cover
Contact Name
Bandiyah
Contact Email
jurnaldikbud1@gmail.com
Phone
+6281288370671
Journal Mail Official
jurnaldikbud@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Sekretariat BSKAP Kemendikbud Gedung E, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta 10270 Telepon: (021) 57900405, Faksimile: (021) 57900405 Email: jurnaldikbud@kemdikbud.go.id; jurnaldikbud@yahoo.com
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
ISSN : 24608300     EISSN : 25284339     DOI : https://doi.org/10.24832/jpnk.v5i1.1509
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan is a peer-reviewed journal published by Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Agency for Research and Development, Ministry of Education and Culture of Republic of Indonesia), publish twice a year in June and December. This journal publishes research and study in the field of education and culture, such as, education management, education best practice, curriculum, education assessment, education policy, education technology, language, and archeology.
Articles 535 Documents
EFEKTIVITAS MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH FISIKA Agus Hariyanto
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 21 No. 3 (2015)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v21i3.188

Abstract

The purpose of this study is to determine the effectiveness of problem based learning models, aided with mind map, on student’s ability to solve problems creatively based on prior knowledge. Results of the study showed that: 1) students who studied with the PBL mind map-aided model had higher creative problem-solving ability than students who studied with only PBL, 2) in terms of higher prior knowledge, students who studied with the PBL mind map-aided model had higher creative problem-solving ability than students who studied with only PBL, 3) in terms of lower prior knowledge, students who studied with the PBL mind map-aided model had higher creative problem-solving ability than students who studied with only PBL, 4) The learning model used interacts with students’ prior knowledge and students’ creative problem-solving ability, 5) the creative problem-solving ability of students who used the PBL mind map-aided model was more effective than the creative problem solving ability of students with greater prior knowledge who used PBL models; 6) The creative problem-solving ability of students who used the PBL mind mapaided model was more effective than students with low prior knowledge who used the PBL learning model; 7) the creative problem-solving ability of students who used the PBL mind map-aided model was more effective than students who used the PBL learning model. It can be concluded that the PBL mind map-aided model is more effective than the PBL learning model in developing creative problem-solving abilities in 10th grade students, regardless of their prior knowledge levels.ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas model problem based learning berbantuan mind map terhadap kemampuan pemecahan masalah fisika secara kreatif ditinjau dari kemampuan awal siswa kelas X. Penelitian ini menggunakan metode survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Kemampuan pemecahan masalah fisika secara kreatif yang belajar dengan model PBL berbantuan Mind Map lebih tinggi dibandingkan pembelajaran PBL; 2) Kemampuan pemecahan masalah fisika secara kreatif siswa yang belajar dengan pembelajaran model PBL berbantuan mind map lebih tinggi dibandingkan pembelajaran PBL untuk siswa yang memiliki kemampuan awal tinggi; 3) Kemampuan pemecahan masalah fisika secara kreatif siswa yang belajar dengan pembelajaran model PBL berbantuan Mind Map lebih tinggi dibandingkan pembelajaran PBL untuk siswa yang memiliki kemampuan awal rendah;  4) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan awal terhadap kemampuan pemecahan masalah fisika secara kreatif; 5) Kemampuan pemecahan masalah fisika secara kreatif pebelajar dengan model PBL berbantuan mind map lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran PBL untuk siswa yang memiliki kemampuan awal tinggi; 6) Kemampuan pemecahan masalah fisika secara kreatif pebelajar dengan model PBL berbantuan mind map lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran PBL untuk siswa yang memiliki kemampuan awal rendah; 7) Kemampuan pemecahan masalah fisika secara kreatif pebelajar dengan model PBL berbantuan mind map lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran PBL. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model PBL berbantuan mind map lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran PBL terhadap kemampuan pemecahan masalah fisika secara kreatif ditinjau dari kemampuan awal siswa kelas x.
Efikasi Diri dan Kreativitas Menciptakan Inovasi Guru Nur Khayati; Sri Sarjana
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 21 No. 3 (2015)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v21i3.189

Abstract

The objective of this research is to determine the influence of self efficacy and creativity on innovation. This research was conducted at the State Senior High school in North Cikarang Subdistrict, Bekasi district, using a survey method with path analysis technique. Research samples were selected using random sampling technique and consisted of as many as 123 teachers. The research revealed the following: 1) self efficacy has a positive and direct effect on teacher innovation, 2) creativity also has a positive and direct effect on teacher innovation, and 3) self efficacy has a positive and direct effect on teacher creativity. The conclusion of this research is that innovation can be improved by fostering self efficacy and creativity. ABSTRAK Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh efikasi diri guru, dan kreativitas guru terhadap inovasi guru serta efikasi diri terhadap kreativitas guru dalam pembelajaran di sekolah. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri di Kecamatan Cikarang Utara Kabupaten Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik analisis jalur. Sampel penelitian sebanyak 123 guru yang dipilih menggunakan teknik acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) efikasi diri memiliki pengaruh langsung positif terhadap inovasi guru; 2) kreativitas berpengaruh langsung positif terhadap inovasi guru; dan 3) efikasi diri berpengaruh langsung positif terhadap kreativitas guru. Simpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa inovasi guru dalam pembelajaran di sekolah dapat ditingkatkan melalui efikasi diri dan kreativitas.
Konstrak Keterampilan Mengajar Mahasiswa Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar Rustam --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 21 No. 3 (2015)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v21i3.190

Abstract

This research aimed to determine the construct of the teaching skills of the students of Primary School Teacher Education Program. The method used in this research was a survey. The sample of this research was taken through proportionale random sampling technique with a sample size of 640 students Primary School Teacher Education Program Open University during their teaching in the real teaching at primary schools. The data were collected by using an observation method. The data were analyzed using the applications Confirmatory Factor Analysis (CFA). The results of this research showed that the construct of the teaching skills were developed through the lesson plan, conducting the learning activities, creating the classroom climate, demonstrating mastery learning materials, conducting assessment, and reflection. In conclusion, the six factors are empirically proven to be accurately, consistently, and precisely to measure the construct of teaching skills of primary school teacher education program students.ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah menentukan konstrak keterampilan mengajar mahasiswa Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Survei. Sampel penelitian diambil melalui teknik proportionale random sampling sebesar 640 mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Terbuka yang mengajar di kelas nyata di sekolah dasar. Pengumpulan data menggunakan metode observasi. Data dianalisis menggunakan aplikasi Analisis Faktor Konfirmatori (AFK). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konstrak keterampilan mengajar dibentuk oleh perencanaan pembelajaran, mengelola kegiatan pembelajaran, mengelola iklim kelas, mendemonstrasikan penguasaan materi pembelajaran, melakukan asesmen, dan melakukan refleksi. Kajian ini menyimpulkan bahwa keenam faktor tersebut secara empiris terbukti akurat, konsisten dan memiliki ketepatan dalam mengukur konstra keterampilan mengajar mahasiswa program PGSD.
Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Aksesibilitas Memperoleh Pendidikan untuk Anak-Anak di Indonesia Novrian Satria Perdana
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 21 No. 3 (2015)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v21i3.191

Abstract

The purpose of this study is to determine the factors that influence the accessibility of education for children in Indonesia. This research used SUSENAS data from 2014 and 372,142 children aged 7-18 years as the unit of analysis. This research used the logit regression method with data processing software STATA 13. After using STATA 13 to process data from 372,142 children, the study revealed the following result: Prob> chi2 = 0.0000, which indicates that the model tested in this research is correctly classified with a value of 89.93 percent. Thus, this model is able to predict children’s access to education. Further, the dependent variable can be influenced by the independent variables as much as 89.93 percent. It can be concluded that factors positively affecting children’s access to education in Indonesia are as follows: being female and living in an urban area, having a mother who achieved higher educational levels, living in closer proximity to school, having parents who are married at a productive age, belonging to a household with a higher income per capita and belonging to a household containing a smaller number of members.ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap aksesibilitas memperoleh pendidikan bagi anak-anak di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data SUSENAS 2014 dengan unit analisis anak berusia 7-18 tahun, jumlah responden sebanyak 372.142 anak. Penelitian ini menggunakan metode regresi logit dengan software pengolah data STATA 13. Setelah dilakukan olah data dengan menggunakan software STATA 13 dari 372.142 anak diperoleh Prob>chi2 =0.0000, artinya bahwa model yang diujikan dalam penelitian ini signifikan dengan nilai correctly classified sebesar 89,93 persen. Dengan demikian, model ini mampu memprediksi aksesibilitas anak memperoleh pendidikan serta variabel terikatnya dapat dipengaruhi oleh variabel-variabel bebasnya sebesar 89,93 persen. Dapat disimpulkan bahwa anak perempuan yang bertempat tinggal di perkotaan, latar belakang pendidikan Ibu yang semakin tinggi, jarak ke sekolah yang dekat, orang tua yang menikah di usia produktif, semakin besarnya pendapatan per kapita rumah tangga, dan semakin sedikitnya jumlah anggota rumah tangga merupakan faktorfaktor yang berpengaruh terhadap aksesibilitas memperoleh pendidikan bagi anak-anak di Indonesia.
Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbasis Eksperimen Riil dan Laboratorium Virtual terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Dedi Holden Simbolon; Sahyar --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 21 No. 3 (2015)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v21i3.192

Abstract

This study aims to analyze the difference of learning outcomes between studentswho were taught physics using guided inquiry-based learning model experiments with real and virtual laboratory learning model compare to Instruction Direct Instruction (DI).This study was a quasi-experimental. The study population was students of class XI-IPA Methodist 1 High School Medan of the school year 2012/2013. Sampling technique using a cluster random sampling consisting of two classes with a total sample of 76 students. The data analysis performed by Two Way Anova. The results obtained that there are significant difference between the results of studying physics students taught using guided inquiry learning model based on real and virtual laboratory experimentation and students taught using direct learning model. It can be concluded that the Guided Inquiry learning model based on real and virtual laboratory experiments is better than direct instructional model in improving student learning outcomes physics. There is a significant interaction between guided inquiry learning model based on real and virtual laboratory experiments and direct instructional model regarding the level of activity of the physics students’ learning outcomes.ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan antara hasil belajar fisika siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis eksperimen riil dan laboratorium virtual dibandingkan dengan model pembelajaran Direct Instrusction (DI). Penelitian ini bersifat eksperimen semu (quasi experiment). Populasi penelitian adalah siswa kelas XI-IPA SMA Methodist 1 Medan tahun pelajaran 2012/ 2013.Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan cluster random sampling yang terdiri atas dua kelas dengan jumlah sampel seluruhnya 76 orang siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis variansi dua arah. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar fisika siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis eksperimen riil dan laboratorium virtual dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran langsung (Direct Instruction). Dari hasil ini, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Inkuiri Terbimbing berbasis eksperimen riil dan laboratorium virtual lebih baik dari pada model pembelajaran langsung (Direct Instruction) dalam meningkatkan hasil belajar fisika siswa. Ada interaksi yang signifikan antara model pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis eksperimen riil dan laboratorium virtual dengan model pembelajaran langsung (Direct Instruction) dengan tingkat aktivitas terhadap hasil belajar fisika siswa.
Diversifikasi Kurikulum dalam Kerangka Desentralisasi Pendidikan Sutjipto --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 21 No. 3 (2015)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v21i3.193

Abstract

The purpose of this article is to examine curriculum development in the context of decentralized education governance. The results of the study show that, firstly, the legislation in effect contains provisions that make it possible for each district/region to play a role in developing curriculum tailored to the characteristics, needs and potential of each district/region. Second, diversifying and customizing curriculum content can begin with the formation of ideas and designs as well as the implementation and evaluation of the existing curriculum. Alterations made to curriculum content can range in scope from the structuring of the curriculum, the selection of essential study materials or the elaboration upon the existing standard. Third, there needs to be a change in the understanding of curriculum diversification and development. Such development should be understood as intricate work that requires professionals and experts to work together as a team to be more adequate, efficient and effective. Fourth, in terms of human resources, regional areas in Indonesia are considered to have people who are experienced in developing and customizing curriculum. Fifth, diversification of the curriculum still requires a variety of regulations to form a basis from which the development team can carry out its duties. It can be concluded that policy that facilitates the customization of the curriculum has been enacted to encourage diversity, which evolves continuously without disregarding national education goals.ABSTRAK Tujuan artikel ini untuk mengkaji khasanah pengembangan diversifikasi kurikulum ditinjau dari domain desentralisasi pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pertama, dari sisi peraturan perundang-undangan yang berlaku terdapat ketentuan yang mengikat semua pihak bahwa daerah dimungkinkan dapat berperan dalam pengembangan diversifikasi kurikulum yang disesuaikan dengan karakteristik, kebutuhan dan potensinya. Kedua, konten diversifikasi kurikulum dapat dimulai dari ide, perancangan, implementasi dan evaluasi kurikulum yang cakupannya mulai dari penataan struktur, pemilihan bahan kajian yang esensial baik secara utuh maupun merupakan penjabaran dari standar yang ada. Ketiga, dengan memandang bidang pekerjaan pengembangan diversifikasi kurikulum sebagai wilayah garapan yang tidak sederhana diperlukan tenaga pengembang yang profesional, yang berarti tim tidak mungkin bekerja sendiri agar tugas-tugas tim menjadi lebih memadai, efisien, dan efektif. Keempat, dari kesiapan sumber daya manusia daerah dianggap cukup berpengalaman dalam mengembangkan diversifikasi kurikulum. Kelima, bahwa diversifikasi kurikulum masih memerlukan beragam regulasi sebagai dasar bagi tim pengembang untuk melaksanakan tugasnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa diversifikasi kurikulum merupakan kebijakan yang telah diberlakukan untuk mendorong keberagaman berkembang secara terus menerus tanpa menafikan tujuan pendidikan nasional.
Persepsi Mahasiswa terhadap Sistem Ujian '˜Buka Buku': Studi pada Program Pascasarjana Suciati
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v1i1.224

Abstract

This study was designed to explore student perceptions on 'open-book' examination system and the benefit of allowing access for online material to students during exam. The data was collected from 92 graduate students, age between 22 to 60 years old, 67% fall within the 28 to 50 age bracket. The instrument was a questionnaire consisting of 14 items to measure perceptions on 'open-book' exam. Open items about allowing students to access internet during 'open-book' exam was included in the instrument. The findings indicate that for various reasons, students (86.8 %) prefer open-book exam than closed-book exam. Students perceive open-book exam as more suitable for graduate study, inhibit remember-level knowledge , reduce exam anxiety , and encourage students to be well prepared for the exam. Some students consider that allowing students for free internet access during open book exam will benefit students, since they will be able to complement their answer with further analysis using online material. However, setting up a scheme for open-book exam and allowing students internet access during the exam will require a comprehensive, well-thought and well-developed exam items and procedure. This is truly a challenging task for lecturers and teachers. This study concludes that students have a positive perception in regards to open-book exam and use of internet in open-book exam. It is advisable to use open book exam as an alternatif assessment system in various levels of education, while at the same time investigating dimensions which affects the effectiveness of this system. ABSTRAK Penelitian ini merupakan studi eksploratori, bertujuan untuk mengkaji persepsi mahasiswa terhadap sistem ujian akhir 'buka buku', dan kemungkinan memberikan kebebasan kepada mahasiswa mengakses informasi online selama ujian. Responden penelitian sebanyak 92 mahasiswa magister, berusia 22 - 60 tahun, 67% berusia antara 28 sampai dengan 50 tahun. Â Instrumen berupa kuesioner yang terdiri atas 14 pertanyaan tertutup tentang sistem ujian 'buka buku' menggunakan skala Likert 1-5, dan pertanyaan terbuka tentang kebebasan menggunakan internet dalam ujian 'buka buku'. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya (86.8%) mahasiswa mempunyai persepsi yang positif terhadap sistem ini dan sebagian besar (77%) lebih menyukai sistem ujian 'buka buku' daripada 'tutup buku'. Sistem ini dinilai lebih sesuai untuk jenjang pendidikan pascasarjana yang sejalan dengan prinsip pendidikan yang baik karena tidak mengandalkan hafalan, mengurangi kecemasan mahasiswa dalam ujian, dan membuat mahasiswa lebih serius mempersiapkan diri. Penggunaan internet secara bebas dalam ujian sistem 'buka buku' dinilai baik karena mahasiswa dapat melengkapi jawabannya dengan analisis materi internet yang diakses. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mahasiswa mempunyai persepsi yang positif terhadap sistem ujian 'buka buku' dan penggunaan internet dalam sistem ini, baik karena pertimbangan akademik maupun psikologis. Oleh sebab itu, sistem ujian ini dapat lebih luas digunakan pada berbagai jenjang pendidikan sebagai alternatif sistem ujian. Pada saat yang sama, perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengenai pengaruh sistem ini pada mahasiswa, serta berbagai strategi untuk menjadikan sistem ujian ini efektif.
Model Ujian Nasional Berbasis Komputer: Manfaat dan Tantangan Rogers Pakpahan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v1i1.225

Abstract

The purpose of this writing was to review, analyze, and discover the barriers of the implementation of the National Computer-Based Exam. The methodology used was qualitative method with descriptive analysis of the relevant studies and monitoring results of national examinations. The study results show that computer-based test can be implemented in all areas or educational unit when supported by computers and the internet. In order to implement it properly, the schools or educational units must set up the computer hardware, the Internet network and local network computers. The study also reveals that it is saving the printing costs, the security of the script, facilitating the distribution of exam materials, easy to reach the entire area, security, easy to score of the scoring process, and it is possible to print the certificate of test results after completing the exam. The barriers of implementing this model include a wide area or vast territory, computer hardwares, internet facilities, and the support of stakeholders. However, the implementation of computerbased national examinations can be carried out across the region in line with advances in technology information. It conclusion, the implementation of on line computer-based national examinations within a limited area either district/city, provincial, and national levels will shorten the chain of implementation of national examinations that benefits the stakeholders. In addition, implementing online computer based examination enables them to immediately obtain the result after the implementation of the test. ABSTRAKTujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengkaji, menganalisis, dan menemukan hambatan pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Metodologi yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis deskriptif pada studi atau hasil kajian yang relevan dan hasil pemantauan ujian nasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa ujian berbasis komputer dapat dilaksanakan di seluruh wilayah atau satuan pendidikan bila didukung oleh perangkat komputer dan internet. Agar pelaksanaan ujian berbasis komputer dapat berjalan dengan lancar, satuan pendidikan harus menyiapkan perangkat keras, jaringan internet, dan jaringan lokal komputer. Selain itu, hasil kajian model ujian nasional berbasis komputer adalah menghemat biaya penggandaan naskah, keamanan naskah, memudahkan distribusi bahan, mudah menjangkau seluruh wilayah, keamanan, mudah proses penskoran, dan memungkinkan pencetakan sertifikat hasil ujian dilakukan setelah ujian berlangsung. Hambatan model ujian nasional berbasis komputer antara lain cakupan wilayah yang luas, perangkat keras, sarana internet, dan dukungan para pemangku kepentingan. Namun demikian, pelaksanaan ujian nasional dapat dilaksanakan di seluruh wilayah seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Kajian ini menyimpulkan bahwa penerapan ujian nasional berbasis komputer secara langsung dalam wilayah terbatas baik kabupaten/kota, provinsi, maupun nasional akan memotong rangkaian penyelenggaraan ujian nasional sehingga membantu pemangku kepentingan dan hasil ujian nasional berupa nilai dan sertifikat ujian nasional akan segera diperoleh atau dimiliki peserta didik setelah pelaksanaan ujian berlangsung, tidak seperti selama ini, dimana peserta didik harus menunggu lama untuk memperoleh hasil tersebut. 
Peran Pemerintah Daerah dalam Implementasi Kurikulum 2013 Lucia H Winingsih
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v1i1.226

Abstract

The purpose of the study was to examine the local’s government role in implementing the newly Curiculum 2013, in particular related to the role in: (1) sosialization; (2) training for teachers, pricipal, and school supervisor; (3) providing and distribution of the books; (4) financing; and (5) monitoring and evaluation of the implementation of Curriculum 2013. The study used qualitative method, and used focus group discussion (FGD) in data collection. Descriptive Analysis used to explain the result of the study. The study shows that (1) Budget for the Curriculum 2013 is not provided by the local government so that they cannot socialize the curriculum formally;(2) though in the curriculum implementation their role is as only the coordinator,their role is increasing in financing by allocating fund for principal and teacher training ; (3) local government has important role in providing and distributing the books by supplying CD to substitute the books since the books were significantly delayed to reach the area; (4) most of the local government has improved their role in financing the implementation of curriculum, particularly for the financing of teachers training; and (5) the local government has very limited role for the monitoring and evaluation because the process of the implementation of Curriculum 2013 was still going on, also the competencies of the local actors for monitoring and evaluation is still needed to improve. The study concludes that the local governments do not have significant role in the beginning of the implementation of Curriculum 2013. ABSTRAKTujuan dari penelitian ini untuk mengkaji peran pemerintah daerah dalam pengimplementasian Kurikulum 2013, terutama terkait dengan (1) sosialisasi, (2) pendidikan dan pelatihan (diklat) guru, kepala sekolah dan pengawas, (3) pengadaan dan distribusi buku, (4) pendanaan, dan (5) monitoring dan evaluasi. Penelitian menggunakan metode kualitatif, data dikumpulkan dengan cara focus group discussion (FGD). Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pemerintah daerah pada umumnya tidak menyediakan anggaran secara khusus untuk kepentingan sosialisasi Kurikulum 2013, melakukan sosialisasi kepada guru, kepala sekola, pengawas umumnya yang disisipkan melalui berbagai kegiatan rapat dinas, workshop, seminar, pendidikan dan pelatihan, dan kegiatan-kegiatan seperti KKG, MGMP, KKS, dan forum pengawas sekolah; (2) peran pemerintah daerah dalam pendidikan dan pelatihan Kurikulum 2013 terbatas sebagai koordinator; (3) pemerintah daerah menjadi sangat berperan dalam mengatasi keterlambatan pengadaan dan distribusi buku, yaitu dengan cara memfasilitasi pengadaan compact disc (CD) pengganti buku, dan berkoordinasi dengan sekolah untuk memenuhi kebutuhan buku; (4) dalam hal pendanaan, pemerintah daerah mulai terlibat di tahun kedua implementasi Kurikulum 2013, sebagian besar pemerintah daerah menyediakan anggaran melalui APBD dalam berbagai bentuk, sebagian besar untuk melatih guru dan yang lainnya umumnya untuk melatih kepala sekolah dan pengawas; dan (5) pemerintah daerah umumnya belum melakukan monitoring dan evaluasi terhadap implementasi Kurikulum 2013 karena selain masih dalam proses implementasi, pengetahuan pelaku monitoring dan evaluasi mengenai Kurikulum 2013 di daerah masih terbatas. Penelitian ini meyimpulkan bahwa peran pemerintah daerah masih belum signifikan dalam pengimplementasian Kurikulum 2013.
Pengembangan Pembelajaran Permainan Adaptif Berbasis Perkembangan Aktual bagi Anak Berkebutuhan Khusus Widodo --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v1i1.227

Abstract

This article aimed to examine the role of adapted game in overcoming psychological problems for children with special needs and role of learning of adapted game-based actual development model in improving the courage and confidence to try a new skill for children with special needs. The method used literature review. The results show, first, the psychological problems in this case courage and confidence to try a new skills can be overcomed by applying adapted game. The potency of adapted game in addressing the issue due to the concept of self-efficacy and Zone of Proximal Development (ZPD) and its scaffolding.With this concept, the application of adapted game involving other people as a successful model and a scaffold to help learn new skills, and the learning starts from the skills that can be performed by child independently. Second, the adapted game based on actual development model may increase the courage and confidence because of their emphasis on the planning function in the field with its main target ‘children want to try repeating’ causing a sense of comfort, and the development of the model put assesment of the child’s skills as a first step, and followed by the next four steps, namely accommodation and modification, implementation, instruction, and evaluation.This study concludes that the adapted game and the learning of adapted game based on actual development model can overcome the psychological problems of children with special needs, especially the problem of courageous and confidence to try out a new skill. ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran permainan adaptif dalam mengatasi permasalahan psikis anak berkebutuhan khusus (ABK) dan peran model pembelajaran permainan adaptif  berbasis perkembangan aktual dalam meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri ABK untuk mencoba suatu keterampilan baru. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka. Hasil kajian menunjukkan, pertama, permasalahan psikis ABK berupa keberanian dan kepercayaan diri untuk mencoba suatu keterampilan baru dapat diatasi dengan menerapkan permainan adaptif. Kemanjuran permainan adaptif dalam mengatasi permasalahan tersebut dikarenakan adanya konsep efikasi diri dan zona perkembangan terdekat beserta perancahnya. Dengan konsep tersebut, permainan adaptif diterapkan dengan melibatkan orang lain sebagai model sukses dan perancah untuk membantu ABK mempelajari keterampilan baru, serta pembelajarannya dimulai dari keterampilan yang sudah dapat dilakukan oleh ABK secara mandiri. Kedua, model permainan adaptif berbasis perkembangan aktual dapat meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri ABK. Hal tersebut dikarenakan adanya penekanan pada perencanaan fungsional di lapangan dengan target utamanya ‘anak mau mencoba melakukan permainan dan mengulanginya’ sehingga timbul rasa nyaman. Pengembangan model dilakukan dengan menempatkan asesmen awal terhadap keterampilan ABK sebagai langkah pertama yang dikuti empat langkah berikutnya, yaitu akomodasi dan modifikasi, implementasi, pengajaran, dan evaluasi. Kesimpulan kajian ini adalah permainan adaptif dan model pembelajaran permainan adaptif berbasis perkembangan aktual dapat mengatasi permasalahan psikis ABK, terutama masalah keberanian dan kepercayaan diri untuk mencoba suatu keterampilan baru.