cover
Contact Name
Juliandi Harahap
Contact Email
juliandiharahap@yahoo.com
Phone
+6285358792636
Journal Mail Official
scripta@usu.ac.id
Editorial Address
Faculty of Medicine Universitas Sumatera Utara, Jalan dr. T. Mansur No. 5, Kampus USU, Medan 20155, Indonesia
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
ISSN : 20888686     EISSN : 26860864     DOI : https://doi.org/10.32734/scripta.v1i2
Core Subject : Health,
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal is a journal aimed to provide a forum for publishing scientific articles in the field of medical or health science. The main focus of SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal is tropical medicine and oncology medicine also the rest of medical fields as the additional focus. To achieve its aim, SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal publishes research articles, review articles, and case reports especially manuscript with a regional or national data to raise the interest of the reader in tropical medicine or oncology medicine as the main focus and the rest of medical fields as the addition focus.
Articles 148 Documents
Front & Back Matter
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 6 No. 2 (2025): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Case Description of Juvenile Criminal Offenses at Tanjung Gusta Medan Penitentiary in 2024 Petrus, Asan; Hakim, Ahmad Danial
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v7i1.20592

Abstract

Background: Juvenile crime is a critical issue, particularly as children are the nation's future. This study examines the profiles and types of crimes committed by juvenile inmates at the Tanjung Gusta Penitentiary, Medan, in 2024. Methods: Using a descriptive observational approach, data were collected from legal documents and administrative records of 50 juvenile inmates with final court decisions. Results: Results showed that all inmates were male, aged 14–19 years, with education levels ranging from elementary to high school. Sexual violence was the most prevalent offense (52%), followed by theft, narcotics distribution, and assault. Sentences ranged from less than one year to a maximum of ten years, with most inmates receiving 1–3 years. Conclusion: The findings underscore the need for targeted interventions to address socio-economic and educational factors contributing to juvenile delinquency. Further studies and policy enhancements are recommended to prevent juvenile crimes and support their rehabilitation. Keyword: Juvenile Crime, Penitentiary, Tanjung Gusta, Rehabilitation, Youth Offenders Latar Belakang: Kejahatan anak merupakan masalah yang sangat penting, terutama karena anak-anak adalah masa depan bangsa. Studi ini mengkaji profil dan jenis kejahatan yang dilakukan oleh narapidana anak di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Medan, pada tahun 2024. Metode: Dengan menggunakan pendekatan observasional deskriptif, data dikumpulkan dari dokumen hukum dan catatan administratif 50 narapidana anak yang telah memiliki putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua narapidana berjenis kelamin laki-laki, berusia 14-19 tahun, dengan tingkat pendidikan mulai dari SD hingga SMA. Kekerasan seksual adalah pelanggaran yang paling banyak dilakukan (52%), diikuti oleh pencurian, peredaran narkotika, dan penganiayaan. Hukuman berkisar dari kurang dari satu tahun hingga maksimal sepuluh tahun, dengan sebagian besar narapidana menerima hukuman 1-3 tahun. Kesimpulan: Temuan ini menggarisbawahi perlunya intervensi yang ditargetkan untuk mengatasi faktor sosial-ekonomi dan pendidikan yang berkontribusi terhadap kenakalan remaja. Studi lebih lanjut dan peningkatan kebijakan direkomendasikan untuk mencegah kejahatan remaja dan mendukung rehabilitasi mereka. Kata Kunci: Kejahatan Anak, Lembaga Pemasyarakatan, Tanjung Gusta, Rehabilitasi, Pelaku Tindak Pidana Anak  
Review the Potential of Ketogenic Diet and Vitamin B12 Encapsulated Lipid Nanoparticles in Mitochondrial Regulation to Alzheimer's Disease Reka Febriani; Leunufna, Jaelia; Nur Ananta Aprilia
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v7i1.20655

Abstract

Background: Alzheimer's disease is the most common form of chronic neurodegenerative syndrome characterized by a decline in two to three major cognitive functions, thus significantly reducing the quality of life of sufferers and their families and this disease has no treatment if it has reached a certain stage and even ends in death. Therefore, preventive approaches are the main focus in the development of alternative therapies, one of which is through modifying dietary patterns that are relevant to daily life. Objectives: This literature review aims to analyze the synergistic potential between ketogenic diet and vitamin B12 supplementation encapsulated in lipid nanoparticles in regulating mitochondrial function and inhibiting Alzheimer's disease progression through modulating α-synuclein and amyloid cascade. Methods: The review was conducted with a descriptive approach through an online database search conducted by three authors applying inclusion and exclusion criteria resulting in 69 suitable articles. Result: The analyzed studies showed that both ketogenic diet and vitamin B12 supplementation have significant effects on mitochondrial regulation and protection of neurons from oxidative stress and chronic inflammation. These interventions also contribute to the modulation of α-synuclein and inhibition of amyloid-beta accumulation, both in preclinical and clinical studies. In addition, the application of lipid nanoparticles improves the biocompatibility and avability of vitamin B12 to reach therapeutic targets. Conclusion: the combination of a ketogenic diet and lipid nanoparticle-encapsulated vitamin B12 shows potential as an effective preventive approach to Alzheimer's disease. This study is expected to enrich insights and encourage further clinical research, especially in assessing the long-term effectiveness and potential toxicity of this combination intervention. Keyword: alpha synuclein, Alzheimer's disease, beta amyloid, lipid nanoparticles, vitamin B12 Latar Belakang: Penyakit Alzheimer merupakan bentuk paling umum dari sindrom neurodegeneratif kronis yang ditandai dengan penurunan dua hingga tiga fungsi kognitif utama, sehingga secara signifikan menurunkan kualitas hidup penderita dan keluarganya dan penyakit ini belum memiliki pengobatan jika sudah mencapai stadium tertentu bahkan berakhir pada kematian. Oleh karena itu, pendekatan preventif menjadi fokus utama dalam pengembangan terapi alternatif, salah satunya melalui modifikasi pola diet yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Tujuan: Literatur ini bertujuan untuk menganalisis potensi sinergis antara diet ketogenik dan suplementasi vitamin B12 yang dienkapsulasi dalam nanopartikel lipid dalam meregulasi fungsi mitokondria serta menghambat progresivitas penyakit Alzheimer melalui modulasi α-synuclein dan kaskade amiloid. Methode: Kajian dilakukan dengan pendekatan deskriptif melalui penelusuran pada database online yang dilakukan oleh tiga penulis dengan menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga diperoleh 69 artikel yang sesuai. Hasil: Studi-studi yang dianalisis menunjukkan bahwa baik diet ketogenik maupun suplementasi vitamin B12 memiliki efek signifikan terhadap regulasi mitokondria dan proteksi neuron dari stres oksidatif serta inflamasi kronis. Intervensi ini juga berkontribusi dalam modulasi α synuclein dan penghambatan akumulasi Beta amyloid, baik dalam penelitian preklinis maupun klinis. Selain itu penerapan nanopartikel lipid meningkatkan biokompabilitas dan avabilitas dari vitamin B12 untuk mencapai target terapi. Kesimpulan: Dari hasil kajian ini, kombinasi diet ketogenik dan vitamin B12 enkapsulasi nanopartikel lipid menunjukkan potensi sebagai pendekatan preventif yang efektif terhadap Alzheimer. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya wawasan serta mendorong penelitian lanjutan yang lebih mendalam secara klinis, khususnya dalam mengkaji efektivitas jangka panjang dan potensi toksisitas dari kombinasi intervensi ini.  Kata kunci: alpha synuclein, beta amyloid, nanoparticle lipid, penyakit Alzheimer, vitamin B12
The Diminishing Role of Skull X-Rays in Trauma Brain Injury: A Comprehensive Review of the Literature Panjaitan, Samuel; Pandiya, Salsabila; Syafridon, Syafira; Siahaan , Andre Marolop Pangihutan
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v7i1.20715

Abstract

Background: Skull X-rays have long been utilized in the evaluation and management of traumatic brain injury (TBI) primarily for the identification of cranial fractures. However, their role has been challenged by the introduction of advanced neuroimaging techniques. Objectives: This review aims to explore the current significance of skull X-rays in the treatment of TBI, considering the advancements in neuroimaging, especially CT Scan. Methods: A narrative review approach was used, including a comprehensive computerized literature search with MeSH-based keywords “Traumatic Brain Injury” and “Skull X-Ray” across several reputable databases such as Scopus, PubMed, and Web of Science. The search spanned the years 2000 to 2025 and aimed to evaluate the diagnostic utility of skull radiography in TBI, focusing specifically on different age groups, specifically those under and over 2 years of age. Conclusion: Current evidence suggests that skull X-rays have limited sensitivity in detecting intracranial injuries, which are the primary concern in cases of TBI. Therefore, clinical judgment should guide the decision to pursue CT imaging instead of relying solely on skull X-rays. The routine use of skull X-rays in managing TBI is thus discouraged because of their limited diagnostic capabilities and the potential risk of delaying timely and appropriate medical intervention. Keywords: Skull X-rays, Traumatic Brain Injury. Latar Belakang: Rontgen tengkorak telah lama digunakan dalam evaluasi dan manajemen cedera otak traumatis terutama untuk identifikasi fraktur kranial. Namun, peran rontgen tengkorak telah dipertanyakan oleh karena adanya teknik neuroimaging yang lebih canggih. Tujuan: Tinjauan ini bertujuan untuk mengeksplorasi relevansi kontemporer dari rontgen tengkorak dalam manajemen cedera kepala traumatis, dengan mempertimbangkan kemajuan dalam neuroimaging, khususnya CT Scan. Metode: Pendekatan tinjauan naratif digunakan, dengan melibatkan pencarian literatur komputerisasi yang menyeluruh menggunakan kata kunci berbasis MeSH “Traumatic Brain Injury” dan “Skull X-Ray” di beberapa basis data terkemuka seperti Scopus, PubMed, dan Web of Science. Pencarian mencakup tahun 2000 hingga 2025 dan bertujuan untuk menilai kegunaan diagnostik rontgen tengkorak dalam cedera kepala traumatis dengan perhatian khusus pada kelompok usia yang berbeda, khususnya mereka yang berusia di bawah dan di atas 2 tahun. Kesimpulan: Bukti saat ini menunjukkan bahwa rontgen tengkorak memiliki sensitivitas terbatas dalam mendeteksi cedera intrakranial yang merupakan perhatian utama dalam kasus cedera kepala traumatis. Oleh karena itu, penilaian klinis harus menjadi dasar keputusan untuk melakukan CT Scan daripada hanya mengandalkan rontgen tengkorak. Oleh karena itu, penerapan rutin rontgen tengkorak dalam manajemen cedera kepala traumatis tidak dianjurkan karena kemampuan diagnostik yang terbatas dan risiko menghambat intervensi medis yang tepat waktu dan sesuai. Kata kunci: Cedera Kepala Traumatis, Rontgen Tengkorak.
Description of the Knowledge Level on Seborrheic Dermatitis Among Medical Students at Universitas Sumatera Utara, Class of 2021 - 2023 Lubis, Nova Zairina; Qoni'ah, Hanan
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v7i1.21122

Abstract

Background: Seborrheic Dermatitis (SD) is a chronic and recurrent inflammatory skin disease that commonly affects adolescents and adults, with a relatively high prevalence, particularly among immunocompromised individuals. SD has a multifactorial pathophysiology, involving Malassezia spp.,  skin surface lipids, and immunological dysregulation. This condition can significantly impact patients'quality of life due to frequent relapses, causing symptoms such as itching and redness. Therefore, prompt treatment with various available topical therapies is crucial. Objectives: This study aims to assess the level of knowledge about SD among medical students at the Faculty of Medicine, Universitas Sumatera Utara, from the class of 2021 – 2023. Methods: This is a descriptive study using a cross-sectional design, employing a questionnaire distributed via Google Forms and QR codes to students from the specified batches. The sampling technique used was simple random sampling. Results: The results showed that most students had a moderate level of knowledge about SD (50%). A total of 150 respondents (57.7%) had a sufficient understanding of SD treatment options. The majority of respondents were female students, with 176 responses. The age group of 17 to 20 years dominated the sample, accounting for approximately 46.2%. The highest number of respondents came from the 2021 cohort (67.3%). Conclusion: This study concludes that medical students at Universitas Sumatera Utara have a moderate level of knowledge regarding SD and its treatment options. These findings highlight the importance of further education and awareness to enhance students' understanding of the condition. Keyword: level of knowledge, seborrheic dermatitis, treatment selection Latar Belakang: Dermatitis seboroik (DS) adalah penyakit inflamasi kulit kronis dan rekuren yang sering terjadi pada remaja dan dewasa, dengan prevalensi yang cukup tinggi, terutama pada individu dengan kondisi imunokompromais. DS memiliki patofisiologi multifaktorial, yang meliputi Malassezia spp., lipid permukaan kulit, dan disregulasi imunologis. Penyakit ini dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya karena gejala yang sering kambuh, seperti gatal dan kemerahan. Oleh karena itu, pengobatan segera dengan berbagai pilihan terapi topikal yang tersedia sangat penting. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan tentang DS pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2021-2023. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain potong lintang (cross-sectional), menggunakan kuesioner yang disebarkan melalui Google Form dan QR Code kepada mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2021-2023. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat pengetahuan yang cukup mengenai DS (50%). Sebanyak 150 responden (57,7%) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup terkait pemilihan pengobatan DS. Mayoritas responden adalah mahasiswi perempuan, dengan 176 respons. Kelompok usia 17 hingga 20 tahun mendominasi dengan persentase sekitar 46,2%. Responden terbanyak berasal dari angkatan 2021 (67,3%). Kesimpulan: Studi ini menyimpulkan bahwa mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara memiliki tingkat pengetahuan yang cukup mengenai DS dan pilihan pengobatannya. Temuan ini menekankan pentingnya peningkatan edukasi dan kesadaran untuk memperdalam pemahaman mahasiswa tentang kondisi ini. Keyword: dermatitis seboroik, pemilihan pengobatan, tingkat pengetahuan
Peran Telemedisin sebagai Sarana Menurunkan Angka Obsessive-Compulsive Disorder di Masa Pandemi COVID-19 Varian Omicron di Indonesia Samosir, Fauzan Azmi Hasti Habibi; Panjaitan, Jeremia Aris Pandapotan; Kathy
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v7i1.21162

Abstract

Background: The COVID-19 pandemic, especially in the Omicron variant era, has brought major changes to the daily lives of the global community, including policies such as work-from-home (WFH) and limiting social access, and straightforward health services. The combination of prolonged social distancing and chronic psychological stress contributes to the increasing prevalence and worsening of obsessive-compulsive disorder (OCD). Objectives: This research explores the potential role of telemedicine as an interprofessional collaboration platform to support the diagnosis and management of OCD during the Omicron COVID-19 wave in Indonesia. Methods: This research uses a literature review method with the keywords "COVID-19 Omicron variant", "OCD", "COVID-19 pandemic", and "Telemedicine". The effectiveness, feasibility, and user satisfaction of telemedicine services were evaluated, especially concerning OCD management during the pandemic. Discussion: Telemedicine has become an easily accessible, cost-efficient, and widely accessible alternative to medical consultations, replacing conventional face-to-face meetings. Various research findings show that this approach is equivalent in effectiveness to conventional therapy in treating OCD, including the application of Cognitive Behavioral Therapy via long-distance methods. Survey results show high levels of satisfaction across various age groups. Furthermore, telemedicine plays a role in encouraging inter-professional collaboration by integrating various health workers such as psychiatrists, psychologists, nutritionists, religious leaders, pharmacists, and nurses into an integrated and coordinated service model. However, the optimal use of telemedicine still faces challenges, including low public awareness, limited digital literacy, and uneven supporting infrastructure. Conclusion: Telemedicine has shown significant potential as a multidisciplinary healthcare platform in the treatment of OCD, especially in pandemic restrictions. Keywords: COVID-19 Omicron variant, COVID-19 pandemic, mental health, obsessive-compulsive disorder, and telemedicine. Latar Belakang: Pandemi COVID-19 terutama varian Omicron telah membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat global diantaranya kebijakan seperti work from home (WFH) dan membatasi akses sosial terutama layanan kesehatan secara langsung. Kombinasi dari pembatasan sosial yang berkepanjangan dan stres psikologis kronis berkontribusi terhadap peningkatan prevalensi serta perburukan obsessive-compulsive disorder (OCD). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi peran telemedisin sebagai platform kolaborasi antarprofesi untuk mendukung diagnosis dan manajemen OCD selama gelombang Omicron COVID-19 di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan kata kunci “COVID-19 varian Omicron”, “OCD”, “Pandemi COVID-19”, dan “Telemedisin”. Efektivitas, kelayakan, dan kepuasan pengguna layanan telemedicine dievaluasi, terutama dalam kaitannya dengan manajemen OCD selama pandemi. Diskusi: Telemedisin telah berkembang menjadi alternatif konsultasi medis yang mudah diakses, efisien secara biaya, dan dapat dijangkau secara luas, menggantikan pertemuan tatap muka konvensional. Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini memiliki efektivitas yang setara dengan terapi konvensional dalam penanganan OCD, termasuk dalam penerapan Cognitive Behavioral Therapy melalui metode jarak jauh. Hasil survei menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi di berbagai kelompok usia. Lebih lanjut, telemedisin berperan dalam mendorong kolaborasi antarprofesi dengan mengintegrasikan berbagai tenaga kesehatan seperti psikiater, psikolog, ahli gizi, tokoh agama, apoteker, dan perawat ke dalam model pelayanan yang bersifat terpadu dan terkoordinasi. Namun demikian, pemanfaatan telemedisin secara optimal masih menghadapi tantangan, antara lain rendahnya kesadaran masyarakat, terbatasnya literasi digital, serta belum meratanya infrastruktur pendukung. Kesimpulan: Telemedisin telah menunjukkan potensi yang signifikan sebagai platform layanan kesehatan multidisiplin dalam penanganan OCD, khususnya di tengah pembatasan akibat pandemi.  Kata Kunci: COVID-19 varian Omicron, kesehatan mental, obsessive-compulsive disorder, pandemi COVID-19, dan telemedisin
Exploration of Moringa Oleifera and Curcuma Longa Compounds as Multi-Target Agents for Alzheimer’s Disease Through Bioinformatics Analysis Shakira; Maulina, Meutia
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/scripta.v7i1.21326

Abstract

Background: Alzheimer’s disease is a multifactorial neurodegenerative disorder. Current synthetic inhibitors often fail to address its complexity. Natural multitarget agents like Moringa oleifera and Curcuma longa may offer safer alternatives. Objective: This study aims to systematically evaluate the bioactive compounds of Moringa oleifera and Curcuma longa as potential multi-target agents against AD using molecular docking, ADME profiling, and toxicity prediction. Methods: This in silico study targeted five Alzheimer-related proteins (BACE1, GSK-3β, AChE, Tau, PKR) retrieved from the PDB and prepared using AutoDock Tools. LC-MS compounds were modeled with Biovia Discovery Studio and docked via PyRx. Toxicity was evaluated using ProTox-3.0. Results: The top 10 compounds showed binding affinities from –7.3 to –10.2 kcal/mol and were “inactive” for hepatotoxicity, neurotoxicity, and cytotoxicity. Turmeric compounds were also non-mutagenic and non-carcinogenic. Conclusion: Moringa oleifera and Curcuma longa demonstrate promising multitarget activity with a favorable safety profile. Bioinformatics enables efficient early screening. Keyword: Alzheimer’s disease, Curcuma longa, Moringa oleifera, multitarget, molecular docking. Latar Belakang: Alzheimer merupakan gangguan neurodegeneratif multifaktorial. Inhibitor sintetik saat ini dinilai belum mampu mengatasi kompleksitasnya. Senyawa multitarget alami seperti Moringa oleifera dan Curcuma longa berpotensi lebih aman. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi secara sistematis senyawa bioaktif Moringa oleifera dan Curcuma longa sebagai agen multi-target potensial terhadap AD menggunakan docking molekuler, profil ADME, dan prediksi toksisitas. Metode: Studi in silico ini menargetkan lima protein Alzheimer (BACE1, GSK-3β, AChE, Tau, PKR) dari PDB yang diproses di AutoDock Tools. Senyawa LC-MS dimodelkan di Biovia Studio dan didocking menggunakan PyRx. Toksisitas dievaluasi via ProTox-3.0. Hasil: Sepuluh senyawa teratas menunjukkan afinitas –7,3 s.d. –10,2 kcal/mol dan “inactive” terhadap hepatotoksisitas, neurotoksisitas, serta sitotoksisitas. Senyawa kunyit juga tidak mutagenik dan tidak karsinogenik. Kesimpulan: Moringa oleifera dan Curcuma longa berpotensi sebagai terapi multitarget Alzheimer yang aman. Bioinformatika mendukung skrining awal yang efisien Kata Kunci: Curcuma longa, Moringa oleifera, multitarget, molecular docking, Penyakit Alzheimer
Front & Back Matter
SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025): SCRIPTA SCORE Scientific Medical Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract