cover
Contact Name
Dwi Septian Wijaya
Contact Email
admin@jurnalmedikahutama.com
Phone
+6281334291827
Journal Mail Official
admin@jurnalmedikahutama.com
Editorial Address
Jl. Gas Alam No. 59 Curug Cimanggis Depok
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Medika Hutama
ISSN : 27158039     EISSN : 27159728     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Medika Hutama adalah jurnal hasil penelitian, studi kasus, dan tinjauan pustaka di bidang Kesehatan dan Kedokteran
Articles 533 Documents
KONSUMSI PUDING BAHIRAT (BAHAM HIJAU, MERAH DAN BIT) TERHADAP PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL Febriana Rosi
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 03 April (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia in pregnancy is caused by physiological changes, metabolism and an increase in plasma volume by 30-50% which causes red blood cells to decrease so that pregnant women are prone to anemia and inadequate intake of iron. Anemia can have an impact on bleeding during childbirth, stunted fetal growth, premature birth, low birth weight and even anemia is a cause of death in the mother and fetus. The need for iron in the second trimester is 35 mg/day and in the third trimester it is 39 mg/day. Iron during pregnancy can be met by consuming green spinach, red spinach and beets. The iron content in green spinach is 3.9 mg/100g, red spinach is 7mg/100g and beets is 7.4mg/100g. The combination of these three ingredients has never been studied before, which is processed into pudding to make it attractive and disguise the taste of the three ingredients. The aim of the study was to determine the effect of consumption of bahirat pudding (green, red and beetroot spinach) on increasing hemoglobin levels in pregnant women. The research method uses a quasi-experimental design with a pre-test and post-test control group design. The number of samples were 44 pregnant women in the second and third trimesters who experienced anemia, 22 pregnant women in the intervention group were given bahirat pudding for 10 days while the control group was given regular pudding without bahirat for 10 days. The data were analyzed using the Wilcoxon test to obtain an average hemoglobin level in the group. the intervention was -4.05 <0.05, while the control group was -0.427 <0.05 so that H0 was rejected and there was an effect of consumption of bahirat pudding on increasing hemoglobin levels of pregnant women.
Gambaran Penerapan Patient Safety Resiko Jatuh oleh Perawat di Ruang Rawat Inap Kelas III RSUD Arifin Achmad Amoi Amoisi Santri
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 03 April (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Hasil penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan patient safety risiko jatuh oleh perawat di ruang rawat inap kelas III di RSUD Arifin Achmad. Metode: penelitian ini menggunakan kuesioner yang sebelumnya telah dilakukan content validity. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan adanya penerapan patient safety terkait alat ukur Morse Fall Scale (MFS) dikategorikan baik sebanyak 56 (89,9%). Penerapan pemasangan gelang resiko jatuh oleh perawat dikategori baik (89,9%). Penerapan pemasangan restrain oleh perawat dikategori baik sebanyak 49 (77,8%), dan penerapan pemasangan bedrail oleh perawat dikategori baik sebanyak 62 (98,6%). Kesimpulan: Gambaran penerapan patient safety resiko jatuh oleh perawat di ruang rawat inap kelas III RSUD Arifin Achmad berada dikateori baik karena perawat memiliki pengetahuan yang baik dan pengalaman kerja yang cukup lama terkait penerapan patient safety resiko jatuh di rumah sakit. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi dalam pengembangan Ilmu Keperawatan tentang keselamatan pasien resiko jatuh di ruang rawat inap.
KORELASI KADAR THYROID STIMULATING HORMONE (TSH) DAN KADAR FREE THYROXINE (FT4) PADA PASIEN TIROID DI RS BHAYANGKARA TK.I RADEN SAID SUKANTO Desi Aryani
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 03 April (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit tiroid atau gangguan tiroid merupakan kondisi abnormal pada seseorang yang diakibatkan oleh gangguan kelenjar tiroid, baik berupa perubahan bentuk atau perubahan fungsinya. Pemeriksaan fungsi tiroid yang umum digunakan untuk mendiagnosis penyakit tiroid yaitu pemeriksaan Thyroid Stimulating Hormon (TSH) dan Free Thyroxine (FT4). TSH merupakan marker maksimum yang sensitif untuk menilai fungsi tiroid yang abnormal, FT4 merupakan hormon tiroid yang bebas atau tidak berikatan dengan protein dalam darah sehingga pemeriksaan FT4 termasuk salah satu pemeriksaan yang spesifik dalam mendiagnosis adanya gangguan tiroid. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kadar TSH terhadap kadar FT4 pada pasien dengan gangguan tiroid. Manfaat dilakukan penelitian untuk menambah wawasan dan memperdalam pengetahuan tentang pemeriksaan TSH dan FT4.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah berjumlah 73 pasien tiroid yang melakukan pemeriksaan kadar FT4 dan TSH. Data dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bersifat berlawanan arah antara kadar FT4 dan kadar TSH pada pasien tiroid dengan nilai p = <0,001 dan nilai korelasi koefisien = -0,820 yangarti hubungannya adalah apabila kadar FT4 tinggi maka kadar TSH rendah dan apabila kadar FT4 rendah maka kadar TSH tinggi.
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 Yuli Astuti
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 01 Oktober (2020): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Melitus (DM) telah menjadi masalah kesehatan utama dunia dengan angka kejadian dan kematian yang masih sangat tinggi(18).Kejadian penyakit DM yang paling sering terjadi di masyarakat adalah diabetes melitus tipe dua. Kasus pada tahun 2019, prevalensi diabetes melitus di dunia adalah sebesar 9,3% dan angka kejadian diabetes melitus di dunia 463 juta jiwa. Penelitian No-Eksperimen dengan metode Deskriptif melalui pendekatan Cross sectional. Sampel dalam penelitian sebanyak 30 orang dengan Teknik purposive sampling. pengumpulan data pada penelitian ini dengan menggunakan kuesioner dengan objek penelitian disini adalah dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat pada penderita Diabetes Mellitus. Hasil sebagian besar responden berusia 56-65 tahun yaitu sebanyak 16 responden (53,33%) dan responden paling sedikit pada rentang usia 40-55 tahun yaitu sebanyak 14 responden (46,67%). Berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh perempuan sebanyak 17 responden (56,67%). Berdasarkan Pendidikan didominasi Sd dan SMP Sebanyak 9 responden (30%). Sebagian penderita diabetes mellitus didominasi tidak bekerja sebanyak 18 responden (60%) dan Sebagian besar menderita diabetes mellitus kurang dari 5 tahun sebanyak 17 responden ( 56,67%).
IMPLEMENTASI AKTIVITAS FISIK OLAHRAGA JALAN KAKI MENGONTROL KADAR GULA DARAH PADA KELUARGA DENGAN DIABETES MELLITUS: STUDI LITERATUR Yuli Astuti
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 03 April (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Mellitus is a metabolic disorder characterized by increased blood sugar levels that can cause damage to various systems of the human body. This literature study aims to examine the effects, methods and results of physical activity walking on controlling blood sugar in people with diabetes mellitus. This study uses a literature study, articles are obtained from 1 database, namely Google Scholar using inclusion and exclusion criteria. The keyword used in this literature search is “Diabetes Mellitus. Blood Sugar Levels. Walking” and “Diabetes Mellitus. Blood Glucose. Walking". From 10 studies, it was found that walking exercise has an effect on controlling blood sugar levels in people with diabetes mellitus. The average respondent decreased by 30 mg/dl. There is an effect of physical activity walking on controlling blood sugar levels with value = 0.000 <0.05. Physical activity walking can help people with diabetes mellitus control their blood sugar levels.
PENGARUH SENAM ERGONOMI TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI Yuli Astuti
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 04 Juli (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usia lansia merupakan tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia (Keliat dalam Maryam, 2011). Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupan yaitu anak, dewasa dan tua (Nugroho, 2006 dalam Kholifah, 2016). Usia lanjut adalah suatu proses yang alami yang tidak dapat dihindari oleh manusia. Lansia ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dan kehidupan seksual. Gelaja-gelaja kemunduran fisik seperti merasa cepat capek, stamina menurun, badan menjadi membongkok, kulit keriput, rambut memutih, gigi mulai rontok, fungsi pancaindra menurun, dan pengapuran pada tulang rawan (Maramis, 2016). Hipertensi merupakan penyakit kronik dan masalah kesehatan yang sangat serius diberbagai negara maju maupun berkembang (Eugene & Bourne, 2013). Hipertensi menjadi masalah kesehatan publik hampir diseluruh dunia dikarenakan penyakit hipertensi sebagai faktor resiko dari beberapa penyakit.Tingginya prevalensi hipertensi berkaitan dengan peningkatan komplikasi kardiovaskuler dan meningkatkan negative impact pada morbidity dan mortality rate didunia (WHO,2011). Penatalakanaan saat ini dalam rangka menurunkan dan mencegah hipertensi mungkin belum secara efektif sehingga muncul hipertensi yang tak terkontrol (Profil Keshatan Semarang,2013). Penatalaksanaan farmakologis pada hipertensi pada lansia tentunya dapat mengakibatkan efek samping yang lebih serius sehingga terapi non farmakologi bisa menjadi pilihan karena memiliki resiko lebih rendah (Thei et al., 2008). Penanganan hipertensi dapat dilakukan mengubah pola hidup seperti mengurangi jumlah asupan garam, minuman beralkohol, menurunkan berat badan, rokok dan melakukan aktivitas fisik seperti olahraga (Lionakis, 2012). Salah satu terapi yang dapat diaplikasikan kepada lansia yaitu olahraga berupa senam ergonomik (Thei et al., 2008). Senam Ergonomis merupakan senam yang gerakannya diadopsi dari gerakan shalat. Gerakan dalam senam ini sangat sederhana, bahkan minim gerakan, namun bila dilakukan secara konsisten dan kontinue, maka akan memberikan manfaat yang sangat baik bagi kesehatan. Manfaat gerakan senam ergonomis ini antara lain: Pengaktifan fungsi organ tubuh; membangkitkan biolistrik dalam tubuh dan melancarkan sirkulasi oksigen sehingga tubuh akan terasa segar dan energi bertambah; penyembuhan berbagai penyakit, mengontrol tekanan darah tinggi (Sagiran,2013). Senam ergonomik juga pernah diteliti dan hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata tekanan darah sistolik sebelum dan setelah dilakukan senam ergonomis yaitu 14,00 mmHg dan tekanan darah diastolic sebelum dan setelah dilakukan senam ergonomis yaitu 8,00 mmHg. Hasil uji bivariat didapatkan p-value 0,00 mmHg. kesimpulannya, terdapat pengaruh intervensi senam ergonomis terhadap penurunan tekanan darah lansia dengan hipertensi di Balai Penyantunan dan Perawatan Lanjut Usia[6]. Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa senam ergonomik dapat menurunkan tekanan darah pada lansi. Dapat dilihat dari hasil penelitian ini bahwa senam ergonomik pada lansia yang menderita hipertensi yang dilakukan 3 kali dalam seminggu dan dilakukan selama 2 minggu dapat menurunkan tekanan darah sebelum intervensi 145/95 mmHg dan setelah intervensi 130/85 mmHg Terdapat hubungan senam ergonomik dengan penuruanan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi (p value = 0.005 < 0.05). Senam ergonomik dapat menurunkan tekanan darah pada pada lansia dengan hipertensi.
EDUKASI PENGENALAN OBAT HERBAL UNTUK PENYAKIT DIABETES MELLITUS DI WILAYAH KELURAHAN PONDOK RANGGON Yuli Astuti
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 03 April (2022): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obat herbal dari bahan alam mulai menjadi salah satu pilihan terapi dalam penyembuhan penyakit. Kekayaan alam Indonesia yang sangat beragam, khususnya tumbuhan, telah dipercaya secara turun-temurun memiliki khasiat dalam penyembuhan penyakit. Namun, manfaat dari tumbuhan ini belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, khusunya Pada penderita Diabetes Mellitus. Utuk meningkatkan pengetahuan mengenai pemanfaatan bahan alam sebagai obat, dilakukan penyuluhan penggunaan obat herbal pada penderita Diabetes Mellitus di kelurahan Pondok Ranggon., Metode Pelaksanaan pendidikan kesehatan kepada masyarakat di RT 05 RW 02 Kelurahan Pondok Ranggon Cipayung Jakarta Timur sebanyak 25 orang, pemberian materi dengan metode ceramah diskusi disertai demontarasi dengan media power point. selama 30 menit. Hasil evaluasi pada pre test didapatkan tingkat pengetahuan tinggi 32 %, pengetahuan sedang 36 % dan rendah 32%, sedangkan pada post test didapatkan tingkat pengetahuan tinggi 68 % dan sedang 32 %. Sehingga didapatkan perbedaan tingkat pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah pemberian materi. Simpulan. Progam pendidikan yang telah dilaksanakan sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat sehingga diharapkan juga akan bermanfaat buat masyarakat khususnya penderita Diabetes Mellitus untuk menggunakan obat herbal sebagai alternatif pilihan dalam menstabilkan kadar gula darah.
PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG PENCEGAHAN KANKER PAYUDARA MELALUI “SADARI” PADA REMAJA DI SMK PELITA ALAM Riadinni Alita
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 01 Oktober (2020): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit kanker merupakan penyebab salah satu kematian di seluruh dunia. Kanker yang tidak sedikit dialami pada perempuan diantaranya kanker payudara. Kanker payudara ialah penyakit kanker yang menempati urutan kedua diantara penyakit kanker yang dialami perempuan. Pada 2020 didapatkan jumlah kasus baru kanker payudara di Indonesia mencapai 68.858 kasus (16,6%) dari total 396.914 kasus baru kanker, dengan jumlah kematian mencapai lebih dari 22 ribu jiwa [1]. Penyakit ini menyebabkan meningkatnya resiko terhadap perdarahan, kerusakan organ, fistula, gagal ginjal, bahkan kematian [6,7] Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mendeteksi sedini mungkin abnormalitas pada payudara dan pencegahan. SADARI merupakan cara yang paling sederhana dan murah karena dapat dilakukan sendiri. Mitra dalam pengabdian masyarakat ini adalah remaja putri SMK Pelita Alam. Setelah diberikan penyuluhan kesehatan tentang SADARI didapatkan adanya peningkatan pengetahuan peserta yang mendapatkan score nilai diatas 60 sebesar 74% menjadi 93%. Setelah diberikan edukasi pencegahan kanker payudara dengan SADARI adalah meningkat 93%. Hasil ini membuktikan bahwa perlu adanya pendidikan kesehatan melalui pendidikan kesehatan reproduksi pencegahan penyakit kanker payudara melalui SADARI. Saran untuk keberlangsungan kegiatan pengabdian masyarakat ini perlu adanya kerjasama mitra agar pemeriksaan SADARI dikembangkan menjadi SADANIS serta dijadikan dalam program usaha kesehatan sekolah melalui screening kesehatan secara berkala
STUDI LITERATUR :TERAPI KOMPLEMENTER UNTUK MENGURANGI MUAL DAN MUNTAH PADA IBU HAMIL Riadinni Alita
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 04 Juli (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehamilan adalah sesuatu yang biasa dialami oleh seorang wanita, ketika hamil melakukan pemeriksaan beberapa ibu hamil akan mengadu mengenai keluhan selama hamil. Ibu hamil biasanya mengeluh atas ketidaknyamanan berupa mual dan muntah pada kehamilan awal (Santi 2013). Keluhan yang menjadikan ibu tidak nyaman saat hamil adalah mual dan muntah yang diakibatkan oleh berubahnya saluran cerna serta meningkatnya kadar Human Chorionic gonodotropin (HCG) dalam darah (Betz & Fane, 2020). Pemberian pengobatan atau terapi pada ibu hamil harus mempertimbangkan kemungkinan resiko komplikasi yang bisa terjadi pada ibu dan janinnya (Mattison, 2013). Menurut Federasi Obstetri Ginekoloigi Internasional, kehamilan diartikan bagaikan pembenihan atau penyatuan dari ovum dengan spermatozoa dan diteruskan dengan implantasi. Jika dilihat dari fase pembenihan sampai kelahiran, menurut kalender internasional kehamilan normal membutuhkan waktu 40 minggu atau 9 bulan. Ada tiga trimester dalam kehamilan, trimester 1 berlangsung dalam 0 -13 minggu, trimester kedua 14-27 minggu dan trimester ketiga 27-40 minggu (Astuti 2012). Mual dan muntah terjadi pada 50-90% dari kehamilan pada trimester I, biasa terjadi pada pagi hari, malam hari bahkan setiap saat. Berdasarkan hasil penelitian mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida. Mual dan muntah dalam kehamilan biasanya dimulai pada usia kehamilan 9-10 minggu, puncaknya pada usia kehamilan 11-13 minggu, dan sembuh pada kebanyakan kasus pada umur kehamilan 12-14 minggu. Dalam 1-10% dari kehamilan, gejala-gejala dapat berlanjut sampai umur kehamilan 20-22 minggu (Kia, et al., 2014). Mual muntah dapat ditangani secara farmakologi dengan diberikan obat- obatan untuk mengurangi mual muntah seperti obat anti emetik/vitamin B6, akan tetapi dari obat-obatan tersebut mempunyai efek samping antara lain seperti sakit kepala, diare dan mengantuk. Tidak semua ibu hamil dapat menjalani terapi dengan menggunakan obat-obatan, ada beberapa ibu yang tidak terlalu suka apabila harus mengonsumsi obat-obatan maka pemberian terapi non farmakologis diperlukan. Pengobatan secara non farmakologi atau terapi komplementer yang mempunyai kelebihan lebih murah dan tidak mempunyai efek farmakologi. Pada awal bulan kehamilan atau trimester pertama kehamilan mual dan muntah terjadi sekitar 60% -70%. Jika kasus ini tidak segera ditangani akan menjadi hiperemesis gravidarum yang memiliki akibat buruk bagi ibu hamil dan kandungannya. Hal ini bisa ditangani dengan terapi nutrisi yaitu makan sedikit tapi sering dan pengobatan herbal yaitu dengan menggunakan teh spearmint atau teh jahe, dan menggunakan aroma terapi jeruk, peppermint dan spearmint (Onggo 2012). Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa terapi komplementer yang dapat digunakan untuk mengurangi mual dan muntah pada ibu hamil.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECEMASAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN PADA MASA PANDEMIC COVID-19 Nova Riani
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 03 April (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini, dunia telah digemparkan dengan adanya penyebaran virus yakni Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Virus ini cukup meresahkan masyarakat karena sangat mematikan dan tidak sedikit orang yang telah terpapar virus. COVID-19 pada awalnya terjadi di Wuhan dan diidentifikasi sebagai pneumonia dengan etiologi yang tidak diketahui. Virus ini diidentifikasi dari sampel tenggorokan pada satu pasien oleh Chinese Center For Disease Control And Prevention (CDC) dan kemudian dinamai sebagai “2019 Novel Corona Virus (2019NCOV) oleh World Health Organization (WHO). Setelah peningkatan jumlah kasus yang semakin tinggi, WHO mengumumkan COVID-19 sebagai penyakit endemic disebabkan oleh SARS-CoV-2 dan kemudian pada akhirnya WHO mengumumkan Kembali COVID-19 sebagai pandemi (Ge et al., 2020). Menghadapi situasi kritis ini, petugas kesehatan di garis terdepan yang terlibat langsung dalam diagnosis, pengobatan, dan perawatan pasien COVID-19 berisiko terhadap stres psikologis dan gejala kesehatan mental lainnya. Meningkatnya jumlah kasus yang dikonfirmasi, beban kerja yang berat, peralatan perlindungan diri yang menipis, meluasnya liputan media, kurangnya obatobatan tertentu, dan perasaan tidak didukung merupakan faktor-faktor yang berkontribusi pada kesehatan mental petugas kesehatan (Lai et al., 2020). Mahasiswa keperawatan merupakan salah satu calon tenaga Kesehatan seringkali menghadapi tantangan dalam berbagai kondisi dan situasi. Mahasiswa secara subjektif mengevaluasi persyaratan. Beberapa mahasiswa menilai persyaratan sebagai tantangan, yang lain sebagai masalah yang dapat menyebabkan konflik. Perubahan situasi yang dialami seseorang dapat menimbulkan perasaan cemas, takut, khawatir, dan cemas terkait dengan masalah internal dan eksternal yang dikenal dengan istilah kecemasan. dan tidak semua mahasiswa termotivasi untuk terlibat dalam praktik klinis. Ini biasanya merupakan stresor lain bagi mahasiswa. Mahasiswa keperawatan sering mengalami kecemasan selama pendidikan keperawatan, termasuk praktik klinis. Kecemasan yang parah selama praktik klinis dapat mencegah siswa melakukan intervensi dengan pasien dan bahkan membahayakan mereka. Praktik klinik di rumah sakit dapat menjadi sumber kecemasan yang besar bagi mahasiswa, terutama ketika melakukannya untuk pertama kalinya, karena ini adalah intervensi langsung pertama mahasiswa dengan klien (Sugiharno et al., 2022). Mahasiswa menjadi cemas karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman, serta takut melakukan kesalahan dalam praktik keperawatan karena preceptor membuat mahasiswa bertanggung jawab terhadap pasiennya. Beberapa mahasiswa merasa tidak aman tentang perilaku perawatan mereka, karena mereka tidak mendapatkan dukungan dari preceptor/staf perawat untuk memperoleh keterampilan baru. Hal lain yang mereka rasakan selama pembelajaran klinis adalah jantung berdebar kencang (Trybahari et al., 2019) Studi sebelumnya oleh Buhari (2020) menemukan banyak mahasiswa mengalami kesulitan dalam menghadapi masalah nyata dalam praktik klinis. Penyebab masalah dalam praktik klinis sangat bervariasi, antara lain karena mahasiswa baru pertama kali praktik klinis, memiliki pemahaman tugas yang terbatas, lingkungan baru, dan pengalaman langsung berinteraksi dengan pasien. Keberhasilan praktik klinik dipengaruhi oleh kesiapan pengetahuan, mental, emosional dan adanya lingkungan belajar yang kondusif Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan dari jenis kelamin (p =0,001), tingkat pengetahuan (p=0,00), dan ketersediaan APD (0,00) terhadap kecemasan mahasiswa prodi DIII keperawatan selama masa pandemi COVID-19. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami kecemasan akibat pandemi COVID-19 yang juga disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah meningkatnya kecemasan pada mahasiswa perawat perempuan, ketersediaan APD yang kurang memadai, ketakutan penularan pada anggota keluarga lainnya, dan pengetahuan mahasiswa.