cover
Contact Name
Fenny Sumardiani
Contact Email
jurnallitbang@gmail.com
Phone
+6285712816604
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian Jalan Salak No.22, Bogor 16151 E-mail : jurnallitbang@gmail.com Website : http://bpatp.litbang.pertanian.go.id
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : http://dx.doi.org/10.21082
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian pertanian pangan hortiikultura, perkebunan, peternakan, dan veteriner yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian dan atau ketentuan kebijakan, yang ditujukan kepada pengguna meliputi pengambil kebijakan, praktisi, akademisi, penyuluh, mahasiswa dan pengguna umum lainnya. Pembahasan dilakukan secara komprehensif serta bertujuan memberi informasi tentang perkembangan teknologi pertanian di Indonesia, pemanfaatan, permasalahan dan solusinya. Ruang lingkupnya bahasan meliputi bidang ilmu: pemuliaan, bioteknologi perbenihan, agronomi, ekofisiologi, hama dan penyakit, pascapanen, pengolahan hasil pertanian, alsitan, sosial ekonomi, sistem usaha tani, mikro biologi tanah, iklim, pengairan, kesuburan, pakan dan nutrisi ternak, integrasi tanaman-ternak, mikrobiologi hasil panen, konservasi lahan.
Articles 221 Documents
PROSPEK PENGEMBANGAN INTEGRASI SAWIT-SAPI DI KALIMANTAN SELATAN Suryana Suryana; Muhammad Yasin
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n1.2015.p9-18

Abstract

Luas perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Selatan pada tahun 2013 mencapai 343.749 ha, terdiri atas perkebunan rakyat 59.618 ha (15,95%), perkebunan besar negara 4.906 ha (1,38%), dan perkebunan besar swasta 279.015 ha (87,68%). Dari luas tersebut, terbuka peluang pengembangan ternak sapi potong secara terintegrasi dengan memanfaatkan hijauan berupa rumput dan legum penutup tanah, limbah kebun seperti pelepah sawit, dan limbah pengolahan crude palm oil (CPO) sebagai sumber pakan. Populasi sapi potong di Kalimantan Selatan pada tahun 2013 mencapai 135.900 ekor, dengan pola pemeliharaan secara tradisional dan semiintensif. Produktivitas sapi potong tergolong rendah, antara lain karena biaya pakan yang tinggi dan efisiensi reproduksi yang rendah. Perbaikan produktivitas sapi potong dapat dilakukan melalui pemeliharaan secara terintegrasi dengan perkebunan kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan pakan. Sementara kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai biogas dan pupuk organik/kompos untuk memperbaiki struktur dan tekstur tanah sehingga produktivitas kelapa sawit meningkat. Perbaikan manajemen pemeliharaan sapi potong yang meliputi pemilihan bibit, perkandangan, pemberian pakan yang berkualitas, sistem perkawinan, pemeliharaan pedet dan bakalan, pengendalian penyakit disertai penguatan kelembagaan kelompok tani/ternak atau gabungan kelompok tani/ternak (gapoknak) diharapkan mampu membantu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
TANTANGAN IMPLEMENTASI PEMBAYARAN JASA LINGKUNGAN UNTUK PENCEGAHAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN / The Challenges of Implementing Payment for Environmental Services to Prevent The Agricultural Land Conversion Tri Ratna Saridewi; Nazaruddin Nazaruddin
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 40, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v40n2.2021.p138-148

Abstract

Payments for environmental services mechanism is expected to strengthen decisions of agricultural landowners to maintain the existence of their agricultural land. This mechanism is expected to prevent the conversion of land that occurs due to its lower appreciation compared to other uses. This study is aimed to critically examine the challenges of implementing payments for environmental services in Indonesia and strategies to improve the implementation of payments for environmental services schemes to reduce agricultural land conversion. Ostrom’s Institutional Analysis and Development framework is used to examine the implementation of Payments for environmental services. The implementation was able to run well through the establishment of institutions that regulate constitutional rules. The collaboration between the Government (as the user of environmental service) and farmers (as the service provider) should be declared and fully understood before the scheme is implemented. Therefore, full participation of all related parties was crucial in achieving the program’s goals. Collective understanding of the need to prevent land conversion and the coordination of stakeholders needs to be carried out sustainably.Keywords: Land, conversion, environmental services, paymentAbstrakMekanisme pembayaran jasa lingkungan diharapkan dapat memperkuat keputusan pemilik lahan pertanian untuk mempertahankannya. Mekanisme tersebut diharapkan dapat mencegah konversi lahan yang terjadi akibat apresiasi terhadap lahan pertanian secara ekonomi lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan lainnya. Kajian ini bertujuan untuk menelaah secara kritis tantangan implementasi pembayaran jasa lingkungan di Indonesia dan strategi meningkatkan implementasi skema pembayaran jasa lingkungan untuk mengurangi konversi lahan pertanian. Kerangka Ostrom’s Institutional Analysis and Development digunakan untuk mengkaji implementasi pembayaran jasa lingkungan. Implementasi pembayaran jasa lingkungan dapat berjalan dengan baik melalui penetapan lembaga yang mengatur aturan konstitusional. Kontrak kerja sama antara pemerintah sebagai pengguna jasa lingkungan dengan petani sebagai penyedia jasa lingkungan harus disosialisasikan dan dipahami sebelum skema pembayaran jasa lingkungan dijalankan. Pelibatan partisipan secara penuh merupakan hal yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan program. Pemahaman bersama tentang perlunya pencegahan konversi lahan dan koordinasi seluruh pemangku kepentingan terkait secara berkelanjutan sangat diperlukan.Kata kunci: Lahan, konversi, jasa lingkungan, pembayaran
POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN USAHA TANI TERPADU BERBASIS KAWASAN DI LAHAN RAWA Suryana Suryana
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n2.2016.p57-68

Abstract

Ketersediaan lahan kering dan lahan sawah untuk pengembangan pertanian menurun signifikan antara lain karena alih fungsi lahan untuk keperluan nonpertanian. Di sisi lain, produksi komoditas pertanian perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat. Tulisan ini membahas potensi lahan rawa untuk pengembangan usaha tani terpadu secara berkelanjutan. Luas lahan rawa di Indonesia mencapai 34,93 juta ha. Di Kalimantan Selatan, luas lahan rawa tercacat 4.969.824 ha, terdiri atas lahan rawa pasang surut, lahan gambut, dan rawa lebak yang berpotensi untuk pengembangan pertanian terpadu berbasis kawasan. Per-masalahan dalam pemanfaatan lahan rawa adalah miskin hara, bersuasana anaerob, banyak yang bergambut tebal, berpirit dan bila dialihfungsikan akan mengeluarkan senyawa yang dapat meracuni tanaman (sulfida, besi fero, dan asam-asam organik), serta pH tanah rendah. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan rawa, dukungan teknologi dan sumber daya manusia diperlukan melalui konsep pemanfaatan berbasis kawasan, yang terdiri atas sentra pertanian dan kawasan pertanian. Kawasan pertanian dikembangkan ber-dasarkan kelompok komoditas, yaitu tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan, melalui pendekatan agroekosistem, sistem agribisnis terpadu dan terintegrasi, partisipatif, dan diversifikasi. Tahapan pengembangan meliputi inisiasi, penum-buhan, pengembangan, pemantapan, dan integrasi antarkawasan. Pemanfaatan lahan rawa untuk usaha tani terpadu sangat memungkinkan dengan teknologi pengapuran (amelorasi) dan pemupukan, pemilihan komoditas adaptif di lahan rawa, serta teknologi budi daya yang bersifat ramah lingkungan.
STRATEGI PEMBANGUNAN PETERNAKAN BERKELANJUTAN DENGAN MEMANFAATKAN SUMBER DAYA LOKAL Sjamsul Bahri; Bess Tiesnamurti
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v31n4.2012.p%p

Abstract

Penduduk Indonesia pada tahun 2012 sekitar 235 juta orang dan diperkirakan akan menjadi 273 juta orang pada tahun 2025. Meningkatnya jumlah penduduk akan diikuti oleh meningkatnya kebutuhan pangan, termasuk pangan hewani. Sementara itu, luas lahan/daratan sebagai basis untuk memproduksi pangan tidak bertambah, bahkan cenderung berkurang karena konversi, abrasi, dan terendam akibat meningkatnya permukaan air laut sebagai dampak dari  pemanasan global dan perubahan iklim, serta kualitas sumber daya alam yang makin menurun. Konsumsi protein hewani penduduk Indonesia  sangat rendah (sekitar 6 g/kapita/hari) dan diperkirakan akan meningkat tajam apabila pendapatan penduduk terus meningkat, yang diprediksi  mencapai US$13.000 pada tahun 2025 sesuai target MP3EI 2025. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah perlu menyiapkan strategi  pembangunan peternakan jangka menengah dan panjang secara berkelanjutan dengan memanfaatkan ketersediaan sumber daya lokal. Dalam hal ini, selain mengeksplorasi sumber daya genetik ternak yang efisien dalam penggunaan pakan, juga harus dapat memanfaatkan bahan pakan berupa produk samping tanaman maupun industri pertanian yang tidak bersaing dengan bahan pangan. Kebijakan ini harus didukungdengan inovasi teknologi yang telah dihasilkan maupun yang perlu dikembangkan. Peningkatan produktivitas dan produksi ternak secara berkelanjutan dengan pola seperti ini dapat menghemat sumber daya alam sekaligus menekan emisi gas rumah kaca dalam rangka  mewujudkan konsep green economy.
MEMBANGUN MOMENTUM BARU PEMBANGUNAN PEDESAAN DI INDONESIA Erizal Jamal
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v28n1.2009.p7 - 14

Abstract

Developing new momentum of rural development in IndonesiaMuch has happened in the new order era of the Indonesia rural development, including the achievement of a high level of rural economic growth and the development of physical infrastructure. At the same time, Indonesia still faces enormous rural development problems especially it has been far from equitably distributed opportunity among the people to participate in the rural development process itself. When we made some comparison with South Korea, in rural development with Saemaul Undong movement, there are two problems in Indonesia rural development which it related with the loss of the rural development momentum and lack of rural individual and community development. In the beginning of 1960’s, the Indonesia rural condition was relatively same with South Korea, poor infrastructure and massive poverty in rural area. The South Korea rural development based on the systematic human resources development and invested heavily in improving the infrastructure for agriculture production. The Korea government has to ease regulations related to farmland ownership, only farmers should be allowed to own farmland. Through these programs, the number of farmers in rural areas decline sharply and average household land ownership increase in the last twenty years. To accelerate the process of rural development in Indonesia, the government needs to establish a new momentum to capture and combine the spirit of individualities and active participation of the farmers as a part of rural community.
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS LAHAN SAWAH KERACUNAN BESI MELALUI TEKNIK IRIGASI, VARIETAS ADAPTIF, DAN PENGELOLAAN HARA TERPADU Syafruddin Syafruddin; Saidah Saidah
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 33, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v33n3.2014.p115-122

Abstract

Lahan sawah keracunan besi merupakan sumber daya potensial untuk mendukung pencapaian swasembada beras karena lahan tersedia cukup luas dan produktivitasnya masih rendah. Peningkatan produktivitas lahan dapat dilakukan dengan menerapkan inovasi teknologi spesifik lokasi. Sifat fisik dan kimia tanah dapat diperbaiki dengan menerapkan pengelolaan hara terpadu (kombinasi penggunaan pupuk organik dan anorganik) serta sistem irigasi untuk memperbaiki media dan volume perakaran, meningkatkan pertumbuhan tanaman, dan menekan ketersediaan hara mikro dan logam berat seperti besi. Penerapan teknik irigasi, varietas adaptif, dan pengelolaan hara secara terpadu pada lahan sawah keracunan besi dapat meningkatkan produktivitas lahan, memperbaiki efisiensi pemupukan dan penggunaan air, menciptakan sumber pertumbuhan baru produksi beras nasional, dan dapat menjadi model usaha tani ramah lingkungan dan berkelanjutan. Peningkatan hasil gabah pada lahan sawah keracunan besi melalui pengelolaan lahan secara terpadu berkisar antara 1,5-2,5 t/ha.
Potensi Pengembangan Produk Pati Tahan Cerna sebagai Pangan Fungsional Heny Herawati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v30n1.2011.p31-39

Abstract

Pati adalah karbohidrat yang merupakan polimer glukosa, terdiri atas amilosa dan amilopektin. Pemanfaatan patiasli masih sangat terbatas karena sifat fisik dan kimianya kurang memungkinkan untuk dimanfaatkan secara luas.Pati tahan cerna (resistant starch/RS) merupakan fraksi pati yang tahan terhadap hidrolisis oleh enzim pencernaanamilase serta perlakuan pulunase secara in vitro. RS merupakan produk pati termodifikasi dan terbagi menjadiempat tipe, yaitu RS1, RS2, RS3, dan RS4. Proses produksi RS bergantung pada tipe pati yang akan dihasilkan, yangmeliputi modifikasi fisik, kimia, dan biokimia. Masing-masing proses produksi tersebut akan memengaruhikarakteristik RS yang dihasilkan. RS memiliki nilai fungsional untuk fortifikasi serat, mengurangi kalori, danmengoksidasi lemak. Berdasarkan proses produksi, karakteristik, nilai fungsional, maupun alternatifpemanfaatannya, RS memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan sebagai produk pangan fungsional bagikesehatan.
Penggunaan Root Trainer untuk Meningkatkan Pertumbuhan Bibit Karet Andi Nur Cahyo; Jamin Saputra; Charlos Togi Stevanus; Sahuri .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n1.2016.p17-24

Abstract

Bibit karet dalam polibag memiliki kelemahan yaitu akar tunggangnya membentuk spiral mengikuti bentuk lingkaran dasar polibag. Hal ini akan merugikan tanaman karena akar tunggang yang melingkar menyebabkan kedalaman akar tunggang menjadi berkurang karena akar tidak langsung tumbuh ke bawah. Hal inimengakibatkan kemampuan tanaman dalam menyerap air dan hara menjadi berkurang dan tanaman menjadi rentan tumbang karena terpaan angin yang kuat di lapangan. Upaya untuk mengatasi kelemahan bibit karet dalam polibag adalah mengembangkan bibit karet dalam root trainer. Root trainer adalah pot untukmenumbuhkan bibit yang berasal dari biji (seedling), biasanya terbuat dari plastik, berbentuk silindris maupun kotak yang mengecil di bagian bawah, dilengkapi dengan lubang drainase di bagian bawah dan sekat vertikal di bagian dalam dinding dalam root trainer. Penggunaan root trainer memungkinkan akar tunggang mengarah ke bawah karena adanya sekat yang menonjol di bagian dinding roottrainer. Selain itu, penanaman bibit karet dapat ditunda apabila keadaan belum memungkinkan karena bibit dapat menjadi dorman selama proses penguatan (hardening). Untuk mendapatkan bibit karet dalam root trainer yang berkualitas, diperlukan formulasi media tanam, pemupukan, dan irigasi yang tepat. 
GEN KETAHANAN TANAMAN PADI TERHADAP BAKTERI HAWAR DAUN (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) Tasliah 1
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v31n3.2012.p%p

Abstract

Usaha tani padi dihadapkan pada berbagai kendala yang disebabkanoleh faktor biotik dan abiotik. Salah satunya adalah penyakit hawardaun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv.oryzae (Xoo). Penyakit ini menyerang tanaman padi sejak fase bibitsampai tanaman dewasa. Eksplorasi bakteri Xoo sudah sampai padatahap sekuensing total dari bakteri tersebut, dan dari sekuensingini telah dikembangkan primer-primer spesifik yang dapat menunjukkanXoo secara tepat. Deteksi bakteri secara cepat sangatmembantu dalam pemurnian awal bakteri Xoo yang diperoleh darilapangan. Pengetahuan tentang mekanisme virulensi bakteri Xoosangat membantu dalam membuat mekanisme pertahanan tanamansehingga rekayasa genetik (tanaman transgenik) di bidang ini sangatterbuka lebar. Gen-gen ketahanan pada padi telah diidentifikasi dantercatat ada 32 gen yang dikenal dengan gen Xa, dan sampai saatini sudah diidentifikasi sampai gen Xa34(t). Eksplorasi gen-gen barumasih terus berlangsung yang membuka peluang untuk memperolehgen ketahanan baru. Di Indonesia, telah dirakit dua varietas paditahan HDB yaitu Angke dan Conde yang masing-masing membawagen xa5 dan Xa7. Sejak tahun 1996 telah teridentifikasi 11 strainbakteri Xoo di sentra-sentra produksi padi di Indonesia, dandisimpulkan bahwa gen-gen ketahanan Xa yang efektif terhadapstrain tersebut adalah xa5, Xa7, dan Xa21. Piramiding ketiga genXa tersebut sangat diperlukan untuk mendapatkan varietas padiyang memiliki ketahanan yang lama (durable resistance) terhadapHDB.
KONSERVASI DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA GENETIK KACANG HIJAU Lukman Hakim
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v27n1.2008.p16-23

Abstract

Conservation and utilization of mungbean genetic resourcesCurrently 1,024 mungbean germplasm accessions consisted of 142 local and 833 introduced varieties, 32 promising lines, and 17 commercial varieties are being maintained in the National Genebank at Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development. The seeds of mungbean germplasm are preserved in two types of invironment. The active collections are maintained at 15–18 C as short-term storage, while the base collections are kept at -5 C as mid-term storage. A wide range of variability was observed for all the agronomic characters studied, especially for days to maturity, plant height, pods per plant, and seed size. Germplasm evaluation has identified several resistance sources. One accession ( V4281 ) was resistant to beanflies, three accessions were resistant to cercospora leaf spot, and six accessions were resistant to powdery mildew. The variation for protein content of germplasm was not very broad. Two accessions ( VR290 and VR194 ) had the highest protein content of 30%, respectively. Germplasm evaluation also obtained four accessions which had largest seed size and good seed quality. Utilization of mungbean genetic resources has made a significant contribution on mungbean breeding program. Several accessions had been officially released as new cultivars, and a number of accessions have been used as sources of resistance on hybridization program. Currently 19 commercial mungbean varieties have been officially released in the country. oKeywords: Mungbean, genetic resources, conservation, utilization