cover
Contact Name
Awis Hamid Dani
Contact Email
jurnalkesehatan.stikescrb@gmail.com
Phone
+6282219457664
Journal Mail Official
jurnalkesehatan.stikescrb@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Kesehatan Cirebon Lembaga Pengembangan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Jl. Brigjen Dharsono No 12 B Bypass Cirebon 45153
Location
Kab. cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan
ISSN : 20880278     EISSN : 27219518     DOI : 10.38165
Core Subject : Health,
Lingkup naskah jurnal kesehatan mencakup bidang ilmu : kesehatan masyarakat, keperawatan, kebidanan, fisioterapi, radiodiagnostik dan radioterapi, farmasi serta laboratorium kesehatan.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2020)" : 12 Documents clear
TINJAUAN SISTEMATIS: FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IMPLEMENTASI EARLY WARNING SCORE (EWS) OLEH PERAWAT DI RUMAH SAKIT Dinny Ria Pertiwi; Cecep Eli Kosasih; Aan Nuraeni
Jurnal Kesehatan Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v11i2.223

Abstract

Perawat memainkan peran penting dalam melakukan penilaian dini dan pengelolaan pasien. Beberapa rumah sakit telah menerapkan sistem respon cepat dengan menggunakan alat bantu Early Warning Score (EWS). Alat ini dapat membantu perawat dan dokter dalam melakukan respon secara efektif dan efisien dalam deteksi dini perburukan pasien. Namun penerapan EWS masih terasa belum optimal. Tujuan literatur ini adalah untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan Early Warning Score (EWS) oleh perawat di rumah sakit. Pencarian literatur dilakukan pada database elektronik yaitu PubMed, Ebsco, Proquest dan Google Scholar dengan kata kunci application, early warning score, related factors dan nurse. Kriteria dalam pencarian literatur adalah literatur dalam Bahasa Inggris yang diterbitkan pada tahun 2009-2019. Penilaian artikel dibuat berdasarkan format PRISMA. Dari 340 publikasi yang diidentifikasi, didapatkan 4 studi yang termasuk kedalam kriteria tinjauan, dua Studi Mix Methode, Studi Kualitatif dan Survey. Hasil telaah studi ditemukan bahwa pengetahuan dan keterampilan perawat dalam mengenali perburukan pasien sangat berpengaruh dalam implementasi EWS. Selain itu, perawat yang mempunyai pengalaman yang lebih biasanya melakukan respon dengan cepat dalam hal tersebut. Sehingga perawat akan melakukan kolaborasi dengan tim medis agar pasien bisa tertangani dengan baik. Kesimpulannya adalah faktor yang mempengaruhi pengaplikasian Early Warning Score (EWS) yaitu pengetahuan perawat tentang EWS, confidence dalam melakukan pengambilan keputusan, pengalaman dalam menangani pasien yang mengalami perburukan, hubungan baik dengan staf medis dan kepatuhan dalam protokol EWS. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan disertai monitoring EWS sangat diperlukan dan dilakukan secara merata bagi perawat.Kata Kunci: early warning score (EWS), implementasi, faktor terkait, perawat AbstractNurse plays an important role in conducting early assessment and patient management. Several hospitals have implemented a rapid response system using Early Warning Score (EWS) tool. This tool can assist nurses and doctors in responding effectively and efficiently in early detection of patient deterioration. However, the implementation of the EWS is still not optimal.  The purpose of this literature is to examine the factors that influence the implementation of the Early Warning Score (EWS) by nurses in the hospital. Literature searches were carried out on electronic databases such as PubMed, Ebsco, Proquest and Google Scholar with the keywords: application, early warning score, related factors and nurse. Criteria of the literature search was published in 2009-2019 with English literature. The article assessment is based on the PRISMA format. From 340 publications identified, 4 studies were included in the review criteria which consist of two mix method Studies, a qualitative study and a survey. The results of the study found that the knowledge and skills of nurses in recognizing patient deterioration were very influential in implementing EWS. In addition, nurses who have more experience usually respond quickly in this regard. So that nurses will collaborate with the medical team for handling patients properly. The conclusion is the factors that influence the application of Early Warning Score (EWS) are knowledge of nurses about the EWS, confidence in making decisions, experience in handling patients with deterioration, good relations with other medical staff and adherence to EWS protocol. Therefore, continuous education accompanied by EWS monitoring is very necessary and carried out equally for nurses.Keywords: early warning score (EWS), implementation, related factors, nurse
STATUS GIZI DAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRONUTRIEN ANAK STUNTED DAN TIDAK STUNTED 1-3 TAHUN Lisna Nurhayati; Wiwi Mardiah; Dyah Setyorini
Jurnal Kesehatan Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v11i2.206

Abstract

Stunted   merupakan gangguan pertumbuhan linier dengan tinggi badan <-2 S.D. sesuai usia, dan jenis kelamin. Kurangnya  asupan  zat  gizi  makronutrien  pada  anak  merupakan  salah  satu  masalah  gizi  utama  yang  dapat mempengaruhi pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi dan asupan zat gizi makronutrien anak stunted dan tidak stunted  1-3 tahun. Desain penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian berjumlah 634, jumlah sampel anak stunted 75 dan tidak stunted 77, diambil dengan menggunakan metode disproportionate stratified random sampling. Pengumpulan data dengan pengukuran TB dan BB, serta menggunakan formulir Food Recall 24 Jam. Analisis data secara statistik deskriptif menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan pada anak stunted indeks B.B/U sebagian besar   (60%) normal, berdasarkan B.B/T.B sebagian besar (70,7%) baik. Pada anak tidak stunted indeks B.B/U sebagian besar (90.9%) normal, berdasarkan  B.B/T.B sebagian besar (84.4%) baik. Asupan zat gizi makronutrien pada anak stunted, yaitu: karbohidrat dan lemak sebagian besar defisit sedang, sedangkan protein defisit ringan. Pada anak tidak stunted, sebagian besar asupan karbohidrat defisit sedang, sedangkan lemak dan protein normal. Berdasarkan hal tersebut  perhatian orang tua terhadap kebutuhan zat gizi makronutrien anak khususnya anak stunted perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, pemberian edukasi pada orang tua oleh tenaga kesehatan penting dilakukan.Kata Kunci: Anak usia 1-3 tahun, Status gizi, Stunted, Zat gizi makronutrien AbstractStunted is a linear growth disorder with height <-2S.D. according to age, and gender. Lack of intake macronutrient in children is one of the main nutritional problems that can affect growth. This study aims to describe nutritional status and macronutrient intake in stunted and non-stunted children aged 1-3 years. This research design use quantitative descriptive method. Population in  this  study  was  634,  sample  size  75  stunted  and  77  non-stunted, taken using disproportionate stratified random sampling method. Collecting data by measurements of height and weight, and using 24-hour Food Recall form. Descriptive statistical data analysis using frequency distribution. The results showed most of the stunted children base on weight/age (60%) normal, based on weight/height most of them (70.7%) normal. In not stunted children base on weight/age mostly (90.9%) normal, based on weight/height mostly (84.4%) normal. Macronutrient intake in stunted children, namely: carbohydrates and fats, mostly had a moderate deficit, while protein had a mild deficit. In non stunted children, most of the carbohydrate intake was moderate deficit, while fat and protein were normal. Based on this, parents attention to macronutrient needs for children especially stunted needs to be increased. Therefore, it is important to provide education to parents by health workers.Keywords: Children aged 1-3 years, Nutritional status, Stunted, Macronutrient
PENGARUH PERAN TENAGA KESEHATAN TEHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL Maesaroh Maesaroh
Jurnal Kesehatan Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v11i2.208

Abstract

Penyakit Menular Seksual (PMS) merupakan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, baik secara vaginal, oral, ataupun anus dengan seseorang yang sebelumnya sudah terinfeksi. Tenaga kesehatan memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan untuk melakukan upaya kesehatan untuk dapat mencegah dan memberikan promosi kesehatan terkait kesehatan reproduksi terutama dalam pencegahan penyakit menular seksual. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran tenaga kesehatan terhadap pencegahan PMS. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan menggunakan pendekatan “Cross Sectional” atau potong lintang. Populasi dalam penelitian ini adalah wanita yang telah menikah berusia 20-45 tahun di wilayah Desa Ciharalang Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis sebanyak 164 orang, sedangkan sampel yang diteliti sebanyak 45 orang. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh antara peran tenaga kesehatan terhadap pencegahan penyakit menular seksual karena hasil uji statistik dengan menggunakan Uji Chi Square, dengan derajat kemaknaan 0,05 diperoleh ρ value 0,001 > α dan chi square (χ2) tabel (11,414 > 3,841). Diharapkan dalam melakukan kegiatan promosi kesehatan sebaiknya menggunakan alat peraga seperti brosur atau leafleat, sehingga responden akan lebih paham terkait peningkatan kesehatan reproduksi dan pencegahan PMS.Kata Kunci: tenaga kesehatan, penyakit menular seksual Abstract Sexually Transmitted Diseases (STDs) are diseases that are transmitted through sexual contact, whether vaginal, oral, or anus with someone who was previously infected. Health workers have the knowledge and skills through education in the health sector to make health efforts to prevent and provide health promotion related to reproductive health, especially in the prevention of sexually transmitted diseases. So this study aims to determine the role of health workers in preventing STDs. This research is a quantitative study, using a "cross sectional" approach. The population in this study were 164 married women aged 20-45 years in Ciharalang Village, Cijeungjing District, Ciamis Regency, while the sample studied was 45 people. The results showed that there was an influence between the role of health workers on the prevention of sexually transmitted diseases because the results of statistical tests using the Chi Square test, with a significance degree of 0.05 obtained ρ value 0.001> α and chi square (χ2) table (11.414> 3.841). It is hoped that in carrying out health promotion activities, it is best to use props such as brochures or leaflets, so that respondents will understand more about improving reproductive health and preventing STDs.Keywords: health workers, sexually transmitted diseases
MENGEMBANGKAN PERAWATAN PALIATIF BERBASIS MASYARAKAT DI INDONESIA: BELAJAR DARI IMPLEMENTASI SUKSES DI INDIA DAN UGANDA Syarifah Lubbna; Dr Geraldine Lane
Jurnal Kesehatan Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v11i2.221

Abstract

India dan Uganda adalah negara berkembang dengan tantangan dan potensi sumber daya yang mirip dengan Indonesia dalam kaitannya dengan upaya pengembangan perawatan paliatif. Namun, akhirnya kedua negara ini mampu mengatasi hambatan tersebut dan membuktikan bahwa perawatan paliatif sekarang tersedia dan dapat diakses oleh masyarakat. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi layanan perawatan paliatif yang telah diimplementasikan di kedua negara tersebut, kemudian mengidentifikasi strategi yang digunakan yang mungkin dapat diadopsi untuk mendukung praktik perawatan paliatif berbasis komunitas (Community-based Palliative Care) di negara berkembang lainnya termasuk Indonesia. Metode dengan peninjauan cepat (rapid review) terhadap lima database elektronik dilakukan selama periode delapan minggu pada bulan April-Juni 2018. Penelitian yang telah dilakukan terkait praktik perawatan paliatif di India dan Uganda yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dari tahun 2000 hingga 2018 adalah kriteria inklusinya. Semua judul dan abstrak (n = 542) ditinjau relevansinya, dan lima belas artikel yang relevan telah teridentifikasi. Perawatan paliatif berbasis komunitas di India dan Uganda diprakarsai oleh The Pain and Palliative Care Society (PPCS), dan Hospice Uganda (HU). Kolaborasi antara Non-goventmental Organisations (NGOs), pemerintah daerah, WHO, dan organisasi potensial lainnya telah diinisiasi untuk membantu memberikan pelatihan perawatan paliatif, peraturan dan kebijakan, serta memastikan ketersediaan morfin. Relawan komunitas juga dilatih untuk memberi dukungan kepada pasien dengan penyakit kronis dan keluarganya di masyarakat, terutama di daerah pedesaan, dengan kemampuan mengidentifikasi masalah, memberikan dukungan non-medis, dan bertindak sebagai 'jembatan' antara pasien dan profesional perawatan kesehatan. Media lokal juga dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat yang lebih luas. Perkembangan perawatan paliatif berbasis komunitas di India dan Uganda dan strategi yang digunakan telah teridentifikasi. Oleh karena itu, beberapa rekomendasi telah diuraikan untuk mempromosikan pengembangan perawatan paliatif berbasis komunitas di Indonesia. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah pentingnya mengeksplorasi bagaimana manajemen finansial yang efektif dilakukan pada praktik perawatan paliatif berbasis komunitas di negara berkembang lainnya dengan memaksimalkan peran relawan. Kata Kunci: Perawatan Paliatif; komunitas; relawan; perawatan di rumah; penyakit terminal; AbstractIndia and Uganda are developing countries with similar barriers and potential resources with Indonesia in relations to palliative care provision. However, they were finally able to tackle the barriers and prove that palliative care is now available and accessible in their communities. This study aims to explore the palliative care services that have been implemented in these two countries, and then to identify strategies used that might be needed in supporting community-based palliative care (CBPC) practices in other developing countries including Indonesia. A rapid review of five electronic databases was undertaken over an eight-week period in April-June 2018. Prior studies of palliative care practices in India and Uganda published in English from 2000 to 2018 were included. All titles and abstracts (n=542) were reviewed for relevance, and fifteen articles were identified. The CBPC in India and Uganda were initiated by the Pain and Palliative Care Society, and Hospice Uganda respectively. The collaborations between these NGOs, local governments, WHO, and other potential organizations have been initiated to help providing palliative care trainings, regulations and policies as well as ensuring availability of free morphine. The Community volunteers have been trained to support chronically ill patients and their families in society, particularly in rural areas, by identifying their issues, providing non-medical support, and acting as a ‘bridge’ between the patients and health care professionals. Local media was also utilized to help raising awareness of wider population. The development of CBPC in India and Uganda and the strategies used have been identified. Considering these strategies, some recommendations have been outlined to promote the development of community-based palliative care in local areas in Indonesia. It is recommended for the next researcher to explore funding management in the practice of community based palliative care by optimizing the role of volunteers.Keywords: Palliative care; community; volunteer; home care; terminal illness
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN MAHASISWA DALAM PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) PADA PEMBELAJARAN DI LABORATORIUM Destu Satya Widyaningsih; I Putu Aditya Riandana Putra
Jurnal Kesehatan Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v11i2.214

Abstract

Laboratorium merupakan tempat melakukan berbagai penelitian yang menggunakan berbagai jenis alat dan bahan kimia yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja. Alat pelindung diri merupakan salah satu standar precaution untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja. Pengetahuan tentang APD sangat penting agar dapat memaksimalkan fungsi APD. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan kepatuhan mahasiswa dalam penggunaan alat pelindung diri (APD) pada pembelajaran di laboratorium Akademi Analis Kesehatan Manggala Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional menggunakan desain cross sectional. Sampel dipilih secara kebetulan dengan menyebar kuesioner dalam waktu yang telah ditentukan, sebanyak 92 responden didapatkan dari total populasi 163 mahasiswa Akademi Analis Kesehatan Manggala Yogyakarta. Kemudian data diolah menggunakan statistik chi square. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 25 responden (27,2%) memiliki tingkat pengetahuan baik dengan tingkat kepatuhan yang baik, 38 responden (41,3%) memiliki tingkat pengetahuan cukup dengan tingkat kepatuhan yang baik, 27 responden (29,3%) memiliki tingkat pengetahuan kurang dengan tingkat kepatuhan yang baik. Responden yang berpengetahuan kurang dan cukup dengan tingkat kepatuhan yang baik memiliki persentase lebih besar dibandingkan responden berpengetahuan baik dengan tingkat kepatuhan yang baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan mahasiswa dalam penggunaan APD pada pembelajaran di laboratorium Akademi Analis Kesehatan Manggala Yogyakarta.Kata Kunci: Pengetahuan, Kepatuhan, APD AbstractThe laboratory is a place to conduct various studies using various types of tools and chemicals that have the potential to cause work accidents. Personal protective equipment is one of the precautionary standards to minimize the occurrence of work accidents. Knowledge of PPE is very important in order to maximize the function of PPE. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and student compliance in the use of personal protective equipment (PPE) in learning in the laboratory of the Manggala Health Analyst Academy Yogyakarta. This type of research is descriptive observational using a cross sectional design. The sample was chosen by chance by distributing questionnaires within a predetermined time, as many as 92 respondents were obtained from a total population of 163 students of the Manggala Health Analyst Academy Yogyakarta. Then the data was processed using chi square statistics. The results showed as many as 25 respondents (27.2%) had a good level of knowledge with a good level of compliance, 38 respondents (41.3%) had a sufficient level of knowledge with a good level of compliance, 27 respondents (29.3%) had a good level of knowledge. lack of knowledge with a good level of compliance. Respondents with insufficient and sufficient knowledge with good levels of compliance have a greater percentage than respondents with good knowledge with good levels of compliance. So it can be concluded that there is no relationship between knowledge and student compliance in using PPE in learning in the Laboratory of the Manggala Health Analyst Academy Yogyakarta.Keywords: knowledge, compliance, PPE
HUBUNGAN KECERDASAN SPIRITUAL DENGAN PERILAKU CARING PERAWAT PADA PRAKTEK KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT Lin Herlina; Harmuni Harmuni; Nur Hikmah
Jurnal Kesehatan Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v11i2.204

Abstract

Caring merupakan sentral praktek keperawatan. Seiring dengan perkembangan pengetahuan, ditemukan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh kecerdasan dasar yang dimiliki setiap manusia. Salah satu bentuk kecerdasan tersebut adalah kecerdasan spiritual. perawat masih kurang ramah dalam melayani pertanyaan klien, berperilaku tidak bersahabat dan jarang tersenyum. masih ada perawat yang cenderung emosi saat menerima keluhan dari klien, perawat mengalami stress kerja yang antara lain disebabkan beban kerja yang tinggi. Sehingga kemungkinan perawat yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja, tetapi ia menghubungkannya dengan makna spiritual sehingga ia juga akan berupaya memaknai bahwa mencari karunia Tuhan dengan memperhatikan klien dan meringankan beban klien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kecerdasan spiritual dengan perilaku caring perawat pada praktek keperawatan di ruang rawat inap RSI PKU Muhammadiyah Tegal. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelatif. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan cluster random sampling dengan sampel penelitian berjumlah 86 responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuisioner demografi, kuisioner kecerdasan spiritual, dan kuisioner perilaku caring. Uji hipotesis dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Berdasarkan analisis data diperoleh koefesien korelasinya r sebesar 0,315 dengan taraf signifikan p = 0,003. Dengan demikian terdapat hubungan yang positif antara kecerdasan spiritual dengan perilaku caring perawat pada praktek keperawatan di ruang rawat inap RSI PKU Muhammadiyah Tegal. Diharapkan perawat dapat terus meningkatkan lagi kecerdasan spiritualnya sehingga perawat dapat memaknai hidup dan pekerjaannya adalah pekerjaan yang mulia bukan hanya sekedar rutinitas saja tetapi mengaitkannya atas dasar ibadah.Kata Kunci: Kecerdasan spiritual, perilaku caring, perawat  AbstractCaring is central to nursing practice. Along with the development of knowledge, it was found that a person's behavior is influenced by the basic intelligence that every human being has. One such form of intelligence is spiritual intelligence. Nurses are still less friendly in serving client questions, behave unfriendly and rarely smile. There are still nurses who tend to be emotional when receiving complaints from clients, nurses experience work stress which among other things is caused by high workload. So it is possible that the spiritually intelligent nurse does not solve the problem of life only rationally or emotionally, but she connects it with spiritual meaning so that she will also try to interpret that seeking God's gift by paying attention to the client and lightening the burden on the client. This study aims to find out the relationship of spiritual intelligence with the caring behavior of nurses in nursing practice in the inpatient room of RSI PKU Muhammadiyah Tegal. The research design used in this study is descriptively corative. Sampling method in this study used random sampling cluster with research sample of 86 respondents. The instruments used in this study were demographic questionnaires, spiritual intelligence questionnaires, and caring behavior questionnaires. Test the hypothesis using Pearson correlation test. Based on data analysis obtained correlation coefficient r of 0.315 with a significant level of p = 0.003. Thus there is a positive relationship between spiritual intelligence and caring behavior of nurses in nursing practice in the inpatient room of RSI PKU Muhammadiyah Tegal. It is expected that the nurse can continue to improve her spiritual intelligence so that the nurse can interpret her life and work is a noble job not just a routine but associating it on the basis of worship.Keywords: Spiritual intelligence, caring behavior, nurses
HUBUNGAN SHIFT KERJA DENGAN TINGKAT KELELAHAN PADA PEKERJA PENGUMPUL TOL Heni Fa&#039;riatul Aeni; Muslimin Ali; Rahmat Faedoni
Jurnal Kesehatan Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v11i2.215

Abstract

Kelelahan yang dialami oleh pengumpul tol salah satunya merupakan efek dari shift kerja yang dialaminya. Sistem pembayaran dari tunai ke pembayaran elektronik (e-toll) dapat mengurangi beban kerja pengumpul toll. Namun pekerja pengumpul toll masih tetap mengikuti jam kerja melalui shift kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan shift kerja dengan tingkat kelelahan pada pekerja pengumpul toll PT. Astra Infra Toll Road di wilayah kerja Cikopo Palimanan tahun 2020. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini ialah 79 pekerja pengumpul tol dan sampel penelitian berjumlah 30 responden dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dengan cara wawancara. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan Spearmen Rank (Rho). Hasil analisis diperoleh nilai p value=0,001 (p value < 0,05) berarti ada hubungan antara shift kerja dengan tingkat kelelahan pada pekerja pengumpul toll PT. Astra Infra Toll Road di Wilayah Kerja Cikopo Palimanan Tahun 2020. Responden yang bekerja pada shift malam memiliki tingkat kelelahan yang lebih tinggi dibandingkan shift pagi dan shift siang.Kata kunci: shift kerja, tingkat kelelahanAbstractThe fatigue that occurs by toll collectors is one of the effects of the work shift they experience. The payment system from cash payments to electronic payments (e-toll) can reduce the workload of toll collectors. However, toll collectors still follow working hours through work shifts. The research aims to the relationship between work shifts and the level of workers/workers collecting toll at PT. Astra Infra Toll Road in the Cikopo Palimanan working area, 2020. The research method used is quantitative with a cross sectional approach. The population in this study was 79 toll collectors and the research sample was 30 respondents using purposive sampling technique. The research instrument used a questionnaire by means of interviews. Data were analyzed by univariate and bivariate using Spearmen Rank (Rho). The results of the analysis showed that the p value = 0.001 (p value <0.05) means that there is a relationship between work shifts and the level of fatigue of the toll collectors at PT. Astra Infra Toll Road in the Cikopo Palimanan Work Area in 2020. Respondents who work on night shifts have a higher level of fatigue than morning shifts and day shifts.Keywords: fatigue level, shift work
PENGARUH BACK MASSAGE TERAPI TERHADAP PENURUNAN NYERI REUMATIK PADA LANSIA Awaludin Jahid Abdillah; Maryam Fitria Suwandi
Jurnal Kesehatan Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v11i2.213

Abstract

Back Massage adalah salah satu tehnik memberikan tindakan masase pada punggung selama 10-15 menit. Usapan dengan lotion/balsem memberikan sensasi hangat dengan mengakibatkan dilatasi pada pembuluh darah lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh back massage terhadap intensitas nyeri reumatik pada lansia. Penelitian ini merupakan ekperiment pra experimental dengan rancangan one group pretest-postest design. Jumlah populasi yang diberi perlakuan seluruh lansia sebanyak 25 responden dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui lembar observasi menggunakan skala nyeri numerik. dianalisis dengan Wilcoxon Matchead Pairs p-value  Hasil penelitian menunjukan intensitas skala nyeri pasien sebelum dilakukan back massage berupa nyeri sedang dan setelah perlakuan terjadi perubahan intensitas nyeri menjadi nyeri ringan. Hasil uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test diperoleh p-value = 0.000, ada pengaruh back massage terhadap nyeri reumatik pada lansia. Hasil penelitian diharapkan menjadi pertimbangan dalam penerapan terapi komplementer dalam keperawatan khususnya terapi back massage dalam menurunkan nyeri pada lansia dengan rematikKata Kunci: Back Massage, Nyeri, Reumatik, Lansia  AbstractBack Massage is one of the techniques to provide massage action on the back for 10-15 minutes. The lotion / balm rub provides a warm sensation by dilating the local blood vessels. This study aims to determine the effect of back massage on the intensity of rheumatic pain in the elderly. This research is a pre experimental experiment with one group pretest-postest design. The total population treated by all elderly were 25 respondents with a total sampling technique. The data were collected through observation sheets using a numerical pain scale. analyzed by Wilcoxon Matchead Pairs p-value ≤0.05. The results showed the intensity of the patient's pain scale before doing back massage in the form of moderate pain and after treatment there was a change in pain intensity to mild pain. The results of the Wilcoxon Signed Rank Test statistical test obtained p-value = 0.000 < (a) then Ha is accepted, there is an effect of back massage on rheumatic pain in the elderly. The result are expected to be considered in the application of complementary therapy in nursing practice, especially back massage therapy in reducing pain in the elderly with rheumatism.Keywords: Back Massage, Pain, Rheumatism, Elderly
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP KADER KESEHATAN DENGAN PRAKTIK PENEMUAN SUSPEK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU Triani Banna; Dirgantari Pademme; Merlis Simon
Jurnal Kesehatan Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v11i2.225

Abstract

Praktik penemuan kasus TB masih belum mencapai target yang ditetapkan. Agar target tersebut dapat tercapai, diperlukan peran serta kader kesehatan yang memiliki pengetahuan dan sikap untuk mendukung penemuan suspek TB paru. Namun peran kader dalam penemuan suspek TB paru belum maksimal. Penemuan suspek TB paru yang cepat dapat memutus rantai penularan TB sehingga eliminasi TB dapat tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap kader kesehatan dalam praktik penemuan suspek penderita TB paru di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Kasuari Kota Sorong. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua kader yang terdaftar dan aktif di Puskesmas Tanjung Kasuari. Responden penelitian sebanyak 30 orang yang diambil dengan purposive sampling. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan kader dengan praktik penemuan suspek TB paru (p-value = 0,000), dan ada hubungan antara sikap kader dengan praktik penemuan suspek TB paru (p-value = 0,000). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap kader kesehatan dalam praktik penemuan suspek penderitaTB paru. Saran bagi pengelola program pencegahan penyakit menular agar meningkatkan pelatihan praktik penemuan suspek TB paru yang berkesinambungan untuk meningkatkan pengetahuan kader dalam praktik penemuan suspek TB paru.Kata kunci: pengetahuan, sikap, TB paru, kader. AbstractThe practice of finding TB cases is still far from the expected target. The participation of trained health cadres is required to achieve the target. Rapid discovery of suspected pulmonary tuberculosis can break the chain of TB transmission so that TB elimination can be achieved. This study aims to determine the relationship between knowledge and attitudes of health cadres in the practice of finding suspected pulmonary TB in the Puskesmas Tanjung Kasuari. This research is a quantitative study using a cross-sectional design. The population in this study were all registered and active cadres at Puskesmas Tanjung Kasuari. Respondents of the study were 30 people who were taken by purposive sampling. The results of the chi-square test showed that there was a relationship between the knowledge of cadres and the practice of finding pulmonary TB suspects (p-value = 0,000). The conclusion of this study is that there is a relationship between knowledge and attitudes of health cadres in the practice of finding suspected TB pulmonary. The managers of communicable disease prevention programs are suggested to improve the practice training for the continuous detection of pulmonary TB suspects to increase cadres' knowledge in the practice of finding pulmonary TB suspects.Keywords: knowledge, attitudes, pulmonary tuberculosis, cadres
HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG COVID-19 TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA YANG MENGALAMI HIPERTENSI Healthy Seventina Sirait; Awis Hamid Dani; Devy Rokhmah Maryani
Jurnal Kesehatan Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v11i2.222

Abstract

Kurangnya pengetahuan tentang pandemic Covid-19 dapat menimbulkan berbagai macam spekulasi tentang penyebaran virus Corona, sehingga menimbulkan kecemasan yang dapat menurunkan sistem imun tubuh lansia dan dapat pula meningkatkan tekanan darah lansia. Hipertensi lebih rentan menyerang para lansia seiring bertambahnya usia, sehingga berpotensi menyebabkan pengerasan pembuluh darah. Pengerasan tersebut mengurangi kelenturan pembuluh darah arteri besar dan aorta, sehingga pada lansia lebih rentan mengidap tekanan darah tinggi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang covid-19 terhadap tingkat kecemasan pada lansia yang mengalami hipertensi di RW 09 Perumahan Gerbang Permai Pamengkang, wilayah Puskesmas Pamengkang tahun 2020. Desain penelitian ini menggunakan deskripsi kuantitatif pendekatan cross sectional. Populasi sampel nya adalah lansia dengan hipertensi di RW 09 perumahan gerbang permai pamengkang wilayahkerja puskesmas pamengkang dengan jumlah 28 responden dengan teknik pengambilan sampel mengunakan accidental sampling.Hasil penelitian didapatkan responden yang mempunyai pengetahuan baik berjumlah 14 orang (50,0%), tingkat pengetahuan cukup 8 orang (28,6%) dan tingkat pengetahuan kurang 6 orang (21,4%). Dan responden dengan Kecemasan Berat berjumlah 21 orang (75,0%). Hasil analisis bivariat didapatkan ada hubungan antara pengetahuan tentang Covid-19 dengan tingkat kecemasan pada lansia yang mengalami hipertensi di RW 09 Perumahan Gerbang Permai Pamengkang Wilayah kerja Puskesmas pamengkang tahun 2020 dengan p value = 0,007 (α= 0,05).Kata Kunci: pengetahuan covid-19, kecemasan lansia AbstractLack of knowledge about the Covid-19 pandemic can lead to various kinds of speculation about the spread of the Corona virus, causing anxiety which can lower the immune system of the elderly and can also increase the blood pressure of the elderly. Hypertension is more prone to attack the elderly as they get older, so that it has the potential to cause hardening of the arteries. This hardening reduces the flexibility of the large arteries and aorta, making the elderly more susceptible to developing high blood pressure. This study aims to determine the relationship between knowledge of covid-19 and the level of anxiety among elderly people who have hypertension in RW 09 of the gateway residential area of Pamengkang, Pamengkang Community Health Center in 2020. The design of this study used a quantitative description of the cross sectional approach. The sample population was the elderly with hypertension in RW 09, the gateway housing complex, the Pamengkang Community Health Center, with 28 respondents using accidental sampling technique. The results showed that 14 people had good knowledge (50.0%), 8 people had sufficient knowledge (28.6%) and 6 people had less knowledge (21.4%). And respondents with severe anxiety totaled 21 people (75.0%). The results of the bivariate analysis found that there was a relationship between knowledge of Covid-19 and the level of anxiety in the elderly who had hypertension in RW 09 Gerbang Permai Pamengkang Housing in the Pamengkang Community Health Center work area in 2020 with p value = 0.007 (α = 0.05). Keywords: knowledge of covid-19, elderly anxiety

Page 1 of 2 | Total Record : 12