cover
Contact Name
Didik Harnowo
Contact Email
bpalawija@gmail.com
Phone
+62341-801468
Journal Mail Official
bpalawija@gmail.com
Editorial Address
Balitkabi. Jalan Raya Kendalpayak No 8, Malang.
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Buletin Palawija
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palawija merupakan wadah bagi para peneliti aneka kacang dan umbi untuk mendiseminasikan hasil penelitiannya dalam bentuk naskah review (tinjauan), primer dan komunikasi pendek. Naskah review dan primer mencakup berbagai disiplin ilmu, yaitu pemuliaan tanaman dan plasma nutfah, fisiologi/budidaya, perlindungan, pascapanen, dan sosial-ekonomi termasuk kebijakan pengembangan tanaman palawija. Buletin Palawija bertujuan menyajikan karya penelitian yang dapat memberikan wawasan pada dunia ilmu pengetahuan secara nasional atau international, sehinga naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur teoritis, metodologis, dan/atau inovatif dalam penelitian aneka kacang dan umbi.
Articles 223 Documents
Cover dan Daftar Isi Buletin Palawija Volume 17 No 1 Abi Supiyandi
Buletin Palawija Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.36 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v17n1.2019.p%p

Abstract

UPAYA MODIFIKASI PATI UBIKAYU MELALUI PEMULIAAN TANAMAN Kartika Noerwijati
Buletin Palawija Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.621 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v13n1.2015.p92-100

Abstract

Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz.) merupakan penghasil pati tertinggi dibandingkan padi dan jagung, dengan kadar pati antara 73,7–84,9%(basis kering). Ubi kayu juga merupakan tanaman paling efisien dalam mengubah energi matahari menjadi karbohidrat per unit area. Pati ubi kayumempunyai manfaat yang luas baik dalam industri pangan maupun non pangan. Pati ubi kayu terdiri atas dua polimer yaitu amilosa dan amilopektin. Pemanfaatan pati ubi kayu sangat tergantung pada sifat fisiko-kimia pati, yang berkaitan dengan proporsi amilopektin dan amilosa. Terdapat beberapa cara untuk meningkatkan kualitas pati yaitu secara fisik, kimia, enzimatis, dan genetik. Modifikasi secara fisik, kimia dan enzimatis dilakukan terhadap pati yang dihasilkan, sedangkan modifikasi genetik untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas pati ubi kayu dilakukan melalui upaya rekayasa metabolisme biosintesis pati ubi kayu. Tujuan modifikasi pati secara genetik di antaranya adalah untuk membentukklon unggul ubi kayu yang memiliki kadar amilosa rendah, amilosa tinggi, atau untuk mengubah ukuran granula pati. Rasio amilosa dan amilopektindalam pati serta ukuran granula pati sangat berpengaruh terhadap kualitas pati yang dihasilkan. Modifikasi pati secara genetik memiliki prospek yang bagus. Indonesia telah melakukan penelitian modifikasi pati secara genetik yaitu melalui mutasi dan pembentukan tanaman transgenik.Penelitian tanaman transgenik dilakukan secara kerjasama dengan Universitas Wageningen. Teknik modifikasi pati secara genetik melalui metode konvensional juga dapat dilakukan apabila sudah diketahuisecara mendetail karakteristik genotipe-genotipe yang akan digunakan sebagai tetua persilangan.
KARAKTERISTIK ROTI MANIS BERBAHAN BAKU UBIJALAR DAN TEPUNG GANDUM LOKAL Rahmi Yulifianti
Buletin Palawija Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.726 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v15n2.2017.p49-56

Abstract

Pemanfaatan gandum lokal dan ubijalar sebagai bahan baku dalam pembuatan roti manis merupakan upaya diversifikasi pangan berbahan baku lokal sekaligus mengurangi impor terigu. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik roti manis yang diolah dari campuran tepung gandum lokal dan pasta ubijalar ungu. Tepung gandum lokal varietas Dewata dan pasta ubijalar ungu dari varietas Antin-2 diolah menjadi roti manis menggunakan empat tingkat perbandingan (dalam %) yaitu 100:0; 70:30; 65:35: dan 60:40. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu jenis gandum (sosoh dan tidak sosoh) dan faktor kedua proporsi pasta ubijalar (0%, 30%, 35%, dan 40%). Sebagai kontrol, digunakan roti manis yang diolah dari 100% tepung terigu impor. Pengamatan meliputi: sifat kimia terigu dan ubijalar kukus/pasta serta sifat fisik, kimia dan sensoris roti manis yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa tingkat substitusi pasta ubijalar sampai 40% terhadap tepung gandum lokal menghasilkan roti manis dengan kadar air berkisar antara 23,37-32,51%, abu 1,40-1,90% bk, dan protein 11,64-15,24% bk. Nilai kadar protein ini lebih tinggi dibandingkan dengan roti dari terigu impor yaitu 11,68% bk. Rendemen, kekerasan, warna, dan tingkat pengembangan volume, relatif sama antara tepung gandum sosoh dan tidak sosoh. Namun, untuk roti dari substitusi gandum lokal dan ubijalar memiliki tekstur yang lebih lunak dan tingkat pengembangan volume lebih tinggi dari terigu impor. Demikian juga kesukaan terhadap warna, aroma, dan rasa relatif sama hasilnya dengan roti manis dari 100% terigu. Hal ini dapat dijadikan sebagai peluang untuk memperluas pemanfaatan gandum lokal dan ubijalar serta memacu pengembangan agroindustri berbasis bahan baku lokal.
EFEKTIVITAS DIFUSI TEKNOLOGI VARIETAS KEDELAI DI TINGKAT PETANI F. Rozi
Buletin Palawija No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.718 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v0n24.2012.p49-56

Abstract

Salah satu inovasi teknologi yang mampumeningkatkan produktivitas kedelai adalah varietasunggul. Sejak tahun 1918 sampai 2009, setidaknyaada 72 varietas kedelai yang telah dilepas dan disebarkankepada petani. Bermacam-macam mekanismedifusi telah diterapkan kepada petani, tetapitingkat keberhasilannya masih rendah, sehinggabanyak teknologi kedelai yang dihasilkan tidak terpakaioleh petani alias mubazir. Dominasi penggunaankedelai varietas Wilis sampai saat ini oleh petanisudah berlangsung selama 28 tahun sejak dilepasvarietas tersebut. Setelah berjalan 10 tahun varietasAnjasmoro dikeluarkan yakni tahun 2001, nampakmulai ada kecenderungan varietas tersebut untukmenggeser varietas Wilis di petani. Melihat perkembangnanproses difusi teknologi kedelai VUB belumberjalan efektif tersebut betapa cukup lama waktuyang dibutuhkan teknologi tersebut sampai digunakanpetani. Suatu keberhasilan difusi teknologi tidakhanya diperoleh dari satu kegiatan diseminasi, tetapidari berbagai kegiatan yang saling mendukung(penelitian, perbenihan, promosi) dan memerlukanwaktu untuk memperolehnya. Perlu perubahan paradigmadiseminasi yang tidak hanya bersifat seremonialseperti kunjungan dalam panen raya, pameran/temu lapang dengan menyebarkan brosur/leaflet,memutar film (video) tetapi disertai informasi cukupdalam akses kehadiran fisik atau penyediaan barang/benih yang nyata di tingkat pengguna (petani)
Pembentukan Varietas Kacang Tanah Hasil Stabil dan Beradaptasi Luas: Studi Kasus Varietas Jerapah Astanto Kasno; Novita Nugrahaeni; Joko Purnomo; Sumartini Sumartini; Trustinah Trustinah
Buletin Palawija No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2125.184 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n1.2001.p1-14

Abstract

Ragam lingkungan yang besar untuk produksi kacang tanah di Indonesia memerlukan varietas yang berdaptasi luas dan hasilnya stabil. Tersedianya varietas kacang tanah yang hasilnya stabil dan memiliki adaptasi luas sangat membantu upaya penigkatan produksi kacang tanah di Indonesia. Stabilitas hasil dapat ditimbulkan oleh besar heterogenitas genetik di dalam populasi dan ketahanan terhadap cekaman lingkungan biotik dan abiotik. Kethanan varietas tehadap penyakit daun, layu bakteri, penyakit bilur dan Aspergillus flavus, serta toleransi terhadap kekeringan dan kemasaman lahan merupakan komponen stabilitas hasil penting. Heterogenitas genetik sebagai penyangga populasi akan terjadi bila di dalam populasi terdiri dari individu-individu secara fenotipik sama, namun secara genotipik berbeda. Seleksi massa pada famili F2 merupakan salah satu cara menghasilkan varietas demikian.Pembentukan kacang tanah yang memiliki stabilitas hasil dan beradaptasi luas, menggunakan varietas jerapah sebagai studi kasus. Kacang tanah varietas jerapah adalah hasil silang tunggal tahun 1988 antara varietas lokal majalengka dengan ICGV 86071. ICGV 86071 adlah varietas tahan penyakit daun asal ICRISAT, India. Dari 1114 famili F2 yang dihasilkan, famili no.16 memilki karakterisitik yang diinginkan. Terhadap famili F2 No.16 dilakukan seleksi massa positif hingga tahun 1991 diberbagai cekaman lingkungan , yakni:kekeringan, lahan masam, serangan penyakit daun, layu, bilur dan A.flavus. Uji daya hasil dilakukan mulai tahun 1992, dan diteruskan dengan uji multilokasi hingga tahun 1997. Uji multilokasi dilakukan di 28 lokasi yang meliputi 11 propinsi. Galur LM/ICGV 86021-88-B-16 lebih unggul dari varietas pembanding. Hasil polong kering rata-rata LM/ICGV 86021-88-B-16 2,0 t/ha. Hasil tertinggi pada lingkungan optimal mencapai 4,0 t/ha. Hasil analisis stabilitas menunjukkan bahwa galur LM/ICGV 86021-88-B-16 hasilnya stabil dan memiki adaptasi umum yang baik. Galur tersebut dinilai toleran kekeringan, agak tahan penyakit daun, dan adaptif pada tanah masam.
Germination and Establishment of Legumes After Rice Under Rainfed Rice Systems: A Review of Literature Agustina Asri Rahmianna
Buletin Palawija No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.165 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n14.2007.p37-46

Abstract

Crop establishment that occurs during the first three weeks of the growing phase depends on the success of seed germination and seedling emergence. As the first process, germination can be obtained only when the seed absorb water at a sufficiently rapid rate to reach minimum or critical water content, before other biotic factors can prevent its completion. In this regards, high quality of seeds is an ultimate prerequisite. It is recognized that germination and crop establishment are dominated by physical processes and therefore soil physical properties around the seed and the very young seedling govern the success. Strictly speaking, seed germination and early crop establishment are a function of soil physical condition and seed quality. A rainfed rice ecosystem is essentially a rice field with rainfall as the main source of water to flood the field prior to and during the period of paddy rice growth. This ecosystem is characterized by a lack of water control and therefore flooding and drought are potential problems. About 70 to 75% of the rice farms in Asia are rainfed due to inadequate irrigation systems. Since rice has limited success if planted after the wet season without any irrigation, farmers cultivate upland crops in lowland areas after rice that capable of coping with the dry soil during the later part of the growing season as well as to obtain additional income to support their families. Legumes are the most popular dry season crops in rainfed lowland rice-based cropping systems, as farmers expect the crops to rely on stored water left after rice. In reality, the performance of legume crops in rainfed lowland rice-based cropping systems is generally poor. It should be remembered that puddling of the soil in flooded rice fields is an integral part of rice farming in Asia. This results in waterlogged soils and poor soil physical conditions after rice, lead to the compacted and hard soils following drying. These waterlogged conditions and hard soil, together with low seed quality and fungal attack, significantly affect germination and emergence of legume crops. To obtain high crop establishment, farmers manipulate the soil physical conditions using several practices such as soil tillage, build ditches with the various levels of success.
Respons Pertumbuhan Vegetatif dan Generatif Varietas Kacang Tanah terhadap Pemberian Pupuk Organik di Dataran Tinggi Lahan Kering Iklim Kering Agustina Asri Rahmianna; Andy Wijanarko; Yeremias Bombo
Buletin Palawija Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.559 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v16n2.2018.p104-112

Abstract

Lahan kering iklim kering merupakan lahan potensial untuk berusahatani komoditas kacang tanah, mengingat bahwa Provinsi Nusa Tenggara Timur yang didominasi lahan kering dan iklim kering merupakan sentra keenam terbesar kacang tanah di Indonesia. Salah satu strategi untuk meningkatkan produksi kacang tanah jangka pendek adalah menanam varietas unggul berdaya hasil tinggi. Uji adaptasi suatu calon varietas selama ini dilakukan di sentra-sentra produksi yang terletak di dataran rendah di P. Jawa pada tipe iklim yang lebih basah. Oleh kerana itu, perlu dilakukan uji adaptasi varietas-varietas unggul di lahan kering iklim kering (LKIK). Penelitian dilaksanakan di LKIK tadah hujan di Desa Pambotan Jara, Kecamatan Waingapu yang terletak pada ketinggian 600 m dpl mulai April hingga Juni 2016. Rancangan strip plot dengan tiga ulangan digunakan pada penelitian ini. Faktor horizontal adalah enam varietas (Lokal Sandel, Kancil, Kelinci, Talam 1, Takar 1, dan takar 2), faktor vertikal adalah tiga dosis pupuk kandang (0, 2500, dan 5000 kg/ha). Pada makalah ini hanya dibahas keragaan pertumbuhan vegetatif dan generatif enam varietas tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif varietas unggul Kancil, Kelinci, Talam 1, Takar 1 dan Takar 2 lebih bagus dari pertumbuhan varietas lokal Sandel di lahan kering tadah hujan pada ketinggian tempat 600 m dpl. Kelima varietas ini ternyata beradaptasi pada lokasi dengan ketinggian tempat 600 m, walaupun uji adaptasinya dilakukan di sentra produksi di dataran rendah. Di antara kelima varietas yang diuji, varietas Kancil, Kelinci, dan Talam 1 mempunyai lebih banyak keunggulan dibanding varietas Takar 1 dan Takar 2. Satu-satunya keunggulan varietas lokal Sandel adalah bobot per polong yang paling tinggi. 
POTENSI CENDAWAN ENTOMOPATOGEN Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin UNTUK MENGENDALIKAN HAMA BOLENG Cylas formicarius F. PADA TANAMAN UBIJALAR Tantawizal Tantawizal; Alfi Inayati; Yusmani Prayogo
Buletin Palawija No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.895 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v0n29.2015.p46-53

Abstract

Potensi Cendawan Entomopatogen Beauveria Bassiana (Balsamo) Vuillemin untuk Mengendalikan Hama Boleng Cylas formicarius F. (Coleoptera: Curculionidae) pada tanaman ubijalar. Ubijalar merupakan salah satu tanaman umbi yang memiliki keunggulan sebagai alternatif penghasil karbohidrat. Hama boleng, Cylas formicarius, merupakan salah satu hama penting pada ubijalar yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas umbi antara 10–80%. Cendawan entomopatogen, Beauveria bassiana, berpotensi sebagai salah satu komponen pengendalian hama terpadu (PHT) yang dapat digunakan mengendalikan hama C. formicarius. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa cendawan B. bassiana dapat menyebabkan kematian pada C. formicarius hingga 90% dan efektif mengurangi kehilangan hasil sebesar 5%. Efektivitas cendawan entomopatogen B. bassiana dipengaruhi oleh kerapatan konidia, stadia serangga yang dikendalikan, waktu aplikasi, cara aplikasi serta frekuensi aplikasi. Oleh karena itu, pemanfaatan B. bassiana untuk mengendalikan C. formicarius dengan formulasi yang tepat sertadapat meningkatkan patogenisitas perlu dikaji lebih lanjut.
STATUS HAMA PENGISAP POLONG PADA KEDELAI, DAERAH PENYEBARANNYA DAN CARA PENGENDALIAN Kurnia Paramita Sari; Suharsono Suharsono
Buletin Palawija No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.206 KB) | DOI: 10.21082/bulpa.v0n22.2011.p79-85

Abstract

Hama polong pada kedelai, Riptortus linearis (Hemiptera: Alydidae) merupakan salah satu hama pengisap polong kedelai . Tanaman inang R. linearis yaitu kacang hijau, buncis, kacang panjang, Tephrosia spp, Acacia pilosa, dadap, Desmodium, Solanaceae, Convolvulaceae, dan Mimosa pigra. R. linearis tersebar di sentra produksi kedelai di Indonesia yaitu pulau Jawa, Lampung, Sumatera dan Kalimantan serta di negara beriklim tropis, antara lain Amerika Utara, India, Brazilia, dan Jepang. Potensi R. linearis sebagai hama perlu diwaspadai karena berstatus sebagai hama penting, yang dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 79%. Kerusakan akibat serangan R. linearis menyebabkan biji kempis, keriput dan terdapat bekas lubang tusukan sehingga biji tidak dapat dikonsumsi. Pengendalian R. Linearis dilakukan dengan teknik budidaya, pengendalian hayati, penggunaan insektisida nabati dan juga penggunaan insektisida kimia secara bijaksana.
Profil Varietas Unggul Ubijalar Sari: Beradaptasi Luas, dan Berumur Genjah St. A. Rahayuningsih
Buletin Palawija No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.349 KB) | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n5-6.2003.p57-67

Abstract

Jumlah varietas unggul ubijalar yang telah dilepas relatif sedikit daripada tanaman pangan lain. Preferensi terhadap ubijalar sangat beragam, tergantung peruntukannya. Untuk konsumsi langsung varietas lokal masih merupakan pilihan utama, akan tetapi varietas lokal memiliki beberapa karakter yang kurang disukai petani sebagai produsen antara lain berumur dalam, rentan terhadap penyakit kudis, dan potensi hasil rendah. Pada tahun 2001 Balitkabi berhasil melepas varietas ubijalar yang berumur genjah, potensi hasil tinggi, tajuk kecil, dan keragaan umbi bagus yaitu varietas Sari. Varietas Sari merupakan hasil persilangan antara varietas lokal Genjah Rante dengan varietas Lapis yang dalam proses seleksi diberi nama MIS 104-1. Uji multilokasi pada MT 1999/2000 dan MK I 2000 di 18 lokasi menunjukkan bahwa varietas Sari daya adaptasinya luas dan stabil, dan rata-rata produksi 28 t/ha (rentang 15–44 t/ha). Produksi varietas Sari 40% lebih tinggi dibandingkan hasil Muaratakus. Reaksi varietas Sari terhadap delapan strain penyakit kudis tahan, dan tahan terhadap hama penggerek batang. Hasil uji olahan umbi varietas Sari berupa tepung, mie basah dan kue cake dengan substitusi 10% tepung ubijalar disukai panelis. Kualitas umbi kukus termasuk dalam kategori sedang, tekstur tidak lembek dan tidak kering, dengan rasa manis. Kandungan β-karoten umbi 380,92 mg/100 g bahan, kadar gula 5,23%, dan kadar serat 1,63%. Petani menanam varietas Sari di dataran tinggi Kawi untuk konsumsi langsung (umbi kukus), dan di daerah Tumpang (Malang) dan Pacet (Mojokerto) untuk pasokan pabrik saos.

Page 7 of 23 | Total Record : 223


Filter by Year

2001 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2022): Buletin Palawija Vol 20 No 1, 2022 Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021 Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021 Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020 Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020 Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019 Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019 Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001 More Issue