cover
Contact Name
Prof. Dr. Elna Karmawati
Contact Email
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Phone
+62251-8313083
Journal Mail Official
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1, Cimanggu, Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri)
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (JLITTRI) aims to publish primary research articles of current research topics, not simultaneously submitted to nor previously published in other scientific or technical ojournals. General review articles will not be accepted. The journal maintains strict standards of content, presentation,and reviewing. SCOPE The journal will consider primary research papers from any source if they make an original contribution to the experimental or theoretical understanding and application of theories and methodologies of some aspects of agricultural science in Indonesia including: Estate crops; Soil science; Climate science; Agronomy; Plant breeding; Biotechnology; Genetic resources; Plant pathology; Plant physiology; Entomology; Farming system; Postharvest technology; Socio-economic agriculture; Environment; Agricultural extension. The journal publishes Indonesian or English articles. Since the year of 2017, the jurnal is published twice a year in (June and December).
Articles 504 Documents
KARAKTERISTIK FISIOLOGIS Ralstonia solanacearum PENYEBAB PENYAKIT LAYU BAKTERI NILAM NASRUN NASRUN; CHRISTANTI CHRISTANTI; TRIWIDODO ARWIYANTO; IKA MARISKA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n2.2007.43-48

Abstract

ABSTRAKPenelitian karakteristik Ralstonia solanacearum penyebabpenyakit layu bakteri nilam telah dilakukan di pertanaman nilam petani diPasaman Barat Sumatera Barat dan laboratorium serta rumah kacaFakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kegiatanlapangan meliputi identifikasi gejala penyakit dan pengambilan sampeltanaman sakit pada empat kebun nilam terinfeksi penyakit layu bakteriberdasarkan tingkat serangan tertinggi (di atas 75%) yang dilakukan padabulan Januari 2003. Kegiatan laboratorium dan rumah kaca meliputiisolasi dan pengamatan morfologi bakteri patogen, pengujian hipersensitif,patogenisitas, sifat-sifat bakteriologi, pigmen fluoresen, antibiotik, biovardan ras patologi yang dilaksanakan pada bulan Januari sampai Agustus2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan 31 isolat bakteripatogen yang menunjukkan reaksi hipersensitif pada daun tembakau, dan20 isolat dari isolat tersebut mampu menginfeksi bibit nilam dengan gejalalayu seperti gejala di lapangan dengan masa inkubasi menunjukkan gejala14,6 – 39,0 hari setelah inokulasi (HSI). Isolat Ns 31 adalah isolat palingvirulen. Hasil analisis sifat-sifat bakteriologi menyimpulkan isolat bakteriasal nilam dari Pasaman Barat Sumatera Barat adalah Ralstoniasolanacearum. Berdasarkan hasil pengujian biovar dan kisaran inang makaisolat tersebut dikelompokkan ke dalam biovar III dan ras satu.Kata kunci : Nilam, Pogostemon spp., penyakit, bakteri, Ralstoniasolanacearum, Sumatera Barat, D.I. YogyakartaABSTRACTPhysiological characteristics of Ralstonia solanacearumcausing bacterial wilt disease on patchouli plantThe study of characteristics of Ralstonia solanacearum causingbacterial wilt disease on patchouli plant was conducted in the patchouliplant field in Pasaman Barat West Sumatera and bacteriological laboratoryand green house of Agricultural Faculty of Gadjah Mada University,Yogyakarta. The field activity were identification of disease symptom andcollection of infected plant by bacterial disease from the patchouli plantfield that have the height disease intensity (more than 75%) that wasconducted on January 2003. Activity of laboratory and green house wereisolation and assay of bacterial morphology, hypersensitive andpathogenicity test, bacteriological characteristic, fluorescens pigment,antibiotic, biotype and ras pathology were conducted from January toAugust 2003. Results showed that 31 isolates showed hypersensitivereaction on tobacco leaf. Twenty isolates infected patchouly plant withwilt symptoms with incubation period 14.6 – 39.3 days after inoculation.Ns 31 was the most virulent isolate. Analytic results of bacteriologicalcharacteristic showed that the bacterial isolates of Patchouli plant fromWest Pasaman-West Sumatera is Ralstonia solanacearum. Based onbiotype and host range test, this isolates was grouped into biotype III andras one.Key words : Patchouli, Pogostemon spp., disease, bacteria, Ralstoniasolanacearum, West Sumatera, D.I. Yogyakarta
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hipogea) DAN SENGON (Paraserianthes falcataria) DI ANTARA TANAMAN KELAPA DI SUKABUMI JAWA BARAT HANDI SUPRIADI; H. T. LUNTUNGAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v8n4.2002.126-131

Abstract

Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Desember 2001 di Desa Caringinnunggal, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, yang bcrada pada kelinggian 250 m di atas permukaan laut, tipe iklim B2 (Oldeman) dan jenis tanahnya Podsolik Merah Kuning. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Perlakuan model polatanam kelapa yang diuji sebagai berikut (1) kelapa + sengon 140 pohon/ha ♦ kacang tanah, (2) kelapa + sengon 280 pohon/ha + kacang tanah, (3) kelapa + sengon 420 pohon/ha ♦ kacang tanah, (4) kelapa + sengon 560 pohon/ha + kacang tanah, (5) kelapa + sengon 700 pohon/ha + kacang tanah dan (6) kelapa monokultur. 'Tujuan dai penelitian ini untuk mcngciahui pertumbuhan dan produksi dari beberapa model polatanam kelapa dengan tanaman sela kacang tanah dan sengon. Pengamatan dilakukan terhadap parameter agronomi meliputi data petumbuhan kacang tanah, sengon dan kelapa seta data produksi kacang tanah. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji BNJ. Hasil penelitian menunjukkan produktivitas kacang tanah pada polatanam kelapa * sengon 700 pohon/ha + kacang tanah prospektif dengan hasil mencapai 2 183 kg/ha dengan tinggi tanaman 30.25 cm dan polong isi sebanyak 9.65 buah. Sedang untuk tanaman sengon tingginya telah mencapai 312.3 cm dengan diameter 10.57 cm. Adanya tanaman sela diantara kelapa tidak menurunkan pembentukan jumlah daun, jumlah bunga betina dan jumlah tandan tanaman kelapa.Kata kunci: Cocos nucifera, Paraserianthes falcataria, Arachis hipogea, polatanam ABSTRACTGrowth and producion of peanut and albizia between coconut palms in Sukabumi, West JavaThe study was conducted from January to December 2001 at Caringinnunggal, Sukabumi 250 m above sea level with type of climate Bj according to Oldeman and soil type Red Yellow Podsolic. The expeiment was designed as a randomized block in 4 replicates. The cropping system models consisted of : (1) Coconut + albizia 140 trees/ha ♦ peanut (2) Coconut + albizia 280 trees/ha ♦ peanut. (3) Coconut + albizia 420 trees/ha + peanut, (4) Coconut + albizia 560 trees/ha + peanut, (5) Coconut + albizia 700 trees/ha + peanut and (6) Coconut as a control The purpose of this experiment was to know the growth and productivity of several fanning systems with intercrops in between coconut. The results of the research showed that the peanut production in the cropping system of coconut + albizia 700 trees/ha + peanut reached 2 183 kg/ha, peanut plant height 30.25 cm, mature pods 9.65/plant. While Ihe height of albizia plant reached 3)2.3 cm, stem diameter 10.57 cm. The intercrops planted in between the coconut palms did not reduce the number of leaves, the number of female flowers, and (he number of bunches.Key words : Cocos nucifera, Paraserianthes falcataria. Arachis hipogea, cropping system, production
PENGARUH TINGGI MUKA AIR SALURAN DRAINASE, PUPUK, DAN AMELIORAN TERHADAP EMISI CO 2 PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI LAHAN GAMBUT AI DARIAH; JUBAEDAH JUBAEDAH; WAHYUNTO WAHYUNTO; JOKO PITONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n2.2013.66-71

Abstract

ABSTRAKDrainase yang berlebihan dan penggunaan pupuk yang intensifdiduga menjadi penyebab tingginya emisi gas rumah kaca (GRK) padaperkebunan kelapa sawit di lahan gambut. Penelitian ini bertujuan untukmempelajari pengaruh tinggi muka air (TMA) saluran drainase, pupuk,serta amelioran terhadap emisi CO 2  dari perkebunan kelapa sawit di lahangambut. Penelitian dilakukan dari bulan Januari 2010 sampai denganDesember 2011, pada perkebunan sawit di lahan gambut, di KecamatanSiak Kecil, Kabupaten Bengkalis, Riau, menggunakan rancangan petakterpisah, tiga ulangan. Petak utama adalah TMA saluran drainase (40, 60,dan 80 cm). Anak petak adalah pupuk dan amelioran: (1) dolomit 3kg/pohon/tahun; (2) Pugam 10 kg/pohon/tahun; (3) Pupuk dosisrekomendasi (2,5 kg urea+2,75 kg SP-36+2,25 kg KCl+dolomit 2kg)/pohon/tahun; (4) Pupuk 75% dosis rekomendasi pukan 20kg/pohon/tahun; (5) Pupuk 75% dosis rekomendasi Pugam 2,5 kg/pohon.Parameter yang diamati adalah fluks CO 2 . Hasil penelitian menunjukkanbahwa pada TMA drainase 80 cm, perlakuan dolomit menghasilkan fluksCO 2 nyata paling tinggi (142,1 t/ha/tahun) dan terendah (44,5 t/ha/tahun)dicapai perlakuan pugam. Fluks CO 2 yang tinggi (130,6 t/ha/tahun) jugadicapai perlakuan pupuk dosis rekomendasi, khususnya pada TMA 40 cm.Pada musim kemarau TMA drainase berpengaruh nyata terhadap fluksCO 2 , terendah dicapai TMA 40 cm. Oleh karena itu, untuk meminimalkanemisi gas CO 2 , maka TMA drainase perlu dipertahankan sedangkalmungkin (sekitar 40 cm) selama tidak menurunkan produksi kelapa sawit.Amelioran dengan bahan aktif kation polyvalen berpotensi dapat menekanemisi GRK dari lahan gambut yang dikelola secara intensif.Kata kunci: amelioran, emisi, drainase, gambut, kelapa sawit, pupukABSTRACTExcessive drainage and intensive use of fertilizers thought to bethe cause of high greenhouse gas emissions in peatland under oil palmplantations. The study aimed at measuring the influence of water leveldrainage (WLD), fertilizer, and ameliorant on CO 2 emissions from oilpalm plantations on peatland. The study was conducted from January2010 to December 2011, at oil palm plantation on peatland, located in SiakKecil District, Bengkalis Regency, Riau, using split plot design, with threereplications. The main plot were WLD (40, 60, and 80 cm), as sub plotswere fertilizer and amelioran: (1) dolomite 3 kg/tree/year; (2) peatfertilizer 10 kg/tree/year; (3) dose of fertilizer recommendations (2,5 kgurea+2,75 kg SP-36+2,25 kg KCl+dolomite 2 kg)/tree/year; (4) 75% doseof fertilizer recommendations + manure 20 kg/tree/year; (5) 75% dose offertilizer recommendations + peat fertilizer 2.5 kg/tree/year. Parameterobserved was CO 2 flux. The result showed that at WLD 80 cm, dolomitetreatment resulted the highest (142,1 t/ha/year) and the lowest CO 2  flux(44,5 t/ha/year) resulted by peat fertilizer. The highest CO 2 flux alsoreached by fertilizer recommendations treatment, particularly on WLD 40cm. In dry season WLD significantly effect on CO 2 flux. The lowestreached by WLD 40 cm. Based on that the WLD needs to be maintainedin a state of shallow (approximately 40 cm), without lowering production.The use of fertilizer containing ameliorant with the polyvalen cation asactive material, potentially suppress the rate of greenhouse gas emissionsfrom peatlands are managed intensively.Key words: ameliorant, emission, drainage, peatland, oil palm, , fertilizer
POLA PERTUMBUHAN DAN SERAPAN HARA N, P, K TANAMAN BANGLE (Zingiber purpureum Roxb.) ROSITA SMD; MONO RAHARDJO; KOSASIH KOSASIH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n1.2005.32-36

Abstract

ABSTRAKKomoditas bangle belum banyak diteliti termasuk masalahteknologi budidayanya. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari polapertumbuhan dan serapan hara N, P dan K sebagai petunjuk untukpengelolaan kebutuhan hara khususnya N, P, dan K pada budidaya bangle.Penelitian dilaksanakan di lahan petani di Bogor pada bulan Mei 2001sampai Maret 2002. Jenis tanah Latosol dengan ketinggian tempat 250 mdi atas permukaan laut (dpl). Bahan tanaman yang digunakan adalahaksesi unggulan diperoleh dari Jawa Tengah. Pupuk dasar yang digunakanadalah urea 250 kg/ha, SP36 250 kg/ha dan KCl 250 kg/ha serta 20 ton/hapupuk kandang. Ukuran petak 6 x 1,5 m, jarak tanam 50 x 40 cm.Pengamatan pola pertumbuhan dan serapan hara dilakukan pada beberapatingkat umur panen (2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10 bulan setelah tanam).Setiap pengamatan terdiri atas 6 contoh tanaman. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pola pertumbuhan tanaman (tinggi, jumlah anakan,jumlah daun, jumlah akar, bobot kering tanaman) semakin meningkatdengan bertambahnya umur tanaman. Produksi minyak atsiri bangle padaumur 10 bulan setelah tanam mencapai 12.10 ml per tanaman. Untukmenghasilkan biomas sebanyak 701,0 g per tanaman dengan hasilsimplisia kering 417,97 g per tanaman, diperlukan serapan hara sebanyak8,48 g N, 1,72 g P, dan 4,02 g K per tanaman. Hara N, P dan Kterakumulasi lebih besar pada rimpang dibandingkan dengan tajuk danakar.Kata kunci : Bangle, Zingiber purpureum Roxb, pola pertumbuhan, lajupertumbuhan, hara tanamanABSTRACTGrowth pattern and nutrient uptake of N, P and K onpurple ginger (Zingiber purpureum Roxb)One of the problems in cultivation of purple ginger (Zingiberpurpureum Roxb) is limited cultivation technology. Therefore, the studyon its growth pattern and nutrient uptake of N, P, and K is very importantto support its cultivation technology. The objective of the research was tofind out data of growth pattern, growth rate, nutrient uptake, and simplisiaquality. Field trial was conducted in farmers land in Bogor from May 2001to March 2002. The soil is latosol and the altitude is 250 m asl. Plot sizewas 6 x 1,5m, and plant spacing was 50 x 40 cm. Observation on thegrowth pattern and nutrient uptake were carried out at different ages of : 2,3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, and 10 months after planting. Six samples were taken atevery growth stage of the plant. The results showed that the growth rateand the nutrient uptake of N, P, and K linearly increased, in line with theincrease of plant ages. Yield of essential oil at 10 MAP was 12.10 ml/plant. The amount of dry weight accumulation was 701.0 g/plant, to produce417.97 g simplisia/plant needed nutrient uptake of N, P and K, respectivelywas 8.48, 1.72 and 4.02 g/plant.Key words : Purple ginger, Zingiber purpureum Roxb, growth pattern,growth rate, plant nutrient
PENGEMBANGAN TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L) MENDUKUNG KAWASAN MANDIRI ENERGI DI NUSA PENIDA, BALI I KETUT ARDHANA; BAMBANG PRAMUDYA; MAHARANI HASANAH; ARMANSYAH H. TAMBUNAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n4.2008.155-161

Abstract

ABSTRAKDalam upaya memenuhi kebutuhan listrik di daerah terpencil danpulau-pulau kecil, pemerintah meluncurkan kebijakan pengembangan desamandiri energi. Di Nusa Penida, salah satu kawasan di Bali yang terdiriatas 3 pulau kecil, program mandiri energi dirancang dalam bentuk desawisata energi yang diwujudkan dengan pengembangan tanaman jarakpagar (Jatropha curcas L) sebagai penghasil bahan bakar nabati (BBN)untuk subtitusi bahan bakar pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).Analisis kebijakan pengembangan tanaman jarak pagar mendukungkawasan mandiri energi Nusa Penida dilakukan pada bulan Oktober 2007-April 2008. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji kesesuaian lahandan iklim Nusa Penida untuk pengembangan tanaman jarak, dan (2)melakukan analisis kelayakan finansial usahatani jarak pagar. Kesesuaianlahan dan iklim dianalisis secara deskriptif, sedangkan kelayakan finansialdianalisis berdasarkan kriteria investasi : NPV, B/C, dan IRR. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa berdasarkan karakteristik iklim, wilayahNusa Penida termasuk ke dalam kriteria sesuai (S2) untuk pengembangantanaman jarak pagar. Unsur iklim yang menjadi pembatas adalahketersediaan air terutama pada bulan-bulan Agustus, September, danOktober yang merupakan puncak musim kemarau, sehingga waktu panenhanya berlangsung pada bulan Maret-Juli. Peran minyak jarak pagarmensubstitusi solar sebagai bahan bakar PLTD selain ditentukan olehwaktu panen, juga tergantung kepada harga biji jarak pagar yang dapatmemberikan insentif bagi petani untuk mengembangkan tanaman tersebut.Usahatani jarak pagar layak dikembangkan pada tingkat harga minimumRp 2.000/kg biji di tingkat petani.Kata kunci : Jatropha curcas L., kesesuaian lahan dan iklim, kelayakanfinansialABSTRACTPhysic Nut Jatropha curcas Development to SupportLocal Self-sufficient Energy in Nusa Penida, BaliTo fulfill the electricity requirement in remote areas and smallislands, Indonesian government runs the self-sufficient energy villageprogram. In Nusa Penida, an area that consists of three islands in BaliProvince, the program is run by developing Energy Tourism Area (ETA).In this program, physic nut (Jatropha curcas L.) was planted in the ETAand the seeds will be used for bio-diesel to substitute diesel powerelectricity generator fuel. A policy analysis of developing Jatropha curcasplantation in the ETA has been done in the period of October 2007 to April2008. The objectives of this research are : (1) to analyze the land andclimate suitability for planting physic nut, and (2) to analyze financialfeasibility of physic nut farming. The land and climate suitability analyzedby descriptive method. Financial feasibility analyzed by investmentcriteria : NPV, B/C ratio, and IRR. The result shows that the land andclimate in Nusa Penida is suitable (S2) for planting physic nut. The crucialelement of the climate is the availability of the water during dry season inAugust, September and October. The harvest season is in March to July.The role of physic nut as a source for bio-diesel is influenced by theharvest time and the price of physic nut seeds. A good price will lead thefarmer to maintain and develop their jatropha plantation.Key words : Jatropha curcas L., land and climate suitability, financialfeasibility
INBREEDING DEPRESSION PADA PROGENI HASIL PENYERBUKAN SENDIRI DAN OUTBREEDING DEPRESSION PADA HASIL PENYERBUKAN SILANG JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) RR. SRI HARTATI; SUDARSONO SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n2.2014.65-76

Abstract

ABSTRAKUntuk mengetahui pengaruh inbreeding (ID) dan outbreedingdepression (OD) pada tanaman jarak pagar dilakukan evaluasi populasi S1hasil penyerbukan sendiri dan F1 hasil penyerbukan silang genotipeterpilih. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai PenelitianTanaman Industri dan Penyegar mulai Juni 2009-Juli 2010. Evaluasimenggunakan 100 populasi S1 dan F1 yang berasal dari persilangan diallellengkap antar 10 tetua yang terdiri atas 1 tetua berdaya hasil rendah, 6tetua berdaya hasil sedang, dan 3 tetua berdaya hasil tinggi. Hasilpenelitian menunjukkan penyerbukan sendiri pada tanaman jarak pagartidak selalu mengakibatkan ID. ID ditemukan pada sebagian karakterprogeni hasil penyerbukan sendiri tetua 1 (575-3), 2 (HS 49-2), 4 (PT 13-1), 5 (SP 16-2), 6 (PT 33-2), 7 (3012-1), 8 (PT 15-1), 9 (PT 14-1), dan 10(Sulsel 8), sedangkan OD ditemukan pada progeni hasil penyerbukansilang tetua 3 (IP 1A-2) dengan tetua lainnya. Penyerbukan sendiri tetua 2(HS 49-2), 6 (PT 33-2), 8 (PT 15-1), dan 9 (PT 14-1) mengakibatkan IDpada karakter umur berbunga dan OD pada karakter jumlah buah pertanaman dan menghasilkan progeni yang lebih cepat berbunga danberbuah  lebih  banyak  dibanding  penyerbukan  silangnya.  ODmengakibatkan penurunan hasil pada F1. Persilangan antar tetua dengandaya hasil berbeda menghasilkan progeni F1 dengan daya hasil lebihrendah dari tetua terbaiknya. Persilangan dengan tetua jantan berdaya hasilrendah menghasilkan progeni F1 yang berdaya hasil lebih rendah dari tetuabetinanya. Penurunan daya hasil pada progeni F1 akibat persilangandengan tetua jantan berdaya hasil rendah berkisar 31-76%.Kata kunci: Jatropha curcas L., populasi S1, populasi F1, penurunanhasilABSTRACTA sets of F1 and S1 arrays were generated to determine the presenceof inbreeding (ID) and outbreeding (OD) effects of physic nut. Researchwas conducted at Indonesian Industrial and Beverage Crops ResearchInstitute Experimental Station during June 2009 to July 2010. Ten physicnut genotypes i.e. 1 parent with low yield, 6 parents with medium, and 3parents with high yield potential were used to generate one hundred F1 andS1 progenies by full diallel scheme. Results indicated ID only occurred ina several number of genotypes. ID for a number of characters wereobserved among S1 progenies derived from parents number 1 (575-3), 2(HS 49-2), 4 (PT 13-1), 5 (SP 16-2), 6 (PT 33-2), 7 (3012-1), 8 (PT 15-1),9 (PT 14-1), and 10 (Sulsel 8), while OD were observed among F1progenies derived from parent number 3 (IP 1A-2). Selfing of parentsnumber 2 (HS 49-2), 6 (PT 33-2), 8 (PT 15-1), and 9 (PT 14-1) resulted IDfor days to flowering and OD for number of fruit. Selfing of these parentsresulted early flowering and high fruit yielding progenies. OD resultedyield reduction on several F1 progenies. Crossing among parents withdifferent yield level resulted F1 progenies with lower yield than that of thebest parent. Crossing to low yielding male parent resulted F1 progenieshaving lower yield than that of low yielding female parent. Yield reductionamong F1 progenies ranged from 31 to 76%.Key words: Jatropha curcas L., S1 population, F1 population, yieldreduction
PEMBUATAN SERBUK PALA (Myristicafragrans Houtt) INSTAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PENGERING SEMPROT NANAN NURDJANNAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n4.2005.159-170

Abstract

ABSTRAKProduk utama dari buah pala (Myristicafragrans Houtt) adalah bijipala (tua dan muda) dan fuli. Daging buah pala merupakan bagian terbesardari buah pala (83,3%) tetapi sampai sekarang masih sedikit sekali yangdimanfaatkan di antaranya untuk manisan. Kemungkinan lain peman-faatannya adalah dengan mengolahnya menjadi minuman dalam bentukserbuk pala instan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pembuatanserbuk pala instan dengan menggunakan alat pengering semprot (spraydryer) dengan dekstrin dan maltodekstrin sebagai bahan pengisi. Penelitianterdiri dari penelitian pcndahuluan dan penelitian lanjutan. Penelitianpendahuluan bertujuan untuk mencari temperatur inlet optimum pengeringsemprot untuk memperoleh serbuk instan pala, perbandingan buah paladan air dalam pembuatan sari buah pala, perbandingan sari buah pala dansirup glukosa dalam pembuatan sirup pala serta jenis dan konsentrasibahan pengisi yang akan digunakan pada penelitian lanjutan. Dari hasilpenelitian pendahuluan diperoleh temperatur inlet optimum dari pengeringsemprot adalah 180°C. Perbandingan daging buah pala dan air untukpembuatan sari buah pala adalah 1:1 (b/b). Perbandingan sari buah paladengan sirup glukosa untuk pembuatan sirup pala adalah 1 : 1 (b/b).Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan, perlakuan yang dicobakan padapenelitian utama terdiri dari jenis bahan pengisi (Al = dekstrin, A2 =maltodekstrin) dan konsentrasi bahan pengisi ( Bl= 5%, B2=10%,B3=15%). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acakkelompok dengan ulangan 3 kali. Parameter yang diamati adalah rendemendan karakteristik dari serbuk pala instan yang terdiri dari kadar air, kadarabu, kadar total asam tertitrasi, pH, kadar vitamin c dan kelarutan. Untukmenentukan tingkat kesukaan konsumen terhadap serbuk pala instandilakukan uji organoleptik terhadap 20 panelis. Hasil penelitian menunjuk-kan bahwa jenis dan konsentrasi bahan pengisi berpengaruh terhadapkarakteristik dari serbuk pala instan serta derajat kesukaan dari panelisterhadap serbuk pala instan tersebut. Perlakuan terbaik yang dipilihberdasarkan tingginya rendemen dan karakteristik dari serbuk pala instanserta tingkat kesukaan dari panelis, yaitu dekstrin sebagai bahan pengisipada tingkat konsentrasi 15% pada kondisi proses pengering semprot dankondisi pembuatan sirup seperti di atas.Kata kunci: Pala, Miristicafragrans Houtt, prosesing, buah pala, serbukinstan, dekstrin, maltodekstrin, spray dryer, Bogor, JawaBaratABSTRACTInstant nutmeg (Myristica fragrance Houtt) powderformulation using spray dryerThe main product of nutmeg (Myristicafragrans Houtt) are nutmegseed (mature and immature) and fuly. The meat is the biggest part ofnutmeg fruit (about 83.3%) only small portion is used for sweet products.The other opportunity is to process it for instant powder beverage. Theobjective of this experiment was to formulate the instant nutmeg powderusing spray dryer with dextrin and maltodextrin as the filler substances.The activity consisted of preliminary and main experiments. The aim ofthe preliminary experiment was to find out that the optimum inlettemperature of spray drying process to get nutmeg instant powder, theratio of nutmeg and water to make nutmeg juice, the ratio of nutmeg juiceand glucose syrup to make nutmeg syrup, type and concentration of fillersubtances which would be used in the main experiment. From thepreliminary experiment it was found out that the optimum inlettemperature was 180°C . The ratio of nutmeg shell and water to makenutmeg juice was 1:1 (w/w). The ratio of nutmeg juice and glucose syrupto make nutmeg syrup was 1:1 (w/w). Based on the preliminaryexperiment, the treatments applied in the main experiment were type offiller substances (Al = dextrin and A2 = maltodextrin) and concentrationof filler subtances (Bl = 5%, B2= 10% and B3 = 15%). The experimentused randomized block design with three replications. The parametersobserved were yield, water content, ash content, vitamin C content, pH andsolubility. To find out the consumer preference the organoleptic test wasdone to 20 panels. The result of the experiment showed that type andconcentration of filler subtances and also replication influenced thecharacteristic of the instant nutmeg powder produced as well as theconsumer preference. Based on the high yield of the instant nutmegpowder, its characteristics and consumer preference, the best treatmentwas dextrin as the filler substance with 15% concentration.Key words : Nutmeg, Myristica fragrans Houtt, processing, nutmegfruit, instant powder, dextrin, maltodextrin, spray dryer,Bogor, West Java
PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP JUMLAH MATA TUNAS PADA BEBERAPA KLON KAPUK MOCH. SAHID; BUADI BUADI; O. M.Y. FACHRUDIN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v6n1.2000.14-17

Abstract

Effect of plant spacing on the number of buds of capok clonesThe experiment was conducted at Muktiharjo Experimental Farm. Pati from December 1991 to December 1993. The experiment was arranged factorially in a split plot design with three replications. The main plot was plant spacing, i.e. 2 m x I m and 2 m x 2 m, while the sub plot was clones (source of buds), namely MH I. Mil II. logo B, (lanang 36 x Siam) x Congo, (Congo 2 x Lanang). (SS 29 x Congo), (Jepara x Congo 2), and (P. Gudang x Lanang) x Congo. Plot size was 20 m x 4 m The size of planting hole was 0 6 m x 0 6 m x 0.6 m. one plant per hole. Canle manure mixed with soil was applied at planting lime Results showed that capok with plant spacing of 2 m x I m produced higher number of active buds per ha ( 147 625 buds) than that with plant spacing of 2 m x 2 m (79 661 buds). However, ihe first plant spacing produced smaller diameter (34.47 mm) than the second one (42.53 mm) The highest number of active buds was produced by the clone SS 29 x C, i.e. 123 959.33 buds per ha or 33.33 buds per plant
SKRINING GENOTIPE KAPAS (Gossypium sp.) UMUR GENJAH BERDAYA HASIL TINGGI SIWI SUMARTINI; IGAA. INDRAYANI; ABDURRAKHMAN ABDURRAKHMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n1.2010.27-36

Abstract

ABSTRAKPenggunaan genotipe berumur genjah di daerah pengembangankapas yang mempunyai musim hujan pendek dapat dilakukan karenagenotipe genjah dapat lolos dari kekeringan yang terjadi pada akhirmusim. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Pasirian,Lumajang dan di Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, pada bulan Februarisampai dengan September 2008. Tujuan penelitian ini adalah untukmendapatkan genotipe kapas berumur genjah berdaya hasil tinggi sehinggadapat digunakan sebagai kultivar komersial atau sebagai tetua di dalamperakitan kultivar baru. Sebagai perlakuan digunakan 40 genotipe kapashasil introduksi termasuk KI. 243 TAMCOT SP-37 yang digunakansebagai pembanding umur genjah dan KI. 28 SK 32 sebagai pembandingumur dalam. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK)dengan dua ulangan. Setiap genotipe ditanam dalam petakan berukuran 3 x10 m 2 dengan jarak tanam 100 cm x 25 cm satu tanaman per lubang.Pupuk yang diberikan yaitu ZA, urea, SP-36, dan KCl masing-masingdengan dosis 100 kg/ha. Pemeliharaan tanaman disesuaikan dengankebutuhan tanaman. Jumlah hujan selama pertumbuhan tanaman diAsembagus sebesar 123 mm dalam 13 hari hujan (hh) dengan ditambahdua kali pengairan, sedangkan di Pasirian sebesar 411 mm dalam 34 hhtidak ada tambahan pengairan. Parameter yang diamati adalah: hasil kapasberbiji, hasil dan persentase panen pertama, umur tanaman, jumlah danbobot buah, skor kerusakan daun akibat serangan A. biguttula, jumlah buludaun, dan mutu serat. Hasil dari penelitian ini adalah delapan genotipeyang berumur genjah (umur 132-133 hari), persentase panen pertama >80%, dengan hasil kapas berbiji > 1900 kg/ha. Ke delapan genotipetersebut adalah KI 83 Var 731N x 1656-12-76-2, KI 95 Var 619-998 x541-2-3-77-2-2, KI 96 HG P-6-3, KI 97 Var 7042-5W-79N, KI 119 Var1073-16-6 x 491L-619-4-77, KI 122 NC-177-16-C2, KI 675 PSJ I dan KI243 TAMCOT SP 37. Mutu serat genotipe-genotipe terpilih memenuhisyarat untuk industri tekstil dalam negeri maupun untuk duniaperdagangan yaitu: kehalusan serat 4,0 – 4,9 mic (sedang), kekuatan serat29,0 - 31,7 g/tex. (rendah - sedang), panjang serat 1,19 - 1,42 inci atau30,2 – 36,0 mm (panjang - sangat panjang), kerataan serat 85,4 - 87,2%,dan mulur serat 5,2 - 6,1%. Genotipe KI 83 Var 731N x 1656-12-76-2,KI 95 Var 619-998 x 541-2-3-77-2-2, dan KI 675 PSJ I memiliki rata-rata produktivitas kapas berbiji paling tinggi yaitu sebesar 2.419, 2.470,dan 2.503 kg/ha. Semua genotipe terpilih rentan terhadap Amrascabiguttula.Kata kunci : Gossypium sp., umur genjah, produksi tinggi, mutu serat,Amrasca biguttulaABSTRACTScreening of Early Maturing High Yielding Cotton(Gossypium sp.) GenotypesEarly maturing genotypes can be grown in cotton cultivation areawith short rainy season due to escaping from drought in a late season. Theresearch was conducted in Pasirian Lumajang and in AsembagusSitubondo Experimental Stations, East Java, from February to September2008. Objective of the study was to find out high yielding early maturingcotton genotypes which could be used as commercial varieties or as parentlines for engineering new varieties. As many as 40 introduced cottongenotypes were tested including KI 243 TAMCOT SP-37 and KI 28 SK32 used as control for early and late maturing genotypes. All genotypeswere arranged in a randomized block design with two replicates. Plot sizewas 3 x 10 m 2 with 100 cm x 25 cm plant spacing, one plant per hill.Fertilizer dosage were 100 kg ZA + 100 kg urea + 100 kg SP-36 + 100 kgKCl per hectare. During the growing period, the plants at Asembagus werewatered with 123 mm rain within 13 rainy days and two times extrairrigation. While in Pasirian, they were watered only with 411 rain within34 rainy days. Parameters observed were: Total seedcotton yield,seedcotton yield at first harvest, persentage of first harvest, maturity date,bolls count, bolls weight, score of leaf damage caused by A. biguttula, leafhair density, and cotton fiber quality. From the experiment there had beenselected eight early maturing (at 132-133 days) genotypes, with firstpicking percentage more than 80%, and productivity more than 1900 kgscottonseed per hectare. The selected genotypes were KI 83 Var 731N x1656-12-76-2, KI 95 Var 619-998 x 541-2-3-77-2-2, KI 96 HG P-6-3,KI 97 Var 7042-5W-79N, KI 119 Var 1073-16-6 x 491L-619-4-77, KI122NC-177-16-C2, KI 675 PSJ I and KI 243 TAMCOT SP 37. Cotton fiberquality of those genotypes suitable for domestic textile industries as wellas for bussiness, i.e: micronair 4.0 – 4.9 mic (average), fiber strength29.0 – 31.7 g/tex. (low – average), fiber length 1.19 – 1.42 inch or 30.2 –36.80 mm (long – very long), uniformity 85.4 – 87.2%, and elongation5.2 – 6.1. Averaged seed cotton productivities of KI 83 Var 731N x 1656-12-76-2, KI 95 Var 619-998 x 541-2-3-77-2-2 and KI 675 PSJ Igenotypes were around 2419, 2470, dan 2503 kg/ha, respectively. All theselected genotypes were susceptible to Amrasca biguttula.Key words : Gossypium sp., early maturing, high yielding, fiber quality,Amrasca biguttula
POTENSI HASIL GALUR-GALUR F1 MANDUL JANTAN KAPAS PADA PERSILANGAN ALAMI SIWI SUMARTINI; EMY SULISTYOWATI; SRI RUSTINI; ABDURRAKHMAN ABDURRAKHMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n2.2008.67-71

Abstract

ABSTRAKProduksi benih varietas kapas hibrida dapat ditempuh dengan duacara, yaitu dengan persilangan manual dan dengan memanfaatkan galurmandul jantan (male-sterile line). Memproduksi benih kapas secarapersilangan manual memerlukan tenaga dan biaya yang tinggi, dan biayatersebut dapat dikurangi dengan menggunakan galur male steril. Penelitiandilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Tembakaudan Serat, di Karangploso, Malang, Jawa Timur, dari bulan April sampaiOktober 2007. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi hasilgalur-galur mandul jantan kapas untuk memproduksi benih hibrida. Tigaaksesi kapas yaitu KI 487, KI 489, dan KI 494 yang memiliki persentasetanaman mandul jantan masing-masing 60,8%, 57,5%, dan 65% telahdigunakan sebagai donor sifat mandul jantan dan telah dilakukan introgresisifat mandul jantan dari ketiga aksesi tersebut ke varietas komersialKanesia 7, Kanesia 8, dan Kanesia 9 melalui persilangan pada tahun 2006dan diperoleh 9 set kombinasi persilangan. Pada tahun 2007, evaluasipotensi galur dilakukan terhadap 8 galur F1 mandul jantan, 3 tetua jantanyaitu varietas Kanesia 7, Kanesia 8, dan Kanesia 9, serta satu varietas baruyaitu Kanesia 12 sebagai pembanding yang disusun dalam rancangan acakkelompok yang diulang 3 kali. Plot percobaan berukuran 3 x 10 m 2dengan jarak tanam 100 cm x 25 cm; satu tanaman per lubang. Dosispupuk yang digunakan adalah 100 kg urea + 100kg ZA + 100kg SP 36 +100kg KCL per ha. Tidak dilakukan pengendalian hama denganinsektisida kimia selama penelitian. Pengamatan yang dilakukan adalahkemandulan benangsari secara visual dan mikroskopis, jumlah buah pertanaman, bobot buah, dan hasil kapas berbiji. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pengamatan secara visual dan mikroskopis terhadapstruktur bunga menunjukkan bahwa semua individu tanaman dari 8 galurF1 yang diuji adalah mandul jantan. Jumlah buah galur mandul jantan 7 –96% lebih banyak tetapi ukuran buahnya lebih kecil dibandingkan denganKanesia. Galur-galur mandul jantan KI 494 x Kanesia 7 dan KI 494 xKanesia 8 memberikan hasil kapas berbiji paling tinggi masing-masing2.609kg dan 2.153kg per hektar dibandingkan dengan galur-galur lain,atau sebesar 94 % dan 95% dibandingkan dengan Kanesia 7 dan Kanesia8. Persilangan alami galur-galur tersebut bervariasi sebesar 51 – 95%.Kata kunci : Kapas, Gossypium hirsutum. L., mandul jantan, benih hibridaABSTRACTCotton yield potential of F1 male sterile lines undernatural crossingCotton hybrid seed production can be done by manual crossing andby using male steril line methods. The manual crossing technique ishowever labor dan cost intensive, and the cost can only be reduced byusing male sterile lines. The experiment was conducted in KarangplosoExperimental Station of Indonesian Tobacco and Fiber Crops ResearchInstitute (IToFCRI), Malang, East Java, from April to Oktober 2007aiming to evaluate the yield potential of cotton male sterile lines. Threecotton accessions e.i KI 487, KI 489, and KI 494 which have male sterilitypercentage of 60.8%, 57.5%, and 65%, respectively, were used as donorfor male sterility and were then introgressed to three commercial cottonvariety, Kanesia 7, Kanesia 8, and Kanesia 9 through manual crossing, andthat resulted in nine sets of crossing combinations. In 2007, yield potentialwere studied including 8 F1 male sterile lines, 3 male parent lines (Kanesia7, Kanesia 8, and Kanesia 9), and one new cotton variety, Kanesia 12, ascontrol in a randomized block design with 3 replications. Plot size was 3 x10 m 2 with 100 cm x 25 cm plant spacing; one plant per hill. Fertilizerdosage was 100kg urea + 100kg ZA + 100kg SP 36 + 100kg KCl per ha.Chemical insecticide was not used for insect protection during theresearch. Parameters observed were plants male sterility, number of bollsper plant, boll weight, and seed cotton yield. The experimental resultshowed that both visual and microscopic observation of male sterility onindividual plants confirmed that the eight F1 lines tested were male sterile.Number of bolls per plant of male sterile lines were 7 – 96% higher thanthat of Kanesia’s, but boll size was smaller. Lines KI 494 x Kanesia 7 andKI 494 x Kanesia 8 produced highest cotton seed yield of 2609 kg and2153 kg per hectar, respectively, which were 94% and 95% of that of theirmale parents, Kanesia 7 and Kanesia 8, respectively. Natural crossing ofthose lines varied around 51 – 95%.Key words : Cotton, Gossypium hirsutum. L., male sterile, hybrid seed

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue