cover
Contact Name
Fenny Sumardiani
Contact Email
jurnallitbang@gmail.com
Phone
+6285712816604
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian Jalan Salak No.22, Bogor 16151 E-mail : jurnallitbang@gmail.com Website : http://bpatp.litbang.pertanian.go.id
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : http://dx.doi.org/10.21082
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian pertanian pangan hortiikultura, perkebunan, peternakan, dan veteriner yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian dan atau ketentuan kebijakan, yang ditujukan kepada pengguna meliputi pengambil kebijakan, praktisi, akademisi, penyuluh, mahasiswa dan pengguna umum lainnya. Pembahasan dilakukan secara komprehensif serta bertujuan memberi informasi tentang perkembangan teknologi pertanian di Indonesia, pemanfaatan, permasalahan dan solusinya. Ruang lingkupnya bahasan meliputi bidang ilmu: pemuliaan, bioteknologi perbenihan, agronomi, ekofisiologi, hama dan penyakit, pascapanen, pengolahan hasil pertanian, alsitan, sosial ekonomi, sistem usaha tani, mikro biologi tanah, iklim, pengairan, kesuburan, pakan dan nutrisi ternak, integrasi tanaman-ternak, mikrobiologi hasil panen, konservasi lahan.
Articles 221 Documents
Penyakit tular tanah (Sclerotium rolfsii dan Rhizoctonia Solani) pada tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian Sumartini .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v31n1.2012.p%p

Abstract

Penyakit tular tanah merupakan salah satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian. Pada umumnya penyakit tular tanah disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani atau Sclerotium rolfsii. Cendawan bertahan hidup di dalam tanah atau sisa-sisa tanaman dalam bentuk hifa atau sklerotia dan bersifat parasit fakultatif. Cendawan juga dapat hidup secara saprofit, dapat bertahan hidup secara terus-menerus meski tanpa tanaman inang. Sklerotia cendawan tahan terhadap keadaan lingkungan kekeringan dan suhu tinggi. Masa dorman cendawan akan berakhir jika kondisi lingkungan cocok untuk perkembangannya. Kedua cendawan tersebut mempunyai kisaran inang yang luas, antara lain padi, kacang hijau, kacang tanah, kedelai, ubi jalar, pisang, jeruk, gandum, keladi, dan kentang. Komponen pengendalian seperti rotasi tanaman, menanam varietas tahan, solarisasi tanah, dan pembajakan yang agak dalam sulit diterapkan di Indonesia. Pengendalian yang mungkin dilakukan adalah mencabut tanaman sakit yang dipadukan dengan aplikasi cendawan antagonis seperti Trichoderma dan Gliocladium, serta bakteri Bacillus, Pseudomonas, Streptomyces, atau Actinomycetes.
Tumbuhan Indonesia Potensial Sebagai Insektisida Nabati Untuk Mengendalikan Hama Kumbang Bubuk Jagung ( Sitophilus Spp.) M. Sudjak Saenong
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 3 (2016): September 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n3.2016.p131-142

Abstract

ABSTRACTIndonesia has an abundant flora diversity. More than 400 thousand species of plants have been identified having chemical compounds and 10 thousand species of them contain secondary metabolites that are potential as a raw material of biopesticide.  The results of the study indicated that secondary metabolite compounds were able to control insect pest population. The nature and mode of action of bio-material in protecting the plants can be as antiphytopathogenic compounds (antibiotics), phytotoxic compoundsor plant growth regulator (phythotoxins, hormones and the like), and active compounds against insects (the hormone of insects, pheromones, antifeedant, repellent, attractant and insecticide). This paper discusses the use of plant-based insecticides for controlling maize weevil (Sitophilus spp.) on corn during storage. In addition to corn, this pest also damages other important food crops such as rice, sorghum and wheat. To overcome this pest, bio-insecticide could be an option. The results showed that secondary metabolites could suppress the development of pest insect populations. The secondary metabolites  in crops include volatile compounds such as essential oils, citral, geraniols, tannins, piperines, acetogenins, azadirachtin, saponin, asarone, akoragermakron, akolamonin, isoakolamin, kalameon, kalamediol, alfamirin, kaemfasterol, salannine, nimbin, nimbidin, acetogenin, and some acidic groups such as cyanide, oleanollel acid and galoyonat acid. Alkaloid almost undetectable in all the tested plants, in addition to other flavonoids that have a direct impact on the lives of insect pests.Keywords: Plants, botanical insecticide, Sitophilus spp., cornAbstrakIndonesia mempunyai keragaman flora yang sangat besar. Lebih dari 400 ribu jenis tumbuhan telah teridentifikasi bahan kimianya dan 10 ribu di antaranya mengandung metabolit sekunder yang potensial sebagai bahan baku pestisida nabati. Hasil-hasil penelitian menunjukkan senyawa metabolit sekunder dapat mengendalikan populasi serangga hama. Sifat dan mekanisme kerja bahan nabati tersebut dalam melindungi tanaman dapat sebagai antifitopatogenik (antibiotik pertanian), fitotoksik atau mengatur pertumbuhan tanaman (fitotoksin, hormon, dan sejenisnya), dan bahan aktif terhadap serangga (hormon serangga, feromon, antifidan, repelen, atraktan, dan insektisida). Tulisan ini membahas pemanfaatan insektisida nabati dalam pengendalian hama kumbang bubuk (Sitophilus spp.) pada jagung selama penyimpanan. Selain pada jagung, hama ini juga merusak komoditas tanaman pangan penting lainnya seperti padi, sorgum, dan gandum. Untuk mengatasi hama tersebut, pemanfaatan insektisida nabati dapat menjadi salah satu pilihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan metabolit sekunder dapat menekan perkembangan populasi serangga hama. Kandungan metabolit sekunder pada tanaman antara lain adalah senyawa atsiri seperti minyak atsiri, sitral, geraniol, tanin, piperin, asetogenin, azadirahtin, saponin, asaron, akoragermakron, akolamonin, isoakolamin, kalameon, kalamediol, alfamirin, kaemfasterol, salanin, nimbin, nimbidin, asetogenin, dan beberapa kelompok asam seperti asam sianida, asam oleanolat, dan asam galoyonat. Komponen alkaloid hampir terdapat dalam semua tanaman yang diuji, selain flavonoid lainnya yang berdampak langsung terhadap kehidupan serangga hama.  
LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS DALAM MENCAPAI SWASEMBADA DAGING SAPI/KERBAU 2014 Rasali H. Matondang; S. Rusdiana
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n3.2013.p131-139

Abstract

Swasembada daging sapi 2014 dapat diwujudkan dengan menetapkankawasan perbibitan sapi nasional, yang meliputi perbibitan danpemuliabiakan sapi melalui program pemurnian sapi lokal danpengembangan bangsa sapi komersial (bakalan), serta pengembangankawasan industri terpadu sapi potong dan wilayah barupeternakan di pulau-pulau kecil. Ketersediaan pakan merupakanaspek krusial dalam budi daya ternak. Untuk menjamin ketahananpakan nasional, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah: 1)pemberlakuan tarif ekspor bahan baku pakan, 2) pembentukaninstitusi penyangga bahan baku pakan, 3) pengembangan sistemkerja sama produksi pakan antarwilayah bagi wilayah padat ternaktetapi tidak memiliki lahan untuk sumber pakan dan sebaliknya, 4)pengembangan zona produksi hijauan pakan di pedesaan dankesehatan hewan, 5) pemetaan dan revitalisasi padang penggembalaandi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan SulawesiSelatan serta wilayah bukaan baru, 6) pengembangan sistem mekanisasipakan, 7) subsidi harga bahan baku pakan, 8) strukturisasi tataniaga bahan baku pakan, dan 9) pengembangan sistem informasipakan nasional. Kelembagaan sangat memengaruhi keberhasilanswasembada daging sapi sehingga koordinasi antarsektor, antardaerah,dan antarpemangku kepentingan yang didukung denganperaturan perundangan sangat diperlukan untuk mendukung upayapeningkatan populasi sapi nasional. Penganekaragaman sumberpangan daging yang proses produksinya memerlukan waktu lebihpendek diharapkan dapat menekan laju pemotongan sapi.
Pengembangan Kedelai Di Papua: Potensi Lahan, Strategi Pengembangan, Dan Dukungan Kebijakan Siti Raodah Garuda; Yuliantoro Baliadi; Martina S. Lestari
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v36n1.2017.p47-58

Abstract

ABSTRACTSoybean is one of startegies and important food crops in Indonesia. Soybean products are used for human consumption, animal feed, and a variety of non-food consumer and industrial products. They are considered a complete source of plant base protein because all of the essential amino acids are supplied. Soybean can be grown in a wide variety of soil and climate. More than 60% of Indonesia’s soybean consumption still needs to be imported from a broad in case of Papua, about 25% soybean demands is originated from Java island. To meet the needs that important to enhance domestic soybean production. There foreadditional plantations will have to be develop outside Java island such as Papua. Papua hasmany assets favouring soybean growing. Notable  among these are significan 2,75 million ha land area. A highly favorable climate with abundant rainfall, farmers with ample know-how, availability high yielding varieties, existing market potential and a satisfactory economic and government institutional support. In the utilization of land farmer’s need to get coaching and accompanied by an intensively both in land preparation, cultivating maintenance harvesting and post-harvesting by agricultural extension by implementing a specific technology innovation particularly good or sertified seeds of high yielding adapted soybean variety. In line with those, the strategy priorties are development of a seed sector, rehabilitation of all the site previously developed for food crops growing areas, agricultural advice, mechanization at production and technology transfer, support for processing and marketing local price.Key words : Land potential, Papua, production, soybean, strategyABSTRAKKedelai adalah salah satu tanaman pangan yang startegis dan penting di Indonesia. Produk kedelai digunakan untuk bahan pangan, pakan ternak, dan berbagai produk olahan dan produk industri. Kedelai merupakan sumber protein nabati lengkap karena semua asam amino esensial yang terkandung didalamnya. Kedelai dapat tumbuh di berbagai kondisi tanah dan iklim. Lebih dari 60% dari konsumsi kedelai di Indonesia masih perlu diimpor dari luar negeri. Di Papua, sekitar 25% kebutuhan kedelai didatangkan dari pulau Jawa. Memenuhi kebutuhan kedelai tersebut yang terpenting adalah meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. Oleh karena itu peningkatan budidaya kedelai perlu dikembangkan di luar pulau Jawa seperti Papua. Papua memiliki potensi yang tinggi untuk pengembangan kedelai. Adanya potensi lahan sekitar 2,75 juta ha, iklim yang sangat menguntungkan dengan curah hujan yang melimpah, tingkat pengetahuan petani yang cukup, ketersediaan varietas unggul, potensi pasar yang menjanjikan, kepuasan ekonomi dan dukungan lembaga pemerintah. Dalam pemanfaatan lahan, petani membutuhkan pembinaan dan pendampingan yang intensif mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen oleh penyuluh pertanian dengan menerapkan inovasi teknologi spesifik lokasi, khususnya benih yang baik atau bersertifikat dari varietas kedelai yang memiliki adaptasi yang tinggi. Sejalan dengan itu, strategi prioritas adalah juga pengembangan melalui sektor perbenihan, perbaikan lahan pengembangan  tanaman pangan terlantar, perluasaan areal tanam, mekanisasi produksi dan transfer teknologi untuk mendukung proses produksi dan pemasaran. Kata kunci : Potensi lahan, Papua, produksi, kedelai, strategi.
Upaya sektor Pertanian dalam Menghadapi Perubahan Iklim Elsa Surmaini; Eleonora Runtunuwu; Irsal Las
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v30n1.2011.p1-7

Abstract

Perubahan iklim (climate change) merupakan hal yang tidak dapat dihindari akibat pemanasan global (global warming) dan diyakini akan berdampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk sektor pertanian. Perubahan pola curah hujan, peningkatan frekuensi kejadian iklim ekstrem, serta kenaikan suhu udara dan permukaan air laut merupakan dampak serius dari perubahan iklim yang dihadapi Indonesia. Pertanian merupakan sektor yang mengalami dampak paling serius akibat perubahan iklim. Di tingkat global, sektor pertanian menyumbang sekitar 14% dari total emisi, sedangkan di tingkat nasional sumbangan emisi sebesar 12% (51,20 juta ton CO2e) dari total emisi sebesar 436,90 juta ton CO2e, bila emisi dari degradasi hutan, kebakaran gambut, dan dari drainase lahan gambut tidak diperhitungkan. Apabila emisi dari ketiga aktivitas tersebut diperhitungkan, kontribusi sektor pertanian hanya sekitar 8%. Walaupun sumbangan emisi dari sektor pertanian relatif kecil, dampak yang dirasakan sangat besar. Perubahan pola curah hujan dan kenaikan suhu udara menyebabkan produksi pertanian menurun secara signifikan. Kejadian iklim ekstrem berupa banjir dan kekeringan menyebabkan tanaman yang mengalami puso semakin luas. Peningkatan permukaan air laut menyebabkan penciutan lahan sawah di daerah pesisir dan kerusakan tanaman akibat salinitas. Dampak perubahan iklim yang demikian besar memerlukan upaya aktif untuk mengantisipasinya melalui strategi mitigasi dan adaptasi. Teknologi mitigasi bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari lahan pertanian melalui penggunaan varietas rendah emisi serta teknologi pengelolaan air dan lahan. Teknologi adaptasi yang dapat diterapkan meliputi penyesuaian waktu tanam, penggunaan varietas unggul tahan kekeringan, rendaman dan salinitas, serta pengembangan teknologi pengelolaan air.
Environmental and Sustainability Issues of Indonesia Agriculture Fahmuddin Agus
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v30n4.2011.p140-147

Abstract

Agriculture in Indonesia intensifies from the swidden to very intensive systems and expands rapidly, including tosteep slopes and peatland areas. These have implications to the environment and the system’s sustainability.Cereal and pulses-based farming systems uses moderate amount of chemicals and thus poses little threats to waterquality. However, these systems encroach into steepland accelerating erosion and depleting soil fertility. Intensivevegetable farming applies around 50 Mg/ha of barnyard manure, 300 kg/ha of N, and high rates of pesticides,posing a threat to water quality in the downstream areas. Plantation develops very rapidly, including to forest andpeatland areas. Conversion, to plantation crops, of forest (with 132300 Mg C/ha) decreases, but of shrub (with1540 Mg C/ha) and Imperata grassland (with < 5 Mg C/ha) increases the carbon stock to 3050 Mg/ha. Thetraditional tree-crop-based agriculture, characterized by a mixture of several species, reduces erosion and maintainsrelatively high carbon stock and biodiversity. Lowland rice (paddy) system, currently covering around 7.9 millionha area, has been practiced sustainably for thousands of years. Despite providing food security and variousenvironmental services, this system is under tremendous pressures of conversion to industrial and settlement areas.Meanwhile, some 20 million ha peatland of Indonesia is being converted at a rate of 1.3% annually for agricultureand silviculture. The carbon-rich land rapidly emits carbon once it is cleared and drained. Indonesian agriculturaldevelopment is challenged by the demand to keep a high level of production with minimal negative impacts to theenvironment. This can be achieved by prioritization of low carbon stock land for agricultural expansion,rationalization of fertilizer application, minimization of intensive agricultural expansion to steepland, andsafeguarding paddy field from conversion.
KARAKTERISTIK GALAKTOMANAN DARI BERBAGAI SUMBER DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN PADA PRODUK PANGAN / The Characteristics of Galactomannan From Various Sources And Its Utiization As An Additives in Food Products Ihsan, Fikratul; Sugiyono, Sugiyono; Suyatma, Nugraha E.
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v41n1.2022.p21-31

Abstract

Galactomannans are water-soluble polysaccharides that can be extracted mainly from endosperm of legume seed. Guar gum, locust bean gum and tara gum are commercial galactomannans extracted from endosperm of legume seed that thrive in India and Pakistan. In the food industry, galactomannan is intentionally added as a thickening agent, emulsion stabilizer and gelling agent. This was due the increased use galactomannan in the food industry. The alternative sources of galactomannan began focused of researches. In Indonesia, galactomannans are extracted from the endosperm of palmae seed such as coconut, kolang-kaling and nipah. The differance of galactomannan source will affect the mannosa and galactosa (M/G) ratio of galactomannan which different result of physical characteristics including solubility, viscosity, emulsion stability, gel forming ability and stability of processing. The application of various galactomannans sources as food additives are influenced by the M/G ratio and galactomannans molecular weight. Galactomannan with weakly galactose ratio such as guar gum (M/G 2:1), tara gum (M/G 3:1) and locust bean gum (M/G 3.5:1) can be used as thickener, syneresis prevention and able to form a gel synergistically with other hydrocolloid, whereas fenugreek (M/G 1:1) which has highly galactose ratio can increase the stability of O/W (oil in water) emulsions in food products. In addition, galactomannan acts as a secondary antioxidant with Fe2+ binding mechanism. This article expose of sources, process of extraction, physical characteristics and recommeds the use of galactomannan from various sources.Keywords: Galactomannan, sources, extraction, characterization, recommendationAbstrakGalaktomanan merupakan polisakarida larut air yang diekstrak dari endosperm biji tanaman leguminase. Guar gum, locust bean gum, dan tara gum adalah galaktomanan komersial yang diekstrak dari endosperm biji tanaman leguminase yang tumbuh subur di India dan Pakistan. Pada industri makanan, galaktomanan sengaja ditambahkan sebagai bahan pengental, penstabil emulsi, dan pembentuk gel. Hal tersebut meyebabkan meningkatnya permintaan industri makanan terhadap galaktomanan komersial. Pengembagan sumber alternatif galaktomanan mulai mejadi fokus penelitian. Di Indonesia, galaktomanan diekstrak dari endosperm biji tanaman palmae seperti bungkil kelapa, kolang-kaling, dan nipah. Perbedaan sumber galaktomanan akan memengaruhi rasio manosa dan galaktosa (M/G) yang mengakibatkan terdapatnya perbedaan karakteristik fisik meliputi kelarutan, kekentalan, stabilitas emulsi, kemampuan membentuk gel, dan stabilitas terhadap kondisi pengolahan. Galaktomanan dengan rasio galaktosa yang rendah seperti guar gum (M/G 2:1), tara gum (M/G 3:1), dan locust bean gum (M/G 3,5:1) dapat digunakan sebagai pengental, mencegah terjadinya sineresis, dan memperbaiki tekstur gel hidrokoloid lain, sedangkan fenugreek gum (M/G 1:1) memiliki rasio galaktosa tinggi yang dapat meningkatkan stabilitas emulsi minyak dalam air (O/W) pada produk pangan. Selain itu, galaktomanan dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan sekunder dengan mekanisme pengikatan logam Fe2+. Artikel ini mengungkap sumber, tahap ekstraksi, karakteristik fisik, dan merekomendasikan penggunaan galaktomanan dari berbagai sumber.Kata kunci: Galaktomanan, sumber, ekstraksi, karakteristik, rekomendasi 
PRODUKSI BENIH PADI HIBRIDA: KEMAJUAN, TANTANGAN, DAN PELUANG PENGEMBANGAN DI INDONESIA / Hybrid Rice Seed Production: Progress, Constraints, and Development Opportunities in Indonesia Yuni Widyastuti; R. Noviadi Prabowo; Bayu P. Wibowo; Nita Kartina; Indrastuti A. Rumanti; Nurwulan Agustiani; Indria W. Mulsanti
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v41n1.2022.p12-20

Abstract

Hybrid seed production is the important key in the commercialization and development of hybrid rice. The successful of hybrid rice development through the exploitation of heterosis phenomenon in China encouraged other countries including Indonesia to develop hybrid rice. Research conducted at Indonesian Center for Rice Research (ICRR) indicated that the development of hybrid rice technology offered opportunities for increasing rice yields by 15-20% compared to inbred varieties. The high cost of hybrid seed is one of the constraints in the adoption of hybrid rice technology. This is primarily attributed to the low hybrid seed yield which is around 1-1.5 t/ha. This article introduces the results of research and development especially in hybrid rice seed production based on genetic of parental lines of hybrid and its field management. The constraints and opportunities of hybrid seed industry in Indonesia also discussed in this article.Keywords: Hybrid rice, seed production, progress, constraint, opportunity. AbstrakProduksi benih merupakan kunci penting dalam keberhasilan komersialisasi dan pengembangan padi hibrida. Keberhasilan Cina mengembangkan padi hibrida dengan memanfaatkan fenomena vigor hibrida (heterosis) telah mendorong negara lain termasuk Indonesia untuk mengembangkannya. Hasil Penelitian di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) menunjukkan penggunaan teknologi padi hibrida memberikan peluang peningkatan hasil 15-20% dibandingkan dengan varietas inbrida. Harga benih yang tinggi menjadi salah satu tantangan dalam adopsi padi hibrida. Hal ini disebabkan oleh produksi benih F1 yang hanya berkisar 1-1,5 t/ha. Artikel ini memaparkan hasil penelitian produksi benih padi hibrida, terutama berdasarkan genetik galur tetua hibrida dan teknis budidaya. Kendala dan peluang industri benih padi hibrida, strategi pengembangan produksi benih dan pembangunan industri benih padi hibrida di Indonesia juga merupakan bagian dari diskusi penting dalam artikel ini.Kata kunci: Padi hibrida, produksi benih, kemajuan, tantangan, pengembangan
PERSPEKTIF KELEMBAGAAN EKONOMI PETANI DALAM MENDUKUNGPERKEMBANGAN PEREKONOMIAN PERDESAAN / Role of Farmers’ Economic Institution in Supporting RuralEconomics Development Cut Rabiatul Adawiyah; S. Rusdiana; Saptana Saptana
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v41n1.2022.p1-11

Abstract

Farmers’ economic institutions have a very important role in thedevelopment of agribusiness, both as a system and as a business.Increasing the competitiveness of agricultural products in the midstof global market competition can be realized through a strategyof transforming farmer institutions towards reliable farmereconomic institutions, agricultural businesses can be managedefficiently with professional human resources and support forconducive government policies, which are expected to produceagricultural and livestock products that are capable of producinghigh quality agricultural products. create added value and strongcompetitiveness, both in domestic and global markets. Developplans for the future so that the farmers’ economy can improve, aswell as look for leverage points that can encourage or triggerfarmers’ welfare. Increased absorption of labor in rural areasencourages other businesses related to agribusiness and theprovision of infrastructure to support economic progress in thecommunity. Institutional support for farmer groups that have beendeveloped is more oriented to agricultural businesses, to produceproducts and strengthen community economic networks based onlocal resources. The agricultural sector during the Covid-19pandemic can actually be used as a strategy for recovery and atthe same time provides the basis for the development of the realsector of economic progress. Strengthening the economy of farmerscan be pursued through support for strengthening farmerinstitutions, guidance, counseling, capital assistance, agriculturalfacilities and facilities, availability and access to input and outputmarkets, as well as policy support and facilitation of central andregional governments.Keywords: Agricultural institutions, perspective, rural, farmer’s economy AbstrakKelembagaan ekonomi petani mempunyai peranan yang sangatpenting dalam pengembangan agribisnis, baik sebagai sistemmaupun usaha. Peningkatan daya saing produk pertanian di tengahpersaingan pasar global dapat diwujudkan melalui strategitranformasi kelembagaan petani ke arah kelembagaan ekonomipetani yang andal, usaha pertanian dapat dikelola secara efisiendengan SDM profesional dan dukungan kebijakan pemerintah yangkondusif, diharapkan dapat menghasilkan produk pertanian danpeternakan yang mampu menciptakan nilai tambah dan daya saingyang kuat, baik di pasar domestik maupun global. Menyusun rencanauntuk ke depan agar perekonomian petani meningkat, sekaligusmencari titik ungkit yang dapat mendorong atau memicukesejahteraan petani. Peningkatan serapan tenaga kerja diperdesaan mendorong usaha-usaha lain yang berkaitan denganagribisnis dan penyediaan prasarana sebagai pendukung kemajuanperekonomian di masyarakat. Dukungan kelembagaan kelompokpetani yang dikembangkan lebih berorientasi pada usaha pertanian,untuk menghasilkan produk dan memperkuat jaringan ekonomikerakyatan berbasis sumber daya lokal. Sektor pertanian pada masapandemi Covid-19 sesungguhnya dapat dijadikan salah satustrategi untuk pemulihan dan sekaligus memberikan landasaanperkembangan sektor riil kemajuan perekonomian. Penguatanekonomi petani dapat diupayakan melalui dukungan penguatankelembagaan petani, bimbingan, penyuluhan, bantuan permodalan,sarana dan sarana pertanian, ketersediaan dan akses ke pasar inputdan output, serta dukungan kebijakan dan fasilitasi pemerintahpusat dan daerah.Kata Kunci: Kelembagaan pertanian, perspektif, perdesaan,ekonomi petani
PENGELOLAAN HARA MIKRO ZN DALAM TANAH UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN/Management of Micro Zink Nutrition in Soil to Improve Plant Quality and Productivity Mirawanty Amin; Herlina N Salamba; Asnawi Asnawi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v41n1.2022.p32-43

Abstract

Zinc (Zn) is a micronutrient that has an important role in various physiological and photosynthetic processes of plants. However the important role of Zn has not yet been concidered. This paper discussed the source of Zn and its availability in the soil, the important role of Zn in plants and strategies to overcome Zn deficiency in the soil. Zn has an important role in increasing crop production and yield quality. Zn nutrients in soil derived from parent material with an average content of 78 mg/kg. The low Zn level in the soil causes stunted plant and low crop yields. Zinc deficiency in plants resulted leaf chlorosis, necrotic spots on leaves, stunted plants, deformed and stunted leaves. Zn deficiency in soil can cause yield loss up to 40% without the appearance of leaf symptoms. Plants absorb Zn in the form of Zn2+. Soils in Indonesia have low Zn content so that production and quality of crops are low. Zn plays an important role in plant growth, gene expression, enzyme structure, photosynthesis, pollen development, sugar transformation, protein synthesis, membrane permeability, signal transduction and auxin metabolism, and increasing maturation of seeds and stems. The critical limit of soil Zn for most plants ranges from 0.5-2.0 mg Zn/kg for DTPA extractant, while the critical limit in plant tissue is 20 mg Zn/kg. The management of Zn nutrients needs to be considered, although it is needed only in small amounts. Without Zn nutrient management, its concentration in soil will continuously decreased. Management strategies in overcoming low Zn availability in plants are application of fertilizer containing Zn and the use of varieties that have high Zn content. The application of ZnSO4 of 60 kg/ha can increased the yield of grain, straw, number of tillers, plant height and weight of 1000 grains in rice plants. The treatment of soaking rice seeds in a solution of 0.05% ZnSO4 for ± 5 minutes + 100 kg TSP/ha was the best treatment giving the highest grain weight in Grumusol and Alluvial.Keywords: Micronutrients Zn, deficiency, management AbtrakHara mikro Zn memiliki peranan penting dalam berbagai proses fisiologis dan fotosintesis untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman, namun belum mendapatkan perhatian. Naskah ini membahas sumber Zn dan ketersediannnya pada tanah, peranan penting hara Zn pada tanaman, dan strategi mengatasi kekurangan Zn dalam tanah. Hara Zn dalam tanah berasal dari batuan bahan induk tanah dengan kandungan rata-rata 78 mg/kg. Kadar Zn yang rendah di tanah menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan hasil rendah. Kekurangan Zn pada tanaman menyebabkan klorosis dan bintik-bintik nekrotik pada daun, pertumbuhan kerdil, dan daun cacat. Pada tanah yang kekurangan Zn, tanaman dapat mengalami kehilangan hasil hingga 40% tanpa gejala pada daun. Tanaman menyerap Zn dalam bentuk Zn2+. Tanah di Indonesia memiliki kandungan Zn yang rendah sehingga produksi dan kualitas tanaman rendah. Zn berperan penting dalam pertumbuhan tanaman, ekspresi gen, struktur enzim, fotosintesis, perkembangan polen, transformasi gula, sintesis protein, permeabilitas membran, transduksi sinyal, metabolisme auksin, pematangan biji dan batang. Batas kritis Zn dalam tanah untuk sebagian besar tanaman berkisar antara 0,5-2,0 mg Zn/kg untuk pengekstrak DTPA, sedangkan batas kritis pada jaringan tanaman 20 mg Zn/kg. Meskipun diperlukan tanaman dalam jumlah yang kecil, hara Zn perlu dikelola dengan baik. Strategi pengelolaan hara Zn agar selalu tersedia di tanah adalah melalui pemupukan dan penggunaan varietas yang mengandung Zn tinggi. Pemberian ZnSO4 60 kg/ha dapat meningkatkan hasil gabah, jerami, jumlah anakan, tinggi tanaman, dan bobot 1.000 butir tanaman padi. Perlakuan perendaman bibit padi dalam larutan 0,05% ZnSO4 selama ± 5 menit + 100 kg TSP/ ha memberikan bobot gabah tertinggi pada Grumusol dan Aluvial.Kata kunci: Hara mikro Zn, defisiensi, pengelolaan