Jurnal Teknodik
Scope: The scope of TEKNODIK Journal is about Educational Technology (Learning), as a discipline, subject material, or profession. The process of activities includes Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation (ADDIE). The scope of TEKNODIK Journal is not only in the form of study, research, or development, but also book review on education technology. Focus: 1. Distant and Open Learning; 2. Information and Communication Technology (ICT) for Education; 3. Learning Strategy; 4. Learning Media; 5. Innovative Learning System or Model; 6. Development of Digital Learning Content; 7. Utilization of ICT and other media for Education (Learning)
Articles
147 Documents
Search results for
, issue
"Juni"
:
147 Documents
clear
MEMAHAMI ALGORITMA PEMOGRAMAN (Analisis Pembelajaran dalam Implementasi Software)
Yuni Sugiarti
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 09 No. 16, Juni 2005
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (101.453 KB)
|
DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.538
Kenyataan menunjukan bahwa pembelajaran pemograman komputer masih banyak yang mengalami kesulitan baik secara teori ataupun praktek. Akibatnya kurang mengahayati atau memahami konsep-konsep pemograman dan kesulitan mengaplikasikan pemograman komputer untuk aplikasi bisnis, pendidikan, game, dll. Salah satu cara pembelajaran pemograman komputer adalah dituntut untuk membiasakan menggunakan algoritma. Algoritma yaitu urutan langkah atau tahapan-tahapan berhingga untuk memecahkan masalah logika/matematika, dimulai dengan mendefinisikan masalah, menentukan solusi, memilih algoritma, menulis program, menguji program, menulis dokumentasi sampai merawat program atau maintenance. Tulisan ini menganalisis secara teoritis pembelajaran pemograman komputer menggunakan algoritma, serta implementasinya dalam kasus konversi software engeenering dikonversi ke sistem data base.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) UNTUK PEMBELAJARAN DI SMP NEGERI 5 PONOROGO, JAWA TIMUR
Arie Kurniawan
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 23 No. 1, Juni 2019
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (122.934 KB)
|
DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.369
 Saat ini, penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk membantu proses pembelajaran merupakan suatu hal yang biasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan TIK dalam pembelajaran di SMPN 5 Ponorogo. Hal-hal yang dipehatikan meliputi peralatan yang digunakan, frekuensi pemanfaatan, hambatan yang dihadapi, dukungan dari pemimpin, serta pengaruhnya terhadap motivasi belajar siswa. Objek dari penelitian ini adalah 51 orang guru di SMPN 5 Ponorogo. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan instrumen kuesioner dan wawancara. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menyatakan bahwa seluruh responden sudah memanfaatkan TIK dalam proses pembelajaran meskipun dengan frekuensi yang berbeda-beda. Hambatan yang dihadapi antara lain adalah keterbatasan sarana serta rendahnya kemampuan memanfaatkan TIK. Meskipun literasi digitalnya masih rendah, seluruh guru memiliki semangat belajar yang tinggi sehingga kemampuannya bisa ditingkatkan melalui pelatihan-pelatihan. Pemanfaatan TIK juga terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar siswa dan berdampak juga terhadap prestasi belajar mereka. Guna meningkatkan kualitas pembelajaran yang memanfaatkan TIK, pihak sekolah perlu meningkatkan kualitas perangkat TIK. Selain itu, perlu juga dilakukan pelatihan guna meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan TIK untuk mendukung proses pembelajaran.Currently, the use of Information and Communication Technology (ICT) to help the learning process is a common thing. This research aims to find out how the utilization of ICT for learning in SMPN 5 Ponorogo is. The concern includes the utilized-equipment, the utilization frequency, faced-obstacles, support from the leaders, and the impcat on the students’ learning motivation. The object of this research is 51 teachers in SMPN 5 Ponorogo. This research uses survey method with questionnaire and interview instrument. The data obtained are analyzed descriptively quantitatively. The research result states that all respondents have utilized ICT in their learning process although with different frequency. Obstacles encountered include limited facilities and low ability to utilize ICT. Despite their low digital literacy, all teachers have high learning spirit so that their skills can be improved through trainings. ICT utilization also proves to be able to increase students’ learning motivation and also impact their learning achievement. To improve the quality of learning process that utilizes ICT, the schools need to improve the quality of ICT equipment. In addition, some relevant training are also necessary to improve the teachers’ ability in utilizing ICT to enhance the learning process.
JABATAN FUNGSIONAL PENGEMBANG TEKNOLOGI PEMBELAJARAN (JF-PTP): APA DAN BAGAIMANA?
Sudirman Siahaan
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 14 No. 1, Juni 2010
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (95.169 KB)
|
DOI: 10.32550/teknodik.v14i1.453
Salah satu kebijakan Pemerintah yang terus-menerus disosialisasikan yang berkaitan dengan birokrasi adalah “ramping struktur, kaya fungsiâ€. Berdasarkan kebijakan yang demikian ini, lembaga pemerintah secara berkelanjutan menerapkan perampingan atau penciutan struktur organisasi di satu sisi, tetapi di sisi yang lain menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan berbagai jabatan fungsional. Beberapa di antara jabatan fungsional yang dibina oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) adalah mengenai: dosen, guru, pamong belajar, pengawas, dan pengembang teknologi pembelajaran. Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (JF-PTP) adalah jabatan fungsional yang ditetapkan oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) melalui Peraturan Menpan Nomor PER/2/M.PAN/ 3/2009 tertanggal 10 Maret 2009. Dengan ditetapkannya JF-PTP diharapkan ada arah pengembangan karier yang jelas dan pasti bagi para lulusan program studi atau jurusan Teknologi Pendidikan/Pembelajaran dan program studi lainnya yang relevan dan mereka yang berkiprah di lembaga-lembaga pendidikan, pelatihan, atau lembaga pemerintah lainnya yang mengembangkan atau menerapkan teknologi pembelajaran. Demikian juga di sisi lainnya bagi perguruan tinggi, sekolah, lembaga pelatihan, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya yang mengembangkan atau menerapkan teknologi pembelajaran mempunyai dasar juridis dalam pengajuan kebutuhan formasi pegawai. Mengingat ketetapan tentang JF-PTP ini masih baru dan masih dalam tahap sosialisasi, maka tulisan ini juga dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk menyosialisasikan keberadaan Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelaj
MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA ALIH PROGRAM PADA JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN FIP UNJ
Bambang Sutjipto
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 8 No. 14, Juni 2004
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (482.283 KB)
|
DOI: 10.32550/teknodik.v8i14.529
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara deskriptif tentang Motivasi Belajar mahasiswa alih program pada jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Manfaat penelitian ini akan menjadi masukan untuk pengembangan kurikulum jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan dalam melaksanakan proses belajar dan lulusan pada jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, (FIP) Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Penelitian ini merupakan penelitan deskriptif dengan menggunakan teknik survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara motivasi belajar dengan hasil belajar mata kuliah Pengembangan Media Pendidikan I ( Uji rxy = 0,606 > r tabel = 0,361 pada taraf signifikansi ï¡Â  = 0,05, n = 30;  Uji t = 4,03 > t tabel = 2,76 pada taraf signifikansi ï¡Â = 0,05 dk = 28). Indeks determinasi = 0,37 atau sebanyak 37% variasi motivasi belajar memberikan kontribusi kepada hasil belajar mahasiswa alih program jurusan Teknologi Pendidikan
PENELITIAN TEKS DAN KONTEKS: Sebuah Perbandingan Oleh : Purwanto
nfn Purwanto
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 8 No. 14, Juni 2004
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (465.988 KB)
|
DOI: 10.32550/teknodik.v8i14.595
Setiap metodologi penelitian mempunyai kebenarannya sendiri. Penelitian kuantitatif digunakan ketika kebenaran diterima sebagaimana gejalanya yang tampak dan dapat diuji. Kebenaran adalah tunggal, diterima secara universal, dan selalu terbuka untuk diuji. Penelitian kualitatif digunakan ketika perilaku yang tampak diterima sebagai perilaku budaya. Kenyataan yang tampak bukanlah kebenaran yang sesungguhnya, tapi hanya simbol. Kebenaran tersembunyi dalam pikiran, perasaan dan keyakinan masyarakat pemilik budaya. Kebenaran adalah makna dari perilaku budaya yang diinterpretasikan oleh peneliti. Penelitian tindakan dibuat dengan keyakinan bahwa objek penelitian dapat diberdayakan menjadi subjek yang mampu membuat perubahan produktif atas dirinya. Kebenaran penelitian didefinisikan dari kemanfaatannya untuk membuat perubahan atas mereka yang diteliti. Seluruh metodologi dapat digunakan untuk melakukan penelitian baik dalam lapangan teks maupun konteks.
MODEL DAN FORMAT ANALISIS KEBUTUHAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF
M. Miftah
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 13 No. 1, Juni 2009
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (107.899 KB)
|
DOI: 10.32550/teknodik.v13i1.443
Pembaharuan bidang pendidikan di Indonesia senantiasa dilakukan secara berkesinambungan dan salah satu di antaranya adalah perbaikan dan pengembangan kurikulum. Kurikulum yang diberlakukan dewasa ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Multimedia yang secara sengaja dan kreatif dirancang untuk membantu memecahkan permasalahan pembelajaran, kiranya merupakan alternatif yang akan banyak mengambil peran dalam implementasi KTSP. Berbagai bentuk pengalaman belajar, baik yang dapat dicapai di dalam maupun di luar kelas, pesan-pesan pembelajaran, dan berbagai bentuk pengalaman belajar perlu dikemas dengan memperhatikan kaidah serta prinsip teknologi pembelajaran dalam bentuk multimedia. Agar program multimedia yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, perlu dilakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan bertujuan untuk mendapatkan topiktopik yang akan dimultimediakan. Dalam kaitan ini, digunakanlah alur kerja, model, dan format analisis kebutuhan. Metode yang diterapkan adalah dalam bentuk lokakarya yang melibatkan para guru bidang studi, kalangan akademisi, dan para (media, teknologi pembelajaran, teknologi informasi, kurikulum). Hasil kegiatan yang diharapkan adalah model dan format analisis kebutuhan yang digunakan untuk mengidentifikasi topik-topik yang akan dimultimediakan melalui pengkajian kurikulum secara mendalam.
Kumpulan Abstrak
nFN Tim Editorial Jurnal Teknodik
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 20 No. 1 Juni 2016
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (32.962 KB)
|
DOI: 10.32550/teknodik.v20i1.176
PERILAKU AKSES INTERNET MAHASISWA PENDIDIKAN TINGGI JARAK JAUH DI SURAKARTA INTERNET ACCESS BEHAVIOUR OF DISTANT HIGHER EDUCATION STUDENTS IN SURAKARTA  Djoko Rahardjo; Sumardjo; Djuara P. Lubis; Sri HarijatiDepartemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, PPS – IPBdj.rahardjo@ut.ac.id; sumardjo252@gmail.com; djuaralubis@gmail.com; harijati@ut.ac.id (Artikel ini merupakan bagian dari Disertasi: Rahardjo, D. 2015. Model Akses dan Pemanfaat Internet dalam Kemandirian Belajar Mahasiswa Pendidikan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh. Bogor: Pascasarjana IPB) ABSTRAK:Media internet sudah banyak diterapkan untuk berbagai kepentingan dalam dunia pendidikan. Meskipun media internet sudah dikenal luas, mahasiswa pendidikan tinggi jarak jauh yang tinggal di daerah perdesaan di beberapa wilayah Indonesia masih menghadapi permasalahan dalam mengaksesnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara perilaku mahasiswa dalam mengakses internet dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Perilaku akses internet mencakup tiga komponen utama yaitu kogintif, afektif, dan konatif. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku akses internet meliputi faktor lingkungan, karakteristik pesan, dan kredibilitas sumber. Penelitian survei ini dilaksanakan di wilayah Surakarta dengan sampel 320 responden. Data dianalisis dengan metode Model Persamaan Struktural. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor lingkungan berpengaruh nyata terhadap perilaku mahasiswa dalam mengakses internet. Ternyata peningkatan akses internet lebih mudah dilakukan dengan peralatan berupa handphone yang lebih murah, namun dibutuhkan pengembangan perangkat lunak yang sesuai dengan peralatan tersebut. Strategi lain yang mendukung peningkatan akses adalah peningkatan kemampuan mahasiswa dalam menelusur informasi.  Kata kunci: akses internet, pendidikan jarak jauh, perilaku belajar mahasiswa  ABSTRACT:Internet has been widely applied for educational purposes. Although the media is well known, distant higher education students who live in remote or rural areas in Indonesia are still facing problems in accessing it. The purpose of this study is to analyze the relationship between the behavior of the students in accessing the Internet and the factors that influence it. Internet access behavior includes three main components, namely cogintive, affective, and conative components. Factors that influence the behavior include environmental factors, message characteristics, and source credibility. This survey research was conducted in seven districts in Surakarta with a sample of 320 respondents. Data were analyzed in Structural Equation Model method. The result shows that environmental factors significantly affect the behavior of students in accessing the internet. It turns out that the increase in internet access is more easily done with cheaper equipment such as mobile phones, but it is necessary to develop appropriate software for such equipment. Another strategy that supports increased access is improving students’ capability in information searching on the internet. Key words: internet access, distant education, student learning behavior
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN TERPADU DALAM PENDIDIKAN KARAKTER
Herwina Bahar Herwina Bahar
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVII No.2 Juni 2013
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (194.84 KB)
|
DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.80
diterima: 02 Mei 2013; dikembalikan untuk direvisi: 12 Mei 2013; disetujui: 18 Mei 2013Abstrak: Model pembelajaran menjadi sesuatu yang wajib dilakukan oleh guru, bahkan harus mencari paradigma baru yang bisa membelajarkan peserta didik. Untuk itu, upaya apa saja yang harus dilakukan oleh guru dalam mengembangkan model pembelajaran untuk membentuk pendidikan karakter, perlu dibahas secara mendalam. Tujuan dari penulisan ini mengkaji pelaksanaan proses pembelajaran yang berkembang dan mencari suatu model pembelajaran alternative dan strategis dalam membentuk karakter siswa. Salah satu model pembelajaran yang bisa memberdayakan peserta didik adalah model pembelajaran terpadu. Sebagai suatu aplikasi dari strategi pembelajaran berdasarkan kurikulum terpadu yang bertujuan untuk menciptakan atau membuat proses pembelajaran secara relevan dan bermakna bagi siswa. Pembelajaran ini melibatkan siswa mulai dari merencanakan, mengeksplorasi, dan brain storming dari siswa, sehingga mereka didorong untuk berani bekerja secara kelompok dan belajar dari hasil pengalamannya sendiri. Pendidikan karakter bisa terlaksana atau terinternalisasi dalam proses pembelajaran melalui pengajaran yang memberikan pengetahuan dan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa sesuai dengan pedoman dan petunjuk yang ditetapkan. Guru mendidik dengan memberi tuntunan, petunjuk dan keteladanan yang dapat diterapkan siswa dalam sikap dan prilaku yang baik (akhlakul karimah). Melalui penerapan pendekatan modeling atau uswatun hasanah dengan menegakkan nilai-nilai akhlak, maka pendidikan karakter (characterbased education) dapat terwujud dengan baik.Kata kunci: Pembelajaran terpadu dan pendidikan karakterAbstract: Learning model is one of important considerations to take into account by teachers in order to build new paradigm for students. Therefore, any teachers’ efforts related to learning model in building chacarters, need to be discussed deeper. This study was aimed to analyze learning process that has been implementing and to find alternative and strategic learning models in order to build students’ characters. One of learning models that can be applied is integrated learning model. As part of integrated curriculum, this model creates a relevant and meaningful learning model for students. The process involves students in planning, exploring and brain storming to study in a group-work based on their own experiences. Character education is taught through knowledge and information based on standard guidance.In this model, teacher acts as an educator, role model, a good leader so that the students will have good attitude and behaviour (akhlakul karimah). By applying this role model approach (uswatun hasanah), character-based educationwill be well achieved.Keywords: Integrated learning and character education
IDENTIFIKASI KESULITAN CALON GURU TAMAN KANAK-KANAK DALAM MEMPELAJARI MUSIK
Marwati Mansyur
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 10 No. 18, Juni 2006
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (128.829 KB)
|
DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.553
Tujuan penelitian untuk memperoleh gambaran tentang kesulitan mahasiswa calon guru TK dalam mempelajari musik, terutama untuk mengenali bekal mahasiswa belajar musik, mengetahui letak kesulitan mahasiswa dalam belajar musik, mengetahui penguasaan mahasiswa terhadap alat musik, dan mengetahui tinggi rendahnya kreativitas mahasiswa dalam belajar musik. Penelitian menggunakan metode survai, dilaksanakan pada bulan Mei 2005 sampai dengan November 2005 di Program Studi PGTK, Jurusan Pendidikan Anak, FIP, UNJ. Populasi penelitian adalah mahasiswa Program Studi D-II PGTK yang sedang menempuh mata kuliah Musik. Pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling. Sampel penelitian berjumlah 40 responden. Hasil penelitian adalah: (1) Bekal belajar musik yang dimiliki mahasiswa masih rendah, ditunjukkan dengan rerata skor tidak lebih dari 2,5; dengan skor tertinggi 4,0. Bekal paling rendah adalah membaca not balok, sedangkan bekal tertinggi adalah bergerak sesuai dengan isi lagu, (2) Membaca not angka merupakan yang paling sulit, sedangkan mahasiswa hampir tidak mengalami kesulitan ketika bergerak sesuai dengan isi lagu, (3) Alat musik yang paling dikuasai mahasiswa PGTK adalah tamborin, sedangkan yang kurang dikuasai adalah castanyet, dan (4) tingkat kreativitas mahasiswa PGTK belajar musik dalam katagori tinggi, ditunjukkan dengan rerata skore 3,575.
SEPUTAR SERTIFIKASI GURU
Sudirman Siahaan;
Rr. Martiningsih
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 1, Juni 2008
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (126.672 KB)
|
DOI: 10.32550/teknodik.v12i1.423
Kata-kata “Guru berarti digugu dan ditiru†sering kita dengar diungkapkan. Guru dinilai sebagai seseorang yang dapat dipercaya, berdedikasi, dan berjasa bagi kemajuan masyarakat. Oleh karena itu, guru layak ditiru dan dijadikan sebagai panutan. Sebagai guru seharusnya memperlihatkan perilaku yang bisa dipercaya dan diteladani. Sebagai profesional yang berkualitas, guru bukan hanya mampu mentransfer ilmu pengetahuan dan menerapkan sistem tertentu dengan berbagai seluk-beluknya tetapi memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan dan secara terus-menerus berupaya meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya dalam membelajarkan peserta didiknya. Mengingat kualifikasi guru yang bervariasi dan mengacu pada Undang-Undang tentang Guru dan Dosen, Departemen Pendidikan Nasional menetapkan kebijakan di bidang sertifikasi tenaga pendidik di mana salah satu persyaratan untuk mengikutinya adalah memiliki kualifikasi akademik Strata-1 (S-1) atau Diploma IV (D-IV). Melalui tulisan ini, penulis mencoba berbagi pemikiran tentang sertifikasi guru, yang antara lain mencakup konsep sertifikasi, berbagai pendapat/ tanggapan guru, kendala atau kesulitan guru mengkuti kegiatan sertifikasi melalui jalur portofolio, dan saran-saran guru mengenai sertifikasi.