cover
Contact Name
Fenny Sumardiani
Contact Email
jurnallitbang@gmail.com
Phone
+6285712816604
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian Jalan Salak No.22, Bogor 16151 E-mail : jurnallitbang@gmail.com Website : http://bpatp.litbang.pertanian.go.id
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : http://dx.doi.org/10.21082
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian pertanian pangan hortiikultura, perkebunan, peternakan, dan veteriner yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian dan atau ketentuan kebijakan, yang ditujukan kepada pengguna meliputi pengambil kebijakan, praktisi, akademisi, penyuluh, mahasiswa dan pengguna umum lainnya. Pembahasan dilakukan secara komprehensif serta bertujuan memberi informasi tentang perkembangan teknologi pertanian di Indonesia, pemanfaatan, permasalahan dan solusinya. Ruang lingkupnya bahasan meliputi bidang ilmu: pemuliaan, bioteknologi perbenihan, agronomi, ekofisiologi, hama dan penyakit, pascapanen, pengolahan hasil pertanian, alsitan, sosial ekonomi, sistem usaha tani, mikro biologi tanah, iklim, pengairan, kesuburan, pakan dan nutrisi ternak, integrasi tanaman-ternak, mikrobiologi hasil panen, konservasi lahan.
Articles 221 Documents
Sistem Usaha Tani Kakao Berbasis Bioindustri Pada Sentra Pengembangan Di Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan Basir Nappu; Muh. Taufik; Muh Topik
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.726 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v35n4.2016.p187-196

Abstract

ABSTRACTCocoa (Theobroma cacao L.) is an important estate crop commodity which plays a role in national economy for creating jobs, farmers income, stock-exchange sources, and agro-industry development. This article discusses cacao farming bioindustry in Luwu Regency, South Sulawesi, as eco-friendly, efficient, value added, and competitive farming system. The main benefit is derived from plants as a source of livestock feed and increasing plantproduction due to utilization of compost as fertilizer. While the benefit from livestock can be generated from livestock waste as organic fertilizer and a source of energy. Implementation of the model increased farming revenues by 45.9%. Cattle business efficiency can be obtained from utilization of cocoa pods and legume forage as feed sources which save labor allocation up to 50%. Cocoa farming efficiency that is obtained through the use of manure as organic fertilizer reached 40%. Financial analysis showed that  integrated cocoa and livestock was more profitable than non-integrated model. Within one year, the integration pattern provided profits of Rp13.03 million/ha/2 cattle, whereas nonintegration pattern only provided net profit of 7.84 million/ha/year. Thus the integration pattern gave added value of Rp5.1 million or 66% with an incremental benefit cost ratio (IBCR) of 1.08. The system is potential to be developed in other cocoa development areas in Indonesia, as well as to support the increasing cow population program.Keywords: Bioindustries, farming system, integration, cocoa, cow livestock AbstrakKakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang berperan cukup penting dalam perekonomian nasional, sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan petani dan devisa negara, dan pengembangan agroindustri. Tulisan ini membahas sistem usaha tani kakao berbasis bioindustri di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sebagai usaha tani ramah lingkungan yang efisien, bernilai tambah, dan berdaya saing tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan sistem ini melalui integrasi kakao-sapi dapat mendorong peningkatan produktivitas tanaman kakao dan pengembangan sapi melalui pemanfaatan limbah kakao sebagai sumber pakan ternak serta limbah ternak sebagai sumber pupuk organik dan energi. Penerapan model integrasi kakao-sapi dapat meningkatkan pendapatan petani hingga 45,9%. Efisiensi usaha ternak sapi pada pola integrasi kakao-sapi terjadi melalui pemanfaatan kulit kakao dan tanaman pelindung (leguminosa) sebagai bahan pakan yang menghemat tenaga kerja dalam penyediaan pakan hingga 50%. Efisiensi pengelolaan kebun kakao terjadi melalui penghematan biaya penggunaan pupuk kandang yang mencapai 40%. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa usaha tani integrasi kakao-sapi jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan nonintegrasi. Pola integrasi mampu memberikan keuntungan Rp13,03 juta/ha/2 ekor/tahun, sedangkan keuntungan pada pola nonintegrasi hanya Rp7,84 juta/ha/tahun. Pola integrasi memberikan nilai tambah Rp5,1 juta atau 66% dengan incremental benefit cost ratio (IBCR) 1,08. Sistem ini berpotensi untuk diimplementasikan di berbagai wilayah pengembangan kakao di Indonesia, sekaligus untuk mendukung program peningkatan populasi sapi. 
MIKROPROPAGASI DAN PRESERVASI TANAMAN OBAT MELALUI KULTUR IN VITRO Sri Hutami
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v33n1.2014.p1-10

Abstract

Teknik mikropropagasi memegang peranan penting dalam konservasi dan manajemen koleksi tanaman. Beberapa tanaman obat (langka dan potensial) di Indonesia telah berhasil diperbanyak melalui kultur jaringan dengan tingkat multiplikasi relatif tinggi. Media dasar terbaik untuk mikropropagasi tanaman obat ialah Murashige dan Skoog (MS) dan untuk beberapa tumbuhan obat menggunakan media dasar Driver and Kuniyuki Walnut (DKW), Anderson, dan B5 (Gamborg). Untuk memperoleh faktor multi-plikasi yang tinggi, zat pengatur tumbuh yang umum digunakan ialah benziladenin (BA), kinetin, dan thidiazuron serta asam amino glutamin. Dengan telah dikuasainya teknik perbanyakan tanaman obat melalui kultur in vitro, permintaan pengguna (petani dan swasta) akan benih tanaman obat dapat dipenuhi setiap waktu sesuai dengan kebutuhan. Preservasi secara in vitro dapat mencegah tanaman obat dari kepunahan. Tanaman obat yang telah berhasil dikembangbiakkan melalui teknik ini ialah bidara upas, tangguh, pepaya, anectochylus, temu mangga, pulai, kunci pepet, kencur, artemisia, buah merah, jahe, touki, kapolaga, mentha, pulasari, pule pandak, temu putri, purwoceng, ingu, daun dewa, dan manggis.
PERBAIKAN GENETIK GANDUM TROPIS TOLERAN SUHU TINGGI DAN PERMASALAHAN PENGEMBANGANNYA PADA DAERAH DATARAN RENDAH Amin Nur; Karlina Syahruddin; Made Jana Mejaya
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1238.687 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v34n1.2015.p19-30

Abstract

Perbaikan genetik gandum melalui program pemuliaan di Indonesia diawali dengan mengintroduksi galur-galur elit dari berbagai negara yang dinilai cocok dengan agroekosistem tropis Indonesia karena Indonesia tidak memiliki plasma nutfah lokal. Keragaman genetik yang luas sangat dibutuhkan untuk mendapatkan varietas gandum tropis. Program peningkatan keragaman genetik gandum yang sudah berjalan ialah pemuliaan melalui persilangan dan mutasi (biji dan variasi somaklonal). Jenis gandum yang dapat ditanam di lingkungan tropis Indonesia ialah Triticum aestivum pada ketinggian > 1.000 m dpl. Pengembangan gandum tropis < 1.000 m dpl perlu didukung pemuliaan mulai dari pembentukan populasi sampai pelepasan varietas dengan metode shuttle breeding. Evaluasi galur-galur introduksi pada dataran rendah memperoleh beberapa galur dan varietas toleran (Oasis, Selayar) dan peka (Dewata, HP1744). Pada galur dan varietas tersebut selanjutnya dilakukan persilangan (single cross dan convergent breeding) dan mutasi dengan iradiasi sinar gama diikuti shuttle breeding. Single cross melalui shuttle breeding menghasilkan 30 galur adaptif < 1.000 m dpl, sementara dari convergent breeding diperoleh populasi F4. Pemuliaan melalui iradiasi sinar gama pada biji memperoleh 15 galur mutan M7, sementara melalui variasi somaklonal kultur jaringan menghasilkan populasi mutan M4. Hampir semua karakter agronomi yang dipelajari toleransinya terhadap cekaman suhu tinggi dikendalikan secara poligenik dengan aksi gen aditif dengan pengaruh epistasis duplikat maupun komplementer.
PEMANFAATAN PIRAMIDA GEN KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI DALAM MENDUKUNG PERAKITAN VARIETAS UNGGUL PADI Application of Gene Pyramiding For Resistance to Bacterial Leaf Blight to Develop New Rice Variety Fatimah Fatimah; Joko Prasetiyono
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.997 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p11-20

Abstract

Bacterial leaf blight (BLB) caused by Xanthomonas oryzae pv oryzae (Xoo) is an important bacterial disease and very destructive to rice plant. BLB decreased rice production from 20%-30% up to 80%. Host-plant resistance is a cost-effective and environmentally safe approach to reduce yield loss. However the development of new rice variety by conventional selection would take several years. The genetic improvement in rice production considered as a vital program in order to ensure national food security. The availability of corresponding molecular marker makes it more precision and efficient by reducing the time required for selection. This present article highlights the molecular approach in breeding for BLB disease resistant rice varieties. In detail, it will be discussed the application of molecular marker assisted backcrossing and pyramiding gene resistance offered breeders to accelerate the rice breeding program for resistance to BLB. The pyramiding of three resistance BLB genes (xa5, Xa7, and Xa21and one gene (Xa4) as a background into two elite indica rice varieties, Ciherang and Inpari 13, was introduced successfully. The combining of conventional breeding, marker assisted backcrossing, disease evaluation, agronomic performance and yield has led the significant resistance of pyramid lines to Xoo Race III, IV and VIII in vegetative and generative phase while their yield potential was maintained (6-7 ton/ha). The current status of Ciherang-HDB and Inpari 13-HDB pyramid lines is the production of nucleoseeds and breeder seeds. This broad spectrum and durable resistance characteristic may help in controlling BLB disease in different region of Indonesia and it will facilitate the rice self-sustainability program.Keywords: Rice, gene pyramiding, plant breeding, molecular marker. AbstrakPenyakit hawar daun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv oryzae (Xoo) merupakan penyakit penting pada tanaman padi karena dapat menurunkan produksi padi rata-rata 20-30% bahkan dapat mencapai 80%. Penggunaan varietas tahan merupakan cara pengendalian yang paling efektif, ramah lingkungan, dan mudah dilakukan. Namun pengembangan varietas unggul baru melalui seleksi konvensional memerlukan waktu lebih lama. Perbaikan varietas padi perlu terus dikembangkan dalam mendukung ketahanan pangan dan kemandirian pangan nasional. Tersedianya marka molekuler membantu proses pemuliaan tanaman menjadi lebih presisi dan lebih efisien sehingga mengurangi waktu seleksi pada tanaman progeni. Tulisan ini memfokuskan pendekatan molekuler dalam pemuliaan varietas tahan penyakit HDB melalui piramida gen ketahanan untuk mempercepat progam pemuliaan padi tahan penyakit HDB. Kegiatan menggabungkan tiga gen ketahanan (xa5, Xa7, dan Xa21) dan satu gen (Xa4) sebagai background ke dalam padi varietas Ciherang dan Inpari-13 telah berhasil dilakukan. Melalui penggabungan beberapa pendekatan yaitu pemuliaan konvensional dan silang balik berbantu marka, evaluasi penyakit dan keragaan agronomi serta komponen hasil telah menunjukkan peningkatan ketahanan yang nyata pada galur-galur piramida Ciherang HDB dan Inpari-13 HDB pada tiga ras Xoo (Ras III, IV, dan VIII), baik pada fase vegetatif maupun generatif dengan potensi hasil tidak berbeda nyata dengan tetuanya (6-7 t/ha). Saat ini sudah diproduksi benih inti (NS) dan benih penjenis (BS) galur-galur piramida Ciherang HDB dan Inpari-13 HDB. Dengan demikian, galur-galur piramida memiliki spektrum yang luas dan mampu bertahan dalam jangka waktu lama sehingga dapat mengontrol penyakit HDB di berbagai wilayah Indonesia dan mendukung target pemerintah untuk mempertahankan swasembada beras secara berkelanjutan.Kata kunci: Padi, piramida gen, pemuliaan tanaman, marka molekuler. 
Zoonosis dan Upaya Pencegahannya (Kasus Sumatera Utara) Khairiyah .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 3 (2011): September 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.429 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v30n3.2011.p117-124

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir muncul penyakit zoonosis yang menyebabkan kematian pada manusia. Penyakitini menular secara alamiah dari hewan ke manusia. Untuk mengantisipasi merebaknya wabah zoonosis diperlukanpemahaman secara menyeluruh mengenai penyakit atau infeksi tersebut. Tulisan ini menyajikan gambaran umumzoonosis di Sumatera Utara dan upaya pencegahannya. Berdasarkan agens penyebabnya, zoonosis digolongkanmenjadi zoonosis yang disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, dan yang disebabkan oleh jamur. Kejadian zoonosisyang pernah ditemukan di Sumatera Utara adalah toksoplasmosis, bruselosis, flu burung, tuberkulosis, rabies, danskabies. Salah satu upaya untuk mencegah penularan penyakit zoonosis adalah dengan meningkatkan pengetahuan,kesadaran, dan kepedulian masyarakat terhadap penyakit-penyakit zoonosis strategis melalui sosialisasi.
Prospek Penggunaan Mikroba Antagonis sebagai agens pengendali hayati penyakit utama pada tanaman hias dan sayuran Hanudin .; Budi Marwoto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.787 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v31n1.2012.p%p

Abstract

Cultivation of ornamental plants and vegetables faces various problems that inhibit efforts to increase plant production. One of the most important constraints is disease incidences, i.e. wilt disease (Fusarium spp.) on carnation, damping off (Rhizoctonia spp.) on chrysanthemum, bacterial wilt (Ralstonia solanacearum) on Solanaceae, and club root (Plasmodiophora brassicae) on Barssicaceae. One of environmentally-friendly control methods is application of antagonistic microorganisms. The purpose of this paper is to inform prospects of the use of microbial antagonists as biological control agents of major diseases on ornamental plants and vegetables. Antagonistic microbes are the bacteria, fungi, actinomycetes or virus that can suppress other microbes. Antagonistic bacteria (Bacillus subtilis and Pseudomonas fluorescens), antagonistic fungi (Trichoderma harzianum, Gliocladium sp., and non-pathogenic Fusarium), actinomycetes (Streptomyces spp.), and virus (Carna-5 vaccine) are known to be effective as biological control agents. Their use as a biological control agent is proven to be  prospective since their isolation techniques, propagation and biopesticide formulation are well known by inventors in Indonesia. Nowdays, the microbes have been formulated by various research institutes as microbial pesticides and licenced to private company and commercialized widely to the domestic market. This indicates that prospect of application of antagonistic microbe is very bright to control major diseases of ornamental plants and vegetables. 
Peranan Sifat Fisikokimia Sorgum Dalam Diversifikasi Pangan Dan Industri Serta Prospek Pengembangannya Suarni Suarni
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 3 (2016): September 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.862 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v35n3.2016.p99-110

Abstract

ABSTRACTSorghum utilization for foods and industries from semi-finished materials (milled grains, flour, starch) should be based on the character of physicochemical properties. This is supported by results of research that each sorghum variety has physicochemical properties and different functional bioactive compounds. This is a first step for selecting sorghum varieties appropriate with desired products. There are many technology innovations of industry and food products, including liquid sugar and bioethanol from sweet sorghum stem. To promote sorghum as prospective food and industry diversification materials, research support, science and technology, and policy are required. The availability of superior sorghum varieties supported by technological innovation of food processing industry makes it potential commodity to be developed.Keywords: Sorghum, physicochemical properties, food diversification, industryabstrakPemanfaatan sorgum untuk pangan dan industri dari bahan setengah jadi (sorgum sosoh, tepung, dan pati) sebaiknya berlandaskan pada karakter sifat fisikokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap varietas sorgum memiliki sifat fisikokimia dan komponen bioaktif fungsional yang berbeda. Informasi ini dapat menjadi pertimbangan awal dalam memilih varietas sorgum sesuai dengan produk yang diinginkan. Berbagai inovasi teknologi produk pangan dan industri berbasis sorgum, termasuk gula cair dan bioetanol dari batang sorgum manis telah dihasilkan. Untuk mempromosikan sorgum sebagai bahan diversifikasi pangan dan industri yang prospektif, diperlukan dukungan riset, iptek, dan kebijakan. Tersedianya varietas unggul sorgum, yang didukung dengan inovasi teknologi pengolahan pangan dan industri yang memadai, menjadikan komoditas ini potensial untuk dikembangkan. 
PEMANFAATAN KERAGAMAN GENETIK UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS ITIK ALABIO Suryana .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.25 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v32n3.2013.p100-111

Abstract

Itik alabio (Anas platyrhynchos Borneo) merupakan salah satuunggas lokal Kalimantan Selatan yang mempunyai keunggulansebagai penghasil telur. Itik alabio memiliki ciri fenotipik yangberbeda dan performa yang beragam dibanding itik lokal lain diIndonesia. Namun, di antara itik-itik lokal tersebut terdapat itikyang lebih unggul karena secara genetik memiliki daya adaptasiterhadap lingkungan setempat. Itik alabio memiliki keragamanyang tinggi, baik sifat kualitatif (warna bulu, paruh, kaki, dan cakar,serta bentuk tubuh), maupun sifat kuantitatif seperti bobot badandewasa, lama produksi telur, umur pertama bertelur, puncakproduksi, daya tunas, daya tetas, dan bobot tetas. Keragaman yangtinggi tersebut merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan dalamprogram pemuliaan. Meskipun belum sepenuhnya dimanfaatkandalam peningkatan produktivitas, dengan pengalaman dan kearifanlokal yang dimiliki, peternak telah memanfaatkan keragamankriteria tampilan luar itik, seperti keseragaman warna bulu, paruh,besar badan, kuku, kaki, dan gigi untuk menyeleksi itik alabio jantanunggul dan itik alabio betina penghasil telur yang produktif. Sifatunggul ini diharapkan dapat diwariskan pada keturunannya.
Pemanfaatan Sari Kedelai Sebagai Bahan Pengencer Pengganti Kuning Telur Untuk Kriopreservasi Spermatozoa Hewan Fitra Aji Pamungkas; Rantan Krisnan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.569 KB) | DOI: 10.21082/jp3.v36n1.2017.p21-27

Abstract

The extenders commonly used for cryopreservation of spermatozoa are based on animal products such as egg yolk. Egg yolk contains cholesterol, phospholipid and low density protein which prevent the formation of ice crystals and protect the integrity of plasma membrane during cryopreservation process. Furthermore, egg yolk increased the risk of microbial contamination and related to the possible transmission of zoonotic agents. Soybeans are the products of vegetable protein is often used as an emulsifier in the production of food for humans and serves as a protection from the cold shock as well as low density protein in egg yolk. Several studies reported that soybean extenders for cryopreservation of spermatozoa produce the same quality or even better than the egg yolk based extenders and the optimal concentration of soy bean in the extenders forcryopreservation of spermatozoa at 0.8-1.5%.Key words : Soy bean, egg yolk, extender, cryopreservation, spermatozoaABSTRAKBahan pengencer yang biasa digunakan untuk kriopreservasispermatozoa didasarkan pada produk hewani seperti kuning telur. Kuning telur mengandung kolesterol, fosfolipid dan low density proteinyang dapat mencegah pembentukan kristal es sehingga melindungi integritas membran plasma terhadap kejutan dingin selama proses kriopreservasi. Namun penggunaan kuning telur menimbulkan kekhawatiran terutamapotensi peningkatan kontaminasi mikroba dan agen penularan zoonosis. Kacang kedelai merupakan produk protein nabati yang sering digunakan sebagai pengemulsi dalam produksi makanan untuk manusia dan berfungsi sebagai pelindung dari kejutan dingin sama halnya low density lipoproteinpada kuning telur. Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa bahan pengencer kacang kedelaiuntuk kriopreservasi spermatozoa menghasilkan kualitas yang sama atau bahkan lebih bagus dibandingkan dengan bahan pengencer berbasis kuning telur dan konsentrasi kacang kedelai yang optimal pada bahan pengencer untuk kriopreservasispermatozoa sebesar 0,8-1,5%.Kata kunci: Kacang kedelai, kuning telur, pengencer, kriopreservasi, spermatozoa
DIVERSIFIKASI PANGAN HEWANI MELALUI PENINGKATAN PERAN DAGING KAMBING DAN DOMBA Rasali Hakim Matondang
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 33, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v33n3.2014.p123-130

Abstract

Indonesia terus berupaya mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Diversifikasi pangan hewani melalui peningkatan konsumsi daging kambing dan domba merupakan salah satu upaya yang dapat ditempuh. Makalah ini mengulas konsumsi daging (kambing dan domba) dan kinerja produksinya untuk memenuhi kebutuhan daging nasional. Daging kambing dan domba dapat mensubstitusi daging sapi karena kandungan lemak jenuhnya lebih rendah dibandingkan dengan daging ayam dan sapi, kandungan kolesterolnya paling rendah, mengandung lebih banyak zat besi, kalium, tiamin, dan asam amino esensial, serta mengandung lebih sedikit kalori. Selain itu, kambing dan domba dapat dipelihara dengan nilai input terutama pakan yang rendah serta dapat merespons input produksi yang lebih tinggi melalui peningkatan produksi dan produktivitas per kelompok ternak. Dengan demikian, dari sisi kandungan gizi, keterjangkauan, penyebaran populasi, dan kecepatan reproduksinya, kambing dan domba dapat menjadi penyedia daging yang tidak kalah dibanding sapi potong.

Page 2 of 23 | Total Record : 221