cover
Contact Name
Titik Respati
Contact Email
jiks.unisba@gmail.com
Phone
081312135687
Journal Mail Official
jiks.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
ISSN : "_"     EISSN : 26568438     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains (JIKS) adalah jurnal yang memublikasikan artikel ilmiah kedokteran dan kesehatan yang terbit setiap 6 (enam) bulan. Artikel berupa penelitian asli, laporan kasus, studi kasus, dan kajian pustaka yang perlu disebarluaskan dan ditulis dalam bahasa Indonesia dengan memperhatikan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains (JIKS) ini merupakan salah satu jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba) selain Global Medical & Health Communication yang telah bereputasi nasional dan internasional.
Articles 211 Documents
Karakteristik Pekerja Industri Tekstil yang Terdiagnosis Kanker di Purwakarta Tiara Oktaviani; Riri Risanti; Agung Firmansyah Sumantri
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v3i2.7356

Abstract

Pekerja industri berisiko terkena kecelakaan, kecacatan, dan kematian akibat kerja. Hasil survei dari International Labour Organization menunjukkan bahwa prevalensi terbesar penyebab kematian yang berhubungan dengan pekerjaan disebabkan oleh kanker sebesar 8%. Kanker merupakan pertumbuhan sel yang tidak terkontrol diikuti proses invasi ke jaringan sekitar dan penyebaran ke bagian tubuh yang lain. Penyakit ini diketahui berhubungan dengan lingkungan kerja salah satunya industri tekstil karena terpapar oleh zat-zat karsinogenik. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik pasien kanker yang bekerja di industri tekstil berdasar atas usia, jenis kelamin, dan jenis kanker yang terdiagnosis di RSUD Bayu Asih dan RS Dr. Abdul Radjak Purwakarta tahun 2018–2019. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan melihat data rekam medis pasien kanker di RSUD Bayu Asih dan RS Dr. Abdul Radjak Purwakarta selama bulan Maret–Desember 2020 dengan rancangan cross-sectional. Didapatkan kejadian kanker pada pekerja industri tekstil lebih tinggi pada perempuan 61% daripada laki-laki 39%. Berusia 46–55 tahun 58%, usia 36–45 tahun 35%, dan jenis kankernya, yaitu kanker paru 26%, kanker payudara 23%, dan kanker kulit 13%. Simpulan penelitian ini adalah mayoritas pekerja industri tekstil yang terdiagnosis kanker adalah perempuan, berusia 46–55 tahun, serta jenis kanker adalah kanker paru dan kanker payudara. CHARACTERISTICS OF TEXTILE INDUSTRY WORKERS DIAGNOSED WITH CANCER IN PURWAKARTAIndustrial workers are at high risk of accidents, injuries, and death due to work. The survey results from the International Labor Organization show that the highest prevalence of work-related deaths is cancer at 8%.  Cancer is an uncontrolled growth of cells following the invasion of surrounding tissues and spread to the other parts of the body. These diseases are known related to the work environment, one of them being the textile industry because it is exposed to carcinogenic substances. This study aims to determine the characteristics of cancer patients who work in the textile industry based on age, gender, and type of cancer diagnosed at the Bayu Asih Regional General Hospital and Dr. Abdul Radjak Hospital Purwakarta in 2018–2019. This study used a descriptive observational method by looking at the medical record data of cancer patients at Bayu Asih Regional General Hospital and Dr. Abdul Radjak Hospital Purwakarta during March–December 2020 with a cross-sectional design. It found that the cancer incidence in textile industry workers was 61% higher for women than 39% for men. Age 46–55 years 58%, age 36–45 years 35%, and the type of cancer, namely lung cancer 26%, breast cancer 23%, and skin cancer 13%. This study concludes that the textile industry workers majority diagnosed with cancer are women, aged 46–55 years, and the types of cancer are lung and breast cancer.
Karakteristik dan Jumlah Leukosit pada Anak Penderita Leukemia Limfoblastik Akut yang Menjalani Kemoterapi Fase Induksi di Rumah Sakit Al Islam Bandung Fairuz Fakhri Luthfiyan; Lia Marlia Kurniawati; Ieva B. Akbar
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v3i2.7325

Abstract

Leukemia limfoblastik akut (LLA) adalah kelompok keganasan heterogen dengan sejumlah kelainan genetik khas yang menghasilkan berbagai perilaku klinis dan respons terhadap terapi. Pasien LLA pada umumnya identik dengan jumlah leukosit yang tinggi. Terapi saat ini adalah dengan cara kemoterapi yang terdiri atas 3 fase, yaitu induksi, konsolidasi, dan pemeliharaan. Keberhasilan kemoterapi ditentukan banyak faktor antara lain adalah terjadi remisi setelah kemoterapi fase induksi. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik dan jumlah leukosit pada anak penderita LLA setelah fase induksi kemoterapi. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan rancangan potong lintang yang menggunakan data rekam medik pasien LLA usia 0–15 tahun periode tahun 2019. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Al Islam Bandung selama bulan Oktober 2020 dan teknik pengambilan data menggunakan total sampling. Pada penelitian ini didapatkan 137 data rekam medik dan yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 74 data. Kasus LLA paling banyak terjadi pada usia 0–5 tahun pada 41 pasien (55%), jenis kelamin laki-laki 43 pasien (58%), status gizi baik 46 pasien (62%), dan morfologi sumsum tulang remisi 63 pasien (85%). Selain itu, jumlah leukosit 4.500–13.500/mm3 pada 52 pasien (70%) dan remisi sumsum tulang terbanyak pada jumlah leukosit 4.500–13.500/mm3 pada 45 pasien (61%). Simpulan, karakteristik pasien LLA terbanyak laki-laki, usia 0–5 tahun, status gizi baik, dan morfologi sumsum tulang remisi. CHARACTERISTICS AND NUMBER OF LEUKOCYTES IN CHILDREN WITH ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA WHO UNDERWENT INDUCTION PHASE CHEMOTHERAPY AT AL ISLAM HOSPITAL BANDUNGAcute lymphoblastic leukemia is a heterogeneous group of malignancies with several characteristic genetic disorders that produce various clinical behaviors and responses to therapy. Acute lymphoblastic leukemia (ALL) patients are generally synonymous with high leukocyte counts. Current therapy is chemotherapy which consists of 3 phases, namely induction, consolidation, and maintenance. The success of chemotherapy is determined by many factors, including remission after the induction phase of chemotherapy. This study aims to determine the characteristics and number of leukocytes in children with ALL after the chemotherapy induction phase. The method used was descriptive with a cross-sectional design using medical records of ALL patients aged 0–15 years of 2019 period. The study was conducted in Al Islam Hospital Bandung during October 2020, and the data collection technique used total sampling. In this study, there were 137 medical record data and 74 data that met the inclusion criteria. Most ALL cases occurred at the age of 0–5 years in 41 patients (55%), male gender 43 patients (58%), good nutritional status 46 patients (62%), and remission bone marrow morphology 63 patients (85%). In addition, the leukocytes count was 4,500–13,500/mm3 in 52 patients (70%), and the highest bone marrow remission was in the leukocytes count 4,500–13,500/mm3 in 45 patients (61%). In conclusion, characteristics of most ALL patients are male, age of 0–5 years with good nutritional status and bone marrow morphology showing remission. 
Hubungan Kadar HbA1c dengan Glukosuria pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Al-Ihsan Bandung Provinsi Jawa Barat Nadia Maytresia Driva; Waya Nurruhyuliawati; Ieva B. Akbar
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v3i2.7326

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh kekurangan produksi insulin atau akibat ketidakefektifan insulin yang diproduksi. Kekurangan tersebut meningkatkan konsentrasi glukosa yang akan merusak berbagai macam sistem tubuh, salah satunya organ ginjal. Pada DM, glukosa urine dapat ditemukan apabila kadar glukosa darah sudah melebihi threshold ginjal. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara kadar HbA1c dan glukosuria pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan proses pendekatan cross-sectional. Data penelitian menggunakan rekam medis pasien DM tipe 2 di RSUD Al-Ihsan periode Januari–Desember 2019 dengan jumlah subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi sebanyak 66 orang yang terdiri atas 24 laki-laki (36%) dan 42 perempuan (64%), rentang usia tertinggi 40–65 tahun sebanyak 45 orang (68%). Analisis bivariat menggunakan uji chi-square didapatkan hasil analisis hubungan kadar HbA1c dengan glukosuria dengan nilai p=0,036 dan nilai r=0,243. Berdasar atas hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kadar HbA1c dan glukosuria pada pasien DM dengan korelasi positif lemah. Hal ini tidak semata-mata dapat menjadikan HbA1c menjadi kriteria diagnosis DM karena menurut beberapa penelitian yang dilakukan sebelumnya, HbA1c dapat meningkat pada penyakit ginjal (nefropati DM), kanker, uremia, dan iskemia serebral. Hal serupa terjadi pada glukosuria yang kejadiannya tidak selalu terjadi pada pasien dengan DM. Oleh karena itu, korelasi positif lemah pada penelitian ini kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor yang telah disebutkan di atas. RELATIONSHIP BETWEEN HBA1C LEVELS AND GLUCOSURIA IN TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTS IN AL-IHSAN REGIONAL GENERAL HOSPITAL WEST JAVA PROVINCEDiabetes mellitus (DM) is the production of a chronic disease caused by a lack of insulin or the ineffectiveness of the insulin produced. This deficiency causes an increase in blood glucose concentrations, which will damage various body systems, one of which is the kidneys. In people with DM, urine sugar can be found that blood glucose levels have exceeded the kidney threshold. The purpose of this study was to determine the relationship between HbA1c levels and glucosuria in type 2 DM patients. This study used an observational analytical method with a cross-sectional approach. The research data used the medical records of type 2 DM patients at Al-Ihsan Regional General Hospital during January–December 2019 with 66 people who met the inclusion and exclusion criteria, consisting of 24 men (36%) and 42 women (64%), the age range was between 40–65 years as many as 45 people (68%). Bivariate analysis using the chi-square test resulted in the analysis of the relationship between HbA1c levels and glucosuria with a p value of 0.036 and an r value of 0.243. Based on the results of the study, it was abbreviated that there was a relationship between HbA1c levels and glucosuria in DM patients with a low positive correlation. Nevertheless, HbA1c cannot be defined as the only criteria for DM diagnostic because, according to other studies, HbA1c can also increase in kidney disease (DM nephropathy), cancers, uremic, and cerebral ischemia. The same things happened to glycosuria which not only appears on DM patients. Therefore, the low positive correlations in this study might be happening because of those factors.
Gambaran Sistem Skoring Tuberkulosis Anak di Rumah Sakit Bhayangkara Indramayu Tahun 2019 Aisyah Putri Rejeki; Uci Ary Lantika; Sadeli Masria
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v3i2.7346

Abstract

Indonesia menjadi negara endemis TB dengan prevalensi TB paru anak yang cukup tinggi. Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kepadatan penduduk, tingkat pendidikan rendah, pola hidup bersih dan sehat, serta status gizi buruk menjadi risiko tinggi penularan penyakit ini terutama pada anak. Terdapat kesulitan dalam penegakan diagnosis disebabkan oleh kesulitan pengambilan sampel dahak pada anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia menggunakan pendekatan sistem skoring dalam mendiagnosis TB paru pada anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran sistem skoring tuberkulosis pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Bhayangkara Indramayu bulan Januari–Desember tahun 2019. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari 69 rekam medis pasien TB anak mengenai parameter sistem skoring. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 74% pasien didiagnosis TB anak dengan skoring TB ≥6 dan 26% skoring TB <6. Hal ini kemungkinan karena sebagian besar anak yang didiagnosis mengalami gizi buruk. Imunitas yang belum matur juga menjadi salah satu faktor risiko sistem skoring rendah. Simpulan, sistem skoring masih dapat menjadi pendekatan diagnosis TB pada anak. OVERVIEW OF THE CHILDREN’S TUBERCULOSIS SCORING SYSTEM AT THE BHAYANGKARA HOSPITAL INDRAMAYU IN 2019Indonesia is one of the endemic countries for tuberculosis, with a high prevalence of pulmonary tuberculosis in children. Tuberculosis is a chronic disease caused by Mycobacterium tuberculosis. The density of population, low level of education, low hygiene and healthy lifestyle, and poor nutritional status are the cause of transmission of this disease, especially in children. Diagnosis of tuberculosis in children is quite hard due to the difficulty of taking sputum samples in children. For this reason, the Indonesian Pediatric Society uses a scoring system approach in diagnosing pulmonary TB in children. This study aims to determine the tuberculosis scoring system in outpatients at the Bhayangkara Hospital Indramayu in January–December 2019. This study used secondary data obtained from 69 medical records of pediatric TB patients regarding the scoring system parameters. The results showed that patients were diagnosed with TB in children with TB scoring ≥6 (74%) and TB scoring <6 (26%). These are presumed because most children diagnosed with TB have malnutrition. Immature immunity is also a risk factor for low-scoring system parameters. In conclusion, scoring can still be a diagnostic approach for TB in children.
Scoping Review: Rasio Monosit Limfosit sebagai Penunjang untuk Menegakkan Diagnosis pada Penderita Tuberkulosis Algifari Fauzia; Purwitasari Purwitasari; Heni Muflihah
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v3i2.7501

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Indonesia menempati urutan ketiga kasus TB terbanyak di dunia. Pemeriksaan bakteriologis menjadi standar untuk menegakkan diagnosis tuberkulosis. Keterbatasan pemeriksaan kultur bakteri adalah membutuhkan waktu yang lama, sedangkan pemeriksaan TCM tidak selalu menunjukkan bakteri masih hidup. Pemeriksaan imunologis interferon-γ release assays (IGRA) memiliki harga mahal dan membutuhkan alat khusus. Pemeriksaan hematologi rutin mudah dilakukan sehingga memiliki potensi menunjang penegakan diagnosis TB berdasar atas parameter imunologis. Tujuan penelitian ini adalah melakukan literature review untuk mengidentifikasi potensi rasio monosit limfosit (MLR) sebagai penunjang diagnosis TB. Pencarian artikel dilakukan secara online dari database Pubmed, Springer Link, dan Science Direct. Tahapan penyaringan artikel mengikuti alur PRISMA. Pada tahap akhir, artikel yang eligible dipilih berdasar atas kriteria patient, intervention, comparison, outcome, and study (PICOS), yaitu pasien TB, rasio monosit limfosit, diagnosis TB, dan original study. Hasil penelitian ini mendapatkan tujuh artikel dari jumlah awal 8.942 artikel yang ditemukan dari kata kunci. Dua dari tujuh artikel menyatakan MLR dapat menunjang diagnosis TB. Dua artikel menunjukkan monosit dan limfosit dapat menjadi penanda infeksi bakteri termasuk TB. Satu artikel menyatakan hubungan TB dengan penurunan produksi sitokin monosit dan limfosit. Dua artikel menyatakan MLR tidak ada hubungan dengan kasus TB. Terdapat satu artikel yang menyatakan batas nilai MLR 0,378 untuk menunjang diagnosis TB. Penelitian observasional tentang MLR untuk menunjang diagnosis TB di Indonesia masih perlu dilakukan terutama pengkajian batas nilai MLR. SCOPING REVIEW: MONOCYTE LYMPHOCYTE RATIO AS SUPPORT TO ENFORCE ON PATIENT TUBERCULOSISTuberculosis (TB) is a disease caused by Mycobacterium tuberculosis. Indonesia ranks third with the most TB cases in the world. A bacteriological examination is a standard for diagnosing TB. A bacteriological examination is a standard for establishing the diagnosis of tuberculosis. The limitation of bacterial culture examination is that it takes a long time, while TCM examination does not always show the bacteria are still alive. Interferon-γ release assays (IGRA) examinations are expensive and require special equipment. Routine hematology tests are easy to do so as they have the potential to support the diagnosis of TB based on immunological parameters. The purpose of this study was to conduct a literature review to identify the potential for monocyte lymphocyte ratio (MLR) to support the diagnosis of TB. Search for articles was conducted online from PubMed, Springer Link, and Science Direct databases. The steps of filtering articles follow the PRISMA flow. In the final stage, eligible articles were selected based on patient, intervention, comparison, outcome, and study (PICOS) criteria, namely TB patient, monocyte lymphocyte ratio, TB diagnosis, and the original research. The results of this study obtained seven articles from 8,942 articles found from keywords. Two of the seven articles said that MLR could support the diagnosis of TB. Two articles showed that monocytes and lymphocytes could be markers of bacterial infection include TB. One article said the association of TB with decreased production of monocyte and lymphocyte cytokines. Two articles said that MLR had no relationship with TB cases. There is one article that states the MLR value limit is 0.378 to support the diagnosis of TB. Observational research on MLR to support the diagnosis of TB in Indonesia still needs to be done, especially the assessment of the limit of the MLR value.
Scoping Review: Pengaruh Kadar Gula Darah tidak Terkontrol terhadap Komplikasi Makrovaskular pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Nabila Maharani Suryanegara; Yani Dewi Suryani; Nuzirwan Acang
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v3i2.7289

Abstract

Diabetes melitus (DM) tipe 2 adalah gangguan metabolik karena tubuh mampu menghasilkan insulin, namun tidak dalam kadar normal atau tidak dapat berespons terhadap efek insulin (resistensi insulin) sehingga menyebabkan hiperglikemia. Jika kadar gula darah tidak dikontrol dengan baik maka akan dapat menyebabkan komplikasi kronis berupa mikrovaskular seperti penyakit mata, neuropati dan nefropati, serta makrovaskular seperti penyakit arteri koroner, arteri perifer, dan serebrovaskular. Pada tahun 2013, riset menunjukkan prevalensi penderita DM di Indonesia tinggi, terutama di Provinsi Sulawesi Tengah. Tujuan penelitian ini mengetahui komplikasi makrovaskular pada penderita diabetes melitus tipe 2 dengan kadar gula darah tidak terkontrol. Metode penelitian scoping review dengan mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi suatu karya tulis ilmiah yang diterbitkan dalam rentang waktu 10 tahun terakhir yang dilakukan selama September–Desember 2020. Pencarian sistematis dilakukan melalui situs database PubMed, Springer Link, dan ProQuest. Sesuai dengan kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi serta dilakukan skrining menggunakan kriteria kelayakan pada PRISMA dan disajikan dalam bentuk tabel hasil penelitian berisi uraian 9 artikel penelitian yang telah di-review. Simpulan: sembilan artikel menyatakan terdapat pengaruh kadar gula darah tidak terkontrol terhadap kemunculan komplikasi makrovaskular berupa penyakit arteri koroner, arteri perifer, dan serebrovaskular pada pasien diabetes melitus tipe 2. Kadar gula darah tidak terkontrol berkaitan dengan pembentukan plak aterosklerosis serta gangguan fungsi endotel sehingga pasien dengan miokardiak infark, gangren, dan iskemik strok merupakan presentasi yang umum pada pasien dengan kadar gula darah tidak terkontrol. SCOPING REVIEW: THE EFFECT OF UNCONTROLLED BLOOD SUGAR LEVELS ON MACROVASCULAR COMPLICATIONS IN TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTSType 2 diabetes mellitus (DM) is a metabolic disorder because the body can produce insulin, but not at normal levels, or cannot respond to the effects of insulin (insulin resistance), causing hyperglycemia. If blood sugar levels have not properly controlled, it can lead to chronic complications in the form of microvascular diseases such as eye diseases, neuropathy, and nephropathy, and macrovascular diseases such as coronary artery disease, peripheral arteries, and cerebrovascular. In 2013, research showed the high prevalence of DM sufferers in Indonesia, especially in the province of Central Sulawesi. The objective of this study was to determine macrovascular complications in type 2 diabetes mellitus patients with uncontrolled blood sugar levels. Scoping review research method by identifying, analyzing, and evaluating a scientific paper published in the last ten years, conducted in September–December 2020. Systematic searches through PubMed, Springer Link, and ProQuest database sites. Following inclusion criteria and no exclusion criteria, screening was carried out using the eligibility criteria at PRISMA and presented in the form of a research table containing a reviewed descriptions of nine research articles. Conclusion: nine research articles stated an effect of uncontrolled blood sugar levels on the appearance of macrovascular complications, such as coronary artery disease, peripheral arteries, and cerebrovascular disease in patients with type 2 diabetes mellitus. Uncontrolled blood sugar levels were associated with atherosclerotic plaque formation and impaired endothelial function. Myocardial infarction, gangrene, ischemic stroke are common presentations in patients with uncontrolled blood sugar levels.
Scoping Review: Perbandingan Cure Rate Obat-obat Antiskabies di Formularium Nasional dengan Non-Formularium Nasional Rizki Amalia Nashuha; Satryo Waspodo; Yani Triyani
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v3i2.7458

Abstract

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var. hominis. Di Indonesia, skabies merupakan urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering. Terdapat sebelas faktor yang dapat memengaruhi prevalensi skabies di suatu komunitas salah satunya adalah kegagalan pengobatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan cure rate obat-obat antiskabies di Formularium Nasional dengan Non-Formularium Nasional. Metode penelitian ini adalah scoping review yang dilakukan dari bulan September–Desember 2020. Pencarian sistematis artikel dilakukan melalui database elektronik, yaitu PubMed, Science Direct, Springer Link, Google Scholar, dan Cochrane sesuai dengan kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi serta dilakukan skrining menggunakan kriteria PICOS (Pasien, Intervention, Comparison, Outcome, dan Study). Dari hasil pencarian, terdapat 17 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi. Dari 17 artikel, 12 artikel menunjukkan bahwa permethrin merupakan obat yang memiliki cure rate lebih baik daripada benzyl benzoate, ivermectin, gamma benzene hexachloride, dan crotamiton. Dua artikel menunjukkan ivermectin memiliki cure rate lebih tinggi daripada lindane dan sulfur. Satu artikel menunjukkan terapi kombinasi sulfur lebih baik daripada terapi tunggal. Satu artikel menunjukkan bahwa Tinospora cordifolia memiliki cure rate yang tinggi. Satu artikel menunjukkan bahwa afoxolaner dapat dijadikan obat antiskabies. Simpulan, cure rate permethrin tinggi sehingga permethrin dapat dijadikan terapi utama skabies. SCOPING REVIEW: CURE RATE COMPARISON OF ANTISCABIETIC DRUGS OF NATIONAL FORMULARY AND NON-NATIONAL FORMULARYScabies is a skin disease caused by the mite Sarcoptes scabiei var. hominis. In Indonesia, scabies is the third of the 12 most common skin diseases. Eleven factors can influence the prevalence of scabies in a community, one of which is treatment failure. This study aims to compare the antiscabies drugs cure rate in the National Formulary with the National Non-Formularium. The research method is a scoping review conducted from September–December 2020. Article systematic searched were carried out through electronic databases, namely PubMed, Science Direct, Springer Link, Google Scholar, and Cochrane by the inclusion criteria and not exclusion and screening using the PICOS criteria (Patient, Intervention, Comparison, Outcome, and Study). From the search results, 17 articles matched the inclusion criteria. From 17 articles, 12 articles show that permethrin has a better cure rate than benzyl benzoate, ivermectin, gamma benzene hexachloride, and crotamiton. Two articles show that ivermectin has a higher cure rate than lindane and sulfur. One article suggests sulfur combination therapy is preferable to single therapy. One article shows that Tinospora cordifolia has a high cure rate. One article shows that afoxolaner can be used as an antiscabies drug. The conclusion is that permethrin has a high cure rate, so permethrin can be used as the main therapy for scabies.
Hubungan Kepatuhan Penggunaan Earplug terhadap Keluhan Gangguan Pendengaran pada Pekerja PT Anugrah Bungo Lestari Fitria Hazmi Sholihah; Tety H. Rahim; Susan Fitriyana
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v3i2.7392

Abstract

Paparan kebisingan di tempat kerja merupakan salah satu bahaya yang paling sering terjadi. Diperkirakan 22,4 juta pekerja di seluruh dunia terpapar kebisingan yang berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran akibat bising. Gangguan pendengaran akibat bising dapat dicegah dengan memakai earplug. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kepatuhan penggunaan earplug dengan keluhan gangguan pendengaran pada karyawan PT Anugrah Bungo Lestari. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan metode cross-sectional. Variabel kepatuhan dan keluhan gangguan pendengaran diukur menggunakan kuesioner yang diisi oleh responden. Sampel yang diteliti adalah pekerja bagian mesin dengan sampel sebanyak 100 responden yang dipilih secara total sampling dan dilakukan uji chi-square sebagai uji hipotesis. Penelitian dilakukan pada bulan September–Desember 2020 di PT Anugrah Bungo Lestari, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 80% pekerja PT Anugrah Bungo Lestari sudah patuh dalam menggunakan earplug. Terdapat 46% pekerja mengeluhkan gangguan pendengaran yang tidak mengganggu aktivitas, 16% pekerja mengalami keluhan gangguan pendengaran yang mengganggu aktivitas, sedangkan sisanya tidak mengeluhkan gangguan pendengaran (38%). Hasil uji pada pekerja yang tidak patuh menggunakan earplug terdapat keluhan gangguan pendengaran (p<0,001). Simpulan, terdapat hubungan penggunaan earplug dengan keluhan gangguan pendengaran.THE COMPLIANCE RELATIONSHIP OF USING EARPLUGS TO COMPLAINTS OF HEARING LOSS AMONG EMPLOYEES PT ANUGRAH BUNGO LESTARINoise exposure in the workplace is one of the most frequent hazards. An estimated 22.4 million workers worldwide are exposed to noise that potential to cause noise-induced hearing loss. Noise-induced hearing loss can prevent by wearing earplugs. This study aims to determine the relationship of compliance with the use of earplugs to complaints of hearing loss among employees of PT Anugrah Bungo Lestari. This research is descriptive-analytic with a cross-sectional design. The compliance and hearing loss complaints variables were measured using a questionnaire filled out by the respondents. The sample studied was 100 workers in the machine part chosen by total sampling and performed chi-square test as a hypothesis test. This research has conducted in September–December 2020 at PT Anugrah Bungo Lestari, Bungo regency, Jambi province. The results show that 80% of PT Anugrah Bungo Lestari's workers are obedient in using earplugs. There are 46% of workers complaining of hearing loss that does not interfere with activities, 16% of workers have complained of hearing loss that interferes with activities, while the rest do not complain of hearing loss (38%). The test results in workers who did not comply with using earplugs had complaints of hearing loss (p<0.001). In conclusion, there is a relationship between the use of earplugs and complaints of hearing loss.
Hubungan antara Kadar Hemoglobin dan Status Gizi pada Penderita β-Thalassemia Major di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat Dita Trieana Ulfah; Yoyoh Yusroh; Hidayat Widjajanegara
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v3i2.7378

Abstract

Thalassemia adalah penyakit kronik yang menyebabkan penurunan kadar hemoglobin karena gangguan sintesis hemoglobin akibat mutasi satu atau lebih gen globin. Thalassemia dapat menyebabkan gangguan status gizi. Status gizi penderita thalassemia dipengaruhi oleh keadaan anemia kronik, kelebihan zat besi akibat kepatuhan minum obat kelasi besi yang rendah, usia saat terdiagnosis, kadar hemoglobin saat akan dilakukan transfusi, nutrisi, dan penyakit penyerta. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara kadar hemoglobin dan status gizi pada penderita beta-thalassemia major di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan melihat data rekam medis pasien beta-thalassemia major di Klinik Anak RSUD Al-Ihsan periode Maret–Juni 2020 dengan rancangan studi cross-sectional. Kriteria inklusi: usia 0–18 tahun, terdapat data berat badan, tinggi badan, dan kadar hemoglobin. Dari 92 anak yang menderita beta-thalassemia major terdapat 82 anak yang memenuhi kriteria inklusi, kebanyakan berusia 1–5 tahun (40%) dengan jenis kelamin laki-laki 43 anak dan perempuan 39 anak. Pada anak usia ≤5 tahun: 85% status gizinya normal, gizi kurang 6%, perawakan normal 67%, perawakan pendek 18%, dan perawakan sangat pendek 15%. Anak usia >5 tahun: 71% status gizinya normal, gizi kurus 10%, sangat kurus hanya 2%, perawakan normal 35%, perawakan pendek 43%, dan perawakan sangat pendek 22%. Nilai p BB/TB pada anak ≤5 tahun adalah 0,494 dan TB/U 0,331. Pada anak usia >5 tahun didapatkan nilai p IMT/U 0,595 dan TB/U 0,230. Simpulan penelitian adalah kadar hemoglobin tidak memiliki hubungan dengan status gizi pasien beta-thalassemia major. THE RELATIONSHIP BETWEEN HEMOGLOBIN LEVELS AND NUTRITIONAL STATUS IN Β-THALASSEMIA MAJOR PATIENTS IN AL-IHSAN REGIONAL GENERAL HOSPITAL WEST JAVA PROVINCEThalassemia is a chronic disease that causes a decrease in hemoglobin level due to hemoglobin synthesis disorders due to mutations in one or more globin genes. Thalassemia can cause nutritional status disorders. Factors that influence nutritional status are age at diagnosis, hemoglobin level at the time of transfusion, chronic anemia, iron overload due to low adherence to taking iron-chelating agent drugs, nutrition, and comorbidities. This study aims to determine the relationship between hemoglobin levels and nutritional status in beta-thalassemia major patients in Al-Ihsan Regional General Hospital West Java province. This study used an analytic method by looking at the medical record data of beta-thalassemia major patients at the Children’s Clinic of Al-Ihsan Regional General Hospital during March–June 2020 with a cross-sectional study. The inclusion criteria were children aged 0–18 years, and there were data on body weight, body height, and hemoglobin level. Of the 92 beta-thalassemia major patients, 82 met the inclusion criteria, mostly aged 1–5 years (40%) with male 43 children and female 39 children. Children aged ≤5-years: 85% normal nutritional status, 6% wasted, 67% normal stature, 18% stunted, and 15% severely stunted. Children >5 years aged: 71% normal nutritional status, 10% wasted, 2% severely wasted, 35% normal stature, 43% stunted, and 22% severely stunted. On children aged ≤5-years, a p value BW/BH was 0.494, and a p value BH/A was 0.331. On children aged >5-years, a p value BMI/A was 0.595, and p value BH/A was 0.230. The conclusion is there is no relationship between hemoglobin levels and nutritional status in beta-thalassemia major patients.
Systematic Review: Pengaruh Mendengarkan Murottal Al-Qur’an terhadap Penurunan Kecemasan pada Ibu Hamil Balqis Al Khansa; Ferry Achmad Firdaus Mansoer; Nurhalim Shahib
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v3i2.7456

Abstract

Kecemasan pada masa kehamilan apabila sampai tahap kronis berdampak buruk bagi ibu ataupun bayi. Pada ibu dapat menyebabkan arteri uterus berkontraksi, menurunkan blood flow plasenta dan suplai oksigen kepada janin sehingga berdampak pada kondisi bayi seperti detak jantung bayi abnormal, meningkatkan kemungkinan bayi lahir prematur, bayi lahir dengan skor psikomotor yang rendah, dan kelainan pada perilaku bayi. Salah satu terapi nonfarmakologis adalah mendengarkan murottal Al-Qur’an karena harmoni nadanya memiliki jenis frekuensi dan panjang gelombang tertentu. Saat rangkaian gelombang tersebut sampai pada pendengaran manusia akan memengaruhi sel-sel otak untuk memulihkan keseimbangan dan koordinasi sehingga dapat menurunkan hormon stres dan mengaktifkan endorfin alami (serotonin). Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh mendengarkan murottal Al-Qur-an terhadap tingkat kecemasan ibu hamil. Penelitian ini merupakan penelitian literature review menggunakan metode systematic review dari database PubMed, Science Direct, Springer Link, ProQuest, dan Google Scholar. Artikel dinilai secara PICOS untuk ditentukan sebagai eligible pada PRISMA dan disajikan dalam tabel artikel yang sesuai, yaitu Populasi (ibu hamil yang mengalami kecemasan yang diukur menggunakan berbagai kuesioner kecemasan), Intervention/Exposure (mendengarkan murottal Al-Qur’an),  Comparison (yang tidak diberikan paparan murottal Al-Qur’an atau dibanding dengan jenis musik lainnya), Outcome (penurunan kecemasan ibu hamil). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mendengarkan murrotal Al-Qur’an dalam tempo yang lambat dan suasana yang tenang dapat menurunkan tingkat kecemasan pada ibu hamil. Harmoni nada dari murottal Al-Qur’an merupakan spiritual music, memiliki panjang audio dengan jenis frekuensi dan panjang gelombang tertentu, menghasilkan suatu getaran yang dapat memulihkan keseimbangan dan koordinasi, mengaktifkan aktivitas gelombang otak sehingga dapat mengontrol pikiran dan jiwa untuk menurunkan kecemasan. SYSTEMATIC REVIEW: EFFECT OF LISTENING TO THE MUROTTAL AL-QUR’AN ON REDUCING ANXIETY IN PREGNANT WOMENAnxiety during pregnancy, when it reaches a chronic stage thas very bad for the mother or baby. In the mother, it can cause contraction of the uterus artery, reduces placental blood flow, and oxygen supply to the fetus. As a result, it will affect the fetus condition, such as an abnormal fetal heart rate, increasing the likelihood of a baby being born prematurely, a baby born with a low psychomotor score, and abnormalities in infant behavior. One of the non-pharmacological therapies is listening to the murottal Al-Qur'an because the harmonic tone has a specific type of frequency and wavelength. When this wave sequence reaches human hearing, it affects brain cells to restore balance and coordination, reduce stress hormones, and activate natural endorphins (serotonin). This study aimed to determine the effect of listening to the murottal Al-Qur'an on the anxiety level of pregnant women. This research was a literature review using a systematic review method from the PubMed, Science Direct, Springer Link, ProQuest, and Google Scholar databases. Articles will be assessing by PICOS to be determined as the eligible article at PRISMA and presented in an appropriate table. PICOS: Population (pregnant women who experience anxiety as measured using various anxiety questionnaires), Intervention/Exposure (listening to murottal Al-Qur'an), Comparison (who not given exposure murottal Al-Qur'an or compared to other types of music), and Outcome (reduced anxiety of pregnant women). The results showed that listening to the murottal Al-Qur'an in a slow tempo and a calm atmosphere can reduce anxiety levels in pregnant women. The harmony of the tone of the murottal Al-Qur'an is spiritual music, has audio with a specific type in frequency and wavelength, produces a vibration that can restore balance and coordination, activates brain wave activity that can control the mind and spirit to reduce anxiety.

Page 11 of 22 | Total Record : 211