Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin is a journal published by the Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta. The journal is published twice annually (June and December) and consists of articles on Qur’anic studies and interpretation, hadith and Prophetic tradition, religious studies, and mysticism.
Articles
221 Documents
Pendekatan Ilmu-Ilmu Sosial Dalam Studi Perbandingan Agama
M Ridwan Lubis
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 1 No. 1 June 2015
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (723.639 KB)
|
DOI: 10.15408/ushuluna.v1i1.15148
Studi Perbandingan Agama adalah berbicara tentang berbagai fenomena dalam, hubungan antar umat beragama sebagai fenomena dalam kehidupan umat beragama. Oleh karena itu, studi Perbandingan Agama tidak bisa dilepaskan keterkaitannya dengan pola hubungan yang terjadi di antara umat beragama baik dari mereka yang satu agama maupun berbeda agama. Pluralitas sosial adalah merupakan kenyataan dalam kehidupan beragama di Indonesia. Agama-agama di nusantara setuju atau tidak, telah mengalami proses adaptasi, akomodasi, dan seleksi dengan tradisi masyarakat yang sudah berkembang sebelumnya. Oleh karena itu maka tidak bisa dielakkan terjadinya agama yang berbunga-bunga di Indonesia. Oleh karena itu mengharapkan adanya kesatan wajah agama tertentu di nusantara menjadi suatu hal yang sulit terwujudkan. Karena memang terjadinya kecepatan penyiaran agama di Indonesia tidak terlepas dari adanya peluang yang diberikan kepada calon penganut untuk melakukan tafsiran, penghayatan serta pengamalan ajaran agama mengikuti tradisi yang sudah terbangun sebelumnya. Interaksi diantara umat beragama melahirkan dua kemungkinan yaitu integrasi dan konflik. Analisa tentang hal ini tidak bisa hanya didekati melalui hukum dan etika agama. Akan tetapi juga melalui analisa sosiologis sehingga agama-agama dapat memberikan sumbangan bagi penguatan kerukunan bangsa. Selama ini, pemerintah maupun masyarakat terkesan ada kelupaan memberdayakan lulusan Perbandingan Agama untuk menjadi tenaga pendorong, penggagas maupun penggerak program kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Oleh karena itu, sudah saatnya apabila pemerintah memberikan perhatian bagi pengembangan studi Perbandingan Agama serta pemanfaatannya bagi penguatan integrasi bangsa guna memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia
PUASA DALĀIL AL-QUR’ĀN: DASAR DAN MOTIVASI PELAKSANAANNYA
Muhammad Abdul Kharis;
Alvin Noor Sahab Rizal
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 4 No. 1 June 2018
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (806.815 KB)
|
DOI: 10.15408/ushuluna.v1i1.15289
Darul Falah Islamic Boarding School Jekulo Kudus, one of the Boarding School that encourages every student to sunnah fasting. Various kinds of sunnah fasting that are familiar in society, such as Monday-Thursday fasting, Daud fasting, and Nyirih fasting. Dalā’il fasting known as the sunnah fasting, which is less familiar among the people. Dalā’il fasting is divided into the fasting of Dalā’il al-Khairāt and Dalā’il al-Qurān. The fasting of Dalā’il al-Qurān is fasting that implemented for one full year by reading one juz al-Qur’an every day. Based on the understanding of Dalā’il al-Qurān fast, then this fast falls into the category of dahr fast. Many arguments are used to explain the prohibition on dahr fasting. However, if the hadith is understood in terms of asbābul wurud, then this kind of fasting may be done. The existence of the hadith which prohibits doing dahr fasting is based on the advice of the Rasulullah to ‘Abd Allāh bin ‘Amr.
Keselarasan Islam dan Sains
Restiana Mustika Sari
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 3 No. 2 December 2017
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (528.01 KB)
|
DOI: 10.15408/ushuluna.v3i2.15193
Tulisan ini mencoba mengulas hubungan antara Islam dan sains. Ada beberapa pendapat mengenai hubungan keduanya. Ada yang berpandangan bahwa antara Islam dan sains saling bertentangan antara satu dengan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Islam dan sains memiliki keselarasan bahkan memperkuat antara satu dan lainnya. Namun dalam tulisan ini akan memperkuat pendapat yang mengatakan bahwa Islam dan sains memiliki keselarasan antara satu dengan lainnya. Metode pengumpulan data dalam tulisan ini adalah studi pustaka. Sumber data dalam tulisan ini adalah buku, jurnal, dan literatur lainnya yang memiliki kaitan. Tulisan ini menyajikan beberapa fakta bahwa, Islam dan sains memiliki keselarasan bahkan memperkuat satu dengan lainnya. Kedua, Islam memiliki keselarasan dengan sains, hal ini dibuktikan dengan keselarasan ayat-ayat al-Qur’an, sebagai sumber utama Islam.
KONTRIBUSI JASSER AUDA DALAM KAJIAN AL-QUR’AN: INTERPRETASI BERBASIS SISTEM
Dayu Aqraminas
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 4 No. 2 December 2018
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (993.919 KB)
|
DOI: 10.15408/ushuluna.v1i2.15293
This article explores the contribution of Jasser Auda in developing the theory of Maqāṣid Al-Sharī'ah, especially in the field of Tafsir al-Qur’an. Through a qualitative approach, the data related to the study of the Qur'an, Jasser Auda and Maqāṣid Al-Sharī'ah, are explained descriptively-analytically. From this description, we get the real role of Auda, namely the application of system-based interpretation in the implementation of tafsīr maqāṣidī. This article also explains features that affect the system approach, as well as the operational stages of the theory.
ISLAM KULTURAL: WAJAH ISLAM INDONESIA (Telaah Kritis dan Historis Corak Pemikiran Islam Indonesia)
Aramdhan Kodrat Permana
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 2 No. 2 December 2016
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (762.93 KB)
|
DOI: 10.15408/ushuluna.v2i2.15182
Islam (di) Indonesia merupakan sebuah fenomena unik bagi sejarah keislaman. Dengan corak yang lentur dan fleksibel Islam Indonesia mampu menciptakan komunitas mayoritas dalam masyarakat Indonesia. Akan tetapi arus transnasional begitu dahsyat sehingga Islam Indonesia pun saat ini diuji ketahanannya. Para sarjana kemudian banyak mengistilahkan keisalaman khas Indonesia ini dengan berbagai istilah, dari Islam Pribumi, Islam Nusantara, dsb. Adapun istilah yang akan penulis pakai adalah Islam Kultural. Karena semua keunikan yang ada dalam Islam di Indonesia berakar dari budaya Indonesia. Adapun satu upaya untuk menuju hal itu, tulisan ini berupa mencari akar tradisionalis-fundamental yang didasarkan bukan hanya dari sejarah perkembangan Islam Indonesia tetapi juga dari al-Qur’an sebagai face of Islam. Dakwah al-Qur’an secara periodik dengan karakter yang berbeda yang nampak dalam ayat-ayatnya secara implisit mengisyaratkan sosio-kultural yang berbeda. Pun selanjutnya hal ini akan disentasakan dengan hasil perjalanan awal pertama-kali penyebaran Islam di Indonesia yang sudah teruji keberhasilannya.
ISLAM INDONESIA: DISKURSUS ISLAM POLITIK VIS-A-VIS ISLAM KULTURAL DARI PRA-KEMERDEKAAN HINGGA ERA REFORMASI
Adi Fadilah
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 5 No. 2 December 2019
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (549.345 KB)
|
DOI: 10.15408/ushuluna.v1i2.15340
This paper deals with Islam in Indonesia through two great discourses: Political Islam and Cultural Islam. I try to explore the history and tranformation of both by library research from before independence until after New Order called reformation era. By using descriptive-analyses method, this paper concludes that the dynamic of the two poles was going on and also being actual around the society. The group of Political Islam with its vote through Islamic Parties wants to make Islam as an ideological principle and Indonesia as a religious country. Meanwhile, the group of Cultural Islam with the spirit of d’awa which want to realize Islam as the diffused values of live with the culture and also anti-sectarianism rejects the concept of Political Islam.
PROSES ASAL KEJADIAN ADAM DALAM PANDANGAN ACHMAD BAIQUNI: SEBUAH PENDEKATAN TAFSIR ILMI
Aktobi Ghozali
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 2 No. 1 June 2016
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (426.389 KB)
|
DOI: 10.15408/ushuluna.v2i1.15174
Perbincangan mengenai kejadian dan asal-mula manusia selalu menarik untuk dikaji. Pernyataan al-Quran mengenai asal kejadian Adam sebagai makhluk biologis menantang para mufassir dan ilmuan untuk menemukan makna dan maksud al-Qur`an sejalan dengan kemajuan cara pandang dan pengetahuan manusia. Dengan pendekatan sains, A.Baiquni mencoba memberikan tafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur`an yang mengisyaratkan kejadian manusia secara biologis. Ia menguraikan bagaimana evolusi sebuah istilah terjadi. Kata “turab” misalnya, yang pertama kali hanya diartikan sebagai “debu”, melalui sains dapat diartikan sebagai “sel”. Alur logis bagaimana proses terjadinya adam dapat melahirkan hipotesa baru, bahwa Adam memang manusia yang benar-benar telah hadir di bumi dengan proses alamiah sebagaimana makhluk lainnya. Temuan semacam ini sesungguhnya tidak bertentangan dengan al-Qur`an yang mengisyaratkan bahwa adam pertama kali hidup di surga (jannah). Tetapi justru sebaliknya, hal ini telah memberikan cakrawala baru bahwa sesungguhnya perkembangan sains semakin menunjukkan kebenaran al-Qur`an sebagai al-wahyu dan Islam sebagai agama yang sangat menjujung tinggi ilmu pengetahuan atau sains.
KEBAHAGIAAN DALAM PANDANGAN THOMAS AQUINAS DAN HAMKA
Rahmadon Rahmadon
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 1 No. 2 December 2015
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (486.629 KB)
|
DOI: 10.15408/ushuluna.v1i2.15159
Bahagia dalam pandangan Thomas Aquinas yang hakiki adalah ketika manusia memandang Ilahi sebagai kebahagiaan yang tertinggi (Contemplation), manusia akan menemukan kebahagiaan sepenuhnya ketika manusia sudah beralih kepada dunia yang fana ini, yaitu ketika manusia sudah menghadap Ilahi atau sudah berada di alam Baqa. Menurut Hamka, bahagia terdiri dari dua macam, yaitu ukhrawi dan Duniawi. Kebahagiaan Ukhrawi merupakan kebahagiaan yang paling utama, karena kebahagian ini abadi. Seseorang yang berusaha mencapai kebahagiaan ukhrawi akan memiliki keoptimisan dan ketenangan dalam hidup. Ketika diakhirat pun, ia akan mendapat sebaik-baiknya balasan atas kebaikannya selama hidup di dunia. Sedangkan kebahagiaan duniawi, berupa akal dan budi, kesehatan tubuh dan jiwa serta harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan berbagi dengan sesama sehingga manusia dapat beribadah dan bekerja dengan baik, kebahagiaan duniawi hanyalah suatu pelengkap karena manusia merupakan makhluk dualisme yang perlu dipenuhi kebutuhan rohani dan jasmaninya. Dalam hal Kebahagiaan Hamka dan Thomas memiliki suatu orientasi yang sama yaitu memandang sang Ilahi sebagai kebahagiaan yang Hakiki, juga tentu dalam hal kebahagiaan antara Hamka dan Thomas pun mengandung hal yang berbeda dalam konteks kebahagiaan manusia, karena bagaimana pun mereka merupakan Tokoh yang memiliki banyak perbedaan baik dari segi agamanya, periode kehidupannya dan sisi keilmuannya.
Unsur Kemuliaan dalam Syariat Pengharaman; Reinterpretasi Kata “Haram” dalam Al-Qur’an Melalui Metode Isytiqaq
Salman Al-Farisi
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 3 No. 2 December 2017
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (157.135 KB)
|
DOI: 10.15408/ushuluna.v3i2.15199
Selama ini kata haram dimaknai sebagai sesuatu yang harus dihindari, dijauhi, dan dilarang yang bisa berdampak pada hukuman dosa. Pemahaman seperti ini melupakan suatu elemen penting dalam makna internal dari kata “haram” dengan memperhatikan asal kata dan derivasinya dalam alQur’an, yakni adanya unsur penghormatan dan kemuliaan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini ialah pendekatan kebahasaan melalui metode isytiqaq. Hasil yang didapat dalam penelitian ini ialah elemen kemuliaan yang terlupakan tersebut merupakan faktor fundamental dimana aturan itu muncul sebagai bentuk penjagaan atas kemuliaan yang sudah ditetapkan oleh Allah selama ini, bukan hanya sebagai pengekang yang membatasi kebebasan manusia
MODEL NEGARA DALAM ISLAM: TINJAUAN TAFSĪR MAQĀṢIDĪ
Lufaefi Lufaefi
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 5 No. 2 December 2019
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (855.983 KB)
|
DOI: 10.15408/ushuluna.v1i2.15350
The Islamic study who until now still raises the pro-cons is about the state model. Sayyid Quṭb, Taqī al-Din al-Nabhāni and Abū A‘lā Al-Maudūdī, are scientists who conclude that Islam has a state model, namely khilāfah islāmiyyah. This first group closes the space for possible state models other than khilāfah islāmiyyah. Until often this idea raises acts of terrorism and anarchism. While in other groups, such as ‘Alī‘ Abd Rāziq, Nurcholis Madjid and Gus Dur are a series voicing their ideas that Islam does not have a particular state model. This article to find the nature of the state model in Islam. The approach used is the interpretation approach maqāṣidi Ṭāhir Ibn ‘Āsyūr. As a result, the Islamic state model in the Koran is the state provided that it meets the principles of the state according to Islam, such as justice, deliberation, charity, social security, peace, security and equality. Whatever country model, as long as it still holds the six principles above, then the essence is the model of an Islamic state.