cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 205 Documents
PENGALAMAN IBU DALAM PENANGANAN DEMAM DENGAN BEJAMPI PADA SUKU JERIENG DI KABUPATEN BANGKA BARAT Aprianti, Dwi; Sodikin, Sodikin
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 7, No 3 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v7i3.320

Abstract

ABSTRAKPenanganan anak demam dapat dipengaruhi faktor kebiasaan dari masyarakat setempat. Kebiasan tersebut misalnya memasukkan sesuatu ke mulut anak, menggerakan tubuh disertai membaca Al-Qur’an, membaca mantra, dan menyemburkan air ke wajah anak. Tradisi bejampi pada suku Jerieng masih dipraktikan sampai sekarang, termasuk dalam penangan anak demam. Suku Jerieng percaya bahwa demam anak disebabkan gangguan makhluk gaib. Tujuan penelitian: Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman ibu dalam penanganan anak demam melalui bejampi. Metode: Metodepenelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif.  Partisipan terdiri atas lima orang ibu yang memiliki anak demam. Teknik pengambilan partisipan dengan snowball sampling. Kriteria partisipan memiliki anak yang pernah mengalami demam, merupakan warga suku Jerieng, memiliki waktu untuk diwawancarai, lancar berbahasa daerah suku Jerieng. Pengumpulan data dengan wawancara terstruktur terhadap partisipan.Data dikumpulkan berupa hasil rekaman wawancara serta catatan lapangan. Data dianalisis secara interaktif melalui proses reduksi (data reduction), sajian data (data display), dan penarikan (data verification). Hasil: Ada lima tema yang teridentifikasi: 1) peran penting ibu dalam menangani anak demam; 2) faktor kebiasaan mendasari pilihan ibu terhadap praktik bejampi; 3) penggunaan media air dan pijat dalam praktik bejampi; 4) kondisi anak menjadi dasar pertimbangan memilih praktik bejampi; 5) merasakan adanya manfaat dari praktik bejampi. Simpulan: Penanganan anak demam di suku Jerieng dengan metode bejampi tidak lebih hanya sebagai sugesti, pengobatan utama tetap ke tenaga kesehatan (bidan). Pemilihan bejampidipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal dari parsitisipan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran pada para petugas kesehatan khususnya perawat anak tentang pentingnya memahami masalah penanganan anak demam.Kata Kunci: anak, bejampi, demam, dukun  Mother's Experience in Treating Fever Using Bejampi in Jerieng Tribe in West Bangka Regency ABSTRACTThe habits of the local community can affect treating children with fever. These habits include putting something in the child's mouth, movingthe body accompanied by reading the Qur'an, reciting spells, and spraying water on the child's face. The tradition of bejampi in the Jerieng tribe is still practiced today, including in treating children with fever. The Jerieng tribe believes that child fever is caused by interference from supernatural beings. Objective: This research explores the experience of mothers in treating children with fever using bejampi. Methods: This research employed a qualitative method with a descriptive phenomenological approach. Participants consisted of five mothers who had children with fever. Participantswere taken using snowball sampling. The criteria for the participant were having a child who had had a fever, being a member of the Jerieng tribe, having time to be interviewed, and being fluent in the local language of the Jerieng tribe. Data were collected using structured interviews with participants. Data were collected in the form of recorded interviews and field notes. Data were analyzed interactively through the process of data reduction, data display, and data verification. Results: Five themes were identified: 1) the important role of mothers in treating children with fever; 2) the habit factor underlying the mother's choice of bejampi practice; 3) the use of water and massage media in bejampi practice; 4) the condition of the child as the basis for choosing the bejampi practice; 5) feeling the benefits of the bejampi practice. Conclusion: Treating children with fever in the Jerieng tribe using the bejampi method is no more than a suggestion because health workers (midwives) still give the primary treatment. The selection of bejampi is influenced by internal and external factors from the participants. The results of this research are expected to provide an overview to health workers, especially pediatric nurses, about the importance of understanding the problem of treating children with fever.Keywords: child, bejampi, fever, traditional healer
HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DENGAN KEJADIAN KOMPLIKASI KRONIS PADA PRIA DENGAN DIABETES MELITUS TIPE II Sastrawan, I Ketut Wisma; Darmini, A. A. A. Yuliati; Suantika, Putu Inge Ruth; Megayanti, Sri Dewi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 7, No 3 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v7i3.386

Abstract

ABSTRAKDiabetes melitus (DM) merupakan salah satu dari empat penyakit tidak menular utama yang prevalensi globalnya terus meningkat. Disebutkanbahwa salah satu faktor risiko yang memicu terjadinya komplikasi pada penderita DM ialah kebiasaan merokok. Sehingga perlu adanya pengkajian terkait hal ini. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui hubungan perilaku merokok dengan kejadian komplikasi kronis pada pria dengan DM tipe II. Metode: Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 103 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner perilaku merokok dan data dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian: Sebanyak 51 orang (49,5%) responden termasuk perokok ringan.  Sebanyak 69 orang (67,0%) responden mengalami kejadian komplikasi.  Hasil menunjukkan terdapat hubungan antara perilaku merokok dan kejadian komplikasi kronis pada penderita DM tipe dua di wilayah kerja Puskesmas Abiansemal I (ρ value < 0,01). Diskusi: Penderita DM yang memiliki riwayat merokok memiliki risiko mengalami komplikasi lebih besar daripada penderita DM yang tidak memiliki riwayat merokok sehingga penting untuk memberikan promosi kesehatan terkait dengan bahaya merokok pada penderita DM. Kesimpulan: Kejadian komplikasi kronis pada pria dengan DM tipe dua di wilayah kerja Puskesmas Abiansemal I berhubungan dengan perilaku merokok pada penderita DM tipe dua. Diharapkan bagi pasien DM agar dapat berhenti atau mengurangi aktivitas merokok.  Bagi tenaga kesehatan diharapkan untuk memberikan promosi kesehatan terkait bahaya merokok pada pasien DM.Kata Kunci: Diabetes Melitus, Komplikasi Kronis, Perilaku Merokok Correlation Between Smoking Behavior and Incidence of Chronic Complications in Men with Type II Diabetes Mellitus ABSTRACTDiabetes mellitus (DM) is one of the four major non-communicable diseases whose global prevalence continuously increases. One risk factor that triggers complications in DM patients is smoking habits. Therefore, it is necessary to conduct research on this issue. Objective: To identify the correlation between smoking behaviour and the incidence of chronic complications in men with type II DM. Methods: This research employed a correlation analytic design with a cross-sectional approach. The number of samples was 103 respondents. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the Chi-Square test. Results: Fifty-one (49.5%) respondents were categorized as light smokers.  Sixty nine (67.0%) respondents were categorizsed as having chronic complications.  The results indicated a correlation between smoking behaviour and the incidence of chronic complications in patients with type 2 DM in the working area of Abiansemal I Public Health Center (ρ value <0.01). Discussion: DM patients with a smoking history have a greater risk of experiencing complications than those who do not have a smoking history, so it is important to provide health promotion related to the dangers of smoking in DM sufferers. Conclusion: The incidence of chronic complications in men with type 2 DM in the working area of the Abiansemal I Public Health Center is correlated with smoking behaviour in patients with type 2 DM. It is expected that DM patients can stop or reduce smoking activities.  It is expected that healthcare personnels could provide health promotion related to the dangers of smoking in DM patients.Keywords: diabetes mellitus, chronic complications, smoking behaviour
EDUKASI PEMANTAUAN CAIRAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS DENGAN ANURIA 8 TAHUN: STUDI KASUS Khusna, Rohmah Puriana; Wahyuni, Tatik Dwi; Wicaksana, Anggi Lukman
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 7, No 3 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v7i3.403

Abstract

ABSTRAKPembatasan cairan sangat penting bagi pasien gagal ginjal kronis (GGK). Banyak pasien tidak mengetahui pentingnya pemantauan cairan berkala dan enggan membatasi cairan yang dikonsumsi. Tujuan penelitian: Untuk mengujicobakan edukasi pemantauan cairan berbasis bukti pada pasien GGK dengan anuria 8 tahun. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dalam mengimplementasikan edukasi pemantauan cairan.Keluhan utama pasien: Ny. S sering melaporkan kenaikan berat badan > 4 kg prehemodialisis, terdapat asites, dan edema perifer. Tidak dilaporkan adanya sesak napas, tetapi pasien sering lelah dan pusing. Diberikan edukasi pemantauan cairan, penggunaan buku monitoring cairan, dan pendampingan selama 10 hari. Pasien didorong menuliskan hasil asupan dan haluaran harian. Hasil: Setelah pemberian intervensi, terjadi penurunan kenaikan berat badan prehemodialisis (6,7 kg menjadi 4 kg), ultrafiltration rate (4.500 ml menjadi 2.800 ml), Kt/v (2,08 menjadi 1,46), dan QB (230 menjadi 150). Kesimpulan: Edukasi pemantauan cairan berbasis bukti mampu membantu menurunkan kenaikan berat badan sebelum hemodialisis dan jumlah volume tarikan saat dialisis. Dengan demikian, penting bagi pasien untuk mendapatkan edukasi dan intervensi yang tepat dari tenaga kesehatan, khususnya perawat selama menjalani hemodialisis.Kata kunci: anuria, asupan cairan, gagal ginjal kronis, ketidakpatuhan, pemantauan cairan Fluid Monitoring Education in Patient with Chronic Kidney Disease Suffering from 8-Year Anuria: A Case Study ABSTRACTFluid restriction is crucial for patients with chronic kidney disease (CKD). Lots of patients are unaware of the importance of regular fluid monitoring and reluctant to restrict the fluid intake. Objective: To pilot an evidence-based fluid monitoring education in patients with CKD suffering from 8-year anuria. This research applied a case study design to implement the fluid monitoring education. Patient's chief complaint: Mrs. S regularly reported > 4 kg weight gain at pre-hemodialysis; experienced ascites and peripheral edema. No shortness of breath was reported, but the patient complained fatigue and dizzy. The patient received education on fluid monitoring, using fluid monitoring book, and assistance for 10 days. In her daily basis, patient was encouraged to record the amount of intake and output results. Results: After the intervention, there was a decrease in pre-hemodialysis weight gain (from 6,7 kg to 4 kg), ultrafiltration rate (from 4.500 ml to 2.800 ml), Kt/v (from 2.08 to 1.46), and QB (from 230 to 150). Conclusion: Evidence-based fluid monitoring education can assist to reduce pre-hemodialysis weight gain and the ultrafiltration rate during dialysis. Therefore, patients with CKD facing from 8-year anuria need to receive proper education and intervention from healthcare workers, especially nurses, while undergoing hemodialysis.Keywords: anuria, fluid intake, chronic kidney disease, non-adherence, fluid monitoring
AKUPRESUR SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK MENGURANGI NYERI PASIEN KANKER SERVIKS: STUDI KASUS Ramadhana, Ayu; Dewi, Siti Utami; Susilowati, Indah; Nuraini, Tuti
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 7, No 3 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v7i3.375

Abstract

ABSTRAK Kanker serviks merupakan salah satu penyakit kronis yang dialami perempuan dengan berbagai gejala sepanjang hidup pasien. Nyeri pada pasien kanker berdampak serius secara fisik, mental, kesehatan emosional, serta kualitas hidup. Melihat dampak dari nyeri, diperlukan manajemen nyeri yang merupakan bagian esensial dalam perawatan kanker. Salah satu penatalaksanaan nyeri secara nonfarmakologi ialah teknik akupresur. Tujuan penelitian: untuk mendeskripsikan penanganan nyeri secara nonfarmakologi yaitu akupresur pada pasien kanker. Keluhan utama: Subjek dalam studi kasus, yaitu pasien kanker serviks dengan inisial Ny. SN 42 tahun dengan nyeri sejak terdiagnosis kanker dan semakin bertambah intensitasnya pada saat menjalani terapi radiasi. Intervensi akupresur dalam penelitian ini dilakukan selama tujuh hari, intervensi dilakukan oleh peneliti yang telah memiliki sertifikat kompetensi akupresur. Hasil: Studi kasus ini menunjukkan pasien mengalami penurunan skala nyeri setelah dilakukan intervensi akupresur selama 7 hari, dari skala 7 (nyeri berat) menjadi skala 3 (nyeri ringan). Simpulan: Manajemen nyeri dengan terapi nonfarmakologis, yakni akupresur, direkomendasikan sebagai terapi komplementer pilihan pada intervensi keperawatan, khususnya dalam mengurangi nyeri pada pasien kanker.Kata Kunci: akupresur, kanker serviks, nyeri  Acupressure as An Alternative To Reduce Pain in Cervical Cancer Patients: A Case Study ABSTRACTCervical cancer is one of the chronic diseases experienced by women with various symptoms throughout their life. Pain in cancer patients seriously impacts physical, mental, and emotional health and quality of life. Therefore, pain management is needed as an essential part of cancer treatment. One of the of non -pharmacological pain management is acupressure technique. Objective: To describe nonpharmacological pain management, namely acupressure in cancer patients. Chief Complaint: A subject in the case study was a cervical cancer patient, Mrs. SN, 42 years old, with pain since being diagnosed with cancer, and its intensity increased when undergoing radiation therapy. Acupressure intervention in this study was conducted for seven days and carried out by the researcher, who already had an acupressure competency certificate. Results: This case study indicated the patient had a decrease in pain scale after acupressure intervention for 7 days, from a scale of 7 (severe pain) to 3 (mild pain). Conclusion: Pain management with nonpharmacological therapy, namely acupressure, is recommended as an alternative to complementary therapy in nursing interventions, especially in managing pain in cancer patients.Keywords: acupressure, cervical cancer, pain
SIKAP DAN PENGETAHUAN MEMENGARUHI PERILAKU PENCEGAHAN PRESSURE ULCER Sari, Fani Hestiana; Afriani, Tuti; Gayatri, Dewi; Kuntarti, Kuntarti
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i1.445

Abstract

ABSTRAKPrevalensi pressure ulcer yang tinggi menimbulkan kerugian bagi banyak pihak dalam pelayanan perawatan akut dan jangka panjang. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan sikap dan pengetahuan dengan perilaku pencegahan pressure ulcer pada mahasiswa profesi keperawatan. Metode: Penelitian ini berdesain cross sectional, melibatkan 227 sampel dengan teknik consecutive sampling.  Penelitian menggunakan The Pressure Ulcer Knowledge Assessment Tool (PUKAT) 2.0, Attitude towards Pressure Ulcer Prevention (APuP), dan kuesioner perilaku yang valid dan reliabel. Analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi menggambarkan karakteristik responden, pengetahuan, sikap, dan perilaku. Analisis bivariat dengan uji Fisher exact dan chi square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa profesi memiliki pengetahuan masih kurang (53,7%), memiliki sikap yang baik (59%), dan sebagian besar memiliki perilaku melakukan tindakan pencegahan pressure ulcer (55,9%). Tidak ada hubungan signifikan antara pengetahuan dengan perilaku (p value = 0,071; α = 0,05), tetapi ada hubungan signifikan antara sikap dengan perilaku (p value= 0,010; α = 0,05). Diskusi: Sikap yang baik dipandang dapat menghindari terjadinya pressure ulcer. Pengetahuan tidak berpengaruh terhadap perilaku yang menandakan pengetahuan masih bersifat recall memory tentang materi yang dipelajari ketika tahap akademik.  Kesimpulan: Penelitian ini merekomendasikan agar institusi pendidikan merekonstruksi kurikulum, ujian teori preklinik, dan evaluasi berkala yang dilakukan pada tahap profesi.Kata Kunci: pengetahuan, perilaku pencegahan, pressure ulcer, sikap  Effects of Attitude and Knowledge on Pressure Ulcer Prevention Behavior ABSTRACTThe significant prevalence of pressure ulcers imposes detrimental consequences on various stakeholders within acute and long-term care services. Objective: This study aims to identify the correlation between attitude and knowledge with regard to pressure ulcer prevention behavior among nursing profession students. Methods: The research design employed in this study was cross-sectional, involving a sample size of 227 participants selected through the consecutive sampling technique. The data collection instruments included The Pressure Ulcer Knowledge Assessment Tool (PUKAT) 2.0, Attitude towards Pressure Ulcer Prevention (APuP) questionnaire, and validated and reliable behavior questionnaires. The univariate analysis entailed the use of frequency distribution to delineate the respondents' characteristics, knowledge levels, attitudes, and behaviors. The bivariate analysis consisted of Fisher's Exact test and Chi-square test. Results: The findings indicated that a majority of nursing profession students possess inadequate knowledge (53.7%), demonstrate positive attitudes (59%), and engage in pressure ulcer prevention behaviors to a considerable extent (55.9%). Notably, no statistically significant correlation was observed between knowledge and behavior (p-value=0.071; α=0.05); however, a significant correlation was found between attitude and behavior (p-value=0.010; α=0.05).  Discussion: This study highlights the pivotal role of positive attitudes in preventing pressure ulcers. Moreover, it is suggested that knowledge has limited influence on behavior, as it primarily relies on the recollection of information acquired during the academic phase. Conclusion: This study recommends educational institutions to reconstruct their curriculum, refine pre-clinical theory examinations, and implement regular evaluations during the professional stage.Keywords: knowledge, prevention behavior, pressure ulcer, attitude
HUBUNGAN RESILIENSI AKADEMIK DENGAN STRES, KECEMASAN, DAN DEPRESI REMAJA SMA DI MASA PANDEMI COVID-19 Afiffah, Nabila Putri; Wardani, Ice Yulia
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i1.366

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: Mengidentifikasi hubungan resiliensi akademik dengan stres, kecemasan, dan depresi remaja SMA di masa pandemi coronavirus disease (COVID-19). Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Responden sebanyak 412 remaja dengan kriteria inklusi yaitu remaja SMA yang melakukan belajar dari rumah selama pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan purposive samplingdan periode pengambilan data pada bulan November 2021. Instrumen yang digunakan yaitu Academic Resilience Scale (ARS-30) dan Depression Anxiety Stress Scale-21 (DASS-21). Analisis data yang digunakan ialah analisis bivariat dengan uji Sommers’d,  Hasil: Responden paling banyak berada pada kategori resiliensi akademik sedang, yaitu 286 orang (69,4%), tingkat stres dan depresi lebih banyak pada kategori normal, sedangkan tingkat kecemasan lebih banyak pada kategori sangat berat. Ada hubungan yang signifikan antara resiliensi akademik dengan stres, kecemasan, dan depresi pada remaja (p value < 0,05). Semakin rendah resiliensi akademik remaja, semakin tinggi tingkat gangguan mental seperti stres, kecemasan,dan depresi. Diskusi: Di masa pandemi ini, resiliensi akademik sangat berguna dalam menghadapi berbagai tantangan.  Remaja yang mempunyai resiliensi akademik rendah ialah mereka yang mempunyai tingkat kecemasan sangat berat. Ketahanan remaja di masa pandemi ini harus diupayakan agar dapat beradaptasi dan meningkatkan kesehatan psikologis remaja.  Kesimpulan: Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi kepada institusi pendidikan supaya memiliki program yang terstruktur untuk meningkatkan masalah kesehatan mental pada remaja seperti melakukan bimbingan konseling pada remaja, proses pembelajaran yang lebih efektif dan kondusif, serta model pembelajaran dan mengajar di sekolah yang dilakukan lebih bervariasi. Kata Kunci: depresi, kecemasan, remaja, resiliensi akademik, stres Correlation of Academic Resilience with Stress, Anxiety, and Depression among High School Adolescents During the Covid-19 Pandemic ABSTRACTObjective: to identify the correlation between academic resilience with stress, anxiety, and depression among high school adolescents during the COVID-19 pandemic. Methods: A quantitative descriptive method was employed in this study. The respondents included 412 adolescents who met the inclusion criteria of being high school students engaged in remote learning during the COVID-19 pandemic. Purposive sampling was used, and data collection was conducted in November 2021. The instruments utilized were the Academic Resilience Scale (ARS-30) and the Depression Anxiety Stress Scale-21 (DASS-21). Bivariate analysis employing the Somers'd test was performed to analyze the data. Results: the most respondents were in the category of moderate academic resilience, namely 286 people (69.4%), the levels of stress and depression were more in the normal category, while the anxiety level was more in the very severe category.  There was a significant correlation between academic resilience with stress, anxiety, and depression among adolescents (p-value < 0.05). The lower the academic resilience of adolescents, the higher the level of mental disorders such as stress, anxiety and depression. Discussion: During this pandemic, academic resilience is very useful in facing various challenges. Adolescents who have low academic resilience are those who have very high levels of anxiety. Adolescent resilience during this pandemic must be sought so that they can adapt and improve the psychological health of adolescents. Conclusion: The results of this study provide valuable insights for educational institutions to have a structured programs to address the mental health concerns of adolescents, including counseling guidance, more effective and conducive learning processes, and diverse teaching and learning models in schools.Keywords: depression, anxiety, adolescents, academic resilience, stress
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI SKRINING KANKER SERVIKS DI INDONESIA: SCOPING REVIEW Maryati, Ida; Pratiwi, Sri Hartati; Estiqomah, Yuli
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i1.404

Abstract

ABSTRAKIndonesia sudah menetapkan program skrining kanker serviks. Namun, program skrining kanker serviks di Indonesia belum mencapai target. Banyak faktor yang dapat memengaruhi sehingga perlu adanya identifikasi lebih lanjut untuk mengetahui hal tersebut. Tujuan penelitian: untuk memetakan faktor-faktor yang memengaruhi penerapan skrining kanker serviks pada wanita. Metode: scoping review dengan mencari melalui Google Scholar, EBSCO, PubMed, dan ProQuest. Kata kunci yang digunakan antara lain “woman” OR “women” OR “female” OR “females” AND “cervical cancer screening”,“motivation” OR “participation”,“barrier” OR “challenges”,“influence factors”, terbit tahun 2017 hingga 2020, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, teks lengkap, penelitian kuantitatif, kualitatif, dan tinjauan sistematis. Critical appraisal yang digunakan dalam penelitian ini ialah JBI Form Checklist untuk penelitian cross sectional, kualitatif, dan systematic review.  Hasil: delapan belas artikel ditemukan dan digunakan dalam studi literatur, dengan mayoritas berasal dari Asia (77,7%).  Terdapat 23 faktor, kemudian dikelompokkan ke dalam 4 kelompok faktor antara lain faktor demografi dan biologi yang meliputi tempat tinggal, usia, pekerjaan, pendapatan, usia menikah, tingkat pendidikan, asuransi kesehatan, dan riwayat kesehatan; faktor kognitif antara lain rendahnya pengetahuan tentang kanker serviks, skrining, dan faktor risikonya; faktor emosional termasuk rasa malu; faktor sosial budaya yang meliputi dukungan dari pemberi pelayanan kesehatan, keluarga, relawan kesehatan masyarakat, otoritas dalam keluarga; dan faktor infrastruktur seperti akses informasi. Diskusi: skrining kanker serviks pada wanita dibangun oleh berbagai faktor.  Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan primer diharapkan mampu mengoptimalkan pelayanan dan penyebarluasan informasi deteksi dini kanker serviks.  Kesimpulan: penelitian selanjutnya agar lebih fokus mengidentifikasi salah satu faktor pengaruh serta penanggulangan faktor tersebut. Kata Kunci: kanker serviks, scoping review, skrining Factors Influencing Cervical Cancer Screening in Indonesia: A Scoping Review ABSTRACTCervical cancer screening programs have been established in Indonesia; however, these programs have not yet reached their intended targets. Multiple factors can impact the successful implementation of cervical cancer screening, highlighting the need for further identification and understanding of these factors. Objective: to map the factors that influence the implementation of cervical cancer screening among women. Methods: A scoping review was conducted using the databases Google Scholar, EBSCO, PubMed, and ProQuest. The search employed keywords such as "woman" OR "women" OR "female" OR "females" AND "cervical cancer screening", "motivation" OR "participation", "barrier" OR "challenges", "influence factors", with the inclusion criteria of studies published between 2017 and 2020, in either Indonesian or English languages, with full-text availability. The review encompassed quantitative, qualitative, and systematic review studies. The critical appraisal used in this study is the JBI form checklist for cross-sectional, qualitative, and systematic studies.  Results: Eighteen articles were included in the literature analysis, with the majority originating from Asia (77.7%).  Through thematic analysis, twenty-three factors were identified and categorized into four groups: demographic and biological factors (e.g., place of residence, age, occupation, income, age at marriage, education level, health insurance, and health history); cognitive factors (e.g., insufficient knowledge about cervical cancer, screening, and risk factors); emotional factors (e.g., feelings of shame); sociocultural factors (e.g., support from healthcare providers, family, community health volunteers, and authority within the family); and infrastructure factors (e.g., access to information). Discussion: Cervical cancer screening among women is influenced by various factors. Primary healthcare facilities, such as community health centers (puskesmas), are expected to optimize services and disseminate information on early detection of cervical cancer. Conclusion: further research to focus more on identifying one of the influencing factors and overcoming these factors.Keywords: Cervical cancer, scoping review, screening
PENGARUH HIPNOSIS LIMA JARI TERHADAP TINGKAT NYERI DAN KECEMASAN PADA PASIEN KANKER KOLOREKTAL: STUDI KASUS Harisandy, Alvian; Harahap, Nurlelasari; Nurmalasari, Nurmalasari; Gayatri, Dewi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i1.374

Abstract

ABSTRAKLiteratur perawatan paliatif menunjukkan peningkatan besar dalam munculnya intervensi nonfarmakologis untuk menangani masalah fisik,psikologis, psikososial, dan spiritual pasien yang mengalami penyakit terminal. Salah satu intervensi non-farmakologis untuk mengontrol tingkat nyeri dan kecemasan pada pasien dengan penyakit terminal yaitu hipnosis lima jari. Tujuan penelitian: Mengevaluasi penurunan skala nyeri dan kecemasan setelah dilakukan intervensi hipnosis lima jari. Metode: Studi kasus ini menggunakan demonstrasi secara langsung dan teknik purposive sampling bertujuan untuk mengambil sampel berdasarkan seleksi khusus dengan kriteria inklusi pasien lansia yang mengalami kanker. Intervensi ini diberikan kepada Tn. A (63 tahun) dengan diagnosis medis kanker kolorektal.  Instrumen Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan Visual Analogue Scale (VAS) digunakan sebagai pre-test dan post-test setelah dilakukan hipnosis lima jari selama 10 - 15 menit setiap kali pertemuan selama 1 minggu. Hasil: Studi kasus ini menunjukkan bahwa pasien mengalami penurunan skala nyeri rata-rata 1 poin setelah dilakukan intervensi danpenurunan tingkat kecemasan sebanyak 6 poin setelah dilakukan intervensi selama 1 minggu. Diskusi: Hipnosis lima jari dapat memengaruhi sistem limbik dan saraf otonom, menciptakan suasana rileks, aman, dan menyenangkan sehingga merangsang pusat rasa ganjaran dan pelepasan substrat kimia Gamma Amino Butyric Acid (GABA), enkephalin, dan β endorphin yang mengeliminasi neurotransmiter rasa nyeri. Kesimpulan: Perawat diharapkan dapat memberikan intervensi hipnosis lima jari kepada pasien kanker kolorektal untuk membantu mengurangi tingkat nyeri dan kecemasanKata Kunci: hipnosis lima jari, intervensi nonfarmakologis, kanker kolorektal, perawatan paliatif Effect of Five-Finger Hypnosis on Pain and Anxiety Levels in Colorectal Cancer Patients: A Case Study ABSTRACTThe literature on palliative care has exhibited a significant rise in the utilization of non-pharmacological interventions to address the physical, psychological, psychosocial, and spiritual challenges encountered by patients with terminal illnesses. Among these interventions, five-finger hypnosis has been employed as a non-pharmacological approach to manage pain and anxiety levels in patients with terminal diseases. Objective:  to assess the extent to which pain and anxiety scales were reduced after implementing the five-finger hypnosis intervention. Methods: This case study utilized direct demonstration and purposive sampling techniques to select suitable participants meeting the inclusion criteria, namely elderly patients with cancer. The intervention was administered to Mr. A, a 63-year-old individual diagnosed with colorectal cancer. The Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) and Visual Analogue Scale (VAS) were utilized as pre-test and post-test instruments, administered after each session of five-finger hypnosis lasting approximately 10-15 minutes, and implemented over a one-week period. Results: This case study indicated that the patient experienced an average reduction of 1 point on the pain scale and a decrease of 6 points in anxiety levels following the one-week intervention. Discussion:  The five-finger hypnosis can influence the limbic system and autonomic nerves, thereby fostering a state of relaxation, safety, and contentment. This, in turn, stimulates the reward center and triggers the release of various chemical substances, including Gamma Amino Butyric Acid (GABA), enkephalin, and β-endorphin, which act to alleviate pain neurotransmitters. Conclusion: It is recommended that nurses consider incorporating five-finger hypnosis interventions as part of their care provision for patients with colorectal cancer, as it can contribute to reducing pain and anxiety levels experienced by these individuals.Keywords: five-finger hypnosis, non-pharmacological interventions, colorectal cancer, palliative care
PREDIKSI KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH DI UPT PUSKESMAS RAWAT INAP ALABIO Santoso, Bagus Rahmat; Gaghauna, Eirene Eunike Meidiana; Akbar, Ilham
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i1.360

Abstract

ABSTRAKPenyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyebab nomor satu kematian secara global. Tindakan pencegahan penyakit jantung dan pembuluh darah dapat dilakukan dengan pengendalian faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah yang dapat diubah. Salah satu upaya pencegahan, pengendalian, dan tata laksana dapat menggunakan Carta Prediksi Faktor Risiko WHO (SEAR B). Tujuan: Mengetahui prediksi kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah dengan menggunakan Carta Prediksi Faktor Risiko WHO (SEAR B) di UPT Puskesmas Rawat Inap Alabio. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Sampel adalah pasien hipertensi di UPT Puskesmas Rawat Inap Alabio pada bulan November–Desember 2021 yang berjumlah 78 orang, sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data menggunakan lembar observasi Carta Prediksi Faktor Risiko (SEAR B) dan analisis data secara univariat. Hasil: Analisis menggunakan analisis Carta Prediksi Faktor Risiko WHO (SEAR B), sebagian besar responden memiliki risiko rendah atau berwarna hijau = < 10% sebanyak 57 orang (73,1%). Sangat sedikit responden berada pada risiko tinggi atau oranye = 20%–< 30% dan sangat tinggi atau merah = 30–< 40%, yaitu sama-sama sebanyak 2 orang (2,6%). Diskusi: Pengobatan secara rutin dapat dilakukan karena merupakan salah satu pilar utama untuk mengontrol kadar gula darah, tekanan darah, lipid, dan berat badan sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi dan menurunkan risiko kejadian penyakit kardiovaskular. Kesimpulan: Pasien dapat melakukan upaya preventif dan pengobatan secara rutin untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.Kata Kunci: Carta, hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah Prediction of Incidence of Heart and Vascular Diseases in Technical Implementation Unit of Alabio Inpatient Public Health Center ABSTRACTHeart and vascular diseases are the number one cause of death globally. Heart and vascular diseases can be prevented by controlling modifiable risk factors for heart and vascular diseases. One of the prevention, control, and management efforts is the WHO Risk Factor Prediction Chart (SEAR B). Objective: To identify the prediction of the incidence of heart and vascular diseases by using the WHO Risk Factor Prediction Chart (SEAR B) at the Technical Implementation Unit of Alabio Inpatient Public Health Center. Methods: This research employed a descriptive-analytic method with a cross-sectional design. Samples were hypertension patients at the Technical Implementation Unit of Alabio Inpatient Public Health Center in November-December 2021, numbering 78 people. The samples were taken using a purposive sampling technique. Data were collected using the Risk Factor Prediction Chart observation sheet (SEAR B) and analyzed univariately. Results: The results of analysis using the WHO Risk Factor Prediction Chart analysis (SEAR B) indicated that most respondents had low risk or green = <10%, 57 people (73.1%). Very few respondents were at high risk or orange = 20% – < 30% and very high risk or red = 30–< 40%, both of which occurred in 2 samples (2.6%). Discussion: Routine treatment can be given because it is one of the main pillars for controlling blood sugar levels, blood pressure, lipids, and body weight to prevent complications and reduce the risk of cardiovascular disease incidence. Conclusion: Patients can take preventive measures and routine treatment to reduce the risk of cardiovascular diseases.Keywords: Chart, hypertension, heart and vascular diseases
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP TINGKAT STRES SISWA SMP DI JAKARTA TIMUR Fitriyani, Fadillah Nur; Mustikasari, Mustikasari
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i2.471

Abstract

ABSTRAKDukungan sosial dan kecerdasan emosional diperlukan oleh remaja agar mampu mengelola stresnya menjadi respons adaptif dan tidak berkepanjangan. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan dukungan sosial dan kecerdasan emosional dengan tingkat stres pada siswa SMP Negeri di Jakarta Timur. Metode: Penelitian cross sectional pada 426 siswa SMP di Jakarta Timur dengan kriteria inklusi siswa SMP Negeri di Kecamatan Ciracas dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling pada bulan Januari sampai April 2022. Kuesioner menggunakan Depression Anxiety Stress Scale (DASS); The Social Support Questionnaire; dan Wong and Law Emotional Intelligence Scale(WLEIS). Analisis data dengan analisis univariat dan bivariat (uji chi square).  Hasil: Penelitian menunjukkan tingkat dukungan sosial dan tingkat kecerdasan emosional baik tinggi maupun rendah memiliki nilai mendekati sama; hanya 41,8% responden memiliki tingkat stres normal. Terdapat hubungan yang signifikan antara variabel dukungan sosial dengan tingkat stres (p = 0,001), dan variabel kecerdasan emosional dengan tingkat stres (p=0,013). Diskusi: Dukungan sosial yang tinggi dan kecerdasan emosional individu yang tinggi dapat menurunkan stres siswa SMP di Jakarta Timur. Kesimpulan: Temuan penelitian ini dapat membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga siswa dapat menjadi lebih aware terhadap permasalahan yang mengganggu fisik dan psikologisnya.Kata Kunci: dukungan sosial, kecerdasan emosional, siswa SMP, tingkat stres Correlation of Social Support and Emotional Intelligence with Level of Stress Among Junior High School Students in East Jakarta ABSTRACTSocial support and emotional intelligence are essential for adolescents to manage their stress as adaptive and not prolonged responses effectively. Objective: This research aims to identify the correlation of social support and emotional intelligence with the stress level among public junior high school students in East Jakarta. Methods: A cross-sectional study was conducted on 426 junior high school students in East Jakarta with inclusion criteria of students from public junior high schools in the Ciracas Subdistrict, using stratified random sampling from January to April 2022. Questionnaires used in this research included the Depression Anxiety Stress Scale (DASS), The Social Support Questionnaire, and the Wong and Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS). Data were analyzed using univariate and bivariate analysis (chi-square test). Results: The research revealed that high and low levels of social support and emotional intelligence had nearly equal values, with only 41.8% of respondents experiencing a normal stress level. There was a significant correlation between the variables of social support and stress levels (p=0.001) and the variables of emotional intelligence and stress levels(p=0.013). Discussion: High social support and high individual emotional intelligence can reduce stress levels among junior high school students in East Jakarta. Conclusion: The findings of this research can assist nurses in providing appropriate nursing care tailored to the needs of students, enabling them to become more aware of issues affecting their physical and psychological well-being.Keywords: emotional intelligence, junior high school students, stress levels, social support