cover
Contact Name
Dwi Priyanto
Contact Email
balaba_banjarnegara@yahoo.com
Phone
+62286-594972
Journal Mail Official
balaba_banjarnegara@yahoo.com
Editorial Address
Sekretariat BALABA Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Jalan Selamanik No 16 A Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia 53415
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BALABA (JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA)
ISSN : 18580882     EISSN : 23389982     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
BALABA is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We published research article and literature review focused on vector borne disease such as malaria, DHF, filaria, chikungunya, leptospirosis, etc.
Articles 329 Documents
SPESIES TIKUS, CECURUT DAN PINJAL YANG DITEMUKAN DI PASAR KOTA BANJARNEGARA, KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 Dina Supriyati; Adil Ustiawan
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 9 Nomor 2 Desember 2013
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.723 KB) | DOI: 10.22435/blb.v9i2.822

Abstract

Tikus merugikan bagi kehidupan manusia, baik dari sisi ekonomi maupun kesehatan. Tikus membawa kumanpenyakit, ektoparasit dan endoparasit. Pasar tradisional merupakan tempat potensial ditemukan tikus dalamjumlah cukup tinggi. Tujuan penelitian untuk mengetahui keberadaan tikus, cecurut dan ektoparasit pinjal diPasar Kota Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara. Penelitian deskriptif dengan metode survei dan pendekatancross sectional. Data tikus dari penangkapan tikus menggunakan live trap. Populasi adalah fauna tikus yanghidup di Pasar Kota Banjarnegara. Sampel adalah tikus yang tertangkap menggunakan perangkap yang diberiumpan kelapa bakar dan mentimun. Analisis data secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan tikus yangtertangkap sebanyak 33 ekor .Tikus yang banyak tertangkap adalah Rattus tanezumi (84,85%) dan paling sedikittertangkap Rattus norvegicus (3,03%). Tikus berjenis kelamin jantan lebih banyak ditemukan 20 ekor (60,61%)daripada tikus betina 13 ekor (39,39%). Tikus sebagian besar terdapat di dalam los pasar (77,42%) daripada diluar los pasar (22,58%). Trap success tikus sebesar 8,25% dengan keberhasilan penangkapan paling tinggi padahari ke-2 (4,5%). Trap success berdasarkan lokasi penangkapan di dalam los pasar lebih besar (6,5%) daripadaluar los pasar (1,75%). Jumlah pinjal yang menginfestasi spesies tertangkap sebanyak 67 ekor. Spesies pinjalyaitu Xenopsylla cheopis. Indeks umum pinjal sebesar 2,03 melebihi standar. Perlu dilakukan pengendalian tikusdan pinjal (Xenopsylla cheopis).
POLA SEBARAN SPESIES TIKUS HABITAT PASAR BERDASARKAN JENIS KOMODITAS DI PASAR KOTA BANJARNEGARA Dwi Ernawati; Dwi Priyanto
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 9 Nomor 2 Desember 2013
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.497 KB) | DOI: 10.22435/blb.v9i2.823

Abstract

Tikus (Ordo Rodentia) merupakan hewan liar dari golongan mamalia dan dikenal sebagai hewan pengganggudalam kehidupan manusia, terutama tikus domestik. Tikus domestik mempunyai habitat dekat dengan kehidupanmanusia seperti perumahan, sawah dan pasar. Pasar merupakan tempat yang banyak makanan. Tujuanpenelitian ini untuk mendeskripsikan pola sebaran spesies tikus habitat pasar berdasarkan jenis komoditas diPasar Kota Banjarnegara. Metode penelitiannya adalah survei dengan pendekatan cross sectional. Populasiseluruh tikus di Pasar Kota Banjarnegara dengan sampel tikus yang tertangkap. Teknis analisis secara deskriptifdan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan jumlah tikusyang tertangkap antara lain Rattus tanezumi sebanyak 28 ekor, R. norvegicus sebanyak 1 ekor dan Suncusmurinus sebanyak 4 ekor. Berdasarkan peletakkannya, hanya spesies R. tanezumi yang berada di dalam los.Persentase los berdasarkan komoditasnya yang positif R. tanezumi tertinggi adalah los sembako (35%),sedangkan terendah adalah los bumbu dapur, sayur dan buah (4%). Rattus tanezumi lebih dominan ditemukandibanding spesies lainnya.Tikus (Ordo Rodentia) merupakan hewan liar dari golongan mamalia dan dikenal sebagai hewan pengganggudalam kehidupan manusia, terutama tikus domestik. Tikus domestik mempunyai habitat dekat dengan kehidupanmanusia seperti perumahan, sawah dan pasar. Pasar merupakan tempat yang banyak makanan. Tujuanpenelitian ini untuk mendeskripsikan pola sebaran spesies tikus habitat pasar berdasarkan jenis komoditas diPasar Kota Banjarnegara. Metode penelitiannya adalah survei dengan pendekatan cross sectional. Populasiseluruh tikus di Pasar Kota Banjarnegara dengan sampel tikus yang tertangkap. Teknis analisis secara deskriptifdan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan jumlah tikusyang tertangkap antara lain Rattus tanezumi sebanyak 28 ekor, R. norvegicus sebanyak 1 ekor dan Suncusmurinus sebanyak 4 ekor. Berdasarkan peletakkannya, hanya spesies R. tanezumi yang berada di dalam los.Persentase los berdasarkan komoditasnya yang positif R. tanezumi tertinggi adalah los sembako (35%),sedangkan terendah adalah los bumbu dapur, sayur dan buah (4%). Rattus tanezumi lebih dominan ditemukandibanding spesies lainnya.
PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP KETIDAKPATUHAN PENGGUNAAN KELAMBU BERINSEKTISIDA DI DESA TEGAL REJO, KECAMATAN LAWANG KIDUL, KABUPATEN MUARA ENIM I Gede Wempi Dody Surya Permadi
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 9 Nomor 2 Desember 2013
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.725 KB) | DOI: 10.22435/blb.v9i2.826

Abstract

ABSTRACTMalaria is an infectious disease in the tropics and sub ?tropics and can cause death. Densely and less arrangedsettelement, many water reservoirs and pools of former excavation mine in every home residents may increase theodds of malaria vectors in the community. Mosquito nets have been produced using insecticides (Long LastingIncetiside nets). It can kill resting mosquito when mosquitoes exposed to insecticide. There are some people whodisobey the rule. In Solomon, the biggest factor of this disobedience is the uncomfortable condition when usingmosquito nets at bedtime. The purpose of this study to describe the knowledge, attitudes, behavior of people donot use mosquito nets. A descriptive study with cross-sectional design. The study was conducted in the villageTegal Rejo, Lawang Kidul District, Muara Enim, South Sumatra Province in April 2013. Samples were 100households. Collecting data using questionnaires. 98% of respondents do not know the characteristics of thedisease and malaria mosquitoes. All respondents did not know the difference insecticide-treated nets to regularnets . Most respondents did not know how to use bed nets (73%), incorrect usage of bed nets (99%), did not get anexplanation before using nets (89%), and did not know the purpose of mosquito nets (89%). Some people inTegalrejo did not use LLIN's because most of them prefer to use insect repellent.Key words: behaviour, LLIN's, disobendience ABSTRAKMalaria merupakan penyakit menular di daerah tropis dan sub tropis serta dapat menimbulkan kematian padapenderitanya. Kondisi pemukiman padat dan kurang tertata, banyaknya tempat penampungan air dan kubanganbekas galian tambang di setiap rumah penduduk dapat memperbesar peluang berkembangnya vektor malaria dimasyarakat. Kelambu yang telah diproduksi memakai insektisida (Long Lasting Incetiside nets). Kelambu inidapat membunuh nyamuk apabila nyamuk terpapar oleh insektisida. Ada beberapa masyarakat yang tidak patuhmemakai kelambu. Di Solomon, faktor terbesar penyebab tidak memakai kelambu adalah faktor kenyamanansaat menggunakan kelambu pada waktu tidur. Tujuan penelitian ini untuk mendiskripsikan pengetahuan, sikap,perilaku masyarakat yang tidak menggunakan kelambu. Jenis penelitian diskriptif dengan rancangan crosssectional. Penelitian dilakukan di Desa Tegal Rejo, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, ProvinsiSumatera Selatan bulan April 2013. Sampel berjumlah 100 KK. Pengumpulan data menggunakan kuesioner.98% responden tidak tahu ciri-ciri penyakit dan jenis nyamuk malaria. Seluruh responden tidak mengetahui bedakelambu berinsektisida dengan kelambu biasa. Sebagian besar responden tidak mengetahui cara penggunaankelambu (73%), tidak benar dalam pemakaian kelambu (99%), tidak mendapatkan penjelasan sebelum memakaikelambu (89%), dan tidak mengetahui tujuan dibagikan kelambu (89%). Masyarakat Desa Tegalrejo tidakmemakai kelambu karena sebagian besar mereka lebih memilih menggunakan obat nyamuk.Kata kunci: perilaku, kelambu, ketidakpatuhan
PEMERIKSAAN CACING ENDOPARASIT PADA TIKUS (Rattus spp.) DI DESA CITEREUP KECAMATAN DAYEUH KOLOT, KABUPATEN BANDUNG JAWA BARAT 2013 Ribia Tutstsintaiyn
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 9 Nomor 2 Desember 2013
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.385 KB) | DOI: 10.22435/blb.v9i2.827

Abstract

Kejadian penyakit zoonosis bersumber dari tikus disebabkan oleh adanya endoparasit berupa cacing yang hiduppada tikus. Bulan April 2013, di Desa Citereup Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung, Jawa Baratterjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) leptospirosis. Sebagai salah satu upaya kewaspadaan dini, pengukuranrisiko dan studi potensi bahaya kesehatan penyakit bersumber tikus, perlu di lakukan pemeriksaan endoparasitpada tikus. Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan denganpenangkapan dan identifikasi tikus, identifikasi keberadaan dan jenis endoparasit pada organ dalam, danidentifikasi spesies yang ditemukan. Penangkapan tikus selama tiga hari menggunakan 100 perangkap. Spesiestikus yang ditemukan Rattus tanezumi dan Rattus norvegicus. Jenis cacing endoparasit yang ditemukan padaorgan hati Taenia taeniaeformis, pada organ lambung dan usus Hymenolepis diminuta, dan Nippostrongilusbrassiliensis ditemukan pada organ usus. Cacing yang ditemukan dalam penelitian ini seluruhnya bersifatzoonosis.
GAMBARAN PENINGKATAN KEJADIAN MALARIA DI DESA TETEL KECAMATAN PENGADEGAN KABUPATEN PURBALINGGA Tri Ramadhani; Jarohman Raharjo
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 9 Nomor 2 Desember 2013
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1029.084 KB) | DOI: 10.22435/blb.v9i2.828

Abstract

Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia. Kabupaten Purbalingga merupakansalah satu daerah endemis malaria di Jawa Tengah, yang meliputi empat wilayah kecamatan yaituKarangmoncol, Pengadegan, Kaligondang dan Rembang. Tahun 2011 dilaporkan 100 kasus yang terdiri dari 81kasus indigenious dan 19 impor. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan kejadian malaria di DesaTetel, Kecamatan Pengadegan tahun 2012. Penelitian ini termasuk observasional dengan desain cross sectional.Pengambilan sediaan darah tebal dilakukan di desa Tetel pada semua penduduk dengan gejala malaria dantanpa gejala berada dalam satu rumah dengan penderita malaria. Sediaan darah diwarnai dengan giemsa 10%dan diidentifikasi menggunakan mikroskop perbesaran 1000x dengan minyak emersi. Penderita positif malariadilakukan pengobatan. Data perilaku didapatkan melalui wawancara terhadap kasus malaria . Analisis datadilakukan secara deskriptif dalam bentuk grafik dan tabel. Hasil survei di Desa Tetel didapatkan 299 sediaandarah dan 59 positif parasit malaria (SPR 20,07%) dengan proporsi Plasmodium vivax 9 kasus dan Plasmodiumfalciparum 50 kasus. Distribusi kasus malaria bulan Januari sampai November 2012 (109 kasus) denganperincian laki-laki 54,1% , perempuan 45,9% dan 78% pada golongan umur >15 tahun. Penularan malariaterjadi di lingkungan sekitar (indigenous) dan disebabkan pengobatan tidak tuntas serta diagnosis terlambatdari pelayanan kesehatan.
ANALISIS SPASIAL KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) KASUS LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN KULONPROGO TAHUN 2011 Rahmawati Rahmawati
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 9 Nomor 2 Desember 2013
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.337 KB) | DOI: 10.22435/blb.v9i2.829

Abstract

Pada tahun 2011 terjadi KLB di Kulonprogo dengan jumlah kasus 273 dan jumlah kematian 18 orang (CFR =6,59%). Oleh sebab itu sangat penting untuk mengetahui gambaran penyebaran leptospirosis. Analisis inimerupakan studi deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional menggunakan subjek berjumlah249 kasus yang terdata di Dinas Kabupaten Kulonprogo selama bulan Januari-November 2011. Titik koordinatrumah penderita ditentukan dengan GPS. Data ditampilkan dengan peta digital Rupa Bumi Indonesia (RBI)skala 1 : 25000 menggunakan software ArcView 3.3. Analisis spasial dilakukan dengan skoring pada variabelcurah hujan, penggunaan lahan dan ketinggian tempat. Analisis spasial besarnya curah hujan dengan kejadianleptospirosis pada masa tersebut menunjukkan angka korelasi 0,179, dengan demikian korelasi antara curahhujan dengan kasus leptospirosis sangat lemah. Kasus leptospirosis di Kabupaten Kulonprogo banyak terjadi dipenggunaan lahan kebun dan permukiman dengan ketinggian antara 0-100 mdpl. Analisis spasial menunjukkan55,7% kasus leptospirosis terjadi di zona kerawanan sedang dan 31,79% terjadi di zona kerawanan rendah.
RICKETTSIA Nova Pramestuti
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 7 Nomor 1 Juni 2011
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1358.064 KB) | DOI: 10.22435/blb.v7i1.853

Abstract

Mungkin sebagian orang belum mengetahui bahkan baru mendengar tentang Rickettsia. Di Indonesia, skrining terhadap kasus Rickettsia ini masih jarang dan belum banyak dilakukan penelitian. Rickettsia sebenarnya merupakan bakteri yang mempunyai sifat parasit obligat intraseluler, berukuran kecil (0,3-0,5 x 0,8-2,0 µm), mempunyai bentuk coccobacilli, gram negatif, tidak berflagel (kecuali Rickettsia prowazekii), dan mengalami pembelahan ganda dalam sel pejamu. Rickettsia dianggap sebagai kelompok bakteri yang terpisah karena mempunyai ciri sebagai agent penyakit yang ditularkan oleh vektor arthropoda (tungau, pinjal, caplak, dan kutu).
ANALISIS RISIKO DENGUE BERBASIS MAYA INDEX PADA RUMAH PENDERITA DBD DI KOTA BANJAR TAHUN 2012 Pandji Wibawa Dhewantara; Arda Dinata
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 11 Nomor 1 Juni 2015
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.186 KB) | DOI: 10.22435/blb.v11i1.857

Abstract

Salah satu faktor risiko kejadian DBD di antaranya adalah ketersediaan kontainer tempat perkembangbiakan vektor. Tahun2012 dilakukan survei observasional analitik dengan pendekatan potong lintang pada 100 rumah penderita DBD di KotaBanjar. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat risiko penularan DBD melalui pendekatan analisis Maya Index. Data yang dikumpulkan meliputi jenis, jumlah kontainer, dan jumlah kontainer mengandung larva Aedes sp. Kontainer yangditemukan dikategorikan menjadi Controllable Container dan Disposable Container untuk mengetahui Breeding Risk Index(BRI) dan Hygene Risk Index (HRI). Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui proporsi jumlah dan jenis kontainer.Maya index diperoleh dari hasil pengkategorian rasio BRI dan HRI. Container Index dan Breteau Index dihitung untukmengetahui kepadatan larva. Hasil pengamatan ditemukan sebanyak 915 kontainer yang terdiri dari jenis controllablecontainers (93%) dan disposable containers (7%). Jenis kontainer yang dominan adalah tempayan tanah liat (15,52%), bakair (14,35%), pot bunga (48,47%), dan penampung air pada dispenser (7%). Larva Aedes sp. banyak ditemukan pada bak air(48,57%) dan penampung air pada dispenser (22,86%). Sementara, botol bekas (35,3%) dan kaleng bekas (26,1%)merupakan jenis disposable container yang paling banyak ditemukan. Analisis menunjukkan sebagian besar rumahberkategori BRI tinggi (93%) dan HRI rendah (92%). Berdasarkan Maya Index, rumah penderita termasuk dalam kategoririsiko sedang (97%) dengan CI dan BI masing-masing sebesar 3,85% dan 35. Studi ini menyimpulkan bahwa sebagian besarrumah penderita masih memiliki potensi penularan infeksi virus Dengue.
GAMBARAN PEMAKAIAN INSEKTISIDA RUMAH TANGGA DI DAERAH ENDEMIS DBD KABUPATEN GROBOGAN TAHUN 2013 Sunaryo Sunaryo; Puji Astuti; Dyah Widiastuti
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 11 Nomor 1 Juni 2015
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.86 KB) | DOI: 10.22435/blb.v11i1.864

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Grobogan Provinsi Jawa Tengah. Angkakesakitan DBD per 100.000 penduduk di Kabupaten Grobogan dari tahun 2011-2013 semakin meningkat. Penggunaaninsektisida sebagai upaya pengendalian vektor paling banyak dilakukan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan insektisida rumah tangga di Kabupaten Grobogan. Metode yang digunakan adalah surveidan wawancara dengan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan sebagian besar masyarakat menggunakan insektisida rumahtangga (86,33%) dengan intensitas penggunaan paling banyak sehari sekali (85,4%) dengan lama penggunaan lebih dari 5tahun (74,51%). Kandungan bahan aktif insektisida yang digunakan merupakan golongan sintetik piretroid. Hal inimerupakan salah satu faktor pendukung terjadinya kerentanan Ae. aegypti terhadap insektisida yang digunakan olehprogram.
GAMBARAN UPAYA PENCARIAN PENGOBATAN PENDERITA DBD DI KOTA SUKABUMI TAHUN 2012 Rohmansyah Wahyu Nurindra; Roy Nusa Rahagus Edo Santya; Heni Prasetyowati
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 11 Nomor 1 Juni 2015
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.744 KB) | DOI: 10.22435/blb.v11i1.865

Abstract

Upaya dan kecepatan pencarian pengobatan akan mempengaruhi proses penularan virus Dengue. Individu yang mengalamiviremia akan menjadi sumber virus bagi Aedes spp. Lama waktu ketidaktahuan individu dalam kondisi viremia memperbesarpeluang menjadi sumber infeksi bagi lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi upaya pencarian pengobatan penderita infeksi virus Dengue di Kota Sukabumi. Penelitian observasional dengan desain cross sectional.Sampel penelitian sebanyak 125 penderita yang didiagnosa Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD), danDengue Shock Syndrome (DSS). Wawancara dilakukan kepada penderita di rumah sakit untuk memperoleh data upayapengobatan dan dukungan lingkungan terhadap upaya pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 83,2% penderitalangsung berobat ke RS, 9,7% berobat ke dokter praktek, 1,2% berobat ke puskesmas dan 5,3 % melakukan swamedikasi.Upaya lain yang dilakukan responden untuk mempercepat kesembuhan dengan mengkonsumsi jus (46,74%). Kesimpulandari penelitian ini, sebagian besar (94,1%) upaya pencarian pengobatan pada penderita infeksi virus Dengue di KotaSukabumi sudah tepat. Sementara upaya swamedikasi sebaiknya tetap disertai dengan upaya pengobatan ke fasilitaspengobatan modern milik pemerintah ataupun swasta.