cover
Contact Name
Bandiyah
Contact Email
jurnaldikbud1@gmail.com
Phone
+6281288370671
Journal Mail Official
jurnaldikbud@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Sekretariat BSKAP Kemendikbud Gedung E, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta 10270 Telepon: (021) 57900405, Faksimile: (021) 57900405 Email: jurnaldikbud@kemdikbud.go.id; jurnaldikbud@yahoo.com
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
ISSN : 24608300     EISSN : 25284339     DOI : https://doi.org/10.24832/jpnk.v5i1.1509
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan is a peer-reviewed journal published by Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Agency for Research and Development, Ministry of Education and Culture of Republic of Indonesia), publish twice a year in June and December. This journal publishes research and study in the field of education and culture, such as, education management, education best practice, curriculum, education assessment, education policy, education technology, language, and archeology.
Articles 535 Documents
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INGGRIS Noldy Pelenkahu
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 68 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i68.404

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh metode pembelajaran dan motivasi belajar terhadap keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa SMA Negeri 4 Kendari. Penelitian ini dilaksanakan pada SMA Negeri 4 Kendari Sulawesi Tenggara. Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik Multi Stage Random Sampling sebanyak 56 orang siswa. Data penelitian ini meliputi data keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa (Y) dan motivasi belajar bahasa Inggris (X). Instrumen penelitian dikembangkan dengan cara menyusun kisi-kisi yang diturunkan dari kerangka teoritis variabel penelitian. Teknik analisis data menggunakan analisis varian dua jalur (ANAVA 2x2) yang dilanjutkan dengan uji Tukey (Uji-t). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar bahasa Inggris tinggi, penggunaan metode pembelajaran Community Language Learning (CLL) memberikan pengaruh lebih baik terhadap keterampilan berbicara bahasa Inggris dibandingkan dengan metode pembelajaran Audiolingual (AL) yang dibuktikan dengan harga Qhitung=96,45>Qtabel=3,09 pada taraf signifikansi (a=0,05) dan kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar bahasa Inggris rendah, penggunaan metode pembelajaran Community Language LEarning (CLL) memberikan pengaruh yang baik terhadap keterampilan berbicara bahasa Inggris dibandingkan dengan penggunaan metode pembelajaran Audiolingual (AL) yang dibuktikan dengan harga Qhitung=16,29>Qtabel=3,09 pada taraf signifikansi (a=0,05).
KESIAPAN BELAJAR MANDIRI GURU SEKOLAH DASAR: STUDI KASUS PADA PROGRAM STUDI PGSD PADA FKIP UNIVERSITAS TERBUKA Udan Kusmawan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 1 No. 3 (2016)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v1i3.406

Abstract

This article aims to analyse elementary school teacher readines to become a self- regulated students and their learning style in open university. The research was conducted in 2015 through descriptive qualitative research method. Respondents were determined through purposive sampling techniques determination, that is, the first semester students at the Study Program of Elementary School Teacher (PGSD). Data were obtained through a questionnaire survey on self-directed learning readiness and learning style which was administered to 279 respondents in Bandung Regional Office (UPBJJ) of Indonesia Open University. As a follow up to the questionnaire survey, Focus Group Discussion (FGD) was conducted to make in-depth analyses on the results of the research gained through the questionnaire survey. FGD focused on the extent of student self-directed learning readiness. The results show that the students in their first semester had a moderate selfdirected learning readiness category. Trough FGD results, it was apparent that the they generally expected direct learning guidances from a tutor in a face to face learning environment throughout their study at the university. The result notified that auditory was the tendency of the student teachers’ learning styles. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan melakukan analisis tentang kesiapan belajar mandiri dan gaya belajar guru yang menjadi mahasiswa di Universitas Terbuka. Penelitian dilakukan tahun 2015 dengan metode deskriptif kualitatif. Responden penelitian ditetapkan melalui teknik penetapan sampel secara purposif, yaitu guru yang menjadi mahasiswa pada semester pertama pada program studi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan - Universitas Terbuka (PGSD, FKIP-UT). Data diperoleh melalui survei (kuesioner) yang diberikan kepada 279 mahasiswa guru yang teregistrasi di Unit Program Belajar Jarak Jauh - Universitas Terbuka (UPBJJ-UT) Bandung. Hasil survei kemudian ditindaklanjuti dengan diskusi kelompok terpimpin (Focus Group Discussion - FGD untuk mendalami hasil penelitian yang diperoleh melalui survei. FGD memfokuskan pendalaman pada fasilitasi layanan kesiapan belajar mahasiswa guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemandirian mahasiswa guru berada pada kategori ‘sedang’. Sementara itu, dari aspek gaya belajar, mahasiswa guru memiliki kecenderungan belajar auditori. Hal ini ditegaskan melalui FGD bahwa mereka umumnya masih mengharapkan adanya fasilitasi layanan belajar berupa pembimbingan langsung oleh tutor secara tatap muka selama studi di UT. Temuan tersebut diperkuat adanya kecenderungan gaya belajar mahasiswa guru yang didominasi secara auditori. 
PERSEPSI SISWA TERHADAP DAYA JUANG MEREKA SERTA POLA ASUH ORANGTUA DAN GURU DI SD BERAKREDITASI A DAN C DI KABUPATEN BANTUL DAN BONE BOLANGO*) Nur Listiawati
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 1 No. 3 (2016)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v1i3.418

Abstract

This study aims to examine students’ perception of their parents and teacher in instilling and developing students potential to improve their adversity quotient and students’ perception on their adversity quotient. This study is a case study carried out in two A and C accredited primary schools each in Bantul District and Bone Bolango District. Measurement of parenting used the inventory method. Measurement of students’ adversity quotient was conducted by the self-inventory method. Study result shows that accredited A primary school students’ perception on the parenting of parents and teachers and their adversity quotient in general are better than students’ perception of accredited C primary school. Parents cognitive abilities affect their ability to guide their children in analyzing and limit problems. The ability of teachers in the aspect of listening is lower than other aspects, namely, guiding to explore, analyze, and do something. Parenting from parents and teachers contribute to develope students adversity quotient significantly. However, it is only for few aspects such as guiding to explore, analyze, and do something that influenced. Even in sample schools located in Bantul, partially there is no aspect of teachers parenting that contributed to students adversity quotient. Perceptions of students in Bantul on their adversity quotient is generally higher than students in Bone Bolango.The study concludes that parents cognitive ability affect their ability to guide their child to analyze and isolate the problem. Growing and developing students’ adversity quotient will be more meaningful if collaboration between teacher and parents is improved. ABSTRAKStudi ini bertujuan untuk mengkaji pola asuh orang tua dan guru dalam menumbuhkan potensi daya juang siswa dan persepsi siswa terhadap potensi daya juang mereka. Studi ini merupakan studi kasus yang dilakukan di dua sekolah berakreditasi A dan C masing-masing di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Bone Bolango. Pengukuran pola asuh orangtua dan guru menggunakan metode inventory. Pengukuran persepsi siswa terhadap potensi daya juang mereka dilakukan dengan metode self inventory. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum persepsi siswa terhadap pola asuh orangtua dan guru serta daya juang siswa di sekolah berakreditasi A lebih baik daripada persepsi siswa di sekolah sampel berakreditasi C. Kemampuan kognitif orangtua memengaruhi kemampuan membimbing anak untuk menganalisis dan membatasi masalah. Kemampuan guru dalam aspek mendengarkan lebih rendah daripada aspek lainnya yakni membimbing untuk mengeksplorasi, menganalisis dan membatasi masalah, serta bertindak. Pola asuh orangtua dan guru memberikan kontribusi pada penumbuhkembangan potensi daya juang siswa. Namun, secara parsial hanya aspek membimbing untuk mengeksplorasi,menganalisa masalah, dan bertindak yang memengaruhi. Bahkan, pada SD sampel yang berada di Kabupaten Bantul secara parsial tidak ada aspek pola asuh guru yang berkontribusi secara signifikan pada penumbuhkembangan potensi daya juang siswa. Persepsi siswa di Kabupaten Bantul terhadap potensi daya juangnya secara umum lebih tinggi dibandingkan siswa di Kabupaten Bone Bolango. Studi ini menyimpulkan bahwa kemampuan kognitif orangtua memengaruhi kemampuan membimbing anak untuk menganalisis dan membatasi masalah. Penumbuhkembangan daya juang siswa lebih bermakna jika kolaborasi antara guru dan orangtua lebih ditingkatkan.
PENGARUH PEMBERIAN TUTORIAL TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA DII PGSD FKIP-UT PADA MATA KULIAH KONSEP DASAR IPA 1 Prayekti --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 68 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i68.422

Abstract

Artikel ini membahas hasil penelitian Pengaruh Pemberian Tutorial Terhadap hasil Belajar Mahasiswa D-11 PGSD FKIP-UT pada Mata Kuliah Konsep Dasar IPAI di Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka Jakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2005 di Jakarta. Pemberian bantuan belajar (tutorial) bagi mahasiswa UT adalah sangat penting dan selalu diharapkan oleh mahasiswa. Dengan mengikuti tutorial mahasiswa dapat berdiskusi dan bertanya, tentang materi yang sulit dipelajari secara mandiri. Dalam kegiatan tutorial mahasiswa dapat saling memberikan pendapat tentang konsep-konsep IPA kepada teman dan bertanya kepada tutor. Pada awal kegiatan tutorial mahasiswa masih sulit menempatkan dirinya sebagai siswa/mahasiswa karena latar belakang mereka umumnya adalah guru yang biasa memimpin pembelajaran di kelasnya. Hal tersebut dapat segera diatasi oleh tutor sehingga dalam diskusi dan kerja kelompok mahasiswa sangat kompak dan saling membantu apabila ada teman satu kelompok mengalami kesulitan memahami materi IPA. Pada tes pertama nilai rata-rata mahasiswa mencapai 64,50, dan nilai rata-rata pada akhir tutorial 71,30. Pelaksanaan praktikum IPA mahasiswa dilakukan secara mandiri dan kelompok. Dengan bimbingan tutor dalam melaksanakan praktikum membuat mahasiswa bersemangat melakukan percobaan IPA dan aktif membahas hasil-hasil yang diperoleh pada percobaan IPA.
"SEHATI" SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN SOSIOLOGI DI SMA Zulkarnaen Syri Lokesywara
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 68 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i68.423

Abstract

Pengajaran Sosiologi di Sekolah Menengah Atas (SMA) ternyata menemui beberapa kendala. Sejumlah persoalan yang dihadapi guru dan siswa antara lain terlalu menekankan kemampuan kognitif, lebih menekankan proses deduktif, substansinya terlalu teoritis dan abstrak, kurang memberi ruang bagi guru dalam mengembangkan materi untuk pendalaman terhadap komponen­ komponen yang dianggap perlu, kurang memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan materi lokal, dan metode pembelajarannya sangat monoton yang didominasi oleh ceramah satu arah. Agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal, dicoba sebuah model dalam proses pembelajaran Sosiologi yang disebut "SEHATI". Penelitian ini dilakukan terhadap 83 siswa kelas III IPS SMAN I Jatinom pada tahun pembelajaran 2005/2006. Dengan model SEHATI, ternyata 91,6 % siswa menyatakan bahwa proses pembelajaran Sosiologi menjadi lebih menyenangkan. Tingkat intensitas keterlibatan semua siswa (100 %) dalam pembelajaran dengan model SEHATI pun termasuk kategori tinggi. Kenyataan tersebut patut disyukuri, karena berdasarkan analisis statistik diketahui terdapat hubungan positif yang sangat kuat antara intensitas keterlibatan tersebut dengan prestasi belajar siswa. 
PROSPEK PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERORIENTASI PEMECAHAN MASALAH OPEN-ENDED DI SEKOLAH DASAR DI PROPINSI BALI I Gusti Putu Sudiarta
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 68 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i68.424

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali pengalaman dan pendapat calon pengguna model pembelajaran yang dikembangkan, dalam hal ini guru SD, tentang prospek pengembangan dan penerapan model pembelajaran berorientasi pemecahan masalah open-ended dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar di Propinsi Bali. Penelitian ini berupa studi lapangan dilakukan dengan menggunakan kuisioner dan format isian terbuka, di tiga kabupaten sampel di Propinsi Bali, yang dipilih secara purposif dengan kriteria perkembangan daerah, dan melibatkan 72 guru responden dari 36 sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) sebagaian besar guru-guru responden (69%-92%) menghadapi kenyataan tentang berbagai masalah yang dihadapi peserta didik mereka dalam pembelajaran matematika, terutama yang terkait dengan rendahnya kemampuan pemecahan masalah, (b) sekitar 89% guru-guru responden menyatakan hanya menggunakan closed­ problem dalam pembelajaran matematika, yang disebabkan karena kekurangan perangkat dan bahan ajar. Temuan lain yang cukup menggembirakan adalah (c) sekitar 67% responden berpendapat bahwa peserta didik mereka memiliki minat dan menyenangi pelajaran matematika. Dari ketiga temuan ini dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran matematika berorientasi pemecahan masalah open-ended perlu dan mendesak untuk dikembangkan dan diterapkan, dalam rangka mengembangkan kompetensi matematis tingkat tinggi berupa kemampuan berpikir divergen, kritis, dan kreatif.
HAMBATAN BIROKRATIS DALAM PENYELENGGARAAN PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT (PKBM) Iskandar Agung
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 13 No. 68 (2007)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v13i68.425

Abstract

Pembentukan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang digagas oleh Direktorat pendidikan Masyarakat tahun 1998 lalu berfungsi ganda, yakni sebagai wadah pembelajaran, sekaligus upaya peningkatan taraf hidup masyarakat melalui kegiatan yang bersifat ekonomis. Wadah ini bertumpu pada motto dari, oleh, dan untuk masyarakat, sehingga tumbuh dan berkembangnya tergantung dari kemampuan dan kemandirian masyarakat sendiri dalam memberdayakannya. Meski demikian dalam perjalanannya, perkembangan PKBM tidaklah semulus seperti apa yang dibayangkan, melainkan dihadapi oleh berbagai hambatan yang langsung maupun tidak langsung mengancam eksistensi dan keberlangsungan hidup wadah ini. Salah satu hambatan itu bersifat birokratis, baik yang bersifat personal maupun instansional (kelembagaan). Apabila PKBM ingin berkembang, suka atau tidak suka berbagai hambatan itu haruslah diatasi sedini mungkin, antara lain dengan sekecil mungkin menghindarkan dan mencegah adanya campur tangan pihak birokrat ke dalam pengelolaan wadah PKBM. Campur tangan birokratis yang terlalu 'dalam' dan kurang proporsional ke dalam pengelolaan PKBM tendensi hanya akan membawa kehancuran terhadap PKBM.
Optimalisasi Kompetensi Moral Anak Usia Dini Masganti Sit
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 1 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i1.426

Abstract

The objective of this research is to make early childhood’s moral competence optimally through the integrated learning based-moral model. The study was conducted at Tri Karya and Nusa Indah Kindergartens in Medan in the year of 2008 with n= 35. This action research was using Kemmis and Taggart model. The model has two cycles and each cycle has four steps. They are as follow (1) plan, (2) action, (3) observe and (4) reflect. To analyze the data, qualitative and quantitative were used. The result of the qualitative analyzes shows that the integrated learning based-moral model involved various activities, media and methods. The results of the quantitative analyze shows that there are significant differences between pre and post assessment of early childhood’s moral competence. To applying the integrated learning based-moral model was suggested to teacher, manager of early childhood education institution, researcher, government to plan, act, develop, and promote integrated learning based-moral model.ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan kompetensi moral anak usia dini melalui pembelajaran terpadu berbasis moral. Penelitian dilakukan di Taman Kanak-kanak Tri Karya dan Taman Kanak-kanak Nusa Indah di Medan pada tahun 2008 dengan jumlah sampel sebanyak 35 orang anak. Penelitian tindakan ini menggunakan model dari Kemmis dan Taggart. Model ini telah dilaksanakan dalam dua siklus dan setiap siklus memiliki empat langkah yaitu: 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Analisis data menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa pembelajaran terpadu berbasis moral melibatkan berbagai aktivitas, media, dan metode. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang berarti antara tes awal dan tes akhir kompetensi moral anak usia dini. Untuk menerapkan pembelajaran terpadu berbasis moral disarankan kepada guru, pengelola pendidikan anak usia dini, peneliti, dan pemerintah untuk merencanakan, melaksanakan, mengembangkan dan mendukung model pembelajaran terpadu berbasis moral.
Kondisi Lima Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Tangerang dan Bandung dalam Upaya Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Nur Listiawati
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 1 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i1.427

Abstract

The paper presents the condition of five Community Reading Places (TBM) in the effort to improve community reading interest. It aims to get data on the history of the establishment, facilities, the management, and networks of those TBM. This study is qualitative in nature with the object of social situation which has three elements; place, actors, and activities. The data collected by observation and interview to the manager or designer of TBM. TBM which was founded purely on community efforts established to improve public reading interest and culture , while the TBM founded on the idea of government, established because of instructions from the government. Organization of activities has already done well by the TBM which was founded purely from the community, whereas activities of the TBM initiated by the government depend on the dedication and motivation of the managers. TBM which was established purely by the community are working hard to build a network with various parties, while the TBM under PKBM network depends on the creativity of the managers. Based on the data, the writer tries to make a conclusion about TBM condition, and give suggestion to improve the quality of TBM including management of organization and programs. ABSTRAK Makalah ini menggambarkan kondisi lima Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dalam upaya untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Makalah ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang sejarah berdirinya, fasilitas, manajemen dan jaringan TBM tersebut. Studi ini bersifat kualitatif dengan tujuan situasi sosial yang memiliki tiga unsur; tempat, pelaku dan kegiatan. Data yang dikumpulkan melalui pengamatan dan wawancara kepada manajer atau desainer dari TBM. TBM yang didirikan sematamata pada upaya masyarakat yang didirikan untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan budaya, sementara TBM didirikan atas gagasan pemerintah, yang didirikan karena instruksi dari pemerintah. Organisasi kegiatan telah dilakukan baik oleh TBM yang didirikan murni dari masyarakat; sedangkan kegiatan TBM yang diprakarsai oleh pemerintah tergantung pada dedikasi dan motivasi dari manajer. TBM yang didirikan oleh masyarakat murni bekerja keras untuk membangun jaringan dengan berbagai pihak, sementara TBM di bawah jaringan PKBM tergantung pada kreativitas para manajer. Berdasarkan data, penulis mencoba untuk membuat kesimpulan tentang kondisi TBM, dan memberikan saran untuk meningkatkan kualitas manajemen TBM termasuk organisasi dan program.
Implementasi KTSP dalam Pembelajaran IPA SMP Sumiyati --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 1 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i1.429

Abstract

This research was aimed at describing teachers opinion about the implementation of the program comprises planning, activities in the classroom, and the report of Science Teaching-Learning of School-Based Curriculum implementation and its factors affecting it. There are 40 respondents from 11 State and Private Junior High Schools in Bekasi District. The instruments consist of questionnaires in theform of Liker Scale. The data is then analyzed using descriptive analyses in tables distributing frequency and percentage for each indicator and each dimension of School-Based Curriculum Implementation. The data shows that (1) The planning of the program: writing syllabus; lesson plan, and remedial/enrichment indicate that most respondents are at moderate level, others are at low level and the others are at very low level. (2) The implementation of the program including syllabus, lesson plan components and remedial/enrichment indicate most respondents are at moderate level while the remaining are at the very low level., and (3) The report consisting of process and outcome evaluations, indicate that only a few respondents are at moderate level, and most of them are at the level of very low. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan yang berkaitan dengan pemberlakuan KTSP khususnya pada pembelajaran IPA di SMP. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei dengan jumlah sampel sebanyak 40 orang yang tersebar di 11 SMP Negeri dan Swasta di Kabupaten Bekasi. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase untuk setiap indikator dan untuk setiap dimensi implementasi KTSP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) perencanaan program yang terdiri dari pembuatan silabus; pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan program remedial/pengayaan menunjukkan sebagian besar berada pada kategori cukup, hanya sebagian kecil saja berada pada kategori rendah dan kategori sangat rendah, 2) pelaksanaan program yang terdiri dari implementasi komponen silabus; implementasi komponen RPP, dan program remedial/pengayaan menunjukkan sebagian besar berada pada kategori cukup, dan sebagian kecil berada pada kategori sangat rendah, dan (3) pelaporan program yang terdiri dari penilaian proses dan penilaian hasil menunjukkan sebagian kecil saja berada pada kategori cukup, dan sebagian besar berada pada kategori sangat rendah