cover
Contact Name
Dwi Septian Wijaya
Contact Email
admin@jurnalmedikahutama.com
Phone
+6281334291827
Journal Mail Official
admin@jurnalmedikahutama.com
Editorial Address
Jl. Gas Alam No. 59 Curug Cimanggis Depok
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Medika Hutama
ISSN : 27158039     EISSN : 27159728     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Medika Hutama adalah jurnal hasil penelitian, studi kasus, dan tinjauan pustaka di bidang Kesehatan dan Kedokteran
Articles 533 Documents
GAMBARAN PENCEGAHAN CORONAVIRUS DISEASE 2019 (COVID-19) PADA KELUARGA Vera Febrianti
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 02 Januari (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coronavirus disease 2019 (Covid-19) merupakan penyakit yang sangat menular yang menyebabkan terjadinya gangguan pada pernapasan dan radang paru. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana gambaran pencegahan covid-19 pada keluarga. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif sederhana. Sampel penelitian adalah 213 keluarga dengan menggunakan teknik total sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner yang telah dimodifikasi oleh peneliti dan telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dari pencegahan covid-19. Hasil Penelitian menunjukkan mayoritas keluarga berperilaku baik dalam mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebanyak 149 keluarga (70%), memiliki etika batuk yang baik sebanyak 108 keluarga (50,7%), melakukan physical distancing sebanyak 110 keluarga (51,6%), menjaga kebersihan diri dengan baik 128 keluarga (60,1%), menjaga kebersihan tempat tinggan dengan baik sebanyak 139 keluarga (65,3%), dan menjaga kesehatan mental dengan baik sebanyak 129 keluarga (60,6%). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gambaran pencegahan yang dilakukan oleh keluarga dalam menghadapi pandemi covid-19 mayoritas adalah baik. Hasil penelitian ini diharapkan kepada keluarga agar dapat menerapkan pencegahan covid-19 secara keseluruhan guna terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh covid-19 ini.
PERBEDAAN TINGKAT KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH DESA JATISARI DAN KELURAHAN PATRANG: PERBEDAAN TINGKAT KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH DESA JATISARI DAN KELURAHAN PATRANG Maftuchah Legina C; Hella Meldy Tursina
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 03 April (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Adherence is the behavior of patients in undergoing treatment by following the recommendations of therapy and health given by health professionals. This study aims to determine differences in the level of adherence to treatment of hypertension patients in the Jatisari Village and Patrang Jember Villages.Methods: The research used in this research is comparative quantitative where the population in this study are patients with hypertension in the Jatisari and Patrang villages, totaling 85 respondents. The sampling technique used non-probability sampling with consecutive sampling type as many as 43 respondents from Jatisari Village and 42 respondents from Patrang Village. Collecting data in this study using the MMAS-8 questionnaire to obtain compliance data and using a questionnaire to obtain data about, gender, education level, occupation using a questionnaire sheet. The test carried out in this study was bivariate with the Mann Whitney test.Analysis and Discussion: Obtained in Jatisari village the level of compliance in Jatisari village, 22 respondents (51.2%), medium 14 respondents (32.6%), high 7 respondents (16.2%), for the results of Patrang Village the level of compliance in Patrang Village was low 10 respondents (23.8%), moderate 22 respondents (52.4%), high 10 respondents (23.8%). From the results of the Mann Whitney bivariate test, the interpretation of the significance value (ρ-value) or = 0.023 <0.05.Conclusion: there is a difference in the level of adherence to hypertension treatment in the Jatisari and Patrang villages. It is recommended that patients with hypertension take antihypertensive drugs regularly and improve a clean and healthy lifestyle and reduce stress levels.
KARAKTERISTIK PENDERITA OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DI POLIKLINIK TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERIODE JULI 2022-DESEMBER 2022 Farida Aryani
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 03 April (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

pendengaran di negara-negara berkembang. Angka kejadian OMSK di Indonesia tergolong cukup tinggi. Keterlambatan dalam penanganan dapat mengakibatkan terjadinya komplikasi hingga mengganggu fungsi pendengaran pada penderita OMSK dan menurunkan kualitas hidup. Tujuan : Metode : Penelitian ini merupakan penelitian desktiptif dengan metode cross sectional menggunakan data sekunder yang diambil melaui rekam medis RSUD provinsi NTB. Didapatkan sampel sebanyak 33 responden OMSK yang sesuai kriteria inklusi yaitu pasien baru dan pasien lama yang terdiagnosis Otitis Media Supratif Kronis yang datanya diambil dari Rekam Medis pada periode bulan Juli 2022 sampai dengan Desember 2022 dan kriteria eksklusi seperti pasien bayi dan balita yang tidak kooperatif untuk dilakukan pemeriksaan audiometri, serta pasien yang tidak dilakukan pemeriksaan IgE. Hasil : Dari penelitian yang dilakukan didapatkan usia terbanyak penderita OMSK adalah 17-25 tahun sebanyak 39,4% dengan jenis kelamin laki laki sebanyak 51,5% dan perempuan sebanyak 48,5%. Sebagian besar tipe OMSK yang didapatkan merupakan tipe aman sebesar 90,9% dengan jenis tuli tertinggi adalah tuli konduksi 78,8%. Dari hasil pemeriksaan IgE didapatkan sebagian besar pasien memiliki total IgE >87.0 iu/mL. Penanganan yang diberikan berupa tympanoplasty 78,8%, medikamentosa 12,1% dan mastoidektomi sebanyak 9,1 %. Simpulan : OMSK masih menjadi salah satu penyakit terbanyak di poli THT dengan proporsi laki-laki usia produktif (>18 tahun) lebih dominan dengan tipe tuli konduksi umumnya ditemukan dari hasil pemeriksaan penunjang. Peningkatan kadar IgE total juga didapatkan dari pasien OMSK. Berbagai penanganan dilakukan untuk penyembuhan OMSK diantaranya medikamentosa, tympanoplasti, hingga mastoidektomi.
PENCEGAHAN KEJADIAN NEONATAL LUPUS PADA SEORANG PENDERITA SLE DENGAN GRAVIDA PERTAMA Ni Made Nova Andari Kluniari
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 03 April (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wanita hamil dengan SLE memiliki resiko mortalitas yang lebih tinggi. Insiden dari neonatal lupus mencapai 18% pada ibu dengan Sjogren syndrome autoantigen type A (Ro/SSA) dan 20% pada ibu dengan Sjogren syndrome autoantigen type B (La/SSB). Pada laporan kasus ini akan dibahas mengenai seorang pasien yang merupakan seorang perempuan usia 31 tahun yang menderita SLE diketahui sejak 7 tahun yang lalu, pasien dalam keadaan remisi dengan Mex-SLEDAI score 0. Pada pasien telah dilakukan pemeriksaan penapisan saat kehamilan dengan didapatkan SS-A, SS-B, Ro-52 recombinan yang positif kuat. Bayi yang lahir dari pasien ini berpotensi mengalami Neonatal Lupus. Untuk pencegahan Neonatal Lupus pada pasien telah diberikan terapi Dexametasone dan Hidroksiklorokuin. Dexametasone merupakan pilihan kortikosteroid berfluorinasi yang direkomendasikan untuk pencegahan Congenital Heart Block sebagai manefestasi Neonatal Lupus. Hidroksiklorokuin juga berkaitan dengan penurunan insiden Congenital Heart Block. Kata Kunci : Sistemik Lupus Eritematosus, Sjogren syndrome, Neonatal Lupus, Congenital Heart Block.
REAKSI ANAFILAKSIS AKIBAT OBAT PARASETAMOL Adrian Adinata Candra
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 03 April (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

anafilaksis adalah sindroma klinik (kompleks gejala) yang timbul secara mendadak sebagai akibat perubahan permeabilitas vaskuler dan hiperaktivitas bronkial karena kerja dari mediator – mediator endogen yang dihasilkan oleh sel – sel mast dan basofil akibat stimuli antigen. Di Amerika Serikat diperkirakan 1-2% pasien yang disuntik dengan antibiotik mengalami reaksi anafilaksis dan 400-800 di antaranya meninggal per tahun. 15% dari populasi Amerika Serikat mempunyai risiko untuk reaksi anafilaksis. Insiden kasus anafilaksis yang dicetuskan oleh obat diperkirakan 0,04 hingga 3,1 % dan reaksi anafilaksis yang di picu oleh obat ini bertanggungjawab untuk 1 dari 4000 kasus di unit gawat darurat. Fatality rate mencapai 0,65%. Sebagian besar obat yang memicu terjadinya anafilaksis adalah golongan antibiotik dan NSAID, 48.7–57.8% of insiden reaksi anafilaksis dipicu oleh penggunaan NSAID, dan 14,3% insiden reaksi anafilaksis dipicu oleh penggunaan antibiotik golongan beta lactam terutama amoxicillin. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan untuk obat lain dapat memicu terjadinya reaksi anafilaksis. Berikut akan kami laporkan suatu kasus anafilaksis akibat obat yang tidak biasa yaitu parasetamol
Hubungan Usia, Pekerjaan dan Pengetahuan Gizi terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada Balita di Puskesmas Meliana Nursihhah
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 03 April (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurangnya pemberian ASI dapat menyebabkan masalah kesehatan anak. Salah satu penyebab tingginya kematian bayi di Indonesia adalah kelainan bawaan, sepsis, infeksi saluran nafas atas, gizi dan lingkungan, yang dimana faktor gizi tersebut adalah asupan ASI pada bayi. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan asi eksklusif yaitu usia, semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang untuk berpikir dan bekerja akan lebih baik. Kemudian faktor lainnya yaitu tingkat pendidikan ibu namun Sebagian hampir 50% penduduk Indonesia memiliki pendidikan rendah, yang dimana dapat mempengaruhi pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI eksklusif pun rendah, karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya kurangnya pendidikan akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang diperkenalkan. Tingkat pendidikan yang rendah akan sulit menerima asrahan dalam pemberian ASI eksklusif pada bayi dan lebih sulit dalam menyerap informais terutama tentang pemenuhan kebutuhan gizi anak. Tujuan: pengabdian masyarakat ini mempunyai tujuan untuk mengetahui hubungan Usia, Pekerjaan dan Pengetahuan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Metode: pengabdian masyarakat iini adalah pengabdian masyarakat ideskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel pada pengabdian masyarakat ini adalah menggunakan rumus purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 35 responden. Data yang digunakan adalah data primer yang dikumpulkan menggunakan kuesioner. Kemudian, data di analisis menggunakan uji Chi Square. Hasil: Berdasarkan hasil uji bivariat diketahui bahwa tidak terdapat hubungan antara usia dengan pemberian ASI Eksklusif dengan p value = 0,213 > 0,05 dan tidak terdapat hubungan antara Pendidikan dengan pemberian ASI Eksklusif dengan p value = 0,382 > 0,05 namun terdapat hubungan antara pengetahuan gizi terhadap pemberian ASI Eksklusif dengan p value = 0,04 < 0,05.
Tantangan implementasi rekam medis elektronik di fasilitas pelayanan kesehatan Indonesia Anzany Tania Dwi Putri
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 03 April (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of information and communication technology use is increasingly prominent in the health sector, including in the use of medical records. Medical records that were originally made manually are now required to evolve into electronic form, known as electronic medical records (EMR) in order to succeed digital transformation in the health system. Unfortunately, in an effort to implement EMR, it is not a quick and easy thing to do, particularly from the service provider's perspective. The aim of this article is to find out the obstacles and challenges faced by various health care providers (clinics, public health centers, and hospitals) in Indonesia. The method used is literature study using the google scholar database with inclusion criteria including review article, full text, Bahasa language, and published during 2017-2022. The result is that there are 12 articles selected to be analyzed. The challenges faced in implementing EMR are categorized into four major aspects, namely legal, human resources, infrastructure, and technology. It is hoped that the results of this literature study can be an input for the government to make policies that are able to solve the problems occurred. Thus, health digitalization in Indonesia can be optimally achieved.
PENGARUH RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP PENURUNAN NYERI PASIEN KANKER: LITERATURE REVIEW Yutari Prazona
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 03 April (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap penurunan nyeri pasien kanker. Metode: Literature review sederhana dengan memanfaatkan mesin pencari data dari 5 jurnal yang digunakan mengenai pengaruh relaksasi otot progresif, terhadap penurunan nyeri pasien kanker. Sumber data: Google Schoolar, Science Direct, Pubmed. Hasil: Berdasarkan literature review 5 jurnal didapatkan bahwa relaksasi otot progresif mempengaruhi penurunan nyeri pada pasien kanker. Kesimpulan: Tindakan pemberian relaksasi otot progresif akan mendapatkan hasil terbaik jika dilakukan selama 25-30 menit dengan 2 kali pemberian dalam masing-masing gerakan.
Gambaran Permasalahan Pemberian ASI pada 6 Bulan Pertama Ridha Setiadewi Ridha
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 03 April (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Breastmilk is an essential liquid during infant early stage of life. The low coverage of breastfeeding is thought to be a threat to growth and development of infant, which will affect the quality of human resources. Methods: this study applied descriptive design with a cross sectional approach. There were 104 participants taking part in this study, who were selected using nonprobability sampling method with quota sampling type. The location of this research was conducted in Riau Province using an online survey of all mothers who have problems giving breastfeeding for the first six months, and mothers can access the internet to be able to fill out a questionnaire. Result: this study describes the majority of the participants were between the age of 26 and 35 (57,7%). While 78,8% of the participants held bachelor degree; most of participants were working mothers (51,9%). With 51% of the infants were female; most of the breasfeeding mothers in the Province of Riau come from the city of Pekanbaru (53,8%) and the more exclusive breastfeeding duration is six months (54,8%), the most common problem found during breastfeeding was breast engorgement 70,2%, while the least common problem experience was breast abscess (22,1%). Conclusion: the problem related to brestfeeding in the first six months period found in was breast engorgement while the problem to breastfeeding in the first six months period found in Riau provinde occured among infants age 0-2 months, which is the age where most problems with breastfeeding occur are influenced by various factors including physiologic increasesd milk production, maternal mental health and experiences of mothers in breastfeeding.
Kepatuhan Penggunaan Masker pada Kegiatan Shalat Tarawih di Masjid Al Hikmah Jakarta Pasca Pencabutan Kebijakan PPKM Acintya Wika Sitakusuma; Helen Andriani
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 03 April (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Managing the spread of COVID-19 in Indonesia has been carried out massively since 2021-2022. Implementation of policies such as 3M, 3T, vaccination, discipline, compact, and consistent were taken to maintain this control. In fact, cases of the spread of COVID-19 were under controlled until the Government of Indonesia finally began to loosen policies by revoking one of the policies in the form of PPKM in December 2022. Following that time of the community's free time activities, also welcomed by the arrival of the month of Ramadan in which the majority of people can perform the usual tarawih prayer activities freely in congregation with due observance of health protocols, including the use of masks. Therefore, this paper aims to look at compliance with the use of masks during Tarawih prayer activities at a mosque in Jakarta in connection with the revocation of the PPKM policy. Method: Simple quantitative descriptive is used so that the data can be analyzed and studied independently to fulfill the research objectives. Results: It is found that there is non-compliance with the use of masks in people who perform Tarawih prayers as many as 93% of respondents at the Al Hikmah Mosque, East Jakarta. The research is based on demographic factors and the behavior of the people who become the object of research, including in the form of people's understanding of regulations and their compliance with regulations. Conclusion: From the results in the form of non-compliance with the use of masks in the community with the activities mentioned earlier, it is hoped that there will be additional socialization on the use of masks as an implementation of health protocols so that the level of public awareness in facing the risk of COVID-19 can be maintained so that the spread of COVID-19 can continue to be controlled before the COVID-19 pandemic is declared over.