cover
Contact Name
Fenny Sumardiani
Contact Email
jurnallitbang@gmail.com
Phone
+6285712816604
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian Jalan Salak No.22, Bogor 16151 E-mail : jurnallitbang@gmail.com Website : http://bpatp.litbang.pertanian.go.id
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : http://dx.doi.org/10.21082
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian pertanian pangan hortiikultura, perkebunan, peternakan, dan veteriner yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian dan atau ketentuan kebijakan, yang ditujukan kepada pengguna meliputi pengambil kebijakan, praktisi, akademisi, penyuluh, mahasiswa dan pengguna umum lainnya. Pembahasan dilakukan secara komprehensif serta bertujuan memberi informasi tentang perkembangan teknologi pertanian di Indonesia, pemanfaatan, permasalahan dan solusinya. Ruang lingkupnya bahasan meliputi bidang ilmu: pemuliaan, bioteknologi perbenihan, agronomi, ekofisiologi, hama dan penyakit, pascapanen, pengolahan hasil pertanian, alsitan, sosial ekonomi, sistem usaha tani, mikro biologi tanah, iklim, pengairan, kesuburan, pakan dan nutrisi ternak, integrasi tanaman-ternak, mikrobiologi hasil panen, konservasi lahan.
Articles 221 Documents
CEMARAN KAPANG PADA PAKAN DAN PENGENDALIANNYA Riza Zainuddin Ahmad
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v28n1.2009.p15 - 22

Abstract

The contamination of mold in feed and its controlThe contamination of some kinds of mold as Aspergillus spp., Fusarium spp., Penicillium spp., and Mucor spp. can be found in feed and feedstuff especially corn. The contamination causes health disturbance of animals. The disease is not only caused by the mold, but also by toxin produced. Health loss in term of economy due to the mold contamination is quite significant. Some factors can support the appearance of mold and toxic contamination in feed, especially humidity and temperature. In Indonesia, Aspergillus sp. especially A. flavus is the dominant mold contaminant in feed. Controlling as prevention by early detection or visual inspection and good management is a better choice compared to cure.
APLIKASI SHOOT TIP GRAFTING IN VITRO PADA PROGRAM PENYEDIAAN INDUK JERUK BEBAS PENYAKIT DI INDONESIA Nirmala Friyanti Devy
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 33, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v33n3.2014.p105-114

Abstract

Metode standar untuk menghasilkan induk jeruk bebas penyakit ialah sambung pucuk atau shoot tip grafting (STG) in vitro. Pada metode tersebut, meristem tip tanaman induk terinfeksi oleh penyakit virus disambungkan pada semaian batang bawah bebas penyakit secara in vitro. Untuk mempercepat pertumbuhan, tanaman hasil STG disambung ulang pada batang bawah secara in vivo. Tanaman dapat menjadi pohon induk sumber entres apabila negatif dari infeksi citrus tristeza virus (CTV) dan citrus vein phloem degeneration (CVPD). Tanaman jeruk yang dihasilkan dengan menggunakan teknologi STG secara genetik sama dengan induknya, bebas dari penyakit, dan turunannya memiliki keragaan morfologi yang memuaskan. Dengan mengaplikasi metode STG standar diikuti dengan indeksing, sampai tahun 2012 Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) telah membersihkan tanaman induk jeruk dari 221 varietas yang berasal dari berbagai sentra produksi di Indonesia. Dari keturunannya, pada tahun 2005-2011, Balitjestro telah mendistribusikan pohon induk jeruk kelas blok fondasi (BF) dan Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) masing-masing 1.799 dan 13.046 pohon. Permasalahan yang dihadapi ialah rendahnya persentase sambungan jadi dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk sampai pada tahap indeksing. Upaya perbaikan yang dilakukan antara lain memodifikasi media tumbuh in vitro maupun lingkungan tumbuh tanaman hasil sambung ulang.
Optimalisasi Produktivitas Karet Melalui Penggunaan Bahan Tanam, Pemeliharaan, Sistem Eksploitasi dan Peremajaan Tanaman Island Boerhendhy; Khaidir Amypalupy
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v30n1.2011.p23-30

Abstract

Produktivitas dan keuntungan yang dihasilkan perkebunan karet Indonesia saat ini masih relatif rendah. Rendahnyaproduktivitas karet terutama disebabkan penerapan teknologi dan pengelolaan kebun yang belum sesuai rekomendasi,terutama untuk perkebunan karet rakyat. Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkanproduktivitas kebun adalah: 1) penggunaan bahan tanam seragam dan klon unggul berproduksi tinggi dengankomposisi klon dan umur yang seimbang dan penempatan klon pada agroekosistem yang sesuai, 2) penerapanteknik budi daya yang meliputi pengolahan tanah, pemupukan dengan takaran, frekuensi, dan cara aplikasi yangtepat, serta pengendalian penyakit jamur akar putih, 3) penerapan sistem eksploitasi sesuai sifat fisiologis klon danpengendalian kekeringan alur sadap, dan 4) peremajaan bagi kebun-kebun yang kurang produktif.
PEMULIAAN PADI SECARA PARTISIPATIF BERBASIS KONSEP KAWASAN PERTANIAN BERKELANJUTAN / Participatory Rice Breeding Based on The Concept of Sustainable Agriculture Region Vina Eka Aristya; Taryono Taryono
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 40, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v40n2.2021.p125-137

Abstract

The Rice farming system has long been implemented by a typical top-down approach. The degree of creativity and autonomy of farmers has been determined by the continuous external inputs. The main challenge of rice breeding programs is to improve the quality of varieties to be developed in a specific environment and acceptable to the user community. The adoption of new varieties was limited because the breeding process has not taken into account the farmers' preferences. Another obstacle that often arises was that varieties are less adaptive in specific conditions. The variety's productivity depends on farmers' knowledge, facilities, and resource management. This paper explores the principles of participatory rice breeding and its application with a comprehensive approach that aims to encourage farmer empowerment in assembling superior varieties and providing seeds independently. Participatory breeding programs are offered as a solution in understanding the needs of sustainable agriculture. The farmers' involvement serves to capture preferences and selection of lines with high yield potential and were environmentally adaptive. Collaboration was carried out through testing the lines on farmers' land. Decentralization breeding also pays attention to the agroecological paradigm in the scale of the agricultural region. Implementation of agricultural region development serves to preserve sustainable agricultural resources and the environment. The farmers' active participation in the agricultural region has a positive impact on ecosystem sustainability, biodiversity, and environmental conservation for the future. Participatory rice breeding through integrated policies contributes to improving farmers' welfare and realizing environmental sustainability through agricultural region management.Key words: Rice, breeding, participatory, collaboration, varieties AbstrakSistem pertanian padi telah lama diterapkan dengan pendekatan top-down yang khas. Tingkat kreativitas dan otonomi petani ditentukan oleh input eksternal secara terus menerus. Tantangan utama program pemuliaan padi ialah meningkatkan kualitas varietas untuk dikembangkan di lingkungan khusus dan dapat diterima oleh masyarakat pengguna. Adopsi varietas baru terbatas karena proses pemuliaan belum memperhatikan preferensi petani. Kendala lain yang sering muncul yaitu varietas kurang adaptif pada lingkungan spesifik. Produktivitas varietas bergantung pada pengetahuan petani, fasilitas, dan pengelolaan sumber daya. Makalah ini menggali prinsip pemuliaan padi secara partisipatif dan penerapannya dengan pendekatan komprehensif yang bertujuan utuk mendorong pemberdayaan petani dalam perakitan varietas unggul dan penyediaan benih secara mandiri. Program pemuliaan partisipatif ditawarkan sebagai solusi dalam memahami kebutuhan pertanian berkelanjutan. Keterlibatan petani berfungsi untuk menjaring preferensi dan seleksi galur dengan potensi hasil tinggi dan adaptif lingkungan. Kolaborasi dilakukan melalui uji galur di lahan petani. Pemuliaan desentralisasi juga memperhatikan paradigma agroekologi dalam skala kawasan pertanian. Implementasi pembangunan kawasan pertanian berfungsi melestarikan sumber daya dan lingkungan pertanian berkelanjutan. Partisipasi aktif petani di kawasan pertanian berdampak positif terhadap kelestarian ekosistem, keanekaragaman hayati, dan konservasi lingkungan bagi masa depan. Pemuliaan padi partisipatif melalui kebijakan terintegrasi berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan petani dan mewujudkan kelestarian lingkungan melalui pengelolaan kawasan pertanian.Kata kunci: Padi, pemuliaan, partisipatif, kolaborasi, varietas
KRITERIA AWAL MUSIM TANAM: TINJAUAN PREDIKSI WAKTU TANAM PADI DI INDONESIA Elza Surmaini; Haris Syahbuddin
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n2.2016.p47-56

Abstract

Keragaman curah hujan yang tinggi secara spasial dan temporal akibat variabilitas iklim berpengaruh nyata terhadap produktivitas tanaman. Salah satu upaya yang efektif dan murah untuk menekan risiko terkait keragaman dan iklim ekstrem adalah menyesuaikan waktu tanam. Kriteria yang umum digunakan untuk menentukan awal musim tanam padi di Indonesia adalah awal musim hujan (MH), yaitu jika jumlah curah hujan > 50 mm dalam tiga dasarian berturut-turut. Kriteria lain yang disarankan para pakar adalah jumlah curah hujan selama beberapa hari berturut-turut, yang tidak diikuti oleh beberapa hari kering berturut-turut dalam periode setelahnya. Namun, jumlah hari hujan dan hari kering berturut-turut bervariasi. Sistem informasi untuk penentuan waktu tanam padi di Indonesia adalah Kalender Tanam (Katam). Katam memberikan informasi estimasi awal waktu tanam, potensi luas tanam, rotasi tanaman, dan intensitas tanam pada tingkat kecamatan untuk setiap musim selama satu tahun. Penentuan waktu tanam pada Katam ber-dasarkan kriteria awal MH. Namun, pertumbuhan tanaman tidak hanya ditentukan oleh curah hujan pada waktu tanam, tetapi juga jumlah dan distribusi hujan selama periode tanam. Oleh karena itu, penentuan waktu tanam perlu pula mempertimbangkan distribusi curah hujan selama musim tanam. Kendala penerapan kriteria tersebut adalah belum tersedianya prediksi curah hujan harian 1-2 bulan ke depan yang diinformasikan 1-2 sebelumnya. Namun, dengan menggunakan Global Circulation Model, prediksi curah hujan harian pada musim tanam yang akan datang dapat diberikan tepat waktu.
PEMANFAATAN TANAMAN KENTANG TRANSGENIK RB UNTUK PERAKITAN KENTANG TAHAN PENYAKIT HAWAR DAUN (Phytophthora infestans) DI INDONESIA Alberta D. Ambarwati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v31n3.2012.p%p

Abstract

Hawar daun yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestansmerupakan salah satu penyakit utama pada tanaman kentang.Kehilangan hasil akibat penyakit tersebut berkisar antara 47−100%.Hingga kini pengendalian penyakit hawar daun dilakukan secaraintensif dengan penyemprotan fungisida dosis tinggi. Hal iniberbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia, selain meningkatkanbiaya produksi. Pemanfaatan varietas tahan merupakanalternatif pengendalian yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.Gen ketahanan (gen RB) yang berasal dari spesies liar kentangdiploid Solanum bulbocastanum memiliki spektrum yang luasterhadap P. infestans. Gen ini telah diintroduksikan ke dalamkentang Katahdin melalui transformasi Agrobacterium. Tanamantransgenik Katahdin RB menunjukkan ketahanan yang lebih tinggiterhadap penyakit hawar daun dibandingkan dengan tanaman nontransgenikpada pengujian di rumah kaca dan di lapangan. Untukmendukung program pemuliaan kentang tahan penyakit hawar daundi Indonesia, tanaman transgenik Katahdin RB dapat digunakansebagai sumber ketahanan. Persilangan antara transgenik Katahdin(event SP904 dan SP951) dengan varietas kentang yang rentanterhadap hawar daun (Atlantic dan Granola) menghasilkan klonklonkentang transgenik yang mengandung gen RB. Melaluievaluasi ketahanan klon-klon tersebut terhadap P. infestans dilapangan uji terbatas (LUT) di Pasir Sarongge, Cianjur, diperolehempat klon tahan pada 77 hari setelah tanam atau 21 hari setelahinfeksi, sementara di LUT Lembang didapatkan tiga klon tahanpada 46 hari setelah tanam atau 20 hari setelah infeksi. Sementaraitu, Atlantic dan Granola memerlukan aplikasi fungisida lebih awal,yaitu pada saat muncul gejala infeksi. Klon-klon kentang tahanpenyakit tersebut diharapkan dapat membantu program pemuliaanuntuk perakitan varietas unggul baru yang produktif dan tahanterhadap penyakit hawar daun.
PELUANG PENGEMBANGAN FEROMON SEKS DALAM PENGENDALIAN HAMA ULAT BAWANG (Spodoptera exigua) PADA BAWANG MERAH Yati Haryati; Agus Nurawan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v28n2.2009.p72 -77

Abstract

Prospect of pheromone sex development in controlling Spodoptera exigua on shallotThe main contraint in shallot cultivation is the high incidence of Spodoptera exigua. The pest causes significant damage on plant. To control the pest, farmers commonly use insecticides excessively. The intensive use of insecticides results in inefficiency and polluted environment. Therefore, breakthrough in controlling S. exigua is needed by using sex pheromone. Sex pheromone technology has been developed and tested in laboratory and in field and gave prospective results. Application of sex pheromone decreases the use of insecticide and production cost and increase farmers' income. Therefore, utilization of pheromone sex is prospective to be developed especially in shallot production centers and endemic for S. exigua.
PEMANFAATAN Trichoderma spp. SEBAGAI AGENS PENGENDALI PENYAKIT TANAMAN UNTUK MENDUKUNG BUDI DAYA RAMAH LINGKUNGAN Syahri Syahri; Renny Utami Somantri
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v33n1.2014.p25-34

Abstract

Serangan penyakit tanaman masih menjadi kendala dalam sistem budi daya ramah lingkungan. Penggunaan pestisida sintetis yang berlebihan justru berdampak buruk terhadap organisme sasaran serta kesehatan lingkungan dan manusia. Hal ini makin diperparah dengan penurunan harga jual produk yang tercemar residu pestisida. Salah satu alternatif pengendalian penyakit tanaman untuk mendukung budi daya ramah lingkungan ialah dengan memanfaatkan agens hayati seperti cendawan Trichoderma spp. Cendawan ini dapat mengendalikan beberapa patogen tular tanah seperti Ralstonia solanacearum, Pythium spp., Rhizoctonia solani, Fusarium spp., Botrytis cinerea, Sclerotium rolfsii, dan Sclerotinia homoeocarpa yang umumnya menyerang tanaman pangan dan hortikultura. Trichoderma juga mampu mengendalikan penyakit akar putih karet, busuk pangkal batang kelapa sawit dan kelapa, busuk buah kakao, layu pada tebu, dan berbagai penyakit tanaman perkebunan lainnya. Mekanisme penekanan terhadap patogen dapat melalui mikoparasit, antibiosis, kompetisi, induksi resistensi, serta memacu pertumbuhan tanaman. Perbanyakan dan aplikasi Trichoderma dapat dilakukan dengan berbagai cara yang relatif mudah sehingga cendawan ini berpotensi untuk pengendalian penyakit tanaman.
MANAJEMEN PEMUPUKAN NITROGEN PADA TANAMAN JAGUNG Syafruddin Syafruddin
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n3.2015.p105-116

Abstract

Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas jagung ialahdengan pemupukan sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.Umumnya lahan pengembangan jagung di Indonesia defisiensi haraN sehingga diperlukan tambahan N melalui pemupukan. Manajemenpemupukan N dilakukan dengan memadukan takaran, waktu dancara pemberian sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.Takaran pupuk N untuk tanaman jagung hibrida dengan peluanghasil 9–13 t/ha adalah 160–260 kg N/ha untuk tanah dengan kadarC-organik rendah, 133–233 kg N/ha untuk tanah dengan kandunganC-organik sedang, dan 105–205 kg N/ha untuk tanah dengan kadarC-organik tinggi. Pupuk diberikan secara bertahap, yaitu setengahatau sepertiga dari takaran rekomendasi pada awal tanam (< 10 HST)dan sisanya pada 31–52 HST dengan dibenamkan di dalam tanah.Penggunaan pupuk N perlu mempertimbangkan faktor pembatashara lainnya, terutama P dan K. Oleh karena itu, kecukupan dankeseimbangan pemupukan N, P, dan K sangat penting dalammeningkatkan efisiensi pupuk N. Apabila menggunakan pupuk Norganikatau rotasi tanaman jagung dengan kacang-kacangan,penentuan takaran pupuk N-anorganik perlu mempertimbangkanN dari pupuk organik atau rotasi tanaman. Pemupukan N dapatmenyebabkan pencemaran udara akibat penguapan NH3, N2O, danNO serta pencemaran air tanah akibat pencucian NO3. Untukmengurangi dampak negatif tersebut, diperlukan manajemenpemupukan N yang komprehensif dan pemberian insentif bagipetani yang menggunakan pupuk N-organik, melakukan rotasijagung dengan tanaman kacang-kacangan, atau tumpang sari jagungdengan kacang-kacangan.
Cemaran Mikotoksin, Bioekologi Patogen Fusarium veriticillioides dan Upaya Pengendaliannya pada Jagung Syahrir Pakki
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n1.2016.p11-16

Abstract

Fusarium sp. merupakan salah satu patogen penting pada tanaman jagung di Indonesia, yang menginfeksi batang, tongkol, dan biji jagung di lapangan maupun pada tempat penyimpanan. Cemaran F. verticillioides perlu diwaspadai karena patogen tersebut menghasilkan toksin fumonisin (FB1, FB2, dan FB3). Fusarium sp. terdiri atas enam spesies, dan spesies yang dominan menginfeksi jagung ialah F. verticillioides. Infeksi patogen tersebut pada biji jagung dapat menimbulkan gejala maupun tanpa gejala (symptomless). Pengendalian hayati pada tanaman di lapangan dengan Bacillus amyloliquefaciens, B. mojavensis, dan bahan kimia berbahan aktif asam amonia dan propionat efektif menekan infeksi F. verti