cover
Contact Name
Ngurah Indra Pradhana
Contact Email
indra_pradana@unud.ac.id
Phone
+6281933079954
Journal Mail Official
jurnalpustaka@unud.ac.id
Editorial Address
Kampus Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana Jalan Pulau Nias 13, Sanglah, Denpasar Bali Indonesia 80114
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Pustaka : Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25287508     EISSN : 25287516     DOI : https://doi.org/10.24843/PJIIB
Core Subject : Humanities,
Pustaka: Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya, merupakan jurnal yang memuat artikel hasil penelitian serta kajian ilmiah di bidang sastra, Bahasa, dan Budaya. Terbit dua kali dalam setahun, pada bulan Februari dan Agustus. Jurnal ini bertujuan menjadi wadah bagi para peneliti, dosen, mahasiswa dan para praktisi di bidang Sastra, Bahasa, dan Budaya untuk mempublikasikan karya ilmiahnya secara luas
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 19 No 1 (2019)" : 10 Documents clear
Re-Implementasi Mata Kuliah Esp Sebagai Support Value Bagi Peningkatan Kemampuan Daya Saing Mahasiswa di Dunia Kerja Sri Widiastutik
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.551 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p06

Abstract

English for specific purposes (ESP) pada mata kuliah bahasa Inggris khususnya di STMIK STIKOM INDONESIA sesuai dengan jurusan yang ditempuh oleh mahasiswa. Sejak tahun 2009 hingga tahun 2013 mata kuliah ESP ini pernah diterapkan dan tidak diteruskan karena terjadi pembaharuan RPS yang mengacu pada standar kurikulum di STMIK STIKOM INDONESIA. Pada awal tahun 2016, berdasarkan pelaksanaan kurikulum yang baru pada mata kuliah Bahasa Inggris khususnya, dan mempertimbangkan pentingnya bahasa Inggris dalam meningkatkan daya saing di bidang teknologi maka penerapan mata kuliah ESP menjadi salah satu mata kuliah yang sangat diperlukan dan patut untuk diterapkan kembali. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analisis dengan populasi adalah seluruh mahasiswa STMIK STIKOM INDONESIA tahun ajaran 2016 – 2017 dengan sampel pada dua kelas dari mahasiswa semester 6 dengan jumlah 40 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan cara: 1) pengamatan, 2) kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85% mahasiswa mendukung penerapan kembali mata kuliah ESP, hasil tersebut dikategorikan menjadi empat aspek penilaian, antara lain; 1) Kesadaran terhadap pentingnya bahasa Inggris terhadap masa depan mereka (92,33%), 2) Ketidakcukupan nilai mata kuliah bahasa Inggris (74,50%), 3) Kebutuhan mahasiswa terhadap ESP (87,83%), dan 4) Ketertarikan mahasiswa mempelajari bahasa Inggris (86,42%), 5) Penempatan mata kuliah ESP pada semester IV oleh 52,5% responden, menyusul 25% pada semester V. Penyusunan RSP pada materi ESP disesuaikan dengan mata kuliah pada jurusan yang ditempuh.
Nilai-Nilai Karakteristik dalam Teks Sastra The History of The Life of Ajamila Ni Ketut Dewi Yulianti
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.699 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p02

Abstract

Tulisan ini mengulas tentang teks sastra yang berjudul The History of The Life of Ajamiladengan fokus analisis pada nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya. Tulisan ini dapat menjadi referensi bagi anak didik dan tenaga pengajar baik di tingkat dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Selain nilai-nilai karakter yang terdapat dalam teks, dibahas pula hubungan nilai-nilai karakter tersebut dengan pendidikan nasional. Hal ini sangat signifikan dan perlu untuk diteliti, mengingat saat ini banyak terjadi kemerosotan karakter anak bangsa dan juga permasalahan kebangsaan, seperti bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sekalipun telah ditetapkan bahwa pendidikan karakter adalah bagian utama dari pendidikan nasional. Dengan analisis nilai-nilai karakter dalam teks tersebut serta hubungannya dengan pendidikan nasional, maka nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan dapat ditingkatkan, karena nilai-nilai karakter yang ada dalam teks tersebut dapat dengan mudah dijelaskan dan dipahami. Secara teoritis, tulisan ini dapat memberikan pemahaman tentang teks sastra yang bertema religi, terutama mengenai amanat yang terkandung di dalamnya. Secara praktis, tulisan ini dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan sehingga dapat membantu dalam meningkatkan keberhasilan pendidikan nasional, mengingat pendidikan karakter sudah menjadi bagian dari pendidikan nasional di Indonesia.
Strategi Masyarakat Nelayan Kedonganan Menghadapi Kemiskinan Purwadi Soeriadiredja
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.446 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p07

Abstract

Kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat nelayan, serta kerusakan lingkungan pesisir dan laut merupakan dampak dari kebijakan pembangunan yang selama ini berorientasi ke daratan. Sekalipun pemerintah menggulirkan kebijakan modernisasi perikanan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, namun hasil yang dicapai belum memuaskan. Secara umum nelayan masih terperosok dalam perangkap kerentanan sosial-ekonomi berkepanjangan. Kenyataan tersebut membuat perekonomian nelayan memprihatinkan. Kedonganan terletak di kawasan wisata dan menjadi tujuan wisata pantai dan kuliner, namun hal itu bukan jaminan bagi para nelayan dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Awalnya perkembangan di Kedonganan tanpa kendali sehingga menimbulkan banyak permasalahan di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. Hal tersebut ditengarai akan menimbulkan ketidakharmonisan dan mencoreng citra objek wisata Kedonganan, bahkan pariwisata budaya Bali. Dengan berjalannya waktu, kini pantai Kedonganan berubah menjadi tujuan wisata pantai dan kuliner yang menarik. Hal tersebut tak lepas dari peran Desa Adat Kedonganan yang telah melibatkan masyarakat mulai dari perencanaan awal, pengelolaan dan evaluasi dengan tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat, mempertahankan adat istiadat setempat dan pengelolaan yang berkelanjutan. Dalam hal ini bagaimana masyarakat Kedonganan dengan kearifanlokalnya menciptakan strategi dalam menghadapi salah satu permasalahan hidup mereka, yaitu kemiskinan, sehingga lambat laun terjadilah peningkatan ekonomi, sosial-budaya yang signifikan.Sebagai nelayan, bermacam resiko dari pekerjaan sudah biasa mereka hadapi dan terima dengan besar hati karena bagi mereka hidup adalah sebagai anugerah. Suatu hal yang mereka harapkan adalah terciptanya keselarasan dan keserasian antara kehidupan duniawi dan kehidupan dengan Sang Hyang Widi. Untuk itu hidup harus dilandasi dengan sikap pasrah dan menerima apa adanya. Namun bukan berarti harus tetap tinggal diam saja. Pengelolaan pantai Kedonganan berbasis masyarakat ini dijiwai oleh filosofi Tri Hita Karana, karenanya hubungan masyarakat dengan lingkungan (alam, spiritual dan antar manusia) dapat terjalin secara harmonis dan berkelanjutan.
Variasi Bahasa Sunda di Daerah Pesisir Jabar Selatan Asri Soraya Afsari; Teddi Muhtadin
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.391 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p03

Abstract

Setiap bahasa di dunia memiliki variasi. Bentuk variasi bahasa dapat dibedakan berdasarkan letak geografis, sosial, dan temporal. Bahasa Sunda sebagai salah satu bahasa daerah di Indonesia memiliki pula variasi tersebut. Secara geografis, bahasa Sunda yang berada di daerah pegunungan memiliki perbedaan dengan bahasa Sunda di daerah pesisir (pantai). Begitu pun bahasa Sunda yang berada di pesisir Jabar Utara memiliki perbedaan pula dengan bahasa Sunda di pesisir Jabar Selatan. Pangandaran merupakan salah satu wilayah yang ada di lintasan pantai Jabar Selatan. Daerah ini banyak didatangi oleh penduduk yang berasal dari Jawa, seperti Cilacap yang menyebrang ke daerah Jawa Barat. Awalnya para pendatang hanya melakukan perdagangan dan mengadu nasib. Seiring waktu para pendatang tersebut kemudian menikah dengan warga asli dan menetap di Pangandaran. Kehadiran para pendatang tentu membawa banyak pengaruh pada kehidupan masyarakat yang ada di Pangandaran, tidak terkecuali dalam hal bahasa dan budaya. Bahasa Sunda yang digunakan di daerah Pangandaran memiliki karakteristik sendiri. Penelitian ini merupakan penelitian makrolinguistik bidang dialektologi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk variasi bahasa Sunda yang ada di daerah Pangandaran. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan metode lapangan melalui teknik wawancara informan dan metode survei melalui penyebaran koesioner.
Verba Berobjek Ganda Bahasa Jepang Made Ratna Dian Aryani
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.496 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p08

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kata kerja yang melibatkan objek ganda, yaitu kata kerja ageru ‘memberi’, oshieru ‘mengajar/ajar’, kureru ‘memberi’,dan kau ‘membeli’, sehingga memunculkan objek tak langsung dalam struktur kalimat bahasa Jepang (BJ). Teori yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Givon (2001), Kindaichi (1976), Tsunoda (2002), Tsujimura (1996), dan Nitta (1991). Penelitian ini menunjukkan bahasa Jepang merupakan bahasa yang bertanda atau berkasus. Kasus dalam bahasa Jepang berkaitan erat dengan sistem kebermarkahan dalam struktur kalimat bahasa Jepang. Pemarkah tersebut dilekatkan setelah nomina (kata benda). Pemarkah atau partikel yang menyatakan objek langsung adalah pemarkah akusatif o dan pemarkah datif ni sebagai pemarkah objek tak langsung. Hasil penelitian ini adalah (1) verba-verba yang memungkinkan munculnya objek ganda, khususnya objek tak langsung (OTL) dalam konstruksi bahasa Jepang merupakan verba transitif atau verba aksi berpemarkah ni , yaitu verba ageru ‘memberi’, oshieru ‘mengajar/ajar’, kureru ‘memberi’, dan kau ‘membeli’, dan (2) verba-verba tersebut secara semantis merupakan keizoku doushi ‘verba kontinuatif’.
Bahasa dan Budaya Maritim: Identitas dan Pemerkaya Budaya Bangsa Oktavianus .
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.904 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p04

Abstract

Indonesia memiliki wilayah lebih kurang 1,9 juta mil persegi dengan jumlah pulau 17.508, 770 suku bangsa dan 726 bahasa (Tempo,co, 27 November 2017). Wilayah yang terdiri dari 17.508 pulau itu – yang disebut dengan NKRI – dipersatukan oleh laut. Luasnya wilayah NKRI yang didiami oleh beragam suku dengan bahasa lokal yang berbeda-beda merupakan suatu kekayaan dan keunikan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang harus dijaga, dirawat dan dipertahankan. Sehubungan dengan itu, tulisan ini merupakan suatu upaya untuk menelaah bagaimana bahasa dan budaya maritim menjadi identitas dan pemerkaya budaya bangsa dalam hal ini bangsa Indonesia. Kajian dilakukan dari sudut pandang hubungan bahasa dengan budaya (Kramsch, 1998; Duranti, 2000). Data untuk keperluan kajian ini adalah penggunaan bahasa yang terkait dengan kelautan. Hasil kajian menunjukkan bahwa budaya maritim memberikan sumbangan yang sangat besar bagai pengembangan dan pemerkaya budaya bangsa (Indonesia). Leksikon-leksikon dan ungkapan kemaritiman tidak hanya dipakai dilingkungan kelautan tetapi juga digunakan dalam berbagai ranah pertuturan.
Revolusi Biru dan Human Security Nelayan di Kusamba Klungkung I Wayan Tagel Eddy; Anak Agung Ayu Rai Wahyuni
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.797 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p09

Abstract

Revolusi biru (blue revolution), sebagai strategi pembangunan dan upaya akumulasi kapital, bukan hanya tidak berhasil mengangkat nelayan dari kemiskinan yang melilit mereka, namun ia juga menyisakan persoalan bagi keberlangsungan human security nelayan. Tidak hanya gagal menangkap apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan nelayan, paket kebijakan modernisasi perikanan seringkali malah merugikan nelayan dan masyarakat pesisir pantai. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui proses dan bentuk modernisasi perikanan (minapolitan) yang sedang dalam proses pembangunan serta bagaimana respon para nelayan dan masyarakat pesisir terhadapnya? Selain itu, akan memeriksa apa kira-kira yang akan diakibatkan oleh modernisasi perikanan bagi keberlangsungan human security kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir. Penulis terlebih dahulu memulai uraian dengan mengelaborasi konsep pembangunan, human security dan revolusi biru sebelum memberikan ilustrasi kasus nelayan dan masyarakat pesisir, berkaitan dengan pembangunan minapolitan, di kawasan pelabuhan Kusamba Kelungkung.
Kepercayaan Dalam Siklus Kehidupan Pada Masyarakat Sunda Pesisir (Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Arut, Jawa Barat) Risma Rismelati; Asri Soraya Afsari; Ayu Septiani
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.382 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p05

Abstract

Setiap bangsa di berbagai belahan dunia ini pastinya memiliki tradisi leluhur yang bertahan dan berkembang dari generasi ke generasi. Tradisi tersebut kemudian menjadi sebuah identitas diri yang mencerminkan nilai-nilai budaya yang unik dan berkarakter. Menurut Clyde dan Kluckhohn dalam Pelly (1994), nilai budaya merupakan sebuah konsep beruang lingkup luas yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga suatu masyarakat, mengenai apa yang paling berharga dalam hidup. Nilai budaya itu akhirnya tumbuh menjadi suatu kepercayaan masyarakat yang dijadikan sebagai aturan paling mendasar dalam menjalani siklus kehidupan. Hal ini dapat dilihat secara nyata dalam siklus kehidupan masyarakat Sunda di wilayah pesisir Jawa Barat. Fokus kepercayaan di sini adalah bentuk-bentuk tradisi yang masih dilakukan secara turun temurun dalam fase kehidupan manusia, seperti fase kelahiran, pernikahan dan kematian. Maka dari itu penelitian ini akan fokus mengkaji kepercayaan yang berkaitan dengan siklus kehidupan pada masyarakat Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan metode kualitatif deskriptif. Dalam mengumpulkan data digunakan metode lapangan karena peneliti terjun langsung ke masyarakat, melakukan wawancara langsung pada nara sumber dan melakukan metode survey melalui penyebaran data kuesioner.
Perempuan dalam Konstruksi Sosial Religius Masyarakat Bali I Nyoman Duana Sutika
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.833 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p10

Abstract

Religious social construction in the life of society in Bali gives advantages for men but vice versa for women in all aspects of life. Social construction strengthens myths, creates discrimination, marginalization, and oppression of women. Religious interpretations are conducted in constructions created by patriarchal societies, so women are always positioned as subordinate status. This cultural and patriarchal ideology clarifies women as the second class after men, as oppressed objects in all living structures. The image of women behind this cultural manifestation has become a heritage that accepted by balinese people until recently although feminism's insistence has been done entirely to strive for the emancipation and equality in all aspects of life.
Revitalisasi Teks-Teks Kearifan Lokal Kemaritiman untuk Membangun Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara Darmoko .
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.496 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p01

Abstract

Teks sebagai ungkapan bermakna suatu etnik dapat dieksplorasi sebagai kekayaan intelektual bagi siapa saja yang ingin meneliti dan menyajikannya dalam kerangka studi ilmiah akademik. Teks kearifan lokal di Indonsia terekspresikan, baik melalui tradisi tulis maupun lisan, dalam bentuk bahasa, sastra, adat istiadat, dan kesenian. Ekspresi teks-teks lisan dan tulis tersebut dapat menggambarkan tingkat pengetahuan suatu masyarakat, baik berkaitan dengan aspek pertanian maupun kemaritiman.Teks kemaritiman yang bersumber dari kearifan lokal memberikan andil yang cukup besar sebagai modal untuk membangun umat manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Keagungan suatu kerajaan (negara) yang berorientasi pada laut, keperwiraan dan kedigjayaan suatu tokoh penjelajah laut, peristiwa yang menggambarkan kecanggihan strategi dalam bertempur, dan ungkapan rasa bangga terhadap keberadaan laut sebagai sumber nafkah dan kehidupan merupakan nilai-nilai budaya yang dapat memberikan spirit dan motivasi bagi masyarakat untuk mempertebal rasa memiliki, membela, dan mempertahankan keutuhan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. Kesadaran dan pemahaman tentang budaya lokal kemaritiman sebagai milik bangsa dapat memupuk sikap nasionalisme, patriotisme, dan cinta tanah air. Studi ilmiah akademik memberikan ruang kepada peneliti untuk mengeksplorasi korpus data teks-teks kearifan lokal kemaritiman dari berbagai konteks (perspektif), kerangka teori, dan metodologi. Perspektif sejarah, politik, ekonomi, sosiologi, sastra, linguistik, antropologi, filologi, studi kawasan, dan lain-lain memberikan konteks bagi sebuah penelitian untuk disuguhkan bagi masyarakat luas. Permasalahannya bagaimana implementasi dan produk penelitian yang bersumber dari teks-teks kearifan lokal kemaritiman dapat memberikan dampak konstruktif bagi kehidupan umat manusia dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Untuk menangani permasalahan ini diperlukan metodologi yang komprehensif di samping ketersediaan para pakar di bidang ilmu pengetahuan masing-masing, tata kelola (manajemen) birokrasi, serta kemauan politik pemerintah pusat dan daerah untuk menginternalisasi nilai-nilai kearifan lokal kemaritiman yang bersifat universal kepada masyarakat sebagai penjaga kesatuan dan persatuan bangsa.

Page 1 of 1 | Total Record : 10