Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Filosopi Kearifan Lokal Tri Hita Karana Dalam Menjaga Kelangsungan Kelompok Wanita Tani “Jempiring” Kabupaten Badung I Gusti Ayu Diah Yuniti; Anak Agung Ayu Rai Wahyuni; Anak Agung Rai Tirtawati; Ni Wayan Suryathi; I Gde Agoes Caskara Surya Putra
Jurnal Penelitian Agama Hindu Special Issue Budaya & Pendidikan
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.081 KB) | DOI: 10.37329/jpah.v0i0.1618

Abstract

This study aims to analyze the sustainability of the “Jempiring” Women Farmers Group, Badung Regency through the implementation of tri hita karana local wisdom. This study uses secondary data sources. The types of data include qualitative data. The data analysis technique is using qualitative analysis. Based on the results of the discussion, it can be concluded that the sustainability of the Women Farmers Group (KWT) "Jempiring" in Badung Regency is still running. This is due to the belief of the group members to continue to implement the local wisdom of tri hita karana in terms of parayangan, pawongan and palemahan. The implementation of various rituals (religious ceremonies) as a form of devotion to Ida Hang Hyang Widhi Waca, for the yadnya human ceremony, as well as for the implementation of the nyomia butha kala ceremony, continues.
Tanggung Jawab Sejarah dan Kebudayaan di Balik Pelarangan Buku di Indonesia Anak Agung Ayu Rai Wahyuni; Maria Matildis Banda
Journal Social and Humaniora Vol 20 No 1 (2020)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.672 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2020.v20.i01.p10

Abstract

Pelarangan buku di Indonesia sudah berlangsung sejak kekuasaan Presiden RI pertama, Soekarno. Pelarangan ini berlangsung terus dalam kualitas dan kuantitas yang lebih besar pada masa kekuasaan Presiden RI kedua, Soeharto. Pada era reformasi, ketika kebebasan epskresi menemukan ruangnya, pelarangan buku tetap terjadi. Artikel ini membahas tanggung jawab sejarah dan kebudayaan di balik pelarangan buku. Bagaimana pelarangan buku pada era Soekarno, Soeharto, dan era reformasi. Bagaimana pro-kontra yang terjadi, serta bagaimana solusi yang memuaskan berbagai pihak. Metode yang digunakan adalah metode pustaka, dengan membaca, menginput data, dan mengkaji berdasarkan data pustaka. Artikel ini menjelaskan bahwa penulis buku mesti bertanggung jawab terhadap kandungan tulisannya. Tema-tema seperti G-30-S PKI adalah tema yang sensitif karenanya penulis wajib memiliki kesadaran sejarah dan budaya. Demikian pula pihak pemerintan diharapkan dapat mengkaji sebuah buku, dan tidak melakukan pembekuan atau pelarangan secara sepihak. Membawa sebuah buku ke dalam ranah hukum didukung pembuktian yang diperlukan, agar semua pihak mendapatkan keadilan berdasarkan hukum, sejarah, dan kebudayaan bangsa demi persatuan NKRI berdasarkan pilar-pilar pembangunan dan keberlangsungan hidup sebagai sebuah bangsa.
Revolusi Biru dan Human Security Nelayan di Kusamba Klungkung I Wayan Tagel Eddy; Anak Agung Ayu Rai Wahyuni
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.797 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p09

Abstract

Revolusi biru (blue revolution), sebagai strategi pembangunan dan upaya akumulasi kapital, bukan hanya tidak berhasil mengangkat nelayan dari kemiskinan yang melilit mereka, namun ia juga menyisakan persoalan bagi keberlangsungan human security nelayan. Tidak hanya gagal menangkap apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan nelayan, paket kebijakan modernisasi perikanan seringkali malah merugikan nelayan dan masyarakat pesisir pantai. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui proses dan bentuk modernisasi perikanan (minapolitan) yang sedang dalam proses pembangunan serta bagaimana respon para nelayan dan masyarakat pesisir terhadapnya? Selain itu, akan memeriksa apa kira-kira yang akan diakibatkan oleh modernisasi perikanan bagi keberlangsungan human security kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir. Penulis terlebih dahulu memulai uraian dengan mengelaborasi konsep pembangunan, human security dan revolusi biru sebelum memberikan ilustrasi kasus nelayan dan masyarakat pesisir, berkaitan dengan pembangunan minapolitan, di kawasan pelabuhan Kusamba Kelungkung.
Tinjauan Makna Keberadaan Pura Hyang Api di Desa Kelusa, Bali A.A. Bagus Wirawan; Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo; A.A. Ayu Rai Wahyuni
Lembaran Sejarah Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.59521

Abstract

This paper focuses on the structure and meaning of the existence of the Hyang Api Temple in Kelusa Village, Payangan District, Gianyar Regency, Bali Province. This temple is a place of worship (parahyangan) from Dewa Agni. From the structure, ritual form, and its function symbolizes the manifestation of Dewa Vishnu and Shiva. The problem raised in this paper is to find out how the structure of the Hyang Api Temple in Kelusa Village and what the meaning of ritual activities are carried out by Hindus in the Pura Hyang Api Village of Kelusa. Through this analysis it can show that there are indications of the existence of Kahyangan Tiga, Tri Murti. The Tri Murti concept in Bali can be seen in the form of a temple. The method used in this paper is the historical method, especially through the collection of historical facts, namely the collection of written data in the form of documents and monuments. Through this analysis, it is expected that the public can have a better understanding of the form and meaning of temples in Balinese society.
PENGARUH HARGA, PROMOSI, DAN LOKASI TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA RUMAH MAKAN WARUNG BEBEK D’UMA DI DENPASAR Anak Agung Ngurah Oka Suryadinatha Gorda; Ni Ketut Karyati; Ni Wayan Suryathi; Anak Agung Ayu Rai Wahyuni; I Putu Anantakarna Dananjaya
dwijenAGRO Vol 12 No 1 (2022): dwijenAGRO
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/dwijenagro.12.1.1274.22-36

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh harga, promosi dan lokasi secara parsial dan simultan terhadap keputusan pembelian. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitaif. Populasi pada penelitian ini adalah konsumen Warung Bebek D’uma dan sampel yang digunakan sebanyak 75 orang. Teknik analisis data menggunakan Uji Validitas, Uji Reabilitas, Uji Asumsi Klasik, Anaisis Regresi Linier Berganda, Uji Koefisien Deaterminasi, Uji F dan Uji t. Dari hasil penelitian diperoleh hasil: (1) Harga memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap Keputusan pembelian, dimana diperoleh nilai koefisien t sebesar 3,642, nilai koefisien regresi sebesar 0,233 dan signifikansi sebesar 0,001, (2) Promosi memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap keputusan pembelian, diperoleh nilai koefisien t sebesar 3,702, nilai koefisien regresi sebesar 0,213 dan signifikansi sebesar 0,000. (3) Lokasi memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap keputusan pembelian, diperoleh nilai koefisien t sebesar 2,205, nilai koefisien regresi sebesar 0,135 dan signifikansi sebesar 0,031, dan (4) harga, promosi dan lokasi secara bersama - sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian, dimana diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000. Saran dalam penelitian ini adalah Warung Bebek D’uma hendaknya selalu membuat kebijakan harga yang sesuai dengan kualitas yang ditawarkan, membuat papan nama yang mudah dillihat oleh konsumen, serta Warung Bebek D’uma selalu aktif melakukan promosi di media sosial agar nantinya lebih dikenal oleh banyak konsumen.
Factors affecting the independence of tri guna karya group farmers in kintamani in processing and marketing their products NI Ketut Karyati; Ni Nengah Yastini; Ni Wayan Suryathi; Anak Agung Ayu Rai Wahyuni
Bioculture Journal Vol. 1 No. 1: (July) 2023
Publisher : Institute for Advanced Science, Social, and Sustainable Future

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61511/bioculture.v1i1.2023.92

Abstract

Indonesia As an agrarian country, agriculture are considered as one of the sectors that contributes to economic growth by providing essential needs such as food and even raw materials for industries. The agricultural sector is still capable of maintaining positive growth and finding ways to achieve the welfare and independence of farmers through empowerment processes. This is crucial as the majority of farmers in Indonesia are categorized as poor and marginalized. One initiative in this regard is the effort made by local governments to implement programs that strengthen business capital and empowerment programs to enhance farmers' self-sufficiency. This study aimed to identify and assess the factors that impact the self-sufficiency of farmers in the processing and marketing of agricultural products in Subak-Abian Tri Guna Karya, located in Kintamani District, Bangli Regency. The type of data used in this research is quantitative and qualitative data. Data collection techniques were carried out by conducting structured interviews, observation and documentation studies. The data analysis technique in this study is to use descriptive analysis techniques and statistical analysis. Based on the results of data analysis, Based on the findings of the research, it can be deduced that the factors affecting the self-sufficiency of farmers in the marketing and processing of agricultural products are evident in Subak-Abian Tri Guna Karya, Kintamani District, Bangli Regency are the individual characteristics of farmers who are characterized by skills, capacity strengthening factors that characterized by strengthening individual capacity, and development capital factors characterized by Human Resources (HR) capital, Quality human resource development is achieved by enhancing specific individual skills (life of skill) and strengthening individual capacity building to reinforce institutional development capacity building based on the Subak institution. This approach aims to enhance individual farmers' intellectual self-sufficiency.
Representasi Perempuan Pada Tradisi Ulu Apad Dalam Tatanan Awig-Awig Pelaksanaan Kepemimpinan Prajuru Desa Adat Tenganan Di Era Reformasi Tahun 1998-2020 Angelita Virginia Lesmana; I Ketut Ardhana; Anak Agung Ayu Rai Wahyuni
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 2 (2025): Februari 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini membahas mengenai Representasi Perempuan Pada Tradisi Ulu Apad Dalam Tatanan Awig-Awig Pelaksanaan Prajuru Desa Adat Tenganan yang terletak di Kabupaten Karangasem Kecamatan Manggis. Tradisi Ulu Apad merupakan sebuah sistem kepemimpinan adat serta sistem politik lokal yang diurutkan berdasarkan senioritas perkawinan masyarakatnya,  Namun,  prinsip senioritas ini  tidak hanya melibatkan kaum pria namun perempuan juga ikut ambil bagian dalam keanggotaan yang ada pada sistem Ulu-Apad,  dan harus menekuni serta mempelajari proses ketentuan adat yang panjang selama beberapa tahun agar dapat menduduki suatu jabatan yang strategis. Sistem kepemimpinan ini berjalan sebagai sebuah tradisi yang hakiki karena didasarkan pada kepercayaan masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan bahwa yang mereka jalani selama ini telah diwariskan secara turun- temurun,  kepemimpinan Ulu Apad melibatkan sepasang suami istri yang merupakan anggota Desa Adat Tenganan yang berawal dari Krama Desa hingga naik menjadi Kelian Desa atau Tamping Takon Ada tiga pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini,  yaitu terdiri dari (1) Bagaimana proses representasi dan keterlibatan perempuan dalam tradisi Ulu Apad Dalam Tatanan Awig-awig pelaksanaan prajuru desa adat Tenganan Pegringsingan? (2) Mengapa perempuan lebih mempresentasikan nilai adat dan kepercayaan dalam tradisi Ulu Apad  Dalam Tatanan Awig-awig pelaksanaan prajuru desa adat Tenganan Pegringsingan? (3)Apa implikasi representasi perempuan dalam terwujudnya kesetaraan gender di desa adat Tenganan Pegringsingan? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses,  faktor dan implikasi dari Representasi Perempuan Pada Tradisi Ulu Apad Dalam Tatanan Awig-awig Pelaksanaan Prajuru Desa Adat Tenganan Di Era Reformasi Tahun 1998-2020. Penelitian ini menggunakan teori Sejarah dan teori Fungsionalisme Struktural. Kedua teori tersebut digunakan untuk menjawab ketiga pertanyaan penelitian yang diajukan. Pada penelitian ini penulis menggunakan metode sejarah yang merupakan petunjuk pelaksanaan dan teknis mengenai bahan, kritik, interpretasi dan penyajian sejarah. Data untuk penelitian ini diperoleh melalui studi kepustakaan,  studi dokumentasi, observasi dan wawancara. Dengan adanya pertanyaan tersebut mampu memberikan jawaban yang tepat atau efisien dalam membahas tradisi Ulu Apad terutama dalam representasi perempuan dalam ketentuan awig-awig yang berlaku. Implikasi yang berdampak bagi perempuan di desa Tenganan dan bagi masyarakat antara lain : terbentuknya sistem kekerabatan yang erat dan luas antar warga di desa adat Tenganan Pegringsingan,  pihak laki-laki maupun perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam mengemban tugas sebagai kelian desa.
Padepokan Pencak Silat Bandrong Badak Putih dalam Pelestarian Kesenian Silat dan Debus di Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon Tahun 2015-2023 Inayah, Hania Nur; Anak Agung Ayu Rai Wahyuni; Anak Agung Ayu Dewi Girindra Wardani
JURNAL MULTIDISIPLIN ILMU AKADEMIK Vol. 2 No. 6 (2025): Desember
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jmia.v2i6.6947

Abstract

This study examines the role of the Bandrong Badak Putih Pencak Silat Padepokan in the preservation of the traditional arts of Debus and Silat in Citangkil District, Cilegon City, in the period 2015 to 2023. The main focus of this research is to understand how this relatively young padepokan is able to maintain its existence and even develop rapidly in the midst of globalization, compared to several other padepokans that were established earlier. In the context of modernization which often encourages a shift in local cultural values, the existence and consistency of this padepokan is an interesting phenomenon to be further researched. The formulation of the problem in this study includes: (1) how the role of Padepokan Bandrong Badak Putih in the preservation of Debus and Silat arts; (2) why this padepokan is able to survive in the midst of the onslaught of modernization and globalization; and (3) what are the social and cultural implications of its existence on the surrounding community. This research aims to analyze the contribution of padepokan in preserving local cultural heritage, identify conservation strategies carried out, analyze supporting and inhibiting factors, and understand the socio- cultural impact of the existence of padepokan in the Citangkil community. The method used is qualitative descriptive with data collection techniques through in- depth interviews, field observations, and documentation studies. Data analysis was carried out thematically based on historical theory and cultural preservation theory. The results of the study show that Padepokan Bandrong Badak Putih plays an active role in training, cultural performances, and regeneration through youth involvement. The success of this padepokan is supported by the collective spirit, adaptation to technology, and instilled cultural values. The implications are not only on cultural preservation, but also on strengthening local identity and social solidarity of the community.