cover
Contact Name
Bandiyah
Contact Email
jurnaldikbud1@gmail.com
Phone
+6281288370671
Journal Mail Official
jurnaldikbud@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Sekretariat BSKAP Kemendikbud Gedung E, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta 10270 Telepon: (021) 57900405, Faksimile: (021) 57900405 Email: jurnaldikbud@kemdikbud.go.id; jurnaldikbud@yahoo.com
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
ISSN : 24608300     EISSN : 25284339     DOI : https://doi.org/10.24832/jpnk.v5i1.1509
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan is a peer-reviewed journal published by Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Agency for Research and Development, Ministry of Education and Culture of Republic of Indonesia), publish twice a year in June and December. This journal publishes research and study in the field of education and culture, such as, education management, education best practice, curriculum, education assessment, education policy, education technology, language, and archeology.
Articles 535 Documents
Sistem Informasi Manajemen Perguruan Tinggi Dalam Bidang Pendataan Pendidikan Tinggi Bambang S Joko
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i2.442

Abstract

The purpose of descriptive research is to determine the objective conditions of the problems and constraints, data collection mechanisms, and use of information and communication technology to support higher education management information system. The approach used is kunatitatif approach that leads to the observation or measurement data expressed in numbers to get a picture of the problems faced by PT. This sample includes 30 countries and 30 private universities from 30 provinces in Indonesia. Please note, there are currently 83 government-run public universities, private universities and 2598 are managed by the private sector. With stratified random sampling method. PT PT grouped by type, then from each PT group took some samples to represent the 30 provinces. In qualitative data analysis techniques, namely descriptive measures argumentative with data description, data analysis, and conclusions. Study results showed that the majority of PT has conducted data collection and processing on a regular basis every year. Documenting all this walking is still dominated by the instrument of data collection via questionnaires, either by the Directorate General of Higher Education and Ministry of Education Research and Development Center for Education Statistics. There are two main causes of delay in data collection, the first coming from the government (Directorate General of Higher Education Department of Education and Research and Development PSP), and the second coming of PT’s own institution. Not to mention, there were respondents who felt not received a census questionnaire. The dominant constraints in SIM management of PT is a problem of human resources, and yet all the PT who become SIM PT sample of this study, and nearly half of the respondents complained that some of the applications used for SIM PT they are still not operating correctly. ABSTRAK Tujuan studi deskriptif ini adalah untuk mengetahui berbagai permasalahan dan hambatan, mekanisme pendataan, serta pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam mendukung sistem informasi manajemen perguruan tinggi. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kuantitatif melalui observasi atau pengukuran data untuk mendapatkan gambaran permasalahan yang dihadapi PT. Sampel studi terdiri atas 30 PTN dan 30 PTS dari 30 provinsi di Indonesia yang dipilih secara stratified random sampling. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif, yakni secara deskriptif argumentatif dengan langkah-langkah pendeskripsian data, analisis data, dan penyimpulan. Hasil studi menunjukkan bahwa sebagian PT telah melaksanakan pengumpulan dan pengolahan data secara rutin setiap tahun. Pendataan didominasi oleh pengumpulan data melalui instrumen kuesioner, baik oleh Ditjen Dikti maupun oleh PSP Balitbang Depdiknas. Dua penyebab utama terhambatnya pendataan dari Ditjen Dikti dan PSP Balitbang Depdiknas dan dari institusi PT itu sendiri. SDM merupakan hambatan yang dominan dalam pengelolaan SIM PT dan belum semua PT yang menjadi sampel studi memiliki SIM PT, dan hampir separuh responden menunjukkan bahwa belum semua aplikasi SIM PT beroperasi dengan baik.
Implementasi Model Siklus Belajar (Learning Cycle) Untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Pembelajaran Mengelas Dengan Gas Metal Siswa Kelas XII Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Makassar Nulaela --; Muh. Tawil; Lukman Bambang; Abbas M; Lukman Tamaluddin; Syahril Ramli Rani
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i2.443

Abstract

This action research aims to implement the Learning Cycle model to improve the quality of the learning process and learning outcomes with the gas metal welding class XII students in SMK 3 Makassar. Research problems are (1) how to get through the learning cycle model can be improved with the learning process gas metal welding class XII student of SMK 3 Makassar, and (2) how to get through the learning cycle model of learning outcomes can be improved with the gas metal welding class XII students SMK 3 Makassar. The data analysis technique used is descriptive statistical analysis. The results obtained by the action is an increase in the quality of the learning process of students of class XII SMK 3 semester 2 of the cycle I to cycle II, include: (1) the better the learning activities, (2) reliability management of the learning cycle model learning of 51%, (3 ) students’ responses to a very good learning and learning outcomes, which include (a) the product: for 47 percent (exhaustiveness of individuals) and 55 percent (exhaustiveness classical), (b) affective aspects of 30 percent, and (c) 60 percent of psychomotor aspects. Thus to implement the Learning Cycle model can improve the quality of the learning process and learning outcomes with the gas metal welding class XII student of SMK 3 Makassar. ABSTRAK Penelitian tindakan ini bertujuan mengimplementasikan model Siklus Belajar untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar mengelas dengan gas metal siswa kelas XII di SMK Negeri 3 Makassar. Masalah penelitian adalah 1) bagaimana cara agar melalui model siklus belajar dapat ditingkatkan proses pembelajaran mengelas dengan gas metal siswa kelas XII SMK Negeri 3 Makassar, dan 2) bagaimana cara agar melalui model siklus belajar dapat ditingkatkan hasil belajar mengelas dengan gas metal siswa kelas XII SMK Negeri 3 Makassar. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian tindakan yang diperoleh adalah terjadi peningkatan kualitas proses pembelajaran siswa kelas XII semester 2 SMK Negeri 3 dari siklus I ke siklus II, meliputi: 1) aktivitas belajar semakin baik, 2) reliabilitas pengelolaan pembelajaran model siklus belajar sebesar 51%, 3) respon siswa terhadap pembelajaran sangat baik dan hasil belajar, yang meliputi (a) produk: sebesar 47 persen (ketuntasan individu) dan 55 persen (ketuntasan klasikal), (b) aspek afektif sebesar 30 persen, dan (c) aspek psikomotor 60 persen. Dengan demikian dengan mengimplementasikan model Siklus Belajar dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar mengelas dengan gas metal siswa kelas XII SMK Negeri 3 Makassar. 
Minat Siswa Dalam Kurikulum Muatan Lokal Sumiyati --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i2.444

Abstract

This research is a survey research, which aim to know what is the relationship between motivation and lerning condition with learning interest of student local content at junior high school in West Jakarta. There are three research hypothesis, first is there is a positive relation between motivation with learning interest of student local content, second is there is a positive relation between learning condition with learning interest of student local content, and third is there is a positive relation between motivation and learning condition with learning interest of student local content. This subject research is student of junior high school in West Jakarta enlisted in the year lesson 2009/2010 with the sample amount 55 people. Technique of data collecting performed is use questionnaire. Based of the result analysis data and solution obtained that Fhit is more than Ftable or 4,66 more than 3,18. It means that there is a positive relation between motivation and learning condition with learning interest of student local content. ABSTRAK Penelitian survei ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara motivasi dan kondisi belajar dengan minat belajar muatan lokal siswa SMP di Jakarta Timur. Hipotesis penelitian ini ada tiga yaitu, pertama terdapat hubungan positif antara motivasi dengan minat belajar muatan lokal siswa, kedua terdapat hubungan positif antara kondisi belajar dengan minat belajar muatan lokal siswa, dan ketiga terdapat hubungan positif antara motivasi dan kondisi belajar dengan minat belajar muatan lokal siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa SMP di Jakarta Timur yang terdaftar dalam tahun ajaran 2009/2010, dengan jumlah sampel 55 orang. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan menggunakan angket. Dari hasil analisis data dan pembahasan diperoleh bahwa F hitung > dari F tabel atau 4,66 lebih besar dari 3,18 artinya terdapat hubungan positif antara motivasi belajar dan kondisi belajar dengan minat belajar muatan lokal siswa. 
Mengelola Potensi Destruktif Olahraga Ke Arah Pengembangan Kebijakan Olahraga Yang Komprehensif Syarifudin --; Abdi Rahmat
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i2.445

Abstract

Sport reflects positive values referred by society. Sport can be a medium for building people character and personality. In the other hand, sport can also be an arena in spreading tensions and conflicts among groups of people, even fostering other social problems, like discrimination, unfairness, corruption and bribery, violence among players or supporters, and etc. Therefore, this article aims at describing the root of problem of destructive dimensions of sport that can threaten social integration, even national integration. This article offers some formulas of sport development that can minimize destructive potencies of the sport through a comprehensive sport policy. ABSTRAKOlahraga umumnya mencerminkan nilai-nilai apa yang menjadi rujukan masyarakat. Olahraga dapat menjadi wahana untuk membina dan sekaligus membentuk watak kepribadian. Di sisi lain, olahraga dapat pula menyebarkan nilai-nilai pertentangan atau konflik dan bahkan bisa mempersubur masalah sosial seperti: diskriminasi, ketidakjujuran, korupsi dan praktek suap, pemukulan wasit, perkelahian antarpemain atau antarsupporter, bahkan antarkeduanya, serta berbagai bentuk konflik lainnya. Karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menguraikan akar permasalahan perilaku potensi destruktif olahraga tersebut yang dapat mengancam integrasi sosial bahkan integrasi bangsa. Tulisan ini juga mengajukan tawaran suatu pola pengembangan olahraga yang dapat meminimalisir potensi destruktif tersebut melalui suatu kebijakan keolahragaan yang komprehensif. 
Kontroversi Ujian Nasional Sepanjang Masa Suke Silverius
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i2.446

Abstract

The existence and application of National Examination initiate critics and controversies correlated with the National Education System Act Number 20, Year 2003 about the National Education System. The set of Critics is composed of seven disagreements linked with the national examination matter which are appraising the cognitive aspects only with the result that it cannot be used as a standard made to measure up education quality, disregarding the diversification of regional potency and of students competence, taking away the teachers’ right to do the evaluation of students achievement, establishing the evaluation based merely on the students, determining the passing grade of the examination in the absence of teachers, national and regional government take away the right of teachers in giving the diploma to the graduate students. National examination evaluates the only process of momentary and incomprehensive learning activity and at the same time neglecting educational goal orientation that brings to an end without indicating the education quality. Explication of these controversies is aimed at providing teachers and education observers the prospect of the solutions in terms of educational evaluation policy improvement for the sake of the education enhancement that have access to national development for the augmentation of people’s prosperity. ABSTRAK Keberadaan dan penerapan UN menuai kritik dan kontroversi apabila dikaitkan dengan UU Sisdiknas Nomor 20, Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Rangkaian butir-butir kritik itu terjalin dalam tujuh untaian pelanggaran UN yakni hanya mengukur aspek kognitif sehingga tidak dapat dijadikan standar untuk mengukur mutu pendidikan, mengabaikan diversifikasi potensi daerah dan peserta didik, merampas hak guru untuk melakukan evaluasi hasil belajar peserta didiknya, mendasarkan evaluasi pada peserta didik semata, penentuan kelulusan bukan oleh guru, pemerintah dan pemerintah daerah merampas hak pemberian ijazah kepada peserta didik setelah lulus ujian. UN hanya mengevaluasi hasil akhir proses pembelajaran secara momental dan tidak komprehensif serta mengabaikan orientasi tujuan pendidikan sehingga tidak mengindikasikan mutu pendidikan. Paparan kontroversi ini dimaksudkan untuk dimanfaatkan para pendidik dan pemerhati pendidikan guna menemukan solusi dalam rangka pembenahan kebijakan penilaian pendidikan demi peningkatan pendidikan yang berakses pada pembangunan nasional bangsa menuju bertambahnya kesejahteraan rakyat.
Model Posdaya Dalam Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun Oos M Anwas
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i2.447

Abstract

This paper aims to analyze solutions for the problems using Family and The Community Empowering (Posdaya). Theories used within this model refers to social change and community empowerment theories. Since the complexity of problems face by those hard rock society, the accomplishment of nine-year compulsory learning must be done by means of family empowerment within Posdaya. Posdaya is a forum for communications, ‘silaturahmi’, advocacy and education, and simultaneously the institution for activities to strengthen family functions in an integrated manner. Instead of establishing a new institution, the development of Posdaya can be done by optimizing the existing one by empowering activities. Posdaya become a place for discussing daily matters, especially the obstacles in accomplishing the nine-year compulsory learning, among children, parents and community that are fit with their own needs and potential/roles. Posdaya is also capable in re-developing local wisdom and social capital. At the end Posdaya is not only to solve educational problems but also to solve poverty and other social problems. For those reasons the accomplishment of nine-year compulsory learning requests cooperation across departments within coordination of welfare ministry in collaboration with local government and society. ABSTRAK Tulisan ini bertujuan mengkaji solusi dalam mengatasi masalah tersebut melalui model Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya). Teori-teori yang digunakan mengacu pada teori perubahan sosial dan teori pemberdayaan masyarakat. Dengan kompleksnya masalah yang dihadapi kelompok masyarakat hard rock tersebut, penuntasan wajar 9 tahun perlu dilakukan melalui upaya pemberdayaan keluarga dalam wahana Posdaya. Posdaya merupakan forum silaturahmi, komunikasi, advokasi dan wadah kegiatan penguatan delapan fungsi-fungsi keluarga secara terpadu. Pengembangan Posdaya tidak harus membuat lembaga baru dalam masyarakat, tetapi dapat mengoptimalkan yang ada melalui aktivitas pemberdayaan. Posdaya menjadi wahana diskusi dalam memecahkan permasalahan sehari-hari, khususnya kendala kendala penuntasan wajar 9 tahun secara bersama antara anak, orang tua, dan masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan potensi/peran masing-masing. Posdaya juga mampu membangun kembali kearifan lokal dan modal sosial. Pada akhirnya Posdaya tidak hanya memecahkan masalah pendidikan, akan tetapi juga masalah kemiskinan dan masalah sosial lainnya. Oleh karena itu penuntasan wajar 9 tahun perlu kerja sama lintas departemen di bawah koordinasi Menkokesra, terutama sektor pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan, bersama pemerintah daerah dan masyarakat.
PENGARUH ETIKA, PERILAKU, DAN KEPRIBADIAN TERHADAP INTEGRITAS GURU Sri Sarjana; Nur Khayati
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 1 No. 3 (2016)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v1i3.450

Abstract

Integrity is one of requirements for teachers as a professional educator. Teachers with integrity is a role model for students. Strengthening teachers’ integrity is part of government policy to improving teacher quality in the future. The purpose of this study was to determine the effect of teachers’ ethics on teachers’ personality, the effect of teachers’ behavior on teachers’ personality, and the effect of teacher's personality on teachers’ integrity. This quantitative research developed explanatory survey method and the sample was 154 senior secondary school teachers in Bekasi district. Test of statistical data analysis using Structural Equation Modeling (SEM) with 8.8 Lisrel program and using SPSS 22. The results of this study shows that ethic and behaviour of teachers have a positive influence on their personality and it affects their integrity. Ethics and behaviour of teachers have an important role in improving the integrity through the development of the personality of the teacher. Efforts of teachers in improving their integrity is an essential need and it can be implemented through improving their ethics, developing their behaviour, and promoting their better personality. ABSTRAKPendidik yang berintegritas menjadi persyaratan bagi guru sebagai tenaga pendidik yang profesional. Guru yang berintegritas menjadi teladan dan contoh yang baik bagi siswa. Perlunya penguatan integritas guru menjadi bagian penting dari kebijakan pemerintah untuk pengembangan kualitas guru di masa depan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh etika guru terhadap kepribadian guru, pengaruh perilaku guru terhadap kepribadian guru, dan pengaruh kepribadian guru terhadap integritas guru. Data didapatkan dari 154 guru SMA negeri di Kabupaten Bekasi. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif yang mengembangkan metode explanatory survey. Uji analisis data statistik menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan program Lisrel 8.8 serta menggunakan SPSS 22. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa etika dan perilaku guru memiliki pengaruh positif terhadap kepribadian dan berdampak terhadap integritas guru. Etika dan perilaku guru memiliki peran penting dalam meningkatkan integritas melalui pengembangan kepribadian guru. Kontribusi guru dalam meningkatkan nilai integritas sangat diperlukan melalui upaya memperbaiki etika, mengembangkan perilaku, dan mengedepankan kepribadian yang lebih baik.
MENUMBUHKAN KARAKTER AKADEMIK DALAM PERKULIAHAN BERBASIS LOGIKA Dedi Heryadi
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 1 No. 3 (2016)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v1i3.453

Abstract

The goal of this research is to review the logical-based lecture order and to recognize its impact on students’ academic characters development in terms of thouroghness of thinking, critical attitude, and responsibility. The method used in this study was research and development. Data was collected trough observation, interview, and measurement (test). Sample of the research was first semester students of Faculty of Teacher Training and Education of University of Siliwangi Tasikmalaya. The data were processed quantitatively and qualitatively. The result showed that students studied harder with creativity. In addition, they also were motivated and enthusiastic with the lesson. The measurement score before the treatment of logical-based training was 22,7 and after the treatment was 74,3 that indicated that the academic character in terms of thouroghness of thinking, critical attitude, and responsibility was good. Thus, syntax of lecturing based on the logical model has a positive impact on students’ academic characters. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji urutan perkuliahan berbasis logika dan mengetahui pengaruhnya terhadap tumbuhnya karakter akademik mahasiswa dalam hal ketelitian berpikir, sikap kritis, dan tanggung jawab. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan pengukuran (tes). Pelaksanaan penelitian dilakukan pada mahasiswa semester pertama di FKIP, Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Data diolah secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan sebagian besar mahasiswa bersungguh sungguh dalam belajar dan disertai kreativitas. Selain itu, mahasiswa juga termotivasi dan tidak merasakan kejenuhan. Dari pengukuran diperoleh skor rata-rata karakter akademik sebelum diberi perlakuan yaitu 22,7 dengan kategori rendah. Setelah diberi perlakuan diperoleh rata-rata skor 74,3 dengan kategori baik. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa urutan model perkuliahan berbasis logika berpengaruh positif terhadap tumbuhnya karakter akademik mahasiswa dalam hal ketelitian berpikir, sikap kritis, dan tanggung jawab.
PERSEPSI SISWA TERHADAP KOMPETENSI GURU YANG SUDAH DAN BELUM DISERTIFIKASI Simon Sili Sabon
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 2 No. 1 (2017)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v2i1.454

Abstract

Penelitian ini untuk mendapatkan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis perbandingan persepsi siswa tentang kompetensi guru antara: 1) guru SD negeri yang sudah dan belum disertifikasi, 2) guru SD swasta yang sudah dan belum disertifikasi, 3) guru SMP negeri yang sudah dan belum disertifikasi dan 4) guru SMP swasta yang sudah dan belum disertifikasi. Data yang digunakan dalam pengkajian ini adalah data primer persepsi siswa tentang kompetensi guru. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan statistik deskriptif kuantitatif dengan membandingkan proporsi setiap kelompok siswa dalam memberikan penilaian terhadap kompetensi gurunya. Hasil kajian: 1) kompetensi guru SD negeri yang sudah disertifikasi lebih baik daripada yang belum disertifikasi, 2) kompetensi guru SD swasta yang sudah disertifikasi lebih baik daripada yang belum disertifikasi, 3) kompetensi guru SMP negeri yang belum disertifikasi lebih baik daripada yang sudah disertifikasi, dan 4) kompetensi guru SMP swasta yang belum disertifikasi lebih baik daripada yang sudah disertifikasi. Kajian ini menyimpulkan persepsi siswa terhadap kompetensi gurunya sebagai berikut: 1) di SD (negeri dan swasta), kompetensi guru yang sudah disertifikasi lebih baik daripada guru yang belum disertifikasi bersertifikat, dan 2) di SMP (negeri dan swasta) kompetensi guru yang belum disertifikasi lebih baik daripada yang sudah disertifikasi.
Model Penilaian Bahasa Indonesia Dalam Pelaksanaan Kurikulum Sekolah Dasar Ambari Sutardi
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i2.455

Abstract

The evaluation model for Indonesian language sustaining the implementation of the in-effect primary school curriculum is different from the previous one. Accordingly, this results in different perceptions and different use of the model by the implementers at some primary schools in different districts/municipalities. The difference of using the model are ranging from the simple to the more complext. The simple one merely covers one score for the subject concerned while the complext one encompasses four scores, for: listening, speaking, reading and writing respectively. The use of various evaluation models for Indonesian language would certainly results in a problem because the evaluation system has strong impact againsts the learning process in the classroom. So it is worried that the four predetermined competence catagories of Indonesian language would not totally be achieved by students in the primary schools which use the simple model one. Because of such reason, the ideal evaluation model to sustain the implementation of the an in-effect primary school curriculum is the complex one so that it would tell the information about learners’ achievement in more detailed and transparent. ABSTRAKModel penilaian Bahasa Indonesia dalam pelaksanaan kurikulum SD berbeda dari sebelumnya, di mana perbedaan tersebut dimaksudkan agar para pelaksana memahami dalam menerapkan mode penilaian di beberapa SD di kabupaten/kota yang berbeda. Perbedaan menggunakan model mulai dari yang sederhana hingga ke yang kompleks. Sederhana artinya hanya mencantumkan satu nilai untuk mata pelajaran tersebut dan kompleks karena mencantumkan empat nilai, untuk empat kategori kompetensi dalam berbahasa Indonesia, yaitu: mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Penggunaan aneka ragam model penilaian Bahasa Indonesia akan menimbulkan permasalahan karena sistem penilaian memiliki pengaruh kuat terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas. Dikhawatirkan keempat kategori kompetensi Bahasa Indonesia yang telah ditetapkan tidak akan tercapai secara optimal oleh peserta didik, terutama sekolah yang menggunakan model penilaian yang sederhana. Oleh karena itu, model penilaian Bahasa Indonesia yang ideal merupakan model yang kompleks, dengan harapan agar penyampaian informasi tentang prestasi dapat dicapai peserta didik secara rinci dan objektif.Â