearman rho.  Hasil: Pengetahuan menunjukkan nilai median 17,00; motivasi 64,00; dan kepatuhan berobat 8,00. Penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan dengan arah korelasi positif sedang antara pengetahuan dan kepatuhan berobat (p-value = <0,00; r = 0,465) dan antara motivasi dan kepatuhan berobat (p value = <0,00; r = 0,544). Diskusi: Pengetahuan dan motivasi pasien TB paru sangat berperan dalam kepatuhan berobat. Kesimpulan: Semakin tinggi pengetahuan, akan semakin tinggi kepatuhan, demikian juga semakin tinggi motivasi, responden akan semakin patuh dengan pengobatannya. Kepatuhan pengobatan pasien TB paru di Puskesmas Denpasar Barat perlu dipertahankan agar tidak terjadi putus obat.Kata Kunci: kepatuhan berobat, motivasi, pengetahuan, Tuberkulosis paru Correlation Between Knowledge and Motivation on Medication Adherence in Pulmonary Tuberculosis Patients During the COVID-19 Pandemic ABSTRACTObjective: This research aims to identify the correlation between knowledge and motivation on medication adherence in pulmonary TB patients during the COVID-19 pandemic at the West Denpasar Public Health Center. Methods: This research employed analytic correlation with a Cross-Sectional approach. The sample size consisted of 122 individuals. Data were collected using three questionnaires: knowledge, motivation, and medication adherence. Data were analyzed using Spearman's Rho correlation statistical test. Results: A median value for knowledge was 17.00, motivation 64.00, and medication adherence 8.00. This research indicates a significant positive correlation between knowledge and medication adherence (p-value = <0.00; r = 0.465) and between motivation and medication adherence (p-value = <0.00; r = 0.544). Discussion: Knowledge and motivation play a significant role in the medication adherence of pulmonary TB patients. Conclusion: Higher knowledge levels correspond to increased medication adherence, and higher motivation levels lead to greater patient compliance with their treatment regimen. Maintaining medication adherence among pulmonary TB patients at the Denpasar West Health Center is crucial to prevent treatment interruption.Keywords: Knowledge, Medication adherence, Motivation, Pulmonary Tuberculosis
E-LEARNING SATISFACTION ANALYSIS OF CLINICAL ROTATION NURSING STUDENTS Harjanto, Totok; Achmad, Bayu Fandhi; Sumunar, Dimas S. E. W.
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i2.512

Abstract

ABSTRACTObjective: To identify the learning satisfaction of clinical rotation nursing management students. Methods: A descriptive study took place in a class of clinical rotation nursing management. Participants were 22 female clinical rotation nursing student who were in the nursing management stage period September-October 2017. Eligible criteria for the students are voluntary participating in the research, fully engaged in the whole learning activities and following brief introduction and course evaluation. Research instrument is the form of learning satisfaction questionnaire developed by Center of Innovation and Academic Policy UGM. Validity test incorporate product moment resulting 13 valid items. 10 items required modification to meet the validity. Cronbach’s Alpha reliability test yields internal consistency value of 0.839. Data analyses were using frequency distribution with means considered as cutoff point. Results: Clinical rotation nursing students have a similar learning satisfaction between high and low (50%: 50%). Discussion: Based on 4 attributes of the questionnaire, the majority of respondents have high satisfaction on the aspect of online assignment (54.5%), aspect of online lecture materials and eLearning facilities have the same satisfaction (50%: 50%) and the online discussion aspect of the majority of respondents have low satisfaction (54.5 %). Conclusion: Clinical rotation students in nursing management show the same level of satisfaction between high and low on e-learning. Development of learning media and electronic learning delivery methods required to value the benefits in the future.Keywords: clinical rotation; e-learning; nursing student; students’ satisfaction.
TINGKAT KECEMASAN, PERILAKU SELF-HARM, DAN MEKANISME KOPING MAHASISWA YANG MENJALANI OBJECTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION (OSCE) Sembiring, Kezia Arihta; Mustikasari, Mustikasari
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 3 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i3.523

Abstract

ABSTRAKUjian objective structured clinical examination (OSCE) merupakan ujian yang dapat menyebabkan kecemasan bagi mahasiswa kesehatan. Individu berupaya dalam menangani stressor dan salah satu bentuk maladaptifnya adalah perilaku self-harm yang merupakan upaya menyakiti diri sendiri. Penanganan stressor dapat adaptif bila menggunakan mekanisme koping yang cocok dengan individu. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan, perilaku self-harm, dan mekanisme koping mahasiswa yang menjalani objective structured clinical examination. Metode: Desain penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian 107 responden (52 responden angkatan 2019 dan 55 responden angkatan 2020), dengan teknik proportional sampling. Instrumen yang digunakan ialah Hamilton Anxiety Rating Scale, Self-Harm Inventory, dan Brief COPE Scale; analisis data dengan univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan ringan (51%), perilaku self-harm rendah (79%), dan mekanisme koping sedang (67%) dengan jenis problem-focused paling banyak digunakan (72%). Diskusi: OSCE merupakan hal yang masih membuat mahasiswa merasa cemas, bahwa masih ditemukan self-harm tinggi yang ditandai dengan tindakan mencederai diri. Untuk itu, cara penyelesaian yang digunakan ialah mekanisme koping problem-focused. Kesimpulan: Penelitian ini merekomendasikan perlunya promosi kesehatan dalam bentuk edukasi kesehatan dan konseling untuk mahasiswa mengenai tingkat kecemasan, perilaku self-harm, dan mekanisme koping.Kata kunci: mahasiswa, mekanisme koping, objective structured clinical examination, self-harm, tingkat kecemasan Anxiety Levels, Self-Harm Behavior, and Coping Mechanisms among Students Undergoing Objective Structured Clinical Examination (OSCE) ABSTRACTObjective Structured Clinical Examination (OSCE) is an assessment that can induce anxiety among health science students. Individuals endeavor to manage stressors, and one maladaptive form is self-harm behavior, an attempt to harm oneself. Handling stressors can be adaptive when utilizing coping mechanisms suitable for the individual. Objective: This research aims to identify anxiety levels, self-harm behavior, and coping mechanisms among students undergoing Objective Structured Clinical Examination. Methods: This research employed a quantitative descriptive research design. Taken using a proportional sampling technique, the research sample comprised 107 respondents (52 from the 2019 batch and 55 from the 2020 batch). It used instruments consisting of the Hamilton Anxiety Rating Scale, Self-Harm Inventory, and Brief COPE Scale, while data were analyzed through univariate analysis. Results: Findings revealed mild anxiety level (51%), low self-harm behavior (79%), and moderate coping mechanisms (67%), while problem-focused coping was the most frequently used method (72%). Discussion: OSCE remains a significant stressor for students, as evidenced by high levels of self-harm behavior indicated by self-injurious actions. Therefore, problem-focused coping mechanisms are predominantly employed for resolution. Conclusion: This research recommends the necessity of health promotion through health education and counseling for students regarding anxiety levels, self-harm behavior, and coping mechanisms.Keywords: students, coping mechanisms, objective structured clinical examination, self-harm, anxiety level
TINGKAT STRES DAN MEKANISME KOPING SEBELUM DAN SELAMA TERJADI COVID-19 PADA MAHASISWA Wahyudi, Fitra Albana; Mustikasari, Mustikasari
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 3 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i3.521

Abstract

ABSTRAKPandemi Coronavirus disease-19 (COVID-19) memberikan dampak besar bagi seluruh dunia. Hal ini memengaruhi tingkat stres yang dialami semua orang, termasuk mahasiswa. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat stres yang dialami dan mekanisme koping yang digunakan mahasiswa saat sebelum dan selama terjadi COVID-19. Metode: Desain penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel yang digunakan sebanyak 114 mahasiswa S-1 reguler tahun 2019 dengan teknik total sampling. Kuesioner yang digunakan ialah Perceived Stress Scale-10 dan The Brief COPE. Analisis data yang digunakan analisis univariat dengan tampilan data tendensi sentral (data numerik), frekuensi persen (data kategorik). Hasil: Hasil penelitian didapatkan mahasiswa mengalami stres sedang sebelum COVID-19 (78,1%) dan selama terjadi COVID-19 (82,45%). Mekanisme koping yang digunakan proble- focused coping sebelum COVID-19 (75,4%) dan selama terjadi COVID-19 (67,5%) serta adaptive copingsebelum COVID-19 (92,1%) dan selama terjadi COVID-19 (90,4%). Diskusi: Peningkatan tingkat stres antara sebelum dan selama terjadinya COVID-19 menjadi hal yang penting untuk diperhatikan, mengingat dampak stres yang mungkin terjadi pada mahasiswa sehingga mahasiswa perlu diberi pelatihan mengenai mekanisme koping yang baik untuk menurunkan tingkat stres yang dihadapi. Kesimpulan: Walaupun mahasiswa memiliki tingkat stres sedang, mereka masih dapat mengatasi stresnya dengan baik karena mayoritas memiliki mekanisme koping yang berfokus pada masalah daripada berfokus pada emosi sehingga diharapkan mahasiswa lebih aware terhadap tingkat stres yang dialaminya dengan meminta pertolongan pada professional apabila sudah merasa tidak dapat mengatasinya. Selain itu, mahasiswa dapat menggunakan mekanisme koping yang sesuai dengan dirinya dengan cara mengetahui hobi atau passion yang sedang diminati. Kata kunci: COVID-19, mahasiswa, mekanisme koping, stres Stress Levels and Coping Mechanisms Before and During The COVID-19 Pandemic among University Students ABSTRACTThe Coronavirus disease-19 (COVID-19) pandemic has had a significant impact globally, affecting the stress levels experienced by everyone, including university students. Objective: This research aims to describe the stress levels experienced and coping mechanisms used by university students before and during the COVID-19 pandemic. Methods: This research employed a quantitative descriptive research design. The sample consisted of 114 regular undergraduate students from the 2019 batch, whom were taken using the total sampling technique. It used The Perceived Stress Scale-10 and The Brief COPE questionnaire. Data were analyzed univariate analysis with central tendency (numeric data) and percentage frequency (categorical data) presentation. Results: Findings revealed that students experienced moderate stress before COVID-19 (78.1%) and during the COVID-19 pandemic (82.45%). Problem-focused coping mechanisms were utilized by 75.4% of students before COVID-19 and 67.5% during the COVID-19 pandemic, while adaptive coping mechanisms were employed by 92.1% of students before COVID-19 and 90.4% during the COVID-19 pandemic. Discussion: The increase in stress levels before and during the COVID-19 pandemic is important to consider due to the potential impact of stress on students. Therefore, students must be trained in effective coping mechanisms to reduce stress levels. Conclusion: Despite experiencing moderate stress levels, students can still cope well with their stress, as most utilize coping mechanisms that focus on problem-solving rather than emotional reactions. It is hoped that students will become more aware of their stress levels and seek professional help if they cannot cope. In addition, students can use coping mechanisms that align with their interests and passions.Keywords: COVID-19, students, coping mechanisms, stress
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MASYARAKAT TENTANG CARA PENCEGAHAN HEPATITIS Suantika, Putu Inge Ruth; Indriana, Ni Putu Riza Kurnia; Megayanti, Sri Dewi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 3 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i3.496

Abstract

ABSTRAKTingginya angka kasus hepatitis disebabkan kurangnya kesadaran akan bahaya dan komplikasi yang terjadi. Kesadaran yang kurang dihubungkan dengan minimnya pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat tentang pencegahan sehingga berdampak pula terhadap sikap dan perilakunya. Tujuan: Mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang pencegahan hepatitis di Banjar Padang Tawang. Metode: Desain penelitian yang digunakan ialah analitik korelasi (cross sectional) dengan populasi yaitu seluruh warga Banjar Padang Tawang. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah 153 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap dan perilaku yang sudah valid dan reliabel. Uji statistik yang digunakan ialah uji chi-square dan fisher exact test. Hasil: 111 orang (72,5%) memiliki pengetahuan yang baik, 79 orang (51,6%) memiliki sikap positif dan 100 orang (65,4%) memiliki perilaku yang baik tentang pencegahan hepatitis. Hasil uji mengenai pengetahuan dan perilaku masyarakat tentang pencegahan hepatitis ialah 0,000 (p value < 0,05) yang berarti terdapat hubungan pengetahuan dan perilaku masyarakat terhadap pencegahan hepatitis. Hasil uji mengenai sikap dan perilaku masyarakat tentang pencegahan hepatitis ialah 0,000 (p value < 0,05) yang berarti terdapat hubungan antara sikap dengan perilaku masyarakat tentang pencegahan hepatitis. Diskusi:Pengetahuan yang baik dan sikap yang positif akan berhubungan dengan perilaku yang baik pula, demikian juga sebaliknya. Kesimpulan: Terdapat hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pencegahan hepatitis. Diperlukan pembinaan yang berkelanjutkan bagi masyarakat untuk memberikan informasi terbaru mengenai penyakit hepatitis sehingga akan menciptakan perilaku yang baik pula. Kata kunci: hepatitis, pengetahuan, perilaku, sikap Correlation of Knowledge and Attitudes with Community Behavior Regarding Hepatitis Prevention ABSTRACTThe high incidence of hepatitis cases is attributed to the lack of awareness of the dangers and complications involved. This lack of awareness is associated with the insufficient knowledge held by the community about prevention, which consequently affects their attitudes and behaviors. Objective: To identify the correlation of knowledge and attitudes with behaviors regarding hepatitis prevention in Banjar Padang Tawang. Methods: The research design employed was an analytical correlation (cross-sectional) with the population of all Banjar Padang Tawang residents. The purposive sampling technique was utilized with a total of 153 individuals. Data were collected using validated and reliable knowledge, attitude, and behavior questionnaires. Statistical tests utilized the chi-square test and Fisher's exact test. Results: 111 individuals (72.5%) had good knowledge, 79 individuals (51.6%) exhibited positive attitudes, and 100 individuals (65.4%) demonstrated good behavior regarding hepatitis prevention. The test results regarding knowledge and community behavior regarding hepatitis prevention yielded a p-value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant correlation between knowledge and community behavior concerning hepatitis prevention. Similarly, the test results regarding attitudes and community behavior regarding hepatitis prevention yielded a p-value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant correlation between attitudes and community behavior regarding hepatitis prevention. Discussion: Good knowledge and positive attitudes are correlated with good behavior, and vice versa. Conclusion: There is a correlation of knowledge and attitudes with behavior regarding hepatitis prevention. Continuous education for the community is necessary to provide up-to-date information about hepatitis, thereby promoting positive behaviors as well.Keywords: hepatitis, knowledge, behavior, attitudes.
STRATEGI REGULASI EMOSI DAN POLA ASUH ORANG TUA MELATARBELAKANGI PERILAKU BINGE EATING PADA REMAJA Prasetya, Mega Anastasya Riwu; Wanda, Dessie; Adawiyah, Robiyatul; Astuti, Astuti
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 3 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i3.529

Abstract

ABSTRAKPenelitian mengenai binge eating belum banyak dilakukan di Indonesia. Binge eating adalah perilaku makan berlebihan yang merupakan salah satu mental disorder utama pada remaja, khususnya pada remaja yang berusia 15–19 tahun. Tujuan: Melihat hubungan strategi regulasi emosi dan pola asuh orang tua dengan perilaku binge eating pada remaja usia 15–19 tahun di DKI Jakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif jenis observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional dan menggunakan uji statistik nonparametrik, yaitu uji chi-square. Sampel pada penelitian ini berjumlah 388 remaja yang memenuhi kriteria inklusi dan didapatkan melalui teknik probability sampling jenis cluster sampling. Sesuai dengan variabel-variabel yang ada, instrumen yang digunakan ialah instrumen karakteristik responden, Binge Eating Scale (BES), Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), dan Parental Authority Questionnaire (PAQ). Hasil: Ditemukan sebesar 11% dari 388 remaja memiliki perilaku severe binge eating. Menggunakan uji chi-square, penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara strategi regulasi emosi dan perilaku binge eating (p-value = 0,001; α = 0,05) serta antara pola asuh orang tua dan perilaku binge eating (p-value = 0,001; α = 0,05). Diskusi:Terbentuknya strategi regulasi emosi yang adaptif diimbangi dengan pola asuh orang tua yang otoritatif dapat mengembangkan perilaku makan yang sehat bagi anak. Kesimpulan: Disusun dan dilaksanakannya program pendidikan terkait cara meregulasi emosi yang adaptif bagi remaja dan edukasi yang tepat mengenai pola asuh yang sesuai dengan karakteristik remaja bagi orang tua dapat membantu mengurangi risiko perilaku binge eating.Kata kunci: binge eating, pola asuh orang tua, regulasi emosi, remaja Emotion Regulation Strategies and Parental Parenting Styles Underlying Binge Eating Behavior in Adolescents ABSTRACTResearch on binge eating behavior remains scarce in Indonesia. Binge eating, a form of excessive eating behavior, represents a major mental disorder among adolescents, particularly those aged 15-19 years. Objective: To explore the correlation between emotion regulation strategies and parental parenting styles with binge eating behavior among adolescents aged 15-19 years in Jakarta Special Capital Region. Methods: This research employed a quantitative observational analytic design with a cross-sectional research design and utilized non-parametric statistical tests, namely the chi-square test. The sample comprised 388 adolescents who met the inclusion criteria and were obtained through cluster sampling probability sampling technique. Consistent with the variables involved, the instruments utilized included respondent characteristic instruments, Binge Eating Scale (BES), Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), and Parental Authority Questionnaire (PAQ). Results: Findings revealed that 11% of the 388 adolescents exhibited severe binge eating behavior. Employing the chi-square test, the research demonstrated a significant correlation between emotion regulation strategies and binge eating behavior (p-value=0.001; α=0.05) as well as between parental parenting styles and binge eating behavior (p-value=0.001; α=0.05). Discussion: The formation of adaptive emotion regulation strategies coupled with authoritative parental parenting styles may foster healthy eating behavior among adolescents. Conclusion: Implementation of educational programs concerning adaptive emotion regulation strategies for adolescents and appropriate parenting education tailored to adolescent characteristics for parents may aid in reducing the risk of binge eating behavior.Keywords: Binge eating, parental parenting styles, emotion regulation, adolescents