Articles
871 Documents
Diagnosis osteoporosis dari radiografi panoramik
Sarianoferni .;
Eddy Hermanto
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 1 (2015): Vol 4 No 1 Februari 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (178.971 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i1.210
Identifikasi seseorang yang memiliki risiko besar menderita osteoporosis menjadi penting sehingga dapat dilakukan berbagai tindakan pencegahan dan pengobatan yang efektif. Dokter gigi memiliki peran penting dalam mendeteksi osteoporosis yang dapat ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan radiografi Panoramik tindakan yang ditujukan untuk perawatan gigi. Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk menunjukkan peran radiografi panoramic dalam perawatan gigi rutin untuk evaluasi awal osteoporosis. Dipaparkan indeks Klemetti (mandibular cortical index=MCI). Dalam teknik ini korteks inferior kedua sisi mandibula, distal mentale foramen, diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, sesuai dengan ketebalan tulang rahang bawah, bentuk dan porositas. Pasien yang memiliki temuan positif terkait dengan MCI harus dievaluasi lebih lanjut untuk potensi risiko osteoporosis dan bisa dirujuk ke dokter spesialis untuk densitometri. disimpulkan bahwa MCI adalah teknik sederhana untuk skrining osteoporosis dan memberikan manfaat tambahan bagi pasien dengan pemeriksaan radiografi untuk perawatan mulut. Dengan mengetahui adanya osteoporosis disarankan untuk memeriksa kepadatan tulang pemeriksaan lebih lanjut adalah standar emas dual energy X-ray absorptiometry (DXA).
In office bleaching pada kasus diskolorasi ekstrinsik
Wahyuniwati .;
Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 1 (2015): Vol 4 No 1 Februari 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (215.01 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i1.211
Keinginan untuk memiliki gigi putih dan senyum yang lebih menarik telah menjadi kebutuhan estetika yang penting bagi banyak orang saat ini.Pemutihan gigi telah menjadi perawatan kosmetik yang populer di kalangan pasien yang ingin meningkatkan penampilan estetika mereka. Selain itu, penggunaan bahan pemutih gigi telah berkembang pesat di kalangan klinisi, terutama disebabkan oleh minimnya waktu yang dibutuhkan dalam prosedur pemutihan gigi. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk menyajikan protokol in office bleaching. Dilaporkan seorang wanita usia 35 tahun, merasa tidak puas dengan warna geligi depannya dan menginginkan perawatan pemutihan gigi. Untuk menanganinya, hidrogen peroksida gel 40% diaplikasikan pada geligi anterior atas dengan mengikuti petunjuk pabrik. Setelah prosedur pemutihan, hasil yang memuaskan dapat dicapai. Disimpulkan bahwa pemutihan gigi adalah perawatan non-invasif yang dapat memberikan hasil estetika yang memuaskan.
Penatalaksanaan Ulser Kronis pada Kedua Lateral Lidah
Nirmala D.;
Palmasari A.;
Nafi'ah .;
Isidora KS;
Lukisari C.
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 1 (2015): Vol 4 No 1 Februari 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (621.833 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i1.212
Latar belakang. Ulser adalah lesi yang paling umum yang terjadi di dalam rongga mulut. Stomatitis aftosa rekuren (SAR) adalah salah satu lesi dan biasanya sembuh dalam waktu maksimal 14 hari. Ulser lain yang disebabkan trauma, akan sembuh ketika trauma dieliminasi. Posterior lateral lidah merupakan tempat yang sering ulser yang persistensi akan menjadi ganas. Kasus. Seorang wanita berusia 54 tahun, mengeluhkan rasa sakit di seluruh mukosa rongga mulutnya, rasa sakit itu berulang sejak suaminya meninggal sekitar 5 tahun yang lalu. Beliau telah mengunjungi beberapa dokter, mengkonsumsi banyak obat-obatan modern atau tradisional akan tetapi ulser masih persisten. Tatalaksana, mencatat semua riwayat secara cermat dan teliti, dan mengirim untuk melakukan FNAB di Rumah Sakit Dr Ramelan. Hasilnya adalah infeksi peradangan supuratif kronis. Beliau diberi vitamin, obat kumur, antasida dan kortikosteroid secara oral, ditambah beberapa obat-obatan yang diharapkan dapat meningkatkan kondisi umumnya. Simpulan. Beberapa terapi ulser kronis pada lateral posterior lidah harus didukung dengan pemeriksaan HPA.
Penatalaksanaan hemimaksilektomi pada karsinoma mukoepidermoid palatum durum: laporan kasus
Muh. Irfan Rasul;
Borman Sumadji;
Hendro S. Yuwono
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 2 (2015): Vol 4 No 2 April 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (491.918 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i2.213
Karsinoma mukoepidermoid (KME) merupakan salah satu tumor ganas yang sering terjadi pada kelenjar ludah, kelenjar ludah mayor dan minor, yang umum terjadi pada usia dekade kedua hingga ketujuh. Gejala klinis dari KME dapat berupa pembengkakan yang asimtomatik, kokoh dan terfiksasi serta kadang-kadang berwarna biru atau merah. Laporan kasus ini menyajikan kasus dari pasien yang datang ke Rumah Sakit Hasan Sadikin dengan keluhan penonjolan di daerah palatum durum yang tidak menimbulkan gejala. Dari hasil pemeriksaan spesimen pada Bagian Patologi Anatomi didiagnosis dengan KME, sehingga dilakukan hemimaksilektomi dan rekonstruksi defek dengan menggunakan obturator serta dilanjutkan dengan tindakan adjuvant berupa radioterapi. Setelah mendapatkan perawatan tersebut kondisi pasien makin membaik.
Potensi dari ceker ayam kampung (Gallus domesticus) untuk mempercepat penyembuhan soket pascaekstraksi gigi
Irma Ariany Syam;
Ridhayani Hatta;
Muhammad Ruslin
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 2 (2015): Vol 4 No 2 April 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (255.493 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i2.214
Luka pascaekstraksi gigi dilaporkan mengalami penyembuhan yang tidak optimal sebanyak 1–11,5%. Penelitian sebelumnya juga menyatakan komplikasi penyembuhan soket pascaekstraksi gigi adalah 11%. Gangguan penyembuhan luka dapat menimbulkan gejala lokal seperti infeksi sekunder dan nyeri hebat misalnya dry socket. Ceker ayam merupakan bagian dari tubuh ayam yang kurang diminati sehingga hanya berakhir sebagai limbah. Ceker ayam mengandung asam amino, omega 3 dan kolagen yang cukup tinggi. Serabut kolagen pada tahap penyembuhan soket berperan sebagai scaffold untuk mempertahankan struktur normal. Kolagen ceker ayam dapat meningkatkan kepadatan serabut kolagen; omega 3 dalam ceker ayam berfungsi sebagai anti-inflmasi yang mempersingkat proses inflamasi sehingga fase penyembuhan selanjutnya dapat terjadi. Kalsium pada ceker ayam juga berperan dalam proses hemostatis. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui potensi ceker ayam kampung dalam mempercepat penyembuhan soket pascaekstraksi gigi.
Efek antibakteri ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl) terhadap Porphyromonas gingivalis sebagai alternatif bahan medikamen saluran akar
Yuni Indah M.;
Indrya Kirana Mattulada
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 2 (2015): Vol 4 No 2 April 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (249.405 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i2.215
Infeksi pada saluran akar dan jaringan sekitar akar gigi selalu berhubungan dengan bakteri, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Berdasarkan jenis bakteri yang berhasil dievaluasi dari saluran akar gigi yang terinfeksi diperoleh bahwa jumlah Phorphyromonas gingivalis menduduki peringkat ketiga (12,2%) setelah Peptostreptococcus spp. (16%) dan Streptococcus spp. (14,2%). P.gingivalis adalah bakteri anaerob Gram negatif yang dapat bertahan dari mekanisme pertahanan host dengan memanfaatkan sebuah panel faktor virulensi yang menyebabkan deregulasi innate immune dan respon inflamasi. Buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl) adalah obat tradisional yang telah terkenal berkhasiat dalam penyembuhan berbagai penyakit, seperti kanker rahim dan diabetes. Pada penelitian ini, buah mahkota dewa diekstrak dan diamati efek antibakterinya terhadap P.gingivalis yang diperuntukkan sebagai bahan alternatif untuk medikamen saluran akar. Pada penelitian eksperimen laboratorium ini, berdasarkan pengujian pada medium BHIB dan kultur ulang pada medium Mac Conkey diketahui bahwa ekstrak buah mahkota dewa tidak memiliki efek antibakteri terhadap bakteri P.gingivalis karena tidak dapat membentuk zona inhibisi pada media biakan bakteri P.gingivalis. Disimpulkan bahwa ekstrak buah mahkota dewa tidak memiliki efek antibakteri terhadap bakteri P.gingivalis.
Perbandingan osteoporosis berdasarkan radiomorfometri panoramik antara mandibular cortical index dengan panoramic mandibular index pada pasien di Rumah Sakit Gigi Mulut Universitas Hang Tuah
Sarianoferni .;
Endah Wahjuningsih
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 2 (2015): Vol 4 No 2 April 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (253.159 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i2.216
Dentists have an important role in detecting osteoporosis that can be found incidentally on radiographic panoramic examination. Radiomorfometri mandible on panoramic radiography is a simple technique for screening osteoporosis and provides additional benefits for patients with radiographic examination for oral care. This study used a sample aged 35 years and over because the theory is based on the influence of estrogen hormone responsible for the regulation of calcium levels in the blood which begin to decline levels in the body since the age of 35 years. Radiomorfometri used were mandibular cortical index (MCI) and panoramic mandibular index (PMI). Each of these has a different way of identifying osteoporosis by panoramic. The sample of this cross-sectional study, with analytic observational study design is the total sampling, ie all data panoramic radiographs of patients over the age of 35 years and over who come to the Hang Tuah University Hospital Surabaya and required panoramic radiographs for dental and oral care needs, and in accordance with the criteria. The results of the Mann Whitney test showed no significant difference with p = 0.624 (p> 0.05), which means that there is no significant difference between the results of os teoporosis based on MCI and PMI. It is concluded that there was no significant difference between the results of osteoporosis based on radiomorfometri MCI and PMI on Hang Tuah University Hospital patients.
Analisis radiografi tangan pada perawatan ortodontik
Ardiansyah S. Pawinru
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 2 (2015): Vol 4 No 2 April 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (406.413 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i2.217
Perawatan ortodontik memerlukan beberapa elemen analisis untuk membantu ortodontis menegakan diagnosis dan rencana perawatan yang tepat terhadap suatu kasus, terutama pasien pada fase pertumbuhan. Proses pertumbuhan dan perkembangan manusia secara normal dikontrol oleh sistem endokrin yang mengsekresi hormon pertumbuhan. Pada beberapa keadaan, seseorang dapat mengalami gangguan atau ketidakseimbangan hormon yang menyebabkan terjadinya perlambatan atau percepatan pertumbuhan. Pada keadaan seperti ini maka usia kronologis tidak dapat memberikan informasi yang tepat tentang pertumbuhan dan perkembangan seseorang pasien, sehingga penentuan usia biologis menjadi pilihan. Usia biologis ini dapat ditentukan dari analisis skeletal, dental dan permulaan pubertas. Penentuan usia skeletal seringkali didapatkan dari bantuan radiografi tangan. Analisis radiografi tangan dapat memperlihatkan perbedaan tingkat osifikasi pada setiap tingkatan usia sehingga dapat membantu ortodontis menentukan status pertumbuhan seorang pasien dan menentukan penanganan kasus ortodontik. Analisis Bjork, Grave dan Brown telah lama digunakan dalam ilmu ortodontik dan ortopedik dentofasial, yaitu penentuan tingkat osifikasi tulang dinilai dari hubungan antara epifisis dan diafisis pada area pergelangan tangan yang meliputi phalanges, tulang carpal dan tulang radius.
Efek kliking terhadap performa mastikasi periode gigi campuran usia 6-12 tahun
Lusy Damayanti;
Jakobus Runkat;
Roosje R. Owen;
Eriska Riyanti
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (396.67 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i3.218
Kliking merupakan salah satu bentuk gangguan sendi temporomandibular yang dapat terjadi pada semua tingkatan usia termasuk usia sekolah yaitu periode gigi campuran. Kliking belum dianggap suatu gangguan yang permanen pada periode ini tetapi dapat memberi dampak buruk dikemudian hari jika penyebabnya tidak diatasi sehingga dapat memengaruhi fungsi mastikasi yang terlihat pada performa mastikasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efek kliking terhadap performa mastikasi periode gigi campuran usia 6-12 tahun. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian cross sectional tipe survei epidemologi. Subyek penelitian adalah anak SD usia 6 -12 tahun di Kota Bandung. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan multistage random sampling dengan penentuan besarnya ukuran sampel yang memenuhi kriteria penelitian dan diperoleh 25 orang kelompok kliking serta 28 orang sebagai kelompok kontrol. Performa mastikasi dinilai melalui subyek penelitian dalam menghancurk an artificial test food dengan 20x pengunyahan, dan dilakukan pemeriksaan nilai median particle size (MPS) serta nilai distribusi sebaran partikel (b). Penelitian ini menggunakan uji statistik t-test. MPS rata-rata adalah 1,698 mm pada kelompok kliking dengan SD 0,770887 dan 1,651 mm untuk kelompok kontrol dengan SD 0,868319. Nilai rata -rata b adalah 4,17 pada kelompok kontrol dan 4,34 pada kelompok kliking. Hasil uji t-test memperlihatkan t- hitung =0,44 dan nilai p=0,6646 lebih besar dari α=0,01 sehingga tidak terdapat perbedaan signifikan secara statistik yang ditemukan antara kedua kelompok tersebut. Disimpulkan tidak terdapat efek kliking terhadap performa mastikasi periode gigi campuran usia 6-12 tahun dengan mengingat bahwa periode gigi campuran adalah masa gigi dalam posisi oklusi yang belum stabil dan terdapat perbedaan pola pengunyahan yang berbeda dengan gigi permanen.
Bleaching internal pascaperawatan endodontik
Badi Soerachman
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (292.501 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i3.219
Discoloration of the teeth can occur due to several factors such as bleeding on the pulp, necrosis of the pulp, drugs, materials used in root canal treatment, and materials used for the restoration of the teeth. Discoloration of the teeth especially in anterior teeth greatly affects the aesthetic and the level of confidence in one's self. One of the ways that can be done is to restore colors with internal bleaching. The result obtained after performing the endodontic treatment and internal bleaching with one visit there is a significant colour change. The indication clinically shows one sign of success, so it can be used as one of the options in doing these treatments. Internal bleaching after endodontic treatment, using the technique of walking bleach, gives satisfactory results with a short time of visit and safe to use by following the proper procedure.