cover
Contact Name
Dwi Septian Wijaya
Contact Email
admin@jurnalmedikahutama.com
Phone
+6281334291827
Journal Mail Official
admin@jurnalmedikahutama.com
Editorial Address
Jl. Gas Alam No. 59 Curug Cimanggis Depok
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Medika Hutama
ISSN : 27158039     EISSN : 27159728     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Medika Hutama adalah jurnal hasil penelitian, studi kasus, dan tinjauan pustaka di bidang Kesehatan dan Kedokteran
Articles 533 Documents
DAMPAK PENDEMI COVID-19 TERHADAP KESEHATAN MENTAL MASYARAKAT Nova Riani
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 04 Juli (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari kota Wuhan, China menjelang akhir tahun 2019 dimana penyebarannya terjadi dengan cepat dan menimbulkan bahaya pandemi lainnya ( Masyah, 2020). WHO menganggap virus corona sudah diatur sebagai pandemi. Secara internasional pada 11 November 2020, jumlah 50.810.763 kasus yang dikonfirmasi dicatat dengan 1.263.844 kematian diumumkan (CFR 2,48%). Coronavirus pada dasarnya telah mengubah perilaku sosial individu hanya dalam hitungan bulan. Stigma tentang virus corona mulai muncul. Mulai dari pemecatan hingga mengkorbankan individu yang terjangkit virus corona, seperti pekerja kesehatan, pasien, anggota keluarga pasien, bahkan jenazah orang yang terjangkit virus corona (Ridlo, 2020) Pada tanggal 02 Maret 2020 Indonesia mengkonfirmasi kasus pertama virus corona dengan 2 kasus awal. Menjelang akhir Maret 2020, tim Coronavirus memberikan aturan untuk media reaksi cepat dan perspektif kesejahteraan umum yang diidentifikasi dengan penularan Coronavirus di Indonesia ( Masyah, 2020). Ditemukannya masyarakat Indonesia yang terkonfirmasi Covid-19 yang dapat menyebabkan kesehatan mental pada masyarakat. Gangguan kesehatan mental yang paling banyak dikenal adalah kecemasan dan depresi. Pada batasnya, individu dengan masalah yang berat kemungkinan besar tidak dapat bangun atau merawat dirinya sendiri secara aktual dan individu dengan masalah kegelisahan tertentu kemungkinan besar tidak akan dapat keluar dari rumah atau mungkin memiliki kebiasaan kebiasaan untuk membantu meringankan rasa takut. Dampak pandemi virus corona terhadap kesehatan mental. Menurut WHO (2020) munculnya pandemi menyebabkan stress pada masyarakat. Meskipun sejauh ini belum ada survei yang disengaja tentang efek virus corona terhadap kesejahteraan psikologis, berbagai penyelidikan yang diidentifikasi dengan pandemic justru memengaruhi kesehatan emosional penderitanya (Puji Asmaul Chusna etall, 2020). Masyarakat menjadi semakin p anik d an takut karena pasien yang terjangkit terus bertambah dan menyebar ke luar dari China termasuk Indonesia. Terdapat kurang lebih 200 negara yang telah terjangkit virus ini. Negara dengan kasus konfirmasi terbanyak yaitu Amerika Serikat dengan kurang lebih 186.046 kasus, lalu Italia dengan 105.792 kasus, dan Spanyol dengan 95.923 kasus pada tahun 2020. Kehadiran wabah atau virus ini memberikan dampak atau pengaruh pada masyarakat Indonesia, bukan hanya dampak yang terjadi pa da k esehatan fisik, akan tetapi kondisi psikologis setiap invidu dan masyarakat ikut terpengaruh juga. Brook dkk (2020) mengungkapkan bahwa ada beberapa dampak psikologi ketika pandemi terjadi yang dirasakan oleh masyarakat seperti gangguan stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder), kegelisahan, kebingungan, ketakutan akan afaksi, frustasi, insomania, dan merasa diri tidak berdaya. Adapun kondisi paling parah pada seseorang adalah munculnya kasus xenofobial, bahkan kasus bunuh diri sering kali terjadi karena sebagian orang takut terinfeksi oleh virus yang dianggap paling mematikan itu. Berdasarkan analisis dan kajian yang telah dilakukan penulis, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa COVID-19 membawa pengaruh terhadap kesehatan mental masyarakat di wilayah pondok ranggon.
STUDI LITERATUR: TERAPI KEPERAWATAN TERHADAP KOPING KELUARGA PASIEN GANGGUAN JIWA Nova Riani
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 01 Oktober (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skizofrenia/ Gangguan jiwa adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan menimbulkan pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan perilaku yang aneh dan terganggu yang memiliki gejala-gejala positif, seperti waham, halusinasi, disorganisasi pikiran dan bicara, serta perilaku tidak teratur dan gejala-gejala negatif, seperti afek datar, tidak memiliki kemauan, dan menarik diri dari masyarakat atau rasa ketidaknyamanan (Retnowati, 2012). Permasalahan yang terjadi pada pasien skizofrenia tidak hanya melibatkan pasien itu sendiri tetapi juga melibatkan keluarga sebagai orang terdekat dari pasien tersebut. Keluarga mempunyai beban tersendiri saat merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Terapi keperawatan diberikan kepala keluarga agar koping keluarga lebih efektif dalam menghadapi situasi yang ditimbulkan selama perawatan pasien skizofrenia. Penelitian ini menggunakan studi literatur, artikel diperoleh dari 1 data base yaitu Google Scholar dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Tema artikel yang digunakan yaitu terapi keperawatan terkait dengan koping keluarga pasien skizofrenia Literature ini bertujuan untuk mengetahui terapi keperawatan yang dapat digunakan pada keluarga agar koping keluarga lebih efektif. Hasil dari studi literatur didaptkan bahwa yang mampu mengatasi masalah koping keluarga pada pasien dengan gangguan jiwa/ skhizofernia yaitu terapi keperawatan spesialis namun dilakukan penelitian lebih lanjut tentang terapi keperawatan komplementer pada keluarga dengan masalah koping keluarga khususnya pada klien dengan gangguan jiwa/ skizofernia.
PENGARUH MUSIK SHOLAWATAN TERHADAP KWALITAS TIDUR PENDERITA INSOMNIA DI RSUD BUDHI ASIH Irsan Irsan
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 03 April (2022): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tidur didefinisikan sebagai keadaan neuro-behavioral yang berulang dan reversibel dari pelepasan persepsi relatif dan tidak responsif terhadap lingkungan. Pada manusia, tidur biasanya disertai dengan postur berbaring, perilaku tenang dan mata tertutup. Orang dewasa harus mencukupi waktu tidur 7 hingga 8 jam per malam. Tidur malam yang baik sangat penting karena membantu meningkatkan konsentrasi dan pembentukan memori serta memungkinkan tubuh untuk memperbaiki kerusakan sel yang terjadi di siang hari dan menyegarkan sistem kekebalan yang membantu mencegah penyakit (Sheth & Thomas, 2019). Salah satu permasalahan kesehatan terkait dengan gangguan tidur yaitu insomnia. Insomnia adalah salah satu gangguan tidur yang paling umum terjadi. Insomnia mencakup kesulitan tidur di awal periode tidur, terbangun di malam hari dan mengalami kesulitan untuk tidur kembali, serta bangun lebih awal atau tidak bisa tidur kembali. Seseorang yang mengalami gangguan kesulitan tidur (insomnia) akan berkurang kuantitas dan kualitas tidurnya. Gangguan tidur menjadi hal yang sering dikeluhkan 2021. karena dapat mempengaruhi pekerjaan, aktivitas sosial dan status kesehatan (Zou et al.,2019) Insomnia berpotensi mengakibatkan permasalahan kesehatan jangka panjang seperti kelangsungan hidup yang lebih pendek dan dua kali lebih mungkin meninggal karena serangan jantung dan stroke (Farazdaq et al., 2019). Berbagai penelitian melaporkan bahwa terapi komplementer yang berkembang salah satunya adalah terapi musik. Terapi musik merupakan perawatan mandiri yang hemat biaya tanpa komplikasi yang dapat digunakan oleh klien untuk mengatasi kesulitan tidur pada orang dengan insomnia. Intervensi musik sebagai metode pengobatan non-farmakologis jauh lebih menguntungkan dan tidak menimbulkan efek jangka panjang seperti Teknik farmakologis (Ding et al., 2021. Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi music sholawatan dapat berpengaruh terhadap peningkatan kwalitas tidur pada penderita Insomnia. Dapat dilihat dari hasil penelitian ini bahwa nilai signifikan kwalitas tidur sebelum dan sesudah pemberian intervensi music sholawatan, Analisis bivariat menggunakan paired t test menunjukkan bahwa ada pengaruh terapi musik terhadap kualitas tidur sebelum dan sesudah diberikan intervensi dengan nilai p= 0,000.
PENGARUH RANGE OF MOTION UNTUK PENINGKATAN KEKUATAN OTOT PADA PENDERITA PASCA STROKE Irsan Irsan
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 02 Januari (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke merupakan suatu keadaan ketika pasokan darah ke suatu bagian otak secara tiba-tiba terganggu karena sebagian sel-sel otak mengalami kematian akibat gangguan aliran darah yang disebabkan oleh sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak(Daulay, Hidayah, and Santoso 2021). Stroke termasuk ke dalam salah satu penyakit yang meninggalkan dampak berupa kecacatan. Memperkirakan sepertiga dari jumlah penderita stroke di dunia mengalami kecacatan yang permanen. Stroke terjadi ketika pembuluh darah otak gagal menyuplai oksigen ke sel otak. Jika sel otak tidak menerima nutrisi dan oksigen dari darah, maka terjadilah kerusakan pada sel otak sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (Sholihany Fithriyah et al. 2021). Pasien stroke akan mengalami keterbatasan mobilisasi yaitu ketidakmampuan untuk melakukan rentang gerak dengan sendirinya. Keterbatasan ini dapat di identifikasi pada klien yang salah satu ekstremitasnya memiliki keterbatasan gerak atau bahkan mengalami imobilisasi seluruhnya. Latihan rentang gerak terdapat dua bagian yaitu rentang gerak aktif (klien mampu menggerakkan seluruh sendinya dengan rentang gerak tanpa diberi bantuan), sedangkan rentang gerak pasif (klien tidak mampu menggerakkan seluruh anggota sendi secara mandiri sehingga perawat membantu pergerakkannya) (Daulay, Hidayah, and Santoso 2021). Pemberian terapi secara terpadu dan sedini mungkin maka kemungkinan besar pengembalian fungsi akibat imobilisasi bisa dicegah dan kecacatan juga dapat dihindari sehingga tidak bergantung lagi pada orang lain (Maulina Putri Harahap 2019). Salah satu rehabilitasi tersebut yaitu latihan rentang gerak atau (ROM). Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa latihan ROM dapat berpengaruh terhadap peningkatan kekuatan otot pada penderita stroke. Dapat dilihat dari hasil penelitian ini bahwa nilai signifikan kekuatan otot sebelum dan sesudah pemberian intervensi Range Of Motion (ROM) dengan nilai 0.000. dari uraian di atas membuktikan bahwa Range Of Motion (ROM) berpengaruh dalam meningkatkan kekuatan otot.
PENGARUH RENDAM KAKI DENGAN AIR REBUSAN SERAI DAN GARAM TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI Yati Sumyati
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 03 April (2022): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi telah menjadi masalah utama dalam kesehatan dunia. Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan jumlah lanjut usia terbanyak di dunia, pada tahun 2014, jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia sebanyak 18,781 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2025 jumlahnya akan mencapai 36 juta jiwa dan hipertensi juga menjadi masalah kesehatan di Indonesia (Kemenkes, 2018). Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di Indonesia, sehingga tatalaksana penyakit ini merupakan intervensi yang sangat umum dilakukan di berbagai tingkat fasilitas kesehatan (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), 2015). Pola makan yang salah merupakan salah satu faktor resiko yang meningkatkan penyakit hipertensi. Faktor makanan modern sebagai penyumbang utama terjadinya hipertensi (Mahmudah et al., 2017). Pencegahan hipertensi dan komplikasinya dapat dilakukan dengan mengkonsumsi obat dan melakukan perubahan gaya hidup antara lain mengurangi berat badan, berhenti merokok, berhenti mengkonsumsi alkohol, melakukan aktivitas atau olah raga ringan, mengubah pola makan dan mengurangi pemakaian garam disertai dengan asupan kalsium, magnesium dan kalium yang cukup (Nuraini, 2015). Data World Health Organization (WHO) tahun 2019 mengestimasikan saat ini prevalensi hipertensi secara global sebesar 22% dari total penduduk dunia dan Asia Tenggara berada pada posisi ke-3 tertinggi dengan prevalensi sebesar 25% terhadap total penduduk (Infodatin, 2019).Di Indonesia didapatkan prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran pada penduduk di usia >18 tahun sebesar 34,1%, atau sebanyak 63.309.620 kasus orang terkena hipertensi dengan angka kematian 427.218 kematian (Kemenkes RI, 2019). Prevalensi hipertensi pada penduduk umur ≥18 tahun di Indonesia mengalami peningkatan dari 25,8% menjadi 34,1%. Terdapat 34 Provinsi di Indonesia, angka tertinggi terdapat di Provinsi Kalimantan selatan dengan angka 44,13% sedangkan angka terendah terdapat di Provinsi Papua dengan angka 22,22%. Sementara itu, Provinsi Lampung menempati posisi 16 dengan angka sebesar 29,94% (Kemenkes RI, 2018). Pengobatan hipertensi dapat dilakukan secara farmakologis dan non farmakologis. Pengobatan farmakologis merupakan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang dapat membantu menurunkan serta menstabilkan tekanan darah (Ardiansyah, 2012). Efek samping penggunaan obat-obatan yang mungkin timbul adalah sakit kepala, pusing, lemas, dan mual (Susilo & Wulandari, 2011). Oleh karena itu, alternatif yang tepat untuk mengurangi tekanan darah tanpa ketergantungan obat dan efek samping adalah dengan menggunakan non farmakologis (Kowalski & Steven, 2010). Salah satu terapi non farmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi hipertensi adalah dengan terapi rendam air hangat dengan campuran serai dan garam. Terapi rendam kaki (hidroterapi kaki) ini juga membantu meningkatkan sirkulasi darah dengan memperlebar pembuluh darah sehingga lebih banyak oksigen dipasok ke jaringan yang mengalami pembengkakan. Perbaikan sirkulasi darah juga memperlancar sirkulasi getah bening sehingga membersihkan tubuh dari racun (Wulandari et al., 2016). Berdasarkan hasil penelitian Ismatul & Ambarwati (2020) yang berjudul “Terapi Rendam Kaki Menggunakan Air Hangat Dengan Campuran Garam Dan Serai Untuk Menurunkan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi” didapatkan ρ value = 0,000 dengan α = 0,05. Dimana ρ value 0,000 ≤ 0,05, sehingga ada pengaruh rendam kaki air hangat dengan campuran garam dan serai terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di Kabupaten Kudus. Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi rendam kaki dengan air rebisan serai dan garam dapat berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada penderita Hipertensi. Dapat dilihat dari hasil penelitian ini bahwa terapi rendam kaki dengan air rebusan serai dan garam yang dilakukan 1 kali sehari selama 7 hari dapat menurunkan rata-rata tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum intervensi sebesar 158,5/103 mmHg dan setelah intervensi sebesar 131/92 mmHg. Dengan rata-rata nilai MAP sebelum dan sesudah intervensi 118,38 mmHg
IDENTIFIKASI KANDUNGAN BORAKS DAN FORMALIN PADA TAHU PUTIH YANG BEREDAR DI PASAR TRADISONAL KECAMATAN BATANG Monika Reka Mahrelia Nianti -
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 04 Juli (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahu adalah makanan yang memiliki banyak nutrisi dan mudah ditemukan. Tahu memiliki kandungan air yang tinggi, sehingga menyebabkan tahu akan cepat basi dan mudah hancur. Beberapa penjual menggunakan pengawet untuk menghindari hal tersebut, bahan pengawet yang digunakan seperti boraks dan formalin agar tahu tetap kenyal dan dapat bertahan lama. Mengingat bahaya dari boraks dan formalin yang berbahaya bagi kesehatan, kedua bahan tambahan pangan tersebut sudah dilarang penggunaanya jika untuk ditambahkan kedalam makanan, hal tersebut tercantum dalam Permenkes RI No. 33 tahun 2012 mengenai Bahan Tambahan Pangan, senyawa yang dilarang ditambahkan pada bahan pangan diantaranya ada boraks dan formalin. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengindentifikasi kandungan boraks dan formalin pada tahu putih yang beredar di Pasar Tradisional di Kecamatan Batang. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif observasional. Metode yang akan digunakan yaitu metode kualitatif, untuk identifikasi boraks yaitu menggunakan metode uji nyala api dan tusuk gigi, sedangkan untuk identifikasi formalin menggunakan pereaksi Schiff dan pereaksi KMnO4 pada sampel tahu putih yang ada di beberapa pedagang di Pasar tradisional di Kecamatan Batang. Hasil penelitian ini menunjukan identifikasi boraks dan formalin pada tahu putih yang berada di pasar tradisional di Kecamatan Batang dapat diambil kesimpulan bahwa dari 8 sampel tahu putih 100% sampel tahu putih tidak mengandung boraks dan 75% sampel tahu putih positif mengandung formalin. Keywords : Tahu putih, Boraks, Formalin
Infeksi Organ Berdekatan Yang Cepat Menyebabkan Selulitis Orbital Pada Pasien Imunokompromais: Laporan Kasus Annisa Ayu Rachmawati
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 04 Juli (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Orbital cellulitis (OC) is a vision-threatening condition caused by an infection of the tissue behind the orbital septum. It can easily occur, especially when the individual's condition is accompanied by a weakness of the normal host defenses or because of hypervirulence of the causative microbe. Patients with comorbid or underlying conditions, may have higher risk. If left untreated, OC can seriously result in vision loss and life-threatening conditions. Case report: We reported a 46-year-old untreated diabetic male came to the ER with unilateral right eye pain, proptosis and oedema of the infected eye, headache, also fever. A diagnosis of OC with several comorbidities such as diabetic mellitus, and reactive anti-HIV was made. The diagnosis was also suspected by his condition before the symptoms, odonto-sinusitis that could be a primary infection of his right OC. A culture examination of the pus found coccus, Gram positive. The patient was admitted for seven days. However, the patient had died when outpatient schedule control. Conclusion: This complex case demonstrates the importance of a multidisciplinary approach to the management of OC starting from the risk factors present to prevent serious complications and permanent sequelae. Immunocompromised condition in our patient may have contributed his rapid deterioration.
HUBUNGAN KEBIASAAN SARAPAN DENGAN KONSENTRASI BELAJAR SISWA SDN 04 BAJUR LABUAPI LOMBOK BARAT eggi eggi dian
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 04 Juli (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Efforts to build and develop the potential of human resources as successors to the nation's leadership can be carried out by improving services and providing proper and good educational infrastructure, this can run effectively supported by adequate quality nutritional intake to encourage concentration levels in learning and support academic performance. maximal brain work. Therefore, this research was tested and analyzed on the relationship between breakfast habits and student learning concentration at SDN 04 Bajur Labuapi, West Lombok. Method: The type of research being conducted was an analytic observational cross-sectional study. The research subjects were students of class IV and class V of SDN 04 Bajur Labuapi West Lombok who met the inclusion criteria and were not part of the exclusion criteria. Data collection was carried out by filling out questionnaires directly by respondents using the univariate analysis technique which in this analysis only used the distribution and percentage of each variable as well as bivariate analysis which in this study was the Spearman Correlation Test. Results: Based on the results of the Spearman correlation test between breakfast habits and the learning concentration of students in class IV and class V SDN 04 Bajur Labuapi obtained a significance value of 0.038 (p <0.05) meaning that there is a significant relationship between the two variables tested. This shows that Ho rejected and H1 is accepted, that is, there is a positive and significant relationship between breakfast habits and students' learning concentration at SDN 04 Bajur Labuapi. In addition, the correlation test obtained a correlation strength (r) of 0.289 which indicates that the strength between breakfast habits and student concentration at SDN 04 Bajur Labuapi included in the category of medium correlation strength. Conclusion: From the results of this study it can be concluded that breakfast habits affect the concentration of students in class III, class IV and class V SDN 04 Bajur Labuapi (p: 0.038, r: 0.289). The reason for most of the respondents to skip breakfast was because they woke up late.
STUDI KASUS: GAMBARAN PEMBUATAN TRANSTIBIAL PROSTHESIS UNTUK SHOLAT PADA PASIEN PASCA AMPUTASI TRANSTIBIAL Muhammad Syaifuddin
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 04 Juli (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Amputasi adalah terpotongnya anggota gerak ekstremitas atas atau ekstremitas bawah tubuh seseorang yang mengalami kerusakan jaringan disebabkan oleh trauma, gangren, dan atau tumor yang mengharuskan pemotongan sebagian anggota gerak tubuh untuk melindungi bagian tubuh lainnya. Amputasi tidak hanya mengurangi mobilitas tetapi dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup bagi seseorang. Seorang ortotis prostesis berperan penting membuatkan alat bantu pengganti anggota gerak tubuh/prostesis, sehingga dapat menjalankan kegiatan sehari-hari seperti sediakala. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai penggunaan transtibial prosthesis dengan tipe sendi 3R15 dalam aktivitas sholat pada pasien pasca amputasi transtibial. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus intrinsik dengan melibatkan seorang pasien laki-laki berumur 35 tahun yang telah menjalani amputasi transtibial dan menggunakan transtibial prosthesis dengan tipe sendi 3R15. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara, dan pemantauan aktivitas sholat pasien. Hasil: Pasien yang menggunakan transtibial prosthesis dengan tipe sendi 3R15 menunjukkan kemampuan yang baik dalam melakukan gerakan-gerakan yang dibutuhkan dalam sholat, seperti berdiri, rukuk, sujud, dan duduk. Pasien melaporkan bahwa penggunaan prosthesis ini memberikan kenyamanan dan stabilitas yang memadai saat melakukan ibadah sholat. Kesimpulan: Transtibial prosthesis dengan tipe sendi 3R15 dapat memberikan dukungan dan kemampuan yang memadai bagi pasien pasca amputasi transtibial dalam menjalankan ibadah sholat. Penggunaan prosthesis ini memungkinkan pasien untuk melakukan gerakan-gerakan sholat dengan lebih mudah dan memberikan rasa nyaman serta stabilitas yang diperlukan.
A GAMBARAN PENGGUNAAN PEMAKAIAN KONTRASEPSI HORMONAL TERHADAP PENYAKIT KARDIOVASKULAR DI PUSKESMAS NATAI PALINGKAU PERIODE MARET – APRIL 2023: GAMBARAN PENGGUNAAN PEMAKAIAN KONTRASEPSI HORMONAL TERHADAP PENYAKIT KARDIOVASKULAR DI PUSKESMAS NATAI PALINGKAU PERIODE MARET – APRIL 2023 Anggi Pratiwi
Jurnal Medika Hutama Vol. 4 No. 04 Juli (2023): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This research is of the descriptive-analytic type, with the cross-sectional method with the statistic testing of regressive logistic. The monitored are Hypertension; Diabetes mellitus, Hypercholesterolemia, Strokes; and VTE (Venous Thromboembolism) as results of the long-term usage of hormonal contraception methods (more than 10 years). Data revealed from a total of 84 samples, 72 are samples of hormonal contraception devices and 12 without contraception. The results show that hypercholesterolemia is significantly affected by the usage of long-term hormonal contraception (sig value 0,012). This study therefore successfully proves that long-term usage of hormonal contraception does affect cholesterol rates in the blood as a risk factor of cardiovascular diseases. Keyword: Population Growth, Hormonal Contraception, Cardiovascular Diseases.