cover
Contact Name
Ervina Julien Sitanggang
Contact Email
ervinajulien@gmail.com
Phone
+628122419449
Journal Mail Official
editorial.njm@uhn.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nommensen Jalan Sutomo No. 4A Medan
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Nommensen Journal of Medicine
ISSN : 24601616     EISSN : 26862565     DOI : https://doi.org/10.36655/njm.v5i2
Core Subject : Health, Science,
Nommensen Journal of Medicine (NJM) memuat artikel penelitian (research article), artikel review, dan laporan kasus (case report) di bidang kedokteran.
Articles 93 Documents
Pengaruh Media Sosial, Persepsi Penyembuhan, dan Perilaku Self-Medication terhadap Terjadinya Akne Vulgaris Panjaitan, Joice Sonya Gani; Suhartomi, Suhartomi; Panjaitan, Rudyn Raymond
Nommensen Journal of Medicine Vol 11 No 1 (2025): Nommensen Journal of Medicine Edisi: Agustus 2025
Publisher : Universitas HKBP Nommensen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36655/njm.v11i1.1937

Abstract

Latar belakang: Akne vulgaris sebagai suatu bentuk peradangan kronis pada kelanjar sebasea yang dapat terjadai pada kelompok usia produktif terutama mahasiswa. Pada era digitalisasi saat ini, aksestabilitas media sosial yang mudah dan cepat berkontribusi dalam peningkatan perilaku self medication. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan paparan media sosial, perilaku swamedikasi, dan persepsi kesembuhan swamedikasi terhadap kejadian akne vulgaris. Metode: Penelitian obervasional ini menggunakan model case-control pada sekitar 190 orang mahasiswa maupun mahasiswi di Program Studi Pendidikan Dokter Umum Fakultas Kedokteran, Universitas HKBP Nommensen yang dipilih melalui simple random sampling. Variabel penelitian yang diukur dalam penelitian ini meliputi umur, jenis kelamin, paparan media sosial, Self-Medication, serta persepsi kesembuhan. Analisa data dalam penelitian ini diawali dengan analisa statistic deskriptid, kemudian diikuri dengan chi square dan data penelitian yang memiliki hubungan yang secara statistic signfikan pada chi square kemudian dimasukan dalam model regresi logistic. Hasil: Paparan sosial media (Nilai P: 0.020; Unadjusted OR [IK95%]:2.357 [1.132-4.909]; Adjusted OR [IK95%]: 0.577 [0.262-1.270]), perilaku self medication (Nilai P: 0.001; Unadjusted OR [IK95%]: 3.272 [1.630-6.569]; Adjusted OR [IK95%]: 0.497 [0.175-1.414]), dan persepsi kesembuhan swamedikasi (Nilai P: 0.001; Unadjusted OR [IK95%]: 2.773 [1.509-5.099]; Adjusted OR [IK95%]: 0.633 [0.246-1.629]) secara terpisah menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap terjadinya akne vulgaris. Namun, ketiga faktor tersebut tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap terjadinya akne vulgaris pada model regresi logistic
ICU dan Non-ICU MRSA: Kejadian dan Faktor Risiko di Rumah Sakit Tersier Tarigan, Junita; Putri, Maulinda; Suhartomi, Suhartomi; Sitompul, Owen
Nommensen Journal of Medicine Vol 11 No 1 (2025): Nommensen Journal of Medicine Edisi: Agustus 2025
Publisher : Universitas HKBP Nommensen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36655/njm.v11i1.1939

Abstract

Background: Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) is a major nosocomial pathogen that is resistant to penicillin-class antibiotics and poses a serious threat to healthcare facilities. Its global prevalence reached 30% in 2020, while in Indonesia it ranges from 0.3% to 52%, with the highest rate reported in Jakarta. Objective: To compare the incidence and risk factors of MRSA among patients in the Intensive Care Unit (ICU) and general wards (non-ICU) at RSUP Haji Adam Malik Medan, during 2022–202. Methods: A cross-sectional study was performed on 569 patients in ICU and non-ICU wards with culture examinations performed from January 2022 to December 2023. Bivariate analysis was conducted for nine independent variables, followed by multivariate logistic regression for variables with p-values < 0.25. Results: From 18,121 culture examinations, 569 isolates of Staphylococcus aureus were identified. MRSA incidence was higher in non-ICU wards (246 of 441 isolates; 55.7%) than in the ICU (63 of 128 isolates; 49.2%). Statistically significant risk factors differed between the two groups: in ICU patients, only diabetes mellitus (OR 2.50; p = 0.017) was significant; while in non-ICU patients, chronic kidney disease (OR 0.644; p = 0.037) and a history of prior antibiotic use (OR 3.037; p = 0.011) were significant factors. Additionally, 4.21% of all isolates were confirmed as VRSA. Conclusion: MRSA incidence was higher among patients in non-ICU wards. The main risk factors differed between units: diabetes mellitus was prominent among ICU patients, whereas chronic kidney disease and previous antibiotic use played a role among non-ICU patients. These differences highlight the need for infection prevention and control strategies tailored to the specific risk profiles of each care unit.
Hubungan Antara Pola Tidur Dan Kesehatan Mental Pada Mahasiswa Kedokteran Selama Masa Studi Klinis Br. Sebayang, Julenda Irianti
Nommensen Journal of Medicine Vol 11 No 1 (2025): Nommensen Journal of Medicine Edisi: Agustus 2025
Publisher : Universitas HKBP Nommensen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36655/njm.v11i1.1957

Abstract

Background: Sleep is an essential biological function crucial to mental health and cognitive performance. Medical students undergoing clinical rotations are often exposed to irregular schedules that impair sleep patterns. This disruption can exacerbate psychological distress and academic decline. Objective: This study aims to explore the relationship between sleep patterns and mental health among medical students during clinical rotation periods. Methods: A qualitative descriptive phenomenological approach was employed. Fifteen medical students in clinical rotations at the Faculty of Medicine, Universitas HKBP Nommensen Medan, were selected through purposive sampling. Data were collected using in-depth semi-structured interviews and analyzed using thematic analysis. Results: The majority of participants reported significant disruption in sleep duration, quality, and rhythm. Most slept less than five hours on duty days, and experienced fatigue, mood disturbances, impaired concentration, and emotional instability. Several participants developed maladaptive coping mechanisms and reported symptoms of anxiety, depersonalization, and hopelessness. Disconnection from spiritual, social, and academic life was noted. Clinical rotation demands and unsupportive institutional environments were identified as key stressors affecting sleep and mental health. Conclusion: Disturbed sleep patterns among medical students during clinical rotations are strongly associated with adverse mental health outcomes. Sleep deprivation acts as both a symptom and a contributing factor to psychological distress, calling for systemic awareness in medical education design. Keywords: sleep quality, medical students, clinical rotation, mental health, psychological distress ABSTRAK Latar Belakang: Tidur merupakan fungsi biologis penting yang berperan besar dalam menjaga kesehatan mental dan fungsi kognitif. Mahasiswa kedokteran yang menjalani rotasi klinik sering menghadapi jadwal tidak teratur yang mengganggu pola tidur, sehingga meningkatkan risiko tekanan psikologis dan penurunan akademik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara pola tidur dan kesehatan mental pada mahasiswa kedokteran selama masa rotasi klinik. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi deskriptif kualitatif. Sebanyak lima belas mahasiswa klinik Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nommensen Medan dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil: Sebagian besar partisipan mengalami gangguan signifikan pada durasi, kualitas, dan ritme tidur. Mayoritas tidur kurang dari lima jam saat jadwal jaga, serta mengalami kelelahan, gangguan emosi, kesulitan konsentrasi, dan ketidakstabilan psikologis. Beberapa mengembangkan mekanisme koping maladaptif dan menunjukkan gejala kecemasan, depersonalisasi, serta kehilangan harapan. Terdapat keterputusan dari kehidupan spiritual, sosial, dan akademik. Tuntutan rotasi klinik serta kurangnya dukungan institusional menjadi pemicu utama gangguan tidur dan kesehatan mental. Kesimpulan: Gangguan pola tidur pada mahasiswa kedokteran selama masa klinik memiliki hubungan erat dengan kemunduran kondisi kesehatan mental. Kurang tidur berfungsi ganda sebagai gejala dan faktor pemicu stres psikologis, yang menunjukkan pentingnya perhatian sistemik dalam desain pendidikan kedokteran.

Page 10 of 10 | Total Record : 93