cover
Contact Name
Didik Harnowo
Contact Email
bpalawija@gmail.com
Phone
+62341-801468
Journal Mail Official
bpalawija@gmail.com
Editorial Address
Balitkabi. Jalan Raya Kendalpayak No 8, Malang.
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Buletin Palawija
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palawija merupakan wadah bagi para peneliti aneka kacang dan umbi untuk mendiseminasikan hasil penelitiannya dalam bentuk naskah review (tinjauan), primer dan komunikasi pendek. Naskah review dan primer mencakup berbagai disiplin ilmu, yaitu pemuliaan tanaman dan plasma nutfah, fisiologi/budidaya, perlindungan, pascapanen, dan sosial-ekonomi termasuk kebijakan pengembangan tanaman palawija. Buletin Palawija bertujuan menyajikan karya penelitian yang dapat memberikan wawasan pada dunia ilmu pengetahuan secara nasional atau international, sehinga naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur teoritis, metodologis, dan/atau inovatif dalam penelitian aneka kacang dan umbi.
Articles 223 Documents
Pengelolaan Kesuburan Lahan Kering Masam Untuk Tanaman Kedelai Andy Wijanarko; Abdullah Taufiq
Buletin Palawija No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.691 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n7-8.2004.p39-50

Abstract

Pengembangan kedelai, karena luasan lahan ini hampir 29% dari total luas Indonesia. Kendala utama yang terdapat di lahan ini adalah tingkat kesuburan yang rendah, meliputi pH rendah, bahan organik rendah, kahat P, K, Ca dan Mg serta Al-dd, Fe dan Mn yang tinggi yang berpotensi meracuni tanaman. Peningkatan produktivitas lahan kering masam dapat dilakukan dengan (1) mencukupi kebutuhan hara yang berada pada status kahat dengan cara menambahkan masukan pupuk, (2) mengurangi pengaruh negatif dari sifat fisik dan kimia tanah dengan cara menambahkan bahan amelioran atau agen hayati, (3) mengembangkan varietas yang adaptif pada lingkungan masam, dan (4) kombinasi pendekatan 1, 2 dan 3 tersebut di atas. Secara umum, peningkatan produksi pertanian dapat dicapai melalui dua cara, yaitu: (1) memperluas areal pertanian (ekstensifikasi), dengan membuka daerah-daerah baru dan mengusahakan sebagai daerah pertanian, dan (2) meningkatkan produktivitas lahan (intensifikasi) melalui penerapan teknologi inovatif.
PENGENDALIAN HAMA THRIPS KACANG HIJAU DENGAN INSEKTISIDA NABATI DAN KIMIA Sri Wahyuni Indiati
Buletin Palawija No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (823.551 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v0n27.2014.p39-51

Abstract

Thrips, Megalurothrips usitatus (Bagnall) merupakan salah satu hama penting kacang hijau pada musim kemarau. Berdasarkan hasil penelitian, kehilangan hasil kacang hijau akibat serangan thrips berkisar antara 12–64%, tergantung varietas, umur tanaman dan musim. Serangan thrips pada awal pertumbuhan vegetatif dicirikan dengan gejala keriting pada daun pucuk, sehingga tanaman menjadi kerdil. Gejala serangan pada fase berbunga mengakibatkan dengan rontoknya bunga, polong tidak terbentuk, sehingga mengurangi hasil kacang hijau. Pengendalian thrips pada kacang hijau dengan ekstrak air (rendaman) serbuk biji mimba (SBM), bawang putih, rimpang jahe, daun pepaya, dan rendaman campuran cabai, bawang, dan jahe (LBJ) sebagai insektisida nabati mempunyai keefektifan yang hampir sama. Namun bila dibandingkan dengan insektisida kimia, keefektifan insektisida nabati lebih rendah. Intensitas serangan thrips dapat ditekan sampai 2% dengan penggunaan fipronil, imidakloprid, formetanate hydrocloride 1–2 ml/l seminggu sekali, penggunaan diafentiuron hanya mampu menekan intensitas serangan thrips sampai 32%. Sedangkan pada petak kontrol serangan thrips mencapai 100%. Aplikasi fipronil 2 ml/l pada 10 HST yang diikuti dengan aplikasi rendaman rimpang jahe 20 g/l pada 17, 24, 31 HST efektif mengendalikan serangan thrips sampai 6,8%. Kombinasi insektisida kimia dan nabati dapat mengurangi penggunaan insektisida kimia antara 50–75%.
Subjek dan Author Indeks Buletin Palawija Volume 16 No 1 Abi Supiyandi
Buletin Palawija Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.18 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v16n1.2018.p%p

Abstract

“TALAM 1” VARIETAS KACANG TANAH UNGGUL BARU ADAPTIF LAHAN MASAM DAN TOLERAN Aspergillus flavus Astanto Kasno
Buletin Palawija No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.873 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n19.2010.p19-26

Abstract

Galur kacang tanah (Arachys hipogaea L.), J/91283-99-C-90-8 adalah keturunan dari persilangan pasangan induk betina varietas Jerapah dengan induk jantan ICGV 91283, yang dilakukan pada tahun 1999. Seleksi dan penggaluran dilakukan menggunakan metode pedigri. Galur J/91283-99-C-90-8 tergolong ke dalam kacang tanah tipe Spanish (2 biji/polong) dan bijinya berwarna merah muda dengan ukuran biji sedang sesuai dengan preferensi pasar domestik, terutama untuk kacang garing. Dalam pengujian galur J/91283-99-C-90-8 memiliki keunggulan dalam hasil, toleransi terhadap lahan masam dan Aspergilus flavus. serta tahan terhadap penyakit bercak daun. Pada lingkungan yang relatif produktif hasilnya mencapai 2,5 t/ha polong kering lebih tinggi dari hasil varietas pembanding Jerapah (2,30 t/ha polong kering), dan potensinya mencapai 3,2 t/ha polong kering. Kacang tanah galur J/91283-99-C-90-8 disetujui untuk dilepas sebagai varietas unggul baru dengan nama TALAM 1 pada tanggal 13 Juli 2010 Selain itu, galur tersebut menunjukkan toleran terhadap kutu kebul.
Back matter Buletin Palawija Volume 17 No 2 Abi Supiyandi
Buletin Palawija Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.479 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v17n2.2019.p112

Abstract

PENGARUH PEMBENAH TANAH DAN INOKULAN RHIZOBIUM PADA KEDELAI DI TANAH MASAM ULTISOL Sri Ayu Dwi Lestari; Arief Harsono
Buletin Palawija Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.872 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v15n1.2017.p8-14

Abstract

Upaya peningkatan produksi kedelai untuk mencapai swasembada akan dilakukan pada tanah masam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembenah tanah Bio Soil Neutralizer (BSN) dan Inokulan Rhizobium Elang Biru (IRE) terhadap sifat fisik tanah, perubahan pH tanah, dan hasil kedelai di tanah masam Ultisol. Penelitian pada tanah masam dilaksanakan di rumah kaca Balitkabi menggunakan tanah Ultisol asal Lampung Timur. Penelitian di rumah kaca menggunakan rancangan acak kelompok 3 ulangan. Perlakuan yang diuji terdiri atas: 1) Kontrol; 2) BSN; 3) BSN + IRE; 4) BSN + IRE + dolomit + pupuk PK; 5) BSN + IRE + dolomit + pupuk PK + pupuk kandang sapi (pukan); 6) Agrisoy-2 + dolomit + pukan + pupuk PK; 7) Dolomit + pukan + NPK; dan 8) IRE + dolomit + pupuk PK. Varietas kedelai yang digunakan adalah Burangrang. Dosis BSN = 3 liter/350 liter air/ha, IRE = 0,3 kg/ha, Pukan = 3 t/ha, Agrisoy-2 = 0,3 kg/ha, N = 25 kg N/ha, P = 50 kg P2O5/ha, dan K = 75 kg K2O/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BSN bersifat alkalis dengan pH 12,8, setelah diencerkan sesuai dengan dosis anjuran (3 liter/350 liter air/ha), pH turun menjadi 6,5. Di tanah Ultisol (percobaan pot) pemberian BSN dapat meningkatkan pH tanah dari 4,3 menjadi 5,5 dan mampu meningkatkan hasil kedelai 45% apabila disertai penggunaan IRE. Perlakuan ini dapat meningkatkan hasil lebih tinggi bila kejenuhan Al diturunkan hingga mencapai sekitar 20% dengan dolomit dan ditambah pupuk P dan K. Penggunaan IRE dapat meningkatkan pembentukan bintil akar efektif kedelai dari 1,5 bintil menjadi 8,5 bintil/tanaman. 
MENINGKATKAN PRODUKSI KACANG TANAH LAHAN ALFISOL DENGAN MENANAM VARIETAS TOLERAN Joko Purnomo
Buletin Palawija No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.129 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n10.2005.p78-84

Abstract

Di Indonesia sebagian besar kacang tanah ditanam di tanah Alfisol, dan sering dihadapkan pada masalah ketersediaan dan ketidak-seimbangan hara. Karakteristik alkalis tanah Alfisol sering menjadi kendala peningkatan produksi kacang tanah karena terjadinya kahat Fe. Tidak semua varietas yang sudah dilepas beradaptasi baik di lingkungan Alfisol alkalis, varietas rentan terhadap kadar Fe rendah akan menderita klorosis dan kehilangan hasil bisa mencapai lebih dari 40%. Sampaidengan tahun 2004, di Indonesia telah dilepas sedikitnya 29 varietas unggul kacang tanah dengan berbagai tipe dan karakter, tetapi belum dapat menjawab permasalahan untuk tanah Alfisol. Penggunaan varietas yang diketahui toleran Alfisol alkalis merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan hasil. Balitkabi telah menghasilkan beberapa varietas kacang tanah baru seperti Kancil, Bison, Domba, dan Turangga yang diketahui mampu beradaptasi dengan baik. Di samping itu, beberapa galur harapan seperti K/PI 405132-90-B1-2-57, K/PI390595//K-90-B-54, ICGV 88252/LM-92-B-4, K/PI298115-90-B-16 dan ICGV 87055 ditengarai prospektif untuk lahan Alfisol. Kajian di beberapa lokasi menunjukkan bahwa penggunaan varietas/galur toleran meningkatkan hasil 25–52%, nyata lebih tinggi dibanding lokal setempat.
PROSPEK PEMULIAAN KEDELAI TAHAN HAMA LALAT KACANG (Ophiomyia phaseoli Tryon) DAN BERDAYA HASIL TINGGI Gatut Wahyu Anggoro Susanto
Buletin Palawija No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.437 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v0n23.2012.p44-48

Abstract

Sebagian besar pertanaman kedelai berada pada musim musim kering (MK), namun justru tingkat serangan hama paling tinggi terjadi pada waktu itu. Salah satu hama penting yang menyerang tanaman kedelai adalah lalat kacang (O phaseoli ). Serangan hama lalat kacang pada tanaman kedelai dapat mengakibatkan kerusakan hingga mencapai 90 %, tergantung tingkat serangannya dan sebagian besar tanaman mengalami kematian. Kedelai yang toleran terhadap lalat kacang diidentifikasi memiliki karakter diameter batang kecil. Varietas unggul tahan hama lalat kacang merupakan cara yang efektif dan efisien untuk dapat menekan serangannya. Untuk merancang varietas kedelai unggul toleran lalat kacang memiliki peluang besar dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber-sumber gen tahan pada tanaman serta memilih metode pemuliaan yang efektif dan efisien.
PERANAN ALSINTAN DALAM MENDUKUNG PROGRAM INTENSIFIKASI PADI, JAGUNG DAN KEDELAI DI JAWA TIMUR I Ketut Tastra
Buletin Palawija No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.84 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n2.2001.p30-43

Abstract

Penggunaan alsintan merupakan salah satu komponen teknologi yang mendukung upaya pencapaian sasaran program intensifikasi produksi padi,jagung dan kedelai (Gema Palagung) yang pada akhirnya diharapkan bermuara pada peningkatan pendapatan petani produsen. Untuk itu, penerapan tidak semata-mata hanya untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga pada kegiatan usaha tani padat energi (oengolahan tanah, perontokan dan pemipilan) tetapi juga untuk menigkatkan mutu hasil (utamanya saat panen musim hujan), agar daya tawar petani dalama pemasaran hasil dapat ditingkatkan. Namun demikian, penjual jasa alsintan, bengkel alsintan, pedagang pengumpul dan KUD yang terlibat dalam pemasaran hasil hendaknya juga mendapat nilai tambah yang wajar agar keberlanjutan penerapan alsintan dapat dijamin. Pesatnya perkembangan sistem penjualan jasa perontokan dan Pemipilan di Jawa Timur merupakan salah satu contoh di mana baik petani pengguna, penjual jasa alsintan dan bengkel alsintan mendapat sama- sama keuntunganyang wajar. Sebaliknya, belum berkembangnya sistem penjualan jasa pengeringan karena dinilai kurang menguntungkan bagi penjual jasa alsintan akibat pangsa pasar yang kurang dan mobilitas alat yang rendah. Dengan demikian, meskipun secara teknis pengguna jasa pengeringan (petani) akan dapat meningkatkan mutu hasil saat panen musim hujan, namun sulit menjadi kenyataan mengingat masih kecilnya intensif harga jual atas pemenuhan standar mutu dibanding biaya jasa pengeringan, Sementara itu, perhatian pedagang pengumpul dan industri pakan masih belum cukup kuat sebagai pendorong penerapan alsintan yang lebih maju, meskipun Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah menetapakan batas kandungan maksimum Aflatoksin 30 ppb. Karenanya diperlukan strategi yang tepat dalam menerapkan alsintan melalui pendekatan sistem agar keberlanjutannya dapat dijamin. Peluang n=menerpakan alsintan yang lebih maju dari cara tradisional cukup besar mengingat industri pengolahan pangan dan pakan berkembang pesat di Jawa Timur. Peluang tersebut dapat diwujudkan melalui oenumbuhan hubungan kemitraan yang saling menguntungkan antar berbagai pihak(petani, KUD/penjual jasa alsintan, bengkel alsintan dan industri pengguna) yang terlibat dalam sistem agribisnis/agroindustro berbasis tanaman pangan. Untuk itu, perlu dukungan kebijakan yang menjamin.
Klorosis Tanaman Kacang Tanah Di Alfisol Kapuran Achmad Ghozi Manshuri
Buletin Palawija No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.326 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n17.2009.p33-40

Abstract

Klorosis tanaman kacang tanah di Alfisol kapuran. Klorosis pada tanaman kacang tanah di Tuban disebabkan oleh pH tanah tinggi (pH >7). Di Alfisol masam Lamongan (pH <7) kacang tanah tumbuh normal tidak mengalami klorosis. Tingkat ketersediaan hara makro dan mikro Alfisol kapuran Tuban rendah, ditandai dengan nilai SQ <0,5, kecuali Ca dan Mg masing-masing mempunyai SQ = 0,78 (sedang). Pemberian bahan organik 5 t bahan organik.ha–1 meningkatkan ketersediaan hara N, P, K, S, Mg, Mn dan Zn, namun tidak berpengaruh terhadap tingkat ketersediaan hara Fe. Varietas Badak tidak sesuai untuk Alfisol kapuran dan masam baik dengan pemberian atau tanpa pemberian bahan organik. Galur-galur ICGV 87055, K/SHM 2-88-B-7 adaptive di Alfisol kapuran, sedangkan varietas Macan, Biawak, Mahesa dan Kancil sesuai untuk Alfisol kapuran dan masam. Varietas Kidang, Kelinci dan Zebra respon terhadap pemberian 5t bahan organik.ha–1 di Alfisol masam. Varietas Kidang mencapai hasil tinggi 25.7 g biji.dua tanaman–1 di Alfisol masam tanpa pemberian bahan organik, namun hasilnya rendah bila tanpa pemberian bahan organik. Pencegahan klororis daun pada kacang tanah dapat diatasi dengan: Pemberian 30–40 kg FeSO4.ha–1. Pemberian 20t pupuk kandang.ha–1. Pemberian 300–400 kg bubuk belerang.ha–1, yang diberikan dalam alur tanaman. Kombinasi antara 20t pupuk kandang.ha–1 dengan 200kg bubuk belerang.ha–1. Penyemprotan dengan larutan yang mengandung 1% FeSO4 + 0,1% asam sitrat + 3% amonium sulfat (ZA) + 0,2% urea pada umur 30, 45 dan 60 hari serta dengan cara memperbaiki drainase dan aerasi tanah.

Page 6 of 23 | Total Record : 223


Filter by Year

2001 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2022): Buletin Palawija Vol 20 No 1, 2022 Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021 Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021 Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020 Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020 Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019 Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019 Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001 More Issue