cover
Contact Name
Fenny Sumardiani
Contact Email
jurnallitbang@gmail.com
Phone
+6285712816604
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian Jalan Salak No.22, Bogor 16151 E-mail : jurnallitbang@gmail.com Website : http://bpatp.litbang.pertanian.go.id
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : http://dx.doi.org/10.21082
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian pertanian pangan hortiikultura, perkebunan, peternakan, dan veteriner yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian dan atau ketentuan kebijakan, yang ditujukan kepada pengguna meliputi pengambil kebijakan, praktisi, akademisi, penyuluh, mahasiswa dan pengguna umum lainnya. Pembahasan dilakukan secara komprehensif serta bertujuan memberi informasi tentang perkembangan teknologi pertanian di Indonesia, pemanfaatan, permasalahan dan solusinya. Ruang lingkupnya bahasan meliputi bidang ilmu: pemuliaan, bioteknologi perbenihan, agronomi, ekofisiologi, hama dan penyakit, pascapanen, pengolahan hasil pertanian, alsitan, sosial ekonomi, sistem usaha tani, mikro biologi tanah, iklim, pengairan, kesuburan, pakan dan nutrisi ternak, integrasi tanaman-ternak, mikrobiologi hasil panen, konservasi lahan.
Articles 221 Documents
POTENSI, KENDALA DAN PELUANG PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KELAPA RAKYAT DI KABUPATEN SARMI, PAPUA/Potentials, Constraints and Opportunities of Community Coconut Agribusiness Development In Sarmi District, Papua Sri Wahyuni Manwan; Martina Sri Lestari; Ghalih Priyo Dominanto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v41n1.2022.p44-54

Abstract

Sarmi Regency is a coconut producer with a productive plant area of 5,085 ha or 19.9% of the total coconut area in Papua Province covering an area of 25,585 ha in 2019. There was an increase in land area of 60.96% from the previous year, but this increase was not accompanied by a significant increase in productivity. The low productivity is caused mostly by old coconut plants, not using high yielding varieties of coconut and maintenance activity not using cultivation technology. Nowadays, coconut productivity in Sarmi Regency is only 0.22 tons/ha, under the national coconut productivity 1.1 tons/ha. This paper discusses the prospects, constraints, and opportunities for developing coconut farming in Sarmi Regency, Papua. The area of coconut plantations in Sarmi Regency, coconut trees are only 60.6% productive, of which the rest is immature plantations, damaged plants and new plants. The existence of a large area of land is an opportunity for the development of smallholder coconut plantations in Sarmi Regency, Papua. The use of quality seeds and proper cultivation management is a necessity in increasing coconut production and agribusiness. Constraints faced in coconut agribusiness are the low productivity of smallholder coconut, post-harvest is not optimal, and production has not been able to be absorbed by the local market. The income per farmer in one coconut harvest is Rp. 600,449,- copra income Rp. 900,766,- and the income from coconut oil production is Rp. 1,000,871,-. The results of the feasibility calculation analysis show that the potential of smallholder coconut farming products in Sarmi Regency has an R/C ratio > 1, 1.71 (coconuts), 1.06 (copra) and 1.03 (coconut oil). Coconut agribusiness development strategy, namely the support of infrastructure to support the development of smallholder coconut plantations; Innovation in seed technology, cultivation, harvest and postharvest management; Empowerment and development of farmers; development of marketing networks through institutional participation.Keywords: Coconut, agribusiness, development AbstrakKabupaten Sarmi termasuk penghasil kelapa dengan luas areal tanaman produktif 5.085 ha atau 19,9% dari total areal kelapa di Provinsi Papua seluas 25.585 ha pada tahun 2019. Terjadi peningkatan luas areal pertanaman kelapa 60,96% dari tahun sebelumnya, namun tidak disertai dengan peningkatan produktivitas yang signifikan. Rendahnya produktivitas kelapa karena sebagian besar sudah tua, tidak berasal dari bibit unggul, dan tidak menerapkan teknologi dalam perawatan tanaman. Hingga saat ini produktivitas kelapa di Kabupaten Sarmi hanya 0,22 t/ha, jauh lebih rendah dari produktivitas nasional yang mencapai 1,1 t/ha. Makalah ini membahas prospek, kendala, dan peluang pengembangan usahatani kelapa di Kabupaten Sarmi, Papua. Areal perkebunan kelapa yang produktif di daerah ini hanya 60,6%, sisanya tanaman belum menghasilkan, rusak, dan baru. Lahan yang masih luas menjadi peluang pengembangan perkebunan kelapa rakyat di Kabupaten Sarmi, Papua. Penggunaan bibit berkualitas dan pengelolaan budidaya yang tepat menjadi keniscayaan dalam meningkatkan produksi dan agribisnis kelapa. Kendala yang dihadapi dalam agribisnis kelapa ialah rendahnya produktivitas kelapa rakyat, pascapanen tidak optimal, dan produksi belum mampu diserap pasar setempat. Pendapatan petani dari sekali panen buah kelapa adalah Rp 600.449, pendapatan dari kopra Rp 900.766, dan pendapatan dari produk minyak kelapa Rp 1.000.871. Hasil analisis menunjukkan, produk usahatani kelapa rakyat di Kabupaten Sarmi mempunyai R/C ratio 1,71 dalam bentuk buah kelapa, 1,06 dalam bentuk kopra, dan 1,03 dalam bentuk minyak kelapa. Artinya, produk kelapa dalam bentuk buah yang layak. Pengembangan agribisnis kelapa memerlukan dukungan sarana prasarana pendukung, inovasi teknologi perbenihan, budidaya, pengelolaan panen dan pascapanen. Selain itu diperlukan pemberdayaan dan pembinaan petani serta pengembangan jejaring pemasaran melalui kelembagaan.Kata kunci: Kelapa, agribisnis, pengembangan
PERANAN SIFAT FISIKOKIMIA GANDUM DALAM DIVERSIFIKASI PANGAN DAN PROSPEK PENGEMBANGANNYA Suarni Suarni; Herman Subagio
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v33n4.2014.p149-158

Abstract

Gandum memiliki kelebihan dibanding serealia lainnya, antara lain mengandung gluten. Gluten bersama pati gandum dapat membentuk struktur dinding sel (building block) sehingga menghasilkan adonan yang elastis dan mengembang. Gandum memiliki komponen gizi dan fungsional yang relatif tinggi dan spesifik. Tepung gandum mudah diolah menjadi berbagai produk pangan olahan terutama roti, mi, dan sejenisnya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah menghasilkan beberapa varietas unggul gandum subtropis yang dapat dikembangkan pada lahan yang sesuai. Gandum produksi Indonesia dapat mensubstitusi terigu yang bukan termasuk kategori prima seperti gandum impor. Gandum produksi Indonesia sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan olahan terigu seperti untuk gorengan, cookies, puding, dan sejenisnya. Upaya ini diharapkan mampu mengurangi impor gandum yang terus meningkat setiap tahun.
Analisis Pendapatan Usaha Tani dan Penanganan Pascapanen Cabai Merah Muh Taufik
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v30n2.2011.p66-72

Abstract

Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kegiatan usaha tani dan penanganan pascapanen cabai merah untukmeningkatan nilai jual dan daya simpan dalam upaya menunjang penyediaan bahan baku industri dan meningkatkanpendapatan petani. Analisis menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwakomoditas cabai merah berciri komersial dan memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Pada lahan kering, tingkatproduktivitas varietas Tombak mencapai 6 t/ha, varietas Tanjung-2 5,70 t/ha, dan varietas Lembang-1 4,50 t/ha.Biaya produksi ketiga varietas tersebut masing-masing Rp10,15 juta/ha, dengan tingkat pendapatan Rp21,77 jutauntuk varietas Tombak, Rp19,74 juta untuk Tanjung-2, dan Rp11,20 juta untuk Lembang-1. Pengusahaan ketigavarietas tersebut layak secara teknis dan ekonomis dengan B/C masing-masing 3,14; 2,94; dan 2,10. Penggunaanmulsa dapat meningkatkan pendapatan petani, yaitu Rp10,38 juta untuk mulsa plastik hitam, Rp7,34 juta untukmulsa jerami padi, dan Rp3,64 juta/ha untuk mulsa sekam. Namun, hanya mulsa plastik hitam dan jerami padi yanglayak secara ekonomi dengan B/C masing-masing 1,68 dan 1,27. Penanganan pascapanen cabai masih sederhanasehingga tingkat kerusakannya cukup tinggi, mencapai 40%. Oleh karena itu, penanganan pascapanen cabai merahperlu diperbaiki mulai dari panen, pengemasan, pengangkutan hingga penyimpanan untuk meningkatkan dayasimpan, nilai jual produk, dan pendapatan petani.
Kontaminasi Mikotoksin pada Buah Segar dan Produk Olahannya serta Penanggulangannya Miskiyah Miskiyah; Christina Winarti; Wisnu Broto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n3.2010.p79-85

Abstract

Indonesia merupakan negara tropis yang memungkinkan aneka tanaman buah tumbuh dan berproduksi. Penerapan teknologi produksi dan penanganan pascapanen yang kurang memadai akan mengakibatkan inkonsistensi mutu buah yang dihasilkan. Kontaminasi mikotoksin merupakan salah satu masalah pascapanen produk pertanian di Indonesia. Penelitian mengenai kontaminasi mikotoksin pada komoditas buah di Indonesia belum banyak diungkapkan, namun penelitian sejenis sudah banyak dipublikasikan di luar negeri, terutama kontaminasi mikotoksin pada aneka buah subtropis. Beberapa jenis mikotoksin yang umumnya mencemari aneka buah subtropis dan produk olahannya adalah patulin, aflatoksin, okratoksin, dan alternariol. Genus kapang yang teridentifikasi pada buah dan berpotensi menghasilkan mikotoksin antara lain adalah Fusarium sp., Aspergillus sp., Penicillium sp., dan Alternaria sp. Penanganan pascapanen buah merupakan salah satu titik kritis terjadinya infeksi kapang penghasil mikotoksin. Penanganan buah seperti pemanenan yang tepat, penanganan pascapanen yang baik, pembuangan kotoran, dan pencucian dapat menurunkan tingkat kontaminan pada buah segar. Pada buah olahan seperti sari buah, untuk menurunkan kontaminan dapat dilakukan dengan penghilangan bagian buah yang berkapang, perlakuan enzim, dan penjernihan.
POTENSI PENGEMBANGAN JAGUNG DAN SORGUM SEBAGAI SUMBER PANGAN FUNGSIONAL Suarni .; Herman Subagio
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n2.2013.p47-55

Abstract

Jagung dan sorgum merupakan serealia penting karena selain sebagai sumber karbohidrat, juga kaya akan komponen pangan fungsional. Berbagai  antioksidan, unsur mineral terutama Fe, serat makanan, oligosakarida, -glukan yang merupakan komponen karbohidrat non-starch  polysaccharides (NSP) terkandung dalam biji jagung dan sorgum yang potensial sebagai sumber pangan fungsional. Jagung mengandung lemak  esensial omega 3 dan 6, lisin, dan triptofan tinggi (QPM). Sementara sorgum mengandung tanin dan asam pitat yang memiliki efek negatif maupun positif bagi kesehatan. Sifat antioksidan tanin lebih tinggi dibanding vitamin E dan C, demikian juga antosianin sorgum lebih stabil. Kedua komoditas pangantersebut mempunyai kesamaan dan kelebihan dalam kandungan komponen pangan fungsional. Selama ini, diversifikasi pangan berbasis jagung dan sorgum hanya sebatas sumber karbohidrat, tetapi ke depan dapat menjadi komponen pangan fungsional. Peluang pasar pangan fungsional di Indonesia makin terbuka seiring dengan perubahan gaya hidup dan pola makan yang mengarah hidup sehat.
KARAKTERISTIK DAN PERMASALAHAN TANAH MARGINAL DARI BATUAN SEDIMEN MASAM DI KALIMANTAN Nata Suharta
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n4.2010.p139-146

Abstract

Characteristics and problems of marginal soils from acid sedimentary rocks in KalimantanMarginal or suboptimal soils are potential for agricultural development such as food crops, estate crops, and industrial planted forest. These soils have low fertility status and susceptible to erosion. In Kalimantan, the marginal soils cover about 30.15 million ha or 57.22% of the total island area, with the major soils consist of Ultisols, few Oxisols, and Inceptisols. The physical properties of marginal soils from acid sedimentary rock are mostly influenced by the type of parent materials ( sandstone or claystone ) , while the chemical properties showed the similar characteristics indicating acid soil reaction, vary in organic matter, and low in cation exchange capacity, exchangeable bases, base saturation, mineral reserve, as well as P and K potentials, but the Al saturation is high. Agricultural development on these soils, other than the physical and chemical properties, should consider the relief condition. The areas with flat to undulating relief are recommended for perennial or food crops, while the annual or estate crops and industrial planted forest can be developed until the hilly area. Land management such as fertilization to improve nutrient status, liming to increase soil reaction and to decrease Al reactivity, and soil conservation practice were recommended. In this time, most of the marginal soils were utilized for estate crops development, such as oil palm, rubber, pepper, and industrial planted forest, and only a limited area for food crops.Keywords: Marginal soil, acid sedimentary rock, Ultisols, Oxisols, Inceptisols, Kalimantan
PEMANFAATAN BUAH KAKAO SEBAGAI BAHAN BAKU BIOINDUSTRI DI INDONESIA Titiek F. Djaafar; Retno Utami Hatmi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v33n2.2014.p69-78

Abstract

Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan dan memiliki peranan cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai komoditas bioindustri untuk meningkatkan nilai tambah dan menyediakan lapangan kerja, sumber pendapatan, dan devisa negara. Sumbangan devisa dari kakao mencapai US$1,05 miliar. Tulisan ini menyajikan ulasan tentang kakao sebagai komoditas bioindustri Indonesia. Semua bagian buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan, pupuk maupun bahan bakar. Biji kakao dapat diolah menjadi biji kakao fermentasi yang selanjutnya diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman. Pulp buah kakao dapat diolah menjadi nata de cacao, sedangkan kulitnya dapat diolah menjadi pakan, bioetanol/biogas, dan pupuk organik. Biji kakao mengandung senyawa polifenol dari jenis flavanol dan flavonol yang memiliki peran penting bagi kesehatan.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI SEKUENSING GENOM UNTUK MEMPERCEPAT PROGRAM PEMULIAAN TANAMAN I Made Tasma
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n4.2015.p159-168

Abstract

Sumber daya genetik (SDG) tanaman menyediakan materi dasar untuk program pemuliaan tanaman. Namun, baru sebagian kecil (<1%) koleksi SDG yang dimanfaatkan untuk pemuliaan tanaman. Karakterisasi SDG sudah banyak dilakukan dengan menggunakan karakter morfologi, namun metode ini lambat, menyita waktu, dan memerlukan banyak tenaga. Teknologi sekuensing modern menghasilkan peta genom rujukan suatu spesies tanaman yang   dapat mempercepat karakterisasi SDG menggunakan teknik next generation sequencing (NGS). Tulisan ini mengulas pemanfaatan teknologi sekuensing genom untuk karakterisasi, proteksi, dan pemanfaatan SDG untuk mempercepat program pemuliaan tanaman. Di Indonesia, teknologi NGS telah dimanfaatkan sejak 2010 untuk resekuensing genom komoditas unggulan nasional seperti kedelai, kakao, jagung, dan cabai merah. Jutaan SNP dan Indel telah diidentifikasi pada setiap komoditas sebagai sumber daya pemuliaan yang bernilai tinggi. Sebagian kecil SNP/Indel tersebut berada pada protein coding region yang potensial untuk penemuan gen-gen unggul. Selain SNP yang diidentifikasi pada semua genotipe, ditemukan SNP pada genotipe tertentu (SNP unik). Koleksi SNP dalam jumlah besar ini digunakan untuk mensintesis SNP chip untuk genotyping SDG secara cepat dan komprehensif. Didukung data fenotipe, SNP chip bermanfaat untuk melabel gen-gen unggul. Marka SNP yang berpautan dengan karakter unggul digunakan untuk menyeleksi individu pembawa karakter unggul tersebut. Dengan teknologi NGS, perakitan VUB tanaman dapat dilakukan lebih cepat, akurat, dan efisien. Dengan demikian, teknologi NGS dapat memfasilitasi karakterisasi dan pemanfaatan SDG untuk mem-percepat program pemuliaan tanaman.
Peluang Perakitan dan Pengembangan Kedelai Toleran Genangan Ratri Tri Hapsari; M. M. Adhie
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n2.2010.p%p

Abstract

Sekitar 60% produksi kedelai nasional dihasilkan dari lahan sawah. Namun, budi daya kedelai di lahan sawah menghadapi berbagai masalah, antara lain cekaman genangan. Genangan menyebabkan penuaan dini sehingga daun klorosis, nekrosis, dan gugur serta pertumbuhan tanaman terhambat, yang pada akhirnya menurunkan hasil. Umumnya kehilangan hasil pada fase vegetatif lebih kecil dibandingkan pada fase reproduktif, yaitu 1743% pada fase vegetatif dan 5056% pada fase reproduktif. Besarnya penurunan hasil bergantung pada varietas kedelai yang ditanam, fase pertumbuhan tanaman, lamanya tergenang, tekstur tanah, dan kehadiran penyakit. Tersedianya varietas kedelai toleran genangan akan memberikan arti penting bagi upaya mempercepat peningkatan produksikedelai dalam negeri. Pengembangan kedelai toleran genangan tidak hanya bermanfaat dalam pengembangan kedelai di lahan sawah, tetapi juga wilayah yang sering mengalami cekaman genangan seperti lahan pasang surut. Luas lahan pasang surut di Indonesia mencapai 20,10 juta ha, sekitar 2030% di antaranya berpotensi sebagai lahan pertanian. Program perakitan varietas kedelai toleran genangan berpeluang dilakukan jika tersedia sumber gen dan metode skrining yang sederhana, mudah, dan cepat. Karakter morfologi dan fisiologi yang dapat secara cepat mendeteksi indikator toleransi kedelai terhadap genangan adalah perkecambahan, tinggi tanaman, perubahan warna daun menjadi kuning, kehadiran akar adventif, bobot kering akar, penutupan stomata, dan kadar N total. Kerja sama dengan lembaga internasional terutama dalam pertukaran sumber gen akan mempercepat program pemuliaan kedelai toleran genangan.
PERUBAHAN KUALITAS SUSU PASTEURISASI DALAM BERBAGAI JENIS KEMASAN Indrie Ambarsari; Qanytah .; Tri Sudaryono
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n1.2013.p10-19

Abstract

Susu pasteurisasi merupakan salah satu produk olahan susu cair yang banyak dikonsumsi masyarakat. Susu pasteurisasi bersifat mudah rusak sehingga umur simpannya pendek. Teknologi pengemasan memegang peranan penting dalam memperpanjang masa simpan produk. Berbagai jenis kemasan digunakan untuk mengemas susu, seperti botol gelas,  kotak karton, dan kemasan dari plastik. Setiap bahan kemasan memiliki keunggulan dan kelemahan. Kemasan yang baik dapat menghambat perubahan kualitas susu pasteurisasi selama penyimpanan, baik dari segi mikrobiologi, kimia, maupun sensoris. Paparan cahaya pada kemasan akan memicu terjadinya oksidasi lipida, kehilangan riboflavin, dan  kerusakan flavor pada susu pasteurisasi. Oleh karena itu, penggunaan kemasan yang dapat menangkal cahaya dapat menghambat kerusakan susu pasteurisasi selama penyimpanan. Namun, kemasan bukan  satu-satunya faktor yang menentukan kualitas susu pasteurisasi. Kualitas dan komposisi bahan baku serta migrasi senyawa yang terdapat pada kemasan ke dalam susu yang dikemas juga menentukan kualitas susu pasteurisasi.