cover
Contact Name
Bandiyah
Contact Email
jurnaldikbud1@gmail.com
Phone
+6281288370671
Journal Mail Official
jurnaldikbud@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Sekretariat BSKAP Kemendikbud Gedung E, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta 10270 Telepon: (021) 57900405, Faksimile: (021) 57900405 Email: jurnaldikbud@kemdikbud.go.id; jurnaldikbud@yahoo.com
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
ISSN : 24608300     EISSN : 25284339     DOI : https://doi.org/10.24832/jpnk.v5i1.1509
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan is a peer-reviewed journal published by Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Agency for Research and Development, Ministry of Education and Culture of Republic of Indonesia), publish twice a year in June and December. This journal publishes research and study in the field of education and culture, such as, education management, education best practice, curriculum, education assessment, education policy, education technology, language, and archeology.
Articles 535 Documents
Kekerasan dalam Berita: Kajian Pendidikan Media bagi Anak Diyan Nur Rakhmah W
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i2.285

Abstract

The objective of this paper is to review the pattern of how media deliver crime and violence news associated with the importance of media education for children. This paper also offers solution for parents, media practiotioners, educators and other stakeholders who have concern on children’s education and behavioral development. Its analysis uses literature study method. It can be concluded from the study’s results that media, either printed or electronics, played a major role to built the children’s personality and paradigm. Not only as learning instrument and source learning, but media has a strategic influence in establishing children’s daily pattern, media can also trigger crime and mischief conducted by children. This study suggests parents, media practicioners and educators to optimize their roles in orchestrating healthy and nurturing media that can be enjoyed safely by children.ABSTRAK Tujuan penulisan ini yaitu untuk mengkaji pola pemberitaan media saat ini yang diwarnai dengan kekerasan dan kriminalitas dan dikaitkan dengan pentingnya pendidikan media bagi anak. Kajian ini juga mencoba menawarkan solusi terhadap berbagai permasalahan yang muncul sebagai akibat dari pengaruh buruk media, baik kepada orang tua, pengelola media, pendidik, dan pihak lain yang peduli terhadap pendidikan dan perkembangan perilaku anak Indonesia. Analisis kajian ini menggunakan studi literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa media cetak maupun elektronik berperan besar dalam membentuk pribadi dan pola pikir anak. Di samping sebagai tempat dan sumber belajar, media memiliki peran strategis dalam membentuk pola keseharian anak. Secara tidak langsung, media juga dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya tindakan kejahatan dan kriminalitas yang dilakukan oleh anak. Kajian ini merekomendasikan kepada orang tua, pengelola media, dan pegiat pendidikan dan tenaga pendidik terkait dengan alternatif solusi keberadaan media dengan cara mengoptimalkan perannya dalam menciptakan media yang bersih dan mendidik sehingga layak dikonsumsi oleh anak-anak dengan aman dan nyaman.
Menguak Tabir Kotak Pandora Manajemen Pendidikan Bambang Indriyanto
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i2.286

Abstract

Educational management, as the management in other areas, is a process which is thought as mystery one, since it takes places within an organization in which only selected persons in the organization get involved. In this article, that process is an analogy to the Pandora box. This article however is not intended to disclose negatives aspects of the management as the Pandora box literally connotes. On the contrary, it is intended to disclose management processes of education that give hopes to the improvement of efficiency and effectiveness of accountable educational policy implementation.ABSTRAK Manajemen pendidikan sebagai manajemen lainnya merupakan suatu proses yang sering dianggap bersifat misteri karena terjadi dalam suatu organisasi. Mereka yang terlibat adalah pihak-pihak tertentu yang berada pada tingkat manajemen. Dalam tulisan ini, proses tersebut analog dengan kotak Pandora. Namu demikian, tulisan ini tidak bermaksud untuk mengungkap hal negatif tentang manajemen pendidikan, sebagaimana makna sesungguhnya dari kotak Pandora. Tujuan tulisan ini justru untuk mengungkap proses manajemen pendidikan yang sedang berlangsung, sehingga dapat memberikan harapan bagi upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas, dan implementasi kebijakan pendidikan secara akuntabel.
Penerapan Sistem Neuro Associative Conditioning (NAC) pada Guru sebagai Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan Iskandar Agung
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i2.287

Abstract

A variety of educational and training programs for teachers have long been implemented by the government, but it has not given a significant effect in improving the quality of national education, especially in elementary and secondary education. In fact, even today there are many teachers who have obtained the certificate of an educator, the achievement of quality education tend has not been satisfied. That is because the awarding of educator certification not accompanied by any change in the teacher in carrying out his/her main task. In carrying their tasks, teachers are still stuck, survive, and guided by the old values   that tended to be passive. They are just running errands, in one direction teaching, boring, poor creativity, dependence, and others a like. Instead, teachers have not been able to transform themselves in accordance with the demands of competence and work professionalism, which is marked by attitudes and behavior of active learning, achievement-oriented, creative, doing self-development constantly, and so forth. Explicitly, that the effort to improve the quality of education will be difficult to achieve if it is not accompanied by a change in mind set or way of thinking within teacher. Adoption of NAC conception system as a way to change mind set or way of thinking seems noteworthy and need to be applied to teachers. Through that changes, it is expected to be the driving energy for teachers in carrying their task/ job competently and professionally.ABSTRAK Kajian ini bertujuan untuk membahas keberlangsungan perubahan dalam diri guru, terutama terkait dengan cara berpikir sejalan dengan tuntutan profesionalisme kerja. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara eksplisit, bahwa upaya peningkatan mutu pendidikan tergantung dari sikap dan perilaku profesionalisme kerja guru. Berbagai perlakuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru mengajar melalui penilaian portofolio dan pendidikan pelatihan profesionalisme guru (PLPG) melalui Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) mengindikasikan masih banyak guru yang telah memperoleh sertifikat pendidik, namun pencapaian mutu pendidikan cenderung masih belum memuaskan. Guru masih terjebak, bertahan, dan berpedoman pada nilai-nilai lama yang cenderung pasif, sekedar menjalankan tugas, pembelajaran searah, membosankan, kurang kreatif, ketergantungan, dan lain sebagainya. Sebaliknya, guru belum mampu mengubah diri sesuai tuntutan kompetensi dan profesionalisme kerja, sikap dan perilaku pembelajaran aktif, berorientasi pada prestasi, interaktif, kreatif, dan melakukan pengembangan diri. Hal ini sulit terwujud apabila tidak disertai dengan perubahan cara berpikir (mind set) diri guru. Pengadopsian konsepsi sistem Neuro Associative Conditioning (NAC) sebagai upaya perubahan cara berpikir, kiranya patut diperhatikan dan diterapkan terhadap guru.
Kompetensi, Sertifikasi Guru, dan Kualitas Belajar Siswa Sekolah Dasar Tjatjuk Siswandoko; Ace Suryadi
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 3 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i3.290

Abstract

This study aimed to examine the effect of teacher professional certification on the improved teachers’ competencies, and the quality of students’ learning. This cross-sectional survey, has randomly selected a number of primary schools from the West Java sampling frame at the systematic random sampling procedures. Data were collected from the sixth grade students and teachers, and headmasters in each of the selected schools, for which the individual sixth-grade students was the unit of analysis. This study used the production function model in which school leaving examination scores (UASBN) were be used as the criteria, and selected teachers’, students’, and schools’ variables were the predictors in the model. The analysis indicated that the teachers’ certification has hardly ever been able to promote certificate holders’ competencies. The certification has not even enabled the Ministry to map out teachers by competency levels, since a certificate of teachers was hardly determined by the real teachers’ competencies; they were notning more than just a label of teachers’ seniority and credential. As the certificate holders, teachers did not offer a guaranty to create a higher quality of teaching and improve the quality of students’ learning. The study found out that the students’ learning achievement was determined more by the social economic status of students’ family rather than by the actual certification mechanism. This study has recommended the Government to start reviewing and well improve the effectiveness of certification system that would enable the teachers to promote their own competencies and promote students’ learning sustainably.ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk mengetahui efek sertifikasi pendidik terhadap kompetensi guru dan kualitas belajar siswa. Studi cross-sectional survey, ini memilih sekolah dasar sampel secara random dari daftar sekolah dasar di Jawa Barat. Semua siswa dan guru kelas VI, kepala sekolah telah dijadikan responden, dan siswa adalah unit analisis dalam penelitian ini. Data dianalisis dengan menggunakan model fungsi produksi pendidikan dengan UASBN sebagai criteria, dan prediktor yang terpilih adalah variable sertifikasi, kompetensi guru, karakteristik siswa, kepala sekolah, dan sekolah itu sendiri. Hasil studi menunjukkan bahwa sertifikasi pendidik baru berfungsi untuk memacu kompetensi guru, bahkan belum mampu memetakan kompetensi guru, sehingga sertifikat yang dimiliki belum sepenuhnya merupakan indikator kompetensi, tetapi justru lebih berfungsi sebagai label dari senioritas guru. Dalam kondisi demikian, guru menjadi sulit mewujudkan prestasi belajar siswa, prestasi belajar siswa pada akhirnya ditentukan oleh SES (social economic status) keluarga dan kualitas sekolah. Oleh karena itu, Pemerintah diharapkan melakukan perbaikan sistem sertifikasi sehingga efeknya lebih signifikan terhadap kompetensi guru maupun prestasi belajar siswa.
Hubungan Antara Persepsi, Minat, dan Sikap Siswa dengan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran PKn Aina Mulyana; Soleh Hidayat; Sholih Sholih
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 3 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i3.291

Abstract

This study is aimed to describe the relationship between student perceptions of the effectiveness instructional media, interests and attitudes of students with learning outcomes in Civics at Junior High School students in Pandeglang District as the School Pilot National Standards (RSSN). The instrument used questionnaire and test. Data analysis using regression correlation. The results showed that: 1) there is a significant relationship between students’ perceptions about the effectiveness of the use of instructional media with learning outcomes (r = 0.669); 2) there is a significant relationship between students’ interest towards learning with learning outcomes (r = 0789); 3) there is a significant relationship between students’ attitudes to learning outcomes (r = 0.850); and 4) there is a significant relationship between student perceptions of the effectiveness to instructional media, interests and attitudes of the students together with learning outcomes (r = 0.870).ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hubungan antara persepsi siswa tentang efektivitas penggunaan media pembelajaran, minat dan sikap siswa dengan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn. Yang menjadi populasi adalah siswa kelas IX SMPN di Kab.upaten Pandeglang yang pada tahun 2012 berstatus RSSN. Jumlah sampel sebanyak 274 orang yang dipilih secara acak. Instrumen yang dipergunakan adalah angket dan tes hasil belajar. Analisis data menggunakan teknik analisis korelasi model regresi dengan pengujian signifikansi test statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi siswa tentang efektivitas penggunaan media pembelajaran dengan hasil belajar siswa (r=0.669); 2) terdapat hubungan yang signifikan antara minat siswa terhadap pembelajaran dengan hasil belajar siswa (r=0.789); 3) terdapat hubungan yang signifikan antara sikap siswa dengan hasil belajar siswa (r= 0.850); dan 4) terdapat hubungan hubungan yang signifikan antara persepsi siswa tentang efektivitas penggunaan media pembelajaran, minat dan sikap siswa secara bersama-sama dengan hasil belajar siswa (r= 0,870).
Penerapan Tujuh Langkah Menyusun Rencana Disiplin Kelas Proaktif Karya Colvin dalam Pembudayaan Hidup Aktif dan Sehat di Sekolah Widodo --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 3 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i3.292

Abstract

This study aimed to create new forms of activities as a supplement to create the school conditions that conducive to the cultivation of Active and Healthy Live and  to know the result of the application of forms activities. Research conducted by up to four cycles of action research for four months in one of high schools, secondary schools, and elementary schools.The results shown that: 1) the forms of designed activities can be used as a supplement in the acculturation of an active and healthy life at school, 2) prohibition of misconduct that were previously already left is necessary to be applied by loose tolerances then progressively tightened; 3) teaching learning through competition is an effective way to instill positive behavior; 4) providing tiered reward can be maintained as a positive behavior; 5) providing tiered guidance to improve problem behavior; 6) the data entry is done every day and it is published every four months; 7) the existence of  other institutions is necessary to sustain the long-term program; 8) the results of the application have shown: (a) increasing penchant to move for students and teachers, sports extracurricular activities, students’ awareness of self-health, collective health, and the environment, (b) the school environment changed in a positive direction, and (c) cases of student absence due to illness is also reduced and increasing the number of students who are categorized fitness “Good”.ABSTRAK Tujuan penelitian adalah untuk menciptakan bentuk-bentuk kegiatan sebagai suplemen untuk mewujudkan kondisi sekolah yang kondusif bagi pembudayaan hidup aktif dan sehat dan mengetahui hasil dari penerapan bentuk-bentuk kegiatannya. Penelitian dilakukan melalui penelitian tindakan sekolah hingga empat siklus selama empat bulan di salah satu sekolah menengah atas, sekolah menengah pertama, dan sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) bentuk-bentuk kegiatan yang diciptakan dapat dijadikan suplemen dalam pembudayaan hidup aktif dan sehat di sekolah; 2) larangan berperilaku salah yang terlanjur dibiarkan sebelumnya perlu diterapkan dengan toleransi yang longgar kemudian semakin diperketat; 3) pembelajaran melalui kompetisi merupakan cara efektif untuk menanamkan perilaku positif; 4) penghargaan secara berjenjang dapat mempertahankan perilaku positif; 5) pembinaan secara berjenjang dapat memperbaiki perilaku bermasalah; 6) pemasukan data dilakukan setiap hari dan publikasinya setiap empat bulan; 7) peran instansi lain diperlukan untuk mempertahankan program jangka panjang; 8) hasil penerapan telah menunjukkan: (a) peningkatan kegemaran bergerak bagi siswa dan guru, kegiatan ekstrakurikuler olahraga, kepedulian siswa terhadap kesehatan diri, kesehatan bersama, dan lingkungan; (b) perubahan lingkungan sekolah ke arah positif; dan (c) penurunan kasus siswa tidak hadir karena sakit dan peningkatan kebugaran.
Pendanaan Pendidikan Anak Usia Dini Josepha Maria Tedjawati
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 3 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i3.294

Abstract

This study aimed to describe the funding for early childhood education and the amount of funding from each source. This study used a qualitative approach through case studies in eight districts/cities. Research methods used in the research is descriptive quantitative. The study results show that: First, early childhood education funding generally comes from the central government and the regions. However, it is perceived still not sufficient for the operational costs of early childhood education. During this time, local governments still prioritize for compulsory education program. Funds coming from the public and agency/business/industry is still limited and depends on the economic ability and willingness of agencies/business/industry. Funds coming from the providers are not sufficient, it is highly dependent on parents income. Second, assistance from the government and donations from community institutions compases of money, educator incentives, and educational toys, books, medicine, and health check for students.ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pendanaan penyelenggaraan pendidikan anak usia dini dan besaran sumbangan dana dari masing-masing sumber. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kasus di delapan kabupaten/kota. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian, yaitu deskriptif kuantitatif. Hasil studi menunjukkan bahwa: pertama, pendanaan pendidikan anak usia dini umumnya masih bersumber dari pemerintah pusat dan daerah. Namun, hal itu dirasakan masih belum mencukupi untuk biaya operasional pendidikan anak usia dini. Selama ini, pemerintah daerah masih mengutamakan program wajib belajar pendidikan dasar. Dana yang bersumber dari masyarakat dan instansi/dunia usaha/industri masih terbatas dan tergantung pada kemampuan ekonomi masyarakat dan kesediaan dari instansi/dunia usaha/industri. Dana yang bersumber dari lembaga penyelenggara masih belum memadai, hal ini sangat tergantung kemampuan ekonomi orangtua peserta didik. Kedua, bantuan dari pemerintah dan sumbangan masyarakat/instansi terkait berupa uang, insentif pendidik, dan alat permainan edukatif, buku, obat-obatan, dan pemeriksaan kesehatan bagi peserta didik.
Pengaruh Gaya Pengasuhan Ibu terhadap Tingkat Kreativitas Siswa Sekolah Dasar Progresif dan Konvensional di Kota Depok Edianna Putri Mayang Sari; Ratna Megawangi; Dwi Hastuti
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 3 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i3.295

Abstract

The purpose of the research was to analyze the influence of parenting style on student’s creativity in two groups of schools in Depok City. Conducted in five schools representing progressive and conventional elementary schools, the total sample of this research was 150 students selected randomly among 4 and 5 grade students. The research was held from May until June 2012. Students were tested using Figural Creativity Test and Verbal Creativity Test. The result of this research showed that there were positive correlations between authoritative parenting style and figural creativity (0,172*); type of school and creativity (figural and verbal) (0,386** and 0,309**), it meant that children from progressive schools showed better creativity level than those in conventional schools. Figural creativity was influenced by children’s age, amount of children, and type of school (R adjusted = 0,205). Verbal creativity was influenced by mothers’ education level, authoritative parenting style, extracurricular/course activities, and type of school (R2 adjusted = 0,126).ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh gaya pengasuha terhadap tingkat kreativitas siswa sekolah dasar progresif dan konvensional di Kota Depok. Penelitian dilakukan di lima sekolah yang mewakili sekolah dasar progresif dan konvensional. Total contoh adalah 150 yang dipilih secara acak pada siswa kelas 4 dan 5. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2012. Tingkat kreativitas siswa diukur dengan menggunakan Tes Kreativitas Figural (TKF) dan Tes Kreativitas Verbal (TKV). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara gaya pengasuhan authoritative dan kreativitas figural (0,172*) pada pd”0,05; tipe sekolah dan kreativitas (figural dan verbal) (0,386** and 0,309**), artinya siswa dari sekolah progresif menunjukkan tingkat kreativitas yang lebih baik daripada siswa dari sekolah konvensional pada pd”0,01. Kreativitas figural dipengaruhi oleh usia anak, jumlah anak dalam keluarga, dan tipe sekolah (R2 adjusted = 0,205). kreativitas verbal dipengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu, gaya pengasuhan authoritative, stimulasi aktivitas (ekstrakurikuler/les), dan tipe sekolah (R2 adjusted = 0,126).
Efektivitas Perubahan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK)/Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) menjadi Universitas Idris H.M Noor
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 3 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i3.296

Abstract

The research investigates the effectiveness of the status change of teacher training institute into university. Research uses mixed quantitative and qualitative approach, evaluation and case study methods. sampling are stratified and purposive from eight public universities. Data collecting was Focus Group Discussion (FGD), kuessioner, and interview. Data analysis used percentage quantitative and case analysis of the unique of each study program at each university. The study shows: 1) universities are still keeping their roles as their core business to produce teachers and educational administrators, 2) Students competence significantly improves due to the education and non education program of the study reciprocally give or help each other as well as share their experience to enhance students’ competence in science and social subjects, 3) the enrolement of students tends to be increased every year with high academic qualification candidates, 4) curriculum consists of education and non education (pure science and social subjects), 5) lectrurers’ qualification also increases significantly, srata 1 tends to be decrease, while master dan doctor degree-S2/S3 increase significantly every year/period, 6) budget of each university and faculty is different due to the different location of universities and needs of each faculty, and 7) students cummulative achievement index (3.275) increases every year.ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi mengenai efektivitas perubahan status kelembagaan IKIP/LPTK ke universitas. Pendekatan yang digunakan, yaitu pendekatan kuantitatif dan kualitatif (mixed method) dengan metode evaluasi dan metode studi kasus. Sampel menggunakan stratified dan purposive sampling dari delapan universitas negeri. Pengumpulan data melalui Focus Group Discussion (FGD), wawancara, pengisian kuesioner. Analisis data menggunakan teknis kuantitatif dengan persentase dan analisis kasus melihat keunikan masing-masing prodi di masing-masing universitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:1) universitas eks LPTK/ IKIP tetap menjalankan core bussines-nya sebagai produsen pendidik dan tenaga kependidikan, 2) peningkatan kompetensi keilmuan mahasiswa cukup efektif karena program studi pendidikan dan program studi murni saling mengisi satu sama lain, 3) peminat mahasiswa terus meningkat setiap tahunnya dengan calon mahasiswa yang berkualifikasi akademik tinggi, 4) menggunakan kurikulum pendidikan dan nonpendidikan, 5) kualifikasi dosen terus meningkat (pendidikan S1 terus berkurang, sedangkan S2 dan S3 terus bertambah), 6) biaya setiap universitas dan fakultas berbeda karena perbedaan tempat dan kebutuhan, dan 7) keluaran (ouput) lulusan mahasiswa memiliki IPK mencapai di atas rata-rata di atas 3.275.
Kresna Duta: Akar-Akar Kekerasan dalam Pertunjukan Wayang Mikka Wildha Nurrochsyam
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 3 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i3.299

Abstract

Violence occurred in everyday life, not knowing the limits of space, age, and social status. Violence can be done either individually or in groups. Violence can occur because of law or political legitimacy, and even violence can take the form of symbolic both structurally and culturally. This study aims to: 1) describe the forms of violence in the story of Kresna Duta that was held by Ki Nartosabdo, and 2) look for the roots of violence committed by the main characters in this story. This study uses a hermeneutic method,  the method of interpretation to uncover the roots of violence in the story of Kresna Duta. Results of research show that there are three roots of violence in this story, namely: the desire for power; desire to be fair, and the desire to moral duty. Furthermore, a solution to overcome the violence exemplified by the attitude of Kresna, through communicative action with dialogue and democratic attitude in the face of conflict. ABSTRAK Kekerasan terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tidak mengenal batas ruang, usia, dan status sosial. Kekerasan dapat dilakukan, baik individu maupun kelompok. Kekerasan dapat terjadi karena legitimasi hukum atau politik; bahkan kekerasan dapat mengambil bentuk simbolis, baik secara struktural maupun kultural. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan bentuk-bentuk kekerasan dalam kisah Kresna Duta yang digelar oleh Ki Nartosabdo dan 2) mencari akar-akar kekerasan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh utama dalam kisah ini. Penelitian ini menggunakan metode hermeneutik, yaitu metode penafsiran sehingga terungkap akar-akar kekerasan dalam kisah Kresna Duta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga akar kekerasan dalam kisah ini, yaitu: hasrat untuk berkuasa; hasrat untuk bersikap adil; dan hasrat untuk membalas budi. Selanjutnya, solusi untuk mengatasi kekerasan dicontohkan oleh sikap Kresna yaitu, melalui tindakan komunikatif dengan dialog dan sikap demokratis dalam menghadapi konflik.