cover
Contact Name
Fenny Sumardiani
Contact Email
jurnallitbang@gmail.com
Phone
+6285712816604
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian Jalan Salak No.22, Bogor 16151 E-mail : jurnallitbang@gmail.com Website : http://bpatp.litbang.pertanian.go.id
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : http://dx.doi.org/10.21082
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian pertanian pangan hortiikultura, perkebunan, peternakan, dan veteriner yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian dan atau ketentuan kebijakan, yang ditujukan kepada pengguna meliputi pengambil kebijakan, praktisi, akademisi, penyuluh, mahasiswa dan pengguna umum lainnya. Pembahasan dilakukan secara komprehensif serta bertujuan memberi informasi tentang perkembangan teknologi pertanian di Indonesia, pemanfaatan, permasalahan dan solusinya. Ruang lingkupnya bahasan meliputi bidang ilmu: pemuliaan, bioteknologi perbenihan, agronomi, ekofisiologi, hama dan penyakit, pascapanen, pengolahan hasil pertanian, alsitan, sosial ekonomi, sistem usaha tani, mikro biologi tanah, iklim, pengairan, kesuburan, pakan dan nutrisi ternak, integrasi tanaman-ternak, mikrobiologi hasil panen, konservasi lahan.
Articles 221 Documents
PENERAPAN TEKNIK INVIGORASI DALAM MENINGKATKAN VIGOR BENIH PADI / Application of Invigoration Technique in Order to Improve Seed Widiastuti, Mira Landep; Wahyuni, Sri
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n2.2020.p96-104

Abstract

Seed is a component of production that contributes to increasing the national rice production. The use of low-quality seeds compared with production costs, non-uniform plant growth, yield reduction, and yield quality. One effort to improve the quality of seed vigor is through invigoration treatment. Invigoration technique among other hydration, thermal treatment, and coating. The hydration method is a water absorption system in seeds. Uncontrolled absorption (hydro-priming), by soaking and drying the seeds, hardening, on-farm priming, soaking for a certain period. The controlled system (osmo-priming) by immersing in osmotic solution, osmo-hardening (integration of hardening and osmo-priming), matri-priming with moist solid media, humidifications (with high humidity), and hormonal priming (with hormones. The second method is by temperature treatment, including by cooling and heating. The third technique is the coating treatment, namely coating the seeds. Hydration system hydro-priming for 30 hours can break seed dormancy with normal germination capacity of 91.3-99.3% in Memberamo, Cipunagara, and Maros varieties. The hardening technique is effective in increasing the germination of hybrid rice seeds for 12 hours with 2 cycles and for 24 hours with one cycle. The osmo-priming technique of soaking seeds in a 10 ppm GA3 solution or a mixture of 10 ppm GA3 + 15 ppm kinetin was effective in increasing the vigor of hybrid rice seeds. The matri-priming technique with rubbing ash as a medium plus the addition of 50 µ m GA3 was effective in breaking dormancy of the Membramo, Cipunagara, and Maros varieties of rice. It is can be applied, especially by small farmers.Keywords: Rice, seed, invigoration, quality AbstrakBenih merupakan komponen budi daya yang berkontribusi dalam meningkatkan produksi padi nasional. Penggunaan benih bermutu rendah berpengaruh terhadap penambahan biaya produksi, pertumbuhan tanaman tidak seragam, dan penurunan hasil dan mutu hasil. Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu benih dari aspek vigor yang rendah adalah melalui perlakuan invigorasi. Teknik invigorasi dibagi menjadi tiga metode, yaitu hidrasi, perlakuan suhu, dan pelapisan (coating). Metode hidrasi merupakan sistem penyerapan air yang dapat terjadi pada benih. Penyerapan tidak terkontrol (hydro-priming) yaitu dengan merendam dan mengeringkan benih, pengerasan (hardening), on-farm priming yaitu merendam dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan terkontrol (osmo-priming) dengan merendam pada larutan osmotik, osmo-hardening (integrasi hardening dan osmo-priming), matripriming dengan media padat lembab, humidifications (dengan kelembaban tinggi), dan hormonal priming (dengan hormon). Metode kedua adalah dengan perlakuan suhu, diantaranya dengan pendinginan dan pemanasan. Teknik ketiga adalah dengan perlakuan coating yaitu melapisi benih. Sistem hidrasi hydropriming selama 30 jam dapat mematahkan dormansi benih dengan daya kecambah normal 91,3-99,3% pada varietas Memberamo, Cipunagara, dan Maros. Teknik hardening efektif meningkatkan daya berkecambah benih padi hibrida selama 12 jam dengan dua siklus dan selama 24 jam dengan satu siklus. Teknik osmo-priming perendaman benih dalam larutan GA3 10 ppm atau larutan campuran GA3 10 ppm + kinetin 15 ppm efektif meningkatkan vigor benih padi hibrida. Teknik matri-priming dengan abu gosok sebagai media plus penambahan GA3 50 µm efektif mematahkan dormansi padi varietas Membramo, Cipunagara, dan Maros. Teknik invigorasi tersebut dapat diterapkan, khususnya oleh petani dengan skala produksi kecil.Kata kunci: Padi, benih, invigorasi, mutu
PERSPEKTIF PENINGKATAN DAYA SAING CENGKEH MALUKU DENGAN INDEKS KEBERLANJUTAN SISTEM AGRIBISNIS / Perspective of Increasing Maluku Clove’s Competitiveness with Sustainable Index of Agribusiness System Agung Budi Santoso
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v38n2.2019.p114-122

Abstract

Clove is one of the main commodity which known since the 16th century and it was the main reason why imperialist found Maluku as clove resources. In Maluku, clove change society as from era of sultanate, colonialism, and independence era. This paper reviews the clove competitiveness compared to other clove producing provinces in Indonesia after severalepoch, especially reform era. Agribusiness system approach was used to enumerate the competitiveness index in the ten largest clove producing province in Indonesia. Sustainability index was calculated with multidimensional scaling. Clove Maluku occupies high-middle group, means Maluku is one of largest clove producing with sustainability index is middle. The others province in the same group are North Sulawesi, Central Sulawesi, East Java, and West Java. South Sulawesi is the only one which occupies high-high group. Furthermore, the high-low group consist of Banten, Southeast Sulawesi, North Maluku, and Central Java. Clove competitiveness can increase with enlarging productive plant area and immature plant area, increase productivity and fertilizer distribution, and reduce damaged plant area.Keywords: Cloves, competitiveness, agribusiness system, sustainability index, multidimensional scaling  AbstrakCengkeh merupakan salah satu komoditas unggulan yang telah dikenal sejak abad 16 dan menjadi alasan utama mengapa kolonial menemukan Maluku sebagai asal tanaman tersebut. Cengkeh di Maluku mampu mengubah kondisi masyarakat sejak zaman kesultanan, era kolonial, dan era kemerdekaan. Tulisan ini mereview kembali posisi daya saing cengkeh di Maluku dibandingkan provinsi penghasil cengkeh lainnya di Indonesia setelah mengalami beberapa zaman khususnya era reformasi. Pendekatan sistem agribisnis digunakan untuk memberi nilai terhadap daya saing cengkeh di sepuluh provinsi penghasil cengkeh terbesar di Indonesia. Cengkeh di Maluku menempati kelompok tinggi–menengah, yakni kelompok produsen cengkeh tinggi dengan tingkat keberlanjutan sedang. Provinsi lainnya yang berada di kelompok yang sama adalah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Sulawesi Selatan sebagai satu-satunya provinsi yang berada di kelompok tinggi-tinggi. Sedangkan kelompok tinggi-rendah ditempati oleh Banten, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Jawa Tengah. Peningkatan daya saing cengkeh dapat dilakukan dengan cara meningkatkan luas tanaman menghasilkan, luas tanaman belum menghasilkan, meningkatkan produktivitas, peningkatan penyaluran pupuk, dan menekan luas tanaman rusak. Kata kunci: Cengkeh, daya saing, sistem agribisnis, indeks keberlanjutan, multidimensional scaling 
SISTEM PENDUKUNG PENGAMBILAN KEPUTUSAN HAMA TERPADU PADA TANAMAN PADI BE RPBEANSGIESNDALIAN TEKNOLOGI INFORMASI / Information Tecnology Based Decision Support System for Integrated Pest Management on Rice I Nyoman Widiarta
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 40, No 1 (2021): June, 2021
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v40n1.2021.p9-20

Abstract

Pest and disease are important biotic obstacles to increase rice yield and production in Indonesia since adoption of green revolution to increase rice yield. This is partly due to the irrational use of pesticides. This paper is a review on information technology (IT) based decision support system (DSSs) in line to the integrated pest management (IPM) implementation strategy for extensionists and farmers in the fields. IPM integrates compatible control techniques to manage pest populations below the economic injury level. IT based DSSs ultimately needed so that extension workers and farmers can quickly access sources of information about pests and diseases as well as prediction of development and control techniques to implement IPM. Web based DSSs to grow healthy rice plant, pest observation and monitoring, cyber extension to make famers an expert on IPM were available, except on how to identify and utilize natural enemies are still lacking. Indonesia need to develop more IT based DSSs which accessible on web as well as on smartphone and create enabling environment for improving IPM implementation on rice not only by officer but also gradually by farmers it self to control pests and diseases of rice which are still an obstacle in increasing production.Keywords: Rice, pest, diseases, integrated pest management, information technology AbstrakSejak inovasi revolusi hijau diintroduksikan di Indonesia, hama dan penyakit tanaman semakin berkembang sehingga menghambat upaya peningkatan produktivitas dan produksi padi. Hal ini antara lain disebabkan oleh penggunaan pestisida yang tidak rasional. Tulisan ini mengulas kesiapan sistem pendukung pengambilan keputusan (SPPK) berbasis teknologi informasi (TI) dalam pengendalian hama terpadu (PHT) oleh penyuluh maupun petani di lapangan. PHT mengintegrasikan berbagai teknik pengendalian hama dan penyakit agar tetap berada di bawah ambang ekonomi. TI diperlukan agar penyuluh dan petani dapat dengan cepat mengakses sumber informasi tentang jenis hama dan penyakit tanaman serta perkiraan perkembangan dan teknik pengendalian untuk penerapan PHT. SPPK berbasis TI yang bertujuan menjadikan tanaman tumbuh sehat, pengamatan dan monitoring perkembangan hama dan penyakit, serta penyuluhan berbasis web sudah tersedia, kecuali identifikasi dan cara pemanfaatan musuh alami. Oleh karena itu perlu dikembangkan SPPK berbasis TI yang dapat diakses melalui web maupun telepon pintar dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan untuk meningkatkan implementasi PHT tidak hanya oleh petugas tetapi juga petani secara bertahap dalam upaya mengendalikan hama dan penyakit padi yang masih menjadi kendala dalam peningkatan produksi.Kata kunci: Padi, hama, penyakit, pengendalian hama terpadu, teknologi informasi
CLIMATE RISK MANAGEMENT FOR SUSTAINABLE AGRICULTURE IN INDONESIA: A REVIEW / Pengelolaan Resiko Iklim untuk Pertanian Berkelanjutan di Indonesia: Sebuah Tinjauan Elza Surmaini; Fahmuddin Agus
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p48-60

Abstract

Climate-change related hazards, including drought, floods, extreme temperatures, and sea-water level rise have impacted Indonesia’s agriculture and these associated with economic losses. Therefore, it is increasingly important for farmers to be able to proactively anticipate the impact of weather and climate risks to protect their livelihoods through climate risk management (CRM) and to practice the sustainable agricultural production systems. Sustainable agriculture practices are needed to enhance resilience to adverse climate change events. This paper attempts to provide a review of agricultural risks related to climate change, principles and current CRM practices, and CRM practices at farm level based on agroecosystems, as well as approaches in enhancing agriculture CRM for sustainable agriculture development. The key technologies for lowland rice farming include alternate wetting and drying irrigation systems, and the use of drought, saline, and submergence tolerant rice varieties. For upland farming, water storage facilities such as water retardation pond, long storage, and channel reservoir are important. Subsequently, efficient water distribution systems such as drip irrigation, sprinkler irrigation, as well as capillary irrigation need enhancement. Various soil management technologies including minimum tillage and organic matter application are essential. For swampland one-way water management and conservation blocks, the “surjan” system, planting of adaptive varieties, and soil amelioration and fertilization are among the key treatments. Accurate climate forecasts may allow decision makers and farmers to make decisions to reduce negative impacts or take advantage of expected favorable climate. Finally, engagement of various actors, and capacity building is an integral part of CRM.Keywords: Climate, management, agriculture, sustainable, agroecosystem. AbstrakBencana iklim seperti kekeringan, banjir, suhu ekstrem dan kenaikan muka air laut berdampak negatif terhadap pertanian dan menimbulkan kerugian ekonomi. Oleh karena itu menjadi semakin penting bagi petani untuk proaktif mengantisipasi dampak risiko cuaca dan iklim untuk melindungi kehidupan mereka melalui pengelolaan risiko iklim dan menerapkan sistem produksi pertanian berkelanjutan. Praktik budi daya pertanian berkelanjutan memerlukan upaya peningkatan ketangguhan tanaman terhadap dampak kejadian iklim ekstrem. Tulisan ini merupakan tinjauan risiko pertanian terhadap perubahan iklim, prinsip dan praktik pengelolaan risiko iklim, dan praktik pengelolaan risiko iklim di tingkat petani berdasarkan agroekosistem, serta pendekatan untuk mendorong praktik pengelolaan risiko iklim untuk pertanian berkelanjutan. Teknologi utama untuk pertanian padi sawah termasuk pengairan berselang dan penggunaan varietas toleran kekeringan, salinitas, dan rendaman. Untuk pertanian lahan kering diperlukan bangunan pemanen air seperti embung, long storage, dan dam parit untuk pengairan tanaman. Selain itu, sistem distribusi air yang efisien seperti irigasi tetes, irigasi sprinkler, dan irigasi kapiler juga diperperlukan. Berbagai teknologi pengelolaan tanah termasuk pengolahan tanah minimum dan penggunaan bahan organik sangat penting. Pada lahan rawa pasang surut, pengelolaan air satu arah dan blok penyimpan air, sistem surjan, penanaman varietas adaptif, dan penggunaan amelioran dan pemupukan merupakan perlakuan utama. Prediksi iklim yang akurat dapat digunakan pengambil kebijakan dan petani dalam mengambil keputusan untuk mengurangi dampak negatif atau memanfaatkan kondisi iklim. Pelibatan berbagai aktor dan peningkatan kapasitas merupakan bagian integral dari pengelolaan risiko iklim.Kata kunci: Iklim, pengelolaan, pertanian, berkelanjutan, agroekosistem.
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DAN STRATEGI ADAPTASI TANAMAN BUAH DAN SAYURAN DI DAERAH TROPIS / Climate Change Impact and Adaptation Srategy for Vegetable and Fruit Crops in the Tropic Region Yeli Sarvina
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v38n2.2019.p65-76

Abstract

Climate change has significant negative impact on agriculture in tropical region. Inrecent years, research on climate change has focused mainly on food crops while horticultural crops have received little attention. This paper is an overview of Indonesian future climate projection for precipitation, temperature and extreme climate, climate change impact and adaptation strategies on vegetable and fruit crops and future challenge for horticultural development under climate change. The climate change will decrease crop productivity and quality, increase the incidence of new pest and disease, and the outbreaks on vegetable and fruit crops. Further climate change will disrupt water availability, alter climate-crop suitability and cause crop failure due to extreme climate. Several adaptation measures have been developed in farming system, among other adjustment of planting time, using resistant varieties to environmental strees, adopting irrigation technology for efficient water use, using green house and increasing farmers and extention service capacity through climate field school. For future research it is necessary to assess climate projections with several scenarios and Global Circular Models (GCMs) and their impact on future vegetable and fruits crops by developing crop modeling which should be given a priority of in agriculture. This information crucially needed for adaptation strategy and a long term agricultural planning in the future.Keywords: Vegetable, fruit, climate change, global circular model, adaptation  AbstrakPerubahan iklim berdampak negatif terhadap pertanian di daerah tropis. Selama ini penelitian dampak perubahan iklim terhadap pertanian lebih banyak dilakukan pada tanaman pangan, sementara pada tanaman hortikultura, khususnya sayuran dan buah-buahan masih terbatas. Tulisan ini merupakan tinjauan tentang proyeksi dampak perubahan iklim di Indonesia yang meliputi curah hujan, suhu udara, dan iklim ekstrim terhadap produksi tanaman buah dan sayuran, di samping berbagai upaya adaptasi yang telah dilakukan dan tantangan pembangunan hortikultura ke depan. Perubahan iklim pada tanaman sayuran dan buah-buahan terbukti menurunkan kuantitas dan kualitas produksi, munculnya hama penyakit baru, meningkatnya serangan hama dan penyakit, gagal panen, penurunan kapasitas air irigasi, perubahan kesesuian lahan dan tanaman. Beberapa langkah adaptasi yang sudah dilakukan yaitu penyesuaian sistem usaha tani yang meliputi penggunaan varietas toleran cekaman lingkungan, penyesuian waktu tanam, penggunaan teknik irigasi hemat air, pengembangan teknologi pencarian sumber daya air baru, penggunaan rumah kasa/rumah plastik, peningkatan kemampuan petani dan penyuluh dalam memahami perubahan iklim melalui sekolah lapang. Ke depan masih perlu dilakukan kajian proyeksi iklim dengan berbagai skenario dan berbagai Global circular model (GCM) serta kajian dampak perubahan iklim terhadap tanaman sayur dan buah unggulan melalui pengembangan pemodelan sistem usaha tani. Informasi proyeksi dampak perubahan iklim diperlukan sebagai upaya adaptasi dan perencanaan pembangunan pertanian yang dikaitkan dengan perubahan iklim.Kata kunci: Buah-buahan, sayuran, perubahan iklim, global circular model, adaptasi 
KEMITRAAN KOPERASI DENGAN PERUSAHAAN SUSU BERDASARKAN CODEX ALIMENTARIUS DALAM MEWUJUDKAN KEDAULATAN PANGAN DI INDONESIA / Cooperative Partnership with Milk Companies Based on Codex Alimentarius in Realizing Food Sovereignty in Indonesia Nining I Soesilo
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 40, No 1 (2021): June, 2021
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v40n1.2021.p71-87

Abstract

Government of Indonesia has allocated food sovereignty’s budget through the 2016 state budget (APBN) which places the cooperation of Ministry of Cooperatives and SME’s with Ministry of Agriculture, when developing the farmer cooperatives’ corporatization. Global food sovereignty is contested by: (1) civil society in which one of the actors is cooperatives, (2) the government which is part of the Food and Agriculture Organization of the United Nations (UN FAO), and (3) the global private sector which is part of the World Trade Organization (WTO).This paper analyzes Karya Nugraha Jaya Multipurpose Cooperative in Kuningan (KSU KNJ)’s partnership which supplies 90% of good quality raw milk from its members to PT Ultra Jaya Milk (54%) and Diamond Milk (36%), two business actors who has implemented the WTO’s and FAO’s Codex Alimentarius for the sake of fulfilling food safety standards for worldwide food trade. These international institutions forced to revoke the word ‘mandatory’ and the article on ‘sanctions’ from Indonesia’s Ministry of Agriculture’s regulation if business actors do not enter into partnerships with farmers & cooperatives. This study shows that KSU KNJ, which is one of 9,703 Indonesian agricultural cooperatives, is an aggregator of the milk produced by its members. A strategy is needed to increase the partnership of dairy cooperatives with private companies. The possible seven strategies are: (1) Wait and see first group; (2) Driving group; (3) Chain integration group, (4) Cooperation specialist group; (5) Free specialist group; (6) Diversification cooperation group; and (7) Free cooperation group.Keywords: Food sovereignty, codex alimentarius, dairy, cooperatives, partnership AbstrakPada tahun 2016 Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan anggaran kedaulatan pangan melalui APBN yang memposisikan Kemenkop UKM harus bekerjasama dengan Kementerian Pertanian dalam mengembangkan korporatisasi koperasi petani. Kedaulatan pangan telah menjadi isu global karena diperebutkan oleh tiga aktor: (1) Masyarakat sipil yang mana salah satu aktornya adalah koperasi, (2) Pemerintah yang tergabung pada Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (UN FAO), dan (3) Swasta global yang tergabung dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Tulisan ini menelaah dan menganalisis kemitraan pada Koperasi Serba Usaha Karya Nugraha Jaya (KSU KNJ) di Kuningan yang memasok 90% susu segar berkualitas dari para anggotanya ke PT Ultra Jaya Milk (54%) dan Diamond Milk (36%), dua pelaku usaha yang sudah menerapkan Codex Alimentarius versi WTO dan FAO demi memenuhi standar keamanan pangan untuk perdagangan dunia. Institusi internasional ini menjadi salah satu acuan bagi Indonesia dalam membuat Peraturan Menteri Pertanian No 33 tahun 2018 yang mencabut kata ‘wajib’ dan pasal ‘sanksi’ jika pelaku usaha tidak melakukan kemitraan dalam dua aturan sebelumnya. Hasil telaah dan analisis menunjukan KSU KNJ yang merupakan salah satu dari 9.703 koperasi pertanian Indonesia telah berperan sebagai agregator produksi susu anggotanya. Diperlukan strategi guna meningkatkan kemitraan koperasi susu dengan perusahaan swasta. Terdapat tujuh strategi tersebut mencakup: (1) Kelompok menunggu dan lihat-lihat dahulu; (2) Kelompok penggerak; (3) Kelompok pengintegrasi rantai, (4) Kelompok spesialis kerja sama; (5) Kelompok spesialis bebas; (6) Kelompok kerja sama diversifikasi; dan (7) Kelompok kerja sama bebas.Kata kunci: Kedaulatan pangan, codex alimentarius, susu, koperasi, kemitraan
PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI (P.cichorii) (Swingle 1925) (STAPP 1928) PADA TANAMAN KRISAN (D.grandiflora Tzvelev) DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI INDONESIA/Bacterial Leaf Blight Disease (Swingle 1925) (STAPP 1928) in Chrysanthemum and Its Control in Indonesia Hanudin Hanudin; Lia Sanjaya; Budi Marwoto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n2.2020.p105-116

Abstract

Bacterial leaf blight caused by Pseudomonas cichorii is a major disease in chrysanthemum plants almost all over the world. In Indonesia, this pathogen can cause damage to chrysanthemum 10- 60%. Bacteria spread from one plant to another through water droplets from modern irrigation networks as well as conventional irrigation. P. cichorii is a polyphagic pathogen, which infects succulents and others across continents with varying incidence. Symptoms of transmission of this pathogen in each type of plant are always different, and effective control methods have not been found. This article discusses the virulence of pathogens, the incidence of transmission, and recommendations for controlling bacterial leaf blight on chrysanthemums in Indonesia. A search of various references from within and outside the country shows that P. cichorii can be controlled by combining several methods, namely (a) the use of tolerant varieties (Puspita Nusantara, Puspa Kania, Dwina Kencana, Dwina Pelangi, Pasopati, Paras Ratu, and Wastu Kania), (b) technical culture (extracting infected leaves and watering in the morning), and (c) application of synthetic chemical bactericides with active ingredients of hydrogen peroxide and peroxyacetic acid, or biopesticides with active bacterial isolates of the antagonistic bacteria Bacillus subtilis MI600, and B. amyloliquefaciens IN937, and combination of P. fluorescens Pf Irana with Pf Slada-2.Keywords: Chrysanthemum, P. chicorii, bacterial leaf blight disease, epidemiology, control AbstrakHawar daun bakteri yang disebabkan oleh Pseudomonas cichorii merupakan penyakit utama pada tanaman krisan hampir di seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, patogen ini dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman krisan 10-60%. Bakteri menyebar dari satu tanaman ke tanaman lain melalui tetesan air dari jaringan irigasi modern maupun penyiraman konvensional. P. cichorii merupakan patogen yang bersifat polifag, yang menginfeksi tanaman sukulen dan lainnya di seluruh benua dengan insidensi bervariasi. Gejala penularan patogen ini pada setiap jenis tanaman selalu berbeda, dan belum ditemukan metode pengendalian yang efektif. Artikel ini membahas virulenitas patogen, insidensi penularan, dan rekomendasi pengendalian hawar daun bakteri pada tanaman krisan di Indonesia. Penelusuran dari berbagai referensi dari dalam dan luar negeri menunjukkan P. cichorii dapat dikendalikan dengan memadukan beberapa metode, yaitu (a) penggunaan varietas toleran (Puspita Nusantara, Puspa Kania, Dwina Kencana, Dwina Pelangi, Pasopati, Paras Ratu, dan Wastu Kania), (b) kultur teknis (perompesan daun terinfeksi dan penyiraman pada pagi hari), serta (c) aplikasi bakterisida kimia sintetik berbahan aktif hydrogen peroxide dan peroxyacetic acid, atau biopestisida berbahan aktif isolat bakteri antagonis Bacillus subtilis MI600, dan B. amyloliquefaciens IN937, serta kombinasi P. fluorescens Pf Irana dengan Pf Slada-2.Kata kunci: Krisan, P. chicorii, bakteri hawar daun, epidemiologi, pengendalian.
DETERMINAN ADOPSI TEKNOLOGI PERTANIAN OLEH PETANI KECIL DI NEGARA BERKEMBANG: PERSPEKTIF DAN PROSPEK UNTUK INDONESIA / Determinants of Agricultural Technology Adoption by Smallholder Farmers in Developing Countries: Perspective and Prospect for Indonesia Suprehatin Suprehatin
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 40, No 1 (2021): June, 2021
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v40n1.2021.p21-30

Abstract

The role of agricultural technology is important in developing countries. However, in many cases the adoption rate of modern agricultural technology by smallholder farmers is low. Therefore, a better understanding of agricultural technology adoption determinants is important as a major component of agricultural growth. This paper is a review and synthesize of the literature related to potential factors that may constrain or encourage smallholder farmer adoption of new agricultural technologies. The determinant factors influencing smallholder farmer adoption of new technologies in developing countries vary from study to study based on contextual applicability and specific local condition. There are four major typologies of determinant factors are identified to help explain low adoption rates of particular agricultural technology in developing countries which are technology attributes, farmer or farm household characteristics, farm characteristics and institutional factors. Future policy recommendations on adoption decision should consider all those four important factors to provide better understanding of new agricultural technology adoption by smallholder farmers, resulting in improved livelihoods for smallholders.Keywords: Agricultural, technology, adoption, farmer AbstrakPeran teknologi pertanian sangat penting di negara berkembang. Meskipun demikian, tingkat adopsi teknologi pertanian baru oleh petani kecil masih rendah. Oleh karena itu, pemahaman terhadap faktor-faktor yang menentukan keputusan petani dalam mengadopsi teknologi sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian. Tulisan ini adalah hasil sintesis terhadap beberapa literatur ilmiah yang berkaitan dengan faktor penghambat atau pendorong petani kecil dalam mengadopsi teknologi pertanian. Faktor yang memengaruhi petani kecil mengadopsi teknologi pertanian di negara berkembang berbeda antarstudi berdasarkan kebutuhan dan kondisi lokal tertentu. Empat kelompok utama faktor penentu yang dapat menjelaskan rendahnya adopsi teknologi di negara berkembang yaitu atribut teknologi, karakteristik petani, usaha tani, dan faktor kelembagaan. Rekomendasi kebijakan terkait keputusan adopsi teknologi seharusnya mempertimbangkan keempat kelompok faktor tersebut untuk dapat memahami lebih baik adopsi teknologi baru oleh petani kecil guna meningkatkan kesejahteraannya.Kata kunci: Pertanian, teknologi, adopsi, petani
IMPLEMENTASI PERTANIAN CERDAS IKLIM UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TEBU DI INDONESIA / Implementation of Climate-Smart Agriculture to Boost Sugarcane Productivity in Indonesia Rivandi Pranandita Putra; Nindya Arini; Muhammad Rasyid Ridla Ranomahera
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 40, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v40n2.2021.p89-102

Abstract

Sugar is one of Indonesia’s strategic commodities, but its production fluctuates over time and is still unable to comply with the national sugar demand. This condition may even get worst with climate change. Although climate-smart agriculture is a promising thing, it is basically a genuine concept for many farmers in Indonesia, including sugarcane growers. The paper briefly reviews and argues agronomic practices as a climate-smart agriculture approach adapted by sugarcane growers in Indonesia to increase its production under the changing climate. Some agronomic practices can be adopted by the Indonesian sugarcane growers as climate-smart agriculture, i.e., efficient irrigation, improved drainage of sugarcane plantations, the use of suitable sugarcane cultivars, green cane harvesting-trash blanketing, the amendment of soil organic matter, crop diversification, precision agriculture, and integrated pest management. From the Indonesian government’s side, research should be propped as there is limited information about the effectiveness of each aforementioned agronomic intervention to alleviating the adverse effect of climate change and to improving sugarcane growth. Practically, to ensure the success of climate-smart agriculture implementation in the Indonesian sugar industry, multistakeholders, i.e., sugarcane growers, researchers, civil society, and policymakers, should be involved, and the government needs to link these stakeholders.Keywords: Sugarcane, productivity, climate-smart agriculture, agronomic management, precision agriculture AbstrakGula merupakan salah satu komoditas strategis Indonesia, namun produksinya mengalami fluktuasi dan belum dapat memenuhi kebutuhan gula nasional. Kondisi ini diperburuk oleh perubahan iklim. Pertanian cerdas iklim memberikan peluang besar bagi tanaman tebu untuk dapat beradaptasi dan memitigasi dampak perubahan iklim. Meskipun pertanian cerdas iklim menjanjikan, namun merupakan hal baru bagi banyak petani di Indonesia, termasuk petani tebu. Tulisan ini menelaah dan mengemukakan praktek agronomi sebagai pendekatan pertanian cerdas iklim yang dapat diterapkan petani tebu di Indonesia dengan tujuan meningkatkan produksi tebu di bawah kondisi perubahan iklim. Terdapat beberapa praktik agronomis sebagai bagian dari pertanian cerdas iklim yang dapat diadopsi petani tebu di Indonesia, seperti efisiensi irigasi, perbaikan sistem drainase, pemilihan kultivar tebu yang sesuai, pemanfaatan residu serasah tebu, peningkatan bahan organik tanah, diversifikasi tanaman, pertanian presisi, dan pengelolaan hama terpadu. Dari perspektif pemerintah Indonesia, penelitian harus didukung karena terbatasnya informasi efektivitas masing-masing intervensi agronomi tersebut untuk mengurangi dampak buruk perubahan iklim dan untuk meningkatkan pertumbuhan tebu. Secara praktis, untuk memastikan keberhasilan penerapan pertanian cerdas iklim pada industri gula Indonesia, multi-stakeholder yang terdiri atas petani tebu, peneliti, masyarakat sipil, dan pembuat kebijakan harus saling terlibat dan pemerintah perlu menghubungkan para pemangku kepentingan ini.Kata kunci: Tebu, produktivitas, pertanian cerdas iklim, manajemen agronomis, pertanian presisi
VIRGIN COCONUT OIL (VCO): PEMBUATAN, KEUNGGULAN, PEMASARAN DAN POTENSI PEMANFAATAN PADA BERBAGAI PRODUK PANGAN / Virgin Coconut Oil (VCO): Production, Advantages, and Potential Utilization in Various Food Products Ervina Mela; Dhenadya Savira Bintang
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 40, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v40n2.2021.p103-110

Abstract

Virgin Coconut Oil (VCO) is coconut oil that is processed in a simple way without involving synthetic chemicals. Production methods that are commonly carried out on a household scale or micro, small and medium enterprises (MSMEs) include the methods of induced, salting, centrifugation, and fermentation. This process causes the lauric acid content of VCO to be the highest compared to the other 2 oils, which is 53.70-54.06 %, while ordinary coconut oil is 2.81% and palm oil is 0.45%. The high content of lauric acid makes VCO beneficial for health, including increasing endurance and accelerating the healing process of disease. In national and global and markets, until the 1990s VCO developed very slowly. But in 2020 the VCO market began to grow because people use this product as an antivirus against Covid-19. This paper explores the advantages, manufacturing technology, and trade of local and global VCO. Research results that apply VCO to food products and VCO-based food products that have the potential to be developed on the MSME scale are presented. Based on market potential, technology, and business capital, the most potential VCO-based product to be developed is chocolate bar.Keywords: Virgin coconut oil, trade, food products AbstrakVirgin Coconut Oil (VCO) adalah minyak kelapa yang diproses dengan cara sederhana tanpa melibatkan zat-zat kimia sintetis. Metode produksi yang umum dilakukan pada skala rumah tangga atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) meliputi metode pancingan, penggaraman, sentrifugasi, dan fermentasi. Proses ini menyebabkan kandungan asam laurat VCO menjadi yang tertinggi dibanding 2 minyak lainnya, yaitu sebesar 53.70-54.06 %, sementara minyak kelapa biasa sebesar 2.81 % dan minyak sawit sebesar 0.45%. Tingginya kandungan asam laurat menjadikan VCO bermanfaaat untuk kesehatan, diantaranya meningkatkan daya tahan tubuh dan mempercepat proses penyembuhan penyakit. Pada pasar lokal dan global, hingga tahun 1990-an VCO berkembang sangat lambat. Namun pada tahun 2020 pasar VCO mulai menggeliat karena masyarakat menggunakan produk ini sebagai antivirus melawan Covid-19. Naskah ini menggali keunggulan, teknologi pembuatan, dan perdagangan VCO lokal dan global. Selain itu juga ditampilkan hasil-hasil penelitian yang mengaplikasikan VCO pada produk pangan dan dilengkapi dengan produk-produk pangan berbasis VCO yang berpotensi dikembangkan pada skala UMKM. Berdasarkan potensi pasar, teknologi, dan modal usaha maka produk berbasis VCO yang paling potensial dikembangkan ialah cokelat batang.Kata kunci: Virgin coconut oil, pemasaran, produk pangan