cover
Contact Name
Prof. Dr. Elna Karmawati
Contact Email
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Phone
+62251-8313083
Journal Mail Official
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1, Cimanggu, Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri)
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (JLITTRI) aims to publish primary research articles of current research topics, not simultaneously submitted to nor previously published in other scientific or technical ojournals. General review articles will not be accepted. The journal maintains strict standards of content, presentation,and reviewing. SCOPE The journal will consider primary research papers from any source if they make an original contribution to the experimental or theoretical understanding and application of theories and methodologies of some aspects of agricultural science in Indonesia including: Estate crops; Soil science; Climate science; Agronomy; Plant breeding; Biotechnology; Genetic resources; Plant pathology; Plant physiology; Entomology; Farming system; Postharvest technology; Socio-economic agriculture; Environment; Agricultural extension. The journal publishes Indonesian or English articles. Since the year of 2017, the jurnal is published twice a year in (June and December).
Articles 504 Documents
VIABILITAS DAN EFEKTIVITAS FORMULA NEMATODA Steinernema sp. TERHADAP HAMA PENGGEREK BUAH KAPAS Helicoverpa armigera HUBNER HERI PRABOWO; IGAA INDRAYANI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n4.2012.151-155

Abstract

ABSTRAKEntomopatogen dari genus Steinernema berpotensi digunakansebagai pengendali berbagai serangga hama, terutama ordo Lepidoptera,seperti  Helicoverpa  armigera.  Penggunaan  Steinernema  untukpengendalian H. armigera akan menguntungkan karena aman terhadaplingkungan, mudah diproduksi massal, toleran terhadap berbagai macampestisida, dapat aktif mencari serangga sasaran, tidak menyebabkanresisten dan resurjensi, serta dapat diaplikasikan dengan alat semprotstandar. Namun, formula pestisida hayati mengandung Steinernema masihsangat terbatas. Tujuan penelitian adalah membuat formula Steinernemasp. yang efektif terhadap hama penggerek buah kapas (H. armigera).Penelitian dilaksanakan di laboratorium Patologi Serangga, BalaiPenelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Malang mulai bulan Mei-Juli2010. Larva instar III Steinernema sp. dibuat dalam 6 macam formulaperlakuan dengan bahan pembawa (carrier) berbeda-beda, yaitu (1)suspensi (akuades + sukrosa), (2) pellet-2 (sekam padi), (3) pellet-1(tanah liat + arang), (4) agar + spon, (5) kapsul (Ca-alginat), dan (6)kontrol (akuades). Setiap formula diinokulasikan 10 6 juvenil infektif (JI).Masing-masing perlakuan disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL)dengan tiga kali ulangan. Penurunan jumlah juvenil infektif (JI) padasetiap formula yang diamati per minggu selama ± 4 minggu. Isolat yangdigunakan untuk penelitian ini berasal dari Asembagus. Untukmengevaluasi efektivitas formula, larva H. armigera diperlakukan denganJI yang berasal dari masing-masing formula setiap minggu selama empatminggu. Perlakuan ini menggunakan rancangan acak lengkap denganempat ulangan. Jumlah penurunan JI setiap minggu selama empat minggusetelah perlakuan. Persentase JI yang hidup pada pellet-1, suspensi, pellet-2, agar + spon, kapsul, dan kontrol berturut-turut sebesar 53; 12,4; 44;63,8; 17,6; dan 5%. Pada minggu pertama sampai minggu keempat setelahperlakuan terlihat bahwa formula yang paling baik mempertahankan JIadalah agar + spon dan kemudian berturut-turut diikuti oleh pellet-1,pellet-2, kapsul, suspensi. Steinernema sp. yang disimpan selama empatminggu dalam berbagai bentuk formula terhadap H. armigera berkisarantara 80-99%. Formula agar dan spon paling baik untuk menyimpanSteinernema sp. selama empat minggu, karena formula ini memberikantingkat viabilitas dan efektivitas Steinernema sp. paling tinggi.Kata kunci : efektivitas, formula, Helicoverpa armigera, Steinernema sp.,viabilitasABSTRACTEntomopathogenic nematodes genus Steinernema for are potentialto be used as a control for various insect pests, especially ordoLepidoptera, such as Helicoverpa armigera. The use of Steinernema tocontrol H. armigera is beneficial because it is environmentally friendly,easy to produce, tolerant to several pesticides, actively search the targetinsect, does not cause resistance and resurgence, and can be applied byusing standard sprayer. Unfortunately, biological pesticide containingSteinernema is still limited. The study was aimed at formulating abiological agen containing Steinernema sp. to control the cotton bollwormweevil (H. armigera). The experiment was conducted at insect pathologylaboratory, Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute,Malang from May to July 2010. Steinernema sp. instar III larvae wasformulated in six different forms such as Pellet-1 (clay+carbon),suspension (distilled water+sucrose), Pellet-2 (rice husk), agar+sponge,capsule (Ca-alginate), and control (distilled water). Each formulation wasinoculated with 10 6 Infective Juvenile (IJ). Each treatment was arranged incompletely randomized design (CRD) with three replicates. Eachformulation observed showed decrease in IJ number every week for + 4weeks. Isolates used for this research were originated from Asembagusexperimental station. For evaluation of the formulation effectiveness, H.armigera larvae was treated using IJ from the formula weekly for fourweeks. On the first week after treatment, the percentages of living IJ inPellet-1, suspension, Pellet-2, agar+sponge, capsule, and control were 53;12.4; 44; 63.8; 17.6; and 5%, respectively. Effectiveness of Steinernemasp. stored for four weeks in various formulations against H. armigeraranged from 80-99%. The best formula of Steinernema sp for storage wasagar+sponge because of its ability to viability and effectiveness ofSteinernema sp.Key words: effectiveness, formulation, Helicoverpa armigera, viability,Steinernema sp.,
KAJIAN KESUBURAN TANAH PERKEBUNAN KARET RAKYAT DI PROVINSI BENGKULU NURMEGAWATI NURMEGAWATI; AFRIZON AFRIZON; DEDI SUGANDI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n1.2014.17-26

Abstract

AbstrakKaret merupakan salah satu komoditas perkebunan penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja maupun devisa negara. Kesuburan tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman karet. Oleh sebab itu, penilaian kesuburannya mutlak diperlukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji tingkat kesuburan tanah pada perkebunan karet rakyat di Provinsi Bengkulu. Penelitian ini dilaksanakan di sentra perkebunan karet rakyat Provinsi Bengkulu yang meliputi Kabupaten Bengkulu Tengah, Seluma, Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan dan Kaur. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan metode purposive random sampling pada lahan seluas 5 ha pada kedalaman tanah 0-20 cm da 20-40 cm. Analisis tanah yang dilakukan meliputi penetapan pH tanah (dengan metode pHmetri), C-Organik (spektrofotometri), N (Kjeldhal), P (spektrofotometri), kation K (flamephotometer), kation Mg (titrasi) dan KTK (destilasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pH tanah berkisar 4,35-5,20 sesuai untuk tanaman karet. Kandungan bahan organik termasuk rendah sehingga perlu penambahan bahan organik, dalam hal ini dilakukan penanaman tanaman penutup tanah. Kandungan unsur hara N dan P termasuk sangat rendah sampai rendah sehingga mutlak diperlukan pupuk yang mengandung N dan P. Kandungan K-dd yang tersedia termasuk sangat rendah sehingga perlu pemupukan yang mengandung K2O. Kandungan Mg-dd termasuk sedang sampai sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman tidak menunjukkan gejala diperlukannya pemupukan Mg. Kandungan KTK termasuk sangat rendah sampai rendah, artinya pemupukan kation tertentu tidak boleh banyak karena mudah tercuci bila diberikan dalam jumlah berlebihan.Kata Kunci: Hevea brasiliensis , analisis tanah, kesuburan, produktivitas, Bengkulu
PENGARUH PUPUK NPK TERHADAP HASIL DAN MUTU TEMBAKAU MADURA VARIETAS PRANCAK-95 / Effect of NPK Fertilizer on Yield and Quality of Madura Tobacco var. Prancak-95 Roni Syaputra; Djajadi Djajadi
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v24n2.2018.47-55

Abstract

Most of tobacco farmers in Madura cultivate tobacco var. Prancak-95, yet the response of the variety to NPK fertilizer had not been identified. The purpose of this study was to examine the effect of NPK fertilizer on growth, yield and quality of madura tobacco var. Prancak-95. The study was conducted on silty loam soil at Lecen-lecen village, Pakong sub district, Pamekasan District, from April to December 2015. Tobacco was planted on early of June 2015 with double row spacing of (130+35)/2 cm x 40 cm. The treatments were arranged using Randomized Block Design with 3 replications. The treatments were 9 combinations of three level of N fertilizer (40, 60, and 80 kg N/ha) and three level of K fertilizer (19, 60.5 and 102 kg K2O/ha), and farmer’s fertilizer package (40 kg N + 36 P + 25 kg K+ 5 tons manure per hectare) as a control treatments. The results showed that yield and quality of madura tobacco var. Prancak-95 was increased when the doses of N and K fertilizers were increased. NPK fertilizer with dosage of 60 kg N + 45 kg P2O5 + 102 kg K2O + 5 tons manure per hectare was enough to produce sliced dried leaf as much 1,168 kg/ha and crop index value of 110.1.Keywords: Nicotiana tabacum L., NPK fertilizers, madura tobacco AbstrakPenanaman tembakau Varietas Prancak-95 telah berkembang luas di Madura, tetapi responnya terhadap pemupukan NPK belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh peningkatan dosis NPK terhadap pertumbuhan, hasil dan mutu tembakau madura varietas Prancak-95. Penelitian dilakukan pada tanah dengan tekstur lempung berdebu di Desa Lecen-lecen, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan dari bulan April hingga Desember 2015. Tanam dilaksanakan pada awal Juni 2015 dengan jarak tanam ganda (130+35)/2 cm x 40 cm. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dan diulang 3 kali. Perlakuan terdiri dari 9 kombinasi paket pupuk dengan 3 tingkat dosis N : 40, 60, dan 80 kg N/ha dan 3 tingkat dosis K : 19, 60,5 dan 102 kg K2O/ha, dengan kontrol paket pemupukan petani. Separuh dosis N sesuai perlakuan diberikan pada tanaman berumur 7 HST, sedangkan sisanya diaplikasikan saat tanaman berumur 21 HST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi dan mutu tembakau madura varietas Prancak-95 meningkat bila dosis pupuk N dan K ditingkatkan. Dosis pupuk NPK untuk tembakau madura Prancak-95 adalah 60 kg N + 45 kg P2O5 + 102 kg K2O + 5 ton pupuk kandang per hektar. Paket pupuk tersebut dapat menghasilkan tembakau rajangan kering 1.168 kg/ha dengan nilai indeks tanaman 110,1.Kata kunci: Nicotiana tabacum L., pupuk NPK, tembakau madura
VARIASI GENETIK BEBERAPA SPESIES KAPAS (Gossypium sp.) BERDASARKAN KERAGAMAN POLA PITA ISOZIM E. SULISTYOWATI; SULISTYOWATI SULISTYOWATI; S. RUSTINI; S. SUMARTINI; ABDURRAKHMAN ABDURRAKHMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n4.2009.174-183

Abstract

ABSTRAKDeskripsi aksesi-aksesi kapas berdasarkan karakter morfologinyatelah disusun berdasarkan descriptor list yang disusun oleh IBPGR, akantetapi marka genetik dari aksesi-aksesi tersebut belum diketahui. Penelitianini bertujuan untuk mempelajari keragaman pola-pita isozim Peroksidase(PER), Esterase (EST), dan Aspartate amino transferase (AAT) pada 19aksesi kapas dan kemiripan ke-19 aksesi kapas berdasarkan ketiga isozimtersebut. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Februari 2008 di RumahKaca Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta dan analisisisozim dilakukan di Laboratorium Biologi Tumbuhan, PAU Ilmu HayatIPB. Metode analisis yang digunakan adalah elektroforesis gel pati tipehorisontal dengan tiga sistem enzim, yaitu enzim peroksidase (PER),esterase (EST), dan aspartate amino transferase (AAT). Penelitianmenghasilkan data berupa pola pita isozim yang selanjutnya dibuat dalamdata biner. Data biner yang dihasilkan dibuat dalam persamaan matrik dandilanjutkan analisis gerombol dengan metode ‘UPGMA’ (Unweighted PairGroup Method Arithmetic Average) menggunakan fungsi SHAN padaProgram NTSYSpc versi 2.02. Hasil penelitian menunjukkan bahwaIsozim esterase dapat dijadikan marka genetik bagi Kanesia 1 (terbentuksatu pita spesifik) dan Kanesia 6 (satu pita spesifik); isozim peroksidasedapat dijadikan marka genetik bagi Kanesia 3 (dua pita pada kutub positif),aksesi-aksesi G. barbadense (dalam hal ini CTX-3 dan Giza-90 dua pitapada kutub positif) dan G. arboreum (empat pita pada kutub positif dansatu pita pada kutub negatif). Sedangkan isozim aspartat amino tranferasedapat dijadikan marka genetik bagi spesies G. herbaceum (dua pitaspesifik). Selain itu, terdapat kemiripan genetik antar aksesi kapasberdasarkan ketiga isozim (EST, PER, dan AAT). Pengelompokanberdasarkan ketiga isozim dari ke-19 aksesi kapas diketahui bahwa padajarak kemiripan 0,59 atau kemiripan 59% semua aksesi kapas menyatu,yang terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama hanya terdiri aksesiKanesia 1 saja. Sedangkan Kelompok kedua terdiri atas aksesi-aksesiKanesia 2, Kanesia 3, Kanesia 6, Kanesia 4, Kanesia 10, Kanesia 7,Kanesia 11, Kanesia 12, M-5, Kanesia 8, Kanesia 9, Kanesia 15, AKA-5,Kanesia 13, Kanesia 14, CTX-3, Giza-90 dan Kanesia 5.Kata kunci: Gossypium sp., keragaman genetik, pola pita isozimABSTRACTGenetic Diversity of Cotton Species (Gossypium sp.)Based on Variation of Isozyme Banding PatternMorphological characters of cotton accessions have been describedbased on the descriptor list produced by IBPGR, but the genetic markersfor those accessions have not yet been known. This research aimed atstudying the diversity and similarity among 19 cotton accessions based onisozyme banding patterns of peroxidase (PER), esterase (EST), andaspartate amino transferase (AAT). Research was carried out in February2008 at the green house of Faculty of Agriculture, Sebelas MaretUniversity, Surakarta and the isozyme was analyzed in Plant BiologicalLaboratory, Biological Science PAU IPB. Samples were electrophoresedon horizontal type of potato extract gel and stained with three enzymesystems, i.e. peroxidase (PER), esterase (EST), and aspartate aminotransferase ( AAT). The isozyme bandings were scored and translated intobinary data, which was then used to deduce the similarity amongaccessions and to draw dendrogram by using 'UPGMA' (Unweighted PairGroup Method Arithmetic Average) method from the NTSYSPC softwareversion 2.02. Experimental results showed that isozyme esterase can beused as genetic marker for Kanesia 1 (one specific band) and Kanesia 6(one specific band). Isozyme peroxidase can be used as genetic marker forKanesia 3 (two bands at positive end), accessions G. barbadense i.e. CTX-3 and Giza-90 (two bands at positive end) and G. arboreum (four bands atpositive end and one band at negative). Isozyme aspartate aminotransferase can be used as genetic marker for spesies G. herbaceum (twospecific bands). Moreover, the similarity analysis among 19 cottonaccessions based on the three isozymes showed that at the similarity levelof 59%, all accessions are divided in two groups. The first group consistedof Kanesia 1 only. Whereas the second group consisted of accessionsKanesia 2, Kanesia 3, Kanesia 6, Kanesia 4, Kanesia 10, Kanesia 7,Kanesia 11, Kanesia 12, M-5, Kanesia 8, Kanesia 9, Kanesia 15, AKA-5,Kanesia 13, Kanesia 14, CTX-3, Giza-90, and Kanesia 5.Key words: Gossypium sp., genetic diversity, isozyme banding pattern
DINAMIKA POPULASI Rhizoctonia solani PADA LAHAN PERTANAMAN TUMPANGSARI KAPAS-KACANG HIJAU DENGAN Crotalaria sp. TITIEK YULIANTI; NURUL HIDAYAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n2.2011.77-82

Abstract

ABSTRAKLahan kapas di Indonesia umumnya tegalan tadah hujan yangkesuburannya rendah-sedang. Penambahan pupuk hijau sebagai cara untukmeningkatkan kesuburan tanah sekaligus menahan air perlu memper-timbangkan kondisi biologis tanah, terutama patogen tanah sepertiRhizoctonia solani yang akan terpacu pertumbuhannya. Jamur ini sulitdikendalikan karena mampu bertahan hidup pada sisa-sisa tanaman.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupukhijau (Crotalaria sp.) ke dalam tanah terhadap populasi mikroorganismedan R. solani pada pertanaman tumpangsari kapas-kacang hijau. Penelitiandilakukan di dua tipe tanah, yaitu tanah lempung berpasir di Pasirian,Lumajang dan tanah liat di Sumberrejo, Bojonegoro (Jawa Timur).Kacang hijau varietas Perkutut ditanam di antara barisan kapas Kanesia 8.Perlakuan yang diuji adalah dua cara pemberian Crotalaria segar (dicacah10-15 cm), yaitu dibenamkan ke dalam tanah (seminggu sebelum tanambenih kapas) dan disebarkan (dimulsakan) di atas tanah bersamaan denganwaktu tanam kapas dan kacang hijau. Cacahan Crotalaria (20 ton/ha atau216 kg/petak berukuran 12 m x 9 m) diaplikasikan pada lajur di sekitartanaman kapas. Perlakuan disusun secara kelompok dan diulang tiga kali.Sampel tanah diambil pada saat tanaman kapas berumur 30, 60, dan 90hari setelah tanam (hst) untuk dihitung populasi mikroba non patogen,yaitu aktinomisetes, bakteri, dan jamur menggunakan media selektif,sedangkan R. solani dihitung dengan metode bioasay menggunakan tusukgigi steril. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa populasi mikroorga-nisme di dalam tanah meningkat secara nyata setelah diberi Crotalaria,baik dengan cara dimulsakan maupun dibenamkan, sementara populasimikroorganisme di dalam tanah yang tidak diberi mulsa relatif stabil.Secara umum terjadi peningkatan populasi mikroorganisme tanah(aktinomisetes, bakteri, dan jamur) pada tanah yang diberi Crotalariadengan cara dibenamkan dibandingkan yang dimulsakan, 30 hst. Pada 90hst populasi mikroba menurun, namun total populasi mikroorganismedalam tanah yang diberi Crotalaria masih lebih tinggi daripada tanah yangtidak diberi Crotalaria. Populasi R. solani pada tanah lempung berpasiratau tanah liat yang diberi perlakuan Crotalaria, baik yang dimulsakanmaupun dibenamkan, relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol.Pada pengamatan 30 hst, populasi R. solani dalam tanah berpasir naik 82-140% dari kontrol, sedangkan di dalam tanah liat naik 47-58%. Sejalandengan proses dekomposisi Crotalaria, persediaan bahan organik yangbelum terdekomposisi menipis ditambah dengan meningkatnya populasimikrorganisme saprofitik lain di dalam tanah, maka pada 90 hst populasiR. solani menurun dan tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol.Dengan demikian, penambahan pupuk hijau Crotalaria segar pada lahanyang sudah tercemar jamur R. solani berrisiko meningkatkan kematiantanaman kapas sehingga pupuk hijau harus didekomposisikan terlebihdahulu sebelum diaplikasikan.Kata kunci : Gossypium hirsutum, Vigna sinensis, dinamika populasi,mikroba tanah, Rhizoctonia solani, mulsa CrotalariaABSTRACTPopulation Dynamic of Rhizoctonia solani on Cotton-Mungbean Cropping System Enriched with CrotalariaCotton in Indonesia is usually cultivated on rain fed areas with low-medium soil fertility. Amendment of green manure to improve soilproperties should consider soil biological conditions, particularly soilbornepathogens, such as Rhizoctonia solani which could be stimulated. Thisinvestigation aimed to determine the effect of amendment of Crotalariasp. on population of R. solani and non pathogenic soil microorganisms inthe soil cultivated with cotton intercropped with mungbean plants. Theinvestigation was conducted in two soil types i.e. sandy loam in Pasirian,Lumajang and clay soil in Sumberrejo, Bojonegoro (East Java). Mungbean(var. Perkutut) was planted within the cotton row (var. Kanesia 8). FreshCrotalaria plants were cut into 10-15 cm long. The treatments wereincorporation of Crotalaria into the soil a week before planting andmulching the Crotalaria on the soil surface. Crotalaria was applied at arate of 20 t/ha or 216 kg/plot (12 m x 9m). Control treatment was plotwithout Crotalaria amendment. The experiment was arranged using arandomized block design with three replicates. The soil was sampled whenthe cotton plants were 30, 60, and 90 days after sowing (das) to estimatethe population of non pathogenic soil microbes (actinomycetes, bacteria,and fungi) using selective media. It was also to estimate population of R.solani using sterile toothpick bait bioassay. The study showed that popu-lation of soil microbes significantly increased following amendment ofCrotalaria at 30 das, both in the incorporated and mulched treatments.Generally, the population was higher in the incorporated treatment than inthe mulched one. At 90 das the microbial population decreased, however,those in the crotalaria amendments were still higher compared to thecontrol. Population of R. solani increased significantly both in the sandyloam and clay soils amended with Crotalaria. Population of R. solaniincreased 82-140% in the sandy loam soil on 30 das, whilst in the clay soilit increased 47-58%. As the decomposition of Crotalaria occurred, theavailable organic matter diminished as the result the population of R.solani declined. For example, at 90 das the number of R. solani was notsignificantly different compared with the control. This study concludedthat addition of fresh green manure (Crotalaria) soon prior to planting ofcotton in the soil infested with R. solani is highly risk to damping offdisease incidence. Therefore, green manure plant should be decomposedbefore application.Key words : Gossypium hirsutum, Vigna sinensis, population dynamic,soil microbes, Rhizoctonia solani, plant residues
KETAHANAN DELAPAN KULTIVAR TEMBAKAU LOKAL BONDOWOSO TERHADAP TIGA PATOGEN PENTING (Ralstonia solanacearum, Pectobacterium carotovorum, DAN Phytophthora nicotianae) TITIEK YULIANTI; NURUL HIDAYAH; SRI YULAIKAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n3.2012.89-94

Abstract

ABSTRAKTembakau bondowoso merupakan tembakau lokal rajangan yangberkembang di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Saat ini ada delapankultivar dengan karakter produksi, mutu, dan ketahanannya terhadappenyakit yang berbeda. Layu bakteri (Ralstonia solanacearum), busukbatang berlubang (Pectobacterium carotovorum), dan lanas (Phytophthoranicotianae) merupakan penyakit yang sering menyebabkan turunnyaproduksi tembakau bondowoso. Evaluasi ketahanan delapan kultivartembakau bondowoso (Samporis, Serumpung, Marakot, Samporis Lokal,Samporis AH, Samporis CH, Samporis B. Disbun, dan Deli) terhadapketiga patogen tersebut dilaksanakan di laboratorium dan rumah kasa BalaiPenelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) mulai bulan April sampaidengan Oktober 2011. Penelitian terhadap ketiga patogen tersebutdilakukan secara terpisah. Masing-masing kultivar ditanam sebanyak 10tanaman, 1 tanaman/polibag. Setiap perlakuan (kultivar) diulang 3 kali dandisusun dalam rancangan acak kelompok (RAK). Inokulasi R.solanacearum dan P. carotovorum dilakukan secara terpisah 24 jamsebelum transplanting. Inokulasi P. nicotianae dilakukan dengan dua cara,yaitu melalui akar dan pangkal batang. Inokulasi akar sama dengan carainokulasi bakteri. Inokulasi pangkal batang dilakukan pada tanamanberumur 2 minggu setelah transplanting. Pengamatan intensitas penyakitdilakukan setiap minggu selama 11 minggu. Hasil penelitian menunjukkanbahwa kultivar Samporis CH, Samporis, dan Deli tahan terhadap P.carotovorum, R. solanacearum, dan P. nicotianae. Kultivar Samporis CH.,Samporis, dan Deli ketahanannya lebih tinggi terhadap ketiga patogen,dengan intensitas penyakit berkisar antara 3,3%-6,7%. Kultivar Marakotsangat rentan terhadap ketiga patogen tersebut dengan tingkat keparahan ≥50%. Demikian pula kultivar Samporis AH yang rentan terhadap R.solanacearum, P. nicotianae dan P. carotovorum dengan intensitaspenyakit 23,3-53,3%. Oleh karena itu, kultivar Samporis CH, Samporis,dan Deli cocok dikembangkan pada lahan endemik penyakit tular tanah diKabupaten Bondowoso.Kata kunci: tembakau  bondowoso, Pectobacterium  carotovorumPhytophthora  nicotianae, Ralstonia  solanacearum,ketahananABSTRACTBondowoso tobacco is a local type of sliced tobacco which isrestrictedly cultivated in Bondowoso Regency, East Java. There are eightcultivars known, ie. Samporis, Serumpung, Marakot, Samporis Lokal,Samporis AH, Samporis CH, Samporis B. Disbun, and Deli with their owndistinctive characters on their production, quality, and resistance todiseases. Bacterial wilt (Ralstonia solanacearum), hollow stalk rot(Pectobacterium carotovorum), and blackshank (Phytophthora nicotianaeare the main cause of bondowoso tobacco production loss. Evaluation onthe resistance level of the cultivars to the three pathogens above has beenconducted at a laboratory and screen house scale in Indonesian Sweetenerand Fibre Crops Research Institute from April to October 2011. Theevaluation of each pathogen was conducted separately. Each evaluation ofthe pathogen per cultivar used 10 plants planted individually in a polybag.The experiment was arranged in a randomized block design with 3replicates. R. solanacearum and P. carotovorum were separatelyinoculated on the test plants 24 h before transplanting. The inoculation ofP. nicotianae was done twice via the root and stem. Disease intensity wasobserved weekly for 11 weeks. The results showed that Samporis CH,Samporis, and Deli cultivars were resistant to P. carotovorum, R.solanacearum and P. nicotianae, whereas Samporis and Deli cultivarswere more resistant to the pathogens (disease intensity ranged 3.3-6.7%).Marakot cultivar was very susceptible to all of the three pathogens (diseaseintensity ≥ 50%). Similarly, Samporis AH cultivar was also susceptible tothe pathogens with disease intensity ranged 23.3-53.3%. The studyindicated that Samporis CH, Samporis, and Deli cultivars are suitable to becultivated in the endemic soil born pathogen areas of BondowosoRegency.Key words: bondowoso  tobacco, Pectobacterium  carotovorum,Phytophthora  nicotianae, Ralstonia  solanacearum,resistance
ANALISIS KERAGAMAN GENETIK Phytophthora capsici Leonian ASAL LADA (Piper nigrum L.) MENGGUNAKAN PENANDA MOLEKULER CHAERANI CHAERANI; SRI KOERNIATI; DYAH MANOHARA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n1.2013.23-32

Abstract

ABSTRAKPhytophthora capsici adalah penyebab penyakit busuk pangkalbatang yang paling merugikan pada lada di Indonesia dan sulitdikendalikan karena dapat bertahan lama dalam tanah serta memilikikeragaman agresivitas isolat luas. Pengetahuan mengenai keragamangenetik strain-strain P. capsici dapat membantu perancangan strategiefektif pengelolaan patogen. Penelitian ini bertujuan mengevaluasikeragaman dan struktur genetik isolat-isolat P. capsici asal ladamenggunakan penanda RAPD. Penelitian dilaksanakan pada bulanOktober 2009 sampai April 2010 di Laboratorium Biokimia BB Biogendan Laboratorium Hama dan Penyakit Balittro. Keragaman genetik 59isolat P. capsici yang berasal dari koleksi kultur tahun 1982-2009 dari 37lokasi di Sumatera, Bangka, Jawa, dan Kalimantan, dikarakterisasimenggunakan enam primer RAPD. Pengelompokan menggunakanunweighted pair-group method with arithmatic averaging (UPGMA)berdasarkan profil RAPD membagi ke-59 isolat ke dalam lima gerombolutama; yang menunjukkan adanya keragaman genetik tinggi antar isolat.Pengelompokan RAPD tidak berkaitan dengan asal lokasi isolat. Analysisof molecular variance (AMOVA) juga menunjukkan adanya keragamangenetik yang tinggi di antara isolat-isolat P. capsici, dengan ragam genetiktotal sebesar 96% terletak di dalam masing-masing pulau (withinpopulations). Namun demikian, terdapat ragam genetik antar isolat daripulau berbeda (among populations) yang signifikan (4% ; P=0,001), yaituantar populasi di Sumatera dan Bangka dengan jarak genetik sebesar 0,081(P=0,002). Ketidakterkaitan antara pengelompokan RAPD dengan asallokasi geografik isolat dan ragam genetik yang tinggi dalam satu pulaudapat diakibatkan oleh terjadinya penyebaran isolat antar daerah, terutamamelalui bibit tanaman yang terinfestasi P. capsici. Pencegahan penyebaranisolat antar pulau perlu dilakukan melalui sertifikasi bibit bebas penyakitBPB dan pengembangan sistem perbenihan lokal.Kata kunci: lada, penyakit busuk pangkal batang, Phytophthora capsici,RAPD, keragaman genetik, struktur populasiABSTRACTPhytophthora capsici is the causal agent of foot rot, the mostdestructive disease of pepper in Indonesia and difficult to control .Knowledge in the genetic structure of P. capsici strains can enrichdesigning effective disease management strategies. This study was aimedat analyzing the genetic variability and structure of P. capsici isolates frompepper using RAPD. The study was done from October 2009 until April2010 at the Biochemical Laboratory of Indonesian Center for AgriculutralBiotechnology and Genetic Resources Research and Development, and thePlant Pest and Disease Laboratory of the Indonesian Research Institute ofSpice and Medicinal Crops. Fifty-nine isolates collected from 1982 to2009 from Sumatera, Bangka, Java, and Kalimantan were characterizedbased on six RAPD markers. Unweighted pair-group method witharithmatic averaging (UPGMA) clustering based on RAPD profilesdivided the isolates into five major cluster, which indicated high geneticvariability among isolates. No apparent relationship between RAPDclustering and geographic origin of isolate was observed. Hierarchicalpartitioning of genetic variation using analysis of molecular variance(AMOVA) confirmed the overall high variability among isolates, with96% of total genetic variance was resided among isolates within islands(within populations). Nevertheless, a small (4%) but significant (P=0.001)genetic variance among isolates between different islands (amongpopulations) were observed, which was detected between populations inSumatera and Bangka with genetic distance (Ф PT ) as high as 0,081(P=0,002). The lack of association between RAPD clustering andgeographic origin as well as high genetic variance within populations mayhave been the result of movement of isolates between locations, mostlikely through infested plant cuttings. Use of certified and development ofblackpepper clones locally are required to prevent disease spread amongislands.Keywords: black pepper, foot rot disease, Phytophthora capsici, geneticdiversity, RAPD, population structure
INDEX PENULIS Jurnal Littri
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v23n2.2017.%p

Abstract

ANALISIS KARAKTERISTIK LAHAN DAN MUTU BIJI PALA (Myristica fragrans Houtt) DAERAH LAMPUNG / Analysis of Land Characteristics and Nutmeg (Myristica fragrans Houtt) Seed Quality of Lampung Bariot Hafif; Rahadian Mawardi; Joko Susilo Utomo
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v23n2.2017.63-71

Abstract

Lampung Province is one of nutmeg-producing region in Sumatra. Today nutmeg is one of the region's export commodities. The quality is an important factor in global nutmeg trade. The aim of this study was to assess nutmeg development prospect by analyzing the land characteristics and the quality of nutmeg. The study utilized a survey method to characterize the land and performance of smallholder nutmeg plantations, to communicate with farmers and to sample some nutmeg seeds for quality analysis. The survey was carried out in four subdistricts of the main nutmeg producing areas in Tanggamus Regency, namely Kota Agung-Timur, Gisting, Semaka, and Air-Naningan, in each area, 2-3 smallholder nutmeg plantations were assessed. The areas suitable for nutmeg development are Kota Agung-Timur, Gisting, and Semaka. The main supporting factor is water availability throughout the year, whereas the limiting factor are air humidity >75%, low organic C and CEC ≤16 cmol (+)/kg of soil, and erosion hazard due to a slope of >15%. Nutmeg productivity has potentials to be improved through technological innovation as current nutmeg cultivation is still conventional and does not use superior seeds, fertilizer and postharvest technology. On the other hand, the nutmeg seeds qualities have met SNI standards such as specific gravity, refractive index, optical rotation, soluble in alcohol, and chemical properties such as myristicin, α-pinene, sabinene, and safrole. Methyl eugenol is below the threshold of the European Pharmacopoeia standard and the α-pinene is better than nutmeg essential oil of produced from other regions.Keywords: nutmeg, land, physical and chemical qualities of nutmeg, Tanggamus of Lampung Province AbstrakProvinsi Lampung adalah salah satu daerah penghasil pala di pulau Sumatera. Saat ini pala merupakan salah satu komoditas ekspor daerah tersebut. Mutu merupakan faktor penting dalam perdagangan pala global. Tujuan penelitian adalah mengkaji prospek pengembangan tanaman pala berdasarkan analisis karakteristik lahan dan mutu hasil pala di Provinsi Lampung. Penelitian menggunakan metode survei untuk mengkarak-terisasi lahan dan keragaan tanaman pala, serta melakukan tanya jawab dengan petani dan mengumpulkan biji pala untuk bahan analisis mutu. Survei dilaksanakan di empat daerah penghasil pala utama di Kabupaten Tanggamus, yaitu Kecamatan Kota Agung Timur, Gisting, Semaka dan Air Naningan. Di masing-masing kecamatan dikunjungi 2 - 3 kebun pala rakyat. Daerah yang cukup sesuai untuk pengembangan pala adalah Kota Agung Timur, Gisting, dan Semaka (Tanggamus bagian Barat). Faktor pendukung utama pertumbuhan dan produksi pala di daerah ini ialah air tersedia sepanjang tahun, sedangkan faktor pembatas adalah kelembapan udara >75%, kandungan C-organik tanah rendah, dan KTK tanah 16 cmol (+)/kg. Faktor pembatas lainnya adalah bahaya erosi tinggi yang disebabkan oleh kemiringan lahan >15%. Produksi dan mutu pala berpotensi ditingkatkan melalui inovasi teknologi karena budidaya pala masih bersifat konvensional, tanpa bibit unggul, pupuk dan teknologi pascapanen. Potensi lain adalah sifat fisik seperti berat jenis (BJ), indeks bias, putaran optik, kelarutan dalam alkohol, dan sifat kimia seperti kandungan miristisin, -pinen, sabinen, serta safrol biji pala Lampung telah memenuhi SNI. Metil eugenol sebagai senyawa karsinogenik terukur di bawah ambang batas ketetapan European Pharmacopoeia, dan kandungan -pinen terindikasi lebih baik dibanding di dalam minyak atsiri biji pala daerah lainnya di Indonesia.Kata kunci: pala, lahan, mutu fisik dan kimia pala, Tanggamus Provinsi Lampung
INDUKSI MUTASI DENGAN KOLKISIN DAN SELEKSI IN VITRO TEBU TOLERAN KEKERINGAN MENGGUNAKAN POLYETHYLENE GLYCOL / Induced Mutation using Colchicine and In vitro Selection using Polyethylene glycol for Drought-Tolerant Sugarcane RR. Sri Hartati; Sri Suhesti; Rossa Yunita; Syafaruddin Syafaruddin
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v24n2.2018.93-104

Abstract

Creating of varieties can be done through mutation breeding at the cellular level, combined with in vitro selection. This research was conducted at the UPBUP from January until December 2017 to find out colchicine concentration and treatment duration which effectively produced tolerant mutant through in vitro drought selection using polyethylene glycol (PEG). The study consists of two stages. The first was mutation induction on sugarcane calli using colchicine, which was arranged factorially with a completely randomized environment design. The first factor was varieties (BL, PS 862, and PSJT 941), the second was colchicine concentration (0,01,0,0 and 0,05%), and the third was colchicine duration treatment (1 and 3 days). Observations were made on the percentage of callus survival. The second stage was in vitro selection of droughts using a PEG 6000, which was arranged factorially with a complete randomized design. The first factor was the concentration of colchicine (0, 0.01, 0.03, and 0.05%), the second was the colchicine duration treatment (1 and 3 days), and the third was PEG concentration (0, 10 and 20%). Selection was done for 4 weeks. Percentage of live callus, regenerated callus, number and height of shoots were observed as a selected criteria. Colchicine treatment in the 0.01 - 0.05% for 3 days on PS 862 and 0.01 - 0.03% for 3 days on PSJT 941 callus resulted mutant passing in vitro drought selection at 10% PEG concentration level. Mutant selection will be continued through in vivo. The optimum mutation treatment for BL has not been obtained.Keywords: chemical mutagen, colchicine, mutation, selection agent, PEG 6000 AbstrakPerakitan varietas tebu toleran kekeringan dapat dilakukan melalui pemuliaan mutasi pada tingkat sel, dikombinasikan dengan seleksi in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Unit Pengelola Benih Unggul Pertanian (UPBUP), Bogor, mulai Januari sampai Desember 2017 dengan tujuan mengetahui konsentrasi dan lama perlakuan mutagen kimia kolkisin, yang dapat menghasilkan mutan tebu yang lolos seleksi kekeringan secara in vitro menggunakan agen penyeleksi polyethylen glycol (PEG). Penelitian terdiri dari 2 tahap. Tahap pertama adalah induksi mutasi pada kalus tebu menggunakan mutagen kimia kolkisin. Penelitian disusun secara faktorial dengan rancangan lingkungan Acak Lengkap. Faktor pertama varietas tebu (BL, PS 862, dan PSJT 941), faktor kedua konsentrasi kolkisin (0, 0,01, 0,03, dan 0,05%), dan faktor ketiga lama perlakuan kolkisin (1 dan 3 hari). Pengamatan dilakukan terhadap persentase kalus hidup. Tahap kedua adalah seleksi kekeringan secara in vitro menggunakan PEG 6000. Penelitian disusun secara faktorial dengan rancangan Acak Lengkap. Faktor pertama konsentrasi kolkisin (0; 0,01; 0,03; dan 0,05%), faktor kedua lama perlakuan kolkisin (1 dan 3 hari), dan faktor ketiga konsentrasi PEG (0; 10; dan 20%). Seleksi dilakukan selama 4 minggu. Persentase kalus hidup, kalus yang berregerenerasi, jumlah dan tinggi tunas, diamati sebagai kriteria kalus mutan lolos seleksi. Perlakuan kolkisin pada kisaran konsentrasi 0,01 – 0,05% selama 3 hari pada kalus PS 862 dan 0,01 – 0,03% selama 3 hari pada PSJT 941 dapat menginduksi kalus mutan yang lolos seleksi kekeringan in vitro pada tingkat konsentrasi PEG 10%. Seleksi mutan akan dilanjutkan secara in vivo. Perlakuan mutasi yang optimum untuk BL belum diperoleh.Kata kunci: mutagen kimia, kolkisin, mutasi, agen penyeleksi, PEG 6000

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue