cover
Contact Name
Bandiyah
Contact Email
jurnaldikbud1@gmail.com
Phone
+6281288370671
Journal Mail Official
jurnaldikbud@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Sekretariat BSKAP Kemendikbud Gedung E, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta 10270 Telepon: (021) 57900405, Faksimile: (021) 57900405 Email: jurnaldikbud@kemdikbud.go.id; jurnaldikbud@yahoo.com
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
ISSN : 24608300     EISSN : 25284339     DOI : https://doi.org/10.24832/jpnk.v5i1.1509
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan is a peer-reviewed journal published by Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Agency for Research and Development, Ministry of Education and Culture of Republic of Indonesia), publish twice a year in June and December. This journal publishes research and study in the field of education and culture, such as, education management, education best practice, curriculum, education assessment, education policy, education technology, language, and archeology.
Articles 535 Documents
PENGARUH KONSEKUENSI PERILAKU DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR Purwanto Purwanto
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 69 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i69.347

Abstract

Konsekuensi perilaku dan motivasi belajar berpengaruh terhadap hasil belajar. Hasil belajar siswa yang mempunyai motivasi belajar intrinsik dan ekstrinsik akan berbeda pada kondisi penguatan dnn hukuman. Siswa yang mempunyai motivasi belajar intrinsik mempunyai hasil belajar yang lebih tinggi pada kondisi hukuman daripada penguatan. Sebaliknya, pada siswa yang mempunyai motivasi belajar ekstrinsik, penguatan mempunyai efek yang lebih baik daripada hukuman dalam meningkatkan hasil belajar. Untuk ltu penggunaan konsekuensi perilaku sebagai cara meningkatkan hasil belajar harus mempertimbangkan karakteristik motivasi belajar siswa. Pada kelompok siswa yang mempunyai motivasi belajar lntrinsik, hukuman dianjurkan digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar. Sedang pada kelompok siswa yang mempunyai motivasi belajar ekstrinsik penguatan dianjurkan digunakan untuk meningkatkan hasil belajar. 
MODEL RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Herry Widyastono
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 69 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i69.349

Abstract

Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien, guru dituntut untuk menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran sebelum melaksanakan pembelajaran. Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran mungkin selama ini didasarkan atas intuisi, kepraktisan, mencontoh pengajar favoritnya ketika masih menjadi mahasiswa di lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), atau atas dasar teori-teori tertentu yang pernah dipelajarinya. Salah satu model rencana pelaksanaan pembelajaran yang ditawarkan di sini, di dalamnya terkandung komponen: (1) Urutan kegiatan pembelajaran, yaitu urutan kegiatan pengajar dalam menyampaikan materi pelajaran (pesan/informasi) kepada siswa; (2) Metode pembelajaran, yaitu cara pengajar mengorganisasikan pesanl lnformasi dan siswa agar terjadi pembelajaran; (3) Media pembelajaran, yaitu peralatan yang digunakan untuk menyalurkan pesan/informasi dari pengirim (sumber belajar) kepada penerima pesan (siswa); (4) Sumber belajar, yaitu sumber pesan/informasi yang akan dipelajari siswa; dan (5) Waktu yang digunakan oleh siswa dan pengajar dalam menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan pembelajaran.
DESAIN DAN PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK (SOFTWARE) PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS MULTIMEDIA Rahayu Kariadinata
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 69 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i69.350

Abstract

Perangkat lunak (software) pembelajaran matematika dapat diartikan sebagai bahan ajar matematika yang berbasis teknologi komputer. Penggunaan bahan ajar matematika berbasis komputer sangat memungkinkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Hal ini dikarenakan komputer memiliki kelebihan, diantaranya komputer memberi fasilitas bagi pengguna untuk mengulang bila  diperlukan. Salah satu bentuk teknologi komputer yang saat ini banyak digunakan dalam bidang pendidikan, adalah multimedia. Elemen-elemen yang terdapat dalam multimedia seperti gambar, grafik, warna, animasi, dan video dapat mengoptimalkan peran indera dalam menerima informasi ke dalam sistem memori. Dalam merancang perangkat lunak (software) pembelajaran matematika berbasis mul­timedia terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan diantaranya, a) sajian materi harus sesuai dengan kompetensi dasar, b) penyajian harus menarik minat siswa, sistematis, mengikuti teori­-teori belajar, menggunakan bahasa yang tepat, dan memperhatikan tingkat kematangan siswa, c) harus dilengkapi navigasi dan petunjuk penggunaannya, dan d) kualitas fisik perangkat lunak harus baik, sedangkan pada tahap pengembangan bahan ajar menggunakan model CADMAETD, yaitu concept (konsep), analysis (analisis), de­sign (desain), material collecting (pengumpulan bahan), assembly (pembuatan), evaluation (evaluasi), testing (ujicoba), dan distribu­tion (distribusi).
MENGELOLA INSTITUSI PENDIDIKAN PADA SISTEM PENDIDIKAN JARAK JAUH DENGAN EFEKTIF: BELAJAR DARI KARAKTERISTIK MAHASISWA Durri Andriani; Nurmala Pangaribuan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 69 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i69.351

Abstract

Artikel ini memberi gambaran riil mahasiswa pada institusi pendidikan tinggi yang menerapkan sistem pendidikan jarak jauh (PJJ) yang diperoleh dari 29 laporan penelitian, artikel dan makalah seminar tentang mahasiswa Universitas Terbuka (UT) yang merupakan satu-satunya institusi pendidikan tinggi yang menerapkan sistem PJJ secara utuh. Secara khusus, di sini dibahas profil, persepsi terhadap PJJ, motivasi, strategi belajar, pengenalan dan pemanfaatan media dalam proses belajar, serta kendala belajar yang dialami mahasiswa PJJ. Gambaran riil ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih operasional tentang siapa dan bagaimana mahasiswa melakukan proses pembelajaran, serta bagaimana mereka menyikapi proses belajar di sistem PJJ. Pada gilirannya, informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan rujukan bagi institusi pendidikan yang menerapkan sistem PJJ untuk mengelola institusinya sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif.
KARAKTERISTIK DARI PROSES KEPENDIDIKAN YANG BERMAKNA BAGI REVITALISASI PENDIDIKAN MORAL DALAM MENGHADAPI TANTANGAN ZAMAN Tri Rijanto
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 69 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i69.352

Abstract

Perbuatan korupsi yang dilakukan seseorang ataupun sekelompok orang menunjukkan rendahnya moral bahkan hilangnya moral individu dan moral bangsa. Ironisnya, korupsi itu terjadi di sekolah, sebagai pusat pembudayaan nilai-nilai moral anak bangsa. Rendahnya moral individu dan bangsa menunjukkan gagalnya pendidikan moral di sekolah. Bangsa yang korup dan moral masyarakatnya rendah akan sulit dalam menghadapi tantangan zaman, yaitu tantangan-tantangan yang lahir dari persoalan­ persoalan yang dihadapi suatu masyarakat atau suatu bangsa dalam kurun waktu tertentu. Oleh karena itu, diperlukan proses kependidikan yang bermakna bagi revitalisasi pendidikan moral dalam menghadapi tantangan zaman.
KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN KAJIAN YURIDIS DAN KONSEPTUAL Herry Widyastono
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 66 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i66.353

Abstract

Terdapat sejumlah kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan yang dianggap kontroversial oleh sebagian masyarakat; ada yang pro, ada pula yang kontra. Kebijakan tersebut antara lain mengenai pergantian kurikulum. Yang kontra beranggapan bahwa setiap ganti menteri ganti pula kurikulum; misalnya, Kurikulum 2004 belum dipahami sepenuhnya, sudah diganti dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pemberlakuan KTSP merupakan pelaksanaan dari amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan; serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar lsi (SJ), Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI & SKL untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Selain itu, pemberlakuan KTSP juga merupakan penerapan dari berbagai teori pengembangan kurikulum. KTSP, ditinjau dari model kurikulum, merupakan penerapan model kurikulum berbasis kompetensi; ditinjau dari model pengelolaan pengembangan kurikulum, merupakan penerapan model pengelolaan pengembangan kurikulum oleh satuan pendidikan; ditinjau dari model implementasi kurikulum, merupakan penerapan gabungan model implementasi kurikulum mutual adap­tive dan enachment.
KURIKULUM PENDIDIKAN DI INDONESIA SEPANJANG SEJARAH (SUATU TINJAUAN KRITIS FILOSOFIS) Anzar Abdullah
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 66 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i66.354

Abstract

Perjalanan praktek dan refleksi pendidikan selama 60 tahun Indonesia merdeka; dalam rekaman sejarah tidak mengalami kemajuan yang berarti, bahkan boleh dikatakan lemah dalam visi dan misi global. Selama Indonesia merdeka, yang terjadi dalam dunia pendidikan di Republik ini, hanyalah pergantian kurikulum dan uji­ coba kurikulum, sesuai dengan kepentingan politik penguasa. Padahal yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah dalam proses pendidikan, bukan terletak pada bongkar pasang kurikulum, tetapi adalah: menjadikan sektor pendidikan menjadi pilar utama pembangunan nasional untuk mengejar ketertinggalan bangsa In­donesia dalam mengikuti kompetisi global. Tulisan ini membahas tentang bagaimana sejarah perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia dalam prakteknya; bagaimana kurikulum pendidikan menjadi bagian dari kepentingan politik birokrasi; serta bagaimana guru dan sekolah menyikapi setiap perubahan dan pergantian kurikulum.
PROGRAM PENDIDIKAN LIFE SKILLS BAGI SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DI WILAYAH PESISIR Subijanto Subijanto
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 66 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i66.355

Abstract

Tidak semua lulusan sekolah menengah atas (SMA) melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Kebijakan pendidikan berbasis luas (broad based education) diimplementasikan dalam bentuk program life skills yang antara lain dikembangkan di SMA. Hal ini dimaksudkan agar tamatan SMA yang tidak melanjutkan pendidikannya memiliki bekal keterampilan dasar untuk bekal kehidupan dan!atau bekerja. Program pendidikan life skills selain disesuaikan dengan kebutuhan siswa juga dipertimbangkan kondisi potensi daerah atau lingkungan sekolah. Salah satu potensi daerah yang belum dikembangkan secara optimal antara lain pesisir yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi laut. Potensi laut Indonesia sangat kaya dengan berbagai ragam ikan dan rumput laut. 0leh karenanya, bentuk life skills yang dapat dikembangkan di wilayah tersebut, antara lain: (a) Teknologi Pengolahan Ikan, (b) Pengolahan Tradisional atau Modern, (c) Pengolahan Rumput Laut, (d) Teknologi Budidaya Rumput Laut, (e) Budidaya lkan di Kolam Air Tawar, (f) Budidaya ikan dengan Pola Minapadi, (g) Budidaya Jkan dengan Air Tawar dengan Pola Keramba, (h) Budidaya ikan Air Payau (Tambak), dan (i) Pengolahan Hasil Kelautan dan Perikanan.
KONSEP INSTRUMEN PENELITIAN PENDIDIKAN Baso Intang Sappaile
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 66 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i66.356

Abstract

Instrumen merupakan suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis sehingga dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur suatu objek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variabel. Suatu instrumen dikatakan baik bila valid dan reliabel, baik validitas isi, konstruk, validitas empirik, reliabilitas konsistensi tanggapan, maupun reliabilitas konsistensi gabungan butir. Validitas internal skor butir dikotomi dan skor butir butir politomi berturut-turut digunakan KR-20 dan koefisien Alpha. Interpretasi terhadap koefisien reliabilitas merupakan interpretasi relati dalam artian bahwa tidak ada batasan mutlak yang menunjukkan berapa angka koefisien minimal yang harus dicapai agar suatu pengukuran dapat disebut reliabel. Namun dapat memberikan informasi tentang hubungan varians skor teramati dengan varians skor sejati kelomok individu. Tujuan mengestimasi reliabilitas tidak lain adalah untuk menentukan seberapa besar variabilitas yang terjadi akibat adanya kesalahan pengukuran dan seberapa besar variabilitas skor tes sebenarnya.
IMPLEMENTASI KEPMENDIKNAS DI DAERAH Philip Suprastowo
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 66 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i66.358

Abstract

Tujuan studi adalah memperoleh rekomendasi kebijakan dalam upaya meningkatkan implementasi Kepmendiknas No.120/U/2001 tentang Persyaratan Khusus Pengangkatan Pejabat Struktural Pengelola Pendidikan Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota. Persyaratan dimaksud terdiri atas: pendidikan, pengalaman kerja, Diklat, dan penguasaan bahasa lnggris. Studi ini bersifat evaluatif, dilaksanakan di 24 kota/kabupaten. Responden studi terdiri atas: Sekda, Kepala Dinas Pendidikan, dan Kasubdin Pendidikan Kabupaten/Kota. Hasil studi menunjukkan bahwa dalam pengangkatan pejabat struktural pengelola pendidikan, belum semua pemerintahan kota/kabupaten mengimplementasikan Kepmendiknas No. 120/U/2001. Pada aspek pendidikan, hampir semua pejabat struktural di dinas pendidikan kotalkabupaten pada eselon II. III dan IV telah memiliki tingkat berpendidikan sesuai persyaratan. Namun demikian, sebagian pejabat tidak memiliki pengalaman pekerjaan/jabatan di bidang pendidikan dan pengalaman diktat Berdasarkan hasil studi direkomendasikan: (1) Depdiknas perlu meyakinkan pemerintah kota/kabupaten tentang kekuatan hukum Kepmendiknas, (2) dalam pengangkatan jabatan struktural pengelola pendidikan secara konsisten mengacu pada Kepmendiknas No.120/U/2001; dan (3) sosialisasi Kepmendiknas perlu dilakukan melalui cara, mekanisme, dan sasaran yang lebih baik di masa mendatang.