Articles
871 Documents
Penanganan dentin hipersensitif: (Management of dentin hypersensitive)
Indrya Kirana Mattulada
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 5 (2015): Vol 4 No 5 Oktober 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (188.763 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i5.230
Dentin hipersensitif merupakan masalah yang umum ditemui sehari-hari, dapat ditemui baik pada laki-laki maupun perempuan utamanya yang sudah beranjak lanjut usia. Ketidaknyamanan atau rasa ngilu yang yang dialami pada kasus dentin hipersensitif terjadi karena adanya permukaan yang tidak terlindungi oleh email di mahkota atau sementum di daerah akar gigi. Ciri khas dentin hipersensitif adalah rasa sakit yang diderita bersifat akut, tajam tapi singkat pada dentin yang tidak terlindung email. Rasa ngilu dapat pula disebabkan karena adanya kebocoran tepi pada restorasi yang cacat, sindroma gigi retak dan kelainan. Untuk itu perlu pemeriksaan yang cermat agar diperoleh diagnosis yang tepat sehingga perawatan juga tepat. Berbagai usaha dan bahan yang dapat digunakan untuk mengatasi keluhan tersebut. Prinsip dalam mengatasi keluhan ini adalah mengatur aktivitas nervus intradentalis atau menutup tubulus dentinalis. Pada kasus dentin hipersensitif karena ada lesi kavitas, baik yang disebabkan oleh karies atau non karies; perlu dilakukan restorasi. Bila keluhan tersebut tanpa kavitas, dapat diatasi dengan penggunaan agen desensitisasi, misalnya larutan sodium fluoride dengan bantuan alat khusus, pasta gigi yang mengandung fluor, kalsium fosfosilikat. Tujuan penulisan ini untuk menginformasikan mengenai etiologi, mekanisme penjalaran rangsang dan tatakelola kasus dentin hipersensitif.
Penatalaksanaan serostomia pada pasien edentulus totalis dengan penampung saliva buatan: (Management of xerostomia in totally edentulous patient using artificial saliva reservoir)
Fitrian Riksavianti;
Moh. Dharma Utama;
Eri H. Jubhari
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 5 (2015): Vol 4 No 5 Oktober 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (508.907 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i5.231
Saliva memiliki peranan yang penting di dalam mulut dan erat hubungannya dengan rencana perawatan yang akan dilakukan di dalam bidang prostodontik. Pada penderita serostomia, pemakaian gigi tiruan terasa sangat tidak nyaman. Penulisan makalah kajian pustaka ini dimaksudkan untuk membahas penatalaksanaan edentulus totalis dengan pembuatan gigi tiruan lengkap, yang dilengkapi penampung saliva buatan pada penderita serostomia. Saliva yang berkurang pada akan mengurangi retensi gigi tiruan dan dapat mengiritasi jaringan lunak penyangganya. Serostomia dapat disebabkan karena beberapa hal, antara lain, terapi penyinaran, pemakaian obat-obatan, penyakit sistemik dan penyakit yang menyangkut kelenjar saliva. Salah satu perawatan yang dapat disarankan adalah dengan pembuatan penampungan sebagai wadah untuk menyimpan saliva buatan pada sebuah gigi tiruan lengkap. Penampung saliva buatan dapat dibuatkan pada rahang atas atau rahang bawah. Setelah penggunaan gigi tiruan, disimpulkan bahwa modifikasi gigi tiruan lengkap dengan pembuatan penampung saliva, menghasilkan gigi tiruan yang memiliki pelumasan yang baik.
Pemanfaatan obat herbal topikal pada recurrent aphthous stomatitis dengan pertimbangan manfaat dan keamanannya: (Utilization of topical herbal medicine on recurrent aphthous stomatitis: their benefits and security considerations)
Anggun Mauliana Putri
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 5 (2015): Vol 4 No 5 Oktober 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (521.82 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i5.232
Sejak berabad-abad yang lalu, obat herbal telah digunakan oleh masyarakat sebagai obat berbagai macam penyakit namun barulah beberapa dekade terakhir ini mulai ditelusuri pemanfaatannya secara ilmiah untuk pengobatan. Penggunaan obat herbal di kalangan masyarakat sebagai pengobatan alternatif semakin meningkat. Hal tersebut ditunjukkan oleh data dari World Health Organization yang menyatakan bahwa sekitar 80% penduduk dunia menggunakan obat yang berasal dari tanaman. Obat herbal alami sebagai terapi alternatif untuk recurrent aphthous stomatitis telah banyak digunakan di banyak negara termasuk Indonesia yang sangat kaya tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat, bahkan telah dianggap sebagai warisan leluhur. Pemanfaatan aneka ragam hayati yang mengandung zat alami berkhasiat mengobati stomatitis sehingga penderita RAS tidak perlu menjalani berbagai macam pengobatan medis yang rumit dan mahal dengan risiko timbulnya efek samping. Obat herbal secara umum lebih banyak digunakan oleh masyarakat selain karena lebih murah juga dinilai lebih aman daripada obat modern. Artikel ini membahas tentang khasiat dan keamanan pengobatan alternatif berupa obat herbal dalam penanganan RAS.
Low bone mineral density as predictor factor for loss of teeth
Irene Edith Rieuwpassa;
Nurul Fitri;
Wahyu Aji Ramadhan
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 5 (2015): Vol 4 No 5 Oktober 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (189.645 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i5.233
Low bone mineral density is a clinical condition in patients with osteoporosis. Osteoporosis is a degenerative metabolic disease characterized by reduced bone mass and bone microarchitecture; so it risks for fracture. The prevalence of osteoporosis increases with the increasing life expectancy and preponderance of females. This paper aims to determine the influence of decreased bone mineral density of the missing teeth terhadap tooth loss which contributes to early prevention of tooth loss in people with osteoporosis and osteopenic. The method used to assess bone mineral density reduction is by using dual energy x-ray absorptiometry (DXA) while the loss of teeth can be seen by clinical and radiological examination of the oral cavity with a panoramic technique. Tooth loss is a condition that must be experienced by the end of dental periodontal disease which is present in a progressive inflammatory process, periodontal attachment loss and decreased alveolar bone supporting the teeth. The high rate of decline in bone mineral density can lead to faster loss of teeth because of hormone deficiency in elderly women or men. This condition affects the activity of osteoclast and osteoblast, causing abnormalities bone turnover on the whole body including the alveolar bone and showed relationship between decreased of bone mineral density with tooth loss in the elderly. The conclusion is the presence of hormone deficiency in the process of interaction osteoblast and osteoclast leads to decreased bone mineral density in elderly include in jaw bone and it causes rapid tooth loss.
Penanganan kedaruratan endodontik pada pulpitis ireversibel: (Emergency endodontic treatment of irreversible pulpitis)
Muhsana Santa;
Aries Chandra Trilaksana
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 5 (2015): Vol 4 No 5 Oktober 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (243.141 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i5.234
Kedaruratan endodontik merupakan kasus yang cukup sering terjadi. Pada survei yang dilakukan di AS diperoleh hasil 12% dari populasi telah mengalami nyeri gigi dalam 6 bulan terakhir. Meskipun terdapat sedikit data, pulpitis ireversibel yang ditandai dengan rasa nyeri yang sangat, dan akut merupakan alasan paling sering bagi pasien untuk sesegera mungkin mencari perawatan pada klinik dokter gigi. Pada kasus rasa nyeri sakit sulit dikontrol dengan obat penghilang rasa nyeri, dokter gigi harus segera memberikan pertolongan yang cepat dan efektif untuk meredakannya. Keberhasilan manajemen kedaruratan endodontik membutuhkan keterampilan untuk mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan kegawatdaruratan endodontik yang dapat dilakukan dengan pulpektomi vital, yaitu dengan membuang seluruh jaringan pulpa dibanding terapi paliatif. Penulisan artikel ini dimaksudkan untuk menjadi acuan dalam penanganan nyeri pada kasus pulpitis ireversibel dengan melakukan pulpektomi vital, pada praktek dokter gigi sehari-hari.
Guided bone regeneration in periodontology: review
Nadhia A. Harsas;
Antonius Irwan
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 6 (2015): Vol 4 No 6 Desember 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (550.098 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i6.235
Alveolar bone loss caused by periodontal diseases is one of complication in periodontology. In some cases, alveolar bone loss is often followed by extraction as the treatment choice and resulting in large bone defects. Deficiency of bone volume and dimension can make difficulties on implant placement in the future. Guided bone regeneration is one of treatment modalities to create bone regeneration usually in edentulous area. The success of bone regeneration in large bone defects needs bone graft and barrier membrane material. There are various types of bone graft that can be used such as autograft, xenograft, allograft, alloplast, and bioglass. The rationale of GBR advocates mechanical exclusion of undesirable soft tissues from growing into the osseous defect, therefore barrier membrane plays an important role in GBR. Various types of materials have been developed, which can be grouped together as either non-resorbable or resorbable membranes. This paper reviews the uses of GBR especially in periodontology as one of therapeutic treatment choices for bone regeneration.
Tekstur makanan: sebuah bagian dari food properties yang terlupakan dalam memelihara fungsi kognisi? (Food texture: a part of the food properties that ignorable for maintaining cognitive function?)
Kartika Indah Sari;
Winny Yohana
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 6 (2015): Vol 4 No 6 Desember 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (271.608 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i6.236
Tekstur makanan adalah hasil dari respon tactile sense terhadap bentuk rangsangan fisik ketika terjadi kontak antara bagian di dalam rongga mulut dan makanan. Penelitian pada hewan dan manusia mengungkapkan bahwa aktivitas mastikasi mempengaruhi fungsi kognisi di hipokampus, suatu regio pada sistem saraf pusat yang penting untuk learning dan spasial memory. Artikel ini bertujuan membahas beberapa hasil penelitian terkini yang berkaitan dengan tekstur makanan, mastikasi dan fungsi kognisi. Aktivitas mastikasi merupakan aktivitas yang sangat kompleks yang merupakan kegiatan sensoris motoris. Gangguan terhadap fungsi mastikasi mempengaruhi morfologi hipokampal dan hipokampus melalui kemungkinan proses degenerasi, terutama pada manula. Penelitian-penelitian yang membahas topik ini masih terus berlangsung. Disimpulkan bahwa tekstur makanan yang padat atau keras dapat memelihara kemampuan learning dan memory, namun ingestion tekstur makanan lunak dalam jangka waktu yang lama kemungkinan akan mempengaruhi kemampuan learning dan memory melalui kemungkinan hubungan dengan neurogenesis hipokampal.
Penatalaksanaan hiperpigmentasi gingiva: laporan kasus: (Management of gingival hyperpigmentation: case report)
Anneke Paramita Adityatama;
Noer Ulfah
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 6 (2015): Vol 4 No 6 Desember 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (282.724 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i6.237
Hiperpigmentasi gingiva terjadi karena deposisi pigmen melanin yang berlebihan sehingga warna gingiva menjadi lebih gelap. Seiring perkembangan jaman dan kebutuhan pasien akan penampilan yang baik, perawatan estetik di bidang kedokteran gigi semakin berkembang dan diminati masyarakat. Salah satu perawatan estetik tersebut adalah depigmentasi gingiva. Depigmentasi gingiva adalah perawatan yang bertujuan mengoreksi hiperpigmentasi gingiva. Tujuan utama dari tulisan ini adalah menjelaskan teknik penatalaksanaan hiperpigmentasi gingiva. Pada kasus 1, pasien berumur 23 tahun datang dengan keluhan gusi depan berwana kehitaman yang mengganggu estetik ketika tersenyum. Pasien mengaku merokok sejak 4 tahun yang lalu, tetapi telah berhenti sejak 1 tahun yang lalu. Pada kasus 2, seorang pria umur 30 tahun datang dengan keluhan gusi depan berwarna kehitaman. Pasien sudah lama merokok. Pasien ingin meghilangkan warna kehitaman pada gusinya tersebut. Kepada kedua pasien dilakukan depigmentasi pada regio gingiva anterior atas menggunakan scalpel #15. Bagian interdental dihaluskan menggunakan pisau orban kemudian irigasi dengan larutan salin steril. Selanjutnya dilakukan aplikasi periodontal pack pada daerah operasi. Hasil perawatan menunjukkan bahwa depigmentasi gingiva dengan scalpel adalah prosedur bedah yang paling sering digunakan karena dapat mengembalikan estetika gingiva. Penyembuhan gingiva dalam perawatan ini cukup baik tanpa adanya infeksi dan rasa sakit berlebih, meskipun repigmentasi dapat terjadi jika pasien tidak menghilangkan penyebabnya, dalam kasus ini merokok.
Kegagalan estetik pada gigi tiruan cekat: (Esthetic failure in fixed denture)
Yuli Susaniawaty;
Moh. Dharma Utama
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 6 (2015): Vol 4 No 6 Desember 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (329.719 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i6.238
Salah satu tujuan perawatan gigi tiruan cekat yaitu mengembalikan fungsi dan estetis dari gigi yang hilang, Akan tetapi pada kenyataannya banyak kegagalan yang dijumpai, baik akibat gigi tiruan yang tidak sesuai dengan kondisi anatomis rongga mulut pasien maupun karena kesalahan teknis operator, sehingga gigi tiruan yang telah dibuatkan tidak sesuai harapan dokter dan pasien. Pada saat melakukan perawatan gigi tiruan cekat, mungkin terjadi beberapa kegagalan yang dapat berkaitan dengan aspek mekanis maupun estetik dari gigi tiruan tersebut. Kebanyakan kegagalan gigi tiruan tersebut adalah akibat ketidakpuasan akan aspek estetiknya. Jika gigi tiruan dibuat untuk mengembalikan fungsi dan estetika, perlu diperhatikan hubungan yang harmonis antara gigi penyangga, keadaan gusi, dan kebersihan rongga mulut. Penulisan artikel ini dimaksudkan untuk memberi informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi estetik dan kegagalan estetik pada gigi tiruan cekat berikut cara mengatasi masalah dan meminimalkan kegagalan dalam pembuatan gigi tiruan cekat. Pengetahuan klinis mengenai komplikasi yang dapat terjadi pada gigi tiruan cekat meningkatkan kemampuan klinisi untuk menyelesaikan masalah, mengembangkan rencana pengobatan yang paling tepat, berkomunikasi kepada pasien mengenai harapan dan rencana interval waktu yang dibutuhkan untuk perawatan. Dalam melakukan perawatan hendaknya senantiasa mengikuti prinsip-prinsip perawatan dan mempertimbangkan berbagai faktor yangmenjadi kunci keberhasilan perawatan. Yuli Susaniawaty, 2 Moh. Dharma Utama 1
Gambaran kecemasan pada siswa kelas IV, V, dan VI sekolah dasar terhadap perawatan gigi: (Overview of anxiety on student of class IV, V, and VI elementary school on dental care)
Adam Malik Hamudeng;
Abi Rafdi
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 6 (2015): Vol 4 No 6 Desember 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (288.028 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i6.239
Rasa takut terhadap perawatan gigi dan mulut khususnya pada perawatan penambalan gigi merupakan hambatan terbesar bagi dokter gigi dalam melakukan perawatan yang optimal. Di seluruh dunia, prevalensi rasa takut pada perawatan gigi dan mulut mencapai 6-15% dari seluruh populasi, namun cukup bervariasi di berbagai bagian dunia dan pada populasi sampel yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kecemasan siswa kelas IV, V, dan VI. Jenis penelitian ini adalah observasi analitik dengan rancangan cross sectional dengan sampel sebanyak 290 siswa di SD Inpres Tamalanrea II Kota Makassar dan SDN 6 Mentirotiku Kabupaten Toraja Utara. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuisioner dan checklist yes or no answer yang meliputi semua tahapan pada perawatan gigi. Data dianalisis menggunakan uji statistik univariat. Perawatan gigi di SD Inpres Tamalanrea II Kota Makassar yang memiliki frekuensi kecemasan tertinggi yaitu siswi Kelas VI pada anestesi local, sebesar 77,8%. Sedangkan di SDN 6 Mentirotiku Kabupaten Toraja Utara yaitu siswi Kelas IV pada saat dokter gigi menyentuhkan alat ke giginya, sebesar 72,7%. Secara keseluruhan mengenai distribusi tahap perawatan gigi yang paling dicemaskan responden adalah saat dokter melakukan anestesi lokal.