cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 205 Documents
PENERAPAN INTERVENSI PSIKOEDUKASI DAN KONSELING DALAM MENGHADAPI PUBERTAS PADA REMAJA AWAL: STUDI KASUS Sadewa, Deskantari Murti Ari; Hapsari, Elsi Dwi; Nisman, Wenny Artanty
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v9i2.583

Abstract

ABSTRAKPerubahan fisik, sosial, dan psikologis saat pubertas berisiko menyebabkan kecemasan pada remaja awal terutama apabila tidak diikuti dengan masukan pengetahuan yang cukup. Tujuan penelitian: studi kasus ini bertujuan untuk mengeksplorasi intervensi keperawatan mandiri yang sesuai untuk diterapkan pada remaja yang menghadapi pubertas. Keluhan utama pasien: Pendekatan studi kasus diterapkan untuk menangani masalah klien An. AR, 13 tahun, perempuan, dengan keluhan kecemasan ekstrem, kurang informasi, dismenorea, dan gatal pada saat menggunakan pembalut. Intervensi yang dilakukan berupa tiga kali psikoedukasi dan dua kali konseling yang dilaksanakan selama lima minggu dengan media edukasi yang beragam berupa handout materi, video edukasi, selebaran, poster, dan buklet. Kegiatan dilaksanakan secara daring dengan durasi 30–60 menit setiap sesi. Hasil: Pengukuran variabel pengetahuan dan kecemasan sebagai evaluasi diukur sebelum dan setelah intervensi dengan menggunakan instrumen pengetahuan (rata-rata pre = 48, rata-rata post = 88) dan instrumen kecemasan General Anxiety Disorder-7 (GAD-7) (pre = 19 [ekstrem], post = 11[sedang]). Skor dismenorea diukur dengan menggunakan skala VAS (pre = 7 [berat], post = 4[sedang]). Kesimpulan: Berdasarkan hasil tindak lanjut intervensi keperawatan yang telah dilakukan pada klien, terdapat perkembangan yang baik sejalan dengan bukti ilmiah yang ada, yakni terjadi peningkatkan nilai skor pengetahuan, penurunan nilai skor kecemasan pada klien, penurunan skor dismenorea, dan penurunan keluhan gatal akibat penggunaan pembalut. Studi ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris perihal intervensi keperawatan yang dapat digunakan untuk memfasilitasi remaja dalam mengurangi kecemasan akibat pubertas dan meningkatkan pengetahuan terkait dengan kesehatan reproduksi. Kata Kunci: kecemasan, konseling, pengetahuan, psikoedukasi, pubertas Application of Psychoeducation and Counseling Interventions in Dealing with Puberty in Early Adolescents: A Case Study ABSTRACT               Physical, social and psychological changes during puberty could cause anxiety in early adolescents, especially if they are not equipped with sufficient knowledge input. Objective: This case study is needed to explore independent nursing interventions that are suitable for application to adolescents. Patient’s main complaint: A case study approach was carried out toward client's problem. AR, female, 13 years old, with complaints of extreme anxiety, lack of information, dysmenorrhoea, and itching when using sanitary napkins. The intervention carried out was three times psychoeducation and two times counseling which was carried out for five weeks using various educational media in the form of power points, educational videos, leaflets, posters and booklets. Activities are carried out online with a duration of 30–60 minutes per session. Results: Measurement of knowledge and anxiety variables as an evaluation was measured before and after the intervention using the knowledge instrument (average pre = 48, average post = 88) and the General Anxiety Disorder-7 (GAD-7) anxiety instrument (pre = 19 [extreme], post = 11[medium]). Dysmenorrhoea score was measured using the VAS scale (pre = 7 [severe], post = 4 [moderate]). Conclusion: Based on the results of follow-up nursing interventions that have been carried out on client, it shows that there is good progress in line with existing scientific evidence, where there is an increase in knowledge scores, a decrease in anxiety scores in client, a decrease in dysmenorrhoea scores, and a decrease in complaints of itching due to the use of sanitary napkins. This study is expected to provide empirical evidence on nursing interventions that can be used to facilitate adolescents in reducing anxiety due to puberty and increasing knowledge related to reproductive health. Keywords: anxiety, counseling, knowledge, psychoeducation, puberty
PENGETAHUAN GURU SEKOLAH LUAR BIASA TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA PADA CEDERA: A SCOPING REVIEW Ikhsan, Raodah Tul; Setiyarini, Sri
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 9, No 3 (2024)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v9i3.599

Abstract

ABSTRAK Sekitar lima dari seratus siswa penyandang disabilitas mengalami cedera setiap tahunnya di sekolah. Guru adalah penanggung jawab anak-anak yang berada di lingkungan sekolah sehingga setiap guru perlu dan harus mampu memberikan pertolongan pertama pada anak ketika mengalami cedera atau kondisi buruk di lingkungan sekolah. Tujuan: Menganalisis pengetahuan guru sekolah luar biasa tentang pertolongan pertama pada cedera. Metode: Scoping review dengan pencarian artikel menggunakan empat database, yaitu Proquest, EBSCOHost, Scopus, dan Wiley Online serta melalui Google Scholar dan manual search melalui Google. Kriteria inklusi antara lain (1) subjek penelitian adalah guru sekolah luar biasa; (2) membahas hal terkait pertolongan pertama; (3) literatur berupa artikel ilmiah yang dipublikasi dalam 12 tahun terakhir (2013–2024); (4) open access; (5) artikel dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia; dan (6) penelitian dengan metode kuantitatif atau kualitatif. Seleksi artikel menggunakan diagram PRISMA flow. Rayyan Ai digunakan untuk melakukan proses penjaringan artikel yang duplikat dan membantu proses seleksi artikel. Hasil: Sebanyak enam artikel memenuhi kriteria untuk dilakukan analisis. Sebagian besar artikel menjelaskan bahwa pengetahuan guru terkait pertolongan pertama masih rendah (66,6%), sebagian besar responden belum pernah mendapatkan pelatihan pertolongan pertama (50%), dan umumnya jenis pertolongan pertama di lingkungan sekolah adalah kasus cedera dan kegawatdaruratan medis (83,3%). Diskusi: Rendahnya pengetahuan guru sekolah luar biasa dalam memberikan pertolongan pertama dapat menghambat pemberian pertolongan pertama di sekolah. Adanya beberapa program, seperti pelatihan pertolongan pertama berupa edukasi dan praktik skill dapat meningkatkan pengetahuan guru terkait pertolongan pertama. Kesimpulan: Tingkat pengetahuan pertolongan pertama pada guru sekolah luar biasa mayoritas rendah. Direkomendasikan adanya program pelatihan pertolongan pertama dan pedoman yang dapat dimanfaatkan guru dalam memberikan pertolongan kepada siswa.   Kata Kunci: guru sekolah luar biasa, pengetahuan, pertolongan pertama cedera Special Needs School Teachers’ Knowledge of First Aid for Injuries: A Scoping Review ABSTRACT  Approximately five out of every 100 students with disabilities experience injuries annually in schools. Teachers are responsible for children under their supervision at school, making it essential for every teacher to possess the skills and ability to provide first aid when children experience injuries or adverse conditions at school. Objective: To analyze the knowledge of special needs school teachers regarding first aid for injuries. Methods: A scoping review was conducted by searching articles across four databases: ProQuest, EBSCOHost, Scopus, and Wiley Online, as well as Google Scholar and manual searches via Google. Inclusion criteria included: (1) study subjects being special needs school teachers; (2) discussing first aid; (3) literature in the form of scholarly articles published within the last 12 years (2013–2024); (4) open access; (5) articles written in English or Indonesian; and (6) studies using quantitative or qualitative methods. Article selection was guided by the PRISMA flow diagram. Rayyan AI was used to screen duplicate articles and assist in the article selection process. Results: Six articles met the criteria for analysis. Most articles revealed that teachers' knowledge of first aid was low (66.6%), the majority of respondents had never received first aid training (50%), and common first aid cases in schools included injuries and medical emergencies (83.3%). Discussion: Limited knowledge among special needs school teachers regarding first aid may hinder the provision of appropriate care in schools. Several programs, such as training that incorporates education and practical skills, can enhance teachers' knowledge of first aid. Conclusion: The majority of special needs school teachers have low levels of knowledge about first aid. It is recommended to implement first aid training programs and provide guidelines to support teachers in providing aid for students effectively.   Keywords: special needs school teachers, knowledge, first aid for injuries
Hubungan Asuhan Keperawatan Ortopedi dengan Tingkat Kepuasan Pasien di RSU Adhyaksa Maliki, Maliki; Aprisunadi, Aprisunadi; Susanti, Fajar; Kalsum, Umi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v9i1.565

Abstract

Gangguan muskuloskeletal merupakan penyebab kecacatan paling umum nomor dua di dunia. Di RSU Adhyaksa gangguan muskuloskeletal banyak terjadi mulai dari kasus anak, dewasa hingga lansia. Berdasarkan hal tersebut, asuhan keperawatan ortopedi yang diberikan harus sesuai dengan standar sehingga akan dapat meningkatkan pelayanan yang diberikan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asuhan keperawatan ortopedi dengan tingkat kepuasan pasien di RSU Adhyaksa. Metode: metode penelitian ini bersifat kuantitatif, desain penelitian menggunakan deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang sudah dilakukan uji validitas sebelum digunakan. Sampel penelitian ini sebanyak 65 responden dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil: Diketahui terdapat 87,7% pasien mempersepsikan asuhan keperawatan ortopedi telah dilaksanakan dengan baik serta 86,6% pasien menyatakan puas terhadap layanan yang diberikan. Pada analisis lanjut disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara asuhan keperawatan ortopedi dengan kepuasan pasien ortopedi (p: 0,001, α: 0,05). Asuhan keperawatan oropedi yang baik berpeluang 22 kali terhadap kepuasan pasien dibanding asuhan keperawatan yang kurang baik (95% CI OR: 3,82; 127,78). Diskusi: Penelitian ini mendukung temuan penelitian lain yang menyatakan bahwa asuhan keperawatan yang baik akan meningkatkan kepuasan pasien terhadap mutu layanan keperawatan. Pelayanan yang baik akan membuat pasien merasa puas terhadap asuhan keperawatan yang diberikan. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan adanya hubungan yang bermakna antara asuhan keperawatan ortopedi dengan Tingkat kepuasan pasien. Penelitian ini merekomendasikan bahwa dibutuhkan penelitian lanjutan dengan desain intervensi berkaitan dengan peningkatan mutu asuhan keperawatan sehingga kepuasan pasien dapat semakin meningkat.Kata Kunci: asuhan keperawatan ortopedi, kepuasan pasien, perawat Correlation Between Orthopedic Nursing Care and Patient Satisfaction Levels at Adhyaksa General Hospital ABSTRACT Musculoskeletal disorders are the second most common cause of disability worldwide. At Adhyaksa General Hospital, these disorders frequently occur across age groups, from children to the elderly. Based on this, orthopedic nursing care provided should align with standards to enhance service quality. Objective: To identify the correlation between orthopedic nursing care and patient satisfaction levels at Adhyaksa General Hospital. Methods: This quantitative study used a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. Data were collected using a validated questionnaire. The sample comprised 65 respondents selected through total sampling. Data analysis was conducted using the chi-square test. Results: The findings indicate that 87.7% of patients perceive orthopedic nursing care as well-executed, and 86.6% report satisfaction with the services provided. Further analysis concluded a significant correlation between orthopedic nursing care and orthopedic patient satisfaction (p: 0.001, α: 0.05). High-quality orthopedic nursing care was found to increase the likelihood of patient satisfaction by 22 times compared to lower-quality care (95% CI OR: 3.82; 127.78). Discussion: This study supports previous findings, indicating that good nursing care enhances patient satisfaction with the quality of nursing services, as positive care experiences contribute to patient satisfaction. Conclusion: The study concludes a significant correlation between orthopedic nursing care and patient satisfaction levels. It recommends further research with an intervention design focused on improving nursing care quality to further enhance patient satisfaction.Keywords: Orthopedic Nursing Care, Patient Satisfaction, Nurse
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN PEMBATASAN CAIRAN PADA PASIEN CKD HEMODIALISIS DI RS PUSDOKKES POLRI Teguhandany, Fefyayu; Aprisunadi, Aprisunadi; Jamiatun, Jamiatun; Susanti, Fajar
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v9i2.564

Abstract

ABSTRAKKepatuhan pasien dalam pembatasan cairan dipengaruhi beberapa faktor salah satunya dukungan keluarga. Keberadaan keluarga mampu memberikan dukungan yang sangat bermakna pada pasien di saat pasien menghadapi masalah kesehatannya. Tujuan penelitian: mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien chronic kidney disease (CKD) yang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Bhayangkara TK. I Pusdokkes Polri. Metode: penelitian ini bersifat kuantitatif, desain penelitian menggunakan deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dukungan keluarga yang sudah dilakukan uji validitas sebelum digunakan dan lembar observasi pembatasan cairan yang sudah baku. Populasi sebanyak seratus pasien dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 88 responden yang dihitung menggunakan rumus Slovin dengan tingkat signifikansi yang digunakan 0,05. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil: karakteristik usia paling banyak yaitu lansia awal sebanyak 27 orang (30,7%), tingkat pendidikan paling banyak di tingkat menengah yaitu 51 orang (58,0%), pengalaman hemodialisis < 5 tahun sebanyak 59 orang (67,0%). Hasil penelitian ini juga menunjukkan dukungan keluarga pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis sebagian besar baik yaitu sebanyak 57 (64,8%) sedangkan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien CKD sebagian besar patuh sebanyak 61 (69,3%). Hasil uji statistik menunjukkan p-value 0,000 < α 0,05 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Bhayangkara TK. I Pusdokkes Polri. Kesimpulan: dukungan keluarga merupakan faktor dominan dalam memengaruhi kepatuhan pasien. Dengan dukungan keluarga yang baik, pasien akan merasa senang dan tentram dalam menghadapi dan menjalani pengobatannya. Kata Kunci: dukungan keluarga, chronic kidney disease, hemodialisis, pembatasan cairan ABSTRACTBackground: Patient compliance in complying with fluid restrictions is influenced by several factors, one of which is family support. The presence of the family is able to provide very meaningful support to the patient when the patient is facing health problems. Research Objective: to determine the relationship between family support and compliance with fluid restrictions in CKD patients undergoing hemodialysis at the Bhayangkara TK.I Pusdokkes Polri Hospital. Method: This research used descriptive correlational with a cross-sectional approach. Data were collected using a family support questionnaire which had been tested for validity before use and a standardized fluid restriction observation sheet. The sample for this study was 88 respondents with a population of 100 patients which was calculated using the Slovin formula with a significance level used of 0.05, the sampling technique used simple random sampling. Data analysis used the chi square test. Results: The results of this study showed that the most common age characteristics were early elderly, 27 people (30.7%), the highest level of education was middle, namely 51 people (58.0%), hemodialysis experience < 5 years, 59 people (67.0%). The results of this study also show that most of the family support in CKD patients undergoing hemodialysis has good family support, namely 57 (64.8%) while the majority of CKD patients comply with fluid restrictions, 61 (69.3%) according to statistical test results. This shows a p-value of 0.000 < α 0.05, which means there is a significant relationship between family support and compliance with fluid restrictions in CKD patients undergoing hemodialysis at the Bhayangkara TK.I Pusdokkes Polri Hospital. Conclusion: family support is the dominant factor in influencing patient compliance, with good family support the patient will feel happy and at ease in facing and undergoing treatment. Keywords: family support, chronic kidney disease, hemodialysis, fluid restriction
EXPLORING THE RELATIONSHIPS BETWEEN PSYCHOLOGICAL CHANGES, SLEEP QUALITY, AND HYPERTENSION AMONG COMMUNITY-DWELLING ELDERLY Natashia, Dhea; Rahma, Pricelia Alifa; Fitria, Dian; Syamsir, Syamikar Baridwan; Irawati, Diana
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 9, No 3 (2024)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v9i3.618

Abstract

Objective: to examine the relationship between psychological changes and sleep quality with the incidence of hypertension in the elderly.Method: This cross-sectional study, conducted with a purposive sample of 126 elderly participants, assessed psychological changes using the Depression, Anxiety, and Stress Scale (DASS-42) questionnaire and sleep quality using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire. Blood pressure was measured using a sphygmomanometer to assess hypertension. Data analysis included independent t-tests and chi-square tests, with logistic regression used to identify predictors of hypertension. Results: The independent t-test revealed significant differences in stress levels between participants with and without hypertension (t = -6.614, p = 0.020). Similarly, significant differences in depression levels were observed between these two groups (t = -0.044, p = 0.014). Elderly individuals with poor sleep quality had a 5 times higher risk of experiencing hypertension (OR = 4.625, p = 0.008). Multivariate analysis indicated that age was a predictor of hypertension incidence (β = 0.208, p = 0.004), and sleep quality was also a predictor (β = -1.501, p = 0.023). Discussion: The findings suggest that psychological factors and sleep quality influence hypertension development in the elderly, likely through physiological mechanisms such as heightened sympathetic activity and vascular stress. These results highlight the importance of addressing both psychological health and sleep quality in managing hypertension risk. Conclusion: Sleep quality is a predictor of hypertension incidence in the elderly. Those with poor sleep quality have a 5 times greater risk of developing hypertension compared to those with good sleep quality. Keywords: elderly, hypertension, psychological changes, sleep quality
Efektivitas Ekstrak Bunga Telang (Clitoria Ternatea L.) untuk Menurunkan Kadar Gula Darah: Literature Review Mendrofa, Deskrisman Stefan; Zega, Angenia Itoniat; Karota, Evi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v9i1.586

Abstract

Hiperglikemia merupakan kondisi peningkatan glukosa darah melebihi batas normal dan menjadi masalah penyakit diabetes yang memerlukan penatalaksanaan yang cepat dan tepat. Bunga telang menjadi salah satu terapi alternatif untuk menurunkan glukosa darah penderita diabetes. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mencari data tentang efektivitas ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L.) yang merupakan antidiabetes untuk menurunkan KGD penderita diabetes sebagai terapi pendamping berbahan herbal Metode: Penelusuran literatur review dengan pencarian artikel ilmiah menggunakan tiga database elektronik, yaitu Google Scholar, Science Direct, dan Proquest. Artikel yang terseleksi sebagai sumber literatur berdasarkan beberapa kriteria inklusi, publikasi artikel lima tahun terakhir (Januari 2019–Maret 2024), dan membahas efektivitas bunga telang sebagai antidiabetes yang dipublikasikan pada jurnal terakreditasi nasional dan jurnal bereputasi internasional. Analisis data dilakukan dengan ekstraksi research evidence efikasi klinis efektivitas bunga telang terhadap penurunan kadar glukosa darah. Hasil: Delapan artikel menunjukkan hasil uji ekstrak bunga telang berpengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah melalui peningkatkan produksi dan sekresi insulin sehingga dapat menurunkan glukosa darah. Hasil uji juga meningkatkan serum CAT, SOD, dan bermanfaat sebagai antioksidan, antiinflamasi, serta menurunkan sel nekrotik. Diskusi: Bunga telang dapat digunakan sebagai terapi alternatif antidiabetes yang memiliki potensi produksi dan sekresi insulin untuk menurunkan KGD penderita diabetes serta mencegah meluasnya kerusakan fungsi pankreas. Namun demikian, studi ini masih terbatas pada percobaan hewan. Kesimpulan: Ekstrak bunga telang efektif sebagai antidiabetes untuk menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi efek terapi ekstrak bunga telang terhadap penderita diabetes di masyarakat.Kata Kunci: antidiabetes, ekstrak bunga telang, kadar glukosa darah EFFECTIVENESS OF BUTTERFLY PEA FLOWER EXTRACT (CLITORIA TERNATEA L.) IN LOWERING BLOOD GLUCOSE LEVELS: A LITERATURE REVIEW ABSTRACT Hyperglycemia, characterized by elevated blood glucose levels beyond normal limits, is a condition requiring rapid and appropriate management, especially for diabetes patients. Butterfly pea flower has emerged as an alternative therapy to help lower blood glucose in diabetes patients. Objective: To review data on the effectiveness of butterfly pea flower extract (Clitoria Ternatea L.), an herbal antidiabetic agent, in lowering blood glucose levels (BGL) among diabetes patients as a complementary therapy. Methods: A literature review was conducted by searching scientific articles across three electronic databases: Google Scholar, Science Direct, and Proquest. Articles selected as literature sources met the inclusion criteria, which included publication within the past five years (January 2019–March 2024) and discussions on the effectiveness of butterfly pea flower as an antidiabetic, published in nationally accredited and internationally reputable journals. Data analysis involved extracting research evidence on the clinical efficacy of butterfly pea flower in reducing blood glucose levels. Results: Eight studies indicated that butterfly pea flower extract significantly reduced blood glucose levels by enhancing insulin production and secretion, leading to decreased blood glucose levels. The trials also showed an increase in serum CAT and SOD levels, with antioxidant, anti-inflammatory benefits, and reduced necrotic cells. Discussion: Butterfly pea flower can serve as an alternative antidiabetic therapy, with potential to stimulate insulin production and secretion to lower BGL in diabetes patients and to prevent extensive pancreatic damage; however, current studies are limited to animal trials. Conclusion: Butterfly pea flower extract is effective as an antidiabetic agent in lowering blood glucose levels in diabetes patients. Further research is needed to evaluate the therapeutic effects of butterfly pea flower extract in the diabetic population.Keywords: antidiabetic, butterfly pea flower extract, blood glucose levels
EFEKTIVITAS PELATIHAN 3S (SDKI, SLKI, SIKI) PADA PERAWAT PELAKSANA TERHADAP KESESUAIAN PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RS X JAKARTA DAN BOGOR Wahyuliati, Tri; Novita, Regina Vidya Trias; Supardi, Sudibyo
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v9i2.579

Abstract

ABSTRAKPendokumentasian asuhan keperawatan menggunakan 3S, yaitu SDKI, SLKI, dan SIKI yang baik dan benar merupakan syarat medico-legal yang sangat penting dalam praktik keperawatan yang aman, etis, dan efektif. Namun, implementasi dokumentasi keperawatan yang belum sesuai dengan standar 3S masih banyak ditemukan. Tujuan penelitian: mengetahui efektivitas pelatihan 3S terhadap peningkatan pendokumentasian asuhan keperawatan. Metode: quasi experimental two groups pretest posttest with control. Responden dipilih menggunakan consecutive sampling dan kriteria inklusi untuk merekrut 33 partisipan intervensi dan 28 kontrol. Kuesioner dan tools audit asuhan keperawatan digunakan untuk mengumpulkan data. Data dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil: Terdapat efektivitas pelatihan 3S (p = 0,000) terhadap peningkatan kesesuaian pendokumentasian asuhan keperawatan secara statistik bermakna. Pelatihan asuhan keperawatan 3S berpengaruh signifikan terhadap pemberian asuhan keperawatan sesuai dengan standar 3S. Setelah pelatihan 3S, perawat yang berpendidikan nersmempunyai kemungkinan tiga kali kesesuaian pendokumentasian meningkat dibandingkan dengan D-3 keperawatan, dikontrol variabel masa kerja. Perawat yang mempunyai masa kerja lima tahun atau lebih mempunyai kemungkinan tujuh kali kesesuaian pendokumentasian meningkatdibandingkan dengan masa kerja kurang dari lima tahun, dikontrol variabel pendidikan. Diskusi: Terdapat peningkatan yang signifikan perihal kesesuaian pendokumentasian asuhan keperawatan pada kelompok intervensi yang diberikan pelatihan 3S karena pelatihan yang diberikan dengan metode ceramah, studi kasus, dan simulasi dapat dipahami oleh responden. Kesimpulan: Pelatihan 3S secara signifikan meningkatkan kemampuan perawat dalam dokumentasi. Monitoring dan evaluasi dengan audit asuhan keperawatan dan hasil capaian dijadikan salah satu key performance indicator. Rumah sakit diharapkan menyelenggarakan pelatihan secara berkala yang diikuti oleh semua perawat.  Kata Kunci: dokumentasi, layanan keperawatan, pelatihan, SDKI, SLKI, SIKI Effectiveness of 3S Training (SDKI, SLKI, SIKI) for Nurses on the Comformity of Nursing Care Documentation at Hospital X Jakarta ABSTRACTDocumentation of nursing care using 3S, namely SDKI, SLKI and SIKI, is a medico-legal requirement that is very important in safe, ethical and effective nursing practice, electronically. However, the implementation of nursing documentation that is not in accordance with the 3S standard is still widely found. Objective: To determine the effectiveness of 3S training on improving nursing care documentation. Methods: Quasi-experimental two group pretest posttest with control. Consecutive sampling and inclusion criteria were used to recruit 33 intervention participants and 28 control participants. Questionnaires and nursing care audit tools were used to collect data. Data were analyzed univariately, bivariately, and multivariately. The results: The effectiveness of 3S training (p=0.000) on improving the appropriateness of nursing care documentation was statistically significant. 3S nursing care training has a significant effect on the provision of nursing care in accordance with the 3S standard. The training carried out is effective in increasing nurses' knowledge of nursing care documentation using 3S. After the 3S training, nurses with an ners education were 3 times more likely to improve the appropriateness of nursing care documentation compared to those with a D-3 nursing, controlling for tenure. Nurses with 5 or more years of service were 7 times more likely to improve the appropriateness of nursing care documentation than those with less than 5 years, controlling for education. Discussion: There was a significant increase in the suitability of nursing care documentation in the intervention group given 3S training because the training provided using lecture methods, case studies and simulations could be understood by respondents. The control group that was not given the intervention did not have a significant increase in the suitability of nursing care documentation. Recomendation: The hospital should conduct 3S training for all nurses gradually, both new nurses andnurses who have been working for a long time. The nursing committees are expected to carry out monitoring and evaluation by auditing nursing care and making the results as one of the key performance indicators. Keywords: documentation; nursing service, training; SDKI, SLKI, SIKI
NURSING CARE ANALYSIS IN A COVID-19 PATIENT WITH TRACHEOSTOMY IN THE INTENSIVE CARE UNIT: A CASE REPORT Aryani, Denissa Faradita; Rahmawati, Dian; Nariswari, Shedy Maharani
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i1.605

Abstract

Background: The coronavirus disease (COVID-19) pandemic has posed significant challenges in critical care, particularly for patients with severe acute respiratory distress syndrome (ARDS), ventilator weaning failure, and septic shock requiring tracheostomy.  Case Presentation: This report presents the clinical course and nursing management of Mrs. X, a COVID-19 patient who presented to the emergency department with severe dyspnea, hypoxia (SpO2 69%), and tachypnea (30 breaths/min).  Despite initial noninvasive ventilation (NIV), her condition deteriorated, requiring endotracheal intubation and intensive care unit (ICU) admission.  She was diagnosed with moderate ARDS (P/F ratio: 146 mmHg) and ventilator weaning failure after 15 days, leading to tracheostomy. Results: Key nursing diagnoses included impaired spontaneous ventilation and impaired gas exchange. ICU nurses implemented comprehensive tracheostomy care, adhered to ventilator-associated pneumonia (VAP) prevention bundles, and performed continuous assessments to minimize infection risks. These interventions successfully prevented common tracheostomy-related complications such as ulcers and site infections. However, the patient developed septic shock and multiple organ dysfunction syndrome (MODS), ultimately resulting in death on the 27th day of admission.  Conclusion:  This case highlights the essential role of ICU nursing in managing complex COVID-19 patients with tracheostomy.  Effective tracheostomy care, stringent infection control, and timely nursing interventions are crucial to optimizing patient outcomes.  Nevertheless, the progression to septic shock underscores the challenges of managing critically ill patients with COVID-19.Keywords: COVID-19, nursing care, critical care, ventilator weaning, tracheostomy, ARDS
HUBUNGAN KOPING RELIGIUS DENGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS LANSIA EMPTY NESTER DI KECAMATAN BANYUMAS Nabilah, Huria Husna; Kusumawardani, Lita Heni; Pratama, Koernia Nanda
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i1.637

Abstract

Empty nest syndrome merupakan salah satu masalah psikologis pada lanjut usia. Salah satu upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan psikologis lansia dengan empty nester ialah menggunakan koping religius sebagai strategi menghadapi stresor dengan aspek religiusitas. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan koping religius dengan kesejahteraan psikologis lansia empty nester di Kecamatan Banyumas. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan rancangan analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel secara total sampling dengan responden sebanyak 102 pada Oktober 2024–Januari 2025. Pengukuran menggunakan instrumen Psychological Well-being Scale dan Brief RCOPE BI. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil: Lansia empty nester cenderung menggunakan koping religius positif dengan nilai median 21,00 dalam rentang nilai 12–21 yang lebih tinggi dari median koping religius negatif, yaitu dengan median 0,00 dalam rentang nilai 0–7. Kesejahteraan psikologis lansia empty nester berada pada median 67,0 dengan nilai terendah 50 dan nilai tertinggi 76,0 yang menunjukkan tingkat kesejahteraan psikologis yang tinggi karena cenderung berada pada nilai mendekati skor maksimal. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara koping religius dan kesejahteraan psikologis lansia empty nester (p value = 0,0001) dengan tingkat korelasi cukup pada subskala koping religius positif (r = 0,484) dan subskala koping religius negatif (r = –0,382). Diskusi: Tingkat kesejahteraan psikologis lansia empty nester mayoritas berada pada nilai yang tinggi dengan dominasi dari dimensi environmental mastery dan self-acceptance. Koping religius yang digunakan lansia cenderung mengarah pada koping religius positif. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara koping religius dengan kesejahteraan psikologis lansia empty nesterdengan arah hubungan positif pada koping religius positif dan arah hubungan negatif pada koping religius negatif. Lansia perlu mempersiapkan aspek penguasaan lingkungan, penerimaan diri, serta penggunanan koping religius untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis di usia lanjut.Kata Kunci: kesejahteraan psikologis, koping religius, lansia empty nesterCorrelation Between Religious Coping and Elderly Psychological Well-Being in Empty Nester in Banyumas Subdistrict ABSTRACT  Empty nest syndrome is one of the psychological challenges experienced by older adults. One strategy to maintain and improve the psychological well-being of empty nesters is the use of religious coping, which involves dealing with stressors through religious or spiritual aspects.  Research Objective: This study aims to examine the correlation between religious coping and psychological well-being among empty nester elderly in the Banyumas Subdistrict.  Methods: This quantitative research employed an analytical design with a cross-sectional approach. A total sampling technique was used to recruit 102 respondents from October 2024 to January 2025. Measurements were conducted using the Psychological Well-Being Scale and the Brief RCOPE BI instrument. Data analysis was performed using Spearman’s rho correlation test.  Results: Elderly empty nesters tended to use positive religious coping, with a median score of 21.00 (range: 12–21), which was higher than the median score of negative religious coping, which was 0.00 (range: 0–7). The median psychological well-being score was 67.0, with a minimum score of 50 and a maximum score of 76.0, indicating a high level of psychological well-being, as the scores were close to the maximum possible value. The study revealed a significant correlation between religious coping and psychological well-being in elderly empty nesters (p = 0.0001), with a moderate correlation for the positive religious coping subscale (r = 0.484) and a negative correlation for the negative religious coping subscale (r = -0.382).  Discussion: The psychological well-being of most elderly empty nesters was found to be high, particularly in the dimensions of environmental mastery and self-acceptance. The religious coping strategies used by the elderly predominantly reflected positive religious coping.  Conclusion: There is a significant correlation between religious coping and psychological well-being in elderly empty nesters, with a positive correlation for positive religious coping and a negative correlation for negative religious coping. Older adults need to be prepared in terms of environmental mastery, self-acceptance, and the application of religious coping strategies to enhance their psychological well-being in later life.Keywords: Psychological well-being, religious coping, empty nester elderly
PENGARUH TERAPI MUSIK TERHADAP NYERI DISMENOREA PRIMER PADA REMAJA: A SCOPING REVIEW Rahmah, Alfiana Maulida; Rahmawati, Wahyu; Misali, Sri Ayu Candra A.; Widyawati, Widyawati; Lismidiati, Wiwin; Parmawati, Ika
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i1.607

Abstract

Nyeri menstruasi/dismenorea dapat dialami oleh wanita usia produktif, termasuk remaja. Dismenorea yang dirasakan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga perlu diatasi dengan berbagai manajemen nyeri nonfarmakologis, seperti terapi musik. Tujuan penelitian: Mengeksplorasi pengaruh terapi musik terhadap nyeri dismenorea primer pada remaja. Metode: Pencarian literatur menggunakan databaseScience Direct, ProQuest, Scopus, Cochrane, Ebsco Host, dan search engine Google Scholar dengan kriteria inklusi artikel berbahasa Inggris dan Indonesia, terbit tahun 2019–2024, merupakan artikel open access, subjek penelitian adalah remaja 13–20 tahun, menjelaskan pengaruh terapi musik terhadap dismenorea primer; jenis artikel RCT, dan quasi experimental. Kemudian, artikel dilakukan screening menggunakan Mendeley Dekstop, critical appraisal menggunakan The Joanna Briggs Institute (JBI), dianalisis, kemudian data dimasukkan, dan dikelompokkan berdasarkan jenis terapi musik yang ditemukan. Hasil: Dari sembilan artikel penelitian yang ditemukan, paling banyak membahas terapi musik Mozart, tetapi intervensi musik lainnya juga menunjukkan potensi signifikan dalam mengurangi intensitas nyeri dismenorea primer pada remaja. Diskusi: Terdapat penurunan nyeri menstruasi yang konsisten dengan terapi musik. Terdapat variasi pilihan dalam terapi musik. Musik yang memiliki nada lembut dapat merangsang gelombang alfa yang dapat membuat perasaan menjadi tenang dan membuat pendengar menjadi rileks.Kesimpulan: Terapi musik maupun kombinasi terapi musik dengan terapi lainnya efektif dalam menurunkan dismenorea primer pada remaja karena dapat merangsang peningkatan hormon endorfin untuk mengurangi rasa nyeri. Temuan ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan terapi musik sebagai opsi nonfarmakologis yang efektif dalam manajemen nyeri menstruasi pada remaja. Kata Kunci: dismenorea primer, nyeri, remaja, scoping review, terapi musik Effects of Music Therapy on Primary Dysmenorrhea Pain in Adolescents: A Scoping Review ABSTRACTMenstrual pain or dysmenorrhea is a common condition experienced by women of reproductive age, including adolescents. Dysmenorrhea can interfere with daily activities, necessitating various non-pharmacological pain management strategies, such as music therapy. Objective: This study aims to explore the effects of music therapy on primary dysmenorrhea pain in adolescents. Methods: A literature search was conducted using databases such as ScienceDirect, ProQuest, Scopus, Cochrane, EBSCOhost, and the Google Scholar search engine. The inclusion criteria were English- and Indonesian-language articles published between 2019 and 2024, open-access articles, studies involving adolescent participants aged 13–20 years, and studies discussing the effects of music therapy on primary dysmenorrhea. The selected articles included randomized controlled trials (RCTs) and quasi-experimental studies. Articles were screened using Mendeley Desktop, critically appraised using The Joanna Briggs Institute (JBI) framework, analyzed, and categorized based on the type of music therapy employed.  Results: Among the nine studies reviewed, Mozart therapy was the most frequently discussed intervention. However, other types of music therapy also demonstrated significant potential in reducing the intensity of primary dysmenorrhea pain in adolescents. Discussion: Music therapy consistently led to a reduction in menstrual pain. There is a variety of music therapy options available. Soft-toned music can stimulate alpha waves, inducing a sense of calmness and relaxation in listeners. Conclusion: Music therapy, whether used independently or in combination with other interventions, is effective in alleviating primary dysmenorrhea in adolescents. This effect is attributed to the stimulation of endorphin release, which helps reduce pain. These findings highlight the importance of considering music therapy as an effective non-pharmacological option for menstrual pain management in adolescents.Keywords: Primary dysmenorrhea, pain, adolescents, scoping review, music therapy