BALABA (JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA)
BALABA is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We published research article and literature review focused on vector borne disease such as malaria, DHF, filaria, chikungunya, leptospirosis, etc.
Articles
329 Documents
PREFERENSI OVIPOSISI NYAMUK Aedes Aegypti TERHADAP EKSTRAK DAUN YANG BERPOTENSI SEBAGAI ATRAKTAN
Sara Gustia Wibowo;
Endang Puji Astuti
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 11 Nomor 1 Juni 2015
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (117.305 KB)
|
DOI: 10.22435/blb.v11i1.867
Aedes aegypti merupakan vektor pembawa virus Dengue yang menyebabkan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).Pengendalian secara alami menggunakan bahan nabati merupakan alternatif pengendalian yang ramah lingkungan. Salahsatu pengendalian secara alami adalah memodifikasi ovitrap dengan penambahan zat aktif nabati sebagai atraktan untuk menarik nyamuk bertelur dan dapat menjadi ovisida dan larvasida. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui preferensibertelurnya nyamuk Ae. aegypti pada ovitrap dengan ekstrak daun mimba (Azadirachta indica), kecubung (Datura metel),zodia (Evodia suavolens) dan jenu (Derris elliptica). Jenis penelitian eksperimen dengan rancangan acak lengkap. Keempatjenis ekstrak daun tersebut diisiikan pada ovitrap, dimasukan ke dalam kandang yang berisi 30 ekor Ae. aegypti dengankondisi kenyang darah. Pengamatan dilakukan setiap hari sampai hari ke-3. Hasil uji preferensi berbagai jenis ekstrak inimenunjukkan ovitrap yang berisi ekstrak daun jenu (D. elliptica) lebih banyak ditemukan telur Ae. aegypti dibandingkandengan kontrol maupun ovitrap dengan ekstrak daun lainnya. Persentase telur pada kontainer dengan ekstrak jenu adalah44,2%, sedangkan yang terkecil ekstrak zodia (E. suaveolans) 9,2%. Hasil uji Anova menunjukkan bahwa perlakuan antarkelompok berbeda nyata (p=0,000). Tanaman jenu (D. elliptica) mempunyai potensi sebagai atraktan terhadap nyamuk Ae.aegypti dalam proses oviposisi.
PENGARUH VARIASI WARNA LAMPU PADA ALAT PEREKAT LALAT TERHADAP JUMLAH LALAT RUMAH (Musca Domestica) YANG TERPERANGKAP
Robertus Dita Prasetya;
Yamtana Yamtana
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 11 Nomor 1 Juni 2015
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (117.963 KB)
|
DOI: 10.22435/blb.v11i1.869
Lalat mempunyai peran penting dalam kesehatan masyarakat, terutama dalam permasalahan sampah. Spesies lalat yangmampu berkembangbiak dengan cepat adalah lalat rumah Musca domestica. Lalat mempunyai sistem penglihatan yangsangat baik, dapat mengenal dan membedakan jenis warna. Letak tempat pemotongan ayam Sayap Mekar berdekatan dengan pemukiman penduduk, kondisinya terbuka dan kurang bersih. Kepadatan lalat di tempat tersebut tinggi. Tujuanpenelitian mengetahui pengaruh variasi warna lampu pada alat perekat lalat terhadap jumlah lalat rumah yang terperangkap,dan warna lampu yang paling efektif untuk memerangkap lalat rumah. Penelitian eksperimen semu dengan desain post testonly with control group. Lokasi penelitian di tempat pemotongan ayam Desa Margoagung, Kecamatan Seyegan, KabupatenSleman. Variabel bebas adalah variasi warna lampu pada alat perekat lalat, variabel terikatnya jumlah lalat yangterperangkap. Analisis data secara deskriptif dan analitik menggunakan uji Kolmogorov Smirnov dan one-way ANOVAdengan taraf signifikan 0,05 dilanjutkan uji Post Hoc Test. Jumlah lalat terperangkap lebih banyak pada perangkap denganpenambahan lampu warna biru rata-rata sebanyak 30 ekor. Hasil analisis menunjukkan ada pengaruh variasi warna lampubiru, ungu dan hijau pada alat perekat lalat terhadap jumlah lalat yang terperangkap (p= 0,000). Kesimpulan hasil penelitianini yaitu alat perekat lalat dengan lampu biru paling efektif untuk memerangkap lalat.
DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KABUPATEN KEEROM PROVINSI PAPUA TAHUN 2011-2014
Semuel Sandy;
Iman HS Sasto
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 11 Nomor 1 Juni 2015
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (392.552 KB)
|
DOI: 10.22435/blb.v11i1.870
Kejadian Luar Biasa (KLB) demam berdarah Dengue di Papua pernah dilaporkan pada tahun 1993, 1994 dan 2001. DiKabupaten Keerom sudah ditemukan kasus DBD walaupun jumlahnya sedikit.Tujuan penulisan artikel ini untukmemberikan gambaran mengenai situasi DBD di Kabupaten Keerom periode 2011-2014 sehingga dapat digunakan menjadi data dasar program pengendalian DBD. Artikel ini menggunakan hasil kajian data sekunder DBD dari Dinas KesehatanKabupaten Keerom dan Balai Metereologi dan Geofisika (BMG) Jayapura, kemudian dilakukan analisis secara deskriptifuntuk menilai kecendrungan kasus DBD periode tahun 2011-2014. Angka insidensi (IR) cenderung meningkat dari 15.99 per100.000 penduduk tahun 2011 menjadi 19.30 per 100.000 penduduk pada tahun 2012, 28.97 per 100.000 penduduk padatahun 2013 dan 34.44 per 100.000 penduduk pada tahun 2014. DBD periode 2011-2014 lebih banyak ditemukan pada laki-laki(31 kasus) dibandingkan perempuan (20 kasus), sedangkan kelompok umur yang paling banyak terkena demam berdarah adalah kelompok usia 5-14 tahun. DBD di Kabupaten Keerom mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan mobilitas penduduk, pembukaan lahan pemukiman dan juga adanya pengaruh perubahan iklim global.
GAMBARAN RABIES DI KABUPATEN ENDE, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2006-2014
Ira Indriaty P.B Sopi;
Fridolina Mau
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 11 Nomor 1 Juni 2015
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (235.294 KB)
|
DOI: 10.22435/blb.v11i1.871
Kabupaten Ende daerah tertular rabies sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 1999. Kajian ini menggunakan hasilpenelitian tahun 2008 dan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Ende tahun 2009 sampai 2014. Kajian ini dapat memberikangambaran kasus rabies dan sebagai data dasar situasi daerah endemik rabies di Kabupaten Ende tahun 2006 sampai 2014.Data yang dikumpulkan pada hasil penelitian dan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Ende berupa data kasus gigitan, vaksinasi dan sampel positif rabies sejak tahun 2006 sampai dengan Oktober 2014. Kasus gigitan Hewan Penular Rabies(HPR) paling banyak tahun 2011 dan 2012 berjumlah 1051 kasus, perbulan terbanyak pada Bulan Juli 2007 berjumlah 95kasus. Vaksinasi Anti Rabies (VAR) terbanyak tahun 2011 dan 2012 dengan jumlah 1051 kasus. Sampel positif rabies tinggipada tahun 2010, dan positif rabies cenderung meningkat pada tahun 2014 berjumlah 8 kasus. Vaksinasi Anti Rabies (VAR) pada manusia diberikan pada setiap orang yang digigit hewan atau yang terpapar dan yang berisiko tinggi terpapar virusrabies. Perlu penyuluhan kepada masyarakat mengenai pemeliharaan anjing yang tidak diliarkan dan pemberian vaksinasipada manusia dan hewan peliharaan.
MALARIA DI DESA SOKOAGUNG, KECAMATAN BAGELEN, KABUPATEN PURWOREJO: KARAKTERISTIK DAN FAKTOR RISIKO
Zumrotus Sholichah;
Bondan Fajar Wahyudi;
Adil Ustiawan
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 11 Nomor 1 Juni 2015
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (232.114 KB)
|
DOI: 10.22435/blb.v11i1.872
Pada bulan Agustus-Oktober 2014 terjadi peningkatan kasus malaria di Desa Sokoagung Kecamatan Bagelen KabupatenPurworejo. Oleh sebab itu dilakukan penelitian yang bertujuan menggambarkan karakteristik kasus malaria (berdasarkandata sekunder kasus malaria) dan mengidentifikasi faktor risiko penularan malaria di desa tersebut. Penelitian dilakukan dengan rancangan cross sectional pada November 2014. Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data sekunder kasusmalaria, Mass Blood Survey (MBS) dan wawancara. Data dianalisis secara deskriptif. Malaria ditemukan pada laki-laki (50orang; 49%) dan perempuan (52 orang; 51%) terutama pada golongan umur 5-14 tahun (23 orang; 22,5%) dan 15-24 tahun(24 orang; 23,5%). Jenis Plasmodium yang dominan adalah Plasmodium vivax. Faktor risiko penularan adalah terpapargigitan nyamuk yaitu MCK di luar rumah, mengambil nira kelapa dan pertemuan warga. Faktor risiko lainnya adalah riwayatkontak penderita demam meliputi keluar rumah malam hari tidak menggunakan APD, melakukan perjalanan dikebun/pekarangan, keberadaan anggota keluarga serumah yang sakit dan di tempat kerja ada yang sakit. Faktor risikolingkungan meliputi sekitar rumah banyak semak bernyamuk, aliran air di sekitar rumah, kolam di sekitar rumah dan adanyaaliran air di sekitar tempat kerja.
Front Matter Juni 2016
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 12 Nomor 1 Juni 2016
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (713.065 KB)
Back Matter Juni 2016
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 12 Nomor 1 Juni 2016
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (192.057 KB)
Studi Laboratorium Siklus Hidup Anopheles vagus Pradewasa sebagai Vektor Filariasis dan Malaria di Provinsi Nusa Tenggara Timur
Varry Lobo;
Hanani Melangwala Laumalay
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 15 Nomor 1 Juni 2019
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1557.812 KB)
|
DOI: 10.22435/blb.v15i1.924
Anopheles vagus is one of the vectors that plays an essential role in malaria infection in East Nusa Tenggara, Indonesia. This vector’s density is related to population dynamics and the environment. The high population density is fluctuated according to the birth and death rate of the mosquitos on their life cycle. This is an observational study that employed a cross-sectional design aimed to identify the life cycle of pre-adult An. vagus mosquitos. The sample was collected from Manggarai Barat and Kupang regions. Sample was taken from around cattle’s cages between 6.00pm-12.00am and were the ones that have sucked cattle’s blood. Identification and colonization were conducted in Loka Litbangkes Waikabubak Laboratory. Data was collected through an hourly observation form and then analyzed descriptively. The results indicated that an adult An.vagus could produce 42-184 eggs each time it laid eggs with 79% hatching rate succeed. The life cycle of an An.vagus under a controlled environment in the laboratory was as following phases: egg (1-4 days), larvae (9-19 days), pupa (1-8 days). Anopheles vagus needed an average of 57.2 minutes to mate and 13 hours to suck blood after the mating process. The highest death rate (28.05%) occurred in instar IVof larvae stage. Pre-adult of An. vagus needed 11-31 days in with the environment that conditioned at 21.1°C and 74.3% humidity for their development,while the highest death rate observed at instar IV.
Anopheles aconitus
Dyah Widiastuti
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Edisi 01 Nomor 001/Tahun I Juni 2005
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1034.027 KB)
Pengembangbiakan Nyamuk di Laboratorium Loka Litbang P2B2 Banjarnegara
Nur Ika Hariastuti
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Edisi 01 Nomor 001/Tahun I Juni 2005
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (977.139 KB)