cover
Contact Name
Deasy Sylvia Sari
Contact Email
redaksi.padjir@unpad.ac.id
Phone
+6285222251435
Journal Mail Official
redaksi.padjir@unpad.ac.id
Editorial Address
Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Jln. Ir Soekarno, KM. 21, Jatinangor Sumedang, 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of International Relations
ISSN : -     EISSN : 26848082     DOI : https://doi.org/10.24198/padjir.v1i1
Core Subject : Humanities, Social,
Politik Global, Ekonomi Politik Global, Organisasi dan Kerjasama Internasional, Tata Kelola Global dan Hukum Internasional, Diplomasi, Kebijakan Luar Negeri, dan Studi Keamanan, Gender dan Feminisme, serta Studi Budaya.
Articles 134 Documents
Shokugeki no Soma Anime as a Form of Japanese Soft Power in Indonesia Gayatri, Gita Dewi; Konety, Neneng
Padjadjaran Journal of International Relations Vol 8, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/padjir.v8i1.61954

Abstract

Anime is a Japanese popular culture that has gone global. The Shokugeki no Soma anime is one of the anime that has many fans in various countries, one of which is in Indonesia. Although this anime has never been broadcast on Indonesian television stations, Ani-One Asia, a business branch of Medialink Group engaged in content distribution and brand licensing, has broadcast the Shokugeki no Soma anime with Indonesian subtitles on the YouTube platform for free. This study aims to explain the Shokugeki no Soma anime as a form of Japanese soft power in Indonesia. This study uses a qualitative method with interpretive analysis. The object of study is the Shokugeki no Soma anime which displays scenes containing Japanese cultural elements. Data collection was carried out through interviews and literature studies. In analyzing, the researcher used the theory of soft power and cultural diplomacy. From the results of the study, the researcher found that the Shokugeki no Soma anime is a product of Japanese popular culture that is used as a source of soft power. The Washoku and Onsen cultures featured in the Shokugeki no Soma anime are Japan's efforts to attract the interest of its viewers so that they want to know more about Japan. Apart from contributing as a soft power instrument that introduces Japanese culture, the Shokugeki no Soma anime also contributes as a tool for Japanese cultural diplomacy in the tourism sector because it can influence viewers to go to Japan because they want to experience Washoku and Onsen culture directlyAnime merupakan budaya populer Jepang yang telah mendunia. Anime Shokugeki no Soma adalah salah satu anime yang memiliki banyak penggemar di berbagai negara, salah satunya di Indonesia. Meski anime ini belum pernah tayang di stasiun televisi Indonesia, tapi Ani-One Asia, cabang bisnis dari Medialink Group yang bergerak di bidang distribusi konten dan lisensi merek telah menayangkan anime Shokugeki no Soma dengan takarir Bahasa Indonesia di platform YouTube secara gratis. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang anime Shokugeki no Soma sebagai bentuk soft power Jepang di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis interpretatif. Objek yang diteliti adalah anime Shokugeki no Soma yang menampilkan adegan-adegan berisi elemen budaya Jepang. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan studi pustaka. Dalam menganalisis, peneliti menggunakan teori soft power dan diplomasi budaya. Dari hasil penelitian, peneliti menemukan bahwa anime Shokugeki no Soma merupakan produk budaya populer Jepang yang dimanfaatkan sebagai sumber soft power. Budaya Washoku dan Onsen yang ditampilkan dalam anime Shokugeki no Soma merupakan upaya Jepang untuk menarik minta para penontonnya agar mereka ingin tahu lebih dalam tentang Jepang. Selain berkontribusi sebagai instrumen soft power yang memperkenalkan budaya Jepang, anime Shokugeki no Soma juga berkontribusi sebagai alat diplomasi budaya Jepang dalam sektor pariwisata karena dapat mempengaruhi para penontonnya untuk pergi ke Jepang sebab mereka ingin merasakan secara langsung budaya Washoku dan Onsen
Bank Indonesia's Initiative in Branding Indonesian Islamic Culture through Modest Fashion as a Soft Power Instrument Afrilia, Tia; Sahide, Ahmad
Padjadjaran Journal of International Relations Vol 8, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/padjir.v8i1.67449

Abstract

Modest fashion has evolved into a global phenomenon, representing cultural and religious identity, particularly within Muslim communities. Indonesia, as the country with the largest Muslim population in the world, is leveraging this potential not only in the context of the creative economy but also as a cultural diplomacy through a soft power approach.This research aims to analyze how modest fashion is utilized as an instrument of soft power by Indonesia, focusing on the strategic role of Bank Indonesia in building and promoting a moderate, inclusive, and progressive image of Indonesian Islamic culture on the global stage. Using qualitative research methods that are descriptive and explanatory in nature, data were collected through document analysis, academic literature, and reports on modest fashion programs facilitated by Bank Indonesia. The research findings indicate that Bank Indonesia plays a significant role in integrating economic, cultural, and diplomatic aspects through various initiatives such as the Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) and the Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MF). These initiatives successfully strengthened Indonesia's position as a global hub for modest fashion and built a positive image of Indonesian Islamic culture worldwide. Modest Fashion telah berkembang menjadi fenomena global, mewakili identitas budaya dan agama, terutama di kalangan komunitas Muslim. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memanfaatkan potensi ini tidak hanya dalam konteks ekonomi kreatif tetapi juga sebagai diplomasi budaya melalui pendekatan soft power. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mode modest dimanfaatkan sebagai alat soft power oleh Indonesia, dengan fokus pada peran strategis Bank Indonesia dalam membangun dan mempromosikan citra budaya Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan progresif di panggung global. Metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif eksplanatif, data dikumpulkan melalui analisis dokumen, literatur akademik, dan laporan program mode modest yang difasilitasi oleh Bank Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bank Indonesia memainkan peran signifikan dalam mengintegrasikan aspek ekonomi, budaya, dan diplomatik melalui berbagai inisiatif seperti Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) dan Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MF). Inisiatif-inisiatif ini berhasil memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat mode modest global dan membangun citra positif budaya Islam Indonesia secara global.
The Implications of British Colonial Territorial Division on Class Conflict in India and Pakistan Maharani, Citra Ayu; Walalangi, David Rivendell
Padjadjaran Journal of International Relations Vol 8, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/padjir.v8i2.68742

Abstract

This article examines how British colonial practices in India, including determining territorial boundaries, shaped power relations and class structures that were later reproduced into modern geopolitical conflict. The theoretical framework employed is Geopolitical Marxism, which emphasizes that relations of ownership and control over resources are the primary drivers of social and political change. This research adopts a qualitative method. The data are derived from secondary sources collected from various relevant materials. The collected data are then sorted and categorized according to the research focus. Subsequently, the data are analyzed using cross-source data triangulation to ensure the validity of findings and to strengthen the accuracy of interpretative results. The findings indicate that the hasty and arbitrary division of territory, such as the establishment of the Radcliffe Line, reinforced socio-economic inequalities and opened space for power struggles among postcolonial political elites. The prolonged conflicts in Punjab, Bengal, and Kashmir represent the reproduction of colonial ruling-class formations within modern state structures. The legacy of British colonialism is therefore not limited to territorial boundaries, but also includes enduring class domination that continues to generate cycles of conflict in India-Pakistan today.Penelitian ini membahas bagaimana praktik kolonial Inggris di India, termasuk dalam penentuan batas teritorial, membentuk relasi kekuasaan dan kelas yang kemudian direproduksi menjadi konflik geopolitik modern. Kerangka teori yang digunakan adalah Geopolitical Marxism yang menekankan bahwa relasi kepemilikan dan penguasaan sumber daya adalah penggerak utama perubahan sosial dan politik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui data sekunder yang dikumpulkan dari berbagai sumber relevan. Data yang telah terkumpul kemudian dipilah dan dikategorikan sesuai dengan fokus penelitian. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan teknik triangulasi data antar sumber untuk memastikan validitas temuan dan memperkuat ketepatan interpretasi hasil penelitian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembagian wilayah yang tergesa-gesa dan arbitrer, seperti penetapan Radcliffe Line, memperkuat ketimpangan sosial-ekonomi dan membuka ruang bagi perebutan kekuasaan antar elit politik pascakolonial. Konflik berkepanjangan di Punjab, Bengal, dan Kashmir merupakan hasil reproduksi kelas penguasa kolonial ke dalam struktur negara modern. Warisan kolonial Inggris tidak hanya berupa batas teritorial, tetapi juga struktur dominasi kelas yang terus menciptakan siklus konflik di India-Pakistan hingga saat ini.
Advancing Green Transportation through Subnational Diplomacy: West Java–Chungcheongnam-do Cooperation in e-BRT and EV Infrastructure Development Nainggolan, Felicia Sang Ayu Putri; Azmi, Fuad
Padjadjaran Journal of International Relations Vol 8, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/padjir.v8i2.69693

Abstract

The challenges of urban carbon emissions and air pollution are growing, and the need for sustainable transport is becoming more pressing on a global scale, especially in developing countries, where implementation is often hampered by the lack of infrastructure and institutional capacity, and lack of policy coordination. The cooperation of West Java Province, Indonesia, and Chungcheongnam-do, South Korea, is relevant in this context because it is an example of subnational actors solving these problems with cross-border collaboration. In this study, secondary data analysis techniques based on a qualitative descriptive analytic approach is used, which is data obtained from official documents, institutional reports, and scientific literature. The results demonstrate that the cooperation has been moving toward tangible results in the form of policy implementation, such as the development of EV charging stations and electric bus rapid transit (e-BRT) in Bandung, and the Joint Working Group Meeting (JWGM) serves as a regular coordination forum that strengthens technical dialogue and operational alignment. The dynamics suggest subnational cooperation is not only a pathway to policy diffusion but also a way of creating capacity for policy implementation through the technical coordination of policy implementation across the subnational lines.Peningkatan emisi karbon dan polusi udara di kawasan perkotaan menuntut pengembangan transportasi berkelanjutan, namun implementasinya di wilayah berkembang sering terkendala keterbatasan infrastruktur, kapasitas kelembagaan, dan koordinasi kebijakan. Dalam konteks ini, kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Chungcheongnam-do, Korea Selatan, menjadi relevan untuk dikaji sebagai upaya aktor subnasional dalam merespons tantangan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis berbasis data sekunder dari dokumen resmi, laporan institusi, dan literatur akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja sama telah bergerak menuju implementasi kebijakan konkret melalui pengembangan e-BRT dan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik di Kota Bandung, dengan Joint Working Group Meeting (JWGM) berperan sebagai forum koordinasi teknis yang memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan penyelarasan operasional. Temuan ini menunjukkan bahwa kerja sama subnasional tidak hanya berfungsi sebagai difusi kebijakan, tetapi juga sebagai mekanisme pembentukan kapasitas implementasi melalui koordinasi teknis lintas negara