cover
Contact Name
Moh. Shofan
Contact Email
jurnal@maarifinstitute.org
Phone
+6281316538753
Journal Mail Official
jurnal@maarifinstitute.org
Editorial Address
Jalan Tebet Barat Dalam 2 No 6, Tebet, Jakarta Selatan, 12810
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Maarif
Published by MAARIF Institute
ISSN : 19078161     EISSN : 27155781     DOI : https://doi.org/10.47651/mrf
Jurnal MAARIF diarahkan untuk menjadi corong bagi pelembagaan pemikiranpemikiran kritis Buya Ahmad Syafii Maarif dalam konteks keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Beberapa isu yang menjadi konsen jurnal ini adalah tentang kompatibilitas Islam dan demokrasi, hak asasi manusia, dan pluralisme. Isu-isu lain yang juga menjadi perhatian jurnal ini adalah soal kemiskinan, kekerasan atas nama agama, terorisme dan berbagai persoalan kebangsaan dan kemanusiaan yang mengemuka dalam kehidupan Indonesia kontemporer.
Articles 273 Documents
Komunikasi Politik Inklusif Muhammadiyah: Analisis Teks Pesan Komunikasi Muhammadiyah Pada Pemilihan Umum Serentak 2019 Neni Nur Hayati
MAARIF Vol 16 No 1 (2021): Muhammadiyah dan Moderasi Islam
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v16i1.138

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi komunikasi politik inklusif Muhammadiyah sebagai gerakan islam amar maruf nahi munkar dalam Pemilihan Umum Serentak Tahun 2019. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah analisis teks dalam pesan komunikasi politik Muhammadiyah. Pemilu yang pertama kali terselenggara di Indonesia, yang menyatukan Pemilihan Anggota Legislatif dengan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan secara bersamaan ini memiliki tantangan yang cukup kompleks dan berat. Keberadaan organisasi islam Muhammadiyah dinilai mempunyai peranan strategis dan signifikan dalam mewujudkan pemilihan yang berkualitas dan berintegritas. Muhammadiyah sebagai komunikator politik masyarakat telah merancang pesan komunikasi politik dalam bentuk retorika, propaganda dan fungsi komunikasi dengan efektif sehingga dapat mempersuasi publik, meminimalisir polarisasi dua kubu yang perpecah belah, mampu melawan hoax, memerangi politik uang, ujaran kebencian dan politik identitas, dengan menghadirkan narasi pencerahan sebagai alternatif isu.
NARASI INTERNET DAN KELUARGA UNTUK GENERASI PHI (π) DALAM KURIKULUM TULAR NALAR Dea Rezki Gerastri
MAARIF Vol 17 No 1 (2022): Digitalisasi, Era Tantangan Media (Nalar Kritis dan Penguatan Wawasan Global di
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v17i1.139

Abstract

Generasi phi (π) sebagai generasi Indonesia yang lahir pada 1989-2000 awal merupakan target pembelajaran yang sejalan dengan apa yang tertulis pada beranda website bahwa Tular Nalar akan menjadi teman terbaik untuk mendalami berbagai isu global terkini dengan konteks lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana narasi internet dan keluarga untuk generasi phidalam kurikulum Tular Nalar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis framing milik Gamson dan Modigliani lalu studi pustaka berdasarkan buku Generasi Phi (π) oleh Muhammad Faisal. Hasil penelitian menunjukan bahwa narasi internet dan keluarga untuk generasi phi dalam kurikulum Tular Nalar terdapat dalam video lalu kuis.
PENGALAMAN PENYINTAS COVID-19 DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN INFORMASI DI MEDIA DIGITAL Dionni Ditya Perdana; Anis Endang
MAARIF Vol 17 No 1 (2022): Digitalisasi, Era Tantangan Media (Nalar Kritis dan Penguatan Wawasan Global di
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v17i1.142

Abstract

Selama pandemi media digital menjadi salah satu alat yang digunakan masyarakat untuk menjawab keingintahuannya terhadap virus Covid-19. Dalam keadaan banjir informasi ini, khalayak memiliki kuasa untuk menentukan saluran dan pembahasan yang sesuai dengan kebutuhannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitaif dengan instrument kuesioner yang dilakukan secara daring kepada penyitas Covid-19 yang dipilih secara purposive sampling. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan responden dalam penelitian ini aktif mencari informasi tentang gejala penyakit, alternatif pengobatan, efek samping obat, upaya pencegahan penularan, dan prosedur isolasi mandiri. Dalam mencari sumber informasi, responden menjadikan kredibilitas media dan kemudahan akses sebagai kriteria utama dalam memilih media. Untuk itu, media digital merupakan media yang paling banyak digunakan penyintas Covid-19, terutama mesin pencarian, media resmi pemerintah, dan aplikasi percakapan. Hal ini perlu dilakukan supaya kesehatan mental penyintas terus terjaga. Beberapa upaya yang dilakukan penyintas dalam menjaga kesehatan mental adalah dengan selektif dalam memilih informasi, mengecek kebenaran informasi dan sumber data, serta mengaktifkan fitur spam.
Islam, Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Kaum Perempuan Moh. Shofan
MAARIF Vol 16 No 2 (2021): Islam, Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Kaum Perempuan
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v16i2.143

Abstract

Artikel-artikel dalam jurnal ini secara umum melihat secara kritis bagaimana Islam memandang perempuan, serta peran perempuan di ruang publik. Seiring perkembangnya zaman, kaum perempuan mempunyai pemikiran maju dan berkarya di tengah-tengah publik sesuai dengan kemampuan bidangnya untuk memperkuat eksistensi kaum perempuan, memperkuat kepemimpinan perempuan dan memperkuat organisasi-organisasi perempuan yang konsen pada isu gender. Demikian juga, meningkatkan keterwakilan perempuan dalam lembaga pengambil keputusan untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah, peraturan-peraturan dan kualitas layanan dasar, agar memenuhi kebutuhan perempuan secara lebih proporsional.
Kesetaraan Gender Perspektif Ahmad Syafii Maarif sebagai Upaya Mengkontekstualisasikan Ajaran Islam di Indonesia (Reintrepretasi atas QS. an-Nisa: 34) Muhammad Alwi HS
MAARIF Vol 16 No 2 (2021): Islam, Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Kaum Perempuan
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v16i2.144

Abstract

Artikel ini membahas tentang pandangan Ahmad Syafii Maarif mengenai peran perempuan dalam kehidupan sosial di Indonesia dengan basis QS. An- Nisa: 34, yang kemudian dikaitkan dengan diskursus kesetaraan gender yang masih polemik dalam kajian Islam. Tujuan artikel ini adalah mendialogkan pemikiran Ahmad Syafii Maarif, sebagai salah satu tokoh Islam kontemporer, dengan diskursus gender dalam mengkontekstualisasikan ajaran Islam di Indonesia. Dengan menghadirkan diskusi ini, maka akan terlihat bagaimana tokoh Islam dan negarawan, seperti Syafii Maarif, berupaya ‘membawa’ spirit Islam dari masa pewahyuannya di Arab hingga ke bumi Indonesia. Hal ini penting, agar diskusi teks agama tidak melulu berada ‘di atas langit’ atau bahkan berada di lingkungan Arab semata, tetapi mampu ‘membumi’ dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan demikian, Islam yang dikenal sebagai agama rahmatan lil alamin dapat dirasakan oleh umatnya di manapun berada, termasuk di Indonesia. Dalam hal ini termasuk ajarannya yang berkaitan dengan pengangkatan derajat perempuan, sebagai salah satu misi rahmat-nya.
HeForShe Campaigner pada 16 Minggu Gerakan Zakat Nasional untuk Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Yulianti Muthmainnah
MAARIF Vol 16 No 2 (2021): Islam, Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Kaum Perempuan
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v16i2.145

Abstract

Pelibatan laki-laki untuk penghapusan segala bentuk diskriminasi berbasis jenis kelamin ataupun kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam berbagai bentuk seperti fisik, psikis, ataupun seksual dalam segala aspek kehidupan perempuan dan anak, telah mencapai momentum melalui kampanye tingkat global-dunia yang bernama ‘HeForShe’. Meminjam gerakan HeForShe, Pusat Studi Islam, Perempuan dan Pembangunan (PSIPP) Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta melakukan ’16 Minggu Gerakan Zakat Nasional (16MGZN); Mulai dari Muzzaki Perempuan untuk Mustahik Perempuan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak’ yang dimulai 27 Agustus–Desember 2021. Program ini telah menemukan para laki-laki, juru kampanye HeForShe, yang atas kesadaran penuhnya sedia mendukung 16MGZN dengan berbagai bentuk. Kegiatan ini bagian dari penyebaran informasi, peningkatan kesadaran, pemahaman publik atau masyarakatkan untuk penghapusan kekerasan seksual melalui diskusi berseri atau seminar nasional. Data primer berasal dari statemen dukungan mereka ketika kegiatan berlangsung, jumlah pembelian buku atau berzakat/berdonasi. Data sekunder didapatkan dari liputan media. Hasilnya dalam kegiatan 16MGZN, lebih banyak laki-laki yang memberikan statemen dukungan lebih kuat termasuk jumlah pembelian buku lebih banyak daripada perempuan.
Zakat Sebagai Upaya Penghapusan Feminisasi Kemiskinan dan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan AD Kusumaningtyas
MAARIF Vol 16 No 2 (2021): Islam, Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Kaum Perempuan
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v16i2.146

Abstract

Kemiskinan acapkali berwajah perempuan. Situasi ini kita jumpai pada, maupun hadir dalam bentuk nyata dalam kehidupan di sekitar kita. Namun, acapkali perempuan diabaikan dan seringkali luput saat ada berbagai bantuan kemanusiaan. Salah satu solusi Islam terhadap pengentasan kemiskinan adalah melalui konsep Zakat, untuk diberikan pada mereka para mustahiq yang terbagi ke dalam 8 golongan (ashnaf). Perempuan korban kekerasan, baik KDRT maupun kekerasan seksual bisa dikategorikan setidaknya ke dalam 4 dari ashnaf tersebut. Yaitu: fakir, miskin, riqab, dan ibnu sabil. Zakat untuk mereka akan memperkuat posisi mereka sehingga bisa menjadi penyintas dan move on dengan melanjutkan hidup dengan berbagai kegiatan dan usaha ekonomi produktif lainnya.
Filantropi Kristiani, SDGS KE 17 & Filantropi Nasional untuk Korban Pelanggaran HAM & HAP Damairia Pakpahan
MAARIF Vol 16 No 2 (2021): Islam, Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Kaum Perempuan
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v16i2.147

Abstract

Salah satu yang penting diangkat adalah isu perempuan pembela HAM dan seringkali titik berangkatnya adalah korban (tidak berdaya, menderita kekerasan seksual) dan kemudian melawan menjadi korban saja menjadi penyintas yang memperjuangkan kasus yang menimpanya dan bertransformasi menjadi pembela (defender) atau perempuan pembela HAM (PPHAM) ketika membela orang dan kasus lain di luar dirinya dengan prinsip nir kekerasan dan memegang universalitas hak-hak asasi manusia. Ada banyak inspirasi dari Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama untuk berbagi bagi sesama terutama mereka yang lemah, miskin, kaum janda, pelacur, yang sakit badan maupun sakit mental dan anak-anak. Gerakan filantropi sudah harus bergeser ke arah isu yang spesifik, seperti perempuan dan korban pelanggaran HAM.
Seksualitas “Transgender” di Kongres Ulama’ Perempuan Indonesia (KUPI): Narasi Pengalaman Masthuriyah Sa’dan
MAARIF Vol 16 No 2 (2021): Islam, Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Kaum Perempuan
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v16i2.148

Abstract

Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) berhasil digelar di Indonesia, kongres ini menjadi momentum besar buat perempuan untuk berani tampil dihadapan publik. Dalam sejarah Islam, perempuan telah menjadi bagian dari setiap perkembangan peradaban Islam. Dalam konteks Islam Indonesia, eksistensi ulama perempuan Indonesia dalam sepanjang sejarah kehidupan masyarakat Indonesia adalah nyata adanya. Dalam sosial-politik, perempuan Indonesia telah menuliskan sejarah, seperti misalnya di Aceh yang telah dipimpin oleh empat orang Sulthanah selama era dua abad lamanya. Namun dalam Kongres yang digelar itu, tak satupun ada pembahasan isu seksualitas dan trasgender yang dijadikan sebagai topik pemabahasan. Sejatinya, wacana seksualitas untuk kelompok marginal dan kelompok minoritas seksual seperti transgender. Hal itu karena, kelompok transgender diakui atau tidak menjadi bagian dari komunitas seksual minoritas yang eksistensinya seringkali dianggap tidak ada.
Perkembangan Nasib Perempuan di Dunia Islam; Perbandingan Arab Saudi dan Afghanistan Mush’ab Muqoddas Eka Purnomo
MAARIF Vol 16 No 2 (2021): Islam, Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Kaum Perempuan
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v16i2.149

Abstract

Kaum perempuan selalu menjadi korban dari terorisme, juga radikalisme. Tidak sedikit kaum perempuan yang terlibat dengan aktifitas terorisme karena terpengaruh oleh suami dan keluarganya. Arab Saudi merupakan sebuah kerajaan dengan sistem monarki absolut yang serba paradoks. Pada satu sisi, Arab Saudi bersahabat dengan Amerika Serikat dan Negara Eropa untuk memusuhi Iran. Tetapi, dalam waktu yang bersamaan, Arab Saudi membiarkan pemahaman akidah dan ideologi salafi radikal menyebar di berbagai negara dengan ditopang oleh pendanaan yang melimpah dari hasil penjualan migas. Sementara nasib perempuan Afghanistan berubah drastis setelah Taliban menguasai Afghanistan. Secara resmi, Taliban menguasai Afghanistan setelah memasuki istana kepresidenan pada pertengahan Agustus 2021 dan di awal September 2021, seluruh pasukan Amerika Serikat dan NATO telah meninggalkan Afghanistan. Tidak lama setelah Taliban menguasai Afghanistan, ASN perempuan menggelar demonstrasi di depan istana kepresidenan, akan tetapi dibubarkan secara represif oleh Taliban. Perempuan Afghanistan kembali tidak diperkenankan menerima hak untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan. Dengan alasan keamanan, Taliban kemudian menekan kaum perempuan agar tetap di rumah.