cover
Contact Name
Eri Hendra Jubhari
Contact Email
webpdgi@gmail.com
Phone
+628124235346
Journal Mail Official
webpdgi@gmail.com
Editorial Address
Ruko Malino A4. Baruga, Antang, Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
MDJ (Makassar Dental Journal)
ISSN : 20898134     EISSN : 25485830     DOI : 10.35856/mdj
Core Subject : Health,
The journal receives a manuscript from the following area below Dentistry science and development with interdisciplinary and multidisciplinary approach: Dental Public Health and Epidemiology Oral and Maxillofacial Surgery Dental Conservation and Endodontics Preventive Dentistry Biomedical Dentistry Dental Radiology Pediatric Dentistry Oral Pathology Prosthodontics Traumatology Oral Biology Biomaterials Orthodontics Periodontics
Articles 871 Documents
Lesi endoperio Marie Louisa; Yuniarti S.
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1166.33 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v4i3.220

Abstract

Jaringan pulpa dan periodontal memiliki hubungan yang erat. Hubungan antara lesi endodontik dan periodontal pertama kali dikemukakan pada tahun 1964. Lesi endodontik merupakan inflamasi yang diakibatkan oleh keberadaan agen berbahaya dalam saluran akar gigi. Lesi periodontal merupakan inflamasi yang diakibatkan oleh akumulasi plak dan kalkulus pada permukaan eksterna gigi. Lesi endodontik dan lesi periodontal yang muncul bersamaan pada gigi yang sama disebut lesi endoperio. Secara anatomis, jaringan periodontal terhubung dengan jaringan pulpa melalui foramen apikal dan kanal lateral. Faktor etiologi seperti bakteri, jamur, dan virus, serta faktor resiko seperti trauma, resorpsi akar, perforasi, dan anomali gigi berperan penting dalam inisiasi dan perkembangan lesi. Pada tahun 2012, klasifikasi lesi endoperio diperbaharui dan dilengkapi menjadi 7 kelas, yaitu lesi endoperio simultan, lesi endo dengan keterlibatan perio, lesi perio dengan keterlibatan endo, lesi endoperio independen, lesi endoperio iatrogenik, lesi endoperio lanjut, dan lesi endoperio tidak diketahui. Inflamasi pulpa yang muncul bersamaan dengan inflamasi periodontal dapat menyulitkan prosedur diagnosis, rencana perawatan dan memperburuk prognosis.
Pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan pada penderita kelainan periodontal Fenny Iriyanti; Mohammad Dharmautama
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.976 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v4i3.221

Abstract

Kondisi gigi dan kesehatan jaringan periodontal mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Penyakit periodontal dapat menyebabkan kurangnya retensi dan stabilitas gigi tiruan sebagian lepasan konvensional sehingga menimbulkan masalah dalam merencanakan pembuatan gigitiruan. Pada tulisan ini dibahas mengenai pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan pada pasien yang mengalami kelainan periodontal, menggunakan desain swing-lock. Pada pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan perlu diperhatikan indikasi, kontraindikasi, keuntungan, kekurangan, dan perlu diketahui teknik pembuatannya. Disimpulkan bahwa pada kelainan periodontal, gigi dengan dukungan alveolar yang kurang baik dapat dipertahankan secara signifikan melalui penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan swing-lock.
Perawatan ortodontik pada pasien periodontal kompromi Yany Widyastuti; Yulianti Kemal
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.101 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v4i3.222

Abstract

Praktisi dari ortodonsia dan periodonsia sering mendapatkan konsekuensi sebagai akibat dari kurangnya pengetahuan yang komprehensif dari ilmu disiplin lain. Pendidikan gabungan telah menghasilkan kekayaan pengetahuan mengenai manfaat terapi penyakit periodontal melalui kombinasi terapi dengan intervensi bedah dan pergerakan gigi. Kasus-kasus penyakit periodontal tertentu dapat dirawat dengan mengkombinasikan perawatan periodontal dan ortodontik, meliputi uprighting, ekstrusi, intrusi, rotasi, dan sejumlah gerakan gigi lain. Hal ini penting bagi dokter gigi yang terlibat dalam terapi kombinasi untuk memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang terapi penyakit periodontal dan gaya mekanis dari ortodontik. Adanya penyakit periodontal menyebabkan perlunya mengambil keputusan akhir yang ideal pada terapi ortodontik untuk mendukung tercapainya tujuan terapi. Tekanan ortodontik yang ringan dan tercapainya oklusi yang fungsional pada pasien periodontal kompromis merupakan target yang diharapkan untuk menjaga stabilitas jangka panjang periodontal.
Diagnosis dan perawatan saluran akar pada gigi yang mengalami obliterasi Sahriah Usman; Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.767 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v4i3.223

Abstract

Kalsifikasi pada gigi merupakan tantangan dalam diagnosis dan perawatan saluran akar. Gigi yang telah mengalami trauma umumnya mengalami obliterasi pulpa. Obliterasi pulpa didefinisikan sebagai deposisi jaringan keras ke dalam ruang saluran akar. Pada pemeriksaan radiografi menghasilkan gambaran kalsifikasi ruang saluran akar sebagian atau seluruhnya. Secara klinis gigi biasanya mengalami diskolorisasi mahkota. Sekitar 7-27% gigi dengan obliterasi pulpa akan berkembang menjadi nekrosis pulpa. Sulit untuk menentukan apakah gigi tersebut perlu segera dirawat setelah dideteksi adanya obliterasi pulpa atau menunggu tanda dan gejala pulpa dan periodontitis apikal terjadi. Keberhasilan perawatan saluran akar tergantung pada debridemen yang baik, disinfeksi dan obturasi yang hermetis dari sistem saluran akar. Namun prosedur ini mungkin sulit dicapai karena ruang pulpa mengalami kalsifikasi. Kajian pustaka ini membahas etiologi, prevalensi, klasifikasi, patomekanisme, diagnosis dan pilihan perawatan pada gigi dengan obliterasi pulpa, dan beberapa pendekatan serta strategi perawatan untuk mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut. Kata kunci: trauma gigi, diskolorisasi, obliterasi pulpa, perawatan saluran akar
Peri-implantitis: definisi, diagnosis, etiologi dan manajemen penatalaksanaanya Billy Martin; Robert Lessang
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 4 (2015): Vol 4 No 4 Agustus 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.522 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v4i4.224

Abstract

Perawatan implan merupakan salah satu pilihan utama dalam restorasi gigi yang hilang masa kini. Dengan penggunaan implan yang makin luas, makin banyak ditemukan komplikasi-komplikasi yang berkaitan dengan implan. Tujuan dari sari pustaka ini adalah untuk membahas definisi, diagnosis dan etiologi dari peri-implanitis dalam kaitannya terhadap penentuan manajemen dari penyakit tersebut. Sebuah tinjauan sistematis dari 51 studi prospektif longitudinal melaporkan kejadian peri-implantitis mulai dari 0% menjadi 14,4% pada pengamatan tahun ke 5 setelah pembebanan fungsional, meskipun tingkat kelangsungan jangka panjang implan yang tinggi (89-95%). Sebaliknya, studi longitudinal lainnya, menemukan variasi yang bermakna dalam prevalensi peri-implanitis, 11,3-47,1%, dan tingkat komplikasi kumulatif berkisar 48,03% setelah masa pengamatan dari 10-16 tahun setelah pemasangan implan. Peri-implanitis merupakan suatu kondisi yang sama dengan periodontitis. Dari etiologi hingga penanganannya mengikuti kaidah dasar perawatan periodontal. Tetapi dalam hal prognosis, peri-implanitis mempunyai prognosis yang masih belum dapat diprediksi.
Potential link between periodontal disease and alzheimer’s disease Abdul Gani Soulissa
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 4 (2015): Vol 4 No 4 Agustus 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.101 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v4i4.225

Abstract

Alzheimer’s disease is a progressive generative disease on brain tissues which often found on people above 65 years old. The main etiology of Alzheimer’s disease is unknown; however in people with Alzheimer, it is found excessive protein, fiber and acetylcholine in brain which reduce the number of effective and healthy neuron. There is still lack of research with regards to the relationship between periodontal disease and Alzheimer’s disease, although it is assumed there is a linkage between both, as people with Alzheimer has worse oral hygiene and gingival bleeding. This paper aims to explain the potential link between periodontal disease and Alzheimer’s disease. There is two mechanisms which are assumed to trigger Alzheimer’s disease, namely microgial cell which causes neural damage and Porphyromonas gingivalis invasion on brain. P.gingivalis is periodontal pathogen which able to block immune system in host. P.gingivalis may block immune to form adheren bond with eritrosit which then enters into systemic circulation without identified by immune system and lastly into brain, so that inflammation molecules may penetrate blood-brain barrier into serebral region. TNF-α, which is alleged to be the crucial inflammation mediator causing Alzheimer’s disease also involves in inflammation mechanism. TNF-α may cause demyelination, inflammation, and disorientation of blood-brain barrier, which result in cell death. It was concluded that chronic condition on periodontal disease may enable bacteria to penetrate into blood and cause brain inflammation. Periodontal disease is believed to be a risk factor of Alzheimer’s disease.
Pembuatan gigi tiruan overdenture dengan teknik sederhana Elizabeth Mailoa; Peter Rovani
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 4 (2015): Vol 4 No 4 Agustus 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.698 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v4i4.226

Abstract

Kehilangan gigi biasanya diikuti dengan proses resorbsi tulang alveolus secara progresif, berkurangnya sensor propriosepsi di dalam mulut dan mengakibatkan perubahan yang cukup besar terhadap mekanisme dukungan fungsi dan parafungsi tekanan oklusal. Resorbsi tulang alveolus mungkin saja merupakan salah satu penyebab gangguan pada seluruh kondisi di dalam mulut. Masalah yang sering timbul sehubungan dengan pembuatan gigitiruan penuh yang konvensional seperti retensi, stabilitas dan dukungan dari gigitiruan tersebut merupakan tantangan bagi setiap dokter gigi. Mempertahankan satu atau lebih gigi bagi pasien yang akan mengalami kehilangan seluruh gigi, mungkin dapat dipertimbangkan, terutama bilamana terjadi pada rahang bawah. Dokter gigi harus mempertimbangkan untuk tidak mencabut seluruh giginya, melainkan sedapat mungkin mempertahankan satu atau lebih gigi alami dan membuatkan suatu gigi tiruan overdenture. Gigi tiruan overdenture merupakan salah satu metode untuk mengurang resorbsi tulang alveolus yang progresif, di samping itu dapat memberikan pencegahan terhadap masalah prostodontik lebih lanjut. Pembahasan dalam artikel ini akan menggambarkan pembuatan gigi tiruan overdenture dengan teknik yang sederhana.
Regenerasi papila interdental pada penatalaksanaan kasus black triangle Desy Fidyawati; Yulianti Kemal
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 4 (2015): Vol 4 No 4 Agustus 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.582 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v4i4.227

Abstract

Salah satu hal yang menjadi tujuan utama dalam perawatan periodontal yang melibatkan aspek rekonstruksi, regenerasi dan estetik adalah rekonstruksi dari hilangnya papilla interdental.Terbukanya ruang interdental yang juga dikenal dengan “black triangle”dapat disebabkan oleh resesi gingiva.Beberapa faktor dapat mengakibatkan hilangnya papila interdental diantaranya adalah kerusakan jaringan periodontal yang diakibatkan oleh plak, bentuk gigi dam posisi gigi yang tidak normal, serta prosedur oral hygiene yang menyebabkan trauma pada daerah papila interdental.Beberapa teknik meliputi bedah dan non bedah dilakukan untuk mengatasi keadaan ini.Teknik non bedah diantaranya melalui kerjasama lintas departemen (periodonsia, ortodonsia dan konservasi gigi) sedangkan teknik bedah meliputi tindakan rekonstruksi, preservasi dan rekonturing dari papila interdental.Artikel ini membahas mengenai papila interdental, penyebab dari hilangnya papila interdental, dan berbagai teknik perawatan yang dipilih untuk preservasi dan regenerasi papila interdental.
Pengaruh penambahan bahan bioaktif pada implan gigi berdasarkan pemeriksaan histologi: (Effect of addition of bioactive materials on dental implant based on the histology examination) Richard Tetelepta; Edy Machmud
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 4 (2015): Vol 4 No 4 Agustus 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.911 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v4i4.228

Abstract

Implantasi gigi pada tulang alveolar merupakan salah satu metode untuk memberikan retensi dan dukungan kekuatan pada pemasangan gigi tiruan, baik gigi tiruan cekat maupun lepasan. Keberhasilan jangka panjang dari implantasi gigi sangat tergantung pada penyembuhan yang cepat dengan integrasi yang aman ke dalam tulang rahang. Performa implan ditunjukkan oleh mekanisme interaksi antara bahan implan dengan jaringan sekitarnya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut berbagai modifikasi permukaan implan titanium telah dilakukan agar bersifat bioaktif sehingga terjadi oseointegrasi, diantaranya adalah membuat permukaan titanium menjadi bioaktif melalui modifikasi komposisi kimia dan topografi permukaan implan yang bersesuaian sebagai retensi sel tulang pada permukaan implan titanium. Pada pemeriksaan histologi gambaran struktur mikro hasil karakterisasi scanning electron microscope memperlihatkan bahan bioaktif atau hidroksiapatit yang terdapat pada permukaan implan terluar merupakan modifikasi permukaan yang bertujuan untuk menambahkan bioaktivitas perlekatan implan dan jaringan tulang, sehingga dihasilkan perlekatan mekanis dan biologis yang baik.
Pentingnya manajemen waktu untuk menunjang keberhasilan praktik dokter gigi: (The importance of time management in supporting successful dental practice) Mita Juliawati
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 5 (2015): Vol 4 No 5 Oktober 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.598 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v4i5.229

Abstract

Pada era globalisasi dan Masyarakat Ekonomi Asia, terutama era persaingan dan kedokteran gigi moderen, dokter gigi perlu meningkatkan layanan guna mempertahankan dan meningkatkan kunjungan pasien, khususnya dengan permasalahan keluhan pasien akan layanan pada praktek dokter gigi; salah satu penyebabnya adalah faktor yang berkaitan dengan waktu, antara lain dokter gigi terlambat, antrean lama, ketidakefisienan mengatur waktu. Artikel ini ditujukan untuk menjelaskan pentingnya manajemen waktu untuk mendukung keberhasilan praktek. Manajemen waktu adalah proses perencanaan dan pengorganisasian waktu yang dihabiskan untuk kegiatan tertentu guna meningkatkan efektivitas, efisiensi dan produktivitas. Penerapan pada praktek kedokteran gigi meliputi perencanaan, penjadwalan, dan pengaturan waktu guna menghindari ketidakefisienan pengaturan waktu. Manajemen waktu yang tepat dan baik menghasilkan efisiensi dan produktivitas lebih besar, reputasi profesional, mengurangi stres dan akan meningkatkan citra layanan klinik. Evaluasi berkala diperlukan untuk meningkatkan kualitas manajemen waktu. Efisiensi manajemen waktu praktek dokter gigi meliputi pengaturan tugas, mengatur jadwal harian tenaga medis, non medis dan pasien, menganalisis tugas harian, menjadwal kegiatan utama, memberi tenggat waktu, dan mengorganisasi alur kerja termasuk mengatur jadwal pasien, mengatur antrian pasien sehingga waktu tunggu berkurang, menghindari keterlambatan dokter dan layanan di klinik. Pengaturan manajemen waktu yang baik akan membuat dokter gigi bekerja‘smarter not harder’ dengan memperoleh lebih banyak hasil dengan waktu yang terbatas. Disimpulkan bahwa seluruh tenaga medis maupun non medis perlu mendukung terlaksananya layanan prima pada praktek dokter gigi, yaitu layanan yang mementingkan kualitas, dalam hal ini manajemen waktu serta bertujuan untuk mencapai kepuasan pasien yang tujuan akhirnya adalah pasien yang loyal dan kembali berobat ke klinik kita.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): Volume 14 Issue 3 December 2025 Vol. 14 No. 2 (2025): Volume 14 Issue 2 August 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): Volume 14 Issue 1 April 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): Volume 13 Issue 3 Desember 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Volume 13 Issue 2 Agustus 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): Volume 13 Issue 1 April 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Volume 12 Issue 3 Desember 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Volume 12 Issue 2 Agustus 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Volume 12 Issue 1 April 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Volume 11 Issue 3 Desember 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Volume 11 Issue 2 Agustus 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Volume 11 Issue 1 April 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Volume 10 Issue 3 Desember 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Volume 10 Issue 2 Agustus 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Volume 10 Issue 1 April 2021 Vol. 9 No. 3 (2020): Volume 9 Issue 3 December 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Volume 9 No 2 Agustus 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Volume 9 No 1 April 2020 Vol. 8 No. 3 (2019): Vol 8 No 3 Desember 2019 Vol. 8 No. S - 2 (2019): Volume 8 Suplemen 2 2019 Vol. 8 No. 2 (2019): Vol 8 No 2 Agustus 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): Volume 8 No 1 April 2019 Vol. 8 No. S - 1 (2019): Volume 8 Suplemen 1 2019 Vol. 7 No. 3 (2018): Volume 7 No 3 Desember 2018 Vol. 7 No. 2 (2018): Vol 7 No 2 Agustus 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): Vol 7 No 1 April 2018 Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017 Vol. 6 No. 2 (2017): Vol 6 No 2 Agustus 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Vol 6 No 1 April 2017 Vol. 6 No. S-1 (2017): Vol 6 Suplemen 1 2017 Vol. 5 No. 3 (2016): Vol 5 No 3 Desember 2016 Vol. 5 No. 2 (2016): Vol 5 No 2 Agustus 2016 Vol. 5 No. 1 (2016): Vol 5 No 1 April 2016 Vol. 5 No. S - 1 (2016): Vol 5 Suplemen 1 2016 Vol. 4 No. 6 (2015): Vol 4 No 6 Desember 2015 Vol. 4 No. 5 (2015): Vol 4 No 5 Oktober 2015 Vol. 4 No. 4 (2015): Vol 4 No 4 Agustus 2015 Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015 Vol. 4 No. 2 (2015): Vol 4 No 2 April 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Vol 4 No 1 Februari 2015 Vol. 3 No. 6 (2014): Vol 3 No 6 Desember 2014 Vol. 3 No. 5 (2014): Vol 3 No 5 Oktober 2014 Vol. 3 No. 4 (2014): Vol 3 No 4 Agustus 2014 Vol. 3 No. 3 (2014): Vol 3 No 3 Juni 2014 Vol. 3 No. 2 (2014): Vol 3 No 2 April 2014 Vol. 3 No. 1 (2014): Vol 3 No 1 Februari 2014 Vol. 2 No. 6 (2013): Vol 2 No 6 Desember 2013 Vol. 2 No. 5 (2013): Vol 2 No 5 Oktober 2013 Vol. 2 No. 4 (2013): Vol 2 No 4 Agustus 2013 Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013 Vol. 2 No. 2 (2013): Vol 2 No 2 April 2013 Vol. 2 No. 1 (2013): Vol 2 No 1 Februari 2013 Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012 Vol. 1 No. 5 (2012): Vol 1 No 5, Oktober 2012 Vol. 1 No. 4 (2012): Vol 1 No 4, Agustus 2012 Vol. 1 No. 3 (2012): Vol 1 No 3, Juni 2012 Vol. 1 No. 2 (2012): Vol 1 No 2, April 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): Vol 1 No 1, Februari 2012 More Issue