cover
Contact Name
Fenny Sumardiani
Contact Email
jurnallitbang@gmail.com
Phone
+6285712816604
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian Jalan Salak No.22, Bogor 16151 E-mail : jurnallitbang@gmail.com Website : http://bpatp.litbang.pertanian.go.id
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : http://dx.doi.org/10.21082
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian pertanian pangan hortiikultura, perkebunan, peternakan, dan veteriner yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian dan atau ketentuan kebijakan, yang ditujukan kepada pengguna meliputi pengambil kebijakan, praktisi, akademisi, penyuluh, mahasiswa dan pengguna umum lainnya. Pembahasan dilakukan secara komprehensif serta bertujuan memberi informasi tentang perkembangan teknologi pertanian di Indonesia, pemanfaatan, permasalahan dan solusinya. Ruang lingkupnya bahasan meliputi bidang ilmu: pemuliaan, bioteknologi perbenihan, agronomi, ekofisiologi, hama dan penyakit, pascapanen, pengolahan hasil pertanian, alsitan, sosial ekonomi, sistem usaha tani, mikro biologi tanah, iklim, pengairan, kesuburan, pakan dan nutrisi ternak, integrasi tanaman-ternak, mikrobiologi hasil panen, konservasi lahan.
Articles 221 Documents
PENGOLAHAN DAN PELUANG PENGEMBANGAN PRODUK PANGAN BERBASIS MINYAK SAWIT DI INDONESIA / Processing and Palm Oil-Based Food Product Development Opportunities In Indonesia Hasibuan, Hasrul Abdi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 40, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v40n2.2021.p111-124

Abstract

Palm oil is produced from the mesocarp part of the oil palm fruit (Elaeis guineensis Jacq.), contains balanced saturated fatty acids (47.8-55.2%) and unsaturated fatty acids (43.1-53.8%), and is semi-solid at room temperature with a melting point of 33.0-39.0 °C. About 80%, palm oil is applied to food products. In food products, palm oil needs to be purified through a refining process to remove free fatty acids, water, and impurities. Palm oil can be fractionated based on differences in melting points to produce palm olein fraction and palm stearin fraction with yields of about 70- 80% and 20-30%, respectively. Food products produced from palm oil and its fractions include cooking oil, vanaspati, shortening, margarine, cocoa butter equivalent, and human milk fat substitute. These food products are produced by modifying the physicochemical characteristics of palm oil and its fractions through blending, hydrogenation, and interesterification processes. The challenge for the palm oil industry in the future is to produce products that are low in contaminants such as 3- monochloropropane-1,2-diol and glycidyl esters, trans-fat free, and products that have high functional and nutritional value, such as structured lipids. Improving the quality and developing diversification of palm oil-based food products will encourage the sustainability of the palm oil industry in Indonesia.Keywords: Palm oil, processing, palm oil, food product AbstrakMinyak sawit dihasilkan dari bagian mesokarp buah tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), mengandung asam lemak jenuh (47,8-55,2%) dan asam lemak tak jenuh (43.1-53,8%) seimbang, dan berbentuk semi padat pada suhu ruang dengan titik leleh sebesar 33,0-39,0°C. Sekitar 80%, minyak sawit diaplikasikan untuk produk pangan. Pada produk pangan, minyak sawit perlu dimurnikan melalui proses rafinasi untuk menghilangkan asam lemak bebas, air dan kotoran. Minyak sawit dapat difraksinasi berdasarkan perbedaan titik leleh untuk menghasilkan fraksi olein sawit dan fraksi stearin sawit dengan rendemen masing-masing sekitar 70- 80% dan 20-30%. Produk pangan yang dapat dihasilkan dari minyak sawit dan fraksi-fraksinya meliputi minyak goreng, vanaspati, shortening, margarin, cocoa butter equivalent dan human milk fat substitute. Produk-produk pangan tersebut dihasilkan dengan memodifikasi karakteristik sifat fisikokimia minyak sawit dan fraksi-fraksinya melalui proses pencampuran (blending), hidrogenasi, dan interesterifikasi. Tantangan industri minyak sawit ke depan adalah menghasilkan produk rendah kontaminan seperti 3-monokloropropana-1,2-diol dan glisidil ester, bebas lemak trans, dan produk yang memiliki nilai fungsional dan nutrisi tinggi seperti lipida terstruktur. Dengan dilakukannya peningkatan kualitas dan pengembangan diversifikasi produk pangan berbasis minyak sawit akan mendorong keberlanjutan industri kelapa sawit di Indonesia.Kata kunci: Kelapa sawit, pengolahan, minyak sawit, produk pangan
Teknologi Pembibitan Duku dan Prospek Pengembangannya Ade Supriatna; Suparwoto .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n1.2010.p%p

Abstract

Kendala utama dalam pengembangan agribisnis duku yaitu belum tersedia dan digunakannya benih bermutu. Tanaman duku umumnya berasal dari benih asalan. Perbanyakan dengan biji, di satu sisi, memberikan tingkat keberhasilan tinggi. Namun, tanaman memerlukan waktu lama untuk berbuah serta tidak selalu sama dengan induknya. Untuk itu, perlu teknik pembibitan yang lebih baik melalui sambung pucuk. Tulisan ini merupakan tinjauan terhadap pembibitan sambung pucuk pada duku dan prospek pengembangannya, meliputi penyemaian biji untuk batang bawah, pemupukan, persiapan batang atas (entres), cara penyambungan, dan kelayakan usaha pembibitan sambung pucuk. Batang bawah dianjurkan menggunakan jenis lokal karena perakarannya kuat dan daya adaptasinya tinggi terhadap lingkungan. Pupuk NPK diberikan dengan takaran 3 g/tanaman atau menggunakan pupuk daun plant catalyst dengan takaran 2 g/tanaman. Entres diambil dari pohon induk sehat dan telah berbuah minimal 3-4 kali, produktivitas tinggi, dari ujung cabang yang kulitnya hijau muda dengan posisi tumbuh lurus ke atas. Teknik penyambungannya adalah batang bawah dipotong pada bagian kulit yang masih hijau setinggi 2025 cm lalu dibelah membujur sepanjang 22,50 cm (huruf V). Entres disayat bagian pangkalnya pada kedua sisi sepanjang 22,50 cm (huruf V) lalu disisipkan ke dalam belahan batang bawah dan diikat tali plastik. Usaha pembibitan duku (skala 5.000 bibit) memberikan pendapatan bersih Rp6.618.560 dengan nilai R/C 2,20. Dengan demikian, teknik sambung pucuk mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. 
TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI FOOD INGREDIENT DARI TAPIOKA TERMODIFIKASI Heny Herawati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v31n2.2012.p%p

Abstract

Indonesia memiliki potensi bahan baku yang cukup besar untuk produksi pati termodifikasi. Salah satu potensitersebut yaitu ubi kayu yang dapat diolah menjadi tapioka. Pengembangan proses produksi ubi kayu menjadibeberapa produk lanjutan memiliki potensi yang cukup besar, terkait dengan peningkatan nilai tambah, salahsatunya yaitu dapat digunakan sebagai food ingredient. Impor produk pati termodifikasi di Indonesia masih cukupbesar sehingga perlu dilakukan pengembangan teknologi proses produksi food ingredient dari tapioka termodifikasi.Makalah ini membahas teknologi modifikasi tapioka dan aplikasinya untuk food ingredient, yang meliputi patiester, dekstrin, dan pati resisten (tahan cerna). Berdasarkan peluang tersebut, diharapkan tulisan ini dapat memberikankontribusi bagi pengembangan produk lanjutan dari ubi kayu dalam upaya meningkatkan nilai tambah, menekanimpor produk pati termodifikasi, dan menambah pendapatan para pelaku bisnis di bidang tersebut.
Spesies Padi Liar (Oryzaspp.) Sebagai Sumber Gen Ketahanan Cekaman Abiotik Dan Biotik Pada Padi Budi Daya Tintin Suhartini
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n4.2016.p197-207

Abstract

ABSTRACTWild rice species could be used  for improvement of rice varieties because they have a good character for resistance to biotic and abiotic stresses. Some of Indonesian wild rice species are Oryza meyeriana, O. granulata, O. longiglumis, O. officinalis, O. ridleyi, O. rufipogon and O. schlechteri. IRRI has a collection of 2,500 accesions of wild rice and 18 species were collected in ICABIOGRAD, Bogor. Some species of wild rice are known to have resistance genes to biotic and abiotic stresses. A number ofaccessions of O.  officinalis contained resistance gene to brown planthopper, blast disease, bacterial leaf blight (BLB) and sheath rot. One of the species that has resistance to pests and diseases is O. minuta. The resistance to tungro virus occurs in O. punctata. Tolerance to drought, Al and Fe toxicities occurs in wild rice species of O. sativa genome AA group. Resistance genes from wild rice species can be inserted into cultivated rice through conventional techniques in combination with biotechnology, while gene transfer and gene detection from wild rice to cultivated rice can be done through cross breeding, molecular markers, backcrossing and embryo rescue. The success of introgression of resistance genes from wild rice species to cultivated rice will increase genetic diversity of rice. As an example O. minuta has been implemented in introgression of BLB resistance gene on IR64. Introgression of O. nivara gene in IRRI had improved some superior rice varieties in Indonesia, namely IR30, IR32, IR34, IR36 and IR38, which were tolerant to brown planthopper, dwarf virus and bacterial leaf blight. Oryza rufipogon wich has BLB and blast resistance gene has been used for improvement of new varieties Inpari Blas and Inpari HDB which were released in 2013.Keywords: Oryza spp., varietal improvement, resistance genes, biotic stresses, abiotic stressesAbstrakSpesies padi liar dapat dimanfaatkan dalam perakitan varietas unggul karena memiliki gen ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik. Spesies padi liar yang ada di Indonesia adalah Oryza meyeriana, O. granulata, O. longiglumis, O. officinalis, O. ridleyi, O. rufipogon, dan O. schlechteri. IRRI memiliki koleksi 2.500 aksesi padi liar dan 18 spesies dikoleksi di BB Biogen. Sejumlah aksesi O. officinalis memiliki gen ketahanan terhadap wereng coklat, penyakit blas, hawar daun bakteri (HDB), dan busuk pelepah. Salah satu spesies yang memiliki ketahanan terhadap hama-penyakit tersebut adalah O. minuta. Ketahanan terhadap virus tungro terdapat pada O. punctata. Toleransi terhadap kekeringan, keracunan Al, dan Fe terdapat pada spesies padi liar kelompok O. sativa genom AA. Gen ketahanan dari spesies padi liar dapat dimasukkan (introgresi) ke dalam padi budi daya melalui teknik konvensional yang dikombinasikan dengan bioteknologi, sementara transfer gen dapat melalui persilangan, marka molekuler, silang balik, dan penyelamatan embrio. Keberhasilan introgresi gen ketahanan dari spesies padi liar ke padi budi daya akan meningkatkan keragaman genetik tanaman. Spesies padi liar O. minuta telah dimanfaatkan dalam introgresi gen ketahanan HDB pada varietas IR64. Introgresi gen asal O. nivara di IRRI menambah varietas unggul di Indonesia, yaitu IR30, IR32, IR34, IR36, dan IR38, yang toleran terhadap wereng coklat, virus kerdil rumput, dan HDB. Spesies padi liar O. rufipogon yang memiliki gen ketahanan HDB dan blas telah digunakan dalam pembentukan varietas unggul baru Inpari HDB dan Inpari Blas yang dilepas pada 2013.
PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA HAYATI TANAH MENDUKUNG PENGEMBANGAN PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN Subowo G.; Jati Purwani
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n4.2013.p173-179

Abstract

Pemberdayaan sumber daya biotik maupun abiotik tanah dapatmeningkatkan efisiensi sistem produksi pertanian. Sumber dayabiotik tanah meliputi flora dan fauna tanah. Pengelolaan sumberdaya biotik tanah dengan mengurangi asupan dari luar dapatmencegah perubahan ekosistem yang ekstrem. Dalam rangkamelestarikan sistem produksi yang mandiri dan ramah lingkungan,penetapan parameter lingkungan harus jelas dan terukur denganmemerhatikan produktivitas yang akan dicapai dan konservasisumber daya. Penggunaan lahan harus sesuai daya dukungnya,neraca hara seimbang, mencegah erosi tanah pada level di bawahtolerable soil loss, dan menekan emisi CO2 di bawah ambang batastoleransi. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara hayatisehingga mencegah cemaran polutan pada produk maupun hasilsamping di bawah ambang batas. Selain itu, pelaku daur ekosistemtanah lengkap (produsen, konsumen, dan pengurai) dan tidak terjadigangguan lingkungan. Populasi fauna tanah yang terancam akibatsistem pertanian intensif perlu dipulihkan dengan memberikanbahan organik sebagai sumber hara dan energi, sehingga dapatberperan dalam konservasi bahan organik tanah dan memperbaikisifat fisik tanah. Penggunaan pupuk anorganik, organik, dan hayatisecara terpadu, menghindari pestisida sintetis, dan adanya cacing tanahendogaesis merupakan indikator pertanian ramah lingkungan.
BIOLOGI, GEJALA SERANGAN, DAN PENGENDALIAN HAMA BUBUK JAGUNG Sitophilus zeamais MOTSCHULSKY (COLEOPTERA: CURCULIONIDAE) Nurnina Nonci; Amran Muis
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n2.2015.p61-70

Abstract

Salah satu kendala dalam penyimpanan jagung adalah serangan hamagudang. Salah satu hama gudang jagung adalah Sitophilus zeamaisMotschulsky (Coleoptera: Curculionidae). Hama ini ditemukan didaerah panas maupun lembap. Hama ini bersifat polifag, dapatmerusak serealia seperti beras/gabah, jagung, gandum, dan sorgum,namun dilaporkan sebagai hama penting pada jagung. Kehilanganhasil jagung di wilayah tropis akibat S. zeamais berkisar antara 30-100%. Biji jagung yang disimpan selama 6 bulan menunjukkankerusakan 85% dan bobot biji menyusut 17%. Telur hama tersebutdiletakkan di dalam biji dan dalam beberapa hari akan menetasmenjadi larva. Larva menyelesaikan siklus hidupnya di dalam biji.Telur berwarna putih bening, berbentuk lonjong, lunak dan licin,berukuran 0,7 mm x 0,3 mm. Larva berwarna putih kekuningan,tidak bertungkai, kepala berwarna cokelat, terdiri atas empat instar,panjang 1,5–4 mm. Periode larva berlangsung 25 hari. Imago S.zeamais berukuran 3-4,5 mm. Hama S. zeamais dapat dikendalikandengan cara: 1) menyimpan jagung dalam wadah maupun gudangsecara higienis, 2) menanam varietas tahan, 3) menggunakanmusuh alami yaitu parasit, predator, dan patogen, seperti parasitoidLariophagus distinguendus dan Anisopteromalus calandrae, sertapatogen Beauveria bassiana, 4) memanfaatkan insektisida nabatiyang memiliki toksisitas tinggi terhadap S. zeamais, yaitu Ageratumconnyzoides (bandotan), Andropogon nardus (serai), Allium sativum(bawang merah), Nicotiana tabacum (tembakau), Zingiber officinale(jahe), dan Azadirachta indica (mimba), serta 5) menyemprotkaninsektisida sintetis metil pirimifos.
Strategi Pengembangan USaha Ternak Sapi Potong dalam Mendukung Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau Tahun 2014 Dwi Priyanto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 3 (2011): September 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v30n3.2011.p108-116

Abstract

Laju permintaan daging sapi meningkat tajam seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, perbaikan pendapatanper kapita, dan perubahan selera konsumen. Namun, sampai saat ini Indonesia masih merupakan negara netimportir daging sapi karena 35% pasokan dipenuhi dari impor. Oleh karena itu, upaya mencapai swasembada dagingsapi dan kerbau (PSDSK) tahun 2014 difokuskan pada pengembangan usaha peternakan rakyat dengan memanfaatkansumber daya lokal. Strategi untuk mendukung PSDSK meliputi pengembangan sentra-sentra produksi sapi potongdan penggalian sumber pakan (padang penggembalaan), khususnya untuk usaha pembibitan, serta pengembanganaspek teknis dan teknologi, yang meliputi penyelamatan sapi betina produktif untuk meningkatkan populasiternak, menunda pemotongan ternak untuk mencapai bobot potong yang optimal, memperpendek jarak beranak(calving interval) untuk efisiensi reproduksi, dan penerapan teknologi inseminasi buatan (IB) untuk memperolehbobot badan yang tinggi. Keempat komponen tersebut mampu memberi kontribusi terhadap produksi daging sapisebesar 58,43% dari target swasembada 400.000 t/tahun, dengan menerapkan pola integrasi dan inovasi kelembagaan.Kebijakan pemerintah dengan mengendalikan impor daging dan sapi bakalan berperan penting pula dalam melindungipeternakan rakyat. Koordinasi antarinstitusi pusat dan daerah sangat diperlukan dalam implementasi program dilapangan, termasuk pemantauan dan evaluasi secara periodik.
Keragaman Genetik dan Potensi Pengembangan Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) di Indonesia Ayda Krisnawati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n3.2010.p113-119

Abstract

Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) merupakan tanaman tropis yang memiliki banyak fungsi, yakni sebagai bahan pangan bernutrisi prima dan sebagai tanaman penutup tanah. Seluruh bagian tanaman dapat dikonsumsi dan kaya akan protein. Tanaman kecipir juga berguna sebagai penyubur tanah, bahan pakan ternak, obat tradisional, dan pengendali erosi di lahan kering. Pusat asal-usul kecipir adalah Papua Nugini, Mauritius, Madagaskar, dan India, sedangkan pusat keanekaragaman terbesar terdapat di Papua Nugini dan Indonesia. Makalah ini mengulas keragaman genetik kecipir di Indonesia, multifungsi kecipir, dan prospek pengembangannya. Ragam kecipir di Indonesia cukup banyak, namun karakterisasi plasma nutfah kecipir di Indonesia belum dilakukan. Ciri pemertela kecipir telah dibuat oleh IBPGR, dan panduan pemertela tersebut dapat diterapkan untuk karakterisasi plasma nutfah kecipir di Indonesia. Prospek pengembangan kecipir di Indonesia cukup besar ditinjau dari ragam pemanfaatannya, kandungan nutrisi, maupun dari aspek ekologis yang sangat sesuai dengan wilayah Indonesia.
NILAI INDEKS GLIKEMIK PRODUK PANGAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHINYA Abdullah bin Arif; Agus Budiyanto; Hoerudin .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n3.2013.p91-99

Abstract

Perubahan gaya hidup dan pola konsumsi pangan masyarakat telahberdampak terhadap peningkatan penyakit degeneratif, seperti diabetesmelitus (DM) dan hipertensi. DM ditandai dengan kadar glukosadarah melebihi nilai normal dan gangguan metabolisme insulin. Indeksglikemik (IG) merupakan suatu ukuran untuk mengklasifikasikanpangan berdasarkan pengaruh fisiologisnya terhadap kadar glukosadarah. Nilai IG produk pangan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antaralain kadar serat pangan, kadar amilosa dan amilopektin, kadar lemakdan protein, daya cerna pati, dan cara pengolahan. Semakin tinggi nilai/kadar serat pangan total, rasio amilosa/amilopektin, serta lemak danprotein, maka nilai IG semakin rendah. Sementara itu, daya cerna patiyang tinggi menyebabkan nilai IG yang tinggi. Cara pengolahan produkpangan dapat menurunkan atau menaikkan nilai IG produk pangantersebut. Pemahaman terhadap nilai IG bahan pangan sangat pentingkarena dapat menjadi landasan ilmiah dalam memilih jenis, bentukasupan, dan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi sesuai responsglikemik seseorang.
Peluang Peningkatan Produksi Padi Di Lahan Rawa Lebak Lampung Yulia Pujiharti
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v36n1.2017.p13-20

Abstract

Opportunity to Increase Rice Production in Fresh Water Swampy Land in LampungThe area of fresh water swampy land in Lampung in 2012 was 55,714 ha with rice productivity of 5.13 t/ha so it is possible to be increased. The article discusses opportunity to increase rice production in fresh water swampy land in Lampung. Increasing rice yield can be done by enhancing cropping index and land productivity, lowering yield gap and decreasing yeld loss. Cropping index in fresh water swampy land can be increased by cultivating rice with surjan system, while rice yield is increased by integrated crop management (ICM) which its components include the use of improved varieties, planting with legowo 2: 1 or 4: 1, fertilizer application according to plant need, water management to prevent rice plant from submerging or drought, and integrated pest management. Rice yield gap is decreased by implementing location specific technologies and intensifying counseling to farmers, while yield loss is lowered by applying integrated pest management and using agricultural tools and machineries in rice farming. These production increases have an impact on the regional and national food availability in an effort to achieve rice self-sufficiency.Keywords: Rice, production, fresh water swampy land, growth sourceABSTRAKLuas lahan rawa lebak di Provinsi Lampung pada tahun 2012 mencapai 55.714 ha dengan tingkat produktivitas padi 5,13 t/ha sehingga masih berpeluang ditingkatkan. Tulisan ini membahas peluang peningkatan produksi padi di lahan rawa lebak di Lampung. Peningkatan produksi dapat dilakukan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) dan produktivitas lahan, mengurangi senjang hasil, dan menurunkan kehilangan hasil. Indeks pertanaman di lahan rawa lebak dapat ditingkatkan dengan menerapkan sistem surjan. Sementara produktivitas ditingkatkan melalui pengelolaan tanaman terpadu (PTT) dengan komponen teknologinya antara lain penggunaan varietas unggul baru, cara tanam legowo 2:1 atau 4:1, pemberian hara sesuai kebutuhan tanaman, pengelolaan tata air sehingga tanaman padi terhindar dari terendam atau kekeringan, serta pengelolaan hama dan penyakit secara terpadu. Penurunan senjang hasil dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi spesifik lokasi dan mengintensifkan penyuluhan ke petani. Sementara kehilangan hasil dapat dikurangi melalui penerapan pengelolaan hama dan penyakit secara terpadu dan penggunaan alat dan mesin pertanian pada kegiatan usaha tani. Peningkatan produksi ini akan berdampak pada peningkatan ketersediaan pangan daerah dan nasional dalam upaya mencapai swasembada beras.Kata Kunci: Padi, produksi, rawa lebak, sumber pertumbuhan